KONTRAK DAN TAKDIR CINTA

KONTRAK DAN TAKDIR CINTA
Bagian 1


__ADS_3

2


***Awalnya***


**Rumah Sakit


“Bagaimana kondisimu?” Hans bertanya


dengan tatapan dinginnya.


Velicia melihat laki-laki dengan


postur nyaris sempurna itu berdiri disamping tempat tidur rawatnya dan


laki-laki itu juga yang telah menolongnya.


“Saya cukup baik. Apa anda yang telah


menolong saya? Terimakasih banyak.” Velicia berterimakasih dan tersenyum lebar


untuk Hans.


“Lupakanlah itu hanya rasa iba.” Hans


dengan angkuh menjawabnya.


“Ya saya mengerti, apa saya sudah


boleh pulang hari ini tuan?” Veliciapun berubah sangat formal melihat ekspresi


Hans yang terlihat dingin itu.


“Kamu masih harus dirawat beberapa


hari lagi kata dokter.” Tetap saja jawaban Hans dan tatapannya begitu dingin.


“Tapi aku sudah baik kan sungguh,


tubuhku sudah sehat.” Velicia memohon untuk dia bisa pulang segera.


“Saya sudah izin ke kantormu.” Hans


semakin dingin dan menjawab singkat.


“Bagaimana anda tau?” Velicia bingung


kenapa laki-laki itu tau tempat kerjanya.


“Tentu saja dengan tanda pengenalmu


ini. Pengenal dari kantormu bukan?” Hans menunjukan sebuah kartu pada Velicia


“Ouh iyah saya lupa, jika saya punya


pengenal itu. Oyah tuan siapa nama anda?” Velicia penasaran.


“Gadis bodoh.”


“Hai tuan, jaga bicara anda.


Bagaimana mungkin anda mengatakan saya bodoh.” Velicia mulai tidak senang.


“Apa ini caramu berterimakasih?”


“Baiklah tuan, terimakasih dan maaf.


Saya harus keluar dari rumah sakit ini.”


“Kamu ingin keluar karena kamu ingin


bekerja paruh waktu kan?”


“Bagaimana anda tau?” Lagi-lagi


Velicia dibuat bingung karena hans tau juga.


“Aku sudah menyelidikimu, mengirim


orang untuk menyelidiki asal-usulmu tidaklah sulit bagiku.” Wajahnya datar


tidak berekspresi.


“Apa yang tuan inginkan?” Velicia


segera tau maksudnya.


“Rupanya kamu cukup pengertian.


Baiklah karena kamu cukup pengertian aku tidak lagi bertele-tele. Kamu butuh


uang banyak kan untuk adikmu, makanya kamu bekerja sangat keras untuk itu. Aku


cukup terkesan, dan aku akan memberikanmu kemudahan tentunya dengan 1 syarat.”


Hans sangat terang-terangan saat bicara.


“Maksud anda?”


“Aku akan membayar seluruh biaya


rumah sakit adikmu selama adikmu dirawat dengan 1 syarat.”


“Apa?”


“Menikah denganku.”


“Apa anda gila tuan? Bahkan kita baru


bertemu.”


“Saya tidak tertarik denganmu bodoh,


saya bilang kita menikah kontrak selama 2 tahun. Dan setelah kontrak selesai


kita kembali ke kehidupan masing2. Aku butuh pernikahan dan kamu butuh uang


apakah itu impas?”


Bagaimana mungkin, tapi


difikir-fikir ini demi adikku. Iyah demi dia adikku, jika pengobatannya


terjamin maka dia akan pulih.Sejenak Velicia berfikir.


“Apakah saya boleh bernegosiasi


tuan?”


“Katakanlah.”


“Kata dokter adikku akan pulih cepat


jika dia dibawa ke rumah sakit yang lebih besar di luar negeri. Jika anda bisa


membawanya berobat kesana aku bersedia menerima tawaran anda.”


“Rupanya kamu sangat menyayangi


adikmu ya. Itu hal yang mudah.”


Ya, hanya untuk pengobatan mudah


saja, apa yang aku dapatkan setelah pernikahan ini akan jauh lebih banyak dari


biaya pengobatannya. Semua sudah diperhitungkan oleh Hans dan dia hanya perlu berfikir


beberapa detik untuk bilang iyah.


“Dan saya tidak akan meminta apapun


selain untuk pengobatan adik saya.”


“Deal. Saya setuju.”


Adik, kumohon bertahanlah dan


berjuanglah untuk hidup, demi aku yang juga berjuang untuk kesembuhanmu. Ku


mohon. Aku tidak tau ini keputusan benar ataukah salah, tapi juga demi adikku


dan janjiku untuk melakukan apapun untuknya. Dia akan sembuhkan jika dibawa ke


rumah sakit besar di luar negeri. Didalam hatinya hanya untuk adiknya dan tanpa berfikir panjang


dia segera bilang setuju.


“Semoga anda tidak ingkar janji


tuan.”


“Aku tidak pernah ingkar, aku akan


segera mengurus keberangkatan adikmu dan kamu bersiap untuk menanda tangani


surat perjanjiannya.” Hans bergegas pergi.


“Baiklah.”


Aku bahkan tidak tau namanya dan


main setuju saja untuk menikah dengannya. Apa aku terlihat sebodoh itu?Gumamnya di dalam hari sambil terus


berbaring di kasur perawatan dengan selang infus yang masih ada di tangannya.


Dan laki-laki itu pergi meninggalkan


ruang rawat itu, pergi keluar menemui asistennya untuk membawakan berkas


perjanjian yang tengah dia siapkan untuk ditanda tangani Velicia itu. Sedangkan


Velicia juga belum tau siapa nama laki-laki itu, dia juga tidak peduli dengan


namanya yang dia pedulikan hanyalah adiknya saja. Fikirannya dipenuhi dengan


adiknya saja dia ingin adiknya cepat pulih dan kembali bersama dengannya.


2 hari Velicia tidak sadarkan diri


karena sakitnya dan waktu yang cukup untuk mengumpulkan identitas Velicia dan


segala hal yang penyelidikan tentangnya. Sementara surat perjanjian sangat


mudah dibuat dengan hitungan menit saja.


Beberapa jam berlalu setelah


laki-laki itu pergi dari ruangnya sekarang dia kembali membawa lembaran kertas


yang disimpan didalam map coklat, lembaran kertas itu tertulis beberapa


perjanjian kontrak nikah yang isinya benar waktu kontrak adalah 2 tahun. Ada 5


perjanjian yang ada didalamnya dan surat itu harus ditanda tangani oleh kedua


belah pihak.


Isi Kontrak


1.     Selama masa kontrak, kedua belah


pihak tidak bisa mencampuri urusan masing-masing.


2.     Kedua belah pihak harus tinggal di 1


atap yang sama selama masa kontrak berlangsung.


3.     Pihak wanita harus menuruti apapun


yang dikatakan oleh pihak laki-laki.


4.     Kedua belah pihak juga bebas


melakukan apa saja yang dia senangi tanpa harus dicampuri oleh salah satu pihak


yang terikat perjanjian.


5.     Kedua belah pihak harus menaati


perjanjian kontrak ini selama kontrak berlangsung.


“Bagaimana bisa ada perjanjian nomer


3 ini?” Velicia marah dengan isi perjanjiannya dan mulai protes.


“Kenapa? Kamu tidak setuju?” Hans


menjawab dengan tatapan dinginnya seperti singa yang akan memangsa makanannya


dan membuat Velicia merinding.

__ADS_1


“Baiklah-baiklah saya juga berhak


mengajukan perjanjian kan?”


“Tentu saja. Tulislah dibawahnya.”


Hans menunjukan tempat kosong untuk menulis perjanjiannya.


6.     Dalam kontrak ini tidak pernah akan ada


kontak fisik.


7.     Ke dua belah pihak harus menghargai


keputusan dari kedua pihak.


“Oke sudah. Siapa nama anda?” Velicia


segera memberikan kertasnya dan bertanya dengan penasaran.


“Untuk apa?”


“Anda tidak mau bukan jika saya


memanggil anda hanya dengan hai, atau pak?” Velicia berdalih.


“Panggil saja saya Hans.”


“Baiklah, saya sudah tanda tangan.”


“Bagus, pernikahan kita 3 hari lagi.


Dan adikmu akan berangkat besok, semua sudah diurus dengan sempurna.”


“Terimakasih.” Ucap Velicia lirih.


“Apa kamu menyesal?


“Aku tidak akan menyesal selama itu


demi adikku. Terimakasih tuan, anda sudah begitu dermawan.” Tiba-tiba wajah Velicia


berubah sedih dan menunduk.


Wanita bodoh ini, jelas-jelas dia


akan menikah dengan laki-laki yang baru dia temui dan dia hanya memikirkan


adiknya. Apa dia ini sebodoh itu? Aku tau dia sangat tidak ingin pernikahan


ini, tapi kenapa dia hanya memikirkan kesembuhan adiknya tanpa memikirkan


perasaannya. Lagi-lagi


Hans merasakan hal aneh yang ada di fikirannya bahkan dia punya waktu untuk


menggumamkan untuk Velicia. Wanita yang baru saja dia temui beberapa hari yang


lalu.


“Aku pergi dulu, Anton akan menemanimu,


besok kamu sudah boleh pulang. Siapkan dirimu untuk hari pernikahan. Anton juga


akan mengantarkan kamu pulang. Jaga dirimu.” Hans segera berlalu pergi.


“Terimakasih.”


Apa aku begitu bodoh? Aku akan


menikah dan pernikahan ini hanyalah permainan. Aku yang setiap saat


membayangkan pernikahan yang indah dan penuh kebahagiaan. Dan hari ini semua


harapanku ku telan bulat-bulat. Rasanya sakit sekali. Ucap Velicia dalam hatinya mulai


ragu.


Ting….. (pesan)


**Ka Sehan.** Velicia kaget melihat layar Handponenya


yang tertulis nama Sehan.


Apa kabar mu? Aku akan segera pulang


ke kota B, apa kamu merindukanku?


Kamu terlambar ka, semua sudah


selesai. Aku sangat merindukanmu, tapi sayangnya kamu datang disaat waktu yang


tidak tepat. Aku sudah hampir menjadi pengantin orang lain, aku sudah


kehilangan harapanku untuk menikah denganmu. Kemana saja kamu ka, 1 tahun ini


apakah kamu telah melupakanku? Dan tiba-tiba nomermu aktif kembali dan


menghubungiku. Kenapa kita tidak ditakdirkan bersama? Pergolakan batinnya yang tak mampu


lagi dia bendung, ingin sekalu rasanya keluar.


(Balas)


Aku baik.


Ting…. (pesan)


Maaf aku selama ini menghilang. Aku


tidak bisa menjelaskannya padamu, dan yang penting sekarang aku kembali kan


untukmu.


(Balas)


Semuanya sudah terlambat ka, Kita


tidak bisa bersama lagi. Maafkan aku. Berhentilah menghubungiku, jika memang


kamu mencintaiku maka aku ingin kamu melupakanku.


Ini yang terbaik ka, sebaiknya


memang kamu tidak pernah tau lagi semua hal tentangku. Aku yang sudah menjual


diriku untuk uang. Kamu berhak mendapatkan yang terbaik, tapi bukan denganku,


Ting…. (pesan)


Bagaimana bisa aku melupakanmu? Kita


telah bersama sejak kecil dan kamu cintaku pertama dan terakhir. Aku butuh alasanmu


yang masuk akal.


(Balas)


Aku sudah menikah dan hidup bahagia


dengan suamiku. Apa kamu puas?


Bencilah aku, dan dengan begitu


kamu bisa melupakan aku.


Ting…. (Chat)


Kamu fikir aku akan mempercaimu


begitu saja? Kalopun iyah maka aku akan mencari tau sendiri kebenarannya. Aku


tau kamu selalu mencintaiku bukan. Dan aku akan mendapatkan kamu kembali.


Kamu sudah gila ka Sehan, aku tidak


menyangka kamu juga begitu ambisius. Apakah semua laki-laki itu gila.


Velicia hanya menangis di dalam


bangsal itu, air matanya yang sulit sekali ia bendung. Terus berjatuhan


mengingat masa-masa yang indah, semua masa-masa indahnya menguak kepermukaan


meninggalkan lembaran-lembaran memori kebahagiaan bersama kedua orang tuanya,


adiknya juga bersama Sehan.


Sehan adalah teman masa kecil


Velicia, umurnya terpaut jauh dengannya makanya dia memanggilnya kaka. Saat


Sehan SMP Velicia masih SD dan sehanlah yang terus melindunginya dari


gangguan-gangguan anak nakal. Dulu Sehan adalah tetangganya makanya mereka


sangat dekat dan saat sehan kuliah mereka sempat menjalani hubungan pacarana,


namun begitu Sehan bekerja dia harus pergi keluar negeri untuk pindah kesana,


hubungan merekapun menjauh dan akhirnya 1 tahun silam mereka putus kontak,


Sehan tidak bisa dihubungi dalam waktu yang lama, Velicia menjalani masa-masa


sulitnya sendiri hingga pas kematian kedua orang tuanyapun tidak ada kabar dari


Sehan, membuat Velicia agak sedikit marah padanya hingga hari ini saat semua


hidupnya dirasa sudah hancur dan tidak ada masa depan pernikahan Sehan


tiba-tiba muncul membawa harapan.


Harapan yang mungkin hanya sekedar


harapan, dia tidak bisa membatalkan apa yang sudah dia ambil, terlebih lagi


yang dia lakukan demi adiknya. Dia sangat marah pada Sehan namun juga tidak


bisa menyalahkannya dengan semua yang dia alami ini padanya. Hanya saja yang


dia lakukan saat ini adalah agar Sehan pergi sejauh mungkin agar dia tidak


merasa bersalah pada Sehan.


Rasanya berat sekali, memikul beban


yang sangat berat ini. Menjalani pernikahan ini untuk uang tidaklah ada bedanya


dengan menjual dirinya demi uang. Entah apa yang akan terjadi padanya di


kemudian hari, fikirannya panjang namun dia tak punya pilihan lain atau adiknya


akan pergi juga untuk selamanya. Tak mudah untuk mengumpulkan uang sebanyak itu


dalam waktu yang singkat terlebih lagi perawatan di rumah sakit itu hanya mampu


menobangnya untuk tetap bernapas tanpa tau kapan dia akan pulih. Dan kata


dokter jika dia dipindahkan ke luar negri maka kemungkinan hidupnya akan jauh


lebih banyak.


Entah takdir apa yang tuhan tuliskan


untuknya, dia harus mengorbankan cinta, dan kebahagiaannya untuk cinta dan


kebahagiaan yang lain, entah apakah ini sebanding atau tidak. Yang jelas dia


tau adalah, keluarga adalah segalanya untuknya bahkan segalanya dari hidupnya


sendiri. Bagaimana dia bisa menerima harus kehilangan adiknya juga setelah


semuanya yang dia miliki dirampas. Harta, orang tua, dan kini dia tidak akan


rela jika adiknya juga pergi meninggalkannya sendiri.


3 hari berlalu begitu saja, ini


adalah hari pernikahan yang telah ditentukan, adiknya sudah lebih dulu


dipindahkan ke rumah sakit Mega di kita S, rumah sakit besar yang canggih di


kota itu dengan biaya yang tentunya sangat banyak. Hans telah memenuhi janjinya


dan tinggal Velicia yang akan memenuhi janjinya untuk menikah.


Di gedung yang amat sangat besar ini,


dengan hanya beberapa orang saja yang menghadirinya. Pernikahan ini

__ADS_1


dilangsungkan dengan sangat sederhana dengan beberapa kerabat dekat saja.


Mereka mengikrarkan janji pernikahan di depan semua kerabat. Suasananya begitu


hikmat dan juga formal, Velicia harus terlihat bahagia meski hatinya sangat


berat untuk bahagia.


“Pura-puralah mesra di depan umum,


ingat jika kita adalah pasangan yang syah mulai sekarang. Apa kamu mengerti.”


Hans menjelaskan dramanya pada Velicia


“Saya mengerti.” Jawab Velicia lirih


“Terlebih dihadapan tua bangka itu,


kamu harus menunjukan kamu istriku. Kamu mengerti.” Hans menjelaskan jika


Velicia harus mesra di depan kakek Hans.


“Ya Tuan.”


“Berhentilah memanggilku tuan.”


“Baik Hans.”


“Anak pintar.”


Hari yang melelahkan saat harus


berpura-pura bahagia di dalam kesedihan yang sangat menyesakkan, entah kenapa


harus memilih pilihan ini, sekarang dia begitu menyesal namun penyesalan itu


tiada gunanya. Dia harus melakukannya demi adiknya.


Akhirnya acara ini selesai juga, dan


mereka segera pulang kerumah Hans. Rumah yang begitu besar dengan pagar tinggi


yang mengelilinginya, depan rumah itu tak terlihat terhalang oleh tembok-tembok


besar dengan pintu gerbang yang tertutup. Pintu utamanyapun terlihat begitu


besar, rumah ini tak jauh beda dengan rumah Velicia dulu.


“Sayang, aku menunggumu dari tadi.”


Wanita yang tiba-tiba memeluk Hans yang baru saja menikah didepan istrinya.


Wanita itu terlihat sangat manja di depan Hans.


“Ania, jaga sikapmu.” (melepaskan)


“Sayang kenapa? Apa karena istri


kontrakmu ini?” Ania berbicara marah dan menunjuk Velicia dengan telunjuknya.


“Saya ke kamar dulu.” Velicia berlalu


pergi tanpa menghiraukan pemandangan yang menyakitkan itu, mungkin jika


perasaannya pada Hans ada akan begitu menyakitkan. Untungnya dia selalu


menyimpan orang lain di hatinya, makanya melihan Hans dan kekasihnya rasanya


hanya memalukan saja.


“Pergilah, dan ingat posisimu.” Ania


terus menyerang Velicia dengan kata-kata yang hampir membuatnya marah.


“Ania, jaga sikapmu. Atau pulanglah.”


Hans tegas dan menyuruh kekasihnya untuk pergi dengan acuh.


“Kenapa kamu begini padaku?”


“Aku sudah memberimu pilihan, kamu


yang menolak menikah denganku kan. Maka hargailah dia, biar bagaimanapun dia


istri sah ku. Dan kamu tidak boleh lagi ke rumah ini, jika orang tua itu tau


maka gagal sudah rencanaku. Apa kamu mengerti.” Hans menegaskannya lagi.


“Kamu jahat.” Ania marah dan bersiap


pergi.


“Pergilah.” Hans mempertegas


menyuruhnya pergi.


Ania segera pergi membawa emosinya


dan menangis bergegas meninggalkan rumah itu.


Lama-lama wanita itu merepotkan


juga, aku saat itu mendekatinya hanya biar menikah denganya dan akan membuat


namaku bagus. Tapi dia hanya terus merepotkanku, sialan. Hans menggerutu di dalam hati untuk


Ania.


Tok…..tok…. (ketukan pintu)


“Ada apa?” Velicia membuka pintu dan


bertanya pada pengetuk pintu yang dia sudah tau sang pengetuk itu siapa.


“Apa ini sikapmu pada suamimu?” Hans


menerobos masuk ke kamar Velicia.


“Apa yang anda mau?” Hans segera


mendekatkan tubuhnya dan memegangi tangan Velicia, kini wajahnya bertatapan


sangat dekat.


“Ini kamarku, aku bebas melakukan


apapun.” Hans memojokkan Velicia dengan terus mendekatkan wajahnya ke wajah


Velicia.


“Baiklah, saya akan pindah sekarang.”


Velicia mencoba meronta meminta dilepaskan.


“Apa kamu akan melewatkan malam ini


begitu saja?” Kini bibir Hans sangat dekat dengan wajahnya, bahkan hidungnya


sudah menyentuh wajah Velicia.


“Tuan, anda jangan konyol. Ingat


posisimu, kita hanya menikah kontrak. Ingat perjanjian kita.” Velicia mulai


ketakutan.


“Harusnya kamu berfikir sebelum


bertindak nona, aku ini suami sah mu. Jika dipidanakan juga tidak akan dihukum,


karena kita sah suami dan istri. Aku sebagai suamimu ya berhak mendapatkan


hakku kan?”


“Jangan bodoh tuan. Anda sangat


menjijikan.” Velicia semakin takut akan tingkah Hans.


“Kamu ini terlalu naif, suami dan


istri tentu saja akan melakukannya lambat atau cepat.”


“Kamu ********.” Velicia benar-benar


tidak dapat bergerak dan merontapun akan percuma.


“Harusnya kamu berfikir ini sebelum


menikah denganku. Tapi nampaknya kamu terlambat nona.”


Bagaimana mungkin, menggodanya


seperti ini sangat membahagiakan. Lihat ekspresinya lucu sekali, dia berubah


menjadi seekor singa yang imut. Hans sangat menikmai menggoda Velicia.


“Hahaha…… Kamu fikir aku tertarik


denganmu? Lihatlah wanitaku lebih menarik darimu. Aku kesini hanya ingin


melihatmu wanita bodoh.” Hans segera melepaskan Velicia dan menjauh pergi.


Sial, dia hanya menggodaku. Dasar


laki-laki biadab. Aku benci padamu.


“Sudah malam, istirahatlah. Ini


kamarmu kamarku ada di sebelah.” (menjelaskan)


“Ya.” (ketus)


“Apa kamu marah?” (menggapai tanyan


Velicia)


“Tentu saja tidak tuan.” (tersenyum


paksa)


“Baiklah, besok pagi bikinkan sarapan


untukku.” (melepaskan)


“Apakah itu ada di surat perjanjian?”


(ketus)


“Tentu saja ada nona, baca kembali


nomer 3 nona.” (dengan tatapan licik)


“Sial.” (kesal)


“Apa kamu bilang.” (kesal)


“Baik tuan.” (terpaksa)


Lucu sekali, setidaknya 2 tahun ini


aku punya boneka yang lucu ini. Ucap Hans dalam hatinya.


Aku berharap kamu cepat mati Hans,


semoga saja saat kamu tidur kamu terkena serangan jantung dan mati. Hingga aku


bisa bebas. Gerutu


Velicia di dalam hati.


Hans pergi dari kamar Velicia dan


masuk ke kamarnya, Veliciapun begitu dia melanjutkan istirahatnya. Kamar yang


begitu luas, dinominasi dengan warna abu muda dan putih. Kamarnya terlihat


besar lengkap dengan fasilitasnya, ada TV, kamar mandi didalam, meja rias, sofa


kecil, meja TV dan juga lampu kamar di meja samping tempat tidur. Juga ornament


pendukung lukisan kecil didinding. Kamar luas ini begitu nyaman sama dengan


kamar Velicia yang dulu, rasanya sangat kangen dengan kamar yang dulu. Kamar


yang penuh dengan kenangan itu. Rasanya sangat nyaman melepas penat sehatian


itu.


Saatnya untuk beristirahat dan

__ADS_1


menyambut hari esok yang baru.


__ADS_2