
Di kantin.
Seperti biasa, Galang akan dikelilingi oleh banyak wanita. Ia berbincang hangat dan juga bersenda gurau dengan mereka semua. Siang itu mereka makan bersama di kantin layaknya orang yang sudah sangat kenal. Namun, ada sesuatu yang menganggu kesenangan mereka. Tiba-tiba saja ponsel Galang berdering. Segera ia merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya.
“Kenapa?” Galang berucap pelan tetapi penuh makna.
“….”
“Oke, gue sekarang ke sana.”
Tidak basa-basi lagi, Galang bergegas pergi dari kantin. Tentu saja para wanita itu berteriak dan tampak tidak dipedulikan oleh Galang. Ia berjalan dengan cepat dan ketika sampai kelas segera mengambil tasnya. Seketika Nada yang sedang memainkan ponselnya menoleh ke arah Galang. Gadis itu sedikit menyipitkan mata.
“Kenapa tuh anak?” batinnya dalam hati.
Galang pergi meninggalkan kelas dengan membawa tasnya. Ia terlihat sangat terburu-buru sekali. Tetapi Nada tidak begitu peduli. Ia kembali memainkan ponselnya. Sementara itu, Galang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Rupanya sedang terjadi kericuhan di markas. Ia diminta untuk segera datang.
**
Sampainya di markas Galang dikejutkan keadaan yang sudah berantakan. Napasnya terengah-engah karena menyaksikan markasnya sudah porak poranda. Di dalam sedang terjadi perkelahian. Galang melempar tas miliknya dan memberikan pukulan keras pada orang yang sudah menyerang anggota Warriors.
Bugg… Buggg… Buggg…
Beberapa pukulan melayang dan membuat musuh tersunggur ke lantai. Galang sangat emosi dan membabi buta. Ia menangkis setiap serangan yang ditujukan padanya. Dengan lihai Galang mengalahkan para musuh hingga tidak berdaya.
Prakk…
Tubuh itu menabrak sebuah meja yang membuat meja tersebut hancur. Galang terus menghabisinya. Ia memukuli wajah dengan tangan kosong tanpa bantuan alat apa pun. Tidak butuh waktu lama, akhirnya musuh dapat dikalahkan.
“Woi, lari!” teriak salah satu dari musuh.
“Woi, mau ke mana lo!” Galang mengejarnya tetapi tidak dapat.
“Udah, Gal. Jangan dikejar,” timpal Cakra.
Galang menghentikan aksinya. Keringat bercucuran membasahi wajahnya. Setelah tenang, Galang dan yang lainnya lalu duduk. Pria itu menyeka air keringat dengan tangannya. Pertarungan tadi cukup membuat energinya terkuras.
__ADS_1
“Kenapa bisa ada serangan? Dari mana mereka?” tanya Galang pada teman-temannya.
Semua yang ada di situ menggelengkan kepala.
“Mau apa mereka ke sini?”
“Kita semua gak tahu, Gal. Tiba-tiba aja mereka datang dan nyerang kita semua,” balas Cakra.
“Bedebah! Ini semua nggak bisa dibiarin. Lacak mereka dan cari sampai dapat. Gue harus beri perhitungan sama mereka semua.”
Semua yang ada di situ diam terpaku. Terlebih, saat ini kondisi markas sudah tidak terkendali. Semuanya sudah hancur akibat penyerangan tadi. Meja dan kursi yang berantakan, ditambah kaca jendela hancur akibat lemparan sebuah batu besar. Galang terdiam seraya berpikir untuk menindak-lanjuti penyerangan tersebut.
Di antara semua anggota Warriors, hanya ada satu anggota yang terlihat tenang. Ya, siapa lagi kalau bukan Reynan. Walau ia juga lelah akibat melawan penyerangan tadi, tetapi dirinya jauh lebih tenang dibandingkan yang lain. Setelah diam beberapa waktu, mereka membereskan kekacauan yang sudah terjadi.
“Rey, lo nggak bantu kita?” Tiger menegur Reynan yang terus saja duduk dengan santai.
Reynan kemudian beranjak dan menghampiri teman-temannya.
“Kenapa ya dia? Apa lagi putus cinta?” sambung Cakra.
Tiger menaikkan kedua bahunya, “Mana gue tahu. Emang Reynan ada pacar?”
Reynan memang dikenal sebagai sosok pendiam. Tetapi dedikasinya cukup tinggi untuk Warriors. Terutama jika ada yang menganggu geng motor tersebut. Hari ini Galang terpaksa absen sekolah. Saat ini Warriors sedang membutuhkan dirinya. Ia pun menghubungi pihak sekolah untuk meminta izin.
Tidak hanya penyerangan saja, tetapi mereka juga menerima sepucuk surat yang berisikan peringatan bagi Warriors untuk menghentikan semua kegiatan mereka. Hal tersebut membuat Galang geram dan ingin segera tahu siapa dalang di balik ini semua.
**
“Ke mana sih cowok gak tahu diri itu?” Sedari tadi Nada tidak berhenti menggerutu di depan kelas.
“Kenapa, Nad? Tumben lo belum pulang?” Eliana menepuk pundak sahabatnya.
“Mantan lo ke mana? Tadi janjinya mau ngerjain tugas. Tapi sekarang malah gak ada.”
“Gue juga nggak tahu. Coba lo hubungi dia.”
__ADS_1
“Ogah!” Nada memutar kedua matanya malas.
Lelah menunggu, Nada memutuskan untuk pulang. Ia enggan untuk menghubungi Galang. Tidak hanya itu, ia juga malas harus berurusan dengan pria itu. Kalau bukan karena tugas, Nada tidak mungkin menunggu Galang sampai selama ini. Ketika dirinya melajukan mobil, tiba-tiba saja sebuah motor mendekatinya dan membuat Nada harus berhenti.
Ia pun membuka kaca mobil. Tampak Galang yang sedang berada di atas motor tersebut. Gadis itu menghela napas panjang kemudian turun dari mobil. Keduanya saling diam untuk beberapa saat.
“Ikuti gue. Kita ke rumah gue sekarang,” ucap Galang.
“Bisa nggak kalau bagi tugas aja? Gue ogah ke rumah lo.”
Galang menatapnya dengan tajam, “Lo mau gue laporin ke Bu Dara?”
Ancaman Galang membuat Nada kesal, “Terserah lo!”
Nada kembali masuk ke dalam mobil. Mereka pun akhirnya pergi ke rumah Galang. Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai. Nada yang malas terpaksa berjalan di belakang Galang. Untuk pertama kalinya ia datang ke rumah ini. Rumah yang terlihat sederhana tetapi cantik.
Beberapa tanaman terawat dengan sangat baik. Pintu telah terbuka tanpa disadari oleh Nada. Kemudian Galang memintanya untuk duduk. Sementara dirinya pergi untuk mengambil minuman. Walau mereka sering sekali bertengkar, tetapi Galang tidak mungkin membiarkan tamunya kehausan.
“Minum.” Galang meletakkan jus jeruk di atas meja.
“Terima kasih,” balas Nada singkat.
“Kita mulai aja ngerjain tugasnya. Biar lo yang cari materi, dan gue yang ngetik.”
Ketika mendengarnya, seketika raut wajah Nada berubah. “Enak banget hidup lo tinggal ngetik doang. Lo juga cari materi.”
“Gue capek, Cantik. Jadi, gue minta lo yang cari materi,” tutur Galang dengan suara yang lembut sekali.
Nada mendengarnya dengan perasaan geli. Ia merasa tidak nyaman karena dirayu seperti itu. Sebab, Nada bukan gadis-gadis yang mengejar cinta Galang seperti teman-temannya di sekolah. Tiada waktu tanpa berdebat, Nada mulai mengerjakan tugasnya. Ia mencari materi dari tugas yang diberikan.
Sementara itu Galang sibuk memainkan ponselnya. Ia tampak tersebut tatkala ada pesan masuk. Bukan Galang namanya jika ponselnya sepi. Sudah pasti ramai oleh berbagai pesan dan juga komentar di media sosial miliknya. Nada yang menyadari hal tersebut menghentikan aktifitasnya. Ia menatap penuh amarah ke arah Galang. Secepat kilat Nada mengambil ponsel itu dari tangan Galang.
“Heh! Balikin HP gue!” Galang mencoba untuk merebutnya.
“Enak aja lo, malah mainan Hp. Bukannya bantuin gue.” Nada menghindari tangan Galang yang hendak merebut ponselnya kembali.
__ADS_1
Galang berusaha untuk meraih ponselnya. Tetapi Nada enggan untuk mengembalikannya. Salah satu tangan Galang mencoba meraih tangan Nada. Sementara yang satunya melingkar di bahu gadis tersebut. Alhasil mereka terlihat seperti sedang berpelukan. Mereka lalu terlibat pertikaian kecil.
Keadaan itu tiba-tiba saja terhenti tatkala kedua mata mereka saling bertemu. Nada terdiam menatap Galang dengan jarak tubuh mereka yang sangat dekat sekali. Bahkan deru napasnya pun terdengar di telinga Nada. Keduanya terdiam terpaku dalam beberapa menit. Degub jantung Nada seakan terpacu lebih kencang dibandingkan biasanya.