
23
Sesaat
“Vel, aku
ingin bicara sebentar saja. Please.” Hans merarik tangan Velicia yang tengah
berjalan sudah membelakanginya dan sesaat tadi Velicia melewati Hans yang
dengan wajah sedih.
“Hans, tolong
jangan ganggu aku lagi.” Velicia yang nampak kesal berusaha melepaskan
tangannya dari genggaman laki-laki yang kini tengah ada di hadapannya.
Tentu saja
Velicia begitu tidak inginnya berhadapan dengan Hans yang telah berkali-kali
menghancurkan hatinya lagi dan lagi. Berkeping-keping bagaikan gelas yang sudah
dibanting jatuh ke lantai berserakan menjadi puing-puing kecil.
“Tapi Vel, aku
ingin bicara sebentar saja.” (memaksa)
“Baiklah,
baiklah. Kamu menang Hans, aku memberimu kesempatan untuk bicara sebentar.”
Hans
menggiring Velicia menuju taman di dekat kantor Velicia, sebuah taman kecil
yang terletak di samping gedung dengan beberapa tempat duduk disana.
“Vel, aku
benar-benar minta maaf sama kamu. Aku bersalah, aku benar-benar menyesal. Aku
juga mencintai kamu sangat mencintai kamu. Aku gak bisa sedetikpun melupakan
kamu sungguh tidak bisa. Tapi aku juga tau semua sudah terlambat, sangat
terlambat hingga mungkin aku sudah benar-benar tidak memiliki kesempatan. Ini
semua memang salahku, aku yang sangat salah dan aku juga lah yang pantas menerima
sakit ini. Aku akan pergi Vel, aku nggak akan mengganggu kamu lagi kedepannya.
Aku berharap kamu selalu bahagia Vel. Maafkan aku yang hanya memberikan kamu
luka.” Hans menangis mengucapkan kata-kata manis dan memegangi tangan Velicia
dengan erat.
“Aku udah
maafin kamu. Aku harap kamu benar-benar pergi dari hidupku.” Velicia ketus
melepaskan genggaman tangan Hans dan berlalu pergi. Hans hanya meratapinya dan
diam mematung dalam posisi duduknya.
Hans masih
__ADS_1
saja diam, memangdangi kepergian punggung Velicia yang sudah berlalu menjauhi
pandangnya. Velicia yang berlalu begitu tegas tanpa menoleh sedikitpun, dengan
langkah memburunya Velicia meninggalkan Hans yang masih saja diam dalam
duduknya.
Sesaat sudah
semuanya benar-benar berlalu pergi, namun anehnya Velicia tidak lagi merasakan
kesakitan yang dulu dia rasakan dalam hatinya. Sakit itu benar-benar sirna dari
hatinya.
Lain dengan
Hans, Hans begitu merasa sakit dalam dadanya hingga membuatnya sulit bernafas.
Melihat langkah Velicia semakin menjauhinya hatinya justru terasa begitu sakit
tak terelakan lagi.
**Di Apartemen
Setelah lelah
menghadapi rutinitas hariannya kini Velicia sudah pulang kembali ke tempat
tinggalnya. Tempat ternyaman untuk melepaskan segala penat yang merajalela
sedari tadi seharian, Velicia juga telah melupakan sejenak tadi pertemuannya
dengan Hans. Velicia kini menyantap makanan yang sudah tersaji rapih di meja
makan, makanan yang telah disiapkan oleh Sehan sedari sore tadi. Sehan yang
Terlebih lagi makanan yang tersaji itu adaah makanan kesukaan.
Velicia juga
begitu kaget melihat makanan yang sudah tertata rapih dan lagi harum semerbak
makanan yang memang tentunya dia sangatlah kenal baunya. Apalagi kalau bukan
makanan kesukaanya yang tentunya baunya saja dari kejauhan sudah tercium dan
menggugah selera makannya membuatnya menjadi semangat untuk menyantapnya
cepat-cepat.
“Ka Sehan yang
udah nyiapin ini buat aku?” (senang)
“Iyah tentu
saja. Ayo makan.” (duduk dan segera menyajikan makanan)
“Ayo makan ka
Vel, aku sudah lapar nih.” (duduk)
“Ayo.”
Merekapun
segera menyantap makan malam yang nikmat itu bertiga.
__ADS_1
Beberapa menit
telah berlalu setelah semua makanan telah habis di lahap, Alicia segera masuk
ke kamar untuk tidur. Dan Sehan kemudian beralih ke ruang tengah untuk
bersantai dan ngobrol bareng dengan Velicia.
“Tadi Hans ke
kantor.” (Velicia mulai bercerita)
“Oyah, terus
dia mau apa lagi?”
“Dia mau
berpamitan dan katanya akan pergi keluar negeri.”
“Apa kamu
sedih?”
“Nggak lah
ka.”
“Aku bahagia
akhirnya kamu bisa kembali memilihku lagi.” (memeluk Velicia yang duduk di
sampingnya)
“Aku juga.”
(membalas pelukan Sehan)
“Vel, apa kamu
mau menikah denganku?” Wajah Sehan tiba-tiba mulai bersungguh -sungguh, menatap
mata Velicia dalam-dalam dan memegangi tangan Velicia, persis seperti seorang
kekasih melamar wanitanya.
Velicia masih
diam membisu bingung ingin berkata apa, dia hanya diam dan tanpa berkata
sepatah katapun. Hanya matanya yang mulai berair membendung air matanya yang
hendak terjatuh. Velicia juga melihati wajah Sehan dan melihat kedua bola mata
pria itu yang ada di hadapannya. Velicia terharu dan tak bisa berkata-kata.
“Vel, jika
kamu tidak siap. Kamu boleh memikirnya terlebih dulu.” Sehan mengerti apa yang
sedang berkecimbung di fikiran Velicia dan dengan lembut memberikan Velicia waktu
untuk berfikir.
“Ka Sehan, aku
sangat bahagia sekarang. Dan ya tentu saja aku mau.” Rasanya tak terbayangkan oleh
Sehan mendapatkan jawaban iyah langsung dari mulut wanitanya itu.
__ADS_1
Sehan dan Veliciapun
berpelukan erat sekali saling lemepaskan cintanya yang begitu dalam.