King Of Buaya

King Of Buaya
Hari Galau Sedunia


__ADS_3

Kekacauan tidak bisa dihindari, Nada mengancam Galang dan akan memberikannya pelajaran. Ia bahkan sudah mengambil foto sebagai bukti yang akan ditunjukkan pada Eliana. Secepatnya Galang berusaha untuk merebut ponsel itu, tetapi ia gagal. Nada tersenyum dengan sinis, merasa bahwa dirinya menang atas Galang malam ini.


“Lo lihat aja besok, pasti Eliana bakal putusin lo,” tutur Nada dengan lugas.


“Hapus fotonya!”


Nada menggelengkan kepala, “Nggak akan. Gue juga udah kirim bukti foto itu ke Eliana.”


Galang benar-benar emosi, ingin rasanya ia menghabisi gadis itu. Tetapi semua itu tidak mungkin. Rasa kesal yang tidak terhingga, membuat Galang memutuskan untuk pergi dari tempat itu bersama dengan wanita yang sedang bersamanya. Mereka pergi meninggalkan Nada seorang diri. Kini Nada menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di restoran tersebut.


“Gue nggak akan tinggal diam kalau sahabat gue disakitin gitu aja,” ucap Nada pelan.


Kemudian ia kembali kepada kedua orang tuanya yang sedang menunggu untuk makan malam. Dendam Nada terhadap Galang semakin dalam. Ia tidak habis pikir dengan Galang yang selalu saja mempermainkan hati wanita. Selama makan malam, ia terus memikirkan Eliana. Sudah pasti hati Eliana hancur ketika mendengar kabar buruk ini.


**


“Huhuhu… Nada gue sedih banget.” Eliana terus mengusap air matanya yang mengalir begitu deras.


“Gue ‘kan udah bilang, jangan terima dia lagi. Lo sih ngeyel banget jadi orang.”


Eliana semakin menjadi-jadi. Ketika menyaksikan sahabatnya yang sedang menangis, Nada berusaha untuk menghiburnya.


“Istirahat nanti kita makan seblak deh, gue juga ikutan makan. Gue bayar makanan lo,” ujarnya.


“Nggak mau. Gue maunya Galang, huaaaa…” Suara Nada memenuhi ruang kelas.


“Ssttt… Jangan teriak, nanti gue yang malu.”


Tidak lama kemudian guru datang. Segera mungkin Eliana menghilangkan bekas air matanya. Nada kembali ke posisi semula. Seluruh siswa mengikuti pelajaran dengan seksama. Keheningan menyelimuti kelas itu. Sedari tadi, Nada memainkan penanya. Ia sesekali melirik ke arah Eliana yang ada di sampingnya.


Waktu istirahat telah tiba, Nada dan Eliana pergi ke perpustakaan. Kebetulan hari ini kelas mereka diberi tugas untuk mencari buku. Ketika di dalam perpustakaan, Eliana hanya diam saja. Wajahnya tampak murung dan tidak bersemangat. Nada yang melihatnya hanya bisa menghela napas panjang. Ia membiarkan sahabatnya menenangkan diri.


“El, pulang sekolah nanti kita ke Mall ya,” ajak Nada.

__ADS_1


Eliana hanya diam saja tidak menjawab.


“El, jangan sedih gitu geh. Gue jadi bingung ini.”


“Gue udah putusin Galang tadi,” balasnya tanpa ekpresi wajah.


Nada terkejut mendengar hal itu, “Serius?! Baguslah kalau gitu.”


Eliana menjawab dengan deheman.


Nada kembali fokus pada tugasnya. Ketika dirinya sedang berkutat dengan buku, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Segera Nada mengambil ponsel yang ada di sampingnya. Ada sebuah pesan dari nomor tidak dikenal. Nada kemudian mengabaikan pesan tersebut. Sebab, sudah menjadi kebiasaan Nada mengabaikan pesan yang menurutnya tidak penting.


Namun, pesan itu terus saja masuk. Nada menjadi kesal dan terpaksa untuk menjawabnya. Sementara itu, Eliana mulai mengerjakan tugasnya. Dengan rambut yang sudah tidak beraturan. Gadis itu benar-benar galau hari ini.


“El, lo tahu nomor ini nggak?” tanya Nada.


Eliana melirik ke arah ponsel sahabatnya, lalu menggelengkan kepala.


“Dari google kali.”


Nada mendengus kesal, “Mana ada nomor gue di google, Markonah. Oh iya El, lo kayak orang gila tahu nggak. Rambut acak-acakan kayak gitu.”


“Mulai sekarang gue tetapin kalau hari ini adalah hari galau sedunia buat gue.”


Tatkala mendengar celetukan sahabatnya, Nada berdecak pelan seraya tertawa kecil. Ia membiarkan sahabatnya berekspresi sesuai dengan keinginannya. Tetapi, Nada mulai tidak fokus karena pesan yang diterimanya. Pesan itu dari seorang pria yang mengajaknya berkenalan. Tetapi Nada tidak mengetahui tentang pria tersebut.


Tidak ingin tahu lebih jauh, Nada meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dan mengarahkan pandangannya pada buku yang sedang ia pegang. Mereka cukup lama berada di tempat itu. Tanpa sadar kalau bel masuk sudah berbunyi. Keduanya lalu bergegas menuju kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.


**


Di tempat lain.


“Bos, gue udah buat konsep untuk tour kita bulan depan,” ucap Tiger seraya memberi sebuah kertas berisikan tulisan kota-kota besar.

__ADS_1


“Kerja bagus. Kita harus persiapkan dengan baik. Oh iya, Reynan jangan lupa siapin logistik selama kita tour.”


Reynan hanya diam saja tidak menjawab.


Reynan merupakan salah satu anggota Warriors yang terkenal pendiam. Tidak hanya pendiam saja, Reynan juga memiliki keahlian dalam berkelahi. Oleh sebab itu ia berkedudukan sebagai panglima Warriors. Ia selalu diandalkan ketika Galang sedang tidak ada. semua orang yang ada di ruangan itu tampak begitu serius dengan pekerjaannya masing-masing.


“Kenapa diam-diam sih kawan?” celetuk Davin dengan gayanya yang tengil.


Semua orang melihat ke arahnya.


“Santai, jangan serius mulu. Ngopi yuk! Sambil santai, kita ‘kan mau liburan. Bukan mau ujian nasional.”


“Lo bener kawan, tumben lo pinter,” timpal Cakra.


Davin menaik turunkan alisnya ketika mendapat pujian dari Cakra.


Beberapa saat kemudian, datang seorang pria tua mengantarkan kopi dan juga camilan ringan. Ya, Davin sudah memesan minuman dan makanan dari pedagang kaki lima yang ada di sekitar markas Warriors. Walau mereka geng motor yang sangar, tetapi Galang menekankan jika mereka harus tetap melakukan kebaikan pada sekitar.


Dalam sekejap kopi dan camilan lenyap di serbu oleh mereka. Sampai-sampai, Davin tidak mendapatkan bagian. Ia kesal dan mengerutkan dahinya. Padahal ia sudah membayangkan betapa nikmatnya kopi itu masuk ke dalam mulutnya. Cakra yang mengetahui hal itu mendekati Davin dan menepuk pundaknya seraya tertawa.


“Yang sabar ya Bro, hidup ini memang selalu banyak ujian,” ujarnya meledek.


Davin mengangkat tangannya yang menoyor kepala Cakra, “Lo juga ngapa ambil jatah gue! Balikin!”


Ia merebut gelas kopi dari tangan Cakra yang berujung bertikaian. Tingkah laku mereka berdua memang selalu menjadi hiburan bagi anggota lainnya. Davin dan Cakra selalu saja membuat tingkah konyol mereka di saat semuanya sedang serius. Ketika sedang asik melihat drama dua sahabat, di sudut ruangan Reynan terlihat tersenyum ke arah ponsel yang ada di genggaman tangannya. Seperti ada yang menarik perhatiannya. Kedua mata Davin tertuju pada Reynan. Ia lalu mendekatinya dan mencoba untuk menggoda pria berdarah dingin itu.


“Lagi ngapain lo? Jangan-jangan lo lagi chat sama doi ya?” Davin berusaha untuk melihat isi percakapan di ponsel Reynan.


“Berisik,” jawab Reynan dengan tegas dan raut wajah yang datar.


Davin langsung terdiam, “Ya jangan marah juga kali. Gue ‘kan cuma penasaran aja.”


“Hem…” Hanya itu saja yang dapat dikatakan oleh Reynan.

__ADS_1


__ADS_2