
“Nad, lo dari mana aja sih?” Eliana sangat mencemaskan sahabatnya.
Nada menghempaskan tasnya ke atas meja. Suasana di kelas tampak ramai karena guru Bahasa Inggris sedang sakit. Sehingga kelas mereka kosong dan diberi tugas oleh guru piket. Gadis itu menghela napas panjang. Setelah perjalanannya, akhirnya ia sampai di kelas dengan selamat. Pagi ini sangat menantang bagi dirinya.
“Nad, kenapa lo diam aja?” Eliana kembali bertanya.
Nada menoleh ke arah sahabatnya itu, “Tadi gue telat, terus dihukum sama Bu Tika.”
“Ya ampun, kenapa bisa terlambat?”
“Pasti lo belum buka pesan dari gue.”
Ketika mendengarnya, Eliana menepuk dahinya dengan kencang. “Astaga, ternyata lo mau dirampok tadi.”
Nada membalasnya dengan deheman.
“Tapi lo nggak papa ‘kan, Nad? Ada yang terluka nggak?
“Gue nggak papa kok, masih terpantau aman.”
“Syukurlah.” Eliana bernapas lega.
Kemudian mereka melanjutkan untuk mengerjakan tugas yang diberikan. Bel istirahat telah berbunyi, sekarang saatnya bagi para siswa pergi ke kantin untuk makan siang. Tidak hanya ke kantin saja, tetapi sebagian dari mereka pergi untuk kegiatan tambahan. Seperti bermain basket, atau sekedar membaca buku di perpustakaan.
Kegiatan yang menyangkut otak, tidak terlalu diminati oleh Nada maupun Eliana. Sebab, mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu istirahat di kantin. Sebenarnya Nada adalah salah satu siswa berprestasi. Namun kemalasan selalu menyelimuti dirinya. Sehingga Nada terlihat santai dibandingkan dengan teman-teman lainnya.
“Lo mau pesan apa, Nad?” tanya Eliana.
“Mie ayam aja, sama es teh manis ya.”
Eliana mengacungkan kedua ibu jari, tanda kalau ia mengerti.
Beberapa saat kemudian, Eliana datang. Mereka sedang menunggu pesanan. Tidak butuh waktu lama, Ibu Kantin mengantarkan pesanan mereka berdua. Kejadian tadi pagi membuat energi Nada terkuras. Ia melahan makanan dengan brutal. Bahkan sampai membuat Eliana tertegun. Bagaimana bisa sahabatnya menghabiskan makanan dalam waktu sekejap. Beberapa kali Eliana meneguk salivanya. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Lo habis dikejar hantu atau gimana, Nad? Rakus amat,” celetuk Eliana.
“Gue lapar banget. Gue mau pesan siomay lagi lah.”
“Hah?! Lagi?” balas Eliana tidak percaya.
__ADS_1
Belum selesai ia berbicara, Nada sudah pergi dari hadapannya. Sesuai dengan ucapannya, Nada pergi untuk memesan makanan kembali. Memang Nada itu tidak ada duanya jika masalah makanan. Apa pun itu asalkan lezat pasti masuk ke dalam perut Nada. Tanpa ada kata penolakan.
Selagi menyantap makanan, terdengar suara teriakan siswi. Seketika Nada mengeceknya. Rupanya Galang datang dengan pesona yang bertebaran. Oleh sebab itu, para siswa berteriak histeris. Bahkan beberapa siswi memberikan hadiah untuk Galang. Seperti biasa, Galang akan menerima hadiah-hadiah tersebut, tidak lupa juga rayuan mautnya.
“El, lo nyesel nggak pernah suka sama cowok kayak gitu?” tanya Nada.
Eliana menggelengkan kepala, “Ntahlah. Kadang gue ngerasa nyesel. Tapi memang Galang itu ganteng.”
Kedua tangan Eliana kini berfungsi untuk menopang kepalanya. Dengan senyuman manis, gadis itu terus saja menatap Galang. Walau wajah Galang tidak begitu terlihat akibat gerombolan siswi yang mengelilinginya.
“Gila lo,” oceh Nada.
“Lo sih Nad, belum pernah ngerasain jatuh cinta.”
“Kata siapa?” timpal Nada dengan sinis.
Eliana melihat ke arah sahabatnya itu, “Oh iya gue lupa. Ya lagian, kenapa lo belum bisa move on?”
“Namanya juga urusan hati. Mana bisa gue ngendaliinnya.”
Nada menatap Galang dengan sinis. Ia tidak suka pada pria yang selalu tebar pesona. Bahkan pria baik-baik saja bisa melakukan hal keji seperti mantan kekasihnya. Ya, dulu Nada pernah mempunyai kekasih. Eliana sangat tahu tentang alur percintaannya. Namun, sejak kejadian itu Nada enggan kembali merajut kasih dengan lelaki mana pun.
Ia cenderung menutup diri dan tidak ingin ada pria masuk ke dalam hatinya. Di antara kerumunan siswi tersebut, ada sosok Sasha di mana. Nada memutar bola matanya malas. Musuhnya itu selalu saja berperilaku cari perhatian pada pria tampan. Tidak heran jika banyak siswi yang tidak menyukai tingkah laku Sasha.
“Oh iya, El. Nanti malam nginep tempat gue ya.”
“Oke, siap!” Eliana senang jika bermalam di rumah Nada.
Selain mereka hanya berdua saja. Di rumah Nada sudah tersedia semua kebutuhan. Mereka kemudian berjalan dengan santai melewati kerumunan para fans Galang. Diam-diam Galang mengamatinya tanpa diketahui oleh Nada dan juga Eliana.
**
Waktu pulang sekolah telah tiba. Karena hari ini Nada tidak membawa mobil. Akhirnya ia memilih untuk menaiki kendaraan umum. Sejak tadi Nada duduk di sebuah halte yang berada tidak jauh dari sekolahnya. Ia dengan setia menunggu angkutan umum tersebut. Sementara Eliana, sudah lebih dulu pulang untuk mempersiapkan barang yang akan dibawa menginap di rumah Nada.
Cuaca siang itu begitu terik. Membuat keringat Nada bercucuran membasahi wajahnya. Beberapa kali Nada menyeka dengan menggunakan tangannya. Tidak lama setelah itu, Nada dikejutkan dengan kehadiran Galang. Bahkan Nada sampai hafal dengan motor dan juga gaya Galang dalam mengendarai motor besarnya.
“Gue cari malah diem di sini.”
“Ngapain lo ke sini?” Nada membalas ketus.
__ADS_1
“Lo kan tadi berangkat sekolah sama gue. Ya pulang juga harus sama gue.”
“Ogah! Gue bisa naik angkutan umum sendiri.”
“Udah cepet naik. Nanti ada perampok baru tahu rasa lo.”
Ingatan Nada kembali pada kejadian tadi pagi. Sejujurnya ia sangat takut sekali. Tetapi Nada gengsi jika harus diantar pulang oleh Galang. Terlebih, ia tidak ingin berhutang budi pada pria itu. Lama sekali Galang menunggu, ia kesal dan berniat untuk meninggalkan Nada seorang diri di tempat itu.
“Eh, tunggu! Ya udah gue ikut lo,” ujarnya.
Galang tersenyum tipis di balik helm full facenya. “Ya udah cepat naik.”
“Ya sabar. Nggak sabaran banget jadi orang.”
Mereka selalu saja bertengkar. Tanpa menunggu waktu lama, Galang melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Sontak Nada kembali terkejut dan memeluknya erat. Saat ini Galang tidak terkejut lagi, ia mulai terbiasa dengan kejadian itu. Bahkan pria itu membiarkan Nada memeluknya dengan erat.
Pelukan tersebut terasa hangat. Belum pernah Galang merasakan nyaman seperti ini sebelumnya. Tidak butuh waktu lama mereka sampai di suatu tempat. Ya, suatu tempat tetapi bukan rumah Nada.
“Ini ‘kan bukan rumah gue?” protes Nada ketika tahu pria itu tidak membawanya pulang.
“Ya siapa juga yang bilang kalo ini rumah lo?”
“Lo pasti mau macem-macem, ‘kan?”
“Idih, percaya diri lo terlalu tinggi. Ada yang perlu gue ambil.”
Sementara Galang masuk, Nada masih berdiri kaku di depan pintu. Ia baru ingat kalau ini adalah markas geng motor. Nada lalu masuk dengan sangat hati-hati. Seperti biasa, kondisi markas ramai oleh anggota lainnya. Mereka menyambut Nada dengan suka cita. Begitupun Nada senang bertemu kembali dengan mereka semua.
“Gal, lo kenapa gak bilang kalo bakal ada cewek cantik ke sini?” Cakra lalu mempersilakan Nada untuk duduk.
“Gue cuma mau ambil helm ini aja.”
“Cantik, kamu udah makan belum?”
Nada menjawab dengan gelengan kepala.
“Ya ampun, tega banget lo Gal. Masa anak orang gak lo kasih makan. Cantik, kalo Galang nakal bilang aja sama Abang ya.” Cakra terus saja mencoba untuk merayu Nada.
“I-iya,” balas gadis itu dengan rasa gugup.
__ADS_1
“Lain kali kalo bawa anak orang itu minimal dikasih makan, Gal,” oceh Cakra.
“Banyak omong lo.” Galang menarik tangan Nada untuk keluar dari tempat itu.