King Of Buaya

King Of Buaya
Terpesona


__ADS_3

Segala sesuatu persiapan untuk ulang tahun Nada sudah hampir selesai. Tinggal tersisa satu hari lagi Nada bertambah umur. Walau ia senang, tetapi jauh di lubuk hatinya yang terdalam gadis itu merasakan kekosongan. Bagaimana bisa kedua orang tuanya tidak hadir di acara spesial dirinya.


Nada tidak mungkin membatalkan acaranya begitu saja. Ia tetap melanjutkan walau tidak didampingi Veny dan Firman. Siang itu Nada menghabiskan waktunya untuk duduk di bawah tegakan pohon yang ada di pinggir lapangan. Ia senang menghirup udara segar di sana. Apalagi ditambah angin sepoi, membuat otaknya merasa jauh lebih tenang.


“Ngapain lo di sini?” Secara mengejutkan Galang duduk tepat di samping Nada.


Hampir saja gadis itu berteriak tetapi beruntung tangan Galang sigap menutupnya.


“Lepas!” Nada menyingkirkan tangan itu dari mulutnya.


“Lo jangan teriak. Nanti gue dikira ngapa-ngapain lo lagi.”


“Ya lagian, lo ngapain ngagetin gue? Ngapa juga lo ada di sini.”


Galang membetulkan posisi duduknya, “Memangnya salah kalo gue duduk di sini? Ini ‘kan tempat umum.”


Nada tidak menjawab kalimat terakhir yang dilontarkan lawan bicaranya itu. Ia fokus pada langit dan awan yang perlahan berubah menjadi kelabu. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Akhir-akhir ini memang sering sekali turun hujan. Tidak bisa diprediksi dengan jelas.


“Lo liat apaan?” Galang mengikuti ke arah langit.


“Kepo lo,” balas gadis itu dengan sinis.


“Oh iya, selamat ulang tahun.”


Seketika Nada menoleh dan menyernyitkan dahinya, “Sakit lo Bambang? Gue ‘kan ulang tahunnya besok.”


“Ya, gue mau jadi orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun.”


“Ogah gila.” Nada menggeliatkan tubuhnya.


“Btw, lo kenapa sedih?”


“Dih… Sok tau lo. Siapa juga yang sedih? Oiya, besok jangan lupa bawa kado buat gue. Jangan datang tangan kosong.” Nada memberikan peringatan.


“Udah ‘kan kemarin.”


“Apa?”

__ADS_1


Galang berdecak pelan, “Tas,” jawabnya singkat.


Nada menepuk dahinya dengan kencang, “Astaga! Itu hadiah ulang tahun?”


Pria itu mengangguk, seakan mengiyakan pertanyaan Nada.


Nada terkejut sampai membulatkan kedua matanya. Ia tidak pernah terbayang jika hadiah ta situ merupakan hadiah ulang tahun untuknya. Padahal, selama ini yang selalu ingat adalah Eliana. Tetapi tahun ini berbeda, ada orang lain yang jauh lebih dulu mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.


Di sela istirahat itu, mereka berbincang sedikit. Nada berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi kesedihannya. Ia tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang suasana hatinya hari ini. Tanpa disadari, perlahan air mulai menetes. Tanda bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Nada dan Galang bergegas bangkit menuju kelas.


Tetapi naas, belum sempat mereka menyelamatkan diri. Air hujan telah turun dan membasahi pakaian mereka berdua. Nada berlari terbirit-birit, lalu diikuti oleh Galang di belakangnya. Mereka berteduh dengan keadaan seragam yang sudah basah akibat air hujan.


“Duh… Basah lagi,” gerutu Nada.


Diam-diam Galang melepas jaket yang melekat di tubuhnya. Ia menyibakkan jaket tersebut di tubuh Nada. Hal itu membuat Nada terkejut dan menoleh. Alhasil, mereka saling beradu pandang dalam jangka waktu yang cukup panjang.


“Supaya lo nggak kedinginan,” bisik Galang seraya memakaikan jaket tersebut di tubuh Nada.


Gadis itu mengedarkan matanya. Ia menyaksikan dengan jelas betapa tampannya wajah Galang dari dekat. Jantungnya kini tidak bisa terkendali. Tidak hanya itu, napasnya pun seakan berhenti tatkala Galang tersenyum tipis ke arahnya. Sampai akhirnya, Galang mencubit hidung Nada sampai membuatnya kemerahan.


“Aarrgghh!!! Sakit,” pekik Nada karena merasa kesakitan.


“PD gila lo.” Nada memutar bola matanya malas.


“Udah ngaku aja.” Kini Galang berhasil membuat pipi Nada berubah menjadi merona.


“Berisik lo. Udah ah, gue ke kelas duluan.”


Nada berjalan dengan terburu-buru. Ia menahan rasa malu karena ejekan Galang. Tidak tahu kenapa saat ini perasaannya tidak teratur. Degub jantungnya tidak bisa terkontrol. Ia akhirnya sampai di kelas. Nada duduk seraya menundukkan kepala.


“Lo kenapa Nad?” tanya Eliana yang sadar akan kehadiran sahabatnya.


“Ng-nggak papa.”


“Lo pake jaket siapa Nad? Gue baru liat.” Eliana memegang jaket yang sedang dikenakan oleh Nada.


“Itu tadi…”

__ADS_1


Belum sempat Nada melanjutkan ucapannya, Pak Guru sudah datang dan siap untuk memulai pelajaran. Tidak lama kemudian, Galang datang dan langsung duduk di kursinya. Ya, pria itu kini berada tepat di belakang Nada. Tidak tahu sejak kapan Nada menjadi salah tingkah seperti ini.


Padahal ia selama ini tidak peduli dengan kehadiran Galang. Sikap Nada yang seperti itu berhasil membuat Eliana curiga. Beberapa kali gadis itu melirik ke arah Nada, dan juga ke arah Galang.


“Kayaknya ada yang aneh sama mereka berdua,” gumam Eliana dalam hatinya.


**


“Mana sih, kok nggak datang-datang?” Nada menggerutu karena sejak tadi ia menunggu sopir untuk menjemput.


Sore itu Nada membawa beberapa bungkus plastik yang berisikan keperluan untuk pesta besok. Ia sengaja membelinya sendiri karena dengan itu Nada bisa menyesuaikan seleranya. Sudah hampir 30 menit Nada menunggu, tetapi belum ada tanda-tanda bahwa dirinya dijemput.


Ketika dirinya sedang menunggu, ia tersadar dengan suara motor yang berhenti di depannya. Seakan tahu siapa yang datang, Nada langsung memasang wajah masam. Benar saja, ternyata Galang yang mengendarai motor itu.


“Biar gue anter,” ujarnya.


“Lo itu ngikutin gue ya? Kenapa setiap gue ada di luar, selalu ada lo juga.”


“Jangan halu, itu kantor nyokap gue. Tadi gue nganter berkas,” ujarnya.


Galang memberikan helm kepada Nada. Karena gengsi, Nada menolak ajakan pria itu. Namun, Galang terus memaksanya. Pada akhirnya Nada menerima tawaran tersebut. Sejauh ini memang Galang selalu ada di saat Nada membutuhkan bantuan. Tidak tahu sudah berapa banyak Nada berutang budi pada pria itu. Di kejauhan, ada yang mengawasi mereka berdua.


Ckrekk…


Satu foto epik telah berhasil diambil. Wanita itu tersenyum bahagia tatkala melihat hasil jepretannya. Sudah seperti paparazi handal. Di perjalanan, Nada sedikit kesulitan membawa barang di tasnya. Apalagi motor Galang yang sedikit tinggi membuat gadis itu tambah kesulitan.


“Gal, berhenti dulu bisa nggak?” pinta Nada.


Tanpa aba-aba, Galang langsung mengerem. Nada yang berada di belakang otomatis menabrak tubuh Galang. Ia kesal pada sikap pria itu dan berakhir dengan pukulan keras di punggungnya. Galang meringis kesakitan karena ternyata pukulannya sangat keras.


“Bisa nggak kalau jadi cewek tuh jangan suka KDRT,” protes Galang.


“KDRT lo bilang? Emangnya kita suami istri.”


“Lo mau apa?” tanya pria itu karena tidak ingin memperpanjang masalah.


“Gue susah bawa ini.” Nada menunjukkan belanjaannya yang ada di tangan.

__ADS_1


“Ya udah sini.”


Dengan penuh kesigapan, Galang mengambil alih kantung plastik itu. Ia meletakkannya di depan. Setelah semuanya merasa aman, Galang kembali melajukan motornya. Sekarang Nada merasa ringan dan dapat duduk dengan tenang. Tiada hari tanpa berdebat dengan Nada. Ya, itulah mereka yang selalu bertengkar dalam situasi apa pun.


__ADS_2