KONTRAK DAN TAKDIR CINTA

KONTRAK DAN TAKDIR CINTA
Prolog


__ADS_3

1


***Berawal dari Sini***


Malam yang dinging angin berhembus


kencang menerobos masuk dari segala penjuru, suasana sunyi senyap hanya


terdengar nyaring sekali bunyi “bib,bib,bib” yang terdengar dari balik pintu


bertuliskan bangsal 4 B. Meskipun pintu bangsal itu sudah tertutup rapat namun


suara yang cukup membuat sayatan pada hati itu tetap saja terdengar. Suara dari


alat monitor detak jantung yang tengah terpasang pada pasien.


Tengah duduk di deretan kursi yang


memanjang dengan kapasitas kurang lebih hanya 4 orang di ruang tunggu pasien


yang ada tepat di depan kamar inap, seorang gadis dewasa yang mungil dengan


rambut terurai yang panjang. Dengan baju sederhana yang santai gadis itu tengah


duduk termangu menunggu seseorang yang bisa ditebak dari cara gadis itu


bersedih pasti seseorang yang ditunggunya sangat dia sayangi sehingga membuat


dia nampak begitu sedih. Tertulis bangsal 4 B, dia duduk menunduk menutup


wajahnya rapat-rapat dan sesekali terisak-isak, meski tanpa berkatapun semua


yang melihatnya akan tau jika dia sedang dirundung kesedihan yang dalam.


Velicia Sya namanya, seorang kaka


yang tengah berjuang untuk kesembuhan adik tersayangnya yang baru saja beberapa


hari yang lalu koma karena mengalami kecelakaan yang juga menyebabkan orang tua


nya meninggal. Sebuah kecelakaan maut yang merenggut sekaligus kedua orang


tuanya dan hanya menyisakan adiknya yang hingga kinipun belum juga tersadar


dari tidur panjang.


Entah sampai kapan adiknya akan


seperti ini, yang jelas dia sebagai seorang kaka sekuat tenaga memberikan


penerangnya agar dia tetap bisa bertahan dan pulih kembali. Apapun mungkin akan


dia lakukan untuk menyelamatkan adik nya. Dia terus berjuang dan tidak akan


pernah menyerah untuk kesembuhan adiknya.


Semua, jika perlu seluruh duniapun


akan dia berikan untuk adik nya. Keluarga yang tertinggal satu-satunya.


Hari yang terburuk yang pernah ada


dalam hidupnya saat kecelakaan itu merenggut kedua orang yang paling Velicia


sayangi.


Jika boleh memilih sungguh tidak


ingin hari itu ada. Hari dimana dia harus menyaksikan kedua orangtuanya tiada


dalam kecelakaan, dan juga hari itu pula dia lagi-lagi harus menyaksikan darah


disekujur tubuh adik tersayangnya.


Ya, darah segar kecelakaan hari itu


yang melibatkan ketiga keluarganya keluarga kecil yang sangat dia sayangi.


Kecelakaan yang terus menjadi momok menakutkan sepanjang perjalanan hidupnya,


hari dimana seluruh anggota keluarga yang Velicia miliki ada di dalam tragedi


maut itu. Dan sekaligus merenggut 2 orang yang amat sangat dia cintai sepanjang


hidup.


Hancur sudah hatinya,


berkeping-keping tak tersisa.


Terlebih lagi setelah proses


pemakaman kedua orangtuanya selesai, dia harus ke rumah sakit melihat adiknya


yang sedang koma. Kata dokter kemungkinan adiknya selamat adalah 20% namun dia


harus tetap mempertahankannya sampai titik darah penghabisan, mungkin


kedengarannya gila tapi ya taukan rasanya kehilangan sangat tidak mengenakkan. Velicia


harus bertekad dia harus sembuh meski hidupnya harus ditopang dengan alat-alat


yang diapun tak tau apa fungsinya, mungkin juka terdengar begitu egois dia bisa


merasakannya betapa sakitnya hari-harinya dengan alat-alat ini. Dia punya


pilihan sebenarnya untuk melepaskan atau mempertahankannya. Dan dia memilih


lebih egois dan memilih untuk tetap mempertahankannya meskipun kemungkinan ini


sangatlah kecil. Apa salahnya jika tetap mencoba kemungkinan kecil ini iya kan?


Awalnya seminggu yang lalu keluarganya


telah dinyatakan bangkrut, hutang ayah sangat banyak hingga semua aset disita


bank, termasuk rumah nya. Hingga mereka harus tinggal dirumah peninggalan


almarhum kakek dari ibunya, rumah yang sederhana dan jauh dari kota.


Saat malam kecelakaan itu ibu, ayah


dan adiknya akan pergi ke kota dan ditengah perjalanan pulang mereka


kecelakaan, mendengar itu rasanya hidupnya runtuh benar-benar telah runtuh


berkeping-keping hingga tak tau lagi harus melakukan apa.


Kedua orang tuanya pergi menjadi


korban dalam kecelakaan itu, dan adiknya hidup harus dibantu dengan alat-alat


yang sangat banyak itu.


Tentu biayanya jangan ditanya lagi


berapa mahalnya, setiap harinya selama mungkin berbulan-bulan atau


bertahun-tahun dia sendiri tidak tau. Untuk satu bulan ini biaya aman dengan


sisa tabungannya yang langsung habis untuk biaya, dia juga masih bekerja dan


mengambil beberapa pekerjaan paruh waktu lainnya. Bekerja keras untuk kehidupan


adiknya adalah prioritas baginya untuk sekarang ini.


Rasanya melelahkan sekali, hampir


tidak ada ruang baginya beristirahat, namun ini bukanlah saatnya untuk


mengeluh. Dia harus mengumpulkan biaya banyak setiap bulannya untuk adiknya.


Sudah 2 minggu berlalu begitu saja


dan dia bekerja sangat keras untuk memenuhi biaya rumah sakit bulan berikutnya,


benar-benar bekerja keras. Selain bekerja di perusahaan yang dia kerjakan dia


juga mengambil pekerjaan paruh waktu, dia mengerjakan apapun untuk mengumpulkan


uang untuk adiknya yang tengah terbaring koma dirumah sakit.


Hingga malam ini meskipun kondisinya


kurang baik, namun dia harus memaksakan kerja paruh waktunya untuk menambah


pundi-pundi uang.


Di tempat kerjanya dia pulang jam 5:30


sore, dia bekerja sebagai kariawan di sebuah perusahaan yang tidak begitu besar


dan setelah itu dia bekerja bersih-bersih di sebuah restoran selama 2 jam


setelah itu dia baru pulang ke rumah kontrakannya yang kecil itu untuk


melepaskan penatnya.


Malam itu badannya memang terasa


sangat tidak enak, dia sudah merasakan sedikit demam namun dia harus pergi


bekerja dan juga menjalani pekerjaan paruh waktunya.


Saat dia telah selesai menjalani


pekerjaan paruh waktunya sekitar pukul 20:00 diapun segera bergegas untuk


pulang ke kontrakan, dia berjalan untuk menuju ke kontrakannya namun ditengah


jalan badannya rasanya sudah tidak bisa lagi berjalan, tinggal beberapa langkah


lagi menuju halte yanga ada di sebrang jalan. Kepalanya begitu pusing dan


pandanganya kabur, rasanya seperti ingin memejamkan matanya.


Sekuat tenaga dia menguatkan dirinya


agar tetap membuka katanya, namun pandanganya kabur dan seketika menjadi


meredup dan gelap sekali, hanya suara klakson mobil yang melengking sangat


kencang. Dan saat itu semua rasanya tidak berdaya lagi, tubuh Velicia lunglai


tak bertenaga dan matanya memejam tak mampu untuk membuka kembali, ada hawa


panas disekujur tubuhnya, juga hawa dingin yang merasuk hingga ke


tulang-tulangnya.

__ADS_1


Tin…..tin….. Suara klakson mobil yang


memekik keheningan malam, bagaimana tidak sopir mobil itu begitu kaget melihat


wanita berjalan di tengah jalan memegangi kepalanya dan sempoyongan. Sontak


saja sang sopir memencet klakson, namun siapa sangka mobil sudah berhasil


berhenti tepat waktu sebelum menyentuh tubuh wanita itu. Namun tubuhnya sudah


terjatuh terlebih dahulu ke aspal jalanan dengan wajah pucat pasi. Tadinya sang


penghuni mobil berfikir dia orang mabuk.


Penghuni mobil yang melihat wanita


itu tersungkur di depan mobilnya langsung turun melihat keadaannya, apakah dia


baik-baik saja ataukah dia jangan-jangan malah sudah mati.


“Cepat bawa ke mobil. Sepertinya dia


pingsan.” Suruh laki-laki yang gagah itu kepada supirnya


“Baik pa.” Sang supir menuruti kata


tuannya dengan patuh.


Wanita mana dia? Pakai seragam


kerja keluyuran malam-malam dan badannya panas sekali.


Wanita itu begitu tergulai lemah tak


berdaya hanya sesekali mengigau.


“Kaka akan melakukan apapun untumu.” Sambil


terus memejamkan matanya lemah.


Ya, hanya kata-kata itu yang dia ucapkan


dengan mata masih saja terpejam dan suhu tubuhnya yang sangat tinggi seperti


mendidih. Wajahnya pucat pasi didalam pangkuan laki-laki gagah itu.


Harum wangi parfum yang menempel pada


pakaian laki-laki itu menusuk ke hidungnya yang mungkin kala itu semua indranya


sedang tidak berfungsi dengan baik.


Tubuhnya yang kekar berisi sempurna


yang kini rela memangku kepala wanita yang baru saja ditemuinya dan pingsan


didepan mobilnya. Mungkin ini takdir atau mungkin kesialan sang pemilik mobil


ini yang begitu dermawan ingin membantunya sebagai sesame manusia, bisa


dibilang dengan pri kemanusiaan.


Wajah laki-laki itu begitu datar dan


dingin, dia khawatir namun wajahnya tidak memiliki ekspresi. Duduknya saja


mematung dan mencoba untuk terus berlagak sok dingin dengan situasi seperti


ini.


Dia sepertinya sedang dalam masalah


yang serius. Laki-laki


itu mulai bergumam dalam hatinya penasaran pada Velicia.


“Kaka akan lakukan yang terbaik untuk


mu, kaka janji. Hik..hik…” Velicia mengigau dan menangis masih dalam pangkuan


laki-laki itu.


Bisa-bisanya dia mengigau saat


badannya panas begini, apalagi ngigau tentang uang. Apa dia sedang membutuhkan


uang? Gadis bodoh ini. Ucap laki-laki itu lagi di dalam hatinya.


“Bisa tidak kamu lebih cepat? Kamu


tidak tau jika wanita ini hampir mati?” Laki-laki itu mulai tidak sabar dan


kasihan pada Velicia yang begitu pucat itu. Sembari terus memandangi Velicia


dengan tatapan dinginnya juga terus mengecek suhu tubuh Velicia dengan


tangannya.


“Baik pak.” (Patuh)


“Cepat sedikit.” (ngomel)


Dia yang begitu khawatir akan kondisi


wanita itu, wanita yang entah darimana datangnya itu. Tiba-tiba muncul


membuatnya khawatir juga sangat kasihan padanya. Banyak sekali pertanyaan yang


tiba-tiba pingsan di depan mobilnya. Sedangkan malam semakin larut, mobil


melaju menuju rumah sakit terdekat. Membawa perempuan yang tidak jelas ini ke


rumah sakit, entah apa yang berkecambuk didalam fikirannya hingga laki-laki ini


bisa merasakan sangat iba kepada wanita yang beru dia temui ini.


Setelah sampai dirumah sakit dokter


langsung menanganinya dan memeriksa kondisinya dengan seksama, dia laki-laki it


uterus menunggu wanita itu dan berharap tidak terjadi apapun yang serius padanya.


“Bagaimana dok?” Laki-laki itu


bertanya dengan wajah dinginnya.


“Dia baik-baik saja, apakah anda


suaminya.” Dokter malah balik bertanya.


“Iyah.” (spontan) Udahlah biar


cepet. Bingung harus menjawab apa.


“Dia hanya demam karena terlalu


kelelahan bekerja.” Dokter menjelakan dengan tenang.


“Baiklah terimakasih.” Begitu tau


keadaanya dia segera lega dan pergi masuk ke ruang periksa memastikan keadaan


wanita itu.


Cih, dasar kau gadis bodoh. Menjaga


dirimu saja kamu tidak bisa bagaimana kamu munjaga adikmu. Benar-benar hanya


wanita bodoh. Menggerutu


di dalam hati.


“Supir, suruh orang merawatnya.”


Ucapnya sambil pergi dari ruangan itu.


“Baik pa.” Supirnya menjawab dan


mengikuti langkahnya.


Dia pergi meninggalkan rumah sakit


bersama dengan supirnya mengikuti. Langkahnya begitu kekar, tinggi tubuhnya


yang semampai menambah kegagahannya. Wajahnya yang tampan dan tegas menambahkan


kesan kegagahannya.


Dunia yang begitu tidak terduga,


mempetemukannya wanita yang datang tiba-tiba dan sakit hingga membuatnya merasa


sangat iba dengan kondisi gadis itu. Bagaimana mungkin dia laki-laki yang


sedingin itu tiba-tiba iba pada seorang wanita. Pada kekasihnya saja dia tak


secemas ini, namun ya diam-diam wanita ini telah mencuri perhatiannya dan telah


masuk dalam fikirannya.


“Hai sayang, aku menunggu lama loh.”


(langsung melingkarkan tangannya ke leher) Suara wanita kekasihnya yang


terdengar manja.


“Iyah, maaf ya tadi macet.” Jawabnya


begitu dingin


“Iyah sayang, aku membawakanmu


makan.” Wanita itu memperlihatkan makanan yang tengah dia siapkan di meja


makan.


“Aku ganti baju dulu ya.” Laki-laki


itu bergegas pergi


“Oke Hans, aku tunggu di meja makan


ya.” Wanita itu segera mengalah dan menunggu di meja makan.


Ya, nama laki-laki itu yang menolong


Velicia adalah Frederik Hans atau Hans wakil direktur yang sebertar lagi akan


menjadi direktur.

__ADS_1


**Dimeja makan


“Sayang apa makanannya enak?” Tanya


wanita yang ada di hadapan Hans itu


“Ya seperti biasa, kamu sudah


membelikannya kan, jadi enak.” Hans menjawab dengan biasa dengan dingin.


“Iyah, aku membeli itu di restoran


biasa yang kamu suka.” Wanita itu terus mencoba membuka percakapan.


“Kamu mau apa?” Hans segera tau


maksud wanita itu, yang tak lain adalah kekasihnya Ania.


“Sayang, kenapa kamu begitu tau aku.”


Ucap Ania antusias.


“Siapa yang lebih baik mengenalmu


selain aku.” Hans sangat percaya diri


“Baiklah aku ingin tas ini.”


(menunjukan foto.)


“Belilah.” (memberikan kredit card)


“Aku cinta padamu.” Segera bangkit


dari duduknya dan memeluk Hans


“Kalau cinta, mari kita menikah.”


Hans menangkis pelukannya dan bicara spontan


“Sayang, aku sudah bilang bukan aku


tidak bisa menikah denganmu karena kontrak kerjaku itu.” Ania tanpa ragu


menjawab dengan hati-hati.


“Aku akan bayar uang putus kontraknya.”


Hans dengan dinginpun menimpalinya.


“Sayang, aku sangat mencintai


pekerjaanku. Apa kamu tega?” Ania kini merengek ingin dimengerti oleh Hans.


“Tapi aku harus menikah untuk


mendapatkan kuasa penuh bisnisku.” Wajah Hans berubah menjadi serius dan


bertambah dingin.


“Apa kamu akan menikah dengan wanita


lain?”


“Dengan sangat terpaksa.” Tanpa ragu


Hans menjawab


“Apa aku harus merestuimu?”


“Jika kamu menolak ya kamu saja yang


menikah denganku.”


“Baiklah aku setuju, tapi kamu hanya


menikah kontrak.”


“Deal.”


Kesepakatan sudah didapatkan tinggal


mencari kandidat yang cocok untuk rencana yang mereka buat, mari kita cari


sebuah boneka untuk memulai drama ini.


“Baiklah sayang, aku harus pulang


kerumah. Sampai besok.” Ania pamit untuk pulang setalah makan malam selesai.


“Iyah.” Hans menjawab dan berlalu


dari meja makan menuju kamarnya.


Mereka berpisah, Wanitanya itu pergi


meninggalkannya untuk pulang kerumahnya seusai makan malam.


Kemudian laki-laki itupun bergegas


pergi ke kamarnya beristirahat untuk memejamkan matanya dan menyambut esok hari


dengan segudang kerjaannya.


Wanita itu, mungkin cocok ku


jadikan istriku. Dia cantik wajahnya imut dia juga terlihat sedang membutuhkan


banyak uang, jadi bisa ku manfaatkan untuk kepentinganku. Dia juga memiliki


tubuh yang lumayan bagus. Tidak begitu memalukan menjadikannya istri. Ya benar


mungkin dia yang cocok. Lagian aku tak butuh waktu yang lama lagi, lebih cepat


semuanya jauh akan lebih baik. Tiba-tiba saja Hans teringat akan Velicia dan terus


memikirkan keadaanya.


“Halo Ton, segera kamu cari tau


identitas wanita itu. Sampai dapat dan segera kasih tau saya.” Hans menelfon


orang kepercayaanya Anton dan mencaritau tentang Velicia.


“Baik pa bos. Dia sudah sadar dan aku


sudah bertanya padanya jika namanya Velicia Sya.” Jawab Anton disebrang.


“Baiklah, dan segera cari informasi


lengkap tentangnya 2 hari cukup kan.” Setengah mengancam Hans berbicara dengan


Anton.


“Oke pa bos.” (patuh)


Anton adalah kariawan kepercayaanya,


dia menyuruh sopirnya pa Go untuk menyuruh Anton menjaga wanita yang tadi dia


temui katanya wanita itu bernama Velicia Sya, namun mengenai detailnya dia juga


belum begitu jelas dan sedang menunggu informasi lainnya yang mungkin akan


membantunya mengetahui asal-usul wanita ini sebagai kandidat kan harus jelas


apa yang dia butuhkan hingga akan tercipta symbiosis mutualisme yang saling


membutuhkan.


Siapa sangka jika wanita bodoh ini


sendiri yang mengajukan diri padaku untuk masuk ke dalam drama ini kan. Maaf ya


wanita bodoh, mungkin memang kita harus saling membantu. Hans terdengar bergumam begitu licik.


Dia laki-laki yang sangat berambisi,


apa yang dia mau maka haruslah menjadi miliknya, dan dia akan berjuang kuat


untuk mencapai apa yang dia ingini dengan cara apapun. Kini dia telah menemukan


kelemahan dari wanita yang dia temui mala mini, sebenarnya waktu tidak begitu


malam, matahari baru saja terbenam. Dia juga sampai membiarkan wanitanya


menunggunya.


Wanita yang mungkin dia ingini untuk


dinikahi di masa depan, namun ya nampaknya takdir memutar alur ceritanya


terlebih dahulu. Dia harus menikahi wanita lain terlebih dahulu untuk sebuah


kemenangannya nanti. Difikir-fikir apakah perlu mengorbankan orang lain untuk


kepentingannya? Namun ya dunia memang selalu begitu bukan? Mengorbankan yang


lainnya untuk yang lain.


Begitu berambisinya manusia itu.


Diapun rela melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuannya, lalu setelah itu


akan ada rasa lagi dan lagi, manusia memang tidak pernah merasa puas akan


apapun. Itu sebabnya mereka selalu rakus dan cenderung meminta lebih.


Yang dia fikirkan saat ini adalah


bagaimana caranya membuat kesepakatan dengan wanita yang baru dia temui itu,


apakah diam au ataukah dia akan menolaknya? Syukur saja jika dia mau, namun


jika dia menolaknya lantas siapa lagi yang akan menjadi kandidatnya? Bukankah


mencari seseorang yang cocok sangat sulit. Tapi ya apapun harus dia lakukan


untuk mencapai ambisinya, terlebih lagi waktunya sudah hampir habis untuk terus


bersantai. Di rasanya wanita itu sudah cukup cocok baginya, entah apa yang


begitu mendorongnya menginginkan wanita itu, mungkin alam bawah sadarnya yang


mendorong keinginannya itu.


Ah ya sudahlah.


Sekarang sudah bisa memulai rangkaian

__ADS_1


drama yang ironis ini.


__ADS_2