KONTRAK DAN TAKDIR CINTA

KONTRAK DAN TAKDIR CINTA
Bagian 4


__ADS_3

Bab 5


***Terlihat Berbeda***


Pagipun tiba, tak terdengar apapun


pagi ini. Begitu tenang seperti biasanya Velicia sudah terbangun untuk


bersiap-siap pergi ke kantor. Velicia masih mengingat perkataan Hans semalam


dan merasa bersalah padanya, apakah dia telah salah bicara padanya hingga Hans


nampak begitu marah semalam.


Selesai bersiap-siap Velicia segera


keluar kamarnya dan melihat kamar Hans masih tertutup rapat, mungkin Hans telah


berangkat pagi-pagi sekali jadi Veliciapun segera pergi ke dapur untuk membuat


sarapan. Velicia memakan sarapannya di meja makan, Hans juga tidak kunjung


kelihatan.


Apa dia semarah itu hingga dia


berangkat sangat pagi hari ini? Biarlah nanti malem aku bisa minta maaf


padanya.


Veliciapun segera berangkat ke


kantornya dengan taxi seperti biasanya, tidak terasa telah beberapa hari ini


dia terus naik taxi untuk kekantor karena di sini tidak ada bus yang lewat.


**Dirumah Hans


Dia sudah berangkat ke kantor,


bahkan dia tidak membuatkan aku sarapan. Bodoh sekali aku ini masih saja


mengharapkan dia. Dia hanya membuatkan sarapan untukku saat aku memintanya.


Hans segera berangkat ke kantornya


dengan mobilnya, kepalanya masih terasa berat sisa mabuk semalam. Dia juga


bangun begitu siang karena semalaman dia mabuk berat di dalam kamarnya. Dia


berangkat ke kantornya dengan perasaan marahnya bercampur dengan kekecewaannya.


Mukanya mendung sepanjang jalan. Dia juga menyetir mobilnya dengan cepat.


Velicia memang sangat cuek, sehingga


diapun tidak tau mobilnya Hans masih terparkir di garasi. Pantas saja garasinya


kan memang tertutup dan tidak akan mungkin terlihat jika hanya lewat di teras


depan rumah. Velicia mengira Hans sudah berangkat pagi-pagi dan Hans malah


salah paham dengan Velicia.


**Di kantor Velicia


“Vel, kita mau pada ngerayain


ultahnya Bimo nih di Club. Mau ikut gak?”


“Boleh.”


“Ya udah nanti pulang dari kantor


ya.”


“Oke.”


“Eh, tangan kamu kenapa dibalut gitu?


memar?”


“Gapapa hanya kecelakaan kecil.”


“Oke deh aku balik kerja dulu.”


Malam inikan beres-beres barang ya?


Ah ya sudahlah bisa nanti setelah acara pesta. Velicia cukup bimbang untuk mengambil


keputusan dan hingga akhirnya dia mengambil keputusan untuk ikut teman-temannya


merayakan ulang tahun untuk menghormatinya. Velicia memang sangat menjaga


hubungannya dengan teman-teman di kerjaannya, baginya tempat kerjanya juga


merupakan keluarga baginya semuanya bersikap sangat baik padanya dan sangat


kekeluargaan. Bukannya penting juga kan untuk tetap menjaga hubungan baik


terhadap rekan kerja untuk menciptakan lingkup kerja yang baik. Terlebih lagi


dia sudah cukup lama bekerja disana, dan tau betul seluk-beluk kantornya dan


bagaimana rekan kerjanya yang lain.


Menunggu jam kerja usai rasanya


begitu lama hari ini, perasaan bersalah terus menghantuinya mengingat perkataan


Hans malam semalam Velicia begitu bimbang. Meski hari ini kerjaan yang sudah


begitu banyak tengah menunggu diselesikan namun dan Velicia menyelesaikannya


dengan setengah hatinya terbagi. Konsentrasinya tengah terbagi-bagi, meski


begitu dia juga harus bertanggung jawab atas pekerjaanya dan harus segera menyelesaikan


pekerjaanya.


Pukul 18:00, kerjaanpun selesai lebih


lambat dari jam kerjanya. Hennie telah menunggunya beberapa menit yang lalu,


menunggu sahabatnya menyelesaikan pekerjaannya untuk bergegas pergi bersama.


“Akhirnya selesai juga.” Velicia


berceletuk dan meregangkan otot-ototnya yang sedari tadi tegang karena kelamaan


berdiam duduk.


“Huhh….. Penantianku usai. Velicia


ayo segeralah kita pergi ke Club, yang lain sudah menunggu. Kalau bukan kamu


sahabatku mana mungkin aku mau menunggu yang terasa sangat lama ini.” Hannie


mulai mengoceh kesal.


“Ayolah sayangku, baru saja menunggu


20 menit bukan apa-apa kan? Kamu ini sangat perhitungan ya.” Velicia mulai


membujuk sahabatnya.


“Aku selalu saja terhipnotis oleh


ucapanmu, dasar kamu ini wanita yang pandai merayu.” Hannie tau betul jika dia


memang tidak bisa mendengar bujukan sahabatnya itu dan langsung akan luluh


hanya beberapa bujukan saja.


“Aku sangat mencintaimu sahabatku.”


Velicia terus menggoda sahabatnya dan memeluk sahabatnya sembari berjalan ke


lantai bawah.


“Ini sangat menjijikan, orang akan


salah paham melihatmu begini. Dasar jomblo akut.” Hannie melepaskan peluk


rangkulan sahabatnya itu.


“Hahaha, mana mungkin aku menyukaimu


jika aku lesbian pun mungkin aku akan memacari yang lebih cantic darimu.” Velicia


semakin mengejek sahabatnya itu sengaja agar sahabatnya sedikit marah.


“Bahkan kamu tidak belajar untuk


menjadi sahabat yang baik. Ayo cepatlah naik taxi biar kita cepat sampai.”


Hannie yang mulai kesal menarik sahabatnya untuk segera keluar dan mencari

__ADS_1


taxi.


“Huh…. Uangku semakin berkurang saja.


Rasanya ingin menangis jika harus naik taxi.” Velicia mengikuti sahabatnya itu.


Kegelapan yang mulai menyebar ke


segala penjuru di kota itu, kota yang sangat indah dan sibuk. Tentulah Velicia


selalu protes jika disuruh untuk terpaksa naik Taxi, bagaimana tidak ongkos


untuk naik taxi sangat lebih mahal daripada bus atau kereta di kota ini. Dan


dia lebih suka jika naik bus, tidak mungkin juga dia ke kantor menaiki mobil


pribadi suaminya yang terlihat mencolok itu. Bagaimana bisa seorang kariawan


biasa bisa memakai mobil pribadi berjenis sedan yang lumayan mahal itu. Apa


kata teman-temannnya yang lain nanti, mau dibagaimanapun mobil itu begitu gagah


dan terlihat mewah dan dia juga tidak bisa menerimanya. Tapi Hans yang begitu


baik hingga mengiyakan keinginannya untuk pindah ke tempat yang lebih Velicia


ingini, yaitu tempat dimana mencari bus sangatlah mudah. Akhirnya hari-hari


biasanya kembali, dia tidak lagi harus tinggal dia lingkungan perumahan yang


jauh dari kota dan dia juga bisa tinggal sederhana lagi tanpa harus bolak-balik


menggunakan taxi yang membuatnya boros.


Setelah beberapa menit perjalanan


akhirnya sampai di club tempat janjian club biru itu terlihat tidak begitu


ramai jika dilihat dari luar. Club ini begitu besar terlihat glamour dan penuh


dengan lampu warna-warni khas club pada umumnya. Ada dua penjaga di depan pintu


masuknya, merekapun masuk tanpa ragu dan pemandangan di dalamnya penuh dengan


botol-botol minuman, dan suasana club itu di dalam begitu ramai. Ada banyak


tempat duduk di dalamnya, dan merekapun menuju salah satu tempat duduk


berkumpul yang sudah terdapat beberapa temannya sedang duduk bercanda ria


disana. Tanpa fikir panjang merekapun segera menghampiri sekumpulannya itu.


“Akhirnya kamu datang Velicia.” Henry


senior dikantornya segera menyapa dengan ceria. Henry senior yang juga sudah


lama memiliki perhatian padanya.


“Eh pa Henry, iyah maaf ya begitu


terlambat.” Velicia yang canggung karena keterlambatannya.


“Sini duduk disini, aku sudah


menunggumu sedari tadi.” Henry mempersilahkannya duduk di sampingnya,


sepertinya memang tempat disampingnya itu sengaja dia siapkan untuk yang


spesial untuk nya.


“Terimakasih pa.” Velicia segera


duduk di samping Henry.


“Ehem….ehem…. duh pa Henry ini bikin


iri saja ya.” Celoteh Bimo yang diiringi tawa teman-teman lainnya yang menggoda


Velicia dan Henry.


Velicia semakin tersipu malu juga


tidak nyaman akan candaan mereka, Henry yang semakin memberinya perhatian pun


tidak membuatnya nyaman sama sekali bahkan terasa sangat aneh beginya. Ingin


rasanya Velicia saat itu lari dari situasi ini.


“Vel, kamu gak nyaman ya sama pa


Henry? Sudahlah nikmati saja lagian pa Henry begitu baik ko, tampan, dan sangat


sama kerennya dengan ka Sehanmu loh.” Hannie yang seperti biasa berceloteh


sembari berbisik pada Velicia yang ada disampinnya.


“Hannie sebaiknya kamu diam saja.”


Velicia mendadak garang mendengar celotehan Hannie barusan.


“Velicia kamu begitu cantic seperti


biasanya, aku jadi semakin suka padamu.” Henry juga berbisik dekat sekali di


samping telinga kirinya.


Posisi yang terhumpit oleh ke dua


iblis itu, sebelah kirinya laki-laki yang selalu membuatnya tidak nyaman juga


membuatnya sangat berhutang budi pada segala kebaikannya dan perhatian yang


selalu dia lemparkan pada Velicia. Dan posisi di sebelah kanannya sahabatnya


yang selalu melemparkan dia pada Henry yang jelas-jelas Velicia sudah bilang


tidak suka pada Henry, dan Hannie berusaha untuk terus mendekatkannya pada


Henry. Henry yang selalu saja berkata-kata sangat manis padanya dan terus


mengejarnya tanpa henti di kantor saat jam-jam luangnya. Memberinya bunga,


makanan ringan, dan segala perhatian yang melelehkan hari siapapun yang menerimanya.


Namun ya, sang penerimanya adalah Velicia si gadis yang saat ini hanya


memikirkan kesembuhan adiknya dan juga telah menikah kontrak dengan laki-laki


yang baru saja dia temuai dan juga dihatinya selalu ada Sehan teman dan juga


mantan pacar kecilnya itu. Sehan yang baginya begitu sempurna dengan mata


birunya yang bercahaya dan kulit putihnya yang sangat menawan itu, hidungnya


yang juga mancung dan tubuhnya yang kekar sempurna, tinggi badannya juga


semampai seperti pangeran dalam cerita dongeng. Kemuadia suami kontraknya yang


juga begitu sangat menawan dengan mata coklatnya meski kulit yang tak seputih


Sehan namun dia juga nyaris sempurna seperti pangeran dalam buku dongeng yang


digambarkan begitu tampan.


”Pa henry sama juga seperti biasa


sangat bermulut manis.” Velicia menimpali ucapan Henry.


“Aku sudah katakana padamu, jangan


panggil aku pa saat diluar kantor. Aku tidak nyaman dengan panggilan itu.”


Henry berkata lembut.


“Baik Henry.” Velicia dengan kaku


menjawab.


“Kamu begitu terlihat manis mengucapkannya,


aku sangat bahagia sekarang.” Henry mencoba terus berkata sangat manis.


Velicia begitu sudah tidak nyaman


dengan keramaian ini terlebih lagi hari juga sudah mulai larut, dia sudah mulai


gelisah ingin untuk segera pulang.


“Teman-teman, sepertinya aku harus


segera pulang. Aku merasa tidak enak badan dan sangat merasa lelah.” Velicia


mencoba mencari alasan untuk melarikan diri dari kebisingan tempat ini. Velicia


begitu tidak nyaman dengan tempat bising seperti itu makanya dia sangat merasa


ingin segera melarikan diri.

__ADS_1


“Baiklah, istirahatlah dirumah


Velicia.” Bimo dengan murah hati mempersilahkan Velicia kembali untuk


istirahat.


“Aku antarkan kamu pulang ya.” Henry


menawarkan diri.


“Tidak usah pa, nanti merepotkan.”


Velicia sungkan dan menolak niat baik Henry


“Ayolah, ini sudah malam tidak baik


wanita lajang pulang sendirian. Aku antar kamu pulang.” Henry berdiri dan


menggandeng tangan Velicia. Velicia tidak menolaknya lagi dan mengikuti


langkahnya untuk pergi dari club.


Namun belum juga keluar langkah


Velicia tiba-tiba berhenti dan melihat di sebuah ruangan dia lewati barusan


pemandangan seorang pria yang sedang duduk di kursi merah panjang dengan


wanita-wanita seksi mengelilinginya dengan tawa dan canda yang tergambar jelas


di wajah mereka. Laki-laki yang tampak begitu tidak asing baginya, dia hanya diam


berdiri dan terus melihat ke arah laki-laki itu dan laki-laki itu juga tampak


melihatnya dan memandangnya.


“Velicia, kenapa? Ayo kita pergi.”


Henry membuka percakapan memecahkan pandangannya yang sedang berpandangan


dengan laki-laki itu.


“Ayo.” Velicia tampak sedih sekarang.


Laki-laki brengsek, aku baru saja


tertipu dengan ucapannya dan hendak meminta maaf padanya tapi aku benar-benar


bodoh dan lihatlah dia malah bersenang-senang dengan banyak wanita.


Perkataannya itu benar-benar pembodohan dia hanya sedang menggodaku kan. Sialan


laki-laki tidak tau malu itu, aku akan segera menyelesaikan pernikahan ini


hingga tidak lagi bertemu dengannya. Velicia menggerutu didalam hatinya. Berapa tidak dia sangka


laki-laki yang ditemuinya di club Biru itu tak lain adalah suami kontraknya


yang selama seharian ini dia merasa tidak tenang dan hendak meminta maaf


padanya namun dia melihat suaminya yang nampaknya sedang bersenang-senang


dengan perempuan lain dan sudah melupakan perkataannya malam itu. Sungguh


menyesakkan bagi Velicia dan sekaligus membuatnya perpandangan sangat jelek


pada suaminya itu.


Dan sementara Velicia diantarkan


pulang oleh Henry yang sangat baik itu dengan mobil Henry, namun Velicia


meminnta berhenti ditengah jalan sebelum masuk ke lingkungan perumahannya dan


melanjutkan berjalan kaki. Henry yang tau akan sifat Velicia yang keras kepala


itu hanya mengiyakan dan menghentikan laju mobilnya menurunkan Velicia ditempat


yang Velicia ingini hingga melihat Velicia melanjutkan jalan kaki sampai


punggung Velicia tak terlihat lagi olehnya.


**Dirumah Hans


Akhirnya sampai dirumah dan segera


mengemasi barang-barangnya untuk pindah besok, beberapa barang-barang sudah


dikemasi oleh pelayan siang tadi dan tinggal barang-barang pribadinya saja yang


harus dia kemasi malam ini. Malam yang semakin larut dan Hans juga belum pulang


kerumah itu, Velicia tidak memperdulikan suaminya itu dan terus saja berkemas


ingin segera pindah. Malam yang sepi itu yang hanya dia sendiri di rumah yang


sebesar itu rasanya sangat menenangkan sekaligus sangat sepi.


Brak…. (Suara pintu di buka dengan


kencang)


“Bersama siapa kamu mala mini?” Hans


datang membuka pintu kamar Velicia dengan suara pintu yang nyaring dan kini


sangat marah mendekati Velicia yang duduk di lantai dekat kasurnya sedang


mengemasi pakaiannya. Hans mendekatkan wajahnya, Velicia mendongakkan kepalanya


menyambut wajah Hans yang marah. Hanspun mengangkat tangannya memegangi dagu


Velicia dengan marah.


“Hans, apa yang kamu lakukan. Kamu


menyakitiku, ini sangat sakit.” Velicia mulai menangis kesakitan.


“Jawab aku.” Hans melepaskan


cengkraman tangannya pada dagunya dan kini memegangi kedua lengan Velicia


dengan erat dan mengangkatnya, tubuh Velicia merespon dengan cepat karena sakit


dan Velicia berdiri di hadapan Hans. Hans membanting tubuh Velicia yang sudah


menangis itu ke kasurnya dan Hans berada di atas tubuh Velicia.


“Hans, aku datang kesitu karena


undangan teman kantorku.” Velicia menjawab dengan ketakutannya.


“Laki-laki itu siapa? Jawab.” Hans


semakin marah.


“Dia maksudmu Henry? Dia atasanku di


kantor.” Velicia kini tidak mengerti lagi akan kemarahan Hans.


Hans yang masih berada di atas tubuh


Velicia dan mendekatkan tubuhnya dan benar-benar menimpa tubuh istrinya dan


mencium bibir istrinya dengan penuh gairah dan liarnya. Masih terasa


kemarahannya dan bau alkohol yang kuat, Velicia meronta sekuat tenaga namun


suaminya itu beberapa kali lipat lebih kuat darinya dan terus memaksakan


kehendaknya. Velicia hanya bisa menangis dengan bibirnya yang terus dilumat


habis oleh suaminya itu, hingga tangan nakal suaminya yang terus menjelajahi


tubuhnya. Memeras p**u***a nya yang kenyal juga besar padat berisi itu dengan


ganas dan liarnya. Dan suaminya terus saja semakin meliar memaksa Velicia,


hingga istrinya itu menangis kesakitan.


“Tolong hentikan Hans, aku tidak mau


begini.” Saat ada kesempatan untunya berbicara.


Hans pun menghentikan gairah liarnya


dan melihat istrinya yang sangat tidak mau malakukannya dengannya. Hans hanya


diam dan langsung pergi meninggalkan kamar Velicia menuju kamarnya.


Sedangkan Velicia yang terus saja


menangis di kamarnya dengan baju yang sudah robek di robek oleh suaminya yang


tiba-tiba liar dan ganas itu. Dan lagi masih terasa begitu sakit bibirnya


digigit oleh suaminya itu. Tubuhnya kini rasanya sangat sakit.

__ADS_1


**Kenapa kamu jahat padaku Hans.**


__ADS_2