
2
***Awalnya***
**Rumah Sakit
“Bagaimana kondisimu?” Hans bertanya
dengan tatapan dinginnya.
Velicia melihat laki-laki dengan
postur nyaris sempurna itu berdiri disamping tempat tidur rawatnya dan
laki-laki itu juga yang telah menolongnya.
“Saya cukup baik. Apa anda yang telah
menolong saya? Terimakasih banyak.” Velicia berterimakasih dan tersenyum lebar
untuk Hans.
“Lupakanlah itu hanya rasa iba.” Hans
dengan angkuh menjawabnya.
“Ya saya mengerti, apa saya sudah
boleh pulang hari ini tuan?” Veliciapun berubah sangat formal melihat ekspresi
Hans yang terlihat dingin itu.
“Kamu masih harus dirawat beberapa
hari lagi kata dokter.” Tetap saja jawaban Hans dan tatapannya begitu dingin.
“Tapi aku sudah baik kan sungguh,
tubuhku sudah sehat.” Velicia memohon untuk dia bisa pulang segera.
“Saya sudah izin ke kantormu.” Hans
semakin dingin dan menjawab singkat.
“Bagaimana anda tau?” Velicia bingung
kenapa laki-laki itu tau tempat kerjanya.
“Tentu saja dengan tanda pengenalmu
ini. Pengenal dari kantormu bukan?” Hans menunjukan sebuah kartu pada Velicia
“Ouh iyah saya lupa, jika saya punya
pengenal itu. Oyah tuan siapa nama anda?” Velicia penasaran.
“Gadis bodoh.”
“Hai tuan, jaga bicara anda.
Bagaimana mungkin anda mengatakan saya bodoh.” Velicia mulai tidak senang.
“Apa ini caramu berterimakasih?”
“Baiklah tuan, terimakasih dan maaf.
Saya harus keluar dari rumah sakit ini.”
“Kamu ingin keluar karena kamu ingin
bekerja paruh waktu kan?”
“Bagaimana anda tau?” Lagi-lagi
Velicia dibuat bingung karena hans tau juga.
“Aku sudah menyelidikimu, mengirim
orang untuk menyelidiki asal-usulmu tidaklah sulit bagiku.” Wajahnya datar
tidak berekspresi.
“Apa yang tuan inginkan?” Velicia
segera tau maksudnya.
“Rupanya kamu cukup pengertian.
Baiklah karena kamu cukup pengertian aku tidak lagi bertele-tele. Kamu butuh
uang banyak kan untuk adikmu, makanya kamu bekerja sangat keras untuk itu. Aku
cukup terkesan, dan aku akan memberikanmu kemudahan tentunya dengan 1 syarat.”
Hans sangat terang-terangan saat bicara.
“Maksud anda?”
“Aku akan membayar seluruh biaya
rumah sakit adikmu selama adikmu dirawat dengan 1 syarat.”
“Apa?”
“Menikah denganku.”
“Apa anda gila tuan? Bahkan kita baru
bertemu.”
“Saya tidak tertarik denganmu bodoh,
saya bilang kita menikah kontrak selama 2 tahun. Dan setelah kontrak selesai
kita kembali ke kehidupan masing2. Aku butuh pernikahan dan kamu butuh uang
apakah itu impas?”
Bagaimana mungkin, tapi
difikir-fikir ini demi adikku. Iyah demi dia adikku, jika pengobatannya
terjamin maka dia akan pulih.Sejenak Velicia berfikir.
“Apakah saya boleh bernegosiasi
tuan?”
“Katakanlah.”
“Kata dokter adikku akan pulih cepat
jika dia dibawa ke rumah sakit yang lebih besar di luar negeri. Jika anda bisa
membawanya berobat kesana aku bersedia menerima tawaran anda.”
“Rupanya kamu sangat menyayangi
adikmu ya. Itu hal yang mudah.”
Ya, hanya untuk pengobatan mudah
saja, apa yang aku dapatkan setelah pernikahan ini akan jauh lebih banyak dari
biaya pengobatannya. Semua sudah diperhitungkan oleh Hans dan dia hanya perlu berfikir
beberapa detik untuk bilang iyah.
“Dan saya tidak akan meminta apapun
selain untuk pengobatan adik saya.”
“Deal. Saya setuju.”
Adik, kumohon bertahanlah dan
berjuanglah untuk hidup, demi aku yang juga berjuang untuk kesembuhanmu. Ku
mohon. Aku tidak tau ini keputusan benar ataukah salah, tapi juga demi adikku
dan janjiku untuk melakukan apapun untuknya. Dia akan sembuhkan jika dibawa ke
rumah sakit besar di luar negeri. Didalam hatinya hanya untuk adiknya dan tanpa berfikir panjang
dia segera bilang setuju.
“Semoga anda tidak ingkar janji
tuan.”
“Aku tidak pernah ingkar, aku akan
segera mengurus keberangkatan adikmu dan kamu bersiap untuk menanda tangani
surat perjanjiannya.” Hans bergegas pergi.
“Baiklah.”
Aku bahkan tidak tau namanya dan
main setuju saja untuk menikah dengannya. Apa aku terlihat sebodoh itu?Gumamnya di dalam hari sambil terus
berbaring di kasur perawatan dengan selang infus yang masih ada di tangannya.
Dan laki-laki itu pergi meninggalkan
ruang rawat itu, pergi keluar menemui asistennya untuk membawakan berkas
perjanjian yang tengah dia siapkan untuk ditanda tangani Velicia itu. Sedangkan
Velicia juga belum tau siapa nama laki-laki itu, dia juga tidak peduli dengan
namanya yang dia pedulikan hanyalah adiknya saja. Fikirannya dipenuhi dengan
adiknya saja dia ingin adiknya cepat pulih dan kembali bersama dengannya.
2 hari Velicia tidak sadarkan diri
karena sakitnya dan waktu yang cukup untuk mengumpulkan identitas Velicia dan
segala hal yang penyelidikan tentangnya. Sementara surat perjanjian sangat
mudah dibuat dengan hitungan menit saja.
Beberapa jam berlalu setelah
laki-laki itu pergi dari ruangnya sekarang dia kembali membawa lembaran kertas
yang disimpan didalam map coklat, lembaran kertas itu tertulis beberapa
perjanjian kontrak nikah yang isinya benar waktu kontrak adalah 2 tahun. Ada 5
perjanjian yang ada didalamnya dan surat itu harus ditanda tangani oleh kedua
belah pihak.
Isi Kontrak
1. Selama masa kontrak, kedua belah
pihak tidak bisa mencampuri urusan masing-masing.
2. Kedua belah pihak harus tinggal di 1
atap yang sama selama masa kontrak berlangsung.
3. Pihak wanita harus menuruti apapun
yang dikatakan oleh pihak laki-laki.
4. Kedua belah pihak juga bebas
melakukan apa saja yang dia senangi tanpa harus dicampuri oleh salah satu pihak
yang terikat perjanjian.
5. Kedua belah pihak harus menaati
perjanjian kontrak ini selama kontrak berlangsung.
“Bagaimana bisa ada perjanjian nomer
3 ini?” Velicia marah dengan isi perjanjiannya dan mulai protes.
“Kenapa? Kamu tidak setuju?” Hans
menjawab dengan tatapan dinginnya seperti singa yang akan memangsa makanannya
dan membuat Velicia merinding.
__ADS_1
“Baiklah-baiklah saya juga berhak
mengajukan perjanjian kan?”
“Tentu saja. Tulislah dibawahnya.”
Hans menunjukan tempat kosong untuk menulis perjanjiannya.
6. Dalam kontrak ini tidak pernah akan ada
kontak fisik.
7. Ke dua belah pihak harus menghargai
keputusan dari kedua pihak.
“Oke sudah. Siapa nama anda?” Velicia
segera memberikan kertasnya dan bertanya dengan penasaran.
“Untuk apa?”
“Anda tidak mau bukan jika saya
memanggil anda hanya dengan hai, atau pak?” Velicia berdalih.
“Panggil saja saya Hans.”
“Baiklah, saya sudah tanda tangan.”
“Bagus, pernikahan kita 3 hari lagi.
Dan adikmu akan berangkat besok, semua sudah diurus dengan sempurna.”
“Terimakasih.” Ucap Velicia lirih.
“Apa kamu menyesal?
“Aku tidak akan menyesal selama itu
demi adikku. Terimakasih tuan, anda sudah begitu dermawan.” Tiba-tiba wajah Velicia
berubah sedih dan menunduk.
Wanita bodoh ini, jelas-jelas dia
akan menikah dengan laki-laki yang baru dia temui dan dia hanya memikirkan
adiknya. Apa dia ini sebodoh itu? Aku tau dia sangat tidak ingin pernikahan
ini, tapi kenapa dia hanya memikirkan kesembuhan adiknya tanpa memikirkan
perasaannya. Lagi-lagi
Hans merasakan hal aneh yang ada di fikirannya bahkan dia punya waktu untuk
menggumamkan untuk Velicia. Wanita yang baru saja dia temui beberapa hari yang
lalu.
“Aku pergi dulu, Anton akan menemanimu,
besok kamu sudah boleh pulang. Siapkan dirimu untuk hari pernikahan. Anton juga
akan mengantarkan kamu pulang. Jaga dirimu.” Hans segera berlalu pergi.
“Terimakasih.”
Apa aku begitu bodoh? Aku akan
menikah dan pernikahan ini hanyalah permainan. Aku yang setiap saat
membayangkan pernikahan yang indah dan penuh kebahagiaan. Dan hari ini semua
harapanku ku telan bulat-bulat. Rasanya sakit sekali. Ucap Velicia dalam hatinya mulai
ragu.
Ting….. (pesan)
**Ka Sehan.** Velicia kaget melihat layar Handponenya
yang tertulis nama Sehan.
Apa kabar mu? Aku akan segera pulang
ke kota B, apa kamu merindukanku?
Kamu terlambar ka, semua sudah
selesai. Aku sangat merindukanmu, tapi sayangnya kamu datang disaat waktu yang
tidak tepat. Aku sudah hampir menjadi pengantin orang lain, aku sudah
kehilangan harapanku untuk menikah denganmu. Kemana saja kamu ka, 1 tahun ini
apakah kamu telah melupakanku? Dan tiba-tiba nomermu aktif kembali dan
menghubungiku. Kenapa kita tidak ditakdirkan bersama? Pergolakan batinnya yang tak mampu
lagi dia bendung, ingin sekalu rasanya keluar.
(Balas)
Aku baik.
Ting…. (pesan)
Maaf aku selama ini menghilang. Aku
tidak bisa menjelaskannya padamu, dan yang penting sekarang aku kembali kan
untukmu.
(Balas)
Semuanya sudah terlambat ka, Kita
tidak bisa bersama lagi. Maafkan aku. Berhentilah menghubungiku, jika memang
kamu mencintaiku maka aku ingin kamu melupakanku.
Ini yang terbaik ka, sebaiknya
memang kamu tidak pernah tau lagi semua hal tentangku. Aku yang sudah menjual
diriku untuk uang. Kamu berhak mendapatkan yang terbaik, tapi bukan denganku,
Ting…. (pesan)
Bagaimana bisa aku melupakanmu? Kita
telah bersama sejak kecil dan kamu cintaku pertama dan terakhir. Aku butuh alasanmu
yang masuk akal.
(Balas)
Aku sudah menikah dan hidup bahagia
dengan suamiku. Apa kamu puas?
Bencilah aku, dan dengan begitu
kamu bisa melupakan aku.
Ting…. (Chat)
Kamu fikir aku akan mempercaimu
begitu saja? Kalopun iyah maka aku akan mencari tau sendiri kebenarannya. Aku
tau kamu selalu mencintaiku bukan. Dan aku akan mendapatkan kamu kembali.
Kamu sudah gila ka Sehan, aku tidak
menyangka kamu juga begitu ambisius. Apakah semua laki-laki itu gila.
Velicia hanya menangis di dalam
bangsal itu, air matanya yang sulit sekali ia bendung. Terus berjatuhan
mengingat masa-masa yang indah, semua masa-masa indahnya menguak kepermukaan
meninggalkan lembaran-lembaran memori kebahagiaan bersama kedua orang tuanya,
adiknya juga bersama Sehan.
Sehan adalah teman masa kecil
Velicia, umurnya terpaut jauh dengannya makanya dia memanggilnya kaka. Saat
Sehan SMP Velicia masih SD dan sehanlah yang terus melindunginya dari
gangguan-gangguan anak nakal. Dulu Sehan adalah tetangganya makanya mereka
sangat dekat dan saat sehan kuliah mereka sempat menjalani hubungan pacarana,
namun begitu Sehan bekerja dia harus pergi keluar negeri untuk pindah kesana,
hubungan merekapun menjauh dan akhirnya 1 tahun silam mereka putus kontak,
Sehan tidak bisa dihubungi dalam waktu yang lama, Velicia menjalani masa-masa
sulitnya sendiri hingga pas kematian kedua orang tuanyapun tidak ada kabar dari
Sehan, membuat Velicia agak sedikit marah padanya hingga hari ini saat semua
hidupnya dirasa sudah hancur dan tidak ada masa depan pernikahan Sehan
tiba-tiba muncul membawa harapan.
Harapan yang mungkin hanya sekedar
harapan, dia tidak bisa membatalkan apa yang sudah dia ambil, terlebih lagi
yang dia lakukan demi adiknya. Dia sangat marah pada Sehan namun juga tidak
bisa menyalahkannya dengan semua yang dia alami ini padanya. Hanya saja yang
dia lakukan saat ini adalah agar Sehan pergi sejauh mungkin agar dia tidak
merasa bersalah pada Sehan.
Rasanya berat sekali, memikul beban
yang sangat berat ini. Menjalani pernikahan ini untuk uang tidaklah ada bedanya
dengan menjual dirinya demi uang. Entah apa yang akan terjadi padanya di
kemudian hari, fikirannya panjang namun dia tak punya pilihan lain atau adiknya
akan pergi juga untuk selamanya. Tak mudah untuk mengumpulkan uang sebanyak itu
dalam waktu yang singkat terlebih lagi perawatan di rumah sakit itu hanya mampu
menobangnya untuk tetap bernapas tanpa tau kapan dia akan pulih. Dan kata
dokter jika dia dipindahkan ke luar negri maka kemungkinan hidupnya akan jauh
lebih banyak.
Entah takdir apa yang tuhan tuliskan
untuknya, dia harus mengorbankan cinta, dan kebahagiaannya untuk cinta dan
kebahagiaan yang lain, entah apakah ini sebanding atau tidak. Yang jelas dia
tau adalah, keluarga adalah segalanya untuknya bahkan segalanya dari hidupnya
sendiri. Bagaimana dia bisa menerima harus kehilangan adiknya juga setelah
semuanya yang dia miliki dirampas. Harta, orang tua, dan kini dia tidak akan
rela jika adiknya juga pergi meninggalkannya sendiri.
3 hari berlalu begitu saja, ini
adalah hari pernikahan yang telah ditentukan, adiknya sudah lebih dulu
dipindahkan ke rumah sakit Mega di kita S, rumah sakit besar yang canggih di
kota itu dengan biaya yang tentunya sangat banyak. Hans telah memenuhi janjinya
dan tinggal Velicia yang akan memenuhi janjinya untuk menikah.
Di gedung yang amat sangat besar ini,
dengan hanya beberapa orang saja yang menghadirinya. Pernikahan ini
__ADS_1
dilangsungkan dengan sangat sederhana dengan beberapa kerabat dekat saja.
Mereka mengikrarkan janji pernikahan di depan semua kerabat. Suasananya begitu
hikmat dan juga formal, Velicia harus terlihat bahagia meski hatinya sangat
berat untuk bahagia.
“Pura-puralah mesra di depan umum,
ingat jika kita adalah pasangan yang syah mulai sekarang. Apa kamu mengerti.”
Hans menjelaskan dramanya pada Velicia
“Saya mengerti.” Jawab Velicia lirih
“Terlebih dihadapan tua bangka itu,
kamu harus menunjukan kamu istriku. Kamu mengerti.” Hans menjelaskan jika
Velicia harus mesra di depan kakek Hans.
“Ya Tuan.”
“Berhentilah memanggilku tuan.”
“Baik Hans.”
“Anak pintar.”
Hari yang melelahkan saat harus
berpura-pura bahagia di dalam kesedihan yang sangat menyesakkan, entah kenapa
harus memilih pilihan ini, sekarang dia begitu menyesal namun penyesalan itu
tiada gunanya. Dia harus melakukannya demi adiknya.
Akhirnya acara ini selesai juga, dan
mereka segera pulang kerumah Hans. Rumah yang begitu besar dengan pagar tinggi
yang mengelilinginya, depan rumah itu tak terlihat terhalang oleh tembok-tembok
besar dengan pintu gerbang yang tertutup. Pintu utamanyapun terlihat begitu
besar, rumah ini tak jauh beda dengan rumah Velicia dulu.
“Sayang, aku menunggumu dari tadi.”
Wanita yang tiba-tiba memeluk Hans yang baru saja menikah didepan istrinya.
Wanita itu terlihat sangat manja di depan Hans.
“Ania, jaga sikapmu.” (melepaskan)
“Sayang kenapa? Apa karena istri
kontrakmu ini?” Ania berbicara marah dan menunjuk Velicia dengan telunjuknya.
“Saya ke kamar dulu.” Velicia berlalu
pergi tanpa menghiraukan pemandangan yang menyakitkan itu, mungkin jika
perasaannya pada Hans ada akan begitu menyakitkan. Untungnya dia selalu
menyimpan orang lain di hatinya, makanya melihan Hans dan kekasihnya rasanya
hanya memalukan saja.
“Pergilah, dan ingat posisimu.” Ania
terus menyerang Velicia dengan kata-kata yang hampir membuatnya marah.
“Ania, jaga sikapmu. Atau pulanglah.”
Hans tegas dan menyuruh kekasihnya untuk pergi dengan acuh.
“Kenapa kamu begini padaku?”
“Aku sudah memberimu pilihan, kamu
yang menolak menikah denganku kan. Maka hargailah dia, biar bagaimanapun dia
istri sah ku. Dan kamu tidak boleh lagi ke rumah ini, jika orang tua itu tau
maka gagal sudah rencanaku. Apa kamu mengerti.” Hans menegaskannya lagi.
“Kamu jahat.” Ania marah dan bersiap
pergi.
“Pergilah.” Hans mempertegas
menyuruhnya pergi.
Ania segera pergi membawa emosinya
dan menangis bergegas meninggalkan rumah itu.
Lama-lama wanita itu merepotkan
juga, aku saat itu mendekatinya hanya biar menikah denganya dan akan membuat
namaku bagus. Tapi dia hanya terus merepotkanku, sialan. Hans menggerutu di dalam hati untuk
Ania.
Tok…..tok…. (ketukan pintu)
“Ada apa?” Velicia membuka pintu dan
bertanya pada pengetuk pintu yang dia sudah tau sang pengetuk itu siapa.
“Apa ini sikapmu pada suamimu?” Hans
menerobos masuk ke kamar Velicia.
“Apa yang anda mau?” Hans segera
mendekatkan tubuhnya dan memegangi tangan Velicia, kini wajahnya bertatapan
sangat dekat.
“Ini kamarku, aku bebas melakukan
apapun.” Hans memojokkan Velicia dengan terus mendekatkan wajahnya ke wajah
Velicia.
“Baiklah, saya akan pindah sekarang.”
Velicia mencoba meronta meminta dilepaskan.
“Apa kamu akan melewatkan malam ini
begitu saja?” Kini bibir Hans sangat dekat dengan wajahnya, bahkan hidungnya
sudah menyentuh wajah Velicia.
“Tuan, anda jangan konyol. Ingat
posisimu, kita hanya menikah kontrak. Ingat perjanjian kita.” Velicia mulai
ketakutan.
“Harusnya kamu berfikir sebelum
bertindak nona, aku ini suami sah mu. Jika dipidanakan juga tidak akan dihukum,
karena kita sah suami dan istri. Aku sebagai suamimu ya berhak mendapatkan
hakku kan?”
“Jangan bodoh tuan. Anda sangat
menjijikan.” Velicia semakin takut akan tingkah Hans.
“Kamu ini terlalu naif, suami dan
istri tentu saja akan melakukannya lambat atau cepat.”
“Kamu ********.” Velicia benar-benar
tidak dapat bergerak dan merontapun akan percuma.
“Harusnya kamu berfikir ini sebelum
menikah denganku. Tapi nampaknya kamu terlambat nona.”
Bagaimana mungkin, menggodanya
seperti ini sangat membahagiakan. Lihat ekspresinya lucu sekali, dia berubah
menjadi seekor singa yang imut. Hans sangat menikmai menggoda Velicia.
“Hahaha…… Kamu fikir aku tertarik
denganmu? Lihatlah wanitaku lebih menarik darimu. Aku kesini hanya ingin
melihatmu wanita bodoh.” Hans segera melepaskan Velicia dan menjauh pergi.
Sial, dia hanya menggodaku. Dasar
laki-laki biadab. Aku benci padamu.
“Sudah malam, istirahatlah. Ini
kamarmu kamarku ada di sebelah.” (menjelaskan)
“Ya.” (ketus)
“Apa kamu marah?” (menggapai tanyan
Velicia)
“Tentu saja tidak tuan.” (tersenyum
paksa)
“Baiklah, besok pagi bikinkan sarapan
untukku.” (melepaskan)
“Apakah itu ada di surat perjanjian?”
(ketus)
“Tentu saja ada nona, baca kembali
nomer 3 nona.” (dengan tatapan licik)
“Sial.” (kesal)
“Apa kamu bilang.” (kesal)
“Baik tuan.” (terpaksa)
Lucu sekali, setidaknya 2 tahun ini
aku punya boneka yang lucu ini. Ucap Hans dalam hatinya.
Aku berharap kamu cepat mati Hans,
semoga saja saat kamu tidur kamu terkena serangan jantung dan mati. Hingga aku
bisa bebas. Gerutu
Velicia di dalam hati.
Hans pergi dari kamar Velicia dan
masuk ke kamarnya, Veliciapun begitu dia melanjutkan istirahatnya. Kamar yang
begitu luas, dinominasi dengan warna abu muda dan putih. Kamarnya terlihat
besar lengkap dengan fasilitasnya, ada TV, kamar mandi didalam, meja rias, sofa
kecil, meja TV dan juga lampu kamar di meja samping tempat tidur. Juga ornament
pendukung lukisan kecil didinding. Kamar luas ini begitu nyaman sama dengan
kamar Velicia yang dulu, rasanya sangat kangen dengan kamar yang dulu. Kamar
yang penuh dengan kenangan itu. Rasanya sangat nyaman melepas penat sehatian
itu.
Saatnya untuk beristirahat dan
__ADS_1
menyambut hari esok yang baru.