KONTRAK DAN TAKDIR CINTA

KONTRAK DAN TAKDIR CINTA
Akhirnya ku Tau


__ADS_3

10


Akhirnya ku tau


Tak lama kemudian taxi tersebut telah sampai


mengantarkannya ke halaman lobi apartemen. Dan segera dia membayarnya seperti


argo yang sudah ada.


Tubuhnya dan wajahnya yang terlihat sangat letih


berjalan menuju lift dan ditekannya tombol lantai dia tinggal.


Sampai sudah dirumahnya yang kini terasa sudah tidak


nyaman lagi baginya, apartemen yang dulunya adalah tempat ternyamannya kini


seperti tempat yang kehilangan oksigen yang sewaktu-waktu oksigen di tempat ini


akan benar-benar habis dan membuatnya sesak dan mati tercekik. Taukan rasanya


bagaimana bisa suami kita terus didatangi mantan cinta pertamanya di rumahnya.


Ini hanya masalah waktu baginya, lambat laun ketakutannya mungkin akan menjadi


kenyataan.


Dan Velicia sedang mempersiapkan kemungkinan terburuk


yang akan dia terima nantinya.


“Vel, kenapa baru pulang? Kemana ajah abis dari mana


kamu?” Hans mulai mencecarnya dengan banyak pertanyaan dengan memegangi Pundak


kecil Velicia, tubuh Velicia tak merespon hanya tertunduk diam dan sesekali memandangi


Hans yang saat ini penuh ke khawatiran dalam rautnya.


Apa kamu benar sedang khawatir Hans denganku? Apa


benar begitu? Hans, sebenarnya siapa yang mengisi hatimu saat ini? Apa kamu


benar mencintaiku wanita yang baru saja kamu kenal? Apa kamu benar saat bilang


mencintaiku setelah apa yang kita lakukan bersama? Kamu bilang aku istrimu,


benarkah Hans? Gumamnya getir dalam


hatinya. Seketika sakit yang menyerbu menusuk bagai tusukan beribu sembilu yang


berhasil membuat hatinya penuh luka. Mengbayangkan jabawan terpahit dari


pertanyaan yang terus menyerbu dalam batinnya. Ingin rasanya dia Menggeru


dengan kuat-kuat mengatakan SAKITTTTTTTTT sangat SAKITTTT


“Kenapa?” Velicia sampai kehilangan kata-katanya.


“Aku khawatir kamu bilang kenapa?” Hans dengan nadanya


yang naik membelalakkan matanya.


“Aku baik-baik saja. Harusnya kamu khawatir dengan


Jessica.” Velicia menahan kegetiran hatinya karena harus menyebuh nama wanita


itu. Dan memalingkan tubuhnya ke sisi kiri.


“Apa kamu cemburu padanya?” Hans menerka. Dan tebakannya


tak salah lagi.


“Tidak Hans, aku hanya lelah.” Velicia melepaskan


tahan Hans yang masih saja bertengger menggenggam pundaknya.


“Dia sedang sakit Vel, dia…. tidak ada yang menjaganya


saat ini. Dan aku harus menjaganya Vel untuk sementara waktu.” Suara Hans


melemah dan terdengar sendu dia tertunduk lesu seperti bimbang.


Velicia terdiam sejenak, merasakan hatinya yang saat


ini tengah dihujani ribuan jarum yang memerihkan.


Aku baru tau Hans, kamu juga seorang dokter ternyata


yang harus merawat pasienmu itu. Hahaha, aku seperti orang yang benar-benar


bodoh sekarang. Mendengar suamiku hendak menjaga wanita lain dan wanita itu


adalah mantang cinta pertamanya. Hahahaha, sukses sudah kamu Hans membuat


hatiku terluka terlalu dalam. Aku jadi ingin tau bagaimana caramu merawat orang


sakit itu? Aku yang harus tau diri sekarang, iyahkan Hans? Velicia haya dapat membicarakan kata-katanya dalam hati


dan sesekali tersenyum getir untuk dirinya sendiri.


“Baiklah Hans aku mengerti.” Velicia berlalu


meninggalkan Hans yang masih berdiri di tuang tamu. Namun belum langkahnya jauh


dia berhenti karena tangannya di tahan oleh Hans. Hans menarik tangannya kuat


hingga tubuh Veliciapun jatuh kepelukan Hans.


“Vel, ku mohon jangan cemburu padanya. Dia hanyalah


masalalu bagiku, dan kini aku hanya ingin merawatnya saja memenuhi janjiku


padanya.” Hans berkata lirih dan memeluk erat Velicia.


“Kenapa kamu tidak nikahi dia saja Hans, biar janjimu


lunas dan kamu bisa menjaganya selalu.” Velicia dengan kegetirannya mencoba


menahan sakit yang terus berdatangan.


“Bagaimana mungkin Vel, aku sangat mencintaimu.” Hans


menambah erat pelukannya.


“Oyah Hans, coba tanyakan lagi pada hatimu.” Velicia


melawan mencoba melepas pelukannya dan menahan tangisnya yang sudah hampir


tidak dapat dia bendung. Namun usaha melepas pelukan itu hanya sia-sia. Hans


terus bertambah erat memeluknya dan bahkan kini dadanya terasa begitu sesak.


“Aku benar-benar mencintaimu Vel.” Kini suara Hans


mulai bergetar dan terus memeluk Velicia erat.


“Kamu bisa berfikir dulu Hans. Aku lelah aku ingin


tidur, lepaskan pelukanmu yang membuatku sesak.” Velicia kali ini berhasil


melepaskan pelukan itu.


“Aku tidur denganmu ya Vel.” Hans lagi-lagi

__ADS_1


menhentikan langkahku.


“Aku sedang ingin sendiri.” Velicia kini tak


menghiraukannya lagi.


Langkah Velicia kini cepat memasuki kamarnya dan


mengunci dirinya di dalam kamar, tangisannya pecah seketika dan tak lagi mampu


dia bendung. Hatinya sudah tertusuk-tusuk tak berbentuk lagi kini. Velicia


hanya mampu membenamkan wajah dan tubuhnya di kasur dan bantalnya yang empuk


itu. Dia sampai lupa awal terjadinya pernikahan ini, dia lupa ada nyawa yang


sedang dia perjuangkan saat ini, dia lupa juga jika rasa sakit dan kesedihannya


ini hanya akan membuatnya terlihat lemah. Dia lupa jika dia harus lebih kuat


untuk adiknya. Yang dia ingat sekarang hanyalah kata-kata cinta yang


memabukkannya itu, kata-kata suaminya yang sangat manis yang membuatnya sangat


dalam terjatuh. Yang dia ingat saat ini hanya luka saat mengetahui suaminya


ingin merawat wanita lain, dan begitu melindunginya. Yang dia ingat hanya


identitas wanita itu, wanita yang dulu suaminya sangat cintai dan datang


kembali. Yang dia ingat hanya bayangan jika suatu hari nanti atau besok


suaminya itu yang berkata sangat mencintainya itu akhirnya kembali dengan


mantannya.


Lucu tidak ceritanya? Suaminya yang baru saja


memberinya begitu banyak cinta lalu bisa kapan saja melupakan cintanya itu.


Manusia memang gampang sekali berubah. Namun harus Velicia ingat kembali


pernikahan ini adalah awalnya hanya pernikahan kontrak. Meski secara agama dan


negara adalah sah, kontrak ini berdasarkan keputusan bersama. Lucu sekali,


Velicia yang begitu merasa sesak, padahal sudah jelas Hans hanya menginginkan


pernikahan kontrak saja. Lucunya Velicia yang merasa sangat dipermainkan pun


rasanya sangat percuma menyesal ditengah jalan begini.


Kenapa kamu tidak sadar juga sih Velicia, jika kamu


ini sedang dipermainkan. Hahaha, dasar aku ini bodoh, aku sudah dipermainkan


dengan mudah. Jelas-jelas dia hanya menikahiku karena ingin jabatan dan semua


harta kakeknya. Terus aku dengan mudah jatuh ke dalam cinta palsunya, terdengar


sangat bodoh bukan? Bahkan aku melupakan adikku. Ah…. Sudah lah berhenti


menjadi rapuh, dan jangan bertindak sebodoh ini kumohon.Velicia mencoba menenangkan dirinya dan menguatkan


dirinya.


Seketika rasa lapar pun menggugahnya dari


kerapuhannya, dan kini tangisnya berhenti dan pertekad menjadi sekuat karang.


Dan menutup semua luka di katinya, lalu memnuat hatinya menjadi beku. Velicia


segera keluar kamarnya dan langsung saja melihat Hans yang tengah duduk di


“Malam Hans.” Sapa Velicia dengan tenang, Hans segera


membelalakkan matanya dan tertegun melihat Velicia yang biasa saja tanpa


terjadi apa-apa. Padahal 1 jam yang lalu Velicia begitu terlihat sedih dan


begitu cemburu. Hans segera menghampiri Velicia dan melangkah mengikuti Velicia


yang menuju ke dapur.


“Kenapa Hans? Apa kamu lapar?” Velicia sangat tenang


dengan senyuman yang menggoda mengembang.


“Apa kamu baik-baik saja Vel.” Hans menanyakan dengan


khawatir.


“Apa yang kamu fikirkan? Apa aku terlihat tidak baik?


Ayolah, aku baik-baik saja. Aku akan buat spageti, apa kamu juga mau? Aku akan


buatkan juga untukmu yah. Duduklah dan diam saja di meja makan.” Perkataan


Velicia dan sikap yang sangat biasa seperti tidak terjadi apapun dia kini


menyiapkan segalanya untuk mulain membuat makanan.


Bukannya aku telah menyakitinya? Tapi kenapa dia


terlihat sangat normal. Bukannya sesaat tadi dia begitu sedih dan cemburu? Dan


sekarang dia begitu terlihat tenang seperti tidak terjadi apapun barusan. Hans yang bingung dengan sikap Velicia yang berubah begitu


cepat.


“Ini makananmu, makanlah selagi masih panas. Jika


sudah dingin dia tidak begitu enak.” Velicia memberikan sepiring spageti


lengkap dengan sausnya.


“Terimakasih Vel.” Hans langsung mengaduk makanannya.


“Oyah, bagaimana perkembangan adikku?” Velicia


bertanya sambil mengaduk juga makanannya.


“Hem….perkembangannya begitu baik. Katanya dalam waktu


beberapa minggu lagi akan sadar harusnya.” Hans menjelaskan.


“Baiklah, aku akan menunggunya. Aku tidak sabar lagi


ingin melihatnya.” Velicia antusias melupakan, benar-benar melupakan sakitnya


dan menjadi begitu kuat.


“Apa kamu marah mengenai Jessica tadi?” Hans


berhati-hati bertanya.


“Hahaha, mengapa aku harus marah? Aku hanya sangat


lelah tadi dan aku sudah istirahat hingga lelahku hilang.” Velicia yang benar-benar


kuat tekatnya.


Iyah, aku telah istirahat juga hatiku telah


istirahat Hans. Hingga rasanya seperti tidak sakit lagi, cintamu yang

__ADS_1


memabukkan itu, cintaku untukmu telah aku kubur dalam-dalam sesaat tadi. Kamu


yang telah memberiku pilihan sejam yang lalu. Dengan senyum sinisnya Velicia hanya berkata-kata


dalam hatinya.


“Dia datang padaku, bilang dia sakit parah hingga memberikan


surat vonis dari dokter. Dan dia ingin aku yang merawatnya disisa hidupnya yang


tidak akan lama lagi. Aku bingung harus bagaimana, dan akhirnya aku kasihan dan


berjanji akan merawat dan menjaganya. Tapi Vel aku yakinkan padamu jika aku


sangat mencintaimu. Dia hanya masa laluku saja.” Hans menjelaskan juga


memegangi tanggan Velicia menjelaskan.


“Kenapa kamu repot-repot menjelaskannya. Sudahlah aku


tidak mempermasalahkannya lagi.” Velicia juga tenang mengatakannya.


“Pernikahan kita bukan lagi pernikahan kontrak, lihat


kontrak ini sudah aku robek.” Hans menunjukan kertas kontrak yang dulu Velicia


tanda tangani memang sudah berkeping-keping menjadi serpihan kecil.


Mata Velicia terbelalak kaget bukan main, sesaat dia


pun mengingat kembali kata-kata Hans.


“Aku ingin kamu jadi istriku selamanya, aku


mencintaimu dan sangat mencintaimu.” Hans kini bangkit dari duduknya dan memeluk


Velicia yang tengah duduk di hadapannya itu.


Jadi, dia benar-benar mencintaiku? Pernikahan ini


sungguhan? Velicia Meyakinkan


dalam hati.


Lagi-lagi tembok es yang sudah di susun dalam hatinya


meleleh seketika, bahagia. Iyah hanya bahagia yang terlukis dalam wajah


Velicia, dia benar-benar merasa tengah dicintai. Kontrak itu tengah hilang, cap


kontrak itu musnah sudah, dan seketika itu pula Hans berkata sangat manis


membuat hatinya benar-benar bahagia kembali. Luka-luka yang ada dalam hatinya


seketika bagaikan tersihir sembuh total mulus kembali bahkan dua kali lebih


mulus dari sebelumnya.


Anehnya kekuatan cinta, ya, benar Hans mencintai


Velicia, dan Velicia tidak lagi harus membohongi perasaannya. Lucu sekali cinta


itu.


“Benarkah Hans yang kamu katakan barusan?” Velicia


mencoba meyakinkan apa yang barusan dia dengar.


“Vel, aku yakin dengan hatiku aku mencintaimu dan kamu


adalah istriku selamanya.” Hans menelungkupkan kedua tangannya pada pipi


Velicia dan mencium mesra kening Velicia dan disusul ciuman mesra di bibir


Velicia dan melumat habis bibirnya yang merah itu.


“Terimakasih Hans.” Velicia memeluk balik Hans. Tubuh


Velicia benar-benar mungil, tingginya yang hanya sampai sedada Hans.


“Aku akan terus mencintaimu.” Hans memeluk erat tubuh


mungil Velicia dan menciumi rambut wanitanya itu.


Mencintaiku tidaklah seperti ini Hans caranya, ini


semua terlalu sakit dadaku sesak terhimpit dan hatiku mulai tersayat-sayat


perih sekali. Lalu sesaat kemudian kamu melambungkanku lagi tinggi sekali


hingga aku begitu bahagia. Kata-kata cinta darimu sungguh menyesatkan. Akankah


suatu hari nanti aku akan selalu terbuai kata-kata indahmu Hans? Namun ya lagi dan


lagi aku begitu terlena.


Hari ini hari yang begitu panjang, sangat panjang


dengan segala drama yang berentetan menguras emosi dan juga menguak seluruh


sisi. Bagaimana tidak Velicia yang begitu sabar menghadapi sikap Jessica,


Velicia yang begitu sabar melihat suaminya begitu perhatian kepada mantannya.


Velicia yang hatinya sangat terluka.


Lalu……..


Segalanya, segala penderitaan dan derita Velicia


menguap begitu saja bagaikan uap air yang hanya menyisakan embun, embun yang


bisa hilang juga begitu saja. Semua, semua karena kekuatan atas cinta.


Benar, cinta itu memang memabukkan bahkan membuat


hilangnya akal. Cinta juga ajaib, mengubah luka menjadi bahagia, mengubah air


tenang menjadi api, mengubah api menjadi air tenang, mengubah batu menjadi


lunak. Hah??? Bagaimana mungkin? Yah, namanya juga ajaib. Kan sudah dibilang


ajaib, jadi yang tidak bisa sederhanakan saja menjadi bisa.


Velicia terbang tinggi menembus batas cakrawala


mengarungi awan putih berpijak atas dasar cinta, cintanya pada Hans yang


membuatnya begitu mabuk kepayang memberikan Hans kepercayaan lagi. Kata-kata


yang begitu indah membius terngiang mengobati segala luka dalam hatinya yang


baru saja tertoreh. Kekuatan cinta bagaikan sihir menutup segala luka hanya


dalam hitungan detik. Cinta begitu dahsyat memabukkan seperti biaus.


Hans terus memeluk Velicia dengan erat, dan Velicia


juga membalas pelukan Hans. Benar-benar kekuatan cinta lagi dan lagi telah


menyatukan mereka kembali. Rasa marah yang sedari tadi menggebu bagaikan api


yang menyala berkobar, namun kini api itu telah padam terkena siraman air yang


menyejukkan.

__ADS_1


__ADS_2