
“Semua ini gara-gara lo! Gue sama Galang putus itu karena lo! Babi!!!”
PLAAKK…
Tanpa ragu satu tamparan keras berhasil mendarat di pipi Nada. Gadis itu merintih kesakitan. Cap lima jari telah menempel di pipi kanan miliknya. Nada tidak terima dengan perlakuan itu, ia pun bangkit. Dalam hitungan detik, Nada menarik rambut Tasya dengan kedua tangannya.
“Lo yang Babi! Siapa juga yang hancurin hubungan lo? Jangan asal nuduh kalo nggak ada bukti,” pekik Nada.
“Lepas!”
Tasya tidak mau kalah, ia juga menjambak rambut Nada sekuat tenaga. Alhasil, mereka terlihat perkelahian hebat antar perempuan. Keadaan yang sepi, membuat mereka tidak diketahui oleh banyak orang. Saat ini perkelahian itu terjadi di sebuah gedung kosong yang ada di belakang sekolah Nada.
“Kurang ajar lo! Beraninya rusakin hubungan gue!” Tasya berteriak histeris seraya terus menjambak rambut Nada.
“Lo itu yang kurang ajar! Gue nggak tau apa-apa soal Galang.”
Perkelahian itu berlangsung cukup lama. Keduanya sama-sama kuat. Apalagi Nada, ia sudah terlatih dan tidak mau kalah dari siapa pun. Beberapa saat kemudian, terdengar suara hantaman yang cukup nyaring. Kemudian, muncul sosok pria bertubuh tegap. Pria itu adalah Galang.
Menyaksikan kejadian miris yang ada di depannya, Galang berlari dan berusaha untuk memisahkan mereka berdua. Beruntung Galang diberi tahu oleh salah seorang siswa yang melihat kejadian itu. Keduanya masih saling menyerang. Bahkan membuat Galang kewalahan dalam menghadapinya.
“STOP!!!” suara berat itu membuat keduanya terhenti.
Baik Nada maupun Tasya meluapkan amarah yang ada di dalam diri mereka. Suasana menjadi hening dalam beberapa waktu. Hingga akhirnya Galang membawa Nada pergi dari tempat itu. Nada menepis pergelangan tangan Galang.
“Lepas! Jangan sentuh gue,” bentaknya dalam keadaan berantakan akibat berkelahi.
“Lo itu kayak anak kecil. Berantem di tempat kayak gini.”
Nada naik pitam, kedua matanya merah padam. “Semua ini gara-gara lo! Urusin aja sana mantan lo yang toxic itu. Jangan libation gue dalam hubungan lo. DASAR BUAYA!!!”
Amarah Nada tidak bisa tertahankan. Ia kesal karena Tasya menyerang dirinya karena Galang. Semua itu akibat Galang. Dengan tergesa-gesa, Nada pergi meninggalkan pria itu seorang diri. Sementara itu, Galang diam terpaku melihat kepergian gadis itu.
Tarikan napas terasa sangat dalam, kini Galang memijat pelipisnya yang terasa berat. Ada rasa penyesalan karena ia telah menjadi playboy selama ini. Kemudian ia memutuskan untuk pergi, tetapi berhasil dicegah oleh Tasya yang tiba-tiba saja mengejarnya.
“Gal, jangan putusin aku. Aku masih sayang sama kamu,” ujar Tasya memohon.
“Maaf, Sya. Tapi gue udah nggak suka sama lo.”
“Pasti semua ini karena Nada. Iya ‘kan?”
Galang menggelengkan kepala, “Bukan. Tapi memang gue udah nggak sayang sama lo. Jadi, gue harap lo jangan nyerang Nada lagi.”
Belum selesai Tasya berbicara, Galang pergi begitu saja meninggalkan dirinya. Galang berusaha untuk mengejar Nada, tetapi gadis itu pergi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kini keadaan Nada sudah berantakan. Rambutnya tidak beraturan, apalagi seragamnya sedikit sobek akibat tarikan Tasya.
__ADS_1
Selama dalam perjalanan, tidak henti-hentinya Nada menggerutu. Ia sangat membenci Galang. Sebab, ini semua terjadi karena ulah pria itu. Beberapa kali Nada melayangkan pukulan keras pada stir mobil miliknya.
“Gue benci sama lo Galang!” teriaknya.
**
“Lo udah dapat informasi?” Galang melihat ke arah layar laptop yang sedang dimainkan oleh Tiger.
“Gue dapat info kalo orang itu preman yang ada di ujung jalan Cempaka.”
Galang langsung paham, “Oke kalo gitu. Gue ke sana.”
“Gue ikut Gal,” timpal Davin.
Tidak ada jawaban diberikan oleh Galang. Mereka berdua langsung pergi menuju lokasi yang sudah ditunjukkan oleh Tiger. Bukan hal sulit bagi Tiger menemukannya. Ia mempunyai kemampuan khusus. Galang dan Davin akhirnya sampai di tempat tujuan.
Benar saja, ada tiga orang preman sedang bersenda gurau dengan minuman di tangannya. Davin langsung bertindak, tetapi berhasil dicegah oleh Galang. Seperti memberi isyarat agar Davin berjalan dengan tenang.
“Mereka lagi mabuk. Bahaya kalo kita gegabah,” ucap Galang.
“Oke.” Davin mengacungkan kedua ibu jarinya.
“Mau apa kalian ke sini?” tanya salah satu dari mereka.
“Gue datang ke sini cuma mau tanya, ngapain lo rusuh di rumah yang ada di jalan Mawar? Ada masalah? Atau ada yang nyuruh kalian?”
Mereka tertawa, “Hahaha… Apa urusan lo?”
“Jawab bangs*t!” Davin mulai tersulut emosi.
“Mau apa lo?!”
“Jawab!” Galang mulai meninggikan bicaranya.
“Ya, kita dibayar buat hancurin rumah itu.”
“Siapa yang nyuruh kalian?”
“Bayar dulu.”
“Bangs*at!!!”
__ADS_1
Bug…
Sudah tidak bisa terbendung, Galang mengayunkan pukulan keras pada wajah preman-preman itu. Dalam sekejap Galang dan Davin menghabisi ketiganya. Bukan hal yang sulit bagi Galang melawan para preman itu. Ia sudah terbiasa menghadapi siatuasi yang seperti itu.
Setelah ketiga preman itu terkapar, Davin menepuk-nepuk kedua tangannya seraya tersenyum puas. Sementara Galang menghampiri ketiganya dan menarik pakaian mereka. Dengan tatapan tajam, Galang mengancam akan menghabisi nyawa mereka dengan tangan kosongnya.
“Ampun Bang!” salah satu dari mereka memohon.
“Cepat bilang! Siapa yang udah nyuruh kalian?”
“I-iya, Bang. Gue bakal kasih tau.”
“Bagus.” Galang melepaskan tangannya dan membiarkan mereka untuk berdiri.
Kemudian, preman itu menunjukkan sebuah foto yang ada di ponselnya. Betapa terkejutnya Galang, ia melihat sosok wanita yang tentunya tidak asing. Untuk lebih memastikan, Galang kembali menggretak preman-preman itu.
“Sumpah, Bang! Dia udah bayar mahal kita buat hancurin acara ulang tahun itu.”
“Kalo sampe salah. Kalian bakal gue habisin!”
Ketiganya gemetar dan takut pada ancaman Galang.
Setelah semuanya jelas, Galang dan Davin kembali ke markas. Sebelum itu Galang meminta barang bukti untuknya. Ketika sampai di markas, pria itu langsung duduk. Ia menghempaskan tubuhnya ke sebuah sofa yang ada di tempat itu. Rasa lelah akibat berkelahi membuat energi Davin terkuras. Ia meneguk segelas air putih sampai tidak tersisa.
“Ada apa sih kawan? Kalian dari mana?” Cakra duduk dan menepuk pundak sang ketua.
“Ger, gue mau lo cari tau tentang cewek ini,” pinta Galang.
“Ini ‘kan mantan lo.” Cakra ikut menimpali.
“Yoi, lo bener Cak. Tapi kita harus cari tahu dulu.” Davin duduk di hadapan mereka.
“Ini lah kerjaan ketua kalian. Ngurusin wanita terus, gimana nasib Warriors yang dicap buruk sama anak-anak geng motor lainnya?” Tiba-tiba saja Reynan datang.
Kedatangannya itu mendapat tatapan sinis dari Cakra dan Davin. Perkataan Reynan membuat Galang menoleh. Cakra tidak terima dengan hal itu, ia bangkit dan mendekati Reynan.
“Maksud lo apa bilang gitu?”
Reynan mendorong tubuh Cakra dengan jari telunjuknya. “Lo tanya aja sama ketua yang lo banggain. Di dalam otaknya hanya ada wanita dan wanita. Mana ada dia ngurus Warriors dan nama baik Warriors.”
“Kurang ajar ya lo!” Cakra tersulut emosi.
“Udah diam!” Suara Galang menggema dalam ruangan itu.
__ADS_1