
Saat Ini Aku Sedang Bersantai Di Pemandian, Tepatnya Di Kolam Renang Yang Berada Di Lantai Atas. Aku Melebarkan Kedua Tanganku Lurus Kesamping Dan Meletakkannya Diatas
Lantai Sambil Terus Melihat Kearah Langit-langit Ruangan Ini.
"Kamu Bilang Ingin Membuat Semacam Bisnis Disini Kan? Kapan Kamu Akan Memulainya? Kamu Sudah Membuat Sebuah Bangunan Dan Semua Barang Yang Dibutuhkan, Jadi Yang Kamu Butuhkan Sekarang Hanyalah Pekerja Disini Kan?"
Suara Itu Berasal Dari Irise.
Tampak Irise Yang Berada Disamping Kananku, Ia Membaringkan Kepalanya Diatas Tangan Kananku Yang Masih
Kulebarkan, Tangan Kanannya Berada Dibagian Dada Atasku, Lebih Tepatnya Berada Dibawah Leherku, Didepan Kami Berdua Juga Tampak Valina Yang Sedang Berenang Kesana Dan Kemari, Ekspresi Semangat Tampak Terukir Diwajahnya.
"Kamu Ada Benarnya Juga."
"Menurutmu Pelayan Seperti Apa Yang Kubutuhkan? Apakah Lebih Baik Seorang Manusia Biasa Saja? Atau Mahkluk Supranatural?" Aku Mengalihkan Pandanganku Kearah Valina
"Hmm... Lebih Baik Makhluk Supranatural Saja Dibanding Manusia Biasa, Kalo Kamu Mau Akan Kucarikan Seseorang. Di Markas Ayahku Banyak Fallen Angel Yang Tentu Saja Akan Mau
Menjadi Seorang Pekerja Didalam Gedung Ini." Jawab Irise
"Malaikat Jatuh? Sebaiknya Jangan Melibatkan Mereka, Aku Akan Melakukan Ritual Pemanggilan Setelah Selesai Dari sini"
"Ritual Pemanggilan? Bisakah Kamu Jelaskan Padaku."
"Sederhananya Aku Dapat Memanggil Seseorang Dari Dunia Lain Dan Kujadikan Orang Itu Sebagai Budakku, Gimana? Sangat Mudah Untuk Dipahami Bukan? Intinya Seperti Itulah"
"Apa? Bisa Memanggil Seseorang Dari Dunia Lain? Apakah Kamu Benar-benar Bisa Melakukan Hal Semacam Itu? Itu Adalah Hal Yang Tidak Pernah Ada Dalam Sejarah Manapun."
"Jangan Menganggapku Remeh Irise, Sudah Kubilang Pada Dirimu Dulu Kan? Aku Adalah Dewa Yang Sudah Mengalahkan
Hampir Semua Dewa Dari Sepuluh Ribu Multiverse Diluar Sana. Jadi Ini Adalah Hal Yang Tidak Mustahil Bagi Diriku"
"Hufft Baiklah... Kalau Begitu Aku Ingin Melihatnya Juga."
"Satu Hal Lagi Irise, Kenapa Tanganku Malah Turun Kesana? Aku Kan Sudah Bilang Kalo Kamu Hanya Perlu Membasuh Bagian Dadaku Saja Bukan?" Aku Menatap Kearah Bawahku
"Ah Maafkan Aku. Tanganku Bergerak Dengan Sendirinya."
"Kalian Berdua.. Ngomongin Apa Dari Tadi?" Tiba-tiba Valina Datang Menghampiri Kami Berdua Yang Lagi Bersantai Disana.
Irise Langsung Menolehkan Pandangannya Kearah Valina.
"Tidak, Hanya Masalah Sepele."Jawab Pelanku Dengan Santai
"Hah? Yang Bener? Kamu Membohongiku Bukan?"
"Gilgamesh, Dimana Kamu?"
Suara Terdengar Dari Luar Ruangan Renang Ini, Mereka Bertiga Menyadarkan Suara Tersebut, Aku Hanya Menanggapi
Suara Itu Dengan Santai Sambil Melihat Kearah Pintu Keluar.
"Suara... Ini..."
Kemudian Pintu Ruangan Kolam Renang Terbuka Dan Seorang Pria Paruh Baya Tampak Berdiri Dengan Ekspresi Terkejut Disana, Valina Dan Irise Langsung Menoleh Kesana.
Orang Itu Adalah.... Azazel..
Melihat Dua Gadis Telanjang Disana Yang Sedang Mandi, Azazel Langsung Mimisan Di Salah Satu Hidungnya, Aku Hanya
Terkekeh Karena Sudah Tahu Apa Yang Akan Terjadi Saat Ini.
"Ahh Sepertinya Aku Bakal Mati.." (Azazel)
"Good Luck, Azazel" Ucapku Sambil Tersenyum Geli Padanya.
Ia Langsung Kembali Dan Menutup Pintu Ruangannya, Aura Menyeramkan Tampak Mengelilingi Tubuh Kedua Gadis Itu.
"AZAZEL...." (Valina)
"OTOU-SAN..." (Irise)
"ISTRIKU..!! TOLONG..!!" (Azazel)
Suishhh.... Dhuarr....!!
Energi Mereka Berdua Langsung Meledak Saat Itu Juga.
...
__ADS_1
...
...
...
...
"HUAHAHAHA..!! Lihatlah Wajah Menyedihkanmu Itu.."
Tampak Aku Dan Azazel Yang Sedang Berjalan Didalam Ruangan Yang Gelap Dan Ruangannya Ini Masih Berupa Semen Dan Sama Sekali Belum Diberi Cat Ataupun Lainnya.
Muka Azazel Tampak Babak Belur, Bibirnya Membengkak, Akibat Dihantam Beberapa Kali Oleh Dua Gadis Monster Tadi.
"Jangan Tertawa Begitu Dong! Lukaku Jadi Tambah Sakit."
"Hahaha, Bagaimana Bisa Aku Tidak Bisa Tertawa Saat Melihat Hal Yang Luar Biasa Itu?" Aku Masih Terus Tertawa
"Hufftt... Siapa Sangka Ruangan Bawah Tanahmu Luas Begini,
Berapa Total Seluruh Ruangan Yang Ada Disini?" Tanya Azazel
"Tidak Banyak Kok, Hanya 20 Kamar Saja. Termasuk Kamar Mandi, Ruangan Latihan Dan Kamar Lainnya." Jawab Ku Sambil Terus Berjalan Didalam Lorong-lorong Gelap Tersebut.
"Begitu... Jadi Apa Tujuan Kita Disini?"
"Melakukan Ritual Summoning Supaya Bisa Memanggil Seorang Pelayan Dari Dunia Lain." Aku Membuka Pintu Salah
Satu Ruangan Dan Tampak Isi Ruangan Tersebut Sangat Luas.
Namun Tidak Ada Apa-apa Disini, Hanya Ruangan Kosong Yang Terbuat Dari Semen, Aku Dan Azazel Memasuki Ruangan
Tersebut, Aku Kemudian Menutup Pintu Ruangan Yang Tadi Kubuka, Namun Tidak Seluruhnya Kututup Supaya Valina Dan Irise Bisa Menemukan Tempatku Nantinya.
Aku Menciptakan Beberapa Dinding Dan Kuletakkan Di Lantai
Ataupun Di Dinding Ruangan Ini, Kami Sebetulnya Bisa Beraktivitas Disini Walaupun Gelap Tanpa Cahaya Seperti Ini.
Namun Melakukan Hal Ini Lebih Baik. Pandangan Menjadi Lebih Bagus Kalo Ruangan Gelap Ini Mempunyai Cahaya Lilin.
"Luar Biasa, Ruangan Ini Lebih Besar Dari Lapangan Futsal Pada Umumnya, Baiklah, Apa Yang Akan Kamu Lakukan Selanjutnya? Seharusnya Kamu Akan Memulai Ritualnya Kan"
Kemudian Satu Gerbang Babylon Muncul Di samping Diriku, Dari Dalam Sana Keluar Sebuah Buku Yang Tebal Dengan Desain Sampulnya Yang Tampak Kuno, Dan Dibagian Depan Sampulnya Tertulis "Record Of Summoning" Kemudian Aku Meraih Buku Tersebut Dengan Tangan Kananku Dan Dengan Segera Aku Menghilangkan Gerbangnya Karena Sudah Tidak Dibutuhkan Lagi Untuk Saat Ini. Azazel Tampak Penasaran Tentang Isi Yang Ada Di Dalam Buku Yang Kupegang Tersebut.
"Catatan Pemanggilan? Ouh Jadi Ini Buku Ritualnya."
"Kalo Begitu Bantu Aku Pak Tua, Jangan Menonton Doang."
"Okee~ Apa Yang Harus Kulakukan?"
"Gambarlah Magic Circle Ini. Pastikan Kamu Menggambarnya Dengan Benar, Kuyakin Nanti Akan Mengalami Kesalahan Kalo Semisalnya Kamu Salah Dalam Menggambarnya. Ni Ambillah"
Aku Memunculkan Dan Lalu Melemparkan Sebuah Botol Kaca Yang Kecil, Ukurannya Kecil Karena Masih Bisa Ku Genggam Dengan Tanganku, Itu Berisi Semacam Cairan Warna Merah. Azazel Menangkap Lemparan Tersebut Dengan Santai Tanpa Salah Sama Sekali, Ia Kemudian Mengangkat Botol Kaca Itu Sejajar Dengan Wajahnya Dan Ia Mulai Memeriksa Botol Tersebut, Ia Mendekatkan Wajahnya Kesana Dengan Teliti.
"Hmm... Ini Darah."
"Itu Darahku, Gunakan Itu, Kalo Menggunakan Darahmu Maka
Orang Yang Dipanggil Itu Akan Menjadi Milikmu, Jadi Kupakai Darahku." Aku Kemudian Juga Memberikan Buku Tersebut.
"Oho~ Aku Paham."
Azazel Kemudian Berjongkok Dilantai Dan Ia Meletakkan Botol Tersebut Dan Membukanya, Dan Ia Mulai Mengambil Sedikit Demi Sedikit Darah Tersebut Dengan Jari Telunjuk Kanannya Tersebut, Sesekali Ia Juga Melihat Kearah Buku Itu.
Ia Mulai Menggambar Lingkaran Sihir Seperti Yg Tertulis Di Buku Tersebut, Sementara Aku Juga Berjongkok Cukup Jauh
Darinya Sambil Merokok Dan Fokus Melihatnya Menggambar.
"Hmm Bisakah Kamu Jelaskan Sedikit Tentang Tulisan 'Class'
Yang Tertulis Didalam Buku Ini? Misalnya Seperti Class Mage Ini? Apakah Ini Yang Menentukan Keahlian Mereka? Atau Apa"
"Benar, Misalnya Seperti [Mage] Seseorang Dengan Kelas Ini Biasanya Lihai Dalam Hal Sihir, Dan Kelas Para Roh Ada Cukup Banyak, Mulai Dari [Assassin] [Mage] [Berseker] [Healer] [Tanker] [Summoner] [Archer] Dan Terakhir Adalah [Saber]"
"Hmm Dan Sudah Jelas Keahliannya Bermacam-macam Bukan? Aku Mulai Mengerti Keahliannya Satu Persatu. Assasin Biasa Terampil Dalam Hal Kecepatan Dan Tertutup Suara Bukan? Dan Archer Terampil Dalam Hal Serangan Jarak Jauh"
"Ya, Mirip Seperti Itu. Ouh Ya Azazel, Gambarlah Tiga Buah, Yang Kamu Gambar Saat Ini Adalah Untuk [Mage] Dan Untuk Duanya Lagi, Itu Adalah [Berseker] Dan [Saber]. Kamu Bisa Membalik Halaman Kebelakang Untuk Melihat Lingkarannya"
"Okee~ Serahkan Semuanya Pada Pak Tua Ini."
__ADS_1
Aku Kemudian Memunculkan Satu Bangku Yang Cukup Panjang, Dan Satu Meja Yang Cukup Lebar Juga Kumunculkan
Didepannya. Dan Lalu Aku Duduk Disana, Kemudian Aku Memunculkan Gerbang Barbel Ku Dan Dari Sana Keluar Satu Botol Berisikan Minuman Keras Dan Dua Gelas Berbentuk Cawan Emas, Ouh Ya Ini Bukan [Holy Grail] Ya, Hanya Cawan Biasa. Azazel Langsung Bersemangat Saat Melihat Sake Itu.
"Oi Pak Tua Sialan! Jangan Terburu-buru! Nanti Bisa Salah."
Ia Sama Sekali Tidak Mendengarkan Ku... Namun Aku Terkejut
Karena Gambarnya Sama Persis Seperti Yang Dibuku, Tidak Ada Langkah Yang Salah, Ia Mulai Berjalan Dengan Berjongkok
Sampai Akhirnya Membentuk Lingkaran. Ia Terus Menggambar Lingkaran Sihir Dengan Mata yg Mengeluarkan Aura Yang Semangat, Sepertinya Ia Sangat Ingin Meminum Minuman Keras Yang Ada Didepanku, Bagaimana Kalo Semisal
Nya Tidak Kukasih? Ia Pasti Akan Langsung Murung Nantinya.
"Hufft..." Aku Hanya Menghembuskan Asap Rokokku Sambil
Terus Melihat Azazel Yang Sedang Menggambar Disana.
"Gill... Kami Masuk Ya..." Pintu Ruangan Terbuka
Dan Disana Tampak Ada Valina Dan Irise, Mereka Kemudian Masuk Kedalam Karena Penasaran Apa Yang Dilakukan Oleh Gilgamesh Dan Azazel Didalam Ruangan Ini, Mereka Langsung
Fokus Melihat Kearah Azazel Karena Tidak Tahu Apa Yang Ia Gambar Disana, Sebuah Lingkaran Berwarna Merah Darah.
"Apa Yang Kamu Gambar, Azazel?"
"Lingkaran Sihir." Jawab Azazel
"Lingkaran... Eh! Jangan Bilang Kamu Sedang Menyiapkan Ritual Untuk Pemanggilan Roh Yang Berasal Dari Dunia Lain."
"Kamu Benar Irise." Aku Menjawab Ucapannya Irise. Ia Lalu Berjalan Kearah Ayahnya Yang Sedang Menggambar Dalam Posisi Jongkok Tersebut, Irise Kemudian Membantu Azazel Dalam Menggambar Lingkaran Sihir Tersebut. Sementara Valina Saat Ini Sudah Duduk Disamping Kananku. Dan Ia Lalu
Mengeluarkan Sesuatu Dari Dalam Saku Bajunya, Itu Adalah Sebuah Permen Lolipop, Ia Langsung Membukanya.
Aku Hnya Berdiam Diri Sambil Menatap Kearah Irise Dan Azazel. Aku Masih Merokok Dengan Santai Disana Sambil Menunggu Ayah Dan Anak Itu Selesai Menggambar Lingkaran
Sihir Tersebut, Sementara Valina Juga Berdiam Diri Sambil Menghisap Permennya Sekaligus Memainkan Ponselnya Itu.
"Ini Darahkan?" (Irise)
"Benar, Itu Darah." (Azazel)
"Ini Darah Siapa?" (Irise)
"Kamu Tidak Tahu? Inikan Darah Suamimu Itu." (Azazel)
"O-Otou-san!" (Irise)
Mereka Berdua Bercanda Sambil Terus Menggambar Magic Circle Tersebut Sampai Akhirnya Selesai, Azazel Kemudian Menggambar Satu Lagi Lingkaran Sihirnya Dan Kali Ini Valina Juga Ikut Membantu Karena Tidak Tahu Harus Melakukan Apa Saat Ini. Sementara Aku Menyimak Mereka Bertiga Saja. Dan Lingkaran Selanjutnya Pun Juga Selesai Dengan Cukup Cepat.
Mereka Bertiga Saat Ini Sedang Menggambar Yang Terakhir.
"Oh Ya Gill, Kenapa Sampai Harus Melakukan Ini? Seharusnya
Kamu Bisa Menciptakan Pasukan Sihir Bukan?" Tanya Valina.
"Itu Memang Benar, Namun Sekarang Otoritas Kemampuan Penciptaan Ku Terbatas, Aku Tidak Bisa Menciptakan Beberapa Hal Karena Seluruh Kekuatanku Sudah Kutekan Sampai Hanya Tersisa Embun Kekuatanku Saja. Fyuhhhh~"
Aku Menghembuskan Asap Rokokku Seperti Biasanya.
"Oh Aku Paham, Keberadaanmu Terlalu Besar Bagi Bumi, Kamu Tidak Ada Pilihan Lain Selain Menekan Seluruh Power Yang Kamu Punyai, Kalo Dibiarkan Seperti Itu Maka Bumi Akan
Langsung Hancur Karena Tidak Kuat Menahan Eksistensimu."
"Ucapanmu Benar."
Aku Membenarkan Apa Yang Dikatakan Oleh Azazel Barusan.
"Saat Ini Mungkin Aku Hanya Menggunakan Kekuatanku Sebanyak 5% Saja. Atau Bahkan Lebih Kecil Dari Angka Itu."
"Modal 5% Kekuatan Doang Sudah Setara Great Red, Hehh~!!
Benar-benar Mengerikan Ya." Ucap Azazel Dengan Seringainya.
"Okee~♪♪ Sepertinya Kalian Sudah Selesai."
Kemudian Azazel Dan Dua Anaknya Tersebut Bangun Dan Berjalan Menjauh, Mereka Menuju Ketempatku, Aku Kmudian Bangun Dan Menuju Kearah Tempat Dimana Lingkaran Sihir Tadi Digambar. Azazel Dan Dua Lainnya Sudah Duduk Di Bangku. Azazel Duduk Di Kanan, Irise Di Tengah Dan Sudah Jelas Valina Disebelah Kiri. Mereka Sepertinya Menunggu Apa
Yang Akan Kulakukan Oleh Diriku Sekarang.
__ADS_1
"Baiklah. Mari Mulai Ritual Pemanggilannya."