
8
Salah Paham
Apartemen
Valicia telah sampai di rumah, rumah
yang sepi dan kosong itu. Diapun segera bergegas ke kamarnya untuk mandi lalu
beristirahat.
Krucuk….krucuk…. (suara air menyentuh
lantai)
Ko seperti ada yang sedang mandi
sih? Siapa? Apa Hans sudah pulang? Katanya beberapa hari lagi baru pulang. Lalu
siapa? Apa ada hantu di kamar ini? Selama ini gak ada kan? Fikiran Velicia kacau seketika juga
takut. Velicia mulai mendekati pintu kamar mandinya yang berada di kamarnya
itu. Kamar mandinya yang berada di sebelah kanan setelah pintu masuk kamar.
Perlahan Velicia mendekati pintu itu dan menempelkan telinganya memastikan
pendengarannya.
Ceklek….. (suara pintu dibuka)
Tiba-tiba saja Velicia kaget setengah mati ketika dia sedang memastikan
pendengarannya suara pintu dibuka yang membuatnya sontak segera mundur dan
langsung terpojok di sisi kiri mentok dengan tembok.
“Kenapa sekaget itu liat suami
sendiri habis mandi? Kamu mau ngintip ya?” Hans dengan santai mengejek Velicia
yang tengah tertegun dan tidak bisa berkata sepatah katapun dia masih
mengontrol jantungnya yang hampir saja copot karena kaget. Bagaimana tidak Hans
dengan hanya memakai handuk yang hanya menutupi area sensitifnya, dada bidang
dan tubuh kekarnya sangat jelas terlihat. Dan lagi masih banyak air yang
menetes dari tambutnya membuat tubuhnya terlihat basah dan segar. Mata
coklatnya yang menyala tajam dan rambut hitamnya yang basah kuyup begitu
terlihat sangat menggoda.
“Jam berapa ini? Kantormu tidak punya
aturan ya memperkerjakan kariawannya sampai larut begini?” Hans mendekati
Velicia yang masih terdiam terpojok. Hans pun ikut memojokkannya dengan berdiri
di hadapannya dengan satu tangan kirinya ditempelkan ke tembok menghalangi
Velicia untuk kabur.
“Kenapa kamu bisa ada disini?
Bukannya kamu baru pulang beberapa hari lagi?” Velicia gugup menahan jantungnya
yang mau meledak.
“Kamu ini gak suka aku pulang ya?
Coba jawab habis dari mana kamu?” Hans mulai curiga memegangi dagu Velicia dan
membuat wajah Velicia mendongak menatapnya. Velicia sedari tadi yang menunduk
membuatnya curiga.
Aku tidak bisa bilang kalau aku
habis bersama ka Sehan. Diakan sangat pemarah, apa dia akan marah jika…. Belum selesai Velicia bergumam dalam
hati.
“Cepat jawab.” Hans mulai mendekatkan
wajahnya ke wajah Velicia dan tangan kanannya yang terus mendongakkan wajah
Velicia.
“Aku pergi bersama teman. Tolong
lepaskan aku, kamu akan menyakitiku nanti.” Velicia mulai menahan sakit di
dagunya yang terus ditahan.
“Sana mandi.” Hans melepaskan dan
berbaring di kasur kamar Velicia.
Veliciapun segera bergegas ke kamar
kandi untuk mandi.
Apa yang dia sembunyikan? Kenapa
dia terlihat ketakutan? Apa dia tidak senang aku pulang lebih awal? Ada apa
dengan istriku ini? Dia memang penuh dengan rahasia. Hans yang bergumam curiga pada
Velicia sembari terus berbaring di tempat tidurnya masih menggunakan handuknya.
Dan sudah setengah jam Velicia belum
juga keluar dari kamar mandi, hingga Hans merasa bosan menunggu dan memutuskan
untuk menonton TV. Posisi Hans yang sangat menggoda itu, tidur terlentang
dengan tangan kirinya menopang kepalanya persis seperti model-model pria yang
sedang tiduran di pantai. Dengan tangan kanannya yang memegangi remot TV dan
juga kaki jenjangnya yang lurus dan tubuh kekarnya yang dia biarkan terbuka.
Sunggung terlihat mempesona sebagai model.
“Hans, apa kamu tidak ingin ganti
baju?” Velicia yang tersipu malu dengan pemandangan yang dia lihat di kamar itu
sekaligus risih belum terbiasa dengan kelakuan suaminya.
“Kenapa? Apa kamu tidak bergairah
melihat kesexian suamimu?” Hans menggoda.
“Terserahlah Hans, aku lelah ingin
tidur. Kamu tidur lah di kamarmu.” Velicia mendekati kasurnya menyingkap
selimutnya yang rapih dan segera berbaring menutupi dirinya dengan selimut.
“Ayolah istriku, kamu kaku sekali.
Bukannya kita sudah melewati malam menggairahkan itu? Terus kamu menyuruhku
pergi tidur terpisah? Bagaimana bisa aku tidak terpikat oleh tubuhmu, aku pergi
beberapa hari dan aku merindukanmu.” Hans menggoda Velicia dengan mengingat
kembali semuanya dan Hans segera memeluk Velicia yang tidur membelakangi
dirinya.
“Hans, hentikan ocehanmu itu atau
besok aku akan terlambat ke kantor.” Velicia malu.
“Apa kamu akan mengabaikan aku malam
ini?” Hans mulai merajuk.
“Hans, apa status kita saat ini?”
Velicia tiba-tiba berbalik dan berkata serius menatap mata Hans dengan serius.
“Apa yang kamu bicarakan? Tentu saja
kita suami istri.” Hans menjawab dengan yakin dan membelai wajah Velicia.
“Kontrak itu?” Velicia bertanya lagi
menangkis tangan Hans.
“Kontrak itu sebenarnya tidak ada,
aku memang berambisi untuk menjadi ahli waris. Tapi aku juga tidak menduga aku
akan jatuh cinta pada pandangan pertama pada kamu.” Hans menjelaskan penuh
hati-hati.
“Apa kamu mencintaiku sungguhan?”
Velicia meyakinkan dirinya.
“Sangat mencintaimu.” Hans mendekap
Velicia dan mencium keningnya.
“Hans, apa pernikahan kita hanya aka
__ADS_1
nada 2 tahun kedepan?” Velicia belum yakin.
“Pernikahan kita akan selamanya,
selama kamu masih mencintaiku. Apa kamu puas?” Hans meyakinkan.
“Cukup puas. Emh…… Hans.” Selesai
Velicia menjawab Hans mencium bibirnya dengan penuh cinta. Dan habislah malam
itu dengan cinta mereka, cinta pasangan suami dan istri yang baru saja menikah.
Pagi yang cerah, keduanya masih
terlelap hanya berbalut selimut yang hangat itu. Hans sudah terjaga sepagi ini,
namun dia hanya diam di tempat tidurnya dan hanya menatapi wajah Velicia yang
nyenyak tertidur dan sesekali lembelai rambutnya.
“Hans, jam berapa ini?” Velicia
enggan membuka matanya.
“Masih sangat pagi, tidur lah lagi
jika masih mengantuk.” Hans mencium kening Velicia yang masih ingin tidur,
Ting…..(chat)
(Sehan)
Selamat pagi Chiaku, aku jemput kamu
pagi ini ya. Aku tunggu di depan aparteman mu.
Ada bunyi pesan masuk yang amat
nyaring dari handpone Velicia yang tergeletak di meja samping tempat tidur.
Hans segera menggapai handpone itu dengan penuh curiga.
Siapa yang kirim pesan sepagi ini?
Sehan? Dia berani jemput disini? Kenapa dia bisa tau apartemen ini? Siapa
Sehan? Hans yang
melihat handpone Velicia dan sangat marah, handponenya tersandi namun terlihat
jelas pesannya muncul di layar.
“Hans, jam berapa ini?” Velicia
bertanya dan enggan membuka mata, Hans panik dan segera meletakkan handponenya
kembali.
“Bangun lah, atau kamu nanti akan
terlambat. Aku akan pergi mandi dulu di kamarku.” Hans dengan menahan marahnya
kembali ke kamar samping untuk bersiap-siap.
Aku harus lihat sedekat apa mereka.
Apakah mereka teman satu kantor? Hans bergumam
Sedangkan Velicia, dia segera bersiap
pergi ke kantor.
Ka Sehan sudah menungguku. Aku harus
segera pergi takut dia kelamaan menunggu.
“Bu Si, Hans kemana?” Velicia
bertanya pada bu Si yang membantunya berberes di apartemen.
“Tuan sudah berangkat nyonya.”
“Baiklah, terimakasih bu. Saya juga
sebaiknya segera berangkat.” Velicia bergegas memakai sepatunya.
“Hati-hati nyonya.” Jawab bu Si
membukakan pintu.
Velicia segera turun dengan lift dan
setengah berlari ke depan apartemen.
“Hai Chiaku.” Sehan menyapa dengan
senyum indahnya. Dan Velicia segera menghampirinya dengan tergesa-gesa.
“Ayo ka, nanti aku terlambat ke
permintaan Velicia. Mobilnyapun kini melaju.
Disisi lain ternyata Hans belum
berangkat ke kantornya, dia menyelidiki sendiri Sehan dan istrinya punya
kedekatan yang seperti apa. Dan benar saja hasil mengintainya membuatnya kecewa
dan sangat marah, bagaimana tidak dia melihat Velicia begitu semangat menemui
Sehan, dan lagi senyum mereka sangat terlihat begitu akrab.
Sehan juga memegangi tangan Velicia
tanpa ragu, dan Velicia menyambutnya juga dengan biasa. Hati Hans yang seketika
sangat terluka dan sakit melihat kedekatan mereka. Hans juga mengetahui jika
Sehan bukanlah teman kantor Velicia dan bagaimana mungkin mereka terlihat
begitu dekat satu sama lainnya. Hans begitu kecewa pada sikap Velicia dan dia
begitu marah pada Velicia yang dinilai sudah menghianati cintanya.
Hans pun pergi ke kantornya dengan
perasaaan marah dan cemburu. Sepanjang hari dia melampiaskan kemarahannya pada
kariawan yang membuatnya marah meskipun dengan kesalahan kecil. Sepanjang hari
dia memasang wajah seperti akan memakan orang saat itu juga. Wajah tampannya
seketika hari itu menjadi wajah singa yang sedag lapar. Ya meskipun dia
terkenal sebagai pria yang begitu dingin dan tidak pernah bersikap hangat juga
tegas kepada semua pegawainya. Namun beberapa bulan ini setelah dia bertemu
dengan Velicia, semua orang kantor melihat perubahannya yang cukup terlihat.
Dia menjadi sedikit lebih bisa tersenyum dan juga sedikit lebih bisa ramah.
Dan hari ini dia kembali menakutkan
seperti dulu, bahkan lebih menakutkan dari biasanya. Seperti duakali lebih
menakutkan dari biasanya.
“Kamu kenapa tuan Hans.” Anton
bertanya pada Hans yang terlihat sangat marah.
“Aku melihatnya pagi ini bersama
laki-laki.” Hans menjelaskan apa yang dilihatnya dengan muka merah amarahnya.
“Mungkin mereka hanya teman.” Anton
jawab dengan tenang.
“Mungkin saja aku yang salah
menilai.” Hans sedikit tenang.
“Lebih baik konfirmasi langsung pada
pihak terkait.” Anton memeberi solusi dengan tenang.
“Baiklah, ada apa?” Hans segera tau
berita apa yang akan anak buahnya itu sampaikan.
“Nyonya Jessica terlah kembali ke
kota ini tuan, saya melihatnya langsung barusan di kediamannya.” Anton
memberikan informasi dengan sopan.
“Wanita sialan itu mau apa lagi dia.
Bisa-bisanya dia kembali ke kota ini.” Hans mulai tersulut emosi kembali.
“Tenanglah tuan, dia kembali
sendirian tanpa suaminya.” Anton menerangkan
“Baiklah kamu sudah boleh pergi.”
Hans memerintah dan Anton segera pergi.
Jessica mau apa lagi kamu datang
kesini? Aku yakin kamu datang kali ini dengan banyak trik kan. Aku tidak akan
__ADS_1
termakan trik murahanmu lagi. Hans bergumam dengan wajah dipenuhi dengan amarahnya.
**Dikantor Hans
“Selamat pagi tuan Hans.” Suara
seorang wanita yang tak asing baginya yang masuk ke ruangannya.
“Jessica.” Menyambut dengan senyum
sinis.
“Bagaimana kabarmu tuan.” Jessica
duduk.
“Kabar baik, ada apa kamu kemari? Apa
ada keperluan yang sangat penting?” Hans bertanya penuh selidik.
“Hans, hentikan perangaimu itu.
Apakah selama sudah 7 tahun ini kamu tidak juga dapat memaafkanku? Sedangkan
kamu tau alasanku itu Hans.” Jessica mulai menagis dan berteriak.
“Sandiwara apa ini yang sedang kamu
lainkan?” Hans tidak percaya.
“Hans, aku kesini memohon maaf
padamu. Dan aku, aku sakit Hans. Umurku tidak akan lama lagi, jadi ku mohon
maafkan aku.” Jessica berlutut.
“Apa kamu bercanda?” Hans mulai iba
dan meraih bahunya untuk bangun.
“Aku berkata jujur Hans.” Jessica
masih menangis dan Hans meraihnya dalam pelukannya.
“Baiklah, aku memaafkanmu.” Hans pun
menjadi luluh dan iba.
“Aku juga tau kamu sudah menikah. Aku
mau melihat istrimu Hans, bolehkah?” Jessica memelas.
“Iyah, tentu saja boleh. Nanti kamu
ikut aku ke rumah bertemu dengannya, pasti dia akan senang kamu mengunjunginya.
Oh iyah bagaimana suamimu?” Hans memberinya duduk di sofa.
“Suamiku berselingkuh dan kabur
bersama selingkuhannya. Dan aku sendiri sekarang.” Jesssica menceritakan
deritanya.
Kasian sekali dia, mungkin tidak
akan apa-apa toh aku sudah tidak memiliki perasaan padanya. Tapi rasanya sangat
kasihan padanya.Hans yang bergumam dan berfikir iba terhadap Jessica yang terlihat begitu tulus
memohon maaf sampai bersujud. Dia tau betul jika Jessica tidak mungkin bersujud
pada orang lain sekalipun orang itu adalah Hans. Namun mungkin karena
ketulusannya kali ini hingga Jessica sampai bersujud dan meminta maaf dan
dengan tulus ingin menemui Velicia istri Hans.
**Di apartemen
Hans sudah sampai dengan Jessica di
apartemen, Hans juga sudah memberi Jessica hidangan sebagai tamu. Mereka
menunggu Velicia yang harusnya sudah pulang kerja.
Ceklek…..(suara pintu terbuka)
Velicia datang dan langsung tertegun
dengan pemandangan yang dia lihat, bagaimana tidak terlihat oleh kedua matanya
ketika wajah Hans sedang berada persis di depan Jessica yang tengah duduk di
sofa ruang tamu sambil mendongak menatap Hans.
Sebelumnya, saat pintu terdengar
terbuka Jessica langsung berteriak kesakitan pada kedua matanya, Hans yang
panik segera menghampirinya dan mencoba berusaha melihat mata Jessica yang
sakit hingga posisi mereka terhenti saat Velicia menyaksikan pemandangan itu
dengan kedua matanya.
Rasanya marah dan ingin menangis,
namun Velicia segera menahannya dan bersikap sebiasa saja menahan amarahnya
hanya dalam hatinya.
“Velicia, kamu sudah pulang. Emm,
kenalin dia teman ku Jessica.” Hans segera bersikap normal dan berusaha seperti
tidak terjadi apa-apa.
“Hai, aku Jessica. Mant…..eh teman
Hans maksudnya.” Jessinya polos tanpa dosa.
“Aku Velicia, kalian lanjutkan
ngobrolnya saja aku ingin ganji baju dulu. Anggap saja rumah sendiri ya Jessica.”
Velicia pandai sekali menyembunyikan amarahnya. Hingga semuanya terlihat alami.
Dia barusan bilan mantan kan? Dasar
tidak tau malu, masa kencan dengan selingkuhan di depan istri. Sangat tidak tau
malu. Velicia yang
hanya menggerutu di dalam hati.
“Hai, Jessica belum pulang yah.”
Velicia menyapa dengan menahan marahnya.
“Baru saja aku mau pamit. Menunggu
kamu.” Jessica ramah dan berdiri dari posisi duduknya.
“Oh, baiklah sudah larut sekali. Aku
juga lelah jadi maaf ya.” Velicia berakting ramah.
“Aduh….” Jessica pura-pura pusing dan
hampir terjatuh, Hans yang ada di sampingnya segera mengkapnya, dan adegan itu
sangat terlihat mesra.
Oh, mesra sekali ya. Sungguh
menjijikan.Lagi-lagi Velicia hanya menggerutu dalam hati.
“Kamu tidak apa-apa kan Jessica?”
Hans khawatir.
“Iyah Jessica kamu terlihat pucat,
bagaimana kalau Hans yang antar kamu pulang. Antarlah dia pulang Hans.” Velicia
sangat menahan amarahnya pada dua orang itu.
Seperti tanpa memperdulikan Velicia,
Hans pergi mengantar Jessica. Disitu Velicia begitu salah paham kepada mereka,
terlebih lagi tadi Jessica bilang bahwa Hans adalah mantannya. Dan mereka
begitu terlihat sangat mesra. Rasanya kepala jesika ingin meledak melihat Hans
memapah wanita lain di hadapannya dan lagi wanita itu bersender di bahu Hans
yang lebar itu.
Tak tahan lagi menahan amarahnya
Velicia pun segera pergi ke kamarnya dan mengunci kamarnya lalu pergi untuk
tidur. Namun bagaimana bisa tidur jika suasana hatinya sedang kacau balau, dia
juga tidak tau mereka berdua pergi lalu ngapain ajah. Kacau sekali hatinya yang
sakit dan fikirannya yang kemana-mana, bagaimana dia bisa menerimanya. Menerima
suaminya perhatian dengan wanita lain, rasanya juga menyesal sekali, harusnya
dia biarkan saja wanita itu jatuh dan pingsan atau apa gitu. Yang penting tidak
__ADS_1
membiarkan mereka ada waktu untuk berdua. Berfikir tanpa sadar akhirnya dia
tertidur lelap.