KONTRAK DAN TAKDIR CINTA

KONTRAK DAN TAKDIR CINTA
Lagi dan Lagi


__ADS_3

9


***Lagi dan Lagi***


Hari kemarin, yah hari kemarin adalah


kenangan. Kenangan yang masih sangat dini untuk dikenang.


Pagi menjelang, itu tandanya hari


batu segera dimulai. Ayo siapa yang bisa menebak aka nada drama apa


selanjutnya?


Cahanya mentari batu saja memenuhi


ruang kamar itu, cahanya menembuk masuk dan memenuhi kesegala penjuru.


Cahayanya yang begitu terang merasuk masuk memaksa menembus hordeng jendela


yang bergoyang maju mundur menyentuh lalu menjauhi jendela. Tentu saja hordeng


itu bergerak berayun karena AC yang menyala diruangan itu dan udara hanya


berputar saja diruangan itu.


Sedangkan di ranjang sana tergulai


seorang wanita dengan baju tanpa lengannya dan celana pendeknya yang tertutup


rapat oleh selimut yang menutupnya sampai ke leher. Rambut panjangnya menyebar


tergerai di atas bantalnya, posisi tidurnya yang agak sedikit meringkuk


menjerumuskan seluruh wajahnya ke bantalnya yang empuk itu. Sementara gulingnya


dia belakangi begitu saja, pemandangan itu terlihat bahwa dia seorang diri


dengan wajah sedihnya sedang mengadu di dalam mimpi.


Ya, kini wanita itu tengah berjuang


menahan matanya yang enggan terbuka. Padahal sinaran mentari sudah lebih dini


membangunkannya dan hendak menyilaukan matanya. Sialnya matanya begitu rapat


terpejam hingga hampir saja tidak ada celah sinaran mentari menyilaukannya.


Padahal sinar mentari itu sudah begitu menyilaukan untuk dipandang.


Tok….tok…. (suara pintu diketuk)


Beberapa kali suara nyaring itu


terdengar, suara ketukan pintu kayu jati yang mungkin jika diketuk menggunakan


tangan biasa akan menyakiti sang tangan dan malah tidak akan menghasilkan suara


yang membangunkan orang di sebrang pintu. Yang membuat pintu itu juga berfikir


keras tentang hal ini, dia membuatkan juga setengah lingkarang besi yang


dilapisi cat emas yang ditempelkan pada pintu itu hingga jika benda itu


bersentuhan dengan kayu pintu akan menghasilkan bunyi yang lumayan bisa membangunkan


seseorang yang tertidur nyenyak sekalipun.


“Non…. Udah bangun belum?” Sambung


suara seorang wanita paruh baya dengan bersautan dengan ketukan.


Sontak saja sang pemilik sebutan non


itu terbangun dan memaksa dengan tegas matanya untuk terbuka, dan diam diam


sejenak masih dalam posisi tidurnya mengumpulkan tenaganya untuk duduk.


“Iyah bu.” Sahutnya si pemilik


sebutan non itu dengan nada khas seorang yang bangun tidur.


“Ya sudah saya mau lanjut masak


sarapan dulu ya non. Kirain belum bangun, gak kerjakah non.” Suara dari balik


pintu itu yang berlahan memudar diiringi dengan deru langkah kaki menjauhi


pintu kamarnya.


Aih…. Kenapa hari ini mesti


masuk kantor sih. Kenapa bukan hari libur ajah.


Velicia, yang sedari tadi sudah malas


untuk beranjak dari tempat tidurnya kini harus memaksakan dirinya untuk tidak


bermalas-malasan lagi dan segera pergi mandi. Dikamar mandi yang lumayan luas


itu dia mengerucuti bajunya itu perlahan seolah masih saja bermalas-malasan


untuk menyentuk air. Di setelnya air kran itu agar air yang mengalir menjadi


air yang hanyat dan sesuaikan kehangatannya. Tercium jelas aroma melon dan mint


yang segar memenuhi seluruh ruangan itu, menjadikan hari ini penuh dengan


semangat dan ketenangan harusnya. Aroma melon yang manis dan mint yang


menyejukkan seakan menjadi aroma terapi peraan dipagi hari. Wangi, manis dan


segar, itulah kesan yang hendak dibuat sangan pabrik sampo dan sabun itu.


Selesainya mandi, dia keluar dengan


handur kimononya yang tebal itu menutupi tubuhnya hingga selututnya panjangnya.


Diapun segera memilah-milah baju yang akan dia kenakan di lemari, beberapa


menit memilih akhirnya memutuskan untuk mengenakan setelan kemeja yang tidak


terlalu ketat itu dan span se lutut yang menggariskan jelas lekuk tubuhnya.


Dengan buah d**a nya yang lumayan besar itu harusnya kemeja tidak press tubuh


ini dapat menutupi lekuknya. Yah, Velicia memang tidak begitu suka menjadi


pusat perhatian dan menonjolkan kemolekan tubuhnya.


Setelah itu dia segera berdandan


kecil menyisir dan menata rambutnya yang hanya di jepit setengah itu dan


memakan cream siang, bedak lalu lipstick warna kalemnya. Tidak begitu mencolok


harusnya, namun ya memang kecantikannya tidak dapat diragukan lagi. Dengan mata


indahnya yang bulat besar sempurna, alis tebal yang membuk garis alami, bulu


mata lentiknya, hidung mancung simetrisnya dan juga bibir merah merona alami


yang dia miliki. Siapa saja yang melihatnya pasti akan berdecak kagum dengan


keindahan ciptaan tuhan ini.


Selesai sudah, akhirnya diapun segera


keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makan untuk sarapan.


“Pagi bu Si, cantik sekali hari ini.”


Sapa Velicia pada bu Si yang sedari tadi sibuk membersihkan peralatan masak.


Dia tersipu mendengar Velicia memujinya.


“Nona ini bisa saja, Non yang lebih


muda pasti lebih cantik.” Bu Si pandai sekali berterimakasih.


“Masakannya enak.” Velicia memang


selalu menghargai jerih payah bu Si ini.


“Maaf ya bu, bu Si jadi masak karena


aku telat bangun.” Velicia merasa bersalah.


“Non, kebetulan ajah bu Si kan jarang


masakin sarapan karena kesininya kesiangan terus.” Bu Si yang sekarang tambah


merasa bersalah.


Ting…..tong…..(suara bel rumah)


Seara bel yang nyaring itu memekik


memenuhi seisi rumah ini, beberapa kali bel terus berbunyi si tamu yang tidak


sabaran untuk segera dibukakan. Bel yang menghentikan seketika obrolan pagi


ini. Bu Si segera berlari kecil membuka pintu.


“Apa tuan Hansnya ada?” Tanya nya kepada


bu Si.

__ADS_1


“Apa masih tidur non, silahkan ma…”


Belum saja selesai bu Si berbicara si wanita itu ngeluyur masuk.


Dilihatnya dari meja makan dan ruang


tamu yang hanya tersekat tembok itu, terdengar jelas jika ada tamu dengan suara


yang tak asing bagi Velicia yang sedang mencari si tuan rumah sepagi ini dan


terlihat buru-buru menyelonong masuk melewati bu Si yang kebingungan dan juga


langsung masuk lurus ke ruang masuk. Mungkin dia juga hendak langsung


menyelonong ke kamar tuan rumah ini, hanya saja langkahnya terhenti sesaat


ketika dia melihat nyonya rumah ini sedang pura-pura tidak tau dan terus makan


nasi goreng sarapannya itu. Mungkin juga dia fikir nyonya rumah ini sudah


berangkat bekerja.


“Ouh ada tamu rupanya, mari silahkan


duduk nona Jessica.” Velicia seakan tau maksudnya dan memberikan kesan pertama


yang ketus pada wanita bernama Jessica itu.


“Eh, nyonya Hans masih dirumah. Maaf


ya saya pikir anda sudah berangkat jadi saya….” Belum Jessica menyelesaikan


ucapannya Velicia segera tau maksudnya.


“Oh begitu, jadi menyelonong masuk


dan hendak mengetuk pintu kamar tuan rumah mengira nyonya rumah ini tidak ada


itu bukan nya tidak sopan ya nona?” Velicia dengan santainya memberikan ucapan


yang monohok ini.


“Bukan begitu, saya fikir karena saya


adalah teman lama dan terbiasa begitu jadi tidak apa-apa. Salah saya sih saya


lupa jika teman lama saya saat ini sudah menjadi suami orang lain.” Jessica


yang berlagak polos berusaha membela diri dan menyampaikan pesan tersirat dari


kata-katanya barusan.


“Hai, Jessica sepagi ini sudah


datang. Kamu sudah baikan?” Hans yang tiba-tiba muncul keluar dari kamarnya dan


sudah sangat rapih pakai kemeja yang dasinya masih terlihat miring.


“Hans, maaf dasimu miring.” Jessica


yang langsung segera membenarkan dasi Hans tanpa ragu yang memang seolah


sengaja membuat Velicia naik darah.


Posisi Jessica yang saat ini memang


sangat dekat dengan Hans tentu saja dia manfaatkan untuk menyentuh Hans dan


membuat Velicia yang hanya mampu melihat menjadi sangat menahan marahnya.


“Aih, terimakasih loh nona sudah


membantu suamiku merapikan dasinya. Namun lain kali sepertinya tidak perlu,


karena ana aku istrinya yang lebih berhak untuk itu.” Velicia mencoba untuk


setenang mungkin menghadapi iblis terkutuk ini yang punya seribu wajah.


“Maaf kan saya Velicia, saya tadi


refleks dan maafkan saya.” Jessica yang pura -pura sedih hendak mengeluarkan


air mata buayanya dan terus membungkuk meminta maaf.


Hans lagi yang ada di sampingnya


memegagangi pundaknya dan menyuruhnya untuk menghentikan drama membungkuk meminta


maafnya itu. Hans terlihat begitu iba padanya dan sedikit merasa Velicia


berlebihan karena hal ini.


“Vel, cukup. Lagian hanya membenarkan


dasi saja. Ayo kita sarapan bersama.” Hans melepaskan memegang Pundak Jessica


Taukan berapa rasanya hati Velicia


saat ini, rasanya seperti disayat hatinya melihat perlakuan suaminya yang tidak


biasa pada Jessica. Entah motif apa yang tersembunyi dibalik drama Jessica ini


dan juga dibalik perlakuan Hans yang terasa begitu special pada Jessica itu.


Hans selalu memperlakukan Jessica


sebagai wanita yang sedang rapuh dan terluka parah yang hendak mati, dan tidak


membiarkannya di senggol sedikitpun oleh orang lain. Hans melindunginya dengan


membungkus Jessica dengan rasa ibanya ataukah rasa yang lain? Jika itu rasa


lain, lalu perasaannya pada Velicia seperti apa sesungguhnya? Bukannya baru


beberapa hari lalu dia begitu mencintai Velicia dan tidak membiarkan Velicia


sedikitpun disentuh wanita lain. Lalu Hans datang dengan Jessica dengan


perasaan yang terlihat jelas diwajahnya, perasaan melas dan juga bagai super


hero yang melindungi seorang lemah.


Velicia semakin bingung dan


menerka-nerka apa yang hanya dia lihat saja tanpa tau isi hati mereka. Jelas


terlihat Jessica bukanlah seorang yang lemah untuk pantas dilindungi


sebegitunya. Hans juga bukanlah seorang laki-laki yang percaya begitu saja


ucapan atau hasutan orang lain? Akankah ada motif atau sebuah drama besar di


babak kehidupan ini?


Ya terus saja menerka-nerka tanpa tau


ujungnya.


“Kamu kenapa kesini sepagi ini Jes?”


Hans bertanya sembari terus melahap sarapannya.


“Aku tadinya ingin berterimakasih


karena kamu yang telah mengantarku semalam dan bersedia mengurusku sebentar di


rumahku. Dan hendak mentraktirmu sarapan pagi ini karena siang sampai malam


hari aku akan sibuk sekali. Tapi ya aku tidak sangka malah bertemu Velicia juga


dan bisa berterimakasih padanya. Ku kira kamu sudah berangkat loh Velicia.”


Jessica berkata begitu terlihat lembut.


Jadi semalam Hans bukan hanya


mengantar dia pulang, juga mengurusnya di rumahnya. OMG ternyata begitu.


Liciknya si rubah wanita ini, bahkan dia sengaja membeberkannya di depanku. Aku


rasa tidak perlu menceritakan se detail itu tentang kejadian semalam. Kenapa


dia repot-repot menceritakannya. Bodohnya lagi aku malah marah dengan ucapannya


itu, sementara Hans saja bersikap biasa saja tenpa rasa bersalah gitu telah


menghianati istrinya. Oh tuhan mungkinkah aku jadi tidak realistis lagi karena


sudah cinta pada Hans? Jelas sekali jika Hans nyaman-nyaman saja ditempeli


iblis wanita ini. Terus aku malah yang kebakaran jenggot seperti ini mendengar


kisah romantic mereka. Ingat wahai Velicia, pernikahan ini hanya kontrak kan?


Tapi rasanya sakit sekali jika ingat perkataan Hans tempo hari yang bilang


begitu mencintaiku. Sebenarnya apa sih hubungan mereka sesungguhnya. Aku harus


tanyakan pada Anton, atau jika tidak bertanya aku akan mati terbunuh rasa


penasaran juga rasa sakit ini.


“Vel, kamu gak kerja? Ini udah jam


berapa loh. Malah kamu bengong sambil makan gitu, gak buru-buru takut telat?”


Hans bertanya dengan nada yang sangat biasa saja meski tatapan cintanya masih

__ADS_1


terlihat jelas. Namun tatapannya itu gak singkron sama perilakunya, aneh


sekali.


Ck…kamu pikir siapa yang membuatku


begitu malas untuk melakukan apapun hari ini? Kamu pikir siapa yang membuat ku


bengong dan tidak lagi nafsu makan. Aih…..semakin difikirkan semakin membuatku


kesal. Sudahlah aku pergi saja, persetan dengan apa yang akan mereka lakukan


dibelakangku. Ingat saja jika aku datang ke pernikahan ini untuk adikku sudah.


Velicia hanya berdiri dari kursinya


dan meninggalkan piringnya kemudian segera berlalu tanpa sepatah katapun,


memakai sepatunya yang ada di lemari dekat ruang tamu dan pergi memhambur


keluar dari pintu rumah apartemennya. Apartemen luas itu seketika menjadi


ruangan yang amat sesak, bahkan untuk sekedar bernapas saja rasanya oksigen itu


sangat tipis. Ya, tentu saja semenjak kehadiran Jessica yang terus membuat


oksigen di apartemennya itu terus menipis. Sesak rasanya, juga sedikit lega


akhirnya menghirup udara dengan bebas. Tanpa syok dadakan, tanpa pacu jantung


berlebihan. Mereka seperti berselingkuh terang-terangan didepan Velicia, dan


hati wanita mana yang rela dan merasa biasa saja dengan tingkah mereka.


Jika mereka memang benar-benar teman


pun mungkin hati sang istri juga akan patah melihat kedekatan mereka.


Pergi ke kantor dengan perasaan yang


sedang kacau, dan Velicia yang sekuat tenaga mengolah batinnya agar tidak tidak


meneteskan air mata, dan tetap ber prasangka baik pada mereka agar sakit di


hatinya sedikit berkurang. Dan menjalani hari ini dengan biasa seperti semesti.


***Kebenaran


(kirim pesan)


Anton, saya mau ketemu dengan kamu


empat mata saja bisa kan? Di restoran HK ya dekat kantor saya. Alamatnya


(bla-bla-bla). Tolong jangan beritahu Hans, saya tunggu kamu jam 15.30.


Ting…. (suara pesan masuk)


Baik nyonya.


Untungnya dia langsung setuju kalau


tidak pasti bakal bujuk dia dengan susah. Velicia dengan tenang bergumam dalam hatinya bersyukur


Anton mau bertemu dengannya dengan cukup mudah.


Pukul 15.30 di restoran HK


“Syukurlah kamu datang tepat waktu


Ton.” Velicia lega setelah menunggunya terlebih dulu dan mencari tempat duduk


yang cocok.


“Saya jadi deg-degan ini nyonya.”


Anton terlihat sedikit grogi.


“Panggil saya biasa saja, panggil


Velicia dan jangan terlalu formal dengan saya.” Velicia menegaskan.


“Silahkan pesan makanan terlebih dulu


dan saya akan mulai bertanya nanti.” Sambung Velicia dengan nada dan sikap


serius.


Selang beberapa menit setelah memesan


menunggu makanan datang akhirnya Velicia segera mulai bertanya.


“Anton, saya mohon jawab dengan jujur


pertanyaan saya dan tolong ceritakan dengan detail. Apa hubungan Hans dengan


Jessica?” Velicia bertanya dengan penuh seksama. Anton lebih-lebih


memperhatikan pertanyaan dengan seksama juga dan dia begitu terkejut saat mendengar


lengkap pertanyaan Velicia.


“Em…..” Anton menggaruk kepalanya


yang tidak gatal itu dan mulai menggaruk mukanya yang tidak gatal ingin


berdalih dan lari dari pertanyaan itu.


“Jawan Anton, saya mohon.” Velicia


segera tau maksud kegugupan Anton dan dia mulai menggunakan jurus memelasnya.


“Sebenarnya, em….” Anton berbicara


dan terus menelan ludahnya hingga jakunnya yang jelas terlihat itu naik dan


tirun bergerak.


“Jangan beritau tuan ya anda tau dari


saya. Jadi nona Jessica itu adalah mantan cinta pertama nya tuan Hans yang


meninggalkan tuan saat tuan sedang cinta-cintanya 2 tahun lalu dan nona Jessica


pergi untuk menikah dengan lelaki yang usianya lebih tua jauh darinya dan tuan.


Hingga tuan sangat marah padanya dan malah sempat benci setengah mati padanya


dan saat itu tuan tidak pernah pacarana lagi malah menganggap semua cewe itu


matre. Dan hingga tua bertemu dengan nona Velicia tuan jadi bersemangat lagi


dan saya juga merasakan tuan cinta sama nona Velicia. Kalo menurut saya malah


cinta pada pandangan pertama.” Anton menjelaskan dengan hati-hati tapi juga


sangat terlihat jujur.


Cinta pertama ya. Cinta pada


pandangan pertama. Lalu sikapnya? Kenapa Jessica kembali? Dimana suaminya? Dia


sedang mendekati Hans kembalikah? Velicia hanya bergumam penuh tanya dalam batinnya.


“Baik lah, Anto terimakasih


informasinya sangat bermanfaat. Terimaksih buat waktunya kalo gitu saya pamit


dulu ya. Oyah, semua makanan saya yang bayar.” Velicia bergi meninggalkan Anto


sendiri yang melanjutkan makan malam.


Punya nyonya baik begini jadi


terharu, huh….gajiku utuh untuk makan malam enak ini.                   gumamnya Anto dalam hati.


Kini Velicia yang sudah tau akan akar


dari pertanyaanya terjawab sudah, dan menimbulkan banyak pertanyaan lain yang


terus terbersit dalam hatinya membuatnya kalut. Mengingat semua perkataan Anto


yang baru saja dia dengar langsung dengan penuh kejujuran dan kepatuhan Anto


pada tuannya. Velicia sampai tidak percaya jika saat ini, saat Jessica sudah


kembali apakah Hans tidak menyesal pernah mengatakan mencintai Velicia.


Velicia pergi pulang ke apartemennya


dengan langkah gontai seperti semua energinya telah habis untuk berfikir keras.


Dan lagi menahan semua rasa sakit yang kini sedang bersarang dalam hatinya


membuat amarahnya yang sekuat tenaga dia bendung. Amarah yang seperti bom waktu


yang mungkin akan meluap kapan saja saat tak lagi mampu ia bendung. Langkahnya


yang gontai menyiratkan semua kesedihan, kebimbangan juga lukanya yang tak lagi


bisa dibilang biasa-biasa saja.


Tubuh mungilnya berjalan mengkupkan


kedua tangannya, berjalan menyusuri jalanan dan belum dia putuskan untuk naik


apa. Hingga akhirnya tanpa fikir panjang dihentikannya lah taxi yang nampak

__ADS_1


kosong itu dan segera masuk ke tempat tujuan.


__ADS_2