
18
Terputus
Velicia termangu di kursinya, memandangi danau yang
hijau kecoklatan yang saat ini juga ada pemandangan pantulan langit yang
seperti tercerminkan. Duduknya diam mematung menembus angan fikirnya. Mengingat
kembali cuplikan-cuplikan memeri yang baru saja terjadi, waktu demi waktu
sekarang tengah tergambar jelas dalam ingatannya.
Awal pertemuan denga Hans yang membingungkan yang
tiba-tiba menawarinya seperti sebuah keajaiban, sebuah jalan pintas keluar dari
permasalahan dengan niatan menolong adiknya. Hari demi hari yang tak bisa
dibilang mudah telah dia lalui meski dengan langkah terseok, tertatih dan
bahkan banyak luka yang ditinggalkan disana.
Velicia tau betul jika mengingatnya sama saja terus
membubuhkan garam pada lukanya, namun kali ini dia ingin mengingatnya satu kali
lagi untuk melepaskan segala dan membiarkan segalanya menguap begitu saja. Tak
mudah, tak akan mudah namun bukan berarti tidak bisa. Tiba-tiba Velicia begitu
ngeri dan merasakan kesakitannya kembali, menelungkupkan kedua tangannya seperti
ada hawa yang begitu dingin dan sakit merangsak masuk kedalam tubuhnya.
Dress cantic bunga-bunga warna navinya, juga rambut
tergerainya yang indah itu tak luput terseok angin yang berlahan menyapunya.
Kegetira yang tak bisa dielakkan lagi ada di depan mata, beberapa jam lagi
semua akan berakhir di akhiri ketokan palu itu. Dulu, dia pernah menantikan hal
ini datang segera mungkin. Dulu sekali sebelum api cinta itu dimainkan, benar jangan
pernah bermain api jika tidak ingin terbakar.
Api itu ini seakan melahap semua hatinya, akhirnya apa
yang dia ingini hari ini bisa dikabulkan juga sesaat yang lalu juga hal inilah
yang paling terasa mengerikan dalam hidupnya. Bagaimana mungkin semua dapat
berubah bahkan secepat membalikkan buku. Sungguh tidak ada kesempatan untuk
melambaikan tangan menyerah, pilihannya hanya ada satu. Satu-satunya
perpisahan, satu-satunya memutuskan tali yang memang sudah runyam dari awalnya.
Ya, pernikahan ini seperti penyakit. Jika terus
dibiarkan maka itu akan terasa menyakitkan, sayangnya ini bukan dalam negri
dongeng yang bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan bim salabim. Sialnya
penyakit memeng harus segera diakhiri sebelum penyakit itu menyakiti.
“Ada kesempatan beberapa menit lagi untuk mundur
Velcia.” Suara yang terdengar begitu lembut memekikkan suasana yang sedari tadi
sendu itu.
“Ka Sehan.” Velicia segera tau jika suara lembut itu
berasal dari Sehan yang saat ini sedang melangkah maju mendekati punggungnya.
Velicia tanpa menoleh dan terus mematung dalam posisinya.
“Velicia, jika kamu ragu semua belum terlambat.” Sehan
duduk di sampingnya menggenggam tangan Velicia memberi dukungan.
“Aku tidak akan pernah mundur dari keputusan yang
telah aku ambil ka.” (dengan penuh keyakinan)
“Aku tau kamu terluka.” (sedih)
“Bagaimana dengan lukamu juga? Kenapa ka Sehan begitu
naif berkata begitu padaku?” (marah)
“Karena aku selalu ingin kamu bahagia.” (lirih)
“Aku bisa menemukan bahagiaku tanpa Hans ka.” (yakin)
“Baiklah, aku akan selalu mendukung segala
kuputusanmu.” (percaya)
“Terimakasih ka. Mari kita ke pengadilan.”
Mereka bergegas meninggalkan taman yang sepi itu,
masuk ke mobil yang sudah terparkir di parkiran taman yang tak jauh dari tempat
mereka duduk tadi.
**Persidangan Selesai
Akhirnya selesai sudah, segalanya berlalu begitu saja Hans
datang dengan Jessica dan juga kakeknya.
“Sehan tunggu.” Hans yang tiba-tiba muncul di belakang
Sehan berhasil mengejar Sehan dan memanggil.
“Iyah tuan Hans, ada perlu apa yah?” (tidak tahu
apa-apa)
“Aku ingin bicara hanya empat mata saja.” (serius)
“Velicia kamu bisa ke mobil dulu ya. Ini kuncinya.”
(memberikan)
“Baik ka.” (Dingin)
Sesaat setelah segalanya sudah berakhir Sehan dan
Velicia hendak pulang bersama karena awalnya memang berangkat bersama dan entah
mengapa tiba-tiba Hans datang mengejar mereka berdua dan malah meninggalkan
rekan Hans yang lainnya untuk mengejar mereka dan lebih anehnya lagi Hans ingin
bicara dengan Sehan.
Velicia sabagat malas lagi bertemu dengan Hans, dan
lagi Hans datang ke persidangan bersama dengan Jessica. Karena itu Velicia
sangat masam sepanjang sidang, dia juga terlihat begitu jutek saat mengetahui
Hans ada di belakang mereka untuk mengejar. Tentu saja sebenarnya Velicia
sangat ingin tau maksud dan tujuan Hans, namun apa boleh buat jika memang
mereka para laki-laki butuh waktu juga untuk bicara. Entah membicarakan apa.
Sementara disisi lain Hans dan Sehan pergi ke sebuah taman
yang terlihat lumayan sepi, Hans mengajak ke taman lingkungan gedung itu seakan
hendak membicarakan hal yang sangat rahasia.
“Maaf Sehan, kita memang tidak begitu kenal dan ya aku
juga sudah beberapa kali melihat kamu begitu dekat dengan Velicia. Aku akhirnya
tau kamu itu adalah mantannya Velicia juga yang dia anggap sebagai kaka.” Hans
berbicara begitu santai sambil tetap berdiri menyembunyikan tangannya di saku
celananya. Dan sesekali membetulkan jasnya yang sebenarnya masih begitu rapih
tak kurang apapun.
Obrolan para pria dengan tatapan yang sama-sama begitu
dingin dan menegangkan lebih seperti ingin perang daripada berbicara baik-baik.
Sehan yang hanya berdiri diam dengan kedua tangannya ada di saku celananya
pembawaan yang dingin, tenang juga seperti singa yang tengah lapar. Sementara
Hans yang berdiri di hadapannya yang lumayan energik dengan beberapa kali
gerakan tangan mengikuti pembicaraan juga sesekali menyimpan tangannya di saku,
juga menyalakan rokoknya dengan santai dan mulai menghisap rokoknya dengan
__ADS_1
tengil.
Bayangkan saja betapa garangnya wajah Sehan saat ini
melihat ketengilan yang telah dia hadapi kini, Sehan yang jarang sekali
berbicara dengan orang asing. Sehan hanya mau berbicara saat itu memang
benar-benar penting baginya jika tidak maka Sehan hanya diam dan menatap dengan
tatapan singa pemangsanya. Sehan hanya berbicara banyak pada Velicia dan Alicia
sekarang.
“Lalu?” (tatapan mematikan)
“Aku hanya ingin bilang anda jangan senang dulu.
Perceraian ini hanyalah awal cinta kami yang baru. Aku akan mengejarnya
lagi-lagi dan lagi sampai dia jadi milikku lagi.” (penuh semangat)
“Silahkan. Tidak ada yang melarang.” Sehan dengan
tenang menghadapi Hans yang ingin menunjukan kegigihannya.
“Maka dari itu saya minta anda pergi, jangan lagi
ganggu Velicia.”
“Saya mau pergi atau tidak itu adalah urusan saya.
Anda tidak berhak untuk itu, mengenai anda ingin mengejar Velicia silahkan saja
itu adalah hak anda. Namun anda harus ingat ada beberapa hal yang tidak
dipaksakan, seperti cinta dan hati manusia. Saya hara panda dapat belajar itu,
saya permisi.” Dengan tenang Sehan pergi meninggalkan Hans. Hans yang saat itu
memegangi rokoknya begitu mendengar ucapan Sehan langsung terdiam dan merasakan
seperti tusukan yang menancap dalam hatinya.
Hans seketika merasakan sesak yang begitu dahsyat dan
ucapan terakhir Sehan terus terulang dalam ingatannya hingga Hans diam membisu
sejenak dan berlalu juga pergi, tetapi juga fikirannya terus memutar suara
Sehan yang mengatakan kalimat terakhirnya barusan.
**Di mobil Sehan
Sehan kembali ke mobilnya, sudah ada Velicia yang
sudah menunggu Sehan dengan wajah penasaran. Sementara Sehan terlihat kembali
dengan wajah penuh dengan kebekuan dan amarah yang di tahannya.
“Apa ada masalah?” (cemas)
“Tidak, jangan khawatir. Apa kamu penasaran?” (mulai
mengemudi)
“Ya, sedikit.” (tertawa kecil)
“Dia hanya bicara jika ingin terus mengejarmu.”
(memendam amarah)
“Apa kamu cemburu?” (tersenyum) Velicia tau jika Hans
menahan marahnya.
“Tidak.” (tenang) karena Sehan tau Velicia tak mungkin
kembali pada Hans.
“Hahaha…. Kamu pintar berbohong ka.” (tertawa)
“Hei… Kamu tidak sopan pada ku sekarang.” (malu)
“Oke, baiklah-baiklah aku minta maaf.” (menahan tawa)
“Dimaafkan. Oyah, kapan kamu pindah ke apartemen. Biar
ku suruh orang merapikannya.”
“Bolehkah jika besok ka?”
“Tentu saja, nanti sampai dirumah aku akan suruh orang
“Terimakasih.”
Mobil terus melaju menuju pulang ke rumah, proses
sidang yang sebenarnya tidak begitu lama namun melelahkan jiwa dan raga.
Akhirnya mungkin masalah ini akan segera berakhir.
**Keesokan hari
Mentari bersinar seperti biasa, dia seolah tidak
pernah absen untuk menyinari semesta. Sinarnya yang lembut menghangatkan
menyentuh tubuh Velicia yang masih pulas dengan tidurnya. Menyerahkan angannya
dalam mimpi indahnya, sementara jam bekernya sudah nyaring terdengar sedari beberapa
menit lalu berbunyi. Tidak mungkin jika bunyi yang nyaring itu tidak
membangunkan pemiliknya.
Velicia mulai membuka matanya yang terasa berat sekali
itu, mulai tersadar dan duduk berlahan masih bermalas-malasan untuk bangun.
Hari libur masih beberapa hari lagi jadi jangan berharap hari ini bisa bolos
lagi. Velicia mulai mengumpulkan sisa tenaganya dan sedarannya untuk segera
beranjak lalu mandi dan bersiap kerja. Rutinitas yang terkadang membuatnya
begitu lelah, namun juga harus tetap dijalani sebagai tanggung jawab.
Veliciapun segera ke kamar manidi untuk mandi,
terdengar suara air mengalir dan lirihnya senandung memeriahkan kamar mandi
yang tadinya sunyi. Iyah, makanya ada yang bilang rekaman di kamar mandi saat
mandi, mungkin seperti sebuah rentetan ritual keseharian. Waktu mandipun
menjadi begitu menyita waktu, karena ritual terlama seorang wanita ya ketika
dia mandi.
Selesai sudah akhirnya setelah kurang lebih 30 menit
dihabiskan untuk sekedar mandi, dan kini ritual berdandang telah tiba. Velicia memang
tidak suka berdandan terlalu mencolok, dandanannya sangat sederhana hanya
dengan cream wajah, bedak, maskara lalu lipstick saja dia sudah terlihat cantic
natural dengan kemeja dan rok spannya yang selutut. Melukiskan ala-ala gadis
lugu dari desa.
Dari dulu memang Velicia bisa dikatakan tak pernah
neko-neko, begitu sayang dengan keluarganya dan juga dia ini sangat mandiri
sekali. Tak heran jika dia juga bisa setegar ini menghadapi ujian hidupnya ini.
Selesai sudah, waktunya untuk sarapan pagi dan berangkat
ke kantor.
“Pagi ka Sehan.” Menyapa Sehan yang terlihat tengah
menikmati kopinya dan terus memandangi ponselnya.
“Hai, pagi.” (Tak memalingkan pandang)
”Pagi-pagi sudah sibuk.” (kesal)
“Iyah, biasa kerjaan.” (menaruh ponselnya di meja.)
“Oke baiklah.” (mengoles selai pada rotinya)
“Oyah, pagi ini sudah ada orang untuk beres-beres
apartemenmu.”
“Oyah? Cepat juga.” (memakan roti)
“Jadi sore atau malemnya kamu bisa pindah kalo kamu
mau.”
“Ya, rencananya begitu ka.”
__ADS_1
“Aku akan mengantarmu langsung kesana setelah pulang
kantor. Apa semua sudah kamu bereskan?”
“Belum, lagian hanya beberapa barang saja tidak banyak
jadi bisa ku bereskan segera.”
“Baiklah, aku harus berangkat duluan. Apa kamu mau
bareng?” (beranjak)
“Tidak, aku naik bus saja.” (menolak)
“Secinta itu pada bus mu.” (mengejek lalu pergi)
Velicia melihati Sehan berlalu pergi berangkat ke
kantor, sedangnyang dirinya disibukkan lagi berburu-buru menghabiskan
sarapannya. Dan langsung berlari kecil meninggalkan rumah itu menuju halte dan
kekantor.
***Kantor
Sebenarnya tidak ada yang spesial hari ini, namun hari
ini Velicia terlihat begitu bahagia dan lebih ceria lagi dari beberapa hari
lalu. Seperti ada beban yang sudah terlepas dari pundaknya dan membuat
langkahnya ringan kembali.
Di dalam ruangan kantor semua masih sama, kesibukan
yang sama teman yang sama dan atasan yang sama. Tapi nampak seperti ada yang
berbeda hari ini, suasana hatinya iyah, suasana hatinya yang bersikeras untuk
bahagia melepaskan segala beban yang ada membuat hari ini seperti ada oksigen
tambahan untuknya bernafas lega.
Hari ini penuh dengan semangat baru Velicia, hingga
pekerjaan yang di hadapinya rasanya tidak berarti baginya meskipun harus
menyelesaikan pekerjaanya yang lumayan menumpuk karena cuti sehari sidang
kemarin. Memang benar-benar kariawan tidak diperbolehkan untuk memakan gaji
buta, dan harus benar-benar bekerja keras.
“Hai Vel.” Seseorang tiba-tiba tengah berdiri di
depannya, didepan mejanya yang terlihat laki-laki itu hanya terlihat bagian
dada hingga kepalanya saja. Jelas saja meja di ruangan luas itu di susun
beberapa deret meja kariawan yang disekat papan mengelilingi batas meja
masing-masing. Batas kayu itu mengililingi seperi huruf U dengan tinggi kurang
lebih sekitar setengah meter. Yang jika di fikir mungkin bara situ bermaksud
agar para kariawan fokus pada kerjanya tanpa gangguan apapun.
“Eh…Pa Henry, iyah pa.”(sopan langsung berdiri dan
membungkuk)
“Tidak perlu terlalu sungkan. Kan lagi pula ini jam
istirahat.” (senyum)
“Iyah pa. Ada apa yah pa?” (heran)
“Mari ikut saya ke ruangan.”
“Baik pa.” Velicia segera memutar keluar dari kursinya
dan mengikuti langkah bosnya menuju keruangan bos dengan hati yang sudah tak
karuan menduga-duga.
“Silahkan duduklah.” (duduk) Henry dengan tenang
memasuki ruangnnya membukakan pintu untuk dirinya dan Velicia dan segera duduk
di sofa panjang dengan meja kecil di depannya yang sudah penuh dengan makannan
yang terlihat seperti 2 porsi makanan untuk 2 orang. Ruanangan yang tidak
terlalu besar, juga tidak begitu kecil juga tetapi tersusun rapih di dalamnya.
Ada sebuah meja dengan kayu yang tepat terlihat ketika kita masuk ke ruangan
itu. Dengan di sampingnya lemari berisikan map-map yang tersusun rapin dengan
kotak map yang beda-beda warna tergolongkan. Juga di sisi kiri ketika masuk
terdapar sebuah sofa panjang dengan meja kecil yang terlihat lebih memojok
menempel ke dinding yang diatasnya ada lukisan bunga yang indah.
Di ruangan itu kini Velicia duduk bingung menemani
Henry yang tadi mengundangnya seperti tamu kehormatan.
“Maaf ya, pasti kamu bingung ya. Aku hanya ingin
mengajak kamu makan siang bersama ko. Aku tau jika aku mengajak kamu makan
siang diluar kamu selalu menolak karena kamu menghindari gosip kan? Makanya
saya ajak makan siang di ruangan saya supaya setidaknya menghindari gosipkan?
Toh kamu juga sering keluar masuk ruangan saya kan?” (tersenyum) Henry yang
selalu hangat di depan Velicia, kali inipun begitu hangat dan lemah lembut.
“Aduh pa, saya jadi terkesan karena kebaikan bapak.
Terimaksih telah mengajak saya makan siang bersama.” (sungkan)
“Baiklah ayo makan. Aku tidak benar atau tidak jika
ini makanan kesukaanmu.”
“Iyah pa, saya memang suka dengan makanan ini.
Terimakasih pa.” (tersenyum)
“Beberapa hari ini aku tidak melihat senyuman indah
itu.” (lirih nyaris tak terdengar)
“Kenapa pa?” (mendengar hanya beberapa kata)
“Tidak, tidak ada makanannya enak.” (salah tingkah)
Kenapa tiba-tiba muka pa Henry memerah seperti
kepiting rebus? Apa yang barusan dia bilang? Aku benar-benar tidak mendengarnya
dengan jelas.
“Apa kapan-kapan aku bisa mengundangmu makan bersama
lagi?”
“Tentu saja pa, terimakasih atas kebaikanmu. Saya
harus kembali bekerja.” (menunduk memohon pamit)
Henry hanya membalasnya dengan senyuman, sambil Henry
hanya memandangi Velicia mengagumi kecantikannya.
Velicia kembali ke mejanya dan melihat kesekeliling
nampaknya baru beberapa yang kembali bekerja setelah istirahat dan yang lainnya
masih sibuk menghabiskan beberapa menit lagi waktu istirahat. Velicia begitu
takut, takut teman-teman lainnya memerhatikannya tadi dan melihat dia ke
ruangan Henry. Namun nampaknya Velicia hanya terlalu khawatir pada hal-hal yang
harusnya tidak perlu dia khawatirkan.
Velicia kembali berbaur dengan file-file kerjaanya
yang sudah menunggunya untuk diselesaikan, dan fokus kembali pada kerjaanya.
Hannie sahabatnya juga tengah benar-benar sibuk makanya sedari tadi Hannie tak
begitu berniat mengganggu Velicia. Hanya tadi sesekali menyapa saat lewat di
depan mejanya dan sempat mengajak ke kantin bersama namun Velicia menolaknya
dengan alasan belum begitu lapar. Hingga akhirnya Henry yang mengajaknya dan
tidak bisa lagi menolak.
__ADS_1