King Of Buaya

King Of Buaya
Pagi Bersama Mama


__ADS_3

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Galang yang sedang diam tiba-tiba saja teringat kejadian malam itu. Di mana dirinya telah dipermalukan di hadapan banyak orang. Ia akan selalu mengingat kejadian tersebut. Diam-diam Galang berpikir dan menyusun rencana untuk membalaskan rasa kesalnya. Ketika sedang melamun, Cakra datang dan menepuk pundaknya dengan kencang.


“Gal, lo mau balik sekarang?” tanya Cakra.


Galang tersadar dan menoleh ke arah Cakra, “Gue di sini dulu.”


“Ya udah kalau gitu, gue juga di sini. Bosan gue di rumah mulu.”


Tidak ada jawaban dari Galang.


Mereka memang sering menghabiskan waktu di tempat ini. Tidak terkecuali dengan Galang. Selain sebagai ketua Warriors, Galang juga merasa bosan di rumah. Terlebih sang ibu selalu sibuk dengan pekerjaannya. Sehingga, ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya.


‘Ting’


Bunyi ponsel yang berdenting. Menandakan bahwasannya ada sebuah pesan masuk. Galang yang menyadari hal tersebut langsung memeriksa ponselnya. Ternyata sebuah pesan dari kekasih barunya. Ya, kemarin ia mengakhiri hubungannya. Lebih parahnya lagi, pagi tadi ia telah menemukan tambatan hatinya yang lain. Itulah kehebatan seorang Galang yang tidak dimiliki oleh teman yang lainnya.


“Memang suhu yang sebenarnya.” Cakra tidak sengaja melihat percakapan Galang bersama dengan kekasih barunya.


“Kepo lo.”


“Bagi gue satu boleh lah. Jangan maruk jadi orang, Gal.”


Galang berdehem tanpa kalimat.


“Atau, gue ada rencana mau minta nomor temannya Eliana sih yang cantik itu.”


Seketika Galang melirik Cakra dengan tajam, “Jangan macam-macam lo. Dia udah gue incer.”


“Eh busett. Buat gue aja ngapa! Lagian lo ada yang lain.”


Galang tersenyum sinis, “Ada misi yang mau gue jalanin. Lo diam aja, gak usah ikut campur!”


Cakra terdiam, ia menatap Galang dengan perasaan curiga. Sebab, Galang tidak pernah main-main dengan perkataannya. Beberapa saat setelah mereka berbincang, hujan turun dengan begitu derasnya. Bahkan hujan tersebut diiringi dengan angin yang sangat kencang.

__ADS_1


Selagi menunggu hujan reda. Dalam diamnya, Galang telah menyusun rencana yang sangat cantik. Hanya dirinya sendiri yang tahu tentang rencana tersebut. Sementara yang lainnya, sibuk pada ponsel masing-masing. Ada yang bermain game, dan juga ada yang berkomunikasi romantis dengan pasangannya masing-masing.


**


Kriiiinggg…


Brak… Alarm tidak berdosa itu telah hancur oleh sebuah hentakan yang teramat keras. Sementara itu, sang pemilik alarm masih tertidur dengan pulas tanpa ada rencana untuk membuka kedua matanya. Selimut tebal itu telah menemaninya, dan akan selalu menemaninya sampai kapan pun. Sang pemilik selimut adalah Galang.


“Galang, Nak bangun!” teriak seorang wanita.


Berulang kali kalimat itu masuk ke setiap rongga pendengaran Galang. Karena terus menerus, akhirnya ia membuka kelopak mata secara perlahan. Terlihat dunia yang ternyata sudah bersinar oleh matahari pagi. Galang mengarahkan pandangannya pada sebuah jam yang ada di dinding.


“Mati! Telat gue!” gerutunya.


Secepat mungkin ia beranjak dari tempat tidur dan menyambar sebuah handuk berwarna cokelat muda. Terdengar sangat jelas bantingan sebuah pintu akibat terburu-buru. Sementara itu, di dapur telah berdiri seorang wanita bernama Farah Dinara. Sering dipanggil Farah. Ia merupakan ibu dari Galang. Ya, satu-satunya harta berharga yang dimiliki oleh Galang sampai saat ini.


Tap… Tap… Tap…


“Gal, mau ke mana kamu?” tanya Farah seraya meletakkan piring di atas meja.


“Mau ke mana? Ya ke sekolah, Ma,” sahut Galang dengan santai.


“Sekolah? Sekarang ‘kan hari minggu.”


Duaarr… Galang baru ingat jika hari ini adalah hari minggu. Setelah menyadarinya, ia menghela napas panjang. Pria itu memejamkan mata seolah merenungi segala kebodohannya pagi ini.


“Terus, buat apa Galang bangun dan mandi pagi, Ma?” ujarnya dengan penuh rasa penyesalan.


Farah terkekeh geli, “Hahaha… Mama itu bangunin kamu, karena mau minta bantuan buat beresin rumah hari ini.”


“Mama.” Galang merengek layaknya anak kecil yang tidak diberi mainan.


“Makanya, kalau pagi itu bangun. Mau hari libur, atau hari biasa. Jangan malah tidur aja, begadang terus kamu ini.” Alhasil Galang menerima ocehan dari sang mama pagi ini.

__ADS_1


“Iya, Ma.” Galang memabalas dengan sangat singkat, padat, dan jelas.


Galang memang terkenal galak dan tegas. Namun ketika dirinya sudah bersama dengan sang mama, maka Galang adalah anak kecil yang selalu haus akan kasih sayang orang tuanya. Farah hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia merasa gemas dengan tingkah anak semata wayangnya itu.


“Udah, sekarang kamu makan. Habis itu ganti baju, dan bantu Mama bersihkan halaman depan itu,” pintanya.


Galang menjawab dengan anggukan.


Ia begitu menikmati masakan pagi ini. Bagaimana tidak, Farah selalu sibuk dengan pekerjaannya. Jarang sekali ia sarapan pagi bersama dengan Galang. Oleh sebab itu, setiap libur Farah selalu menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu bersama dengan anaknya. Walau sering melakukannya, pagi itu Farah memandangi wajah anaknya. Ada rasa penyesalan tersendiri yang selama ini ia pendam seorang diri. Tanpa diketahui oleh Galang.


Galang makan dengan begitu lahap. Tidak butuh waktu lama bagi dirinya untuk menghabiskan makanan. Setelah semuanya selesai, Galang bersiap untuk membantu sang mama membersihkan rumah hari ini. Mereka terlihat sangat dekat sekali. Selama ini, Galang tumbuh dan berkembang tanpa sosok seorang ayah. Oleh karenanya, Farah sangat menyayangi Galang dan akan melakukan apa pun demi anaknya itu.


“Nak, bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Farah di sela menyapu lantai.


“Aman, Ma.”


“Oh iya, Mama udah tanda tangan semua berkas yang kamu minta kemarin.”


Senyum Galang merekah sempurna, “Makasih Mamaku yang cantik dan baik.”


“Lagipula, kenapa kamu minta itu sama Mama?”


“Ada deh.”


“Atau, ada pacar kamu di sana?”


Galang seketika terdiam, “Nggak kok. Galang mau aja, lagipula Galang bosan di tempat yang lama.”


Farah mencoba untuk mengerti.


Mereka lalu melanjutkan pekerjaannya. Pagi ini dihabiskan dengan membersihkan rumah. Tidak hanya rumah saja, tetapi halaman depan dan belakang tidak luput dari tangan Farah. Rumah itu memang tidak terlalu besar dan mewah. Namun, keduanya saling bahagia hidup bersama tanpa adanya penganggu selama ini.


Akhirnya semua pekerjaan rumah telah selesai. Galang kelelahan dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Keringat mengalir deras di dahinya. Berhasil membuat wajahnya basah akibat keringat tersebut. Walau tampak garang, tetapi ternyata Galang berhati baik ketika berada di rumah. Bahkan terkesan lembut jika berbicara dengan Farah. Selagi beristirahat, ia mendapatkan pesan dari Davin. Ia diminta untuk ke markas sekarang juga. Sebab, ada sesuatu yang harus ditangani oleh Galang secara langsung. Tanpa mengulur waktu, Galang bergegas menuju markas.

__ADS_1


__ADS_2