KONTRAK DAN TAKDIR CINTA

KONTRAK DAN TAKDIR CINTA
salah Paham


__ADS_3

8


Salah Paham


Apartemen


Valicia telah sampai di rumah, rumah


yang sepi dan kosong itu. Diapun segera bergegas ke kamarnya untuk mandi lalu


beristirahat.


Krucuk….krucuk…. (suara air menyentuh


lantai)


Ko seperti ada yang sedang mandi


sih? Siapa? Apa Hans sudah pulang? Katanya beberapa hari lagi baru pulang. Lalu


siapa? Apa ada hantu di kamar ini? Selama ini gak ada kan? Fikiran Velicia kacau seketika juga


takut. Velicia mulai mendekati pintu kamar mandinya yang berada di kamarnya


itu. Kamar mandinya yang berada di sebelah kanan setelah pintu masuk kamar.


Perlahan Velicia mendekati pintu itu dan menempelkan telinganya memastikan


pendengarannya.


Ceklek….. (suara pintu dibuka)


Tiba-tiba saja Velicia kaget setengah mati ketika dia sedang memastikan


pendengarannya suara pintu dibuka yang membuatnya sontak segera mundur dan


langsung terpojok di sisi kiri mentok dengan tembok.


“Kenapa sekaget itu liat suami


sendiri habis mandi? Kamu mau ngintip ya?” Hans dengan santai mengejek Velicia


yang tengah tertegun dan tidak bisa berkata sepatah katapun dia masih


mengontrol jantungnya yang hampir saja copot karena kaget. Bagaimana tidak Hans


dengan hanya memakai handuk yang hanya menutupi area sensitifnya, dada bidang


dan tubuh kekarnya sangat jelas terlihat. Dan lagi masih banyak air yang


menetes dari tambutnya membuat tubuhnya terlihat basah dan segar. Mata


coklatnya yang menyala tajam dan rambut hitamnya yang basah kuyup begitu


terlihat sangat menggoda.


“Jam berapa ini? Kantormu tidak punya


aturan ya memperkerjakan kariawannya sampai larut begini?” Hans mendekati


Velicia yang masih terdiam terpojok. Hans pun ikut memojokkannya dengan berdiri


di hadapannya dengan satu tangan kirinya ditempelkan ke tembok menghalangi


Velicia untuk kabur.


“Kenapa kamu bisa ada disini?


Bukannya kamu baru pulang beberapa hari lagi?” Velicia gugup menahan jantungnya


yang mau meledak.


“Kamu ini gak suka aku pulang ya?


Coba jawab habis dari mana kamu?” Hans mulai curiga memegangi dagu Velicia dan


membuat wajah Velicia mendongak menatapnya. Velicia sedari tadi yang menunduk


membuatnya curiga.


Aku tidak bisa bilang kalau aku


habis bersama ka Sehan. Diakan sangat pemarah, apa dia akan marah jika…. Belum selesai Velicia bergumam dalam


hati.


“Cepat jawab.” Hans mulai mendekatkan


wajahnya ke wajah Velicia dan tangan kanannya yang terus mendongakkan wajah


Velicia.


“Aku pergi bersama teman. Tolong


lepaskan aku, kamu akan menyakitiku nanti.” Velicia mulai menahan sakit di


dagunya yang terus ditahan.


“Sana mandi.” Hans melepaskan dan


berbaring di kasur kamar Velicia.


Veliciapun segera bergegas ke kamar


kandi untuk mandi.


Apa yang dia sembunyikan? Kenapa


dia terlihat ketakutan? Apa dia tidak senang aku pulang lebih awal? Ada apa


dengan istriku ini? Dia memang penuh dengan rahasia. Hans yang bergumam curiga pada


Velicia sembari terus berbaring di tempat tidurnya masih menggunakan handuknya.


Dan sudah setengah jam Velicia belum


juga keluar dari kamar mandi, hingga Hans merasa bosan menunggu dan memutuskan


untuk menonton TV. Posisi Hans yang sangat menggoda itu, tidur terlentang


dengan tangan kirinya menopang kepalanya persis seperti model-model pria yang


sedang tiduran di pantai. Dengan tangan kanannya yang memegangi remot TV dan


juga kaki jenjangnya yang lurus dan tubuh kekarnya yang dia biarkan terbuka.


Sunggung terlihat mempesona sebagai model.


“Hans, apa kamu tidak ingin ganti


baju?” Velicia yang tersipu malu dengan pemandangan yang dia lihat di kamar itu


sekaligus risih belum terbiasa dengan kelakuan suaminya.


“Kenapa? Apa kamu tidak bergairah


melihat kesexian suamimu?” Hans menggoda.


“Terserahlah Hans, aku lelah ingin


tidur. Kamu tidur lah di kamarmu.” Velicia mendekati kasurnya menyingkap


selimutnya yang rapih dan segera berbaring menutupi dirinya dengan selimut.


“Ayolah istriku, kamu kaku sekali.


Bukannya kita sudah melewati malam menggairahkan itu? Terus kamu menyuruhku


pergi tidur terpisah? Bagaimana bisa aku tidak terpikat oleh tubuhmu, aku pergi


beberapa hari dan aku merindukanmu.” Hans menggoda Velicia dengan mengingat


kembali semuanya dan Hans segera memeluk Velicia yang tidur membelakangi


dirinya.


“Hans, hentikan ocehanmu itu atau


besok aku akan terlambat ke kantor.” Velicia malu.


“Apa kamu akan mengabaikan aku malam


ini?” Hans mulai merajuk.


“Hans, apa status kita saat ini?”


Velicia tiba-tiba berbalik dan berkata serius menatap mata Hans dengan serius.


“Apa yang kamu bicarakan? Tentu saja


kita suami istri.” Hans menjawab dengan yakin dan membelai wajah Velicia.


“Kontrak itu?” Velicia bertanya lagi


menangkis tangan Hans.


“Kontrak itu sebenarnya tidak ada,


aku memang berambisi untuk menjadi ahli waris. Tapi aku juga tidak menduga aku


akan jatuh cinta pada pandangan pertama pada kamu.” Hans menjelaskan penuh


hati-hati.


“Apa kamu mencintaiku sungguhan?”


Velicia meyakinkan dirinya.


“Sangat mencintaimu.” Hans mendekap


Velicia dan mencium keningnya.


“Hans, apa pernikahan kita hanya aka

__ADS_1


nada 2 tahun kedepan?” Velicia belum yakin.


“Pernikahan kita akan selamanya,


selama kamu masih mencintaiku. Apa kamu puas?” Hans meyakinkan.


“Cukup puas. Emh…… Hans.” Selesai


Velicia menjawab Hans mencium bibirnya dengan penuh cinta. Dan habislah malam


itu dengan cinta mereka, cinta pasangan suami dan istri yang baru saja menikah.


Pagi yang cerah, keduanya masih


terlelap hanya berbalut selimut yang hangat itu. Hans sudah terjaga sepagi ini,


namun dia hanya diam di tempat tidurnya dan hanya menatapi wajah Velicia yang


nyenyak tertidur dan sesekali lembelai rambutnya.


“Hans, jam berapa ini?” Velicia


enggan membuka matanya.


“Masih sangat pagi, tidur lah lagi


jika masih mengantuk.” Hans mencium kening Velicia yang masih ingin tidur,


Ting…..(chat)


(Sehan)


Selamat pagi Chiaku, aku jemput kamu


pagi ini ya. Aku tunggu di depan aparteman mu.


Ada bunyi pesan masuk yang amat


nyaring dari handpone Velicia yang tergeletak di meja samping tempat tidur.


Hans segera menggapai handpone itu dengan penuh curiga.


Siapa yang kirim pesan sepagi ini?


Sehan? Dia berani jemput disini? Kenapa dia bisa tau apartemen ini? Siapa


Sehan? Hans yang


melihat handpone Velicia dan sangat marah, handponenya tersandi namun terlihat


jelas pesannya muncul di layar.


“Hans, jam berapa ini?” Velicia


bertanya dan enggan membuka mata, Hans panik dan segera meletakkan handponenya


kembali.


“Bangun lah, atau kamu nanti akan


terlambat. Aku akan pergi mandi dulu di kamarku.” Hans dengan menahan marahnya


kembali ke kamar samping untuk bersiap-siap.


Aku harus lihat sedekat apa mereka.


Apakah mereka teman satu kantor? Hans bergumam


Sedangkan Velicia, dia segera bersiap


pergi ke kantor.


Ka Sehan sudah menungguku. Aku harus


segera pergi takut dia kelamaan menunggu.


“Bu Si, Hans kemana?” Velicia


bertanya pada bu Si yang membantunya berberes di apartemen.


“Tuan sudah berangkat nyonya.”


“Baiklah, terimakasih bu. Saya juga


sebaiknya segera berangkat.” Velicia bergegas memakai sepatunya.


“Hati-hati nyonya.” Jawab bu Si


membukakan pintu.


Velicia segera turun dengan lift dan


setengah berlari ke depan apartemen.


“Hai Chiaku.” Sehan menyapa dengan


senyum indahnya. Dan Velicia segera menghampirinya dengan tergesa-gesa.


“Ayo ka, nanti aku terlambat ke


permintaan Velicia. Mobilnyapun kini melaju.


Disisi lain ternyata Hans belum


berangkat ke kantornya, dia menyelidiki sendiri Sehan dan istrinya punya


kedekatan yang seperti apa. Dan benar saja hasil mengintainya membuatnya kecewa


dan sangat marah, bagaimana tidak dia melihat Velicia begitu semangat menemui


Sehan, dan lagi senyum mereka sangat terlihat begitu akrab.


Sehan juga memegangi tangan Velicia


tanpa ragu, dan Velicia menyambutnya juga dengan biasa. Hati Hans yang seketika


sangat terluka dan sakit melihat kedekatan mereka. Hans juga mengetahui jika


Sehan bukanlah teman kantor Velicia dan bagaimana mungkin mereka terlihat


begitu dekat satu sama lainnya. Hans begitu kecewa pada sikap Velicia dan dia


begitu marah pada Velicia yang dinilai sudah menghianati cintanya.


Hans pun pergi ke kantornya dengan


perasaaan marah dan cemburu. Sepanjang hari dia melampiaskan kemarahannya pada


kariawan yang membuatnya marah meskipun dengan kesalahan kecil. Sepanjang hari


dia memasang wajah seperti akan memakan orang saat itu juga. Wajah tampannya


seketika hari itu menjadi wajah singa yang sedag lapar. Ya meskipun dia


terkenal sebagai pria yang begitu dingin dan tidak pernah bersikap hangat juga


tegas kepada semua pegawainya. Namun beberapa bulan ini setelah dia bertemu


dengan Velicia, semua orang kantor melihat perubahannya yang cukup terlihat.


Dia menjadi sedikit lebih bisa tersenyum dan juga sedikit lebih bisa ramah.


Dan hari ini dia kembali menakutkan


seperti dulu, bahkan lebih menakutkan dari biasanya. Seperti duakali lebih


menakutkan dari biasanya.


“Kamu kenapa tuan Hans.” Anton


bertanya pada Hans yang terlihat sangat marah.


“Aku melihatnya pagi ini bersama


laki-laki.” Hans menjelaskan apa yang dilihatnya dengan muka merah amarahnya.


“Mungkin mereka hanya teman.” Anton


jawab dengan tenang.


“Mungkin saja aku yang salah


menilai.” Hans sedikit tenang.


“Lebih baik konfirmasi langsung pada


pihak terkait.” Anton memeberi solusi dengan tenang.


“Baiklah, ada apa?” Hans segera tau


berita apa yang akan anak buahnya itu sampaikan.


“Nyonya Jessica terlah kembali ke


kota ini tuan, saya melihatnya langsung barusan di kediamannya.” Anton


memberikan informasi dengan sopan.


“Wanita sialan itu mau apa lagi dia.


Bisa-bisanya dia kembali ke kota ini.” Hans mulai tersulut emosi kembali.


“Tenanglah tuan, dia kembali


sendirian tanpa suaminya.” Anton menerangkan


“Baiklah kamu sudah boleh pergi.”


Hans memerintah dan Anton segera pergi.


Jessica mau apa lagi kamu datang


kesini? Aku yakin kamu datang kali ini dengan banyak trik kan. Aku tidak akan

__ADS_1


termakan trik murahanmu lagi. Hans bergumam dengan wajah dipenuhi dengan amarahnya.


**Dikantor Hans


“Selamat pagi tuan Hans.” Suara


seorang wanita yang tak asing baginya yang masuk ke ruangannya.


“Jessica.” Menyambut dengan senyum


sinis.


“Bagaimana kabarmu tuan.” Jessica


duduk.


“Kabar baik, ada apa kamu kemari? Apa


ada keperluan yang sangat penting?” Hans bertanya penuh selidik.


“Hans, hentikan perangaimu itu.


Apakah selama sudah 7 tahun ini kamu tidak juga dapat memaafkanku? Sedangkan


kamu tau alasanku itu Hans.” Jessica mulai menagis dan berteriak.


“Sandiwara apa ini yang sedang kamu


lainkan?” Hans tidak percaya.


“Hans, aku kesini memohon maaf


padamu. Dan aku, aku sakit Hans. Umurku tidak akan lama lagi, jadi ku mohon


maafkan aku.” Jessica berlutut.


“Apa kamu bercanda?” Hans mulai iba


dan meraih bahunya untuk bangun.


“Aku berkata jujur Hans.” Jessica


masih menangis dan Hans meraihnya dalam pelukannya.


“Baiklah, aku memaafkanmu.” Hans pun


menjadi luluh dan iba.


“Aku juga tau kamu sudah menikah. Aku


mau melihat istrimu Hans, bolehkah?” Jessica memelas.


“Iyah, tentu saja boleh. Nanti kamu


ikut aku ke rumah bertemu dengannya, pasti dia akan senang kamu mengunjunginya.


Oh iyah bagaimana suamimu?” Hans memberinya duduk di sofa.


“Suamiku berselingkuh dan kabur


bersama selingkuhannya. Dan aku sendiri sekarang.” Jesssica menceritakan


deritanya.


Kasian sekali dia, mungkin tidak


akan apa-apa toh aku sudah tidak memiliki perasaan padanya. Tapi rasanya sangat


kasihan padanya.Hans yang bergumam dan berfikir iba terhadap Jessica yang terlihat begitu tulus


memohon maaf sampai bersujud. Dia tau betul jika Jessica tidak mungkin bersujud


pada orang lain sekalipun orang itu adalah Hans. Namun mungkin karena


ketulusannya kali ini hingga Jessica sampai bersujud dan meminta maaf dan


dengan tulus ingin menemui Velicia istri Hans.


**Di apartemen


Hans sudah sampai dengan Jessica di


apartemen, Hans juga sudah memberi Jessica hidangan sebagai tamu. Mereka


menunggu Velicia yang harusnya sudah pulang kerja.


Ceklek…..(suara pintu terbuka)


Velicia datang dan langsung tertegun


dengan pemandangan yang dia lihat, bagaimana tidak terlihat oleh kedua matanya


ketika wajah Hans sedang berada persis di depan Jessica yang tengah duduk di


sofa ruang tamu sambil mendongak menatap Hans.


Sebelumnya, saat pintu terdengar


terbuka Jessica langsung berteriak kesakitan pada kedua matanya, Hans yang


panik segera menghampirinya dan mencoba berusaha melihat mata Jessica yang


sakit hingga posisi mereka terhenti saat Velicia menyaksikan pemandangan itu


dengan kedua matanya.


Rasanya marah dan ingin menangis,


namun Velicia segera menahannya dan bersikap sebiasa saja menahan amarahnya


hanya dalam hatinya.


“Velicia, kamu sudah pulang. Emm,


kenalin dia teman ku Jessica.” Hans segera bersikap normal dan berusaha seperti


tidak terjadi apa-apa.


“Hai, aku Jessica. Mant…..eh teman


Hans maksudnya.” Jessinya polos tanpa dosa.


“Aku Velicia, kalian lanjutkan


ngobrolnya saja aku ingin ganji baju dulu. Anggap saja rumah sendiri ya Jessica.”


Velicia pandai sekali menyembunyikan amarahnya. Hingga semuanya terlihat alami.


Dia barusan bilan mantan kan? Dasar


tidak tau malu, masa kencan dengan selingkuhan di depan istri. Sangat tidak tau


malu. Velicia yang


hanya menggerutu di dalam hati.


“Hai, Jessica belum pulang yah.”


Velicia menyapa dengan menahan marahnya.


“Baru saja aku mau pamit. Menunggu


kamu.” Jessica ramah dan berdiri dari posisi duduknya.


“Oh, baiklah sudah larut sekali. Aku


juga lelah jadi maaf ya.” Velicia berakting ramah.


“Aduh….” Jessica pura-pura pusing dan


hampir terjatuh, Hans yang ada di sampingnya segera mengkapnya, dan adegan itu


sangat terlihat mesra.


Oh, mesra sekali ya. Sungguh


menjijikan.Lagi-lagi Velicia hanya menggerutu dalam hati.


“Kamu tidak apa-apa kan Jessica?”


Hans khawatir.


“Iyah Jessica kamu terlihat pucat,


bagaimana kalau Hans yang antar kamu pulang. Antarlah dia pulang Hans.” Velicia


sangat menahan amarahnya pada dua orang itu.


Seperti tanpa memperdulikan Velicia,


Hans pergi mengantar Jessica. Disitu Velicia begitu salah paham kepada mereka,


terlebih lagi tadi Jessica bilang bahwa Hans adalah mantannya. Dan mereka


begitu terlihat sangat mesra. Rasanya kepala jesika ingin meledak melihat Hans


memapah wanita lain di hadapannya dan lagi wanita itu bersender di bahu Hans


yang lebar itu.


Tak tahan lagi menahan amarahnya


Velicia pun segera pergi ke kamarnya dan mengunci kamarnya lalu pergi untuk


tidur. Namun bagaimana bisa tidur jika suasana hatinya sedang kacau balau, dia


juga tidak tau mereka berdua pergi lalu ngapain ajah. Kacau sekali hatinya yang


sakit dan fikirannya yang kemana-mana, bagaimana dia bisa menerimanya. Menerima


suaminya perhatian dengan wanita lain, rasanya juga menyesal sekali, harusnya


dia biarkan saja wanita itu jatuh dan pingsan atau apa gitu. Yang penting tidak

__ADS_1


membiarkan mereka ada waktu untuk berdua. Berfikir tanpa sadar akhirnya dia


tertidur lelap.


__ADS_2