
7
***Kilas balik Masa Lalu***
Dikamar Velicia yang nyaman itu,
Velicia baru saja menghabiskan malamnya untuk sejenak beristirahat. Dan kini
hari baru pun telah tiba, waktu untuknya beristirahat telah habis. Tiba saatnya
untuk dia memulai aktifitas yang baru di pagi ini.
Sedangkan Hans suaminya dia sedang
sibuk bisnis keluar kota dan lagi-lagi meninggalkannya seorang diri di
apartemen nya itu.
Velicia segera bergegas membersihkan
dirinya, ganti baju dan berdandan dan kemudian berangkat kerja.
Seperti biasa Velicia berangkat
bekerja menggunakan bus, haltenya tidak jauh dari lingkungan apartemennya
sehingga dia hanya perlu berjalan ke luar ke jalan raya. Suasana pagi yang
ramai, aktifitas kendaraan yang berlalu-lalang. Hiruk-pikuk suasana di kota
yang sibuk. Sesekali terdengar suara klakson bersautan yang kala itu nampaknya
orang-orang bermobil tidak sabar ingin saling mendahului sementara aktifitas
lalu lintas yang padat semua kendaraan memenuhi jalanan.
Terlihat pula ramainya pejalan kaki
yang menggunakan fasilitas umum, dan beramai-ramai menyebrangi jalanan
bergantian. Suasana kota yang hingar binger memang kadang membuat pusing
kepala, tetapi juga membuat segalanya menjadi lebih mudah.
Sesaat setelah melewati hiruk-pikuk
jalanan kota kini Veliciapun telah sampai di halte gedung kantornya, dan dia
pun segera bergegas untuk turun dari bus.
“Velicia.” Suara seorang laki-laki
yang kini menggenggam pergelangan tangan Velicia dari belakang, dan sontak saja
Velicia menoleh dan suaranya terasa tidak asing baginya. Velicia yang segera
mengenali suara itu.
“Ka Sehan.” Velicia kini tertegun,
sekaligus sedih dan bahagia bercampur menjadi satu. Betapa tidak setelah sekian
lamanya akhirnya dia bertemu kembali dengan Sehan, yang beberapa waktu ini
hanya mengiriminya pesan dan hari ini berhadapan langsung dengannya.
“Apa kamu ada waktu? Aku ingin kita
bicara.” Sehan yang dengan tatapan penuh harapan, harapannya agar Velicia tidak
menolaknya dan mereka saling bertatapan mata. Ada kenangan yang tersisa di mata
Velicia, juga ada banyak cinta pada mata Sehan yang terpancar biru itu.
“Tapi aku harus kerja sekarang,
mungkin setelah pulang kerja baru bisa.” Suara Velicia yang kini merapuh
menahan sakit yang mencoba keluar dari hatinya.
“Baiklah, aku akan menunggu kamu jam
5 sore disini.” Sehan dengan penuh semangat dan harapan.
“Baik, aku harus pergi dulu. Sampai
nanti ka Sehan.” Velicia berlalu dan tangannya menahan dadanya yang terasa semakin
sesak. Velicia berlalu tanpa menoleh lagi dia terus berjalan maju tanpa henti
hingga dia menghilang dari pandangan Sehan yang terus tertuju pada nya.
Dihati Velicia yang juga ada Hans
saat ini, namun juga tidak bisa begitu saja lupa pada Sehan, Kenyataanya
Sehanlah yang sudah 10 tahun ada dihatinya. Sehanlah yang setiap saat ada di
sisinya setiap waktu dikala itu. Bila dilihat lagi Hans ada dihatinya karena
sebuah ikatan pernikahan yang membuatnya menjadi sering bertemu akhir-akhir ini
dan merasa saling bergantung satu dan yang lain. Terlebih lagi Hans lah yang
telah membantunya menyembuhkan adiknya. Dimana Sehan pada waktu itu? Tapi ya
ini seperti tidak adil bagi kedua laki-laki itu bisa Velicia memilih diantara
mereka. Namun juga dia tidak bisa melupakan Sehan begitu saja, dan melupakan
jasa Hans pun tidak bisa, Hans adalah suaminya sekarang.
**Dikantor
Suasana kantor yang seperti biasanya,
sangat sibuk. Mereja yang sibuk mengerjakan bagiannya masing-masing.
“Hei….melamun ajah. Ada apa?” Hannie
yang datang menghampiri mengagetkan lamunan Velicia.
“Kamu yah.” Velicia dengan tidak
bersemangat.
“Kenapa sih, ini berkas-berkas
kerjaanmu.” Hannie menyerahkan satu gepok kertas-kertas.
“Gapapa, makasih yah. Banyak banget
kerjaan.” Velicia mengeluh
“Aku buatin kopi ya, biar semangat.”
Hannie lagi berusaha menghibur dan pergi ke dapur membuat kopi.
Beberapa menit berlalu, Hannie pun
kembali dengan satu cangkir kopi di tangannya dan datang menghampiri Velicia
yang masih sibuk menatapi komputernya dengan sesekali melihat ke kertas-kertas
di hadapannya itu.
“Ada apa sih Vel, ini kopimu dan
segera ceritakan.” Hannie memberikan gelas kopinya dan Velicia segera menyambut
mengambil gelas kopi itu.
“Sehan ngajakin aku bertemu.” Tanpa
basa-basi dan terus fokus pada kerjaanya Velicia menceritakan.
“Loh bagus dong akhirnya kan.” Hannie
antusias
“Masalahnya aku adalah istri orang
sekarang.” Velicia dengan nada biasanya.
“Yah kan Cuma bertemu apa salahnya?”
__ADS_1
Hannie terlihat bingung.
“Betul juga ya. Ini gak termasuk
selingkuh kan?” Velicia bertanya penuh semangat sekarang.
“Tentu saja tidak, bukannya kamu dan
Sehan tidak ada hubungan? Dan lagi kamu dan Hans hanya menikah kontrak. Atau
jangan-jangan kamu dan Hans sudah membuat perjanjian lain?” Hannie menyelidik.
“Kamu benar, aku dan Hans sudah
saling mencintai dan kami suami istri.” Velicia polos.
“Hahaha…. Aku tau sekarang. Huft…
Percintaanmu begitu rumit. Sudahlah lakukan apa yang menurutmu benar saja ikuti
kata hatimu sayangku.” Hannie yang selalu mengerti sahabatnya itu.
“Kamu yang terbaik.” Velicia memeluk
erat Hannie.
“Hei, lepaskan semua orang bisa salah
paham dengan sikapmu. Aku ini udah jomblo sejak lama tega kamu membuat imag ku
buruk dengan pelukanmu itu?” Hannie marah dan seperti biasa mengomel tanpa henti.
“Aih…..kamu ini sahabatku atau ibu ku
sih. Cerewet sekali. Pergilah sana, kerjaanku tidak akan beres jika kamu disini
untuk mengobrol.” Velicia tak kalah geramnya.
“Baiklah aku pergi, kerjakan
pekerjaanmu dengan baik.” Hennie pergi meninggalkan meja Velicia.
Velicia mengerjakan pekerjaanya
dengan baik, dan menyelesaikannya sampai jam pulang tiba.
17:30 waktu pulang kantorpun telah
tiba, seperti yang Sehan janjikan dia sudah menunggu di depan gedung kantor
dengan moilnya, Sehan yang tengah bersandar dengan gagahnya di pintu mobilnya
dengan kaki jenjangnya dan juga jas setelan rapih yang masih menempel indah di
tubuhnya melukiskan jelas lengkuk tubuhnya yang proporsional bak model.
Wajahnya yang maskulin dengan garis-garis wajah yang menonjol, matanya yang
biru dan bersinar seperti lautan, bibirnya yang tipis namun juga terlihat
begitu sexi, membuat setiap mata tertuju padanya. Seketika jam pulang kerja
menjadi begitu ramai dengan gosip para wanita yang berbisik-bisik mengagumi
pemandangan yang indah itu.
Matahari belum terbenam sempurna,
masih terlihat jelas pemandangan itu, laki-laki tampan dengan mobil BMW
hitamnya yang mengkilat itu.
“Ka Sehan.” Velicia melangkah
menghampiri Sehan yang tengah tersenyum ke arahnya dengan tatapan penuh cinta.
“Hai, ayo masuk.” Sehan segera
membukaan pintu mobilnya untuk Velicia.
Didalam mobil suasanyanya agak
sedikit canggung, Velicia yang nampak sedikit canggung dan hanya terdiam di jok
itu juga terus fokus menyetir dan sesekali melihat ke arah Velicia dan
tersenyum.
“Kamu apa kabar Chiaku.” Sehan yang
sengaja memanggilnya dengan panggilan kesayangannya dulu, Chiaku yang berarti
cinta ku, Velicia cinta ku maksud dari panggilan itu.
“Ka.” Velicia tertegun dan tidak
dapat berbicara apapun mendengar nama panggilan yang spesial itu.
“Aku ingat dulu, kamu begitu cengeng
dan cerewet sekali. Sampai membuatku pusing, saat itu kamu seperti adik
kandungku yang selalu menempel padaku. Sampai teman-temanku juga berfikir kamu
ini adikku. Aku sangat marah saat itu, karena aku tidak ingin menjadi kaka dari
siapapun. Hahaha,,, masa-masa itu lucu sekali.” Sehan mencoba mengenang masa
lalu dan berbicara sambil tetap fokus pada kemuinya.
“Aku ingat semua, aku juga ingat saat
ka Sehan tiba-tiba pergi tanpa bilang apapun.” Velicia dengan sedihnya dan
menunduk.
“Aku jahat sekali kan padamu.” Kini
suara Sehan melemah namun dia berkata sambil tersenyum getir.
“Iyah, aku berfikir kaka lah yang
paling jahat padaku.” Velicia masih menunduk.
“Aku akan mengajak kamu ke caffe.
Caffe yang dulu sering kita datangi pas aku kuliah dan kamu dulu masih SMA
yah.” Sehan ceria kembali.
“Aku sudah lama sekali tidak kesana.”
Velicia berubah menjadi tak sedih lagi.
Sehan terus mengemudikan mobilnya dan
Velicia hanya melihati pemandangan dari jendela mobil itu, pemandangan yang
tetap sama seperti dulu dan hanya ada sedikit perubahan saja.
Perbedaan umur Sehan dan Velicia
adalah 5 tahun, saat dulu Sehan dan Velicia saling tau perasaan masing-masing
adalah saat sehan kuliahnya hampir selesai dan Velicia baru masuk SMA dan caffe
yang mereka sering kunjungi untuk menikmati masa-masa indah adalah caffe dekat
sekolah Velicia dulu. Dulu memang Sehan yang selalu menjemput Velicia pulang
dan sebelum pulang mereka mampir ke caffe itu.
Jadi mereka memang sudah lama sekali
saling kenal 1 dan lainnya, berawal dari saat Sehan SMA dia adalah tetangga
Velicia, dan karena tetangga dan ibu mereka berhubungan baik maka kedua anak
ini juga sering bertemu. Sehan yang saat itu adalah seorang remaja dan Velicia
yang saat itu juga adalah masih anak-anak. Velicia yang saat itu sering
diganggu anak-anak komplek dan hanya bisa menangis. Dan Sehanlah yang selalu
menolongnya untuk menghadapi anak-anak koplek yang nakal itu.
__ADS_1
Hingga Velicia menjadi tergantung
padanya dan menempel setiap saat pada Sehan, namun karena sifat Sehan yang
dingin juga sangat tidak mau punya adik maka dia tidak mau jika Velicia
dianggap sebagai adiknya namun juga timbul perasaan Sehan harus selalu
melindungi Velicia. Hingga waktu berjalan seperti semestinya, hubungan mereka
semakin dekat dan Sehan juga sudah terbiasa akan kehadiran Velicia.
Hingga saan Sehan masuk kuliah, Sehan
harus pindah karena kedua orang tuanya berpisah. Namun perpindahan Sehan tidak
menghalangi cintanya pada Velicia, hingga setiap hari Sehan curi-curi waktu
tetap bertemu Velicia, sampai pada saat Sehan kuliah, Sehan baru menyadari jika
dia telah jatuh cinta pada Velicia, dan Veliciapun sama juga mencintai Sehan.
Hingga merekapun semakin dekat menjalani cinta sebagai pasangan. Dang serig
jalan bersama menjadi seorang kekasih. Sehan sangat mencintai Velicia dan
Velicia juga sangat mencintai Sehan.
Tahun berganti tahun saat dimana
Sehan sudah bekerja di tahun itu Sehan tiba-tiba menghilang tanpa jejak,
meskipun masih ada beberapa kabar dari Sehan yang bilang dia baik-baik saja,
yang sebelumnya dia masih dapat dihubungi dan akhirnya Velicia kehilangan
kontak penuh selama 1 tahun, dalam kurun waktu 1 tahun itu Velicia sangat sedih,
dan banyak sekali yang terjadi di tahun itu. Hingga dia kehilangan segalanya
dan harus berjuang untuk menyelamatkan adiknya.
**Caffe Drink
“Masih sama ya tempatnya seperti
dulu.” Velicia menyelidik mengitari seluruh ruangan caffe itu.
“Apa kamu juga masih sama?” Sehan
tiba-tiba
“Jelas kita sudah berbeda.” Velicia
tegas.
“Aku masih berharap ada sedikit celah
yang sama.” Sehan tersenyum.
“Jangan mengharap yang belum tentu
bisa diharapkan.” Velicia ketus.
“Berharap itu manusiawi Chiaku. Ayo,
pesanlah yang kamu mau.” Memberikan buku menu.
“Terserah kamu saja.” Velicia kesal.
“Kamu sudah umur 24 tapi masih
seperti anak-anak saja. Masih suka ngambek.” Sehan mengejek.
“Ka Sehan bukannya kamu sudah umur 30
ya? Tapi kamu masih suka mengejek.” Velicia membalas dengan kesal.
“Kamu seperti kucing yang ingin makan
jika marah.” Sehan tersenyum
“Aku benci kamu ka.” Velicia ngambek.
“Chiaku, aku akan selalu menjagamu
mulai sekarang, jika tidak bisa menjadi kekasih maka menjadi kaka aku pun tidak
keberatan.” Sehan menggapai tangan Velicia dan menggenggamnya.
“Kaka.” Velicia terharu dengan ucapan
Sehan.
“Cintaku dan sayangku padamu masih
sama tidak pernah berkurang. Dan aku berjanji padamu aku akan selalu ada mulai
saat ini untukmu dan kamu berjanjilah untuk selalu datang padaku saat kamu
kesulitan.” Sehan serius dan matanya berkaca.
“Iyah ka, aku berjanji.” Velicia
segera mengangguk dan mengiyakan.
“Kamu adikku sekarang kan.” Sehan
menegaskan
“Iyah ka.” Velicia setuju.
Velicia, sayang sekali aku berbuat
kesalahan fatal yang membuat kamu tak lagi jadi milikku. Namun ku tau cintamu
juga masih ada walau sedikit untukku. Ya aku harus berusaha membuatmu jatuh
cinta lagi untuk yang ke 2x nya denganku. Namun cukup saja kamu menjadikanku
sebagai sandaranmu sudah lebih daripada cukup untukku. Aku selalu mencintaimu
Velicia. Dalam
hati Sehan masih berkecambuk rasa bersalahnya yang terus menghantuinya juga
rasa cintanya yang setiap saat meluap ingin keluar.
Ka Sehan, aku tau ini tak adil
bagimu. Tapi mungkin dengan kamu menjadi kaka ku kembali maka hubungan kita
akan terus dekat. Takdir yang telah menentukan jika kita memang tidak
ditakdirkan untuk bersama. Ka Sehan, aku menyayangimu dulu dan sekarang masih
sama. Mungkin takdir memang menyatukan kita sebagai kaka dan adik saja. Velicia dalam hatinya yang sudah ada
Hans namun juga ada sehan yang kini dia anggap sebagai kaka.
“Sudah larut malam ka. Aku sudah
harus pulang ke rumah.” Velicia merapikan handpone nya memasukkannya kedalam
tas dan bersiap-siap meninggalkan caffe itu.
“Aku antar kamu pulang ya.” Sehan pun
segera bangkit dari duduknya.
“Baiklah.” Mereka berdua jalan bergandengan
tangan. Sekarang gandengan tangan itu hanyalah bergandengan sebatas teman dan
adik kaka.
Sehan mengantar Velicia pulang ke
apartemen, dan Sehan hanya mengantarnya sampai lobi apartemen. Lalu membiarkan
Velicia masuk sendiri dan Sehanpun pergi pulang ke rumahnya.
Begitupun Velicia yang juga memasuki
lift dan menuju ke apartemennya.
__ADS_1