King Of Buaya

King Of Buaya
Kenyataan Mengejutkan


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu. Markas dalam keadaan ramai. Seluruh anggota berkumpul dan sedang membicarakan perihal berita yang beredar. Selama kurun waktu dua hari, berita mengenai perampokan dan juga kejahatan atas nama Warriors terus diberitakan. Semua itu membuat anggota Warriors panik.


Terutama Galang sebagai ketua. Beberapa malam tidurnya tidak nyenyak. Ia terus mencari informasi atas semua kejadian yang telah terjadi. Sampai saat ini Galang tidak menemukan titik temunya. Hingga suatu siang, Galang sedang duduk termenung dan berpikir. Tiba-tiba terdengar suara bising yang mengejutkan semua orang.


Brakk…


Suara kencang itu berasal dari hantaman kaki Reynan pada sebuah pintu. Semua yang ada di situ bangkit, begitupun dengan Galang. Wajah Reynan terlihat memerah. Di sampingnya terdapat seorang pria yang meringkuk ketakutan.


“Ada apa ini?” tanya Galang.


“Jangan sok polos dan nggak tau apa-apa!” Reynan mengangkat jari telunjuknya tepat di wajah Galang.


Galang yang menanggapinya dengan kerutan di dahi, “Maksud lo apa? Gue nggak ngerti apa yang lo omongin.”


“Tanya aja sama bajingan ini.”


Dengan kasar Reynan membuat pria yang ditangkapnya jatuh ke lantai. Kemudian Tiger mendekati pria itu, ia mengangkat wajahnya dengan menggunakan tangan. Sehingga mereka saling beradu pandang.


“Lo siapa?” tanya Tiger.


“Gu-gue, orang suruhan Galang.”


Deg!!! Semua yang ada di situ terdiam. Termasuk Galang yang sudah membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Tiger sempat melirik ke arah Galang, lalu ia kembali menatap tajam pada pria yang ada di hadapannya.


“Apa maksud lo? Ngomong itu yang jelas?!” Tiger membentaknya, membuat pria itu tidak berdaya.


“Biar gue jelasin. Dia itu salah satu perusuh yang udah bawa nama Warriors. Dia suruhan Galang. Dan ketua kita ini udah nyuruh orang buat ngerampok dan juga melakukan kejahatan di jalanan dan mencoreng nama baik Warriors,” terang Reynan.


Galang yang mendengar hal itu langsung angkat bicara, “Jangan sembarangan kalo ngomong! Gue nggak pernah ngelakuin hal sehina itu bangs*t!”


“Sabar. Apa benar lo disuruh Galang buat hancurin nama Warriors?” Tiger kembali bertanya.


Pria itu mengangguk.

__ADS_1


Seketika suasana berubah. Seakan tertimpa tangga, Galang tidak terima atas tuduhan terhadap dirinya. Selama ini ia tidak pernah melakukan apa pun. Apalagi jika harus menaruhkan nama baik Warriors. Semua anggota Warriors menatap heran ke arah Galang. Rasa kecewa tampak jelas di wajah mereka semua.


“Gue nggak ngelakuin itu. Apa kalian percaya? Nggak mungkin gue ngancurin Warriors gitu aja.” Galang berusaha untuk menjelaskan.


“Munafik! Jangan berlagak baik di depan kita semua. Kalau lo mau ngehancurin Warriors dan bubarin Warriors, lo bakal berhadapan sama gue!” Reynan mengangkat kerah baju milik Galang.


Terjadi perseteruan yang sengit di tempat itu. Reynan terus menyudutkan Galang. Sang ketua berusaha untuk menjelaskan semuanya. Tidak hanya itu saja, Reynan juga menunjukkan sebuah foto. Di mana Galang sedang bersama dengan pria itu dan memberikannya uang.


Galang dan yang lainnya melihat dengan seksama foto tersebut. Setelah dipikir-pikir Galang ingat bahwa itu adalah foto ketika dirinya memberikan uang pada pengemis yang ada di pinggir jalan. Kembali pria itu menjelaskan jika memang Galang telah memberikannya uang agar melancarkan rencananya menghancurkan Warriors dan memakai jaket ketika beraksi.


Penjelasan tersebut semakin menyulut emosi anggota Warriors lainnya. Galang sekarang dalam keadaan tidak baik. Sekuat tenaga ia mengelak, tetapi teman-temannya tidak ada yang mempercayai. Karena dirasa suasana semakin tegang, Cakra dan Davin membawa Galang pergi dari tempat itu.


“Kita pergi sekarang dari sini,” ujar Davin.


Awalnya Galang menolak, tetapi dengan kasar Cakra menarik tangan Galang keluar dari markas. Mereka pergi menuju rumah Cakra. Sampainya di sana, Galang menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia memijat pelipis yang terasa berat. Sementara itu, Davin dan Cakra masih terdiam.


Setelah dirasa tenang, mereka mulai mengintrogasi Galang dengan banyak sekali pertanyaan. Sejauh ini Galang terus berusaha meyakinkan kedua temannya kalau ia tidak melakukan hal keji itu.


Cakra menghela napas panjang, “Gue juga nggak ngerti. Tapi nggak tau kenapa gue nggak percaya sama tuduhan itu.”


“Gue setuju,” sahut Davin.


“Kita udah lama kenal. Gue yakin lo nggak mungkin ngelakuin itu ‘kan?” tanya Cakra meyakinkan.


“Ya nggak lah! Gila kali kalo sampai gue ngelakuin itu semua. Gue ketua Warriors, lo semua tau ‘kan apa tujuan gue jadi ketua geng motor. Cuma mau hancurin bokap gue aja, nggak lebih dari itu. Dan nggak mungkin gue hancurin Warriors.”


“Kita coba cari jalan keluarnya.” Davin menepuk pundak Galang.


Mereka kembali terdiam. Keheningan terjadi di ruangan itu. Emosi Galang mulai meningkat. Tetapi ia berusaha agar tetap tenang untuk mendapatkan jalan keluarnya. Tanpa disadari, kedua tangan Galang mengepal dengan sempurna. Ia tidak habis pikir kenapa semua itu malah berbalik pada dirinya.


**


Di sisi lain.

__ADS_1


Nada sedang bersantai di teras rumahnya. Ia menikmati udara segar yang menyejukkan hati. Dengan seduhan teh hangat, menambah kesan nyaman pada waktu itu. Ketika dirinya tengah bergelut dengan kenyamanan, tiba-tiba saja secara mengejutkan ada sebuah batu cukup besar melayang mendekatinya.


Gadis itu terkejut dan berteriak. Beruntung batu itu tidak mengenai dirinya. Nada mengedakan pandangannya. Ia berdiri dan terus mengamati sekitar. Rasa takut kini menyelimutinya. Perlahan Nada membungkuk, ia mengambil batu tersebut. Ada sebuah kertas yang menyelimuti batu itu.


“Woi, siapa di sana?!” pekik Nada.


Tetapi tidak ada suara apa pun. Kemudian Nada membaca sebuah tulisan yang ada pada kertas itu. Betapa terkejutnya Nada, ketika ia membaca sebuah tulisan besar dengan tinta merah terukir dalam kertas berwarna putih.


LO BUKAN SAHABAT! LO KHIANAT!!!


“Apa maksudnya? Siapa yang udah tulis dan kirim ini?” Nada terus bertanya-tanya.


Ia teringat kembali akan kejadian di hari ulang tahunnya. Segera Nada masuk ke dalam rumah. Ia mengunci pintu dengan rapat. Takut jika ada sesuatu terjadi pada dirinya. Kertas itu masih berada dalam genggaman tangan Nada. Kembali ia membacanya dan memperhatikan tulisan tersebut.


“Siapa yang khianat? Dan siapa yang udah ngirim ini?” Gumam Nada dalam hati.


Pertanyaan besar muncul dalam benaknya. Sudah dua kali terjadi seperti ini. Saat sedang berpikir, Nada terkejut karena kehadiran Bi Surti di dekatnya. Wanita paruh baya itu tersenyum ke arah Nada, memperlihatkan deretan giginya.


“Bibi, buat Nada kaget aja,” gerutunya.


“Maaf, Non. Abisnya Bibi lihat Non Nada serius sekali membaca kertas itu.”


Nada kemudian duduk di sofa, “Bukan apa-apa kok, Bi. Oh iya, udah ada makanan belum Bi? Nada lapar.”


Bi Surti tersenyum, “Udah Non. Bibi siapkan dulu di meja makan. Atau Non mau tunggu Tuan dan Nyonya?”


“Nggak usah, Bi. Bunda sama Ayah pulang malam nanti.”


“Ya sudah kalau gitu, Non. Bibi pamit siapkan makan dulu.” Bi Surti menunduk dan pergi meninggalkan Nada seorang diri.


Nada mengangguk.


Rasa lapar kini menyerangnya, oleh sebab itu Nada memutuskan untuk makan. Selama menikmati makanan, pikirannya terus tertuju pada kertas itu. Ia penasaran dengan pengirimnya. Dan kenapa dikirimkan pada dirinya. Sedari tadi, Nada hanya mengaduk makanan. Ia tiba-tiba saja tidak selera makan, padahal tadi perutnya merasakan lapar yang sangat hebat.

__ADS_1


__ADS_2