
12
***Kontrak dan Takdir Cinta***
Velicia membuka apartemennya, dan mengedarkan
pandangannya. Apartemen itu terlihat kosong tanpa kehadiran orang lain. Velicia
segera masuk ke kamarnya untuk melepaskan penatnya dan yang barusan di lihatnya
di restoran. Rasanya jika penglihatan itu jarang salah. Sesaat sudah Velicia
mengingat kembali momen saat Hans membicarakan Jessica, dan saat mereka berdua
bersama dan lalu perlakuan Hans pada Jessica kemudian momen yang baru saja dia
lihat bahwa dia baru menyadari jika dimata Hans, dalam sikapnyapun sudah jelas
jika Hans juga mencintai Jessica. Namun mengapa Hans bilang jika dia mencintai
Velicia.
Terngiang juga kembali saat ketika Hans memeluknya dan
berulang kali bilang jika Hans mencintainya, saat mengingat itu rasanya bagai ribuan
sembilu bergantian menyayat hatinya dan seketika hatinya tercobak-cabik.
Sakittttt sangat sakit rasannya, hingga tak lagi dapat terbendung lagi.
Velicia hanya berbaring di kasurnya dengan pakaian
perginya tadi masih melekat di tubuhnya, seperti dia enggan beranjak dari
tempat tidurnya tubuhnya cukup tak berdaya seperti baru saja mendapatkan beban
yang begitu berat hingga tak mampu berdiri dan hanya bisa berbaring. Berusaha
menutup kedua matanya berharap akan ada rasa kantuk yang begitu kuat hingga dia
bisa memejamkan mata tertidur dan melupakan segalanya yang terjadi hari ini. Hingga
benar saja sesaat saja Velicia terpejam dan lelap dalam tidurnya.
Pagi pun datang, rasanya begitu lama Velicia tertidur
nyenyak semalam hingga dia tidak tau apakah Hans sudah pulang atau tidak.
Seperti biasanya dipagi hari dia segera bebersih bersiap berangkat bekerja, dan
sebelum berangkat diapun ke dapur untuk sarapan pagi.
“bu Si, apa Hans sudah beragkat kerja?” Velicia
bertanya pada bu Si.
“Kayanya masih tidur deh non.”Jawab bu Si.
Tanpa fikir panjang Velicia segera menghampiri kamar
Hans untuk membangunkannya agar tidak terlambat pergi bekerja. Karena Hans
pernah bilang jika Velicia tidak perlu ketuk pintu untuk masuk ke kamarnya.
Jelas saja Hans tidur di kamar sebelah karena semalam kamar Velicia dikunci
dari dalam, dan mungkin Hans akhirnya tidur di kamarnya. Dan lagi dulu saat
Velicia mengetuk kamar Hans membangunkannya tidur katanya Velicia tidak perlu
mengetuknya langsung saja masuk. Dan katanya Hans lebih suka dibangunkan oleh
Velicia secara langsung tanpa perlu mengetuk dan malah membuat Hans kaget dan
marah.
Akhirnya Veliciapun membuka langsung kamar Hans tanpa
ragu.
“Ha…..” Ucapannya pun tergantung dan dia seketika
kaget bukan main membulatkan matanya melihat lurus kearah ranjang Hans dan diam
mematung tanpa kata lagi. Kemudian dia melangkah mundur dan keluar kembali dari
dalam kamar Hans dan membanting pintu kamar keras-keras hingga terdengar begitu
teramat sangat nyaringnya membuat Hans yang sedang tidur sangat kaget dan
seketika bangun dari tidurnya dan terduduk.
Hans tak kalah kagetnya dengan Velicia saat Hans
melihat sosok wanita lain ada di kasurnya dengan tubuh yang hanya dibalut dengan
selimut. Dan Hans seketika langsung melihat ke tubuhnya yang tidak memakai baju
dan ternyata Hans pun hanya membalut tubuhnya dengan selimut. Sontak saja Hans
langsung teringat dengan Velicia yang mungkin dia baru saja yang membanting
pintu. Hans segera beranjak tanpa memperdulikan apapun, meraih baju dan
celananya dan memakainya segera mencari Velicia.
Hans yang mencari Velicia dan langsung menghampiri
kamar Velicia dengan panik sampai bu Si yang melihatpun ikutan bingung dengan
kepanikan Hans. Bu Si yang lebih dulu melihat Velicia keluar dari kamar Hans
dengan menutup mulutnya dan menangis lalu masuk ke kamarnya dan beberapa saat
kemudian di susul Hans yang dengan paniknya menghampiri kamar Velicia yang
tertutup rapat terkunci dari dalam dan hanya terdengar suara tangisan.
Velicia begitu hancur, remuk sudah hatinya, berkeping-keping.
Bukan lagi hanya tersayat-sayat lagi tapi kini malah dihancurkan
berkeping-kepin. Sesaat telah dilihatnya pemandangan yang luar biasa membuat
hatinya hancur. Lelaki yang dicintainya, lelaki yang menyandang status
suaminya, lelaki yang baru saja beberapa hari lalu berulang kali mengatakan
mencintainya, lelaki yang bilang ingin terus menjadi suaminya selamanya, lelaki
yang seperti malaikat penolong baginya dan laki-laki yang begitu gentel
menyobek surat penjanjian kontrak itu dan secara terbuka bilang ingin
menjadikan dirinya adalah istrinya sesungguhnya, lelaki yang telah menerbangkan
dirinya begitu tinggi menembus awan seperti peri yang bahagia dimabukkan oleh
cinta.
Namun, ya namun lelaki ini pulalah yang telah
mematahkan sayapnya hingga dia terjatuh terperosok ke bumi dan menderita banyak
luka, bukan hanya sayapnya, juga hatinya yang remuk redam.
Pagi ini, Velicia sendiri, dia melihat pemandangan
yang sangat menjijikan juga memuakkan ketika dimana dikasur yang sama, kasur
yang beberapa hari lalu di tiduri olehnya dan suaminya. Dan kini kasur yang
sama itu pulalah menjadi saksi sekaligus bukti perselingkuhan yang tidak lagi
dapat terelakkan.
Hans dengan hanya berbalut selimut putih itu, iyah
selimut itu juga selimut yang sama beberapa hati lalu Velicia pakai
menghangatkan tubuhnya. Kini di pagi ini selimut itu menjadi penghangat wanita
lain. Dimana wanita itu juga hanya berbalut selimut tertidur nyenyak disamping
Hans dengan lengan kiri Hans yang memeluk wanita itu dan mereka berdua
sama-sama terlelap.
Wanita itu, tak lain dan tak bukan adalah Jessica,
teman sekaligus mantan kekasih Hans dimasa lalu. Betapa hancurnya hatinya,
pilu….pilu sekali. Sakit…..rasanya sangat-sangat dan teramat sakit bagi Velicia
hingga dia hanya mampu menangisi apa yang barusan dia lihat.
Pernikahan kontrak, hingga yang dia fikir adalah
takdir yang dipertemukan oleh kontrak, ternyata benar kontran dan takdir cinta
ini hanya untuk sampai disini. Pupus sudah harapannya untuk tetap mencintainya,
mati sudah cintanya terkubur amarah dan benci juga jijik. Kini matanya tak
mungkin bisa berbohong, dia melihat melihatnya sendiri dengan mata dan
kepalanya sendiri. Cintanya yang tulus itu kini hanyalah kenangan. Kata-kata
manis dari laki-laki itu kini hanyalah bualan belaka, tak dapat Velicia percaya
apapun kini. Semua kenangan cinta, harapan mati sudah terbunuh oleh amarahnya
akan penghianatan yang keji ini.
__ADS_1
Ironisnya, saat seorang istri melihat suaminya tidur
dengan wanita lain yang wanita itu adalah mantan pacarnya dulu. Lelucon apa
yang sebenarnya tuhan berikan ini? Rasanya sungguh menyakitkan seperti duniapun
ikut runtuh bersama-sama dengan hatinya yang juga telah berkeping-keping ini.
Lelucon apa ini? Dia membawa mantan pacarnya untuk
tidur di ranjang yang sama dengan istrinya? Hahaha, kamu gila. Aku yang bodoh
atau kamu Hans yang bodoh? Aku melihat kamu dan wanita itu hanya terbalut
selimut dan kamu dengan mesranya memeluknya kalian terlelap bersama. Aku sampai
tidak bisa membayangkan betapa panasnya kejadian yang kalian lalui semalam.
Sungguh pasti sebuah kejadian yang tidak akan kalian lupakan bukan? Sudahkah
kamu puas Hans menghancurkan hatiku hingga sedemikian rupanya? Sungguh aku
sangat membencimu dan tidak mau mengingat dirimu lagi di kemudian hari dan juga
dikehidupanku selanjutnyapun aku tak mau mengingatmu atau bertemu lagi
denganmu. Aku muak denganmu Hans. Velicia yang kini hanya sesak di dadanya mencoba untuk
menguapkan segala sesaknya.
Velicia segera mengemasi semua barangnya hendak
meninggalkan tempat itu, dan beberapa menit saja semua barangnya masuk ke dalam
kopernya yang besar. Velicia segera pergi dan keluar dari kamarnya, terlihat di
depan kamarnya Hans yang bersiap ingin menjelaskan.
“Vel, kamu mau kemana? Ayo kita masuk dan akan aku
jelaskan di dalam kamar ya.” Hans dengan sedihnya mencoba membujuk.
“Semua sudah jelas, dan sangat jelas. Apa yang aku
lihat sudah jelas, dengan apa kamu akan menjelaskan? Setelah ini aku mohon
tanda tangani surat cerainya, aku akan buatkan surat cerainya segera dan mengirimkannya
padamu. Jangan lagi ganggu aku, dan tentang adikku aku akan segera
mengembalikan uangmu. Dan kamu sudah cukup membiayai pengobatannya sampai
disini.” Velicia mencoba bicara dengan nada angkuh dan menelan pahit semua
kegetirannya. Sungguh Velicia memeng wanita yang Tangguh dengan aktingnya yang
sangat bagus dan control emosi yang bagus pula hingga dia bisa setenang itu
setelah menangis 1 jam di kamarnya barusan. Dan bisa berbicara dengan sangat
lantang, angkuh dan tegas setelahnya.
“Vel, dengarkan penjelasanku dulu. Aku sangat
mencintaimu dan tak akan menceraikanmu sampai kapanpun.” Hans memelas.
“Aku yang akan menceraikanmu bukan kamu. Dan aku bisa
menceraikanmu tanpa persetujuan darimu dengan cara apapun. Mengingat apa yang
sudah kamu lakukan terhadapku, aku yakin perceraian ini akan mulus.” Velicia
melangkah meninggalkan Hans.
“Vel, aku salah aku mohon maaf.” Hans bersujud.
“Aku maafkan, tapi kita tetap bercerai.” Velicia tidak
menghiraukan Hans yang berlutut.
“Velicia..” Jessica yang sudah berdiri di samping
ruang makan memperhatikan Velicia dan Hans dari tadi, rupanya dia tengah
menonton pertunjukan yang menarik. Velicia juga sudah sedari tadi melihatnya
beberapa kali tersenyum senang. Lalu dia melihat Velicia yang kini membawa
kopernya dan berjalan menuju ke pintu untuk keluar lalu dihadangnya dengan
panggilannya dan seorah menyesal lalu tertunduk, Velicia segera menyadari jika
itu hanyalah aktingnya saja. Namun Velicia juga segera tersadar bahwa sialnya
jika yang barusan beberapa saat yang lalu yang dia lihat itu bukanlah akting.
“Berbahagialah kini Jessica dengan mantan suamiku.
Semoga bahagia dengannya, dan tidak perlu kamu undang aku saat kalian menikah.
mengencangkang nada bicaranya agar terdengar sampai ke telinga Hans.
“Sudah kalah dan berlagak lagi.” Jessica membisikkan
ke telinga Velicia.
“Apa kamu bangga Jessica jika mengambil milik orang
lain? Ambillah, dia sudah tak berharga lagi bagiku. Karena bagiku laki-laki
yang berharga tidak akan mudah tergoda oleh wanita sepertimu.” Velicia
menimpali dengan tenang.
“Velicia! Aku sangat mencintaimu, kumohon jangan
pergi.” Hans mengejar, meski Hans mendengar semua yang telah Velicia katakana
pada Jessica dan Hans mengejar Velicia dan memegangi tangan Velicia yang
berkali-kali juga ditangkis kuat oleh Velicia.
“Berhentilah konyol Hans, selamat untuk kalian.”
Velicia benar-benar keluar dari apartemen itu dan berlari menuju lift.
Di dalam lift sangat sepi, dan lagi-lagi air matanya
tidak mampu ia bendung dan Veliciapun menangis kembali dengan masih merasakan
sakit yang sama.
(menelvon)
“Ka, apa kamu sibuk? Bisa antar aku ke rumah kakek
sekarang?”
“kamu kenapa? Apa kamu habis menangis?” Bangkit dari
meja makannya.
“Ka, jika kamu bisa jemput aku ya. Aku tunggu di halte
apartemen.”
“Aku segera kesana, tunggu aku dan jangan pergi
sebelum aku sampai.” Sehan segera berlari menuju mobil dan segera melajukan
mobilnya panik.
“Terimakasih.”
Velicia tidak tau lagi harus menelvon siapa, dia juga
bolos kerja. Yang Velicia fikirkan saat ini adalah bagaimana dia pergi dari
tempat itu. Dan Sehanlah, hanya sehan yang dia punya sekarang. Dia juga ingat
harus memberikan pesan pada Hannie untuk membuatkannya izin cuti beberapa hari
untuk menenangkan fikirannya di rumah kakeknya yang dia punya saat ini. Hanya
rumah tua sederhana itu yang kini menjadi tempat pelarian yang tepat untuknya.
Beberapa menit saja Sehan sudah datang dan segera menghampiri Velicia yang
sedang tertunduk lesu dengan baju setelan kerjanya yang sudah berantakan. Dan
koper besarnya yang terlihat seperti orang habis diusir paksa. Mata Velicia
yang sembab juga bengkak juga rambutnya yang sedikit berantakan. Sehan segera
memakaikan jasnya untuk menutupi baju Velicia yang berantakan dan memapahnya
masuk ke mobil. Juga memasukkan kopernya ke dalam bagasi belakang mobilnya.
Sehan mulai melajukan mobilnya tidak bertanya apapun
seakan dia tau jika Velicia butuh waktu untuk tenang, dan mungkin Sehan akan
bertanya nanti setelah Velicia sudah tenang. Tampak begitu jelas tergambar jika
Velicia sedang sangat sedih dan marah. Sehanpun sangat sedih melihat kesedihan
Velicia, dan dia juga khawatir pada Velicia yang tak mengucapkan sepatah
katapun di perjalanan yang sudah panjang ini. Velicia hanya menunjukan arah
mobilnya saja tanpa berkata hal lain dan pandangannya kosong tidak seperti
biasanya. Velicia seperti syok berat dan sangat rapuh saat ini.
__ADS_1
Sehan yang sudah mengenal Velicia sedari Velicia kecil
tentu sudah tau jelas sikap dan perilakunya, saat ini Velicia benar-benar tidak
ingin diganggu makanya Sehan juga hanya diam saja.
“Ka, aku laper.” Velicia tiba-tiba dengan wajah
melasnya meminta makanan.
“Itu ada minimarket, ada jual makanan instan juga. Aku
beli dulu sebentar ya kamu tunggu disini.” Sehan segera pergi membeli makanan
tanpa menunggu jawaban iyah dari Velicia dan Velicia hanya tersenyum melihat
Sehan yang begitu baik padanya.
Selang beberapa menit saja Sehan sudah membawakannya
roti dengan susu dari minimarket, dan Velicia segera menyantap makanannya
dengan rakus karena lapar. Sehan hanya melihati Velicia yang sedang kelaparan
itu.
“Ko ketawa?” Velicia menghentikan acara makannya
karena melihat Sehan memandanginga dan tertawa geli.
“Kamu seperti anak kucing yang 2 hari kelaparan. Haha”
Sehan menertawainya lagi.
“Dasar kaka durhaka, tega-teganya menertawai adiknya
yang sedang kelaparan.” Velicia merajuk.
“Baiklah, baiklah. Apa kita lanjutkan perjalanan
sekarang?” Sehan bersiap-siap melajukan mobilnya.
“Ka, nanti di depan situ ada taman kita berhenti
disitu dulu ya. Aku ingin ketaman itu dulu.”
“Baik tuan putri.” Sehan menggoda dan disambut hanya
dengan tawa paksa Velicia.
**Ditaman
Velicia duduk di salah satu kursi taman yang teduh,
hari sudah mulai siang matahari sudah terasa begitu terik. Velicia duduk dan
memandangi danau buatan yang kecil dan dipenuhi dengan tanaman angger ungu yang
menawan. Sehan duduk di sampinnya dan mulai memperhatikan Velicia yang masih
diam dengan tatapan penuh seksama pada anggrek itu.
“Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, aku tidak
akan memaksamu untuk bercerita. Tetapi kamu bisa peluk aku saat kamu butuh
sandaran, atau kamu bisa menangis di pelukanku saat kamu merasa sesak.” Sehan
memulai percakapan.
“Ka, apa kamu akan membantuku?” Velicia tiba-tiba
memutar tubuhnya ke samping memegangi tangan Sehan dan memandang sehan dengan
penuh kesedihan.
“Apapun itu, aku pasti akan membantumu.” Sehan dengan
penuh keyakinan menjawab.
“Ka, bantu aku untuk pergi ke negara S bertemu dengan
Alicia. Dan…..dan……” Sesaat kemudian Velicia ragu.
“Katakanlah.” Sehan penasaran.
“Aku dan Hans sudah mau bercerai, aku akan
menggugatnya bercerai. Tapi aku tak ingin lagi dia membiayai pengobatan adikku,
aku bingung lagi dengan pengobatan Alicia.” Velicia menceritakannya dengan
penuh kesedihan yang mendalam.
“Aku akan membantumu, dan pengobatan Alicia akan aku
tanggung. Alicia kan adalah adikku juga lagi pula memang ini keinginanku sejak
aku tau Alicia sakit.” Sehan tanpa ragu-ragu mengiyakan permohonan Velicia.
“Tapi aku akan ke negara S setelah aku mengurus
perceraian ini.”
“Aku akan mengurus pemutusan kuasa atas Alicia dulu,
aku hanya perlu alamat rumah sakitnya. Kamu uruslah urusanmu terlebih dulu.
Alicia menjadi urusanku sekarang.”
“Terimakasih ka Sehan.” Velicia memeluk Sehan dengan
erat dan menangis di pelukan Sehan.
“Ada masalah apa? Bukannya kalian akan selamanya
bersama, terlebih lagi sudah diikat dalam pernikahan.” Sehan membelai rambut
Velicia yang masih menangis berusaha menenangkan Velicia.
“Dia tidur dengan mantan kekasihnya, dan aku tidak
bisa pertahankan pernikahan ini ka. Sungguh hatiku sudah hancur dan benci
padanya.” Velicia menceritakan kepedihannya.
“Baiklah, sudah-sudah tenanglah nanti matamu menjadi
bengkak jika menangis terus.” Sehan menenangkan juga menggoda.
Velicia melepaskan pelukannya dan menghapus air
matanya dengan punggung tangannya dan tersenyum tipis pada Sehan yang disambut
dengan senyum manis dari Sehan.
“Rumah kakekmu masih jauh?” Sehan penasaran.
“Sudah dekat, hanya 1 km lagi kurang lebih.”
“Jauh sekali dari kota, tempat kerjamu juga pasti
sangat jauh. Kamu tidak kerja?”
“Iyah, ini adalah rumahku satu-satunya. Aku juga harus
cari kost atau kontrakan yang murah beberapa hari nanti makanya aku ambil cuti
3 hati.” Velicia lagi-lagi murung.
“3 hari cari kost atau kontrakan kamu pikir gampang?
Bagaimana kalau sementara tinggallah dirumahku yang dulu itu, disebelah
rumahmu. Aku juga tinggal sendiri dan 2 pelayan, yah itu kalau kamu mau. Atau
kamu bisa tinggal di apartemenku di kota dekat sekali dengan tempat kerjamu.
Pilih mana?” Sehan terlihat jengkel juga sangat perhatian pada Velicia.
“Gak dua-duanya.” Velicia menolak tawaran Sehan.
“Ya sudah aku ikut tinggal dirumah kakekmu, menjadi
supir pribadimu.” Sehan kesal.
“Ka, bagaimana bisa. Nanti kerjamu bagaimana? Rumah
kakek sangatlah jauh, setidaknya butuh 1 jam untuk perjalanan. Pasti akan
sangat melelahkan.” Velicia sedih
“Itu tau.” Sehan mencoba membujuk Velicia.
“Baiklah ka, aku akan tinggal di rumahmu sampai aku
dapat kost-kostan atau kontrakan.”
“Gitu dong, nanti aku akan bantu carikan ya.” Ucap
sehan lembut.
“Makasih ya ka.”
“Ayo kita balik ke rumahku, lagian gak jadi kerumah
kakek kan?” Sehan berdiri dan memegangi tangan Velicia mengajaknya segera
kembali.
“Baiklah.” Tanpa pilihan lain Velicia setuju, dan
memang rumah Sehan itu taka sing baginya. Dulu dia sering main ke rumah Sehan,
__ADS_1
ibu Sehan juga sangat baik dan sangat menyayangi Velicia sehingga Velicia juga
sering menginap di rumah Sehan dulu.