King Of Buaya

King Of Buaya
Nada vs Tasya


__ADS_3

Pada sore hari, Nada sedang berdiri di gerbang sekolahnya. Ia baru saja menghabiskan waktu berenang bersama dengan Eliana. Tetapi sahabatnya itu sudah lebih dulu meninggalkan Nada. Pandangan matanya terus tertuju pada ponsel, sebab baru saja Nada memesan taksi online.


Kebetulan hari ini ia tidak membawa mobil kesayangannya. Dengan gayanya yang khas, Nada menarik tas gendong miliknya yang berwarna cokelat muda. Walau masih remaja, tetapi tidak bisa dipungkiri jika kecantikan Nada itu paripurna. Banyak siswa yang mengakui hal tersebut.


Embusan angin membuat rambutnya yang terurai itu bergoyang. Rambutnya yang masih basah sengaja diurai agar cepat kering jika terkena angin. Selama menunggu, Nada terus memainkan ponselnya. Hingga suatu saat ia dikejutkan oleh kehadiran dua orang perempuan yang tiba-tiba saja menarik tangannya.


“Woi, ngapain tarik tangan gue?!” pekik Nada seraya berusaha untuk melepaskan diri.


Semua yang dilakukannya sia-sia, tangan Nada dicengkram dengan begitu hebatnya. Tidak lama setelah itu, tubuh Nada terhempas ke tanah. Ia kini berada di bagian samping sekolah. Sontak Nada terkejut dan marah. Ia hendak bangkit, tetapi dihalangi oleh kedua perempuan tersebut.


“Mau apa lo? Jangan macam-macam sama gue ya!” ancam Nada.


Plok… Plok… Plok…


Terdengar suara tangan yang bertepuk beberapa kali. Lalu, muncul sosok perempuan berambut hitam dengan seragam sekolahnya. Ternyata perempuan itu adalah Tasya. Nada tidak mengenali mereka. Tidak hanya itu, mereka juga tidak mengenakan seragam sekolah yang sama dengan dirinya.


“Ada masalah apa kalian sama gue? Lepasin gue!” Nada masih berusaha untuk memberontak.


“Hahaha… Lo pasti nggak tau gue.”


“Ya lo itu siapa?”


Perempuan itu mendekat, “Lo udah usik hidup gue! Jadi, gue bakal kasih pelajaran sama lo.”


“Usik hidup lo? Gue aja nggak kenal siapa lo sebenarnya?”


“Lo udah berurusan sama gue. Dan udah rebut Galang dari hidup gue!” balasnya dengan mengeringai.


Nada terus berusaha melepaskan diri. Tetapi tubuhnya tidak mampu melawan. Kedua tangan Nada digenggam dengan erat. Ia masih dalam keadaan tergeletak di tanah. Sudah pasti seragam sekolahnya kotor akibat menyentuh tanah.


“Apa hubungannya sama gue?”


“Tentu aja ada hubungannya sama gue. Lihat ini.” Perempuan itu menunjukkan sesuatu yang ada di ponselnya.


Rupanya beberapa foto kedekatan antara Nada dan Galang. Gadis itu benar-benar terkejut. Ia tidak habis pikir bahwa selama ini ada seseorang yang diam-diam mengambil gambar dirinya dan Galang. Nada lalu menatap tajam ke arah perempuan itu.


“Lo pacarnya Galang?”


Perempuan itu hanya menyunggingkan bibirnya.


Sementara itu Nada berdecak kesal, “Ck… Gue sama Galang itu nggak ada hubungan apa pun. Lagipula, apa yang ada di foto itu nggak sesuai sama apa yang lo pikirin.”

__ADS_1


“Munafik! Lo suka ‘kan sama Galang? Hei, cewek bodoh! Galang itu punya gue.” Tasya meraih wajah Nada dan meremasnya sekuat tenaga.


“Arrgghh! Lepasin gue b*ngs*t!” Nada mengumpat kencang.


“Hahaha… Lo yang harusnya tahu diri. Cantikan juga gue, dan lo berani goda pacar gue. Itu artinya lo berurusan sama gue.”


“Lepas!”


Tasya melepaskannya. Ia kemudian berdiri dan melipat kedua tangan di dadanya.


“Gue nggak ada hubungan apa pun sama cowok lo.”


“Banyak omong!”


PLAKK…


Satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi Nada. Kini lima jari tercetak jelas di pipi kanan Nada. Gadis itu merintih kesakitan. Ia terlihat seperti seekor tikus yang tidak bisa melakukan perlawanan. Sementara itu, wajah Tasya tampak memerah. Ia tidak bisa mengendalikan emosi yang sekarang menyelimuti dirinya.


Nada mulai tersulut emosi. Ia berusaha keras agar dapat melepaskan diri. Ketika melihat ekpresi wajahnya yang seperti itu, Tasya beserta kedua temannya tertawa terbahak-bahak. Mereka seakan mengejek Nada dengan ketidak-berdayaannya saat ini.


“Jauhi Galang, atau gue bakal beri perhitungan jauh kejam dari ini!” ancam Tasya.


“Oh ya?” Bicara Tasya seperti menyepelekan.


Tatkala semuanya sedang memanas, tanpa disangka ada seorang pria yang datang secara tiba-tiba. Semua orang yang ada di tempat itu menoleh. Rupanya Galang datang dan memergoki kejadian memalukan tersebut. Sontak Tasya terkejut, begitupun dengan kedua temannya yang langsung melepaskan Nada begitu saja.


“Apa-apaan ini?!” tanya Galang dengan lantang.


“Eh, Sayang. Kamu ngapain ke sini?”


“Apa yang udah lo lakuin sama Nada?”


Tasya mendekat dan memeluknya, tetapi ia mendapatkan penolakan dari Galang.


“Gue tanya sekali lagi, lo apain Nada?!” Suara Galang menggelegar di telinga Tasya.


“Ki-kita cuma main-main aja kok.”


“Main-main lo bilang?”


Setelah mengucapkan itu, Galang lalu mendekati Nada dan mengangkat tubuhnya. Dengan gagah perkasa pria itu membawa Nada dari tempat itu. Tasya berusaha untuk mencegahnya, tetapi ia tidak berhasil. Kedua tangannya mengepal dengan sempurna. Ia kesal melihat kekasihnya lebih membela wanita lain dibanding dirinya.

__ADS_1


“Lepasin gue! Lo mau ngapain?” Nada hendak meloncat.


“Jangan gerak. Kalau lo gerak, nanti lo bisa jatuh. Pegangan yang kencang.”


Seperti dihipnotis, Nada menuruti perintah Galang. Ia melingkarkan tangannya di leher pria itu. Mereka sampai di pinggir jalan. Lalu Galang menurunkannya secara perlahan dan membukakan pintu mobil.


“Masuk! Nanti ceritanya,” ujar Galang.


Gadis itu hanya diam saja. Jujur saja, pipinya masih terasa perih akibat tamparan keras dari Tasya. Perlahan Galang mulai melajukan mobilnya. Sementara itu, Nada tidak bergeming sedikit pun. Di dalam mobil itu terasa sunyi dan hening.


“Tadi Tasya nampar lo?”


Nada menggelengkan kepala, ia tidak ingin keributan ini berkelanjutan.


“Jawab jujur! Mana mungkin dia nggak nampar lo. Sedangkan di pipi lo ada gambar lima jari.”


“Iya, tadi dia nampar gue,” jawabnya seraya menghela napas panjang.


“Terus lo diam aja? Gue bakal kasih perhitungan sama Tasya.” Galang menggebrak stir mobil miliknya.


“Jangan! Dia cuma cemburu aja karena lo dekat sama gue. Sekarang yang perlu lo lakuin, jauhi gue.”


Spontan Galang menoleh ke arah Nada, “Kenapa bisa gitu? Dia yang salah, kenapa lo belain?”


“Udah jangan diperpanjang. Tolong antar gue pulang.”


Kalimat itu menjadi kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nada sebelum keadaan di dalam mobil kembali hening seperti semula. Sepanjang perjalanan, Nada cenderung diam. Pandangannya terus tertuju keluar. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia sangat kesal pada Tasya.


Tetapi Tasya tidak akan salah paham jika tidak ada penyebabnya. Ada seseorang yang melaporkan ini semua, sehingga membuat amarah Tasya meledak. Tanpa terasa mereka sudah sampai di halaman rumah Nada. Gadis itu perlahan turun dari mobil. Kemudian disusul oleh Galang yang membantunya.


“Thanks ya! Udah antar gue sampai ke rumah,” tutur Nada.


“Iya, sama-sama. Maaf juga atas kelakukan pacar gue.”


Nada tersenyum tipis, “Santai aja. Cuma tamparan kecil, nggak buat gue gegar otak kok.”


Galang menarik napasnya dalam-dalam.


“Ya udah kalau gitu, gue masuk duluan.”


Sementara Nada masuk ke dalam rumah, Galang tetap berdiri untuk memastikannya. Setelah dirasa aman, ia melanjutkan kembali perjalannya. Beruntung sekali Galang datang di waktu yang tepat. Ia merasa bersalah karena kejadian itu membuat Nada terluka.

__ADS_1


__ADS_2