King Of Buaya

King Of Buaya
Perjalanan Panjang


__ADS_3

“Sebelum berangkat. Sebaiknya kita cek kembali keadaan motor masing-masing,” ujar sang ketua Warriors.


Seluruh anggota mengangguk dan langsung menaati perintahnya.


Hari ini adalah waktu di mana Warriors akan mengadakan tour ke beberapa daerah. Rencana tour yang seharusnya diadakan dua minggu lagi, sengaja Galang majukan agar lebih cepat. Mengingat dalam waktu dekat dirinya akan mengadakan ujian tengah semester yang tidak bisa ditinggalkannya.


Mereka mempunyai misi untuk menaklukkan para geng motor lainnya. Acara ini sudah disusun dengan rapi oleh mereka semua. Ketika sampai di tempat tujuan, mereka akan mengadakan balapan. Bukan balapan liar, tetapi pertandingan resmi yang sudah mempunyai izin oleh pihak yang berwajib. Ada maksud terselubung dari acara yang digagas oleh Galang. Tetapi tidak semua anggota Warriors mengetahuinya. Setelah semuanya siap dengan alat tempur mereka, Galang memimpin dan mulai mengendarai motornya.


“Semoga ini semua berhasil,” ujarnya dalam hati.


Beberapa kilometer telah ditempuh oleh Warriors. Kali ini Galang mengendarai motor seorang diri. Kejadian waktu itu, ia enggan untuk bertemu dengan Tasya. Berulang kali gadis itu mencoba untuk menghubunginya, tetapi selalu saja gagal. Lima jam lamanya mereka telah menembus jalanan. Kini mereka menjadi penguasa jalanan dan dengan lihainya melenggang lenggok memainkan laju motor dengan santai.


Di sela menjalankan motor, tiba-tiba saja tangan Galang memberikan isyarat. Seluruh anggota Warriors langsung mengerti isyarat tersebut. Mereka semua menepi di sebuah rest area yang berada tidak jauh dari sana.


“Kita istirahat dulu,” ucap Galang, dan diikuti dengan anggukan kepala.


Sebuah tempat makan yang terlihat ramai. Mereka beristirahat, bahkan ada yang merebahkan tubuhnya untuk sekedar meluruskan pinggang. Namun tidak bagi Galang, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia melihat ke sudut jalan, ada seorang ibu dan juga anak yang sedang duduk termenung. Tanpa pikir panjang, Galang menghampiri keduanya.


“Maaf Ibu, sedang apa di sini?” tanya Galang dengan sopan sekali.


“Sedang beristirahat, Nak.”


Galang merasa iba pada anak kecil yang berada di samping ibu itu, “Apa kalian sudah makan?”


Keduanya menggelengkan kepala.


Tanpa mengucapkan kalimat, pria itu pergi. Ia hendak mengambil sesuatu. Beberapa saat kemudian, Galang kembali dan membawa sesuatu di tangannya. Ia memberikan bungkusan tersebut pada sang ibu.


“Ini makanan untuk Ibu dan Adik,” tuturnya.

__ADS_1


“Terima kasih banyak, Nak. Kamu anak baik, semoga kebahagiaan dan keselamatan selalu menyertaimu, Nak,” balas ibu itu karena merasa terharu.


Galang melempar senyuman terbaiknya, “Terima kasih atas doanya, Bu. Dan ini, ada sedikit uang untuk kalian berdua.”


Perlakuan Galang itu membuat ibu dan anaknya menangis. Mereka mengucapkan banyak terima kasih kepada Galang. Pemandangan itu membuat hati Galang tersentak. Tidak pernah terbayangkan dalam benaknya jika ia berada di posisi mereka. Sudah pasti hidupnya akan sengsara.


Setelah berbincang sedikit, Galang kembali kepada teman-temannya. Mereka melanjutkan perjalanan sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Kali ini tujuan mereka adalah markas Diamond. Salah satu geng motor yang ada di kota tersebut.


**


Brumm… Brumm… Brumm…


Suara menggelegar dari dua motor terdengar nyaring sampai membuat telinga bergetar. Dua pria tampan tengah memainkan pesonanya. Ya, Galang dan juga Sam ketua Diamond sebentar lagi akan menunjukkan kebolehan mereka dalam memacu motor.


“Galang… Sam…”


Para pendukung mereka saling berteriak dalam mendukung idolanya. Suasana arena balap dijaga ketat oleh pihak berwajib. Takut jika terjadi kerusuhan setelahnya. Kemudian, seorang wanita dengan memegang bendera mulai melenggang ke tengah arena.


Wusss….


Keduanya melaju dengan kecepatan tinggi. Deru motor menjadi penanda bahwa kedua kandidat sangat berdedikasi tinggi dalam acara tersebut. Baik anggota Warriors maupun Diamond, mereka saling mendukung ketua masing-masing.


“Ayo Galang! Lo pasti bisa, nanti gue traktir seblak,” pekik Cakra.


Seketika Davin menoleh dan langsung menarik kepalanya, “Ada gila-gilanya ya lo. Traktir itu steak, atau ramen kek. Jangan malah seblak, Bambang.”


“Eh Markonah, seblak itu enak tau,” celoteh Cakra membuat Davin menoyor kepalanya.


“Kayak ciwi-ciwi lo.”

__ADS_1


Cakra berdecak kesal.


Lima belas menit kemudian, rupanya sudah terlihat tanda-tanda kemenangan. Seorang pria gagah perkasa yang mengendarai motor hitam kebanggaannya tampak di pelupuk mata. Siapa lagi kalau bukan Galang. Sorak gembira para pendukungnya memenuhi tempat itu. Benar saja, Galang telah berhasil menaklukan arena balapan tersebut dengan sangat mudah.


Semua anggota Warriors menghampirinya. Cakra dan Davin spontan memeluk Galang sebagai tanda bahwa mereka bangga padanya. Pertandingan diakhiri dengan kemenangan Warriors. Kegembiraan itu tidak hanya dirasakan oleh Warriors saja, tetapi juga anggota Diamond yang ikut merasakannya.


“Selamat Bro! Lo memang hebat dan kuat,” puji Sam.


“Lo juga keren. Kita semua keren.”


“Gal, lo keren banget. Gue terharu,” sahut Cakra seraya menyeka bulir air matanya.


Galang terlihat menyernyitkan dahi, “Lo nangis? Cemen banget.”


“Hiks… Terharu aja.”


“Kita harus merayakan momen ini dengan makan bersama,” usul Sam.


Tanpa pikir panjang, Galang menyetujuinya. Memang tujuan Warriors mengadakan acara ini hanya untuk keseruan semata. Mereka tidak bermusuhan, justru mereka rekan yang sangat baik. Rupanya Diamond telah mempersiapkan jamuan yang sangat mewah.


Saat yang paling ditunggu oleh Cakra. Selesai pertandingan, mereka makan besar. Seluruh anggota geng motor berkumpul dan bersuka cita. Seraya bercerita tentang kegiatan anggota motor masing-masing. Galang sebagai ketua Warriors mendapatkan pujian atas dedikasinya selama ini.


Cukup lama mereka berbincang, Galang dan yang lainnya harus melanjutkan perjalanan. Mereka akan singgah di kota lainnya dan bertemu dengan geng motor yang ada di sana. Rasa lelah seketika hilang ketika Galang dapat menikmati udara segar di atas motor. Itu sebabnya ia lebih suka jika naik motor dibandingkan naik mobil.


Malam itu terasa menyenangkan bagi Warriors. Sudah lama sekali mereka memimpikan perjalanan panjang seperti itu. Dapat menyaksikan betapa indahnya kota lain. Di saat sedang terlena, Galang tersadar tatkala Davin menduluinya.


“Gal, istirahat dulu lah,” teriak Cakra yang kebetulan berboncengan dengan Davin.


Galang setuju dengan itu. Tanpa menunggu waktu lama, Cakra memberikan arahan pada teman yang lain agar berenti. Mereka melepas penat di sebuah penginapan. Perjalanan akan dilanjutkan esok hari. Ketika hendak beristirahat, Galang mengecek ponselnya. Sejak siang tadi ia mengabaikan ponselnya. Terdapat beberapa pesan dan panggilan masuk. Sudah pasti dari Tasya sang kekasih.

__ADS_1


‘Galang… Kamu ke mana aja sih? Kenapa nggak balas chat aku? Maafin aku Sayang, aku janji nggak akan mengulanginya lagi’


Tulis Tasya di salah satu pesan yang dikirimkannya. Namun Galang tidak peduli dengan itu. Ia mengabaikannya dan menutup ponselnya kembali. Tubuhnya terhempas di sebuah singgasana nyaman. Perlahan kedua mata mulai mengatup dengan sempurna dan hanyut dalam mimpi indah malam itu.


__ADS_2