
Bab 5
***Terlihat Berbeda***
Pagipun tiba, tak terdengar apapun
pagi ini. Begitu tenang seperti biasanya Velicia sudah terbangun untuk
bersiap-siap pergi ke kantor. Velicia masih mengingat perkataan Hans semalam
dan merasa bersalah padanya, apakah dia telah salah bicara padanya hingga Hans
nampak begitu marah semalam.
Selesai bersiap-siap Velicia segera
keluar kamarnya dan melihat kamar Hans masih tertutup rapat, mungkin Hans telah
berangkat pagi-pagi sekali jadi Veliciapun segera pergi ke dapur untuk membuat
sarapan. Velicia memakan sarapannya di meja makan, Hans juga tidak kunjung
kelihatan.
Apa dia semarah itu hingga dia
berangkat sangat pagi hari ini? Biarlah nanti malem aku bisa minta maaf
padanya.
Veliciapun segera berangkat ke
kantornya dengan taxi seperti biasanya, tidak terasa telah beberapa hari ini
dia terus naik taxi untuk kekantor karena di sini tidak ada bus yang lewat.
**Dirumah Hans
Dia sudah berangkat ke kantor,
bahkan dia tidak membuatkan aku sarapan. Bodoh sekali aku ini masih saja
mengharapkan dia. Dia hanya membuatkan sarapan untukku saat aku memintanya.
Hans segera berangkat ke kantornya
dengan mobilnya, kepalanya masih terasa berat sisa mabuk semalam. Dia juga
bangun begitu siang karena semalaman dia mabuk berat di dalam kamarnya. Dia
berangkat ke kantornya dengan perasaan marahnya bercampur dengan kekecewaannya.
Mukanya mendung sepanjang jalan. Dia juga menyetir mobilnya dengan cepat.
Velicia memang sangat cuek, sehingga
diapun tidak tau mobilnya Hans masih terparkir di garasi. Pantas saja garasinya
kan memang tertutup dan tidak akan mungkin terlihat jika hanya lewat di teras
depan rumah. Velicia mengira Hans sudah berangkat pagi-pagi dan Hans malah
salah paham dengan Velicia.
**Di kantor Velicia
“Vel, kita mau pada ngerayain
ultahnya Bimo nih di Club. Mau ikut gak?”
“Boleh.”
“Ya udah nanti pulang dari kantor
ya.”
“Oke.”
“Eh, tangan kamu kenapa dibalut gitu?
memar?”
“Gapapa hanya kecelakaan kecil.”
“Oke deh aku balik kerja dulu.”
Malam inikan beres-beres barang ya?
Ah ya sudahlah bisa nanti setelah acara pesta. Velicia cukup bimbang untuk mengambil
keputusan dan hingga akhirnya dia mengambil keputusan untuk ikut teman-temannya
merayakan ulang tahun untuk menghormatinya. Velicia memang sangat menjaga
hubungannya dengan teman-teman di kerjaannya, baginya tempat kerjanya juga
merupakan keluarga baginya semuanya bersikap sangat baik padanya dan sangat
kekeluargaan. Bukannya penting juga kan untuk tetap menjaga hubungan baik
terhadap rekan kerja untuk menciptakan lingkup kerja yang baik. Terlebih lagi
dia sudah cukup lama bekerja disana, dan tau betul seluk-beluk kantornya dan
bagaimana rekan kerjanya yang lain.
Menunggu jam kerja usai rasanya
begitu lama hari ini, perasaan bersalah terus menghantuinya mengingat perkataan
Hans malam semalam Velicia begitu bimbang. Meski hari ini kerjaan yang sudah
begitu banyak tengah menunggu diselesikan namun dan Velicia menyelesaikannya
dengan setengah hatinya terbagi. Konsentrasinya tengah terbagi-bagi, meski
begitu dia juga harus bertanggung jawab atas pekerjaanya dan harus segera menyelesaikan
pekerjaanya.
Pukul 18:00, kerjaanpun selesai lebih
lambat dari jam kerjanya. Hennie telah menunggunya beberapa menit yang lalu,
menunggu sahabatnya menyelesaikan pekerjaannya untuk bergegas pergi bersama.
“Akhirnya selesai juga.” Velicia
berceletuk dan meregangkan otot-ototnya yang sedari tadi tegang karena kelamaan
berdiam duduk.
“Huhh….. Penantianku usai. Velicia
ayo segeralah kita pergi ke Club, yang lain sudah menunggu. Kalau bukan kamu
sahabatku mana mungkin aku mau menunggu yang terasa sangat lama ini.” Hannie
mulai mengoceh kesal.
“Ayolah sayangku, baru saja menunggu
20 menit bukan apa-apa kan? Kamu ini sangat perhitungan ya.” Velicia mulai
membujuk sahabatnya.
“Aku selalu saja terhipnotis oleh
ucapanmu, dasar kamu ini wanita yang pandai merayu.” Hannie tau betul jika dia
memang tidak bisa mendengar bujukan sahabatnya itu dan langsung akan luluh
hanya beberapa bujukan saja.
“Aku sangat mencintaimu sahabatku.”
Velicia terus menggoda sahabatnya dan memeluk sahabatnya sembari berjalan ke
lantai bawah.
“Ini sangat menjijikan, orang akan
salah paham melihatmu begini. Dasar jomblo akut.” Hannie melepaskan peluk
rangkulan sahabatnya itu.
“Hahaha, mana mungkin aku menyukaimu
jika aku lesbian pun mungkin aku akan memacari yang lebih cantic darimu.” Velicia
semakin mengejek sahabatnya itu sengaja agar sahabatnya sedikit marah.
“Bahkan kamu tidak belajar untuk
menjadi sahabat yang baik. Ayo cepatlah naik taxi biar kita cepat sampai.”
Hannie yang mulai kesal menarik sahabatnya untuk segera keluar dan mencari
__ADS_1
taxi.
“Huh…. Uangku semakin berkurang saja.
Rasanya ingin menangis jika harus naik taxi.” Velicia mengikuti sahabatnya itu.
Kegelapan yang mulai menyebar ke
segala penjuru di kota itu, kota yang sangat indah dan sibuk. Tentulah Velicia
selalu protes jika disuruh untuk terpaksa naik Taxi, bagaimana tidak ongkos
untuk naik taxi sangat lebih mahal daripada bus atau kereta di kota ini. Dan
dia lebih suka jika naik bus, tidak mungkin juga dia ke kantor menaiki mobil
pribadi suaminya yang terlihat mencolok itu. Bagaimana bisa seorang kariawan
biasa bisa memakai mobil pribadi berjenis sedan yang lumayan mahal itu. Apa
kata teman-temannnya yang lain nanti, mau dibagaimanapun mobil itu begitu gagah
dan terlihat mewah dan dia juga tidak bisa menerimanya. Tapi Hans yang begitu
baik hingga mengiyakan keinginannya untuk pindah ke tempat yang lebih Velicia
ingini, yaitu tempat dimana mencari bus sangatlah mudah. Akhirnya hari-hari
biasanya kembali, dia tidak lagi harus tinggal dia lingkungan perumahan yang
jauh dari kota dan dia juga bisa tinggal sederhana lagi tanpa harus bolak-balik
menggunakan taxi yang membuatnya boros.
Setelah beberapa menit perjalanan
akhirnya sampai di club tempat janjian club biru itu terlihat tidak begitu
ramai jika dilihat dari luar. Club ini begitu besar terlihat glamour dan penuh
dengan lampu warna-warni khas club pada umumnya. Ada dua penjaga di depan pintu
masuknya, merekapun masuk tanpa ragu dan pemandangan di dalamnya penuh dengan
botol-botol minuman, dan suasana club itu di dalam begitu ramai. Ada banyak
tempat duduk di dalamnya, dan merekapun menuju salah satu tempat duduk
berkumpul yang sudah terdapat beberapa temannya sedang duduk bercanda ria
disana. Tanpa fikir panjang merekapun segera menghampiri sekumpulannya itu.
“Akhirnya kamu datang Velicia.” Henry
senior dikantornya segera menyapa dengan ceria. Henry senior yang juga sudah
lama memiliki perhatian padanya.
“Eh pa Henry, iyah maaf ya begitu
terlambat.” Velicia yang canggung karena keterlambatannya.
“Sini duduk disini, aku sudah
menunggumu sedari tadi.” Henry mempersilahkannya duduk di sampingnya,
sepertinya memang tempat disampingnya itu sengaja dia siapkan untuk yang
spesial untuk nya.
“Terimakasih pa.” Velicia segera
duduk di samping Henry.
“Ehem….ehem…. duh pa Henry ini bikin
iri saja ya.” Celoteh Bimo yang diiringi tawa teman-teman lainnya yang menggoda
Velicia dan Henry.
Velicia semakin tersipu malu juga
tidak nyaman akan candaan mereka, Henry yang semakin memberinya perhatian pun
tidak membuatnya nyaman sama sekali bahkan terasa sangat aneh beginya. Ingin
rasanya Velicia saat itu lari dari situasi ini.
“Vel, kamu gak nyaman ya sama pa
Henry? Sudahlah nikmati saja lagian pa Henry begitu baik ko, tampan, dan sangat
sama kerennya dengan ka Sehanmu loh.” Hannie yang seperti biasa berceloteh
sembari berbisik pada Velicia yang ada disampinnya.
“Hannie sebaiknya kamu diam saja.”
Velicia mendadak garang mendengar celotehan Hannie barusan.
“Velicia kamu begitu cantic seperti
biasanya, aku jadi semakin suka padamu.” Henry juga berbisik dekat sekali di
samping telinga kirinya.
Posisi yang terhumpit oleh ke dua
iblis itu, sebelah kirinya laki-laki yang selalu membuatnya tidak nyaman juga
membuatnya sangat berhutang budi pada segala kebaikannya dan perhatian yang
selalu dia lemparkan pada Velicia. Dan posisi di sebelah kanannya sahabatnya
yang selalu melemparkan dia pada Henry yang jelas-jelas Velicia sudah bilang
tidak suka pada Henry, dan Hannie berusaha untuk terus mendekatkannya pada
Henry. Henry yang selalu saja berkata-kata sangat manis padanya dan terus
mengejarnya tanpa henti di kantor saat jam-jam luangnya. Memberinya bunga,
makanan ringan, dan segala perhatian yang melelehkan hari siapapun yang menerimanya.
Namun ya, sang penerimanya adalah Velicia si gadis yang saat ini hanya
memikirkan kesembuhan adiknya dan juga telah menikah kontrak dengan laki-laki
yang baru saja dia temuai dan juga dihatinya selalu ada Sehan teman dan juga
mantan pacar kecilnya itu. Sehan yang baginya begitu sempurna dengan mata
birunya yang bercahaya dan kulit putihnya yang sangat menawan itu, hidungnya
yang juga mancung dan tubuhnya yang kekar sempurna, tinggi badannya juga
semampai seperti pangeran dalam cerita dongeng. Kemuadia suami kontraknya yang
juga begitu sangat menawan dengan mata coklatnya meski kulit yang tak seputih
Sehan namun dia juga nyaris sempurna seperti pangeran dalam buku dongeng yang
digambarkan begitu tampan.
”Pa henry sama juga seperti biasa
sangat bermulut manis.” Velicia menimpali ucapan Henry.
“Aku sudah katakana padamu, jangan
panggil aku pa saat diluar kantor. Aku tidak nyaman dengan panggilan itu.”
Henry berkata lembut.
“Baik Henry.” Velicia dengan kaku
menjawab.
“Kamu begitu terlihat manis mengucapkannya,
aku sangat bahagia sekarang.” Henry mencoba terus berkata sangat manis.
Velicia begitu sudah tidak nyaman
dengan keramaian ini terlebih lagi hari juga sudah mulai larut, dia sudah mulai
gelisah ingin untuk segera pulang.
“Teman-teman, sepertinya aku harus
segera pulang. Aku merasa tidak enak badan dan sangat merasa lelah.” Velicia
mencoba mencari alasan untuk melarikan diri dari kebisingan tempat ini. Velicia
begitu tidak nyaman dengan tempat bising seperti itu makanya dia sangat merasa
ingin segera melarikan diri.
__ADS_1
“Baiklah, istirahatlah dirumah
Velicia.” Bimo dengan murah hati mempersilahkan Velicia kembali untuk
istirahat.
“Aku antarkan kamu pulang ya.” Henry
menawarkan diri.
“Tidak usah pa, nanti merepotkan.”
Velicia sungkan dan menolak niat baik Henry
“Ayolah, ini sudah malam tidak baik
wanita lajang pulang sendirian. Aku antar kamu pulang.” Henry berdiri dan
menggandeng tangan Velicia. Velicia tidak menolaknya lagi dan mengikuti
langkahnya untuk pergi dari club.
Namun belum juga keluar langkah
Velicia tiba-tiba berhenti dan melihat di sebuah ruangan dia lewati barusan
pemandangan seorang pria yang sedang duduk di kursi merah panjang dengan
wanita-wanita seksi mengelilinginya dengan tawa dan canda yang tergambar jelas
di wajah mereka. Laki-laki yang tampak begitu tidak asing baginya, dia hanya diam
berdiri dan terus melihat ke arah laki-laki itu dan laki-laki itu juga tampak
melihatnya dan memandangnya.
“Velicia, kenapa? Ayo kita pergi.”
Henry membuka percakapan memecahkan pandangannya yang sedang berpandangan
dengan laki-laki itu.
“Ayo.” Velicia tampak sedih sekarang.
Laki-laki brengsek, aku baru saja
tertipu dengan ucapannya dan hendak meminta maaf padanya tapi aku benar-benar
bodoh dan lihatlah dia malah bersenang-senang dengan banyak wanita.
Perkataannya itu benar-benar pembodohan dia hanya sedang menggodaku kan. Sialan
laki-laki tidak tau malu itu, aku akan segera menyelesaikan pernikahan ini
hingga tidak lagi bertemu dengannya. Velicia menggerutu didalam hatinya. Berapa tidak dia sangka
laki-laki yang ditemuinya di club Biru itu tak lain adalah suami kontraknya
yang selama seharian ini dia merasa tidak tenang dan hendak meminta maaf
padanya namun dia melihat suaminya yang nampaknya sedang bersenang-senang
dengan perempuan lain dan sudah melupakan perkataannya malam itu. Sungguh
menyesakkan bagi Velicia dan sekaligus membuatnya perpandangan sangat jelek
pada suaminya itu.
Dan sementara Velicia diantarkan
pulang oleh Henry yang sangat baik itu dengan mobil Henry, namun Velicia
meminnta berhenti ditengah jalan sebelum masuk ke lingkungan perumahannya dan
melanjutkan berjalan kaki. Henry yang tau akan sifat Velicia yang keras kepala
itu hanya mengiyakan dan menghentikan laju mobilnya menurunkan Velicia ditempat
yang Velicia ingini hingga melihat Velicia melanjutkan jalan kaki sampai
punggung Velicia tak terlihat lagi olehnya.
**Dirumah Hans
Akhirnya sampai dirumah dan segera
mengemasi barang-barangnya untuk pindah besok, beberapa barang-barang sudah
dikemasi oleh pelayan siang tadi dan tinggal barang-barang pribadinya saja yang
harus dia kemasi malam ini. Malam yang semakin larut dan Hans juga belum pulang
kerumah itu, Velicia tidak memperdulikan suaminya itu dan terus saja berkemas
ingin segera pindah. Malam yang sepi itu yang hanya dia sendiri di rumah yang
sebesar itu rasanya sangat menenangkan sekaligus sangat sepi.
Brak…. (Suara pintu di buka dengan
kencang)
“Bersama siapa kamu mala mini?” Hans
datang membuka pintu kamar Velicia dengan suara pintu yang nyaring dan kini
sangat marah mendekati Velicia yang duduk di lantai dekat kasurnya sedang
mengemasi pakaiannya. Hans mendekatkan wajahnya, Velicia mendongakkan kepalanya
menyambut wajah Hans yang marah. Hanspun mengangkat tangannya memegangi dagu
Velicia dengan marah.
“Hans, apa yang kamu lakukan. Kamu
menyakitiku, ini sangat sakit.” Velicia mulai menangis kesakitan.
“Jawab aku.” Hans melepaskan
cengkraman tangannya pada dagunya dan kini memegangi kedua lengan Velicia
dengan erat dan mengangkatnya, tubuh Velicia merespon dengan cepat karena sakit
dan Velicia berdiri di hadapan Hans. Hans membanting tubuh Velicia yang sudah
menangis itu ke kasurnya dan Hans berada di atas tubuh Velicia.
“Hans, aku datang kesitu karena
undangan teman kantorku.” Velicia menjawab dengan ketakutannya.
“Laki-laki itu siapa? Jawab.” Hans
semakin marah.
“Dia maksudmu Henry? Dia atasanku di
kantor.” Velicia kini tidak mengerti lagi akan kemarahan Hans.
Hans yang masih berada di atas tubuh
Velicia dan mendekatkan tubuhnya dan benar-benar menimpa tubuh istrinya dan
mencium bibir istrinya dengan penuh gairah dan liarnya. Masih terasa
kemarahannya dan bau alkohol yang kuat, Velicia meronta sekuat tenaga namun
suaminya itu beberapa kali lipat lebih kuat darinya dan terus memaksakan
kehendaknya. Velicia hanya bisa menangis dengan bibirnya yang terus dilumat
habis oleh suaminya itu, hingga tangan nakal suaminya yang terus menjelajahi
tubuhnya. Memeras p**u***a nya yang kenyal juga besar padat berisi itu dengan
ganas dan liarnya. Dan suaminya terus saja semakin meliar memaksa Velicia,
hingga istrinya itu menangis kesakitan.
“Tolong hentikan Hans, aku tidak mau
begini.” Saat ada kesempatan untunya berbicara.
Hans pun menghentikan gairah liarnya
dan melihat istrinya yang sangat tidak mau malakukannya dengannya. Hans hanya
diam dan langsung pergi meninggalkan kamar Velicia menuju kamarnya.
Sedangkan Velicia yang terus saja
menangis di kamarnya dengan baju yang sudah robek di robek oleh suaminya yang
tiba-tiba liar dan ganas itu. Dan lagi masih terasa begitu sakit bibirnya
digigit oleh suaminya itu. Tubuhnya kini rasanya sangat sakit.
__ADS_1
**Kenapa kamu jahat padaku Hans.**