
"Diam Kau, Hama Sialan! Ganggu Suasana Saja!"
[Maafkan Aku.. Huahahaha.] Ia Masih Tertawa Keras Disana
Kemudian Gilgamesh Menenangkan Dirinya Dan Ia Lalu Mengambil Rokok Yang Sedaritadi Ia Letakkan Dimeja Itu. Sikapnya Berubah Hanya Dalam Beberapa Saat Saja, Valina Tampak Penasaran Kenapa Bisa Berubah Dngan Singkat Saja.
Namun Itu Adalah Hal Yang Tidak Berguna Untuk Ditanyakan
Jadi Ia Tidak Bertanya Mengenai Hal Yang Terjadi Barusan Itu.
Akhirnya Pesanan Yang Mereka Pesan Tadi Datang Kesana Dan Lalu Pelayan Perempuan Tersebut Meletakkan Ketiga Minuman Di Meja Yang Ada Didepan Mereka Bertiga Disana.
Gilgamesh Hanya Memberikan Senyuman Sebagai Balasan Dan Ia Kemudian Lanjut Menikmati Rokoknya Tersebut Sambil Memandangi Ombak Lautan Yang Ada Cukup Jauh Didepan Mereka Bertiga, Ombak Tersebut Menghantam Orang
Orang Yang Sedang Berenang Ditepi Dan Membuat Mereka Terhanyut Ke Tepi Pantai, Banyak Orang Yang Tampak Senang
Dan Menikmati Hal Tersebut, Gilgamesh Sebetulnya Ingin Mandi Di Lautan Sesekali, Namun Situasinya Tidak Memungkinkan. Ia Membawa Dua Orang Perempuan Untuk Berkencan Bukan Untuk Hal Semacam Itu, Jadi Ia Hanya Bisa
Menyembunyikan Niatnya Dan Melakukannya Dilain Waktu.
Valina Mengangkat Gelas Es Krim Nya Tersebut Dan Kemudian
Memakan Satu Sendok Es Krim Rasa Vanila Itu, Gilgamesh Ingin Mengatakan Sesuatu Hal Namun Sudah Didahului Nya
"Kakekku Adalah Keturunan Langsung Dari Lucifer Pertama, Dan Itu Membuatku Mendapatkan Kekuatannya Walaupun Belum Kubangkitkan, Namun Disisi Lain Ibuku Adalah Seorang Manusia Biasa Yang Lumayan Jago Dalam Hal Sihir."
"Kawanan Iblis Yang Dipimpin Oleh Lucifer Dan Tiga Pemimpin Lainnya Kalah Dalam Perang Besar 500 Tahun Lalu.
Dan Membuat Kawanan Iblis Yang Tersisa Harus Bersembunyi
Di Kedalaman Dunia Bawah, Oleh Karena Itu, Keberadaanku Tidak Diketahui Oleh Kawanan Iblis Tersebut."
Irise Langsung Beralih Menatap Kearah Valina, Ia Tidak Tahu Tentang Masa Lalu Sahabat Paling Dekatnya Itu, Jadi Ia Memutuskan Untuk Mendengarnya, Dan Tidak Lupa Ia Meletakkan Es Krimnya Di Sampingnya. Dan Sesekali Ia Juga Memakannya, Sementara Gilgamesh Juga Fokus Mendengarkan Valina Sambil Masih Melihat Kearah Lautan.
"5 Tahun Ku Kujalani Dengan Biasa Saja Seperti Kebanyakan Iblis Di Dunia Bawah, Namun Semuanya Berubah Saat Albion
Terbangkitkan. Ayahaku, Razevan Lucifer Tidak Tahan Terhadap Keberadaanku, Dan Takut Denganku. Potensiku Dimasa Depan Jelas Akan Sangat Jauh Meroket Dan Melebihi Dirinya Tentunya. Aku Tidak Memahaminya Karena Saat Itu Aku Hanya Sebatas Bocah Yang Tidak Tahu Apa-apa, Kuyakin Tidak Hanya Iri Yang Ada Padanya, Namun Ia Sepertinya Juga Ketakutan Akan Keberadaan Ku Nantinya."
"Dia Tidak Tahu Harus Berbuat Apa-apa Pada Saat Itu, Jadi Ia Meminta Saran Pada Kakekku, Rizevim Livan Lucifer, Kakekku
Yang Angkuh Itu Menyuruhnya Untuk Meruntuhkan Mentalku
__ADS_1
Dan Tentu Saja Saat Itu Aku Masih Hanya Sebatas Bocah Saja."
"Dia Sudah Membuatku Dan Ibuku Menderita, Ayahku, Razevan Lucifer, Pikirannya Di Manipulasi Oleh Si Brengsek Itu
Dan Di Permainkan Olehnya, Itu Membuat Ayahku Gila Saat Itu. Dan Suatu Hari Kewarasannya Kembali Seperti Semula. Ia Menyesal Telah Melecehkan Anaknya Sendiri Selama Masa Itu,
Dan Akhirnya Ia Membawaku Pergi Dari Hadapan Ayahnya Itu"
"Ia Membawaku Ujung Sebelah Timur Dunia Bawah, Meninggalkanku Disana Sendirian, Aku Tinggal Dua Hari Disana, Dan Makanan Ku Disana Hanya Beberapa Jamur Saja, Dan Beberapa Buah Buahan Dan Tumbuhan. Semuanya Kumakan Demi Hidupku, Hingga Di Hari Ketigaku Disana, Seseorang Wanita Dan Pria Kebetulan Terbang Diatas Daerah ku Di Tinggalkan, Aku Tidak Tahu Apa Yang Mereka Lakukan Disana, Dan Aku Bersyukur Karena Mereka Berdua Melihatku Yang Terduduk Diatas Tanah Tandus Disana."
"Dan Meraka Berdua Adalah Sepasang Suami Istri, Ialah Azazel Dan Istrinya, Ruby Livan Lucifer, Yang Juga Adalah Anak Dari Lucifer Asli, Itu Artinya Ia Adalah Nenek Atau Bibiku. Mereka Membawaku Ke Kediaman Mereka Berada, Grigori.
Disitulah Aku Dibesarkan, Dan Kebetulan Disana Ada Irise Yang Berusia Sama Denganku, Aku Dengan Cepat Akrab Dengannya, Bermain Tanah, Panjat Pohon, Semuanya Pernah Kami Lakukan, Walaupun Kami Perempuan Namun Saat Itu Masih Hanya Sebatas Bocah Saja, Jadi Kami Melakukan Apapun Permainan Maupun Itu Yang Diajarkan Oleh Para Anggota Grigori, Ataupun Permainan Yang Kami Ciptakan Sendiri." Valina Tersenyum Saat Menceritakan Tentang Bagian Tersebut
Dan Kemudian Tatapannya Berubah, Ia Menatap Lurus Kearah Lautan Yang Ada Beberapa Belasan Meter Dari Tempat Meraka. Mereka Berdua Bisa Melihat, Tidak Ada Kesedihan Dalam Tatapan Itu, Hanya Ada Kebencian Yang Melimpah Terhadap Orang Bernama Rizevim Livan Lucifer Tersebut.
Kemarahan, Kebencian, Semuanya Bisa Dilihat Hanya Dari Tatapan Matanya Saja, Ia Sangat Membenci Sosok Kakeknya Itu. Dan Tentu Saja Ia Sangat Ingin Bajingan Itu Tersiksa Habis Sebelum Kematiannya, Sekarang Ia Masih Hidup Di Suatu Tempat Di Dunia Bawah Tentunya, Tidak Ada Yang Tahu Dia.
Dalam Perang Besar 500 Tahun Yang Lalu, Ia Sempat Hadir Sebentar Dan Kemudian Pergi Begitu Saja Karena Merasa Kalo Pasukan Yang Dipimpin Oleh Ayahnya, Lucifer Itu Akan Kalah.
"Aku Ingin Menyelamatkan Ayahku Dan Membebaskannya Dari Kesialan, Kemalangan Dan Lainnya Yang Menimpa Dirinya Itu, Aku Ingin Memberinya Kematian Cepat Supaya Terbebas Dari Rasa Sakit Yang Ia Alami Selama Ini, Dan Aku Ingin Membunuh Sampai Itu, Keluargaku Tersiksa Karena Sampah Tidak Bermoral Itu."
Dengan Membunuh Ayahnya, Itu Tidak Akan Membebaskan Nya Dari Dosa-dosanya, Namun Kebenciannya Akan Berkurang Padanya Dan Meningkatkannya Pada Rizevim.
Pada Akhirnya, Niat Valina Terbongkar, Ia Ingin Membebaskan
Nya Dari Kesakitan Yang Ia Alami Selama Ini Dengan Memberi
Nya Kematian Cepat, Dan Ia Ingin Rizevim Tersiksa Sebelum Kematiannya. Sosok Itulah Yang Membuat Semuanya Seperti Ini
"Namun Kamu Sekarang Tidak Memiliki Kekuatan Untuk Menandinginya, Bukan? Karena Hal Itu Kau Ingin Menjadi Kuat Dengan Berlatih Keras Tanpa Henti." Ucap Gilgamesh Dan Valina Membenarkan Perkataannya Dengan Menganggukkan Kepalanya Sekali Kebawah, Ia Lalu Mengambil Gelas Es Krim
Nya Lagi Dan Memakannya Beberapa Sendok Dan Akhirnya Es Krim Tersebut Hanya Tersisa Beberapa Suapan Lagi.
Walaupun Ucapan Gilgamesh Terasa Menyakitkan, Namun Ucapannya Dibenarkan Olehnya Yang Artinya Semua Itu Benar. Ia Saat Ini Masih Belum Bisa Apa-apa Dalam Melawan
Anak Laki-laki Lucifer Itu, Apalagi Orang Itu Memiliki Semacam Sacred Gear Yang Bisa Membatalkan Sacred Gear Orang Lain. Sementara Irise Hanya Diam Dengan Wajah Kasian Setelah Mendengar Semua Cerita Masa Lalunya, Siapa Sangka Kawan Terdekatnya Itu Memiliki Masa Lalu Yang Teramat Menyakitkan.
"Tua Bangka Sialan Itu Memiliki Kekuatan Yang Amat Besar Dikarenakan Darah Lucifer Asli Yang Mengalir Di Dalamnya,
Apalagi Ia Memiliki Sacred Gear Canceller Yang Bisa Membatalkan Sacred Gearku, Aku Harus Berlatih Puluhan Tahun Lagi Agar Bisa Mengalahkan Tua Bangka Sialan Itu."
__ADS_1
Ia Tampak Mengeluh, Gilgamesh Menghembuskan Asap Rokoknya Sambil Sedikit Menaikkan Kepalanya Kearah Atas.
Kemudian Gilgamesh Memegang Dan Membelai Rambut Valina. Disaat Yang Bersamaan Tampak Irise Yang Bangkit Dari Bangku Dan Berjalan Menuju WC Yang Ada Di Samping Toko Es Krim Tersebut, Kemudian Gilgamesh Berbicara Kepada Valina.
"Gadis Kecil, Sekarang Kamu Tidak Sendirian Lagi, Kamu Bisa Mengandalkanku, Aku Kamu Bergantung Padaku Mulai Sekarang." Gilgamesh Memberikan Senyuman Pada Valina.
"Tapi Apa Untungnya Kamu Membantuku? Kamu Hanya Akan Merepotkan Dirimu Sendiri." Valina Bertanya Kepada Ku.
"Gadis Kecil, Kamu Tahu? Kebahagiaanmu Adalah Berkah Untukku, Jangan Lupa, Kamu Sudah Menjadi Istriku Saat ini."
Perkataan Ku Mampu Menggerakkan Hatinya Yang Sudah Tertutup Itu. "Aku Tidak Ingin Hidupmu Hancur Karena Kamu Terus Menginginkan Pembalasan Dendam Terhadap Rizevim"
"Terimakasih... "
"Hoo~ Tidak Usah Berterimakasih, Sudah Kewajiban Seorang Suami Dalam Membantu Istrinya." Gilgamesh Membalasnya Dengan Memberikan Senyuman Sebagai Tambahannya, Ia Kemudian Kembali Merokok Sambil Melihat Kearah Depannya
"Pulang Yuk." Suara Irise Terdengar Dari Belakang.
Irise Kembali Karena Tahu Pembicaraan Mereka Berdua Yang Cukup Penting Sudah Selesai, Ia Mengelus Rambutnya Dan Merapikannya Karena Rambutnya Tampak Cukup Berantakan.
"Nih 50.000" Gilgamesh Menyodorkan Lima Lembar Uang 10.000 Yen Kepada Irise Supaya Irise Membayar Es Krim Yang Mereka Pesan Tadi. Irise Meraihnya Dan Mengambil Lima Lembar Yang Tersebut Dan Memasukkannya Kedalam Dompet Yang Cukup Kecil Yang Ia Bawa Dan Setelahnya Ia Memasukkan Kembali Dompetnya Kedalam Saku Roknya Itu.
"Eh... Kok Malah..." Aku Tampak Heran Dengannya
Ia Hanya Memberikan Senyuman Geli Dan Lalu Menjawabku.
"Aku Sudah Membayarnya Tadi." Jawab Irise
"Hoo~ Jadi Kamu Menjadikan Uang Yang Aku Berikan Ke Milikmu, Yah Tidak Masalah Sih, Kamu Ambil Saja Tu Duit."
"Hehe... Arigatou." Balasnya Dengan Senyuman Tipis.
Kemudian Gilgamesh Dan Dua Gadisnya Memutuskan Untuk Segera Pergi Karena Sudah Lumayan Lama Juga Mereka Disana.
Saat Perjalanan Pulang, Irise Yang Mengendari Mobil Tersebut.
Valina Duduk Dibagian Depan, Sementara Gilgamesh Tentunya Duduk Dibagian Belakang Tidak Ada Percakapan Antara Valina Dan Gilgamesh, Valina Ataupun Gilgamesh Hanya Berbicara Dengan Irise Saja. Namun Itu Bukanlah Kecanggungan Karena Tidak Nyaman, Malah Sebaliknya, Itu Membuat Hubungan Mereka Berdua Menjadi Semakin Kuat Kedepannya Nantinya.
Sampai Sini Dulu Ya Guys
...Bye Bye...
__ADS_1