
Sepanjang perjalanan menuju rumah Nada, gadis itu terdiam. Sesekali ia mengalihkan pandangan ke arah sekitar. Rasa canggung di antara keduanya mulai terasa. Saat ini Nada sedang dilanda dilema berkepanjangan. Ia tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Sementara itu, diam-diam Tiger memperhatikan Nada. Tampak kegelisahan di wajah gadis itu. Tidak lama kemudian, akhirnya mereka sampai. Nada melepas helm dan memberikannya kepada Tiger.
“Mampir dulu,” ucap Nada berbasa-basi.
Tiger tersenyum seraya menggelengkan kepala, “Udah sore banget. Gue langsung pulang aja.”
“Terima kasih, Ger. Udah antar gue pulang.”
“Iya Nad. Ya udah kalau gitu, gue duluan.”
Nada menjawab dengan anggukan.
Gadis itu tetap berdiri sampai Tiger benar-benar pergi dari sana. Kemudian, Nada melenggang masuk ke dalam rumah. Dan seperti biasa, rumah dalam keadaan sepi. Hanya ada Nada seorang diri di tempat itu. Setelah membersihkan tubuhnya, Nada kemudian berjalan menuruni anak tangga. Ia hendak makan malam bersama dengan Bi Surti.
“Masak apa Bi?” tanya Nada.
“Bibi masak ayam bakar. Non mau makan sekarang?”
Nada mengangguk. Bi Surti langsung menyiapkan piring dan meletakkannya di hadapan Nada.
“Bibi makan sama Nada ya? Biar Nada ada temennya.”
“Iya Non.”
Sudah hampir dua hari kedua orang tua Nada tidak pulang. Mereka harus keluar negeri untuk mengurus beberapa pekerjaan di sana. Bukan hal biasa bagi Nada. Padahal, Nada sangat merindukan kedua orang tuanya. Tetapi ia hanya bisa diam, dan tidak bisa berbuat banyak. Selagi fokus makan malam, tiba-tiba Nada menghentikan tangan dan meletakkan sendok di piring.
Ia menoleh ke arah Bi Surti. Seakan mengerti, Bi Surti pun menghentikan aktifitas makannya. Seperti ada sesuatu yang hendak disampaikan oleh Nada. Sebelum berbicara, Nada kemudian meneguk minum terlebih dahulu.
“Bi,” panggil Nada pelan.
Bi Surti menoleh, “Ada apa, Non?”
“Aku boleh curhat nggak Bi?”
“Ya ampun Non, kalau mau curhat ya curhat aja.” Bi Surti tersenyum mendengar itu.
“Tapi Bibi janji jangan ngeledek,” balasnya memastikan.
Bi Surti mengangguk mengerti.
__ADS_1
“Ada yang nyatain perasaannya sama Nada, Bi. Nada harus gimana ya Bi?”
“Ya Non Nada suka nggak?”
Nada terdiam sejenak, kemudian ia menggelengkan kepalanya.
“Kalau Non Nada nggak suka, ya jangan dijalani. Karena, sesuatu nggak baik kalau dipaksakan.”
“Tapi dia udah baik banget sama Nada, Bi.”
Bi Surti menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan seraya mengusap punggung tangan Nada.
“Non, kita itu mencari kenyamanan. Dia memang baik, tapi kalau kita nggak ada perasaan yang sama bagaimana? Kasihan kalau kita pura-pura suka, tapi sebenarnya nggak. Dia juga nggak salah, itu hak setiap manusia untuk punya rasa suka sama orang lain. Tapi Bibi sarankan, sebaiknya Non yakinkan lagi hatinya.”
Semua yang dikatakan Bi Surti itu benar. Nada sampai terdiam tidak bisa berkata-kata. Kedua matanya berkaca, seakan ia merasakan sosok seorang ibu di dalam diri Bi Surti. Tanpa aba-aba, Nada memeluk Bi Surti dengan erat. Di saat seperti ini memang Nada sangat membutuhkan sosok seorang ibu di sampingnya. Bi Surti terharu dan hanya bisa mengusap lembut punggung gadis itu. Tidak lama kemudian, Nada melepaskan pelukannya.
“Terima kasih ya, Bi,” ujar Nada.
“Iya sama-sama Non.”
**
Malam itu Galang bersama dengan kedua temannya mencari udara segar. Mereka melepas rasa lapar di sebuah pedagang kaki lima yang ada di pinggir jalan. Galang memesan makanan untuk dirinya dan kedua temannya Cakra dan Davin.
“Gila, nasi goreng terenak yang pernah gue makan,” ucap Cakra.
“Lebay amat lo. Gak pernah dimasakin lo di rumah?” sahut Davin.
“Yehh… Lebay dikit nggak ngaruh.”
“Oh iya Gal, lo nggak ada niatan mau ke markas?” tanya Davin.
Galang menoleh, “Memangnya gue masih diterima di sana? Bukannya kalian udah benci gue?”
“Yailah Gal, masa nyerah gitu aja.”
“Belum ada bukti gue,” balas Galang dengan nada pasrah.
Mereka melanjutkan kembali. Di tengah-tengah menyantap makanan, tiba-tiba saja terdengar suara riuh dari segerombolan pemuda. Galang dan kedua temannya spontan menoleh ke arah sumber suara. Tidak lama kemudian, tampak beberapa pemuda dengan membawa senjata tajam berlari dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Galang yang terkejut meletakkan piring dan mengisyaratkan agar Cakra dan Davin ikut bersamanya. Mereka bertiga penasaran dan bergegas mencari tahu tentang apa yang sedang terjadi. Betapa terkejutnya mereka, rupanya para preman itu tengah tawuran di tengah jalan.
“Bajingan! Kenapa bisa ada tawuran di sini?” umpat Davin seraya mengepalkan kedua tangan.
“Gal, lihat itu! Itu ‘kan anggota Warriors?”
“Lo bener.” Davin menimpali.
Rupanya aksi tawuran tersebut tidak hanya dari kalangan preman saja, tetapi Warriors juga ikut andil. Galang tidak bisa tinggal diam, ia kemudian berlari mencoba untuk menghentikan mereka semua. Gelora muda di jiwa preman itu tidak bisa terelakkan. Pada akhirnya Galang, Cakra, dan Davin terlibat pekelahian.
Beruntung Galang pandai dalam berkelahi. Ia menepis serangan demi serangan yang mengarah kepadanya. Tidak hanya tangan kosong, tetapi beberapa senjata tajam hampir saja mengenai tubuhnya. Sekuat tenaga Galang berusaha untuk berteriak dan menghentikan kerusuhan yang sudah terjadi.
“Keadaan semakin keos, kita harus lakukan sesuatu Gal,” pinta Davin.
Galang memutar otak. Hingga akhirnya, ia menghubungi polisi dan melaporkan kejadian ini. Beberapa saat kemudian, tembakan polisi terdengar. Seluruh preman itu terhenti dan ada yang berhasil melarikan diri. Tetapi sebagian dari mereka berhasil diamankan. Mereka semua dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
“Apa yang sudah terjadi?” Polisi mulai mengintrogasi mereka.
Tetapi semuanya diam seribu bahasa. Wajah mereka yang penuh dengan luka lebam tertunduk. Tidak ada yang menjawabnya. Galang yang juga ada di sana mengamati dari kejauhan. Hatinya miris tatkala melihat ada beberapa anggota Warriors yang juga ikut ditangkap.
“Tadi kami mendengar kalau ada preman yang menghancurkan gerobak pedagang kaki lima, Pak. Maka dari itu kami membela pedagang itu, dan berakhir dengan kerusuhan.” Akhirnya ada yang mau angkat bicara.
“Tapi kalian itu tetap salah. Bagaimana jika ada korban nantinya? Kalian itu sebagai geng motor harusnya berperilaku baik. Apalagi kalian masih muda.”
Semuanya terdiam.
“Kamu juga Galang. Harusnya kamu kasih tahu teman-teman kamu ini.”
“Baik, Pak. Saya minta maaf, dan saya jamin tidak ada terulang kembali.”
Cukup lama mereka diintogasi. Galang juga ikut membantu teman-temannya. Sebab, Galang yakin jika teman-temannya itu tidak bersalah dan hanya ingin membantu pedagang yang ditindas oleh para preman. Setelah bergelut cukup panjang, akhirnya mereka dibebaskan tetapi bersyarat. Sementara sebagian preman ditindak lanjuti. Tentu saja Galang menjadi jaminannya kali ini.
“Mau-mauan lo jadi jaminan,” gerutu Cakra.
“Sstt… Diam lo Bambang. Ini semua demi kebaikan Warriors.”
“Reynan mana? Gak kelihatan batang idungnya,” sahut Davin.
“Udahlah jangan dibahas.” Galang menghentikan ocehan temannya.
__ADS_1