
“Galang.” Nada terkejut dengan kehadiran Galang.
Segera mungkin Nada turun dari mobilnya. Nada memperhatikan wajah Galang yang penuh dengan luka. Namun, pria itu sedikit memalingkan wajahnya.
“Wajah lo kenapa?” tanya Nada.
“Gak papa. Sorry, tadi gue nggak fokus.”
“Ikut gue.”
“Mau ke mana?” Galang mencoba untuk menolak.
“Udah, jangan banyak omong.”
“Motor gue gimana?”
Nada membuka pintu mobil, “Nanti gue suruh orang buat balikin motor lo.”
Nada menarik tangan Galang, dan membawanya ke dalam mobil. Awalnya Galang menolak, tetapi Nada terus memaksa pria itu untuk ikut dengannya. Tanpa pikir panjang, Nada melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Selama dalam perjalanan, mereka saling diam.
Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah rumah. Ya, Nada membawa pria itu ke rumahnya. Kemudian Nada mempersilakan Galang untuk duduk. Ia pergi meninggalkannya seorang diri. Tidak lama kemudian, Nada datang dengan membawa sesuatu di tangannya.
“Lo berantem sama siapa?” Nada mulai mengobati luka lebam di sekitar wajah Galang.
“Ssttt…” Galang merintih kesakitan.
Sementara itu, Nada memicingkan matanya. “Maaf.”
“Udah, gue bisa sendiri.”
“Ck! Keras kepala, lo itu lagi gak baik-baik aja. Lagipula, lo itu berantem sama siapa? Kenapa bisa bonyok gini.”
Tidak ada jawaban dari Galang. Pria itu hanya diam saja.
Perlahan Nada kembali mengobati luka tersebut. Beberapa kali Galang merintih dan menahan sakit yang dahsyat di wajahnya. Pukulan tadi membuat wajahnya hancur lebam. Tetapi sebagai seorang pria, Galang gengsi jika terlihat kesakitan di hadapan Nada. Sebisa mungkin ia menahan agar tidak terlihat dramatis.
Keadaan seperti itu membuat keduanya saling dekat. Bahkan saat ini wajah mereka saling berhadapan, membuat mata mereka pun bertatapan satu sama lain. Nada berhenti tatkala Galang menatapnya dengan teduh. Tidak tahu kenapa sekarang jantung Nada berdegub sangat kencang. Setelah tersadar, Nada meletakkan kain di atas meja dan berusaha untuk menghindar.
“Terima kasih,” ujar Galang.
__ADS_1
Nada yang mengangguk saja.
“Kenapa lo nolong gue?”
“Ya, gue cuma kasihan aja. Lagian wajah babak belur gitu bukannya diobati, malah pergi keluyuran keluar rumah.”
Galang mendekati Nada yang duduk tepat di sampingnya. “Lo suka ya sama gue?”
Deg… Seketika kedua mata Nada membulat dengan sempurna. Ia menoleh ke arah Galang dan menatapnya dengan tajam. Sementara itu, Galang mengedipkan matanya. Pria itu menggoda Nada, membuat rona di pipinya semakin memerah.
“Jangan natap gue kayak gitu!” Nada memberikan mata sinis pada lawan bicaranya.
Sontak Galang tertawa, “Hahaha… Lo lucu kalo lagi salting gitu.”
Nada berdecak kesal.
Ia kemudian pergi untuk membereskan semuanya. Sedangkan Galang duduk seorang diri di ruang tamu. Kondisi rumah itu sangat sepi sekali. Hanya ada asisten rumah tangga yang membawakan minuman untuk Galang. Selagi memperhatikan sekeliling, tiba-tiba saja Nada telah kembali dengan membawa camilan di tangannya.
“Rumah lo sepi banget. Orang tua lo ke mana?” tanya Galang penasaran.
“Mereka lagi sibuk kerja.”
“Cuma ada gue sama Bi Surti aja.”
“Kasihan.” Galang mengacak-acak rambut Nada dengan gemas.
Merasa terdzolimi, Nada menepis tangan Galang dengan kasar. “Jangan pegang rambut gue. Keramat rambut ini.”
“Hahah… Kocak lo.”
Mereka berdua melanjutkan kembali obrolan. Hari itu mereka tidak bertengkar. Bahkan Nada mulai bisa berbicara dengan tenang. Sebab, biasanya setiap kali bertemu pasti mereka bertengkar. Ada saja yang diperdebatkan. Tanpa terasa waktu sudah malam. Waktunya bagi Galang untuk pulang.
Pria itu tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih. Malam itu Galang pulang menggunakan taksi online. Karena motornya sudah diamankan oleh orang suruhan Nada dan dibawa pulang ke rumahnya. Kemudian Nada mengantarnya ke depan, hingga Galang benar-benar hilang dari pandangannya.
**
Kringgg…. Kringgg…. Kringgg….
Seperti biasa, alarm itu selalu terdengar nyaring setiap paginya. Dan ya, untuk beberapa saat sang pemilik alarm tersebut terbangun dari mimpi indahnya. Nada membuka mata secara perlahan. Ia memicing tatkala sinar matahari telah berhasil menembus jendela kamarnya.
__ADS_1
Gadis itu diam sejenak. Merasakan kemalasan yang menjalari seluruh tubuhnya. Ia melirik ke arah jam dinding. Masih ada waktu untuk dirinya bersantai di atas tempat tidur. Nada meraba dan mencari beradaan ponselnya. Hingga akhirnya, ia berhasil menemukan ponsel tersebut. Terdapat beberapa pesan dari Veny sang ibunda.
“Hem… Kebiasaan berangkat kerja nggak nunggu anaknya bangun tidur,” gerutu Nada di pagi hari.
Setelah bersemedi cukup lama, Nada memutuskan untuk pergi mandi. Sejujurnya ia malas sekali menghadapi pagi. Sebab, tidak ada yang menarik bagi dirinya. Orang tua yang selalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ditambah tugas-tugas selalu saja membuat kepala Nada berdenyut.
Setelah beberapa saat, Nada berjalan menuruni anak tangga. Ia sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Tidak lupa, rambut yang terikat mirip ekor kuda itu selalu menemani hari-hari Nada. Menurutnya rambut yang diikat itu lebih memudahkan dalam beraktifitas. Rupanya Bi Surti sedang mempersiapkan sarapan pagi.
“Pagi, Bi!” sapa Nada tidak lupa dengan senyuman indah di bibirnya.
“Pagi, Non. Silakan dimakan Non, Bibi udah masak sayur dan juga ayam goreng.”
Nada tergiur dengan makanan tersebut. Tanpa pikir panjang, ia melahap makanannya.
“Gimana Non? Enak?”
“Masakan Bibi memang selalu the best,” puji Nada seraya mengacungkan kedua ibu jarinya.
“Non Nada mau bawa bekal ke sekolah?”
“Nggak usah Bi. Nanti aku makan di kantin aja.”
Bi Surti menganggukkan kepala.
Selesai makan, Nada bergegas menuju sekolah. Ia tidak ingin terlambat. Jika sampai itu terjadi, maka dirinya harus menerima hukuman dari guru BK. Oleh sebab itu, Nada mempercepat langkah kakinya. Ia mengendarai mobil dengan santai.
Kebetulan pagi itu terlihat macet. Banyak kendaraan yang berlalu lalang. Tidak hanya mobil saja, tetapi sepeda motor juga ikut mendominasi. Beberapa kali Nada melirik ke arah arlojinya. Butuh waktu yang lama jika macet ini berkepanjangan. Akhirnya Nada memutuskan untuk mencari jalan pintas.
“Huft… Akhirnya bisa bebas dari macet.” Nada bernapas lega.
Walau jalur yang ia tempuh sedikit lebih jauh. Tetapi setidaknya sekarang Nada tidak perlu berdesakan dengan mobil lainnya. Hingga suatu waktu, tiba-tiba saja mobilnya berhenti mendadak. Sontak Nada terkejut. Ia mencoba untuk menghidupkannya kembali. Tetapi nihil, mobilnya tidak bisa menyala kembali.
“Duh… Kenapa lagi ini mobil?” ocehnya.
Kemudian Nada turun dan mengeceknya. Selama ini ia memang tidak mengerti tentang mesin. Sehingga percuma dirinya mencoba untuk mengecek. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada satu orang pun yang dapat membantu dirinya. Seraya berkacak pinggang, Nada mencoba menghubungi montir langganannya.
Namun, karena terlalu pagi bengkel tersebut belum bisa dihubungi. Kini Nada dilanda kebingungan. Tidak ada yang bisa membantunya sekarang. Beberapa kali ia menghubungi Eliana, tetapi sahabatnya itu tidak bisa dihubungi.
“Masih pagi loh ini. Jangan buat gue kesel dong, Bil,” oceh Nada tiada henti pada mobil kesayangannya.
__ADS_1