
Bab 3
***Hari Pertama***
Mungkin rasanya hari ini adalah
sebuah beban yang berat baginya dimana dia harus memikul beban menjadi istri
orang untuk hari pertama ini.
“Silahkan sarapan tuan.” Velicia
mempersilahkan suaminya untuk sarapan makanan yang telah dia buatkan.
“Kamu menjalani tugasmu dengan baik.”
Hans memuji juga mengejeknya.
“Ya, saya harap anda senang.”
“Tidak begitu.”
“Baiklah tuan, saya harus segera
berangkat bekerja.” Velicia berdiri dan hendak pergi untuk bekerja
“Ini, ambillah. Didalamnya sudah ada
beberapa uang kamu bisa pakai untuk berbelanja keperluan apapun. Sandinya xxxxx”
Hans menyodorkan kartu kreditnya pada Velicia.
“Maaf tuan, untuk saat ini yang
terpenting bagiku adalah adikku menjalani pengobatan, sungguh saya tidak
memerlukan apapun lagi dari kemurahan hatimu. Terlebih lagi, gajiku cukup untuk
memenuhi keperluanku.” Velicia menolak dengan hati-hati.
“Harga dirimu cukup tinggi juga nona.
Tapi pantang bagiku mengambil kembali apa yang sudah aku berikan, ambillah
terserah padamu akan kamu pakai atau tidak.” Hans menimpali dengan sedikit
marah.
“Saya pergi tuan.” (mengambil kartu
kredit di meja)
Jika aku tidak mengambil ini, pasti
akan panjang urusannya aku sungguh malas berdebat dengannya. Aku juga khawatir
dia akan melakukan apapun untuk keinginannya terpenuhi. Akan lebih baik bagiku
jika untuk saat ini aku mengalah dulu. Sungguh posisi ini sangat menjengkelkan,
semoga saja 2 tahun ini cepat berakhir. gumam Velicia dalam hatinya.
Velicia bergegas pergi meninggalkan
rumah yang megah itu dan berjalan kaki untuk menuju jalan umum untuk naik
kendaraan umum.
Sial, bahkan aku setiap hari akan
boros uang dengan taxi ini. Tidak ada bus yang lewat di jalan ini, sungguh
konplek elit yang merugikan. Jika begini pengeluaranku akan besar setiap
bulannya dan gajiku akan habis hanya untuk taxi ini setia hari. Benar-benar
kehidupan yang sialan. Dalam hatinya kesal.
**Dimeja maka
Masakan gadis ini lumayan enak
juga. Dia benar-benar gadis yang sangat menyayangi adiknya, meskipun dia mau
menikah denganku dengan sangat terpaksa namun dia juga bersikap baik. Ya, aku
tau dia selalu menatapku dengan kebencian. Tapi dia sekarang adalah istri
sementaraku, hahaha lucu juga.
Lelaki itu melanjutkan sarapannya
dengan tenang dan tersenyum-senyum sendiri, otaknya kini dipenuhi dengan
Velicia istrinya.
Dikantor Velicia
Dia begitu sibuk setelah masuk
kantor, beberapa hari yang lalu dia sakit dan ijin. Dan kemarinpun dia harus
ijin di hari pernikahannya. Teman-teman dikantornya tidak ada yang tau bahwa
kemarin adalah heri pernikahannya.
“Hai, nih Vel ada yang ngirimin bunga
pagi-pagi buta.” Hannie menghampiri mejanya dan memberikan bunga.
“Hannie, kamu mengagetkanku saja.
Bunga dari siapa?” Velicia segera berdiri dari tempat duduknya.
“Bacalah, ada suratnya ko. Aku tidak
berani melihatnya.”
“Terimakasih.” Velicia menyelidik
mencari surat yang Hannie maksud di dalam bunganya.
“Baiklah sepertinya kamu sedang sibuk
jadi aku kembali ke kursiku ya.” Hennie bergegas pergi lagi ke mejanya.
“Terimakasih ya Han.”
“Sama-sama sayangku.” Hannie menjawab
sambil berjalan.
“Itu menjijikan Hannie.”
“Ayolah, itukah kata-kata dari
seorang sahabat yang baik.”
“Aku hanya becanda, kamu yang
terbaik.”
Hannie adalah sahabatnya sejak
kuliah, dan mereka bekerja di perusahaan yang sama sebagai kariawan biasa di
salah satu perusahan di kota itu. Mereka bersahabat sangat baik, Hannie lah
yang selalu ada untuknya tidak ada hal yang Hannie tidak tau tentangnya, hampir
semua hal mereka bagi bersama.
Siapa yang mengirimi aku bunga
sepagi ini? Bunga lili, kesukaanku. Hanya 2 orang yang tau aku sangat menyukai
bunga ini selain keluargaku Hannie dan juga ka Sehan, ka Sehan tidak mungkin
tau tempat kerjaku kan? Lantas siapa? Laki-laki itu juga tidak akan mungkin
dia, ada surat warna putih dengan amplop. Apa isi surat ini sangat rahasia
sampai amplopnya saja di lem seperti ini.
(membuka amplop)
(Isi surat)
Semoga pagimu seindah lily ini
wanitaku, kamu akan selalu menjadi wanitaku seumur hidupku. Maafkan segala
kesalahanku selama ini meninggalkanmu sendirian dalam kesulitan ini. Aku akan
menebus semua salahku ini. Aku berjanji akan selalu membahagiakan mu. Jikapun
kamu belum memaafkanku akan berjuang mendapatkan maaf darimu.
From
Sehan.
Jadi, ini bunga dari Sehan? Betapa
bahagianya hari ini, aku mendapatkan perhatian dan maaf darimu. Ka Sehan, aku
tidak pernah benar-benar marah padamu hanya saja aku bukanlah Veliciamu yang
dulu. Aku telah menjual pernikahan yang ku janjikan padamu untuk orang lain,
apa aku pantas untukmu? Aku juga telah menghianati mu.
Velicia segera berdiri dari kursinya
dan pergi membawa bunga itu lalu membuangnya ke tempat sampah di samping meja
kerjanya dan dia bersikap seperti tidak terjadi apapun. Dia kembali melanjutkan
kerjaanya.
Ada apa dengan Velicia, kenapa
bunga itu berujung ke tempat sampah? Apa aku harus menanyakan hal ini padanya? Ucap Hannie dalam
__ADS_1
hati saat melihati Velicia.
Hannie yang melihat bunga itu di
tempat sampah begitu heran, kenapa bunga seindah itu berakhir di tempat sampah
apakah dia begitu membenci orang yang mengirim bunga itu? Namun mengapa muka
Velicia begitu terlihat sedih meskipun Velicia sangat pandai menutupinya namun
Hannie yang mengenalnya selama bertahun-tahun akan segera tau kebenarannya
hanya dengan menatap wajahnya.
Meja Hannie tak begitu jauh dari meja
Velicia sehingga mudah saja bagi mereka untuk saling memperhatikan
masing-masing. Hannie juga segera mengetahui bahwa sahabatnya itu sedang berada
di situasi yang kurang baik dan itu sangat terasa di raut wajahnya. Meskipun ya
beberapa bulan ini memang kesedihan sedang menyelimutinya namun biasanya dia
semarah hari ini. Hannie tau betul sahabatnya itu, dia selalu menutupi
kesedehinnya meskipun dia selalu menceritakan apa yang dia alami setelahnya
namun dia juga selalu tidak ingin merepotkan orang lain untuk membantunya.
Waktu berlalu begitu saja dengan
cepat, kini saatnya jam pulang kantor.
“Vel, nongkrong yuk. Aku yang
traktir.” Hannie menghampiri menyapanya menepuk pundan Velicia yang kecil itu.
“Boleh. Kamu abis menang lotre kah?”
“Aih kamu ini benar-benar sahabat
yang buruk ya.”
“Hahaha, ayo kita pergi.” Velicia
merangkul sahabatnya dan pergi bersama.
Dia begitu pandai menyimpan
kesedihannya. Velicia ku mohon jangan ada yang kamu tutupi dariku atau aku akan
merasa jadi sahabat yang tidak berguna. Gumam Hannie dalam hati.
**Di caffe
“Pesan lah yang banyak, hari ini aku
berbaik hati padamu.”
“Benarkah? Kebetulan sekali aku
sedang lapar.” Velicia segera membuka menu makanan di depannya dan siap
memilih.
“Apapun untukmu sayang.”
“Jomblo akut ya begitu kelakuannya
menyedihkan.”
“Sial kau.”
“Hahaha, namun tetap saja aku
mencintamu sahabatku.”
“Kedengarannya kamu lebih menjijikan,
penjilat.”
“Hahaha, kamu yang mulai.”
“Velicia, apa ada yang ingin kamu
ceritakan padaku?”
“Tidak ada.”
“Baiklah, mungkin aku yang terlalu
khawatir padamu. Aku tidak perlu mengucapkan berulang kali kan jika aku adalah
sahabatmu yang akan mendengarkan segala kesusahanmu.”
“Hannie kamu membuatku tidak bisa
menolaknya untuk cerita. Kamu benar ada banyak hal yang terjadi, adikku sudah
dibawa keluar negeri untuk berobat. Dan ka Sehan kembali mencariku.”
“Baguslah, kenapa kamu bersedih. Tapi
tunggu darimana uang yang kamu dapat untuk membawa adikmu berobat?”
bersama ka Sehan lagi karena saat ini aku sudah menikah.”
“Apa? Kamu serius?” (kaget)
“Ceritanya panjang, singkatnya
pernikahan ini hanya menikah kontrak. Dan dia berjanji akan membiayai adikku
hingga sembuh. Aku terpaksa menerima ini demi adikku, dan ka Sehan datang
terlambat setelah aku menandatangani kontrak itu. Hannie apakah aku terlihat
begitu bodoh?”
“Tentu saja tidak sayangku, kamu ini
seorang kaka yang hebat. Maafkan aku, aku telah menjadi sahabatmu yang tidak
berguna. Aku bahkan tidak bisa membantumu keluar dari kesusahan ini, aku
benar-benar minta maaf.” (menggengnggam tangan Velicia)
“Ini adalah takdir hidupku, bagaimana
bisa kamu menyalahkan dirimu.”
“Kamu memang gadis yang sangat baik.”
“Ais, ayo kita makan. Aku sangat
lapar.”
“Hahaha, dasar rakus.”
Seperti bias ajika dua wanita ini
sudah bertemu maka dunia serasa milik mereka berdua dan mereka pasti juga akan
lupa waktu menghabiskan waktu bersama mengobrol bersama.
Hingga waktu semakin larut dan
akhirnya mereka menyelesaikan sesi ngobrol mereka dan bergegas untuk pulang kerumah
masing-masing. Rasanya begitu malas untuk Velicia kembali ke rumah itu bertemu
dengannya.
**Dirumah Hans
Velicia masuk memasuki rumah yang
besar itu, rumah itu begitu sepi dilihatnya seperti tidak ada tuan rumah di
dalamnya.
Huh… Syukurlah dia tidak ada
disini, pasti dia sedang bersama perempuan tak tahu malu itu kan. Sudahlah
biarkan saja. Aku bebas mala mini.
“Hai nona, darimana saja kamu.
Seorang istri yang pulang selarut ini, pasti kaget ya tertangkap basah oleh
suamimu.” Hans berceloteh dengan tenang sambil duduk di sofa dengan kakinya
yang di atas meja di depan TV.
“Aih tuan, anda begitu
penganggurankah sehingga menungguku di sini. Bukannya sudah malam anda harus
beristirahat bukan.” Velicia kaget namun tetap berusaha tenang.
“Bagaimana suamimu ini beristirahat
tanpa istrinya. Apa kamu habis berkencan malam ini istriku?” (bangkit dan
mendekati Velicia.)
“Tuan jangan lupa perjanjian kita
untuk tidak ikut campur urusan pribadi masing-masing. Apa anda lupa tuan?
Bukankah anda sendiri yang membuatnya?” Velicia tidak kehilangan akal meskipun
dia terpojok karena Hans terus mendekatkan tubuhnya ke Velicia dan Velicia
terus melangkah mundur.
Sial, kenapa aku bisa lupa? Dan aku
sangat marah, lagi-lagi dia mengingatkan aku tentang perjanjian dan perjanjian
itu. Hans berfikir
__ADS_1
dan sangat marah.
“Aku masih ingat. Ya benar kita tidak
bisa ikut campur urusan pribadi masing-masing.” (Pergi)
Bagaimana bisa laki-laki itu marah
setelah mengomeliku, harusnya kan aku yang marah padanya. Benar-benar aneh.
Keduanya pun bergegas kekamar
masing-masing untuk bersiap istirahat, Hans yang begitu marah hingga masuk
kekamarnya dan membanting pintu kamarnya. Velicia tidak memperdulikannya dan
meneruskan bersih-bersih di kamar mandi kamarnya itu.
Tok….tok… (ketukan pintu)
“Ada apa?”
“Aku lapar, buatkan aku makan.”
“Baiklah, saya segera buatkan makan
malam untuk anda tuan.”
Benar saja, pasti laki-laki tidak
akan membiarkan aku hidup tenang dirumahnya ini. Ya tuhan, mending aku buatkan
saja deh aku sungguh sedang tidak nafsu untuk meladeninya beradu argument.
Kenapa wanita ini begitu penurut,
apakah dia sedang merasa bersalah karena aku barusan marah?
Velicia bergegas pergi kedapur di
lantai bawah dan memasak makanan untuk suaminya itu, sementara Hans duduk diam
di meja makan menunngu makanannya selesai.
“Apa anda begitu kelaparan? Anda
sudah bangkrut ya sampai-sampai di rumah sebesar ini tidak ada pembantu yang
menginap.” (meletakkan makanan masakannya dimeja makan)
“Aku hanya mengirit anggaran, lagi
pula aku punya istri sekarang untuk apa pelayan di malam hari.” (memakan
makanannya)
“Anda benar juga.”
“Aku tidak suka banyak orang
dirumah.”
“Kalau begitu kenapa anda harus
tinggal dirumah sebesar ini.”
“Karena rumah ini nyaman untukku.”
“Tapi tidak nyaman bagi saya, rumah
ini cukup membuat kantongku kering seketika setelah gajian.”
“Maksudmu?”
“Em….tuan bolehkah jika saya tidak
tinggal disini?”
“Apa kamu berencana tinggal terpisah
dengan ku?”
“Ya, saya ingin tinggal di dekat
kantor tuan, disini transportasi sangat susah. Saya tidak bisa setiap hari naik
taxi, itu sangat boros.”
“Ada mobil untukmu, pakailah. Selama
kamu adalah istriku semua vasilitas rumah ini juga milikmu.”
“Ah….tidak, lupakan saja perkataan
saya barusan.”
Dia begitu perhitungan, tetapi dia
menolak semua vasilitas yang aku berikan. Padahal dia membutuhkannya, jika
wanita lain pasti akan menerimanya dengan senang hati. Bahkan kartu kredit yang
aku berikanpun tidak dia gunakan sama sekali. Dia benar-benar mau menikah denganku
hanya untuk mengobati adiknya.
“Apa kamu benar-benar ingin pindah
dari rumah ini?”
“Bukan, maksud saya rumah ini cukup
nyaman tapi saya begitu merasa jadi boros untuk ke kantor.”
“Kamu bisa pakai mobil di garasi.”
“Saya tidak mau memanfaatkan keadaan.”
“Aku tidak berfikir demikian.”
“Cukup anda berikan pengobatan untuk
adikku itu saja sudah cukup.”
“Baiklah, aku akan fikirkan.”
“Tuan, jika memang anda tidak
berkehendak tidak apa-apa lupakan saja perkataan saya barusan.”
“Jadi kamu ingin pindah atau tidak?”
“Jika saya ingin pindah ke dekat
kantor apakah anda akan setuju?”
“Kenapa tidak setuju, kedengerannya
sangat menyenangkan.”
“Anda pasti becanda.”
“Apa aku terlihat sedang becanda?”
(mendekatkan tubuhnya ke Velicia, dan Velicia reflek mundur)
“Bahkan saya tidak bisa membedakan
anda yang serius dengan anda yang bercanda.”
“Coba kamu lihat baik-baik wajahku.”
Hans semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Velicia, sehingga Velicia sudah
terpojok sekarang.
“Tuan, sepertinya anda terlalu
dekat.”
Apa yang dia lakukan, apa laki-laki
ini mabuk ya? Wajahnya begitu dekat denganku aku takut. fikir Velicia dalam hatinya.
Wanita ini jika dilihat dari dekat
sangat cantik, bibirnya juga terlihat begitu mungil berisi. Bau tubuhnya sangat
manis, rasanya seperti tersihir ingin menyentuhnya dan terus mendekatinya. Apa
yang aku fikirkan, siapa wanita ini wanita yang baru saja aku temui mana bisa
membuat aku tersihir.Kini fikiran Hans mulai mengakuinya.
“Aku akan fikirkan keinginanmu
sebagai istriku, dan aku suamimu akan bertanggung jawab memenuhinya.” (bergerak
menjauh dan segera sok dingin)
Aih, laki-laki yang berubah
perilakunya secepat membalikkan buku. Bagaimana mungkin dia bisa berlagak
menjadi seorang suami yang begitu baik. Aih, memangnya kamu pantas disebut
suami? Ingat posisimu suami kontrak.
“Baiklah tuan, sudah malam jadi saya
ingin beristirahat. Selamat malam.” Velicia bergegas ke kamarnya di atas
melewati Hans yang sedang berdiri begitu gagahnya tanpa kata apapun.
Hans pun juga kembali ke kamarnya
untuk beristirahat.
Malam berlalu begitu saja, mereka
terlelap dalam tidurnya menghapus seluruh penat seharian beraktifitas. Besok
adalah hari libur yang dinantikan untuk menghapus seluruh rasa lelah selama
__ADS_1
satu minggu bekerja. Untung saja ada hari dimana mereka bisa benar-benar
berlibur mengistirahatkan tubuh.