
10
Akhirnya ku tau
Tak lama kemudian taxi tersebut telah sampai
mengantarkannya ke halaman lobi apartemen. Dan segera dia membayarnya seperti
argo yang sudah ada.
Tubuhnya dan wajahnya yang terlihat sangat letih
berjalan menuju lift dan ditekannya tombol lantai dia tinggal.
Sampai sudah dirumahnya yang kini terasa sudah tidak
nyaman lagi baginya, apartemen yang dulunya adalah tempat ternyamannya kini
seperti tempat yang kehilangan oksigen yang sewaktu-waktu oksigen di tempat ini
akan benar-benar habis dan membuatnya sesak dan mati tercekik. Taukan rasanya
bagaimana bisa suami kita terus didatangi mantan cinta pertamanya di rumahnya.
Ini hanya masalah waktu baginya, lambat laun ketakutannya mungkin akan menjadi
kenyataan.
Dan Velicia sedang mempersiapkan kemungkinan terburuk
yang akan dia terima nantinya.
“Vel, kenapa baru pulang? Kemana ajah abis dari mana
kamu?” Hans mulai mencecarnya dengan banyak pertanyaan dengan memegangi Pundak
kecil Velicia, tubuh Velicia tak merespon hanya tertunduk diam dan sesekali memandangi
Hans yang saat ini penuh ke khawatiran dalam rautnya.
Apa kamu benar sedang khawatir Hans denganku? Apa
benar begitu? Hans, sebenarnya siapa yang mengisi hatimu saat ini? Apa kamu
benar mencintaiku wanita yang baru saja kamu kenal? Apa kamu benar saat bilang
mencintaiku setelah apa yang kita lakukan bersama? Kamu bilang aku istrimu,
benarkah Hans? Gumamnya getir dalam
hatinya. Seketika sakit yang menyerbu menusuk bagai tusukan beribu sembilu yang
berhasil membuat hatinya penuh luka. Mengbayangkan jabawan terpahit dari
pertanyaan yang terus menyerbu dalam batinnya. Ingin rasanya dia Menggeru
dengan kuat-kuat mengatakan SAKITTTTTTTTT sangat SAKITTTT
“Kenapa?” Velicia sampai kehilangan kata-katanya.
“Aku khawatir kamu bilang kenapa?” Hans dengan nadanya
yang naik membelalakkan matanya.
“Aku baik-baik saja. Harusnya kamu khawatir dengan
Jessica.” Velicia menahan kegetiran hatinya karena harus menyebuh nama wanita
itu. Dan memalingkan tubuhnya ke sisi kiri.
“Apa kamu cemburu padanya?” Hans menerka. Dan tebakannya
tak salah lagi.
“Tidak Hans, aku hanya lelah.” Velicia melepaskan
tahan Hans yang masih saja bertengger menggenggam pundaknya.
“Dia sedang sakit Vel, dia…. tidak ada yang menjaganya
saat ini. Dan aku harus menjaganya Vel untuk sementara waktu.” Suara Hans
melemah dan terdengar sendu dia tertunduk lesu seperti bimbang.
Velicia terdiam sejenak, merasakan hatinya yang saat
ini tengah dihujani ribuan jarum yang memerihkan.
Aku baru tau Hans, kamu juga seorang dokter ternyata
yang harus merawat pasienmu itu. Hahaha, aku seperti orang yang benar-benar
bodoh sekarang. Mendengar suamiku hendak menjaga wanita lain dan wanita itu
adalah mantang cinta pertamanya. Hahahaha, sukses sudah kamu Hans membuat
hatiku terluka terlalu dalam. Aku jadi ingin tau bagaimana caramu merawat orang
sakit itu? Aku yang harus tau diri sekarang, iyahkan Hans? Velicia haya dapat membicarakan kata-katanya dalam hati
dan sesekali tersenyum getir untuk dirinya sendiri.
“Baiklah Hans aku mengerti.” Velicia berlalu
meninggalkan Hans yang masih berdiri di tuang tamu. Namun belum langkahnya jauh
dia berhenti karena tangannya di tahan oleh Hans. Hans menarik tangannya kuat
hingga tubuh Veliciapun jatuh kepelukan Hans.
“Vel, ku mohon jangan cemburu padanya. Dia hanyalah
masalalu bagiku, dan kini aku hanya ingin merawatnya saja memenuhi janjiku
padanya.” Hans berkata lirih dan memeluk erat Velicia.
“Kenapa kamu tidak nikahi dia saja Hans, biar janjimu
lunas dan kamu bisa menjaganya selalu.” Velicia dengan kegetirannya mencoba
menahan sakit yang terus berdatangan.
“Bagaimana mungkin Vel, aku sangat mencintaimu.” Hans
menambah erat pelukannya.
“Oyah Hans, coba tanyakan lagi pada hatimu.” Velicia
melawan mencoba melepas pelukannya dan menahan tangisnya yang sudah hampir
tidak dapat dia bendung. Namun usaha melepas pelukan itu hanya sia-sia. Hans
terus bertambah erat memeluknya dan bahkan kini dadanya terasa begitu sesak.
“Aku benar-benar mencintaimu Vel.” Kini suara Hans
mulai bergetar dan terus memeluk Velicia erat.
“Kamu bisa berfikir dulu Hans. Aku lelah aku ingin
tidur, lepaskan pelukanmu yang membuatku sesak.” Velicia kali ini berhasil
melepaskan pelukan itu.
“Aku tidur denganmu ya Vel.” Hans lagi-lagi
__ADS_1
menhentikan langkahku.
“Aku sedang ingin sendiri.” Velicia kini tak
menghiraukannya lagi.
Langkah Velicia kini cepat memasuki kamarnya dan
mengunci dirinya di dalam kamar, tangisannya pecah seketika dan tak lagi mampu
dia bendung. Hatinya sudah tertusuk-tusuk tak berbentuk lagi kini. Velicia
hanya mampu membenamkan wajah dan tubuhnya di kasur dan bantalnya yang empuk
itu. Dia sampai lupa awal terjadinya pernikahan ini, dia lupa ada nyawa yang
sedang dia perjuangkan saat ini, dia lupa juga jika rasa sakit dan kesedihannya
ini hanya akan membuatnya terlihat lemah. Dia lupa jika dia harus lebih kuat
untuk adiknya. Yang dia ingat sekarang hanyalah kata-kata cinta yang
memabukkannya itu, kata-kata suaminya yang sangat manis yang membuatnya sangat
dalam terjatuh. Yang dia ingat saat ini hanya luka saat mengetahui suaminya
ingin merawat wanita lain, dan begitu melindunginya. Yang dia ingat hanya
identitas wanita itu, wanita yang dulu suaminya sangat cintai dan datang
kembali. Yang dia ingat hanya bayangan jika suatu hari nanti atau besok
suaminya itu yang berkata sangat mencintainya itu akhirnya kembali dengan
mantannya.
Lucu tidak ceritanya? Suaminya yang baru saja
memberinya begitu banyak cinta lalu bisa kapan saja melupakan cintanya itu.
Manusia memang gampang sekali berubah. Namun harus Velicia ingat kembali
pernikahan ini adalah awalnya hanya pernikahan kontrak. Meski secara agama dan
negara adalah sah, kontrak ini berdasarkan keputusan bersama. Lucu sekali,
Velicia yang begitu merasa sesak, padahal sudah jelas Hans hanya menginginkan
pernikahan kontrak saja. Lucunya Velicia yang merasa sangat dipermainkan pun
rasanya sangat percuma menyesal ditengah jalan begini.
Kenapa kamu tidak sadar juga sih Velicia, jika kamu
ini sedang dipermainkan. Hahaha, dasar aku ini bodoh, aku sudah dipermainkan
dengan mudah. Jelas-jelas dia hanya menikahiku karena ingin jabatan dan semua
harta kakeknya. Terus aku dengan mudah jatuh ke dalam cinta palsunya, terdengar
sangat bodoh bukan? Bahkan aku melupakan adikku. Ah…. Sudah lah berhenti
menjadi rapuh, dan jangan bertindak sebodoh ini kumohon.Velicia mencoba menenangkan dirinya dan menguatkan
dirinya.
Seketika rasa lapar pun menggugahnya dari
kerapuhannya, dan kini tangisnya berhenti dan pertekad menjadi sekuat karang.
Dan menutup semua luka di katinya, lalu memnuat hatinya menjadi beku. Velicia
segera keluar kamarnya dan langsung saja melihat Hans yang tengah duduk di
“Malam Hans.” Sapa Velicia dengan tenang, Hans segera
membelalakkan matanya dan tertegun melihat Velicia yang biasa saja tanpa
terjadi apa-apa. Padahal 1 jam yang lalu Velicia begitu terlihat sedih dan
begitu cemburu. Hans segera menghampiri Velicia dan melangkah mengikuti Velicia
yang menuju ke dapur.
“Kenapa Hans? Apa kamu lapar?” Velicia sangat tenang
dengan senyuman yang menggoda mengembang.
“Apa kamu baik-baik saja Vel.” Hans menanyakan dengan
khawatir.
“Apa yang kamu fikirkan? Apa aku terlihat tidak baik?
Ayolah, aku baik-baik saja. Aku akan buat spageti, apa kamu juga mau? Aku akan
buatkan juga untukmu yah. Duduklah dan diam saja di meja makan.” Perkataan
Velicia dan sikap yang sangat biasa seperti tidak terjadi apapun dia kini
menyiapkan segalanya untuk mulain membuat makanan.
Bukannya aku telah menyakitinya? Tapi kenapa dia
terlihat sangat normal. Bukannya sesaat tadi dia begitu sedih dan cemburu? Dan
sekarang dia begitu terlihat tenang seperti tidak terjadi apapun barusan. Hans yang bingung dengan sikap Velicia yang berubah begitu
cepat.
“Ini makananmu, makanlah selagi masih panas. Jika
sudah dingin dia tidak begitu enak.” Velicia memberikan sepiring spageti
lengkap dengan sausnya.
“Terimakasih Vel.” Hans langsung mengaduk makanannya.
“Oyah, bagaimana perkembangan adikku?” Velicia
bertanya sambil mengaduk juga makanannya.
“Hem….perkembangannya begitu baik. Katanya dalam waktu
beberapa minggu lagi akan sadar harusnya.” Hans menjelaskan.
“Baiklah, aku akan menunggunya. Aku tidak sabar lagi
ingin melihatnya.” Velicia antusias melupakan, benar-benar melupakan sakitnya
dan menjadi begitu kuat.
“Apa kamu marah mengenai Jessica tadi?” Hans
berhati-hati bertanya.
“Hahaha, mengapa aku harus marah? Aku hanya sangat
lelah tadi dan aku sudah istirahat hingga lelahku hilang.” Velicia yang benar-benar
kuat tekatnya.
Iyah, aku telah istirahat juga hatiku telah
istirahat Hans. Hingga rasanya seperti tidak sakit lagi, cintamu yang
__ADS_1
memabukkan itu, cintaku untukmu telah aku kubur dalam-dalam sesaat tadi. Kamu
yang telah memberiku pilihan sejam yang lalu. Dengan senyum sinisnya Velicia hanya berkata-kata
dalam hatinya.
“Dia datang padaku, bilang dia sakit parah hingga memberikan
surat vonis dari dokter. Dan dia ingin aku yang merawatnya disisa hidupnya yang
tidak akan lama lagi. Aku bingung harus bagaimana, dan akhirnya aku kasihan dan
berjanji akan merawat dan menjaganya. Tapi Vel aku yakinkan padamu jika aku
sangat mencintaimu. Dia hanya masa laluku saja.” Hans menjelaskan juga
memegangi tanggan Velicia menjelaskan.
“Kenapa kamu repot-repot menjelaskannya. Sudahlah aku
tidak mempermasalahkannya lagi.” Velicia juga tenang mengatakannya.
“Pernikahan kita bukan lagi pernikahan kontrak, lihat
kontrak ini sudah aku robek.” Hans menunjukan kertas kontrak yang dulu Velicia
tanda tangani memang sudah berkeping-keping menjadi serpihan kecil.
Mata Velicia terbelalak kaget bukan main, sesaat dia
pun mengingat kembali kata-kata Hans.
“Aku ingin kamu jadi istriku selamanya, aku
mencintaimu dan sangat mencintaimu.” Hans kini bangkit dari duduknya dan memeluk
Velicia yang tengah duduk di hadapannya itu.
Jadi, dia benar-benar mencintaiku? Pernikahan ini
sungguhan? Velicia Meyakinkan
dalam hati.
Lagi-lagi tembok es yang sudah di susun dalam hatinya
meleleh seketika, bahagia. Iyah hanya bahagia yang terlukis dalam wajah
Velicia, dia benar-benar merasa tengah dicintai. Kontrak itu tengah hilang, cap
kontrak itu musnah sudah, dan seketika itu pula Hans berkata sangat manis
membuat hatinya benar-benar bahagia kembali. Luka-luka yang ada dalam hatinya
seketika bagaikan tersihir sembuh total mulus kembali bahkan dua kali lebih
mulus dari sebelumnya.
Anehnya kekuatan cinta, ya, benar Hans mencintai
Velicia, dan Velicia tidak lagi harus membohongi perasaannya. Lucu sekali cinta
itu.
“Benarkah Hans yang kamu katakan barusan?” Velicia
mencoba meyakinkan apa yang barusan dia dengar.
“Vel, aku yakin dengan hatiku aku mencintaimu dan kamu
adalah istriku selamanya.” Hans menelungkupkan kedua tangannya pada pipi
Velicia dan mencium mesra kening Velicia dan disusul ciuman mesra di bibir
Velicia dan melumat habis bibirnya yang merah itu.
“Terimakasih Hans.” Velicia memeluk balik Hans. Tubuh
Velicia benar-benar mungil, tingginya yang hanya sampai sedada Hans.
“Aku akan terus mencintaimu.” Hans memeluk erat tubuh
mungil Velicia dan menciumi rambut wanitanya itu.
Mencintaiku tidaklah seperti ini Hans caranya, ini
semua terlalu sakit dadaku sesak terhimpit dan hatiku mulai tersayat-sayat
perih sekali. Lalu sesaat kemudian kamu melambungkanku lagi tinggi sekali
hingga aku begitu bahagia. Kata-kata cinta darimu sungguh menyesatkan. Akankah
suatu hari nanti aku akan selalu terbuai kata-kata indahmu Hans? Namun ya lagi dan
lagi aku begitu terlena.
Hari ini hari yang begitu panjang, sangat panjang
dengan segala drama yang berentetan menguras emosi dan juga menguak seluruh
sisi. Bagaimana tidak Velicia yang begitu sabar menghadapi sikap Jessica,
Velicia yang begitu sabar melihat suaminya begitu perhatian kepada mantannya.
Velicia yang hatinya sangat terluka.
Lalu……..
Segalanya, segala penderitaan dan derita Velicia
menguap begitu saja bagaikan uap air yang hanya menyisakan embun, embun yang
bisa hilang juga begitu saja. Semua, semua karena kekuatan atas cinta.
Benar, cinta itu memang memabukkan bahkan membuat
hilangnya akal. Cinta juga ajaib, mengubah luka menjadi bahagia, mengubah air
tenang menjadi api, mengubah api menjadi air tenang, mengubah batu menjadi
lunak. Hah??? Bagaimana mungkin? Yah, namanya juga ajaib. Kan sudah dibilang
ajaib, jadi yang tidak bisa sederhanakan saja menjadi bisa.
Velicia terbang tinggi menembus batas cakrawala
mengarungi awan putih berpijak atas dasar cinta, cintanya pada Hans yang
membuatnya begitu mabuk kepayang memberikan Hans kepercayaan lagi. Kata-kata
yang begitu indah membius terngiang mengobati segala luka dalam hatinya yang
baru saja tertoreh. Kekuatan cinta bagaikan sihir menutup segala luka hanya
dalam hitungan detik. Cinta begitu dahsyat memabukkan seperti biaus.
Hans terus memeluk Velicia dengan erat, dan Velicia
juga membalas pelukan Hans. Benar-benar kekuatan cinta lagi dan lagi telah
menyatukan mereka kembali. Rasa marah yang sedari tadi menggebu bagaikan api
yang menyala berkobar, namun kini api itu telah padam terkena siraman air yang
menyejukkan.
__ADS_1