
9
***Lagi dan Lagi***
Hari kemarin, yah hari kemarin adalah
kenangan. Kenangan yang masih sangat dini untuk dikenang.
Pagi menjelang, itu tandanya hari
batu segera dimulai. Ayo siapa yang bisa menebak aka nada drama apa
selanjutnya?
Cahanya mentari batu saja memenuhi
ruang kamar itu, cahanya menembuk masuk dan memenuhi kesegala penjuru.
Cahayanya yang begitu terang merasuk masuk memaksa menembus hordeng jendela
yang bergoyang maju mundur menyentuh lalu menjauhi jendela. Tentu saja hordeng
itu bergerak berayun karena AC yang menyala diruangan itu dan udara hanya
berputar saja diruangan itu.
Sedangkan di ranjang sana tergulai
seorang wanita dengan baju tanpa lengannya dan celana pendeknya yang tertutup
rapat oleh selimut yang menutupnya sampai ke leher. Rambut panjangnya menyebar
tergerai di atas bantalnya, posisi tidurnya yang agak sedikit meringkuk
menjerumuskan seluruh wajahnya ke bantalnya yang empuk itu. Sementara gulingnya
dia belakangi begitu saja, pemandangan itu terlihat bahwa dia seorang diri
dengan wajah sedihnya sedang mengadu di dalam mimpi.
Ya, kini wanita itu tengah berjuang
menahan matanya yang enggan terbuka. Padahal sinaran mentari sudah lebih dini
membangunkannya dan hendak menyilaukan matanya. Sialnya matanya begitu rapat
terpejam hingga hampir saja tidak ada celah sinaran mentari menyilaukannya.
Padahal sinar mentari itu sudah begitu menyilaukan untuk dipandang.
Tok….tok…. (suara pintu diketuk)
Beberapa kali suara nyaring itu
terdengar, suara ketukan pintu kayu jati yang mungkin jika diketuk menggunakan
tangan biasa akan menyakiti sang tangan dan malah tidak akan menghasilkan suara
yang membangunkan orang di sebrang pintu. Yang membuat pintu itu juga berfikir
keras tentang hal ini, dia membuatkan juga setengah lingkarang besi yang
dilapisi cat emas yang ditempelkan pada pintu itu hingga jika benda itu
bersentuhan dengan kayu pintu akan menghasilkan bunyi yang lumayan bisa membangunkan
seseorang yang tertidur nyenyak sekalipun.
“Non…. Udah bangun belum?” Sambung
suara seorang wanita paruh baya dengan bersautan dengan ketukan.
Sontak saja sang pemilik sebutan non
itu terbangun dan memaksa dengan tegas matanya untuk terbuka, dan diam diam
sejenak masih dalam posisi tidurnya mengumpulkan tenaganya untuk duduk.
“Iyah bu.” Sahutnya si pemilik
sebutan non itu dengan nada khas seorang yang bangun tidur.
“Ya sudah saya mau lanjut masak
sarapan dulu ya non. Kirain belum bangun, gak kerjakah non.” Suara dari balik
pintu itu yang berlahan memudar diiringi dengan deru langkah kaki menjauhi
pintu kamarnya.
Aih…. Kenapa hari ini mesti
masuk kantor sih. Kenapa bukan hari libur ajah.
Velicia, yang sedari tadi sudah malas
untuk beranjak dari tempat tidurnya kini harus memaksakan dirinya untuk tidak
bermalas-malasan lagi dan segera pergi mandi. Dikamar mandi yang lumayan luas
itu dia mengerucuti bajunya itu perlahan seolah masih saja bermalas-malasan
untuk menyentuk air. Di setelnya air kran itu agar air yang mengalir menjadi
air yang hanyat dan sesuaikan kehangatannya. Tercium jelas aroma melon dan mint
yang segar memenuhi seluruh ruangan itu, menjadikan hari ini penuh dengan
semangat dan ketenangan harusnya. Aroma melon yang manis dan mint yang
menyejukkan seakan menjadi aroma terapi peraan dipagi hari. Wangi, manis dan
segar, itulah kesan yang hendak dibuat sangan pabrik sampo dan sabun itu.
Selesainya mandi, dia keluar dengan
handur kimononya yang tebal itu menutupi tubuhnya hingga selututnya panjangnya.
Diapun segera memilah-milah baju yang akan dia kenakan di lemari, beberapa
menit memilih akhirnya memutuskan untuk mengenakan setelan kemeja yang tidak
terlalu ketat itu dan span se lutut yang menggariskan jelas lekuk tubuhnya.
Dengan buah d**a nya yang lumayan besar itu harusnya kemeja tidak press tubuh
ini dapat menutupi lekuknya. Yah, Velicia memang tidak begitu suka menjadi
pusat perhatian dan menonjolkan kemolekan tubuhnya.
Setelah itu dia segera berdandan
kecil menyisir dan menata rambutnya yang hanya di jepit setengah itu dan
memakan cream siang, bedak lalu lipstick warna kalemnya. Tidak begitu mencolok
harusnya, namun ya memang kecantikannya tidak dapat diragukan lagi. Dengan mata
indahnya yang bulat besar sempurna, alis tebal yang membuk garis alami, bulu
mata lentiknya, hidung mancung simetrisnya dan juga bibir merah merona alami
yang dia miliki. Siapa saja yang melihatnya pasti akan berdecak kagum dengan
keindahan ciptaan tuhan ini.
Selesai sudah, akhirnya diapun segera
keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makan untuk sarapan.
“Pagi bu Si, cantik sekali hari ini.”
Sapa Velicia pada bu Si yang sedari tadi sibuk membersihkan peralatan masak.
Dia tersipu mendengar Velicia memujinya.
“Nona ini bisa saja, Non yang lebih
muda pasti lebih cantik.” Bu Si pandai sekali berterimakasih.
“Masakannya enak.” Velicia memang
selalu menghargai jerih payah bu Si ini.
“Maaf ya bu, bu Si jadi masak karena
aku telat bangun.” Velicia merasa bersalah.
“Non, kebetulan ajah bu Si kan jarang
masakin sarapan karena kesininya kesiangan terus.” Bu Si yang sekarang tambah
merasa bersalah.
Ting…..tong…..(suara bel rumah)
Seara bel yang nyaring itu memekik
memenuhi seisi rumah ini, beberapa kali bel terus berbunyi si tamu yang tidak
sabaran untuk segera dibukakan. Bel yang menghentikan seketika obrolan pagi
ini. Bu Si segera berlari kecil membuka pintu.
“Apa tuan Hansnya ada?” Tanya nya kepada
bu Si.
__ADS_1
“Apa masih tidur non, silahkan ma…”
Belum saja selesai bu Si berbicara si wanita itu ngeluyur masuk.
Dilihatnya dari meja makan dan ruang
tamu yang hanya tersekat tembok itu, terdengar jelas jika ada tamu dengan suara
yang tak asing bagi Velicia yang sedang mencari si tuan rumah sepagi ini dan
terlihat buru-buru menyelonong masuk melewati bu Si yang kebingungan dan juga
langsung masuk lurus ke ruang masuk. Mungkin dia juga hendak langsung
menyelonong ke kamar tuan rumah ini, hanya saja langkahnya terhenti sesaat
ketika dia melihat nyonya rumah ini sedang pura-pura tidak tau dan terus makan
nasi goreng sarapannya itu. Mungkin juga dia fikir nyonya rumah ini sudah
berangkat bekerja.
“Ouh ada tamu rupanya, mari silahkan
duduk nona Jessica.” Velicia seakan tau maksudnya dan memberikan kesan pertama
yang ketus pada wanita bernama Jessica itu.
“Eh, nyonya Hans masih dirumah. Maaf
ya saya pikir anda sudah berangkat jadi saya….” Belum Jessica menyelesaikan
ucapannya Velicia segera tau maksudnya.
“Oh begitu, jadi menyelonong masuk
dan hendak mengetuk pintu kamar tuan rumah mengira nyonya rumah ini tidak ada
itu bukan nya tidak sopan ya nona?” Velicia dengan santainya memberikan ucapan
yang monohok ini.
“Bukan begitu, saya fikir karena saya
adalah teman lama dan terbiasa begitu jadi tidak apa-apa. Salah saya sih saya
lupa jika teman lama saya saat ini sudah menjadi suami orang lain.” Jessica
yang berlagak polos berusaha membela diri dan menyampaikan pesan tersirat dari
kata-katanya barusan.
“Hai, Jessica sepagi ini sudah
datang. Kamu sudah baikan?” Hans yang tiba-tiba muncul keluar dari kamarnya dan
sudah sangat rapih pakai kemeja yang dasinya masih terlihat miring.
“Hans, maaf dasimu miring.” Jessica
yang langsung segera membenarkan dasi Hans tanpa ragu yang memang seolah
sengaja membuat Velicia naik darah.
Posisi Jessica yang saat ini memang
sangat dekat dengan Hans tentu saja dia manfaatkan untuk menyentuh Hans dan
membuat Velicia yang hanya mampu melihat menjadi sangat menahan marahnya.
“Aih, terimakasih loh nona sudah
membantu suamiku merapikan dasinya. Namun lain kali sepertinya tidak perlu,
karena ana aku istrinya yang lebih berhak untuk itu.” Velicia mencoba untuk
setenang mungkin menghadapi iblis terkutuk ini yang punya seribu wajah.
“Maaf kan saya Velicia, saya tadi
refleks dan maafkan saya.” Jessica yang pura -pura sedih hendak mengeluarkan
air mata buayanya dan terus membungkuk meminta maaf.
Hans lagi yang ada di sampingnya
memegagangi pundaknya dan menyuruhnya untuk menghentikan drama membungkuk meminta
maafnya itu. Hans terlihat begitu iba padanya dan sedikit merasa Velicia
berlebihan karena hal ini.
“Vel, cukup. Lagian hanya membenarkan
dasi saja. Ayo kita sarapan bersama.” Hans melepaskan memegang Pundak Jessica
Taukan berapa rasanya hati Velicia
saat ini, rasanya seperti disayat hatinya melihat perlakuan suaminya yang tidak
biasa pada Jessica. Entah motif apa yang tersembunyi dibalik drama Jessica ini
dan juga dibalik perlakuan Hans yang terasa begitu special pada Jessica itu.
Hans selalu memperlakukan Jessica
sebagai wanita yang sedang rapuh dan terluka parah yang hendak mati, dan tidak
membiarkannya di senggol sedikitpun oleh orang lain. Hans melindunginya dengan
membungkus Jessica dengan rasa ibanya ataukah rasa yang lain? Jika itu rasa
lain, lalu perasaannya pada Velicia seperti apa sesungguhnya? Bukannya baru
beberapa hari lalu dia begitu mencintai Velicia dan tidak membiarkan Velicia
sedikitpun disentuh wanita lain. Lalu Hans datang dengan Jessica dengan
perasaan yang terlihat jelas diwajahnya, perasaan melas dan juga bagai super
hero yang melindungi seorang lemah.
Velicia semakin bingung dan
menerka-nerka apa yang hanya dia lihat saja tanpa tau isi hati mereka. Jelas
terlihat Jessica bukanlah seorang yang lemah untuk pantas dilindungi
sebegitunya. Hans juga bukanlah seorang laki-laki yang percaya begitu saja
ucapan atau hasutan orang lain? Akankah ada motif atau sebuah drama besar di
babak kehidupan ini?
Ya terus saja menerka-nerka tanpa tau
ujungnya.
“Kamu kenapa kesini sepagi ini Jes?”
Hans bertanya sembari terus melahap sarapannya.
“Aku tadinya ingin berterimakasih
karena kamu yang telah mengantarku semalam dan bersedia mengurusku sebentar di
rumahku. Dan hendak mentraktirmu sarapan pagi ini karena siang sampai malam
hari aku akan sibuk sekali. Tapi ya aku tidak sangka malah bertemu Velicia juga
dan bisa berterimakasih padanya. Ku kira kamu sudah berangkat loh Velicia.”
Jessica berkata begitu terlihat lembut.
Jadi semalam Hans bukan hanya
mengantar dia pulang, juga mengurusnya di rumahnya. OMG ternyata begitu.
Liciknya si rubah wanita ini, bahkan dia sengaja membeberkannya di depanku. Aku
rasa tidak perlu menceritakan se detail itu tentang kejadian semalam. Kenapa
dia repot-repot menceritakannya. Bodohnya lagi aku malah marah dengan ucapannya
itu, sementara Hans saja bersikap biasa saja tenpa rasa bersalah gitu telah
menghianati istrinya. Oh tuhan mungkinkah aku jadi tidak realistis lagi karena
sudah cinta pada Hans? Jelas sekali jika Hans nyaman-nyaman saja ditempeli
iblis wanita ini. Terus aku malah yang kebakaran jenggot seperti ini mendengar
kisah romantic mereka. Ingat wahai Velicia, pernikahan ini hanya kontrak kan?
Tapi rasanya sakit sekali jika ingat perkataan Hans tempo hari yang bilang
begitu mencintaiku. Sebenarnya apa sih hubungan mereka sesungguhnya. Aku harus
tanyakan pada Anton, atau jika tidak bertanya aku akan mati terbunuh rasa
penasaran juga rasa sakit ini.
“Vel, kamu gak kerja? Ini udah jam
berapa loh. Malah kamu bengong sambil makan gitu, gak buru-buru takut telat?”
Hans bertanya dengan nada yang sangat biasa saja meski tatapan cintanya masih
__ADS_1
terlihat jelas. Namun tatapannya itu gak singkron sama perilakunya, aneh
sekali.
Ck…kamu pikir siapa yang membuatku
begitu malas untuk melakukan apapun hari ini? Kamu pikir siapa yang membuat ku
bengong dan tidak lagi nafsu makan. Aih…..semakin difikirkan semakin membuatku
kesal. Sudahlah aku pergi saja, persetan dengan apa yang akan mereka lakukan
dibelakangku. Ingat saja jika aku datang ke pernikahan ini untuk adikku sudah.
Velicia hanya berdiri dari kursinya
dan meninggalkan piringnya kemudian segera berlalu tanpa sepatah katapun,
memakai sepatunya yang ada di lemari dekat ruang tamu dan pergi memhambur
keluar dari pintu rumah apartemennya. Apartemen luas itu seketika menjadi
ruangan yang amat sesak, bahkan untuk sekedar bernapas saja rasanya oksigen itu
sangat tipis. Ya, tentu saja semenjak kehadiran Jessica yang terus membuat
oksigen di apartemennya itu terus menipis. Sesak rasanya, juga sedikit lega
akhirnya menghirup udara dengan bebas. Tanpa syok dadakan, tanpa pacu jantung
berlebihan. Mereka seperti berselingkuh terang-terangan didepan Velicia, dan
hati wanita mana yang rela dan merasa biasa saja dengan tingkah mereka.
Jika mereka memang benar-benar teman
pun mungkin hati sang istri juga akan patah melihat kedekatan mereka.
Pergi ke kantor dengan perasaan yang
sedang kacau, dan Velicia yang sekuat tenaga mengolah batinnya agar tidak tidak
meneteskan air mata, dan tetap ber prasangka baik pada mereka agar sakit di
hatinya sedikit berkurang. Dan menjalani hari ini dengan biasa seperti semesti.
***Kebenaran
(kirim pesan)
Anton, saya mau ketemu dengan kamu
empat mata saja bisa kan? Di restoran HK ya dekat kantor saya. Alamatnya
(bla-bla-bla). Tolong jangan beritahu Hans, saya tunggu kamu jam 15.30.
Ting…. (suara pesan masuk)
Baik nyonya.
Untungnya dia langsung setuju kalau
tidak pasti bakal bujuk dia dengan susah. Velicia dengan tenang bergumam dalam hatinya bersyukur
Anton mau bertemu dengannya dengan cukup mudah.
Pukul 15.30 di restoran HK
“Syukurlah kamu datang tepat waktu
Ton.” Velicia lega setelah menunggunya terlebih dulu dan mencari tempat duduk
yang cocok.
“Saya jadi deg-degan ini nyonya.”
Anton terlihat sedikit grogi.
“Panggil saya biasa saja, panggil
Velicia dan jangan terlalu formal dengan saya.” Velicia menegaskan.
“Silahkan pesan makanan terlebih dulu
dan saya akan mulai bertanya nanti.” Sambung Velicia dengan nada dan sikap
serius.
Selang beberapa menit setelah memesan
menunggu makanan datang akhirnya Velicia segera mulai bertanya.
“Anton, saya mohon jawab dengan jujur
pertanyaan saya dan tolong ceritakan dengan detail. Apa hubungan Hans dengan
Jessica?” Velicia bertanya dengan penuh seksama. Anton lebih-lebih
memperhatikan pertanyaan dengan seksama juga dan dia begitu terkejut saat mendengar
lengkap pertanyaan Velicia.
“Em…..” Anton menggaruk kepalanya
yang tidak gatal itu dan mulai menggaruk mukanya yang tidak gatal ingin
berdalih dan lari dari pertanyaan itu.
“Jawan Anton, saya mohon.” Velicia
segera tau maksud kegugupan Anton dan dia mulai menggunakan jurus memelasnya.
“Sebenarnya, em….” Anton berbicara
dan terus menelan ludahnya hingga jakunnya yang jelas terlihat itu naik dan
tirun bergerak.
“Jangan beritau tuan ya anda tau dari
saya. Jadi nona Jessica itu adalah mantan cinta pertama nya tuan Hans yang
meninggalkan tuan saat tuan sedang cinta-cintanya 2 tahun lalu dan nona Jessica
pergi untuk menikah dengan lelaki yang usianya lebih tua jauh darinya dan tuan.
Hingga tuan sangat marah padanya dan malah sempat benci setengah mati padanya
dan saat itu tuan tidak pernah pacarana lagi malah menganggap semua cewe itu
matre. Dan hingga tua bertemu dengan nona Velicia tuan jadi bersemangat lagi
dan saya juga merasakan tuan cinta sama nona Velicia. Kalo menurut saya malah
cinta pada pandangan pertama.” Anton menjelaskan dengan hati-hati tapi juga
sangat terlihat jujur.
Cinta pertama ya. Cinta pada
pandangan pertama. Lalu sikapnya? Kenapa Jessica kembali? Dimana suaminya? Dia
sedang mendekati Hans kembalikah? Velicia hanya bergumam penuh tanya dalam batinnya.
“Baik lah, Anto terimakasih
informasinya sangat bermanfaat. Terimaksih buat waktunya kalo gitu saya pamit
dulu ya. Oyah, semua makanan saya yang bayar.” Velicia bergi meninggalkan Anto
sendiri yang melanjutkan makan malam.
Punya nyonya baik begini jadi
terharu, huh….gajiku utuh untuk makan malam enak ini. gumamnya Anto dalam hati.
Kini Velicia yang sudah tau akan akar
dari pertanyaanya terjawab sudah, dan menimbulkan banyak pertanyaan lain yang
terus terbersit dalam hatinya membuatnya kalut. Mengingat semua perkataan Anto
yang baru saja dia dengar langsung dengan penuh kejujuran dan kepatuhan Anto
pada tuannya. Velicia sampai tidak percaya jika saat ini, saat Jessica sudah
kembali apakah Hans tidak menyesal pernah mengatakan mencintai Velicia.
Velicia pergi pulang ke apartemennya
dengan langkah gontai seperti semua energinya telah habis untuk berfikir keras.
Dan lagi menahan semua rasa sakit yang kini sedang bersarang dalam hatinya
membuat amarahnya yang sekuat tenaga dia bendung. Amarah yang seperti bom waktu
yang mungkin akan meluap kapan saja saat tak lagi mampu ia bendung. Langkahnya
yang gontai menyiratkan semua kesedihan, kebimbangan juga lukanya yang tak lagi
bisa dibilang biasa-biasa saja.
Tubuh mungilnya berjalan mengkupkan
kedua tangannya, berjalan menyusuri jalanan dan belum dia putuskan untuk naik
apa. Hingga akhirnya tanpa fikir panjang dihentikannya lah taxi yang nampak
__ADS_1
kosong itu dan segera masuk ke tempat tujuan.