KONTRAK DAN TAKDIR CINTA

KONTRAK DAN TAKDIR CINTA
Terputus


__ADS_3

18


Terputus


Velicia termangu di kursinya, memandangi danau yang


hijau kecoklatan yang saat ini juga ada pemandangan pantulan langit yang


seperti tercerminkan. Duduknya diam mematung menembus angan fikirnya. Mengingat


kembali cuplikan-cuplikan memeri yang baru saja terjadi, waktu demi waktu


sekarang tengah tergambar jelas dalam ingatannya.


Awal pertemuan denga Hans yang membingungkan yang


tiba-tiba menawarinya seperti sebuah keajaiban, sebuah jalan pintas keluar dari


permasalahan dengan niatan menolong adiknya. Hari demi hari yang tak bisa


dibilang mudah telah dia lalui meski dengan langkah terseok, tertatih dan


bahkan banyak luka yang ditinggalkan disana.


Velicia tau betul jika mengingatnya sama saja terus


membubuhkan garam pada lukanya, namun kali ini dia ingin mengingatnya satu kali


lagi untuk melepaskan segala dan membiarkan segalanya menguap begitu saja. Tak


mudah, tak akan mudah namun bukan berarti tidak bisa. Tiba-tiba Velicia begitu


ngeri dan merasakan kesakitannya kembali, menelungkupkan kedua tangannya seperti


ada hawa yang begitu dingin dan sakit merangsak masuk kedalam tubuhnya.


Dress cantic bunga-bunga warna navinya, juga rambut


tergerainya yang indah itu tak luput terseok angin yang berlahan menyapunya.


Kegetira yang tak bisa dielakkan lagi ada di depan mata, beberapa jam lagi


semua akan berakhir di akhiri ketokan palu itu. Dulu, dia pernah menantikan hal


ini datang segera mungkin. Dulu sekali sebelum api cinta itu dimainkan, benar jangan


pernah bermain api jika tidak ingin terbakar.


Api itu ini seakan melahap semua hatinya, akhirnya apa


yang dia ingini hari ini bisa dikabulkan juga sesaat yang lalu juga hal inilah


yang paling terasa mengerikan dalam hidupnya. Bagaimana mungkin semua dapat


berubah bahkan secepat membalikkan buku. Sungguh tidak ada kesempatan untuk


melambaikan tangan menyerah, pilihannya hanya ada satu. Satu-satunya


perpisahan, satu-satunya memutuskan tali yang memang sudah runyam dari awalnya.


Ya, pernikahan ini seperti penyakit. Jika terus


dibiarkan maka itu akan terasa menyakitkan, sayangnya ini bukan dalam negri


dongeng yang bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan bim salabim. Sialnya


penyakit memeng harus segera diakhiri sebelum penyakit itu menyakiti.


“Ada kesempatan beberapa menit lagi untuk mundur


Velcia.” Suara yang terdengar begitu lembut memekikkan suasana yang sedari tadi


sendu itu.


“Ka Sehan.” Velicia segera tau jika suara lembut itu


berasal dari Sehan yang saat ini sedang melangkah maju mendekati punggungnya.


Velicia tanpa menoleh dan terus mematung dalam posisinya.


“Velicia, jika kamu ragu semua belum terlambat.” Sehan


duduk di sampingnya menggenggam tangan Velicia memberi dukungan.


“Aku tidak akan pernah mundur dari keputusan yang


telah aku ambil ka.” (dengan penuh keyakinan)


“Aku tau kamu terluka.” (sedih)


“Bagaimana dengan lukamu juga? Kenapa ka Sehan begitu


naif berkata begitu padaku?” (marah)


“Karena aku selalu ingin kamu bahagia.” (lirih)


“Aku bisa menemukan bahagiaku tanpa Hans ka.” (yakin)


“Baiklah, aku akan selalu mendukung segala


kuputusanmu.” (percaya)


“Terimakasih ka. Mari kita ke pengadilan.”


Mereka bergegas meninggalkan taman yang sepi itu,


masuk ke mobil yang sudah terparkir di parkiran taman yang tak jauh dari tempat


mereka duduk tadi.


**Persidangan Selesai


Akhirnya selesai sudah, segalanya berlalu begitu saja Hans


datang dengan Jessica dan juga kakeknya.


“Sehan tunggu.” Hans yang tiba-tiba muncul di belakang


Sehan berhasil mengejar Sehan dan memanggil.


“Iyah tuan Hans, ada perlu apa yah?” (tidak tahu


apa-apa)


“Aku ingin bicara hanya empat mata saja.” (serius)


“Velicia kamu bisa ke mobil dulu ya. Ini kuncinya.”


(memberikan)


“Baik ka.” (Dingin)


Sesaat setelah segalanya sudah berakhir Sehan dan


Velicia hendak pulang bersama karena awalnya memang berangkat bersama dan entah


mengapa tiba-tiba Hans datang mengejar mereka berdua dan malah meninggalkan


rekan Hans yang lainnya untuk mengejar mereka dan lebih anehnya lagi Hans ingin


bicara dengan Sehan.


Velicia sabagat malas lagi bertemu dengan Hans, dan


lagi Hans datang ke persidangan bersama dengan Jessica. Karena itu Velicia


sangat masam sepanjang sidang, dia juga terlihat begitu jutek saat mengetahui


Hans ada di belakang mereka untuk mengejar. Tentu saja sebenarnya Velicia


sangat ingin tau maksud dan tujuan Hans, namun apa boleh buat jika memang


mereka para laki-laki butuh waktu juga untuk bicara. Entah membicarakan apa.


Sementara disisi lain Hans dan Sehan pergi ke sebuah taman


yang terlihat lumayan sepi, Hans mengajak ke taman lingkungan gedung itu seakan


hendak membicarakan hal yang sangat rahasia.


“Maaf Sehan, kita memang tidak begitu kenal dan ya aku


juga sudah beberapa kali melihat kamu begitu dekat dengan Velicia. Aku akhirnya


tau kamu itu adalah mantannya Velicia juga yang dia anggap sebagai kaka.” Hans


berbicara begitu santai sambil tetap berdiri menyembunyikan tangannya di saku


celananya. Dan sesekali membetulkan jasnya yang sebenarnya masih begitu rapih


tak kurang apapun.


Obrolan para pria dengan tatapan yang sama-sama begitu


dingin dan menegangkan lebih seperti ingin perang daripada berbicara baik-baik.


Sehan yang hanya berdiri diam dengan kedua tangannya ada di saku celananya


pembawaan yang dingin, tenang juga seperti singa yang tengah lapar. Sementara


Hans yang berdiri di hadapannya yang lumayan energik dengan beberapa kali


gerakan tangan mengikuti pembicaraan juga sesekali menyimpan tangannya di saku,


juga menyalakan rokoknya dengan santai dan mulai menghisap rokoknya dengan

__ADS_1


tengil.


Bayangkan saja betapa garangnya wajah Sehan saat ini


melihat ketengilan yang telah dia hadapi kini, Sehan yang jarang sekali


berbicara dengan orang asing. Sehan hanya mau berbicara saat itu memang


benar-benar penting baginya jika tidak maka Sehan hanya diam dan menatap dengan


tatapan singa pemangsanya. Sehan hanya berbicara banyak pada Velicia dan Alicia


sekarang.


“Lalu?” (tatapan mematikan)


“Aku hanya ingin bilang anda jangan senang dulu.


Perceraian ini hanyalah awal cinta kami yang baru. Aku akan mengejarnya


lagi-lagi dan lagi sampai dia jadi milikku lagi.” (penuh semangat)


“Silahkan. Tidak ada yang melarang.” Sehan dengan


tenang menghadapi Hans yang ingin menunjukan kegigihannya.


“Maka dari itu saya minta anda pergi, jangan lagi


ganggu Velicia.”


“Saya mau pergi atau tidak itu adalah urusan saya.


Anda tidak berhak untuk itu, mengenai anda ingin mengejar Velicia silahkan saja


itu adalah hak anda. Namun anda harus ingat ada beberapa hal yang tidak


dipaksakan, seperti cinta dan hati manusia. Saya hara panda dapat belajar itu,


saya permisi.” Dengan tenang Sehan pergi meninggalkan Hans. Hans yang saat itu


memegangi rokoknya begitu mendengar ucapan Sehan langsung terdiam dan merasakan


seperti tusukan yang menancap dalam hatinya.


Hans seketika merasakan sesak yang begitu dahsyat dan


ucapan terakhir Sehan terus terulang dalam ingatannya hingga Hans diam membisu


sejenak dan berlalu juga pergi, tetapi juga fikirannya terus memutar suara


Sehan yang mengatakan kalimat terakhirnya barusan.


**Di mobil Sehan


Sehan kembali ke mobilnya, sudah ada Velicia yang


sudah menunggu Sehan dengan wajah penasaran. Sementara Sehan terlihat kembali


dengan wajah penuh dengan kebekuan dan amarah yang di tahannya.


“Apa ada masalah?” (cemas)


“Tidak, jangan khawatir. Apa kamu penasaran?” (mulai


mengemudi)


“Ya, sedikit.” (tertawa kecil)


“Dia hanya bicara jika ingin terus mengejarmu.”


(memendam amarah)


“Apa kamu cemburu?” (tersenyum) Velicia tau jika Hans


menahan marahnya.


“Tidak.” (tenang) karena Sehan tau Velicia tak mungkin


kembali pada Hans.


“Hahaha…. Kamu pintar berbohong ka.” (tertawa)


“Hei… Kamu tidak sopan pada ku sekarang.” (malu)


“Oke, baiklah-baiklah aku minta maaf.” (menahan tawa)


“Dimaafkan. Oyah, kapan kamu pindah ke apartemen. Biar


ku suruh orang merapikannya.”


“Bolehkah jika besok ka?”


“Tentu saja, nanti sampai dirumah aku akan suruh orang


“Terimakasih.”


Mobil terus melaju menuju pulang ke rumah, proses


sidang yang sebenarnya tidak begitu lama namun melelahkan jiwa dan raga.


Akhirnya mungkin masalah ini akan segera berakhir.


**Keesokan hari


Mentari bersinar seperti biasa, dia seolah tidak


pernah absen untuk menyinari semesta. Sinarnya yang lembut menghangatkan


menyentuh tubuh Velicia yang masih pulas dengan tidurnya. Menyerahkan angannya


dalam mimpi indahnya, sementara jam bekernya sudah nyaring terdengar sedari beberapa


menit lalu berbunyi. Tidak mungkin jika bunyi yang nyaring itu tidak


membangunkan pemiliknya.


Velicia mulai membuka matanya yang terasa berat sekali


itu, mulai tersadar dan duduk berlahan masih bermalas-malasan untuk bangun.


Hari libur masih beberapa hari lagi jadi jangan berharap hari ini bisa bolos


lagi. Velicia mulai mengumpulkan sisa tenaganya dan sedarannya untuk segera


beranjak lalu mandi dan bersiap kerja. Rutinitas yang terkadang membuatnya


begitu lelah, namun juga harus tetap dijalani sebagai tanggung jawab.


Veliciapun segera ke kamar manidi untuk mandi,


terdengar suara air mengalir dan lirihnya senandung memeriahkan kamar mandi


yang tadinya sunyi. Iyah, makanya ada yang bilang rekaman di kamar mandi saat


mandi, mungkin seperti sebuah rentetan ritual keseharian. Waktu mandipun


menjadi begitu menyita waktu, karena ritual terlama seorang wanita ya ketika


dia mandi.


Selesai sudah akhirnya setelah kurang lebih 30 menit


dihabiskan untuk sekedar mandi, dan kini ritual berdandang telah tiba. Velicia memang


tidak suka berdandan terlalu mencolok, dandanannya sangat sederhana hanya


dengan cream wajah, bedak, maskara lalu lipstick saja dia sudah terlihat cantic


natural dengan kemeja dan rok spannya yang selutut. Melukiskan ala-ala gadis


lugu dari desa.


Dari dulu memang Velicia bisa dikatakan tak pernah


neko-neko, begitu sayang dengan keluarganya dan juga dia ini sangat mandiri


sekali. Tak heran jika dia juga bisa setegar ini menghadapi ujian hidupnya ini.


Selesai sudah, waktunya untuk sarapan pagi dan berangkat


ke kantor.


“Pagi ka Sehan.” Menyapa Sehan yang terlihat tengah


menikmati kopinya dan terus memandangi ponselnya.


“Hai, pagi.” (Tak memalingkan pandang)


”Pagi-pagi sudah sibuk.” (kesal)


“Iyah, biasa kerjaan.” (menaruh ponselnya di meja.)


“Oke baiklah.” (mengoles selai pada rotinya)


“Oyah, pagi ini sudah ada orang untuk beres-beres


apartemenmu.”


“Oyah? Cepat juga.” (memakan roti)


“Jadi sore atau malemnya kamu bisa pindah kalo kamu


mau.”


“Ya, rencananya begitu ka.”

__ADS_1


“Aku akan mengantarmu langsung kesana setelah pulang


kantor. Apa semua sudah kamu bereskan?”


“Belum, lagian hanya beberapa barang saja tidak banyak


jadi bisa ku bereskan segera.”


“Baiklah, aku harus berangkat duluan. Apa kamu mau


bareng?” (beranjak)


“Tidak, aku naik bus saja.” (menolak)


“Secinta itu pada bus mu.” (mengejek lalu pergi)


Velicia melihati Sehan berlalu pergi berangkat ke


kantor, sedangnyang dirinya disibukkan lagi berburu-buru menghabiskan


sarapannya. Dan langsung berlari kecil meninggalkan rumah itu menuju halte dan


kekantor.


***Kantor


Sebenarnya tidak ada yang spesial hari ini, namun hari


ini Velicia terlihat begitu bahagia dan lebih ceria lagi dari beberapa hari


lalu. Seperti ada beban yang sudah terlepas dari pundaknya dan membuat


langkahnya ringan kembali.


Di dalam ruangan kantor semua masih sama, kesibukan


yang sama teman yang sama dan atasan yang sama. Tapi nampak seperti ada yang


berbeda hari ini, suasana hatinya iyah, suasana hatinya yang bersikeras untuk


bahagia melepaskan segala beban yang ada membuat hari ini seperti ada oksigen


tambahan untuknya bernafas lega.


Hari ini penuh dengan semangat baru Velicia, hingga


pekerjaan yang di hadapinya rasanya tidak berarti baginya meskipun harus


menyelesaikan pekerjaanya yang lumayan menumpuk karena cuti sehari sidang


kemarin. Memang benar-benar kariawan tidak diperbolehkan untuk memakan gaji


buta, dan harus benar-benar bekerja keras.


“Hai Vel.” Seseorang tiba-tiba tengah berdiri di


depannya, didepan mejanya yang terlihat laki-laki itu hanya terlihat bagian


dada hingga kepalanya saja. Jelas saja meja di ruangan luas itu di susun


beberapa deret meja kariawan yang disekat papan mengelilingi batas meja


masing-masing. Batas kayu itu mengililingi seperi huruf U dengan tinggi kurang


lebih sekitar setengah meter. Yang jika di fikir mungkin bara situ bermaksud


agar para kariawan fokus pada kerjanya tanpa gangguan apapun.


“Eh…Pa Henry, iyah pa.”(sopan langsung berdiri dan


membungkuk)


“Tidak perlu terlalu sungkan. Kan lagi pula ini jam


istirahat.” (senyum)


“Iyah pa. Ada apa yah pa?” (heran)


“Mari ikut saya ke ruangan.”


“Baik pa.” Velicia segera memutar keluar dari kursinya


dan mengikuti langkah bosnya menuju keruangan bos dengan hati yang sudah tak


karuan menduga-duga.


“Silahkan duduklah.” (duduk) Henry dengan tenang


memasuki ruangnnya membukakan pintu untuk dirinya dan Velicia dan segera duduk


di sofa panjang dengan meja kecil di depannya yang sudah penuh dengan makannan


yang terlihat seperti 2 porsi makanan untuk 2 orang. Ruanangan yang tidak


terlalu besar, juga tidak begitu kecil juga tetapi tersusun rapih di dalamnya.


Ada sebuah meja dengan kayu yang tepat terlihat ketika kita masuk ke ruangan


itu. Dengan di sampingnya lemari berisikan map-map yang tersusun rapin dengan


kotak map yang beda-beda warna tergolongkan. Juga di sisi kiri ketika masuk


terdapar sebuah sofa panjang dengan meja kecil yang terlihat lebih memojok


menempel ke dinding yang diatasnya ada lukisan bunga yang indah.


Di ruangan itu kini Velicia duduk bingung menemani


Henry yang tadi mengundangnya seperti tamu kehormatan.


“Maaf ya, pasti kamu bingung ya. Aku hanya ingin


mengajak kamu makan siang bersama ko. Aku tau jika aku mengajak kamu makan


siang diluar kamu selalu menolak karena kamu menghindari gosip kan? Makanya


saya ajak makan siang di ruangan saya supaya setidaknya menghindari gosipkan?


Toh kamu juga sering keluar masuk ruangan saya kan?” (tersenyum) Henry yang


selalu hangat di depan Velicia, kali inipun begitu hangat dan lemah lembut.


“Aduh pa, saya jadi terkesan karena kebaikan bapak.


Terimaksih telah mengajak saya makan siang bersama.” (sungkan)


“Baiklah ayo makan. Aku tidak benar atau tidak jika


ini makanan kesukaanmu.”


“Iyah pa, saya memang suka dengan makanan ini.


Terimakasih pa.” (tersenyum)


“Beberapa hari ini aku tidak melihat senyuman indah


itu.” (lirih nyaris tak terdengar)


“Kenapa pa?” (mendengar hanya beberapa kata)


“Tidak, tidak ada makanannya enak.” (salah tingkah)


Kenapa tiba-tiba muka pa Henry memerah seperti


kepiting rebus? Apa yang barusan dia bilang? Aku benar-benar tidak mendengarnya


dengan jelas.


“Apa kapan-kapan aku bisa mengundangmu makan bersama


lagi?”


“Tentu saja pa, terimakasih atas kebaikanmu. Saya


harus kembali bekerja.” (menunduk memohon pamit)


Henry hanya membalasnya dengan senyuman, sambil Henry


hanya memandangi Velicia mengagumi kecantikannya.


Velicia kembali ke mejanya dan melihat kesekeliling


nampaknya baru beberapa yang kembali bekerja setelah istirahat dan yang lainnya


masih sibuk menghabiskan beberapa menit lagi waktu istirahat. Velicia begitu


takut, takut teman-teman lainnya memerhatikannya tadi dan melihat dia ke


ruangan Henry. Namun nampaknya Velicia hanya terlalu khawatir pada hal-hal yang


harusnya tidak perlu dia khawatirkan.


Velicia kembali berbaur dengan file-file kerjaanya


yang sudah menunggunya untuk diselesaikan, dan fokus kembali pada kerjaanya.


Hannie sahabatnya juga tengah benar-benar sibuk makanya sedari tadi Hannie tak


begitu berniat mengganggu Velicia. Hanya tadi sesekali menyapa saat lewat di


depan mejanya dan sempat mengajak ke kantin bersama namun Velicia menolaknya


dengan alasan belum begitu lapar. Hingga akhirnya Henry yang mengajaknya dan


tidak bisa lagi menolak.

__ADS_1


__ADS_2