King Of Buaya

King Of Buaya
Menyatakan Perasaan


__ADS_3

“Gue kesel banget sama Galang. Kenapa sih dia selalu ganggu hidup gue?” gerutu Nada.


“Ini semua bukan salah Galang. Justru fansnya aja yang fanatik sama dia.”


Nada memutar bola matanya malas.


Untuk kali ini ia benar-benar membenci Galang dan tidak ingin bertemu lagi dengannya. Mereka kemudia melanjutkan perbincangan. Tanpa terasa mereka telah menghabiskan waktu cukup lama. Tiger memutuskan untuk mengantar Nada pulang.


Sampainya di rumah, tidak lupa Nada mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan pria itu hari ini. Tiger pun membalas dengan senyuman manis. Untuk pertama kalinya Tiger merasakan getaran hebat dalam hatinya. Tatkala ia melihat dari dekat wajah Nada dan juga senyuman indahnya.


“Ger, lo kenapa?” tanya Nada seraya mengibaskan kedua tangan di hadapan pria itu.


Seketika Tiger tersadar, “Eh… Nggak papa, gue pamit pulang dulu.”


“Sekali lagi terima kasih.”


Tiger tersenyum lalu pergi dari tempat itu.


**


Beberapa hari telah berlalu. Selama itu Nada selalu menghindar dari Galang. Walau beberapa kali Galang berusaha untuk dekat dengannya. Hingga suatu ketika, mereka tengah menikmati makan siang di kantin. Seperti biasa Nada akan menghabiskan waktu istirahatnya dengan menyantap makanan lezat.


Kebetulan siang itu ia seorang diri. Eliana sedang sibuk dengan kegiatan OSIS. Selagi menyantap makanan, tiba-tiba saja Nada dikejutkan oleh kehadiran Galang. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


“Mau apa sih lo di sini?” tanya Nada.


“Meja yang lain penuh. Cuma meja ini aja yang kosong,” balasnya.


Nada mengedarkan pandangan, ternyata benar hanya meja ini saja yang kosong.


“Lo kalau makan itu yang bener.”


Dengan sigap Galang mengusap noda yang ada di bibir Nada. Sontak kejadian itu membuat Nada terpaku. Usapan lembut terasa sekali di bibirnya. Tidak hanya itu saja, tatapan teduh diberikan oleh Galang. Tidak bisa dipungkiri, degub jantung Nada berubah drastiK dan semakin terpacu dengan cepat serta tidak terkendali. Bahkan kedua mata mereka saling memandang satu sama lain.


“Apaan sih?! Jangan sentuh gue!” Nada menepis tangan Galang dengan kasar.


“Gue ‘kan cuma bantuin.”


“Gue bisa sendiri.”


Nada terdiam, ia kembali menghabiskan sisa makanan dan juga minuman yang ada di hadapannya. Keduanya memang saling berhadapan, tetapi tidak ada interaksi antara keduanya. Sementara itu, Nada diam-diam memperhatikan wajah Galang. Ia melihat jika pria itu sedang memikirkan sesuatu.


Tampak dari raut wajah yang kusut dan tampilan berantakan. Tidak menggambarkan sosok Galang seperti biasanya yang terkenal dengan rapi dan wangi. Tetapi kali ini sangat berbeda sekali. Kemudian Nada memberanikan diri untuk bertanya pada pria itu.


“Lo kenapa? Abis kemalingan?” tanya Nada.

__ADS_1


Galang menggelengkan kepala.


“Kusut amat tuh muka.”


“Nggak papa, hanya kurang tidur aja.”


Nada membulatkan mulutnya seraya mengaduk minuman dan menyeruputnya.


“Lo nanti pulang sama gue,” ucap Galang.


Seketika Nada tersedak. Lalu Galang membantunya.


“Hati-hati kalau minum.”


“Ekhem… Ogah gila gue pulang sama lo.” Nada memutar bola matanya malas.


“Kenapa? Biasanya juga ‘kan pulang bareng.”


“Gue ada janji sama orang lain.”


Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nada sebelum wanita itu benar-benar pergi dari tempat itu. Sedangkan dari kejauhan, ternyata ada yang mengamati mereka berdua. Ya, dia adalah Eliana. Gadis itu hendak menghampiri sahabatnya, tetapi ia terhenti tatkala menyaksikan kejadian antara Nada dan Galang.


Tanpa ia sadari, kedua tangannya mengepal dengan sempurna. Saat ini Eliana bahkan tidak mengerti dengan perasaan yang sedang mendera dirinya. Ia tidak suka ketika Nada dekat dengan Galang. Itu sebabnya ia sering kali merasa cemburu jika Nada bersama dengan Galang.


“Nih.” Eliana memberikan dengan raut wajah datar.


Nada merasa ada yang aneh, lalu mendekat. “Lo kenapa El? PMS? Atau ada yang jahatin lo?”


“Nggak. Gue nggak papa.”


“Oh, ya udah kalau gitu. Gue pinjam ya buku lo.”


Eliana menjawab dengan deheman.


Tidak lama setelah itu, guru pun datang. Seluruh siswa memulai pelajaran mereka dengan seksama. Tanpa terasa waktu pulang telah tiba. Baik Nada maupun Eliana bergegas membereskan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas.


“El, lo mau ke mana buru-buru amat?” tanya Nada.


“Ada urusan.” Tanpa menoleh, Eliana pergi begitu saja meninggalkan Nada seorang diri.


“Dia kenapa? Kok kayak bete gitu ya?” gumam Nada dalam hati.


Tidak mau ambil pusing, Nada segera pergi untuk menemui seseorang. Sepulang sekolah Nada sudah ada janji dengan Tiger untuk pergi. Pria itu pun menunggu di depan gerbang sekolah. Nada yang tengah berdiri, mendengar ada suara yang memanggil namanya. Dengan cepat Nada menghampirinya.


“Udah lama nunggu?” tanya Nada.

__ADS_1


Tiger menggelengkan kepala, “Baru sebentar kok. Kita pergi sekarang, pakai dulu helmnya.”


Dibantu Tiger, Nada memakaikan helm di kepalanya. Mereka kemudian pergi bersama menaiki sepeda motor. Tanpa mereka ketahui, rupanya Galang melihat kejadian itu. ada rasa sesak di dadanya ketika melihat Nada pergi bersama dengan pria lain walau itu dengan Tiger.


“Mereka ada hubungan apa?” gumam Galang dalam hati.


**


Siang sampai petang dilalui mereka berdua dengan suka cita. Hari ini Nada merasa bahagia sekali. Sebab, Tiger adalah pria yang bisa membuat suasana hati Nada menjadi gembira. Ia dapat tertawa lepas, dan menikmati udara segar.


Sore ini mereka menikmati udara di sebuah taman kota. Duduk santai seraya memandangi langit yang sebentar lagi akan berubah warna menjadi gelap. Nada tidak henti-hentinya tersenyum tatkala ia menyaksikan betapa indahnya langit senja.


“Nad?” panggil Tiger.


Gadis itu menoleh dan menaikkan kedua alisnya.


“Boleh gue ngomong sesuatu sama lo?”


“Ngomong apa? Kayak sama siapa aja lo harus izin dulu.”


Tiger tersenyum, lalu menarik napasnya dalam-dalam. Sementara itu Nada masih menunggu.


“Ada sesuatu yang perlu gue omongin sama lo.”


“Iya, ngomong apa?”


“Gue suka sama lo, Nad.”


Deg!!! Dalam sekejap kedua mata Nada membulat dengan sempurna. Tidak hanya itu, jantungnya seakan berhenti berdetak. Napasnya pun tersenggal ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Tiger pada dirinya. Keduanya saling terdiam, suasana berubah menjadi hening. Mata mereka saling memandang satu sama lain tanpa berkedip.


“Nad?” Tiger mulai membuka pembicaraan kembali.


Nada tersadar dan langsung memalingkan wajahnya.


“Lo baik-baik aja?”


“Gu-gue, baik-baik aja,” balas Nada dengan gugup.


“Maaf ya kalau gue lancang. Gue tahu, udah ada cowok lain di hati lo. Tapi gue nggak bisa bohongin perasaan gue sendiri. Kalau sejujurnya gue suka sama lo, dan sayang sama lo Nad.”


Gadis itu tersenyum getir, “Ger, gue bingung mau jawab apa.”


“Nggak usah dijawab sekarang. Gue bakal tunggu jawaban lo kok. Oh iya, mending kita pulang sekarang. Udah mau malam.”


Nada setuju dengan itu. Pada akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pulang. Walau sebenarnya Nada masih memikirkan tentang ungkapan perasaan yang diucapkan oleh Tiger. Selama ini Nada hanya menganggapnya sebagai teman sekaligus sahabat. Tidak lebih dari itu. Tetapi ia melihat ketulusan yang diberikan oleh Tiger begitu besar.

__ADS_1


__ADS_2