
Keadaan semakin keos. Grup chat ramai sejak tadi. Galang yang kebetulan mematikan ponselnya, tidak tahu berita terkini. Tiba-tiba saja Cakra menunjukkan sesuatu pada Galang. Rupanya anggota Warriors meminta agar Galang mengundurkan diri sebagai ketua. Galang mengacak rambutnya.
“Aarrgghh!!!”
Davin yang berada di sampingnya berusaha untuk menenangkan, “Tenang, Gal. kita cari jalan keluarnya. Kita yakin, bukan lo pelakunya.”
“Tapi anak-anak udah minta gue buat mundur. Kalo gitu, gue bakal mundur.”
“Jangan!” bentak Cakra.
Galang menoleh dengan tatapan tajam.
“Kalo lo mundur, pasti si Reynan ambil alih. Dan gue nggak akan biarin itu terjadi.”
Kali ini Davin setuju pada Cakra. Semua yang dikatakan oleh Cakra itu benar. Saat ini Galang dirundung dilema. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ketika dirinya sedang merenung, secara mengejutkan pintu rumah terbuka lebar dengan suara hentakan kaki. Galang dan kedua temannya spontan menoleh secara bersamaan.
Rupanya sosok yang selama ini dibenci oleh Galang, kini berada di hadapannya. Galang kemudian bangkit dan berjalan menghampirinya. Sementara itu, Luis menyunggingkan bibirnya penuh dengan kegembiraan.
“Bagaimana, Nak? Apa kamu puas dengan permainan Papa?” ujar Luis.
“Brengsek! Jadi lo penyebab semua ini. Kurang ajar!”
Bug… Satu pukulan keras berhasil mendarat sempurna di wajah Luis. Pria itu tidak melawan. Justru ia semakin tertawa lepas. Tidak berhenti di situ saja, Galang terus mengayunkan tangannya. Emosinya membabi buta tatkala tahu kalau semua ini adalah rencana Luis. Cakra dan Davin yang menyaksikan kejadian itu langsung panik.
Mereka berusaha untuk mengendalikan emosi Galang yang sudah meledak. Dengan santainya Luis berjalan seraya bertepuk tangan. Pria itu lalu duduk tenang di sofa dan mengangkat salah satu kakinya ke atas meja.
“Kalian itu masih muda. Kenapa harus ikut-ikutan ide konyol Galang?” tanya Luis.
“Bangs*t! Mau apa lo hah?!” Galang kembali memberontak, tetapi berhasil dicegah oleh Cakra dan Davin.
“Papa nggak mau apa-apa, Nak. Papa hanya mau kamu dan Warriors itu hancur. Sebagaimana dulu kamu menghancurkan geng motor Papa.”
Ya, tepat satu tahun yang lalu. Galang beserta Warriors telah berhasil menghancurkan geng motor milik Luis. Benar-benar hancur lebur tidak tersisa. Para anggotanya pun pergi begitu saja meninggalkan Luis seorang diri. Ia menyaku kalah waktu itu, tetapi sampai detik ini Luis masih menyimpan dendam pada Galang dan Warriors.
__ADS_1
“Oh iya, mama kamu kemana Gal?” Luis bangkit dan mengedarkan pandangannya.
Galang menarik pakaian Luis dan hendak menghajarnya, “Jangan ganggu nyokap gue! Mending lo pergi sana! Jangan ganggu hidup gue sama nyokap gue!”
“Santai, Nak. Jangan emosi gitu. Papa cuma rindu mama kamu aja.”
“Cih! Suami biadab!”
Luis tertawa geli mendengar kalimat yang keluar dari mulut Galang. Pria itu kemudian pergi meninggalkan Galang yang masih emosi padanya. Cakra dan Davin terus mencegah Galang agar temannya itu tidak menyerang ayahnya sendiri.
“Gal, lo tenang. Jangan gegabah gitu,” pinta Davin.
“Apa yang dibilang Cakra itu benar, Gal.”
“Kita kasih tau anak-anak sekarang.” Cakra hendak pergi tetapi Davin menarik tangannya.
“Lo jangan sama bodohnya ya! Kita nggak ada bukti. Mana mungkin anak-anak percaya gitu aja sama omongan lo.”
“Lo bener,” jawabnya lagi.
**
“Cheers.”
Seluruh anggota Warriors merayakan atas terpilihnya Reynan sebagai ketua baru. Sedangkan Galang, ia diturunkan secara paksa oleh anggota Warriors. Mereka semua bersulam dengan kemenangan dan kegembiraan. Reynan telah berhasil merebut hati anggota Warriors dan berhasil menyingkirkan Galang dari posisi sebagai ketua.
“Gue yakin, kalau Warriors ada di tangan Reynan. Pasti kita akan semakin maju,” ujar salah satu dari mereka.
“Betul itu,” sahut yang lain.
“Ger, gimana? Apa lo tetap mau jadi panglima atau jadi wakil gue?” Reynan menaik turunkan alisnya.
“Gue mending cabut dari sini.” Tiger mengambil tas dan pergi dari markas.
__ADS_1
Reynan dan yang lainnya membiarkan Tiger pergi. Menurutnya Tiger tidak terlalu penting di Warriors. Yang terpenting sekarang adalah, ia sudah menduduki tahta tertinggi dan akan segera menguasai seluruh geng motor lainnya.
Tiger melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Selagi fokus pada jalan, ia melihat Nada sedang diganggu oleh beberapa wanita di pinggir jalan. Tanpa pikir panjang, Tiger langsung menghampirinya. Rupanya Nada tengah berseteru dengan seorang wanita yang tentu saja Tiger mengenalnya.
“Ada apa ini? Kenapa kalian berantem di pinggir jalan?”
Suara Tiger menyita perhatian Nada. Ternyata Nada sedang bersama dengan Tasya.
“Sya, lo ngapain Nada?” Tiger menatap tajam ke arah wanita itu.
“Kenapa jadi salah gue? Harusnya lo tanya sama cewek ini. Kenapa dia rebut Galang dari gue?”
Nada menghela napas panjang, “Harus berapa kali gue bilang. Gue nggak ada rebut Galang dari lo. Lo sendiri yang menyimpulkan dan bully gue.”
“STOP!!!” Tiger berdiri tepat di hadapan mereka, “Bisa berhenti nggak! Apa kalian nggak malu bertengkar di keramaian kayak gini? Dan buat lo Sya, Galang itu mau putus bukan karna Nada. Lo tau sendiri kalo Galang memang udah nggak suka sama lo.”
“Tapi Ger, gue sayang banget sama Galang.” Kedua mata Tasya berkaca-kaca.
“Ahhh udahlah, Nad ikut gue.”
Tiger menarik tangan Nada untuk mengikutinya. Mereka lalu pergi begitu saja. Sementara itu Tasya menangis di pinggir jalan seorang diri. Banyak orang yang memandanginya dengan tatapan aneh. Awalnya Nada menolak, tetapi Tiger memintanya untuk naik ke atas motor. Kali ini Nada menuruti perintah Tiger.
Ia tidak tahu akan pergi ke mana. Tetapi yang jelas, sekarang mereka berhenti di depan sebuah café yang tidak jauh dari tempat pertengkaran tadi. Nada dan Tiger lalu memesan minuman. Sampai saat ini Nada hanya diam saja. Ia masih terbawa emosi oleh sikap Tasya yang selalu saja menyalahkan dirinya atas kandasnya hubungan antara Tasya dan Galang.
“Ngapain sih lo ajak gue ke sini?” Nada mulai berbicara.
“Nggak papa. Gue cuma mau bawa lo pergi aja tadi. Soalnya kalau diterusin, Tasya nggak akan ada habisnya.”
Nada mengangguk, “Lo bener banget. Gila ya tuh cewek, udah berapa kali gue bilang kalau gue nggak terlibat dalam hubungannya.”
“Udahlah, namanya juga bucin. Pasti bakalan bodoh.” Tiger tersenyum tipis.
“Ck! Semua ini salah Galang. Dia yang udah ngelakuin, kenapa jadi gue yang kena imbasnya.”
__ADS_1
Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang. Nada yang kehausan langsung meneguk minuman itu sampai habis. Bahkan Tiger tercengang melihat itu. Pria itu kemudian tersenyum dan ikut meneguk minumannya.