KONTRAK DAN TAKDIR CINTA

KONTRAK DAN TAKDIR CINTA
Kontrak dan Takdir Cinta berakhir


__ADS_3

12


***Kontrak dan Takdir Cinta***


Velicia membuka apartemennya, dan mengedarkan


pandangannya. Apartemen itu terlihat kosong tanpa kehadiran orang lain. Velicia


segera masuk ke kamarnya untuk melepaskan penatnya dan yang barusan di lihatnya


di restoran. Rasanya jika penglihatan itu jarang salah. Sesaat sudah Velicia


mengingat kembali momen saat Hans membicarakan Jessica, dan saat mereka berdua


bersama dan lalu perlakuan Hans pada Jessica kemudian momen yang baru saja dia


lihat bahwa dia baru menyadari jika dimata Hans, dalam sikapnyapun sudah jelas


jika Hans juga mencintai Jessica. Namun mengapa Hans bilang jika dia mencintai


Velicia.


Terngiang juga kembali saat ketika Hans memeluknya dan


berulang kali bilang jika Hans mencintainya, saat mengingat itu rasanya bagai ribuan


sembilu bergantian menyayat hatinya dan seketika hatinya tercobak-cabik.


Sakittttt sangat sakit rasannya, hingga tak lagi dapat terbendung lagi.


Velicia hanya berbaring di kasurnya dengan pakaian


perginya tadi masih melekat di tubuhnya, seperti dia enggan beranjak dari


tempat tidurnya tubuhnya cukup tak berdaya seperti baru saja mendapatkan beban


yang begitu berat hingga tak mampu berdiri dan hanya bisa berbaring. Berusaha


menutup kedua matanya berharap akan ada rasa kantuk yang begitu kuat hingga dia


bisa memejamkan mata tertidur dan melupakan segalanya yang terjadi hari ini. Hingga


benar saja sesaat saja Velicia terpejam dan lelap dalam tidurnya.


Pagi pun datang, rasanya begitu lama Velicia tertidur


nyenyak semalam hingga dia tidak tau apakah Hans sudah pulang atau tidak.


Seperti biasanya dipagi hari dia segera bebersih bersiap berangkat bekerja, dan


sebelum berangkat diapun ke dapur untuk sarapan pagi.


“bu Si, apa Hans sudah beragkat kerja?” Velicia


bertanya pada bu Si.


“Kayanya masih tidur deh non.”Jawab bu Si.


Tanpa fikir panjang Velicia segera menghampiri kamar


Hans untuk membangunkannya agar tidak terlambat pergi bekerja. Karena Hans


pernah bilang jika Velicia tidak perlu ketuk pintu untuk masuk ke kamarnya.


Jelas saja Hans tidur di kamar sebelah karena semalam kamar Velicia dikunci


dari dalam, dan mungkin Hans akhirnya tidur di kamarnya. Dan lagi dulu saat


Velicia mengetuk kamar Hans membangunkannya tidur katanya Velicia tidak perlu


mengetuknya langsung saja masuk. Dan katanya Hans lebih suka dibangunkan oleh


Velicia secara langsung tanpa perlu mengetuk dan malah membuat Hans kaget dan


marah.


Akhirnya Veliciapun membuka langsung kamar Hans tanpa


ragu.


“Ha…..” Ucapannya pun tergantung dan dia seketika


kaget bukan main membulatkan matanya melihat lurus kearah ranjang Hans dan diam


mematung tanpa kata lagi. Kemudian dia melangkah mundur dan keluar kembali dari


dalam kamar Hans dan membanting pintu kamar keras-keras hingga terdengar begitu


teramat sangat nyaringnya membuat Hans yang sedang tidur sangat kaget dan


seketika bangun dari tidurnya dan terduduk.


Hans tak kalah kagetnya dengan Velicia saat Hans


melihat sosok wanita lain ada di kasurnya dengan tubuh yang hanya dibalut dengan


selimut. Dan Hans seketika langsung melihat ke tubuhnya yang tidak memakai baju


dan ternyata Hans pun hanya membalut tubuhnya dengan selimut. Sontak saja Hans


langsung teringat dengan Velicia yang mungkin dia baru saja yang membanting


pintu. Hans segera beranjak tanpa memperdulikan apapun, meraih baju dan


celananya dan memakainya segera mencari Velicia.


Hans yang mencari Velicia dan langsung menghampiri


kamar Velicia dengan panik sampai bu Si yang melihatpun ikutan bingung dengan


kepanikan Hans. Bu Si yang lebih dulu melihat Velicia keluar dari kamar Hans


dengan menutup mulutnya dan menangis lalu masuk ke kamarnya dan beberapa saat


kemudian di susul Hans yang dengan paniknya menghampiri kamar Velicia yang


tertutup rapat terkunci dari dalam dan hanya terdengar suara tangisan.


Velicia begitu hancur, remuk sudah hatinya, berkeping-keping.


Bukan lagi hanya tersayat-sayat lagi tapi kini malah dihancurkan


berkeping-kepin. Sesaat telah dilihatnya pemandangan yang luar biasa membuat


hatinya hancur. Lelaki yang dicintainya, lelaki yang menyandang status


suaminya, lelaki yang baru saja beberapa hari lalu berulang kali mengatakan


mencintainya, lelaki yang bilang ingin terus menjadi suaminya selamanya, lelaki


yang seperti malaikat penolong baginya dan laki-laki yang begitu gentel


menyobek surat penjanjian kontrak itu dan secara terbuka bilang ingin


menjadikan dirinya adalah istrinya sesungguhnya, lelaki yang telah menerbangkan


dirinya begitu tinggi menembus awan seperti peri yang bahagia dimabukkan oleh


cinta.


Namun, ya namun lelaki ini pulalah yang telah


mematahkan sayapnya hingga dia terjatuh terperosok ke bumi dan menderita banyak


luka, bukan hanya sayapnya, juga hatinya yang remuk redam.


Pagi ini, Velicia sendiri, dia melihat pemandangan


yang sangat menjijikan juga memuakkan ketika dimana dikasur yang sama, kasur


yang beberapa hari lalu di tiduri olehnya dan suaminya. Dan kini kasur yang


sama itu pulalah menjadi saksi sekaligus bukti perselingkuhan yang tidak lagi


dapat terelakkan.


Hans dengan hanya berbalut selimut putih itu, iyah


selimut itu juga selimut yang sama beberapa hati lalu Velicia pakai


menghangatkan tubuhnya. Kini di pagi ini selimut itu menjadi penghangat wanita


lain. Dimana wanita itu juga hanya berbalut selimut tertidur nyenyak disamping


Hans dengan lengan kiri Hans yang memeluk wanita itu dan mereka berdua


sama-sama terlelap.


Wanita itu, tak lain dan tak bukan adalah Jessica,


teman sekaligus mantan kekasih Hans dimasa lalu. Betapa hancurnya hatinya,


pilu….pilu sekali. Sakit…..rasanya sangat-sangat dan teramat sakit bagi Velicia


hingga dia hanya mampu menangisi apa yang barusan dia lihat.


Pernikahan kontrak, hingga yang dia fikir adalah


takdir yang dipertemukan oleh kontrak, ternyata benar kontran dan takdir cinta


ini hanya untuk sampai disini. Pupus sudah harapannya untuk tetap mencintainya,


mati sudah cintanya terkubur amarah dan benci juga jijik. Kini matanya tak


mungkin bisa berbohong, dia melihat melihatnya sendiri dengan mata dan


kepalanya sendiri. Cintanya yang tulus itu kini hanyalah kenangan. Kata-kata


manis dari laki-laki itu kini hanyalah bualan belaka, tak dapat Velicia percaya


apapun kini. Semua kenangan cinta, harapan mati sudah terbunuh oleh amarahnya


akan penghianatan yang keji ini.

__ADS_1


Ironisnya, saat seorang istri melihat suaminya tidur


dengan wanita lain yang wanita itu adalah mantan pacarnya dulu. Lelucon apa


yang sebenarnya tuhan berikan ini? Rasanya sungguh menyakitkan seperti duniapun


ikut runtuh bersama-sama dengan hatinya yang juga telah berkeping-keping ini.


Lelucon apa ini? Dia membawa mantan pacarnya untuk


tidur di ranjang yang sama dengan istrinya? Hahaha, kamu gila. Aku yang bodoh


atau kamu Hans yang bodoh? Aku melihat kamu dan wanita itu hanya terbalut


selimut dan kamu dengan mesranya memeluknya kalian terlelap bersama. Aku sampai


tidak bisa membayangkan betapa panasnya kejadian yang kalian lalui semalam.


Sungguh pasti sebuah kejadian yang tidak akan kalian lupakan bukan? Sudahkah


kamu puas Hans menghancurkan hatiku hingga sedemikian rupanya? Sungguh aku


sangat membencimu dan tidak mau mengingat dirimu lagi di kemudian hari dan juga


dikehidupanku selanjutnyapun aku tak mau mengingatmu atau bertemu lagi


denganmu. Aku muak denganmu Hans.  Velicia yang kini hanya sesak di dadanya mencoba untuk


menguapkan segala sesaknya.


Velicia segera mengemasi semua barangnya hendak


meninggalkan tempat itu, dan beberapa menit saja semua barangnya masuk ke dalam


kopernya yang besar. Velicia segera pergi dan keluar dari kamarnya, terlihat di


depan kamarnya Hans yang bersiap ingin menjelaskan.


“Vel, kamu mau kemana? Ayo kita masuk dan akan aku


jelaskan di dalam kamar ya.” Hans dengan sedihnya mencoba membujuk.


“Semua sudah jelas, dan sangat jelas. Apa yang aku


lihat sudah jelas, dengan apa kamu akan menjelaskan? Setelah ini aku mohon


tanda tangani surat cerainya, aku akan buatkan surat cerainya segera dan mengirimkannya


padamu. Jangan lagi ganggu aku, dan tentang adikku aku akan segera


mengembalikan uangmu. Dan kamu sudah cukup membiayai pengobatannya sampai


disini.” Velicia mencoba bicara dengan nada angkuh dan menelan pahit semua


kegetirannya. Sungguh Velicia memeng wanita yang Tangguh dengan aktingnya yang


sangat bagus dan control emosi yang bagus pula hingga dia bisa setenang itu


setelah menangis 1 jam di kamarnya barusan. Dan bisa berbicara dengan sangat


lantang, angkuh dan tegas setelahnya.


“Vel, dengarkan penjelasanku dulu. Aku sangat


mencintaimu dan tak akan menceraikanmu sampai kapanpun.” Hans memelas.


“Aku yang akan menceraikanmu bukan kamu. Dan aku bisa


menceraikanmu tanpa persetujuan darimu dengan cara apapun. Mengingat apa yang


sudah kamu lakukan terhadapku, aku yakin perceraian ini akan mulus.” Velicia


melangkah meninggalkan Hans.


“Vel, aku salah aku mohon maaf.” Hans bersujud.


“Aku maafkan, tapi kita tetap bercerai.” Velicia tidak


menghiraukan Hans yang berlutut.


“Velicia..” Jessica yang sudah berdiri di samping


ruang makan memperhatikan Velicia dan Hans dari tadi, rupanya dia tengah


menonton pertunjukan yang menarik. Velicia juga sudah sedari tadi melihatnya


beberapa kali tersenyum senang. Lalu dia melihat Velicia yang kini membawa


kopernya dan berjalan menuju ke pintu untuk keluar lalu dihadangnya dengan


panggilannya dan seorah menyesal lalu tertunduk, Velicia segera menyadari jika


itu hanyalah aktingnya saja. Namun Velicia juga segera tersadar bahwa sialnya


jika yang barusan beberapa saat yang lalu yang dia lihat itu bukanlah akting.


“Berbahagialah kini Jessica dengan mantan suamiku.


Semoga bahagia dengannya, dan tidak perlu kamu undang aku saat kalian menikah.


mengencangkang nada bicaranya agar terdengar sampai ke telinga Hans.


“Sudah kalah dan berlagak lagi.” Jessica membisikkan


ke telinga Velicia.


“Apa kamu bangga Jessica jika mengambil milik orang


lain? Ambillah, dia sudah tak berharga lagi bagiku. Karena bagiku laki-laki


yang berharga tidak akan mudah tergoda oleh wanita sepertimu.” Velicia


menimpali dengan tenang.


“Velicia! Aku sangat mencintaimu, kumohon jangan


pergi.” Hans mengejar, meski Hans mendengar semua yang telah Velicia katakana


pada Jessica dan Hans mengejar Velicia dan memegangi tangan Velicia yang


berkali-kali juga ditangkis kuat oleh Velicia.


“Berhentilah konyol Hans, selamat untuk kalian.”


Velicia benar-benar keluar dari apartemen itu dan berlari menuju lift.


Di dalam lift sangat sepi, dan lagi-lagi air matanya


tidak mampu ia bendung dan Veliciapun menangis kembali dengan masih merasakan


sakit yang sama.


(menelvon)


“Ka, apa kamu sibuk? Bisa antar aku ke rumah kakek


sekarang?”


“kamu kenapa? Apa kamu habis menangis?” Bangkit dari


meja makannya.


“Ka, jika kamu bisa jemput aku ya. Aku tunggu di halte


apartemen.”


“Aku segera kesana, tunggu aku dan jangan pergi


sebelum aku sampai.” Sehan segera berlari menuju mobil dan segera melajukan


mobilnya panik.


“Terimakasih.”


Velicia tidak tau lagi harus menelvon siapa, dia juga


bolos kerja. Yang Velicia fikirkan saat ini adalah bagaimana dia pergi dari


tempat itu. Dan Sehanlah, hanya sehan yang dia punya sekarang. Dia juga ingat


harus memberikan pesan pada Hannie untuk membuatkannya izin cuti beberapa hari


untuk menenangkan fikirannya di rumah kakeknya yang dia punya saat ini. Hanya


rumah tua sederhana itu yang kini menjadi tempat pelarian yang tepat untuknya.


Beberapa menit saja Sehan sudah datang dan segera menghampiri Velicia yang


sedang tertunduk lesu dengan baju setelan kerjanya yang sudah berantakan. Dan


koper besarnya yang terlihat seperti orang habis diusir paksa. Mata Velicia


yang sembab juga bengkak juga rambutnya yang sedikit berantakan. Sehan segera


memakaikan jasnya untuk menutupi baju Velicia yang berantakan dan memapahnya


masuk ke mobil. Juga memasukkan kopernya ke dalam bagasi belakang mobilnya.


Sehan mulai melajukan mobilnya tidak bertanya apapun


seakan dia tau jika Velicia butuh waktu untuk tenang, dan mungkin Sehan akan


bertanya nanti setelah Velicia sudah tenang. Tampak begitu jelas tergambar jika


Velicia sedang sangat sedih dan marah. Sehanpun sangat sedih melihat kesedihan


Velicia, dan dia juga khawatir pada Velicia yang tak mengucapkan sepatah


katapun di perjalanan yang sudah panjang ini. Velicia hanya menunjukan arah


mobilnya saja tanpa berkata hal lain dan pandangannya kosong tidak seperti


biasanya. Velicia seperti syok berat dan sangat rapuh saat ini.

__ADS_1


Sehan yang sudah mengenal Velicia sedari Velicia kecil


tentu sudah tau jelas sikap dan perilakunya, saat ini Velicia benar-benar tidak


ingin diganggu makanya Sehan juga hanya diam saja.


“Ka, aku laper.” Velicia tiba-tiba dengan wajah


melasnya meminta makanan.


“Itu ada minimarket, ada jual makanan instan juga. Aku


beli dulu sebentar ya kamu tunggu disini.” Sehan segera pergi membeli makanan


tanpa menunggu jawaban iyah dari Velicia dan Velicia hanya tersenyum melihat


Sehan yang begitu baik padanya.


Selang beberapa menit saja Sehan sudah membawakannya


roti dengan susu dari minimarket, dan Velicia segera menyantap makanannya


dengan rakus karena lapar. Sehan hanya melihati Velicia yang sedang kelaparan


itu.


“Ko ketawa?” Velicia menghentikan acara makannya


karena melihat Sehan memandanginga dan tertawa geli.


“Kamu seperti anak kucing yang 2 hari kelaparan. Haha”


Sehan menertawainya lagi.


“Dasar kaka durhaka, tega-teganya menertawai adiknya


yang sedang kelaparan.” Velicia merajuk.


“Baiklah, baiklah. Apa kita lanjutkan perjalanan


sekarang?” Sehan bersiap-siap melajukan mobilnya.


“Ka, nanti di depan situ ada taman kita berhenti


disitu dulu ya. Aku ingin ketaman itu dulu.”


“Baik tuan putri.” Sehan menggoda dan disambut hanya


dengan tawa paksa Velicia.


**Ditaman


Velicia duduk di salah satu kursi taman yang teduh,


hari sudah mulai siang matahari sudah terasa begitu terik. Velicia duduk dan


memandangi danau buatan yang kecil dan dipenuhi dengan tanaman angger ungu yang


menawan. Sehan duduk di sampinnya dan mulai memperhatikan Velicia yang masih


diam dengan tatapan penuh seksama pada anggrek itu.


“Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, aku tidak


akan memaksamu untuk bercerita. Tetapi kamu bisa peluk aku saat kamu butuh


sandaran, atau kamu bisa menangis di pelukanku saat kamu merasa sesak.” Sehan


memulai percakapan.


“Ka, apa kamu akan membantuku?” Velicia tiba-tiba


memutar tubuhnya ke samping memegangi tangan Sehan dan memandang sehan dengan


penuh kesedihan.


“Apapun itu, aku pasti akan membantumu.” Sehan dengan


penuh keyakinan menjawab.


“Ka, bantu aku untuk pergi ke negara S bertemu dengan


Alicia. Dan…..dan……” Sesaat kemudian Velicia ragu.


“Katakanlah.” Sehan penasaran.


“Aku dan Hans sudah mau bercerai, aku akan


menggugatnya bercerai. Tapi aku tak ingin lagi dia membiayai pengobatan adikku,


aku bingung lagi dengan pengobatan Alicia.” Velicia menceritakannya dengan


penuh kesedihan yang mendalam.


“Aku akan membantumu, dan pengobatan Alicia akan aku


tanggung. Alicia kan adalah adikku juga lagi pula memang ini keinginanku sejak


aku tau Alicia sakit.” Sehan tanpa ragu-ragu mengiyakan permohonan Velicia.


“Tapi aku akan ke negara S setelah aku mengurus


perceraian ini.”


“Aku akan mengurus pemutusan kuasa atas Alicia dulu,


aku hanya perlu alamat rumah sakitnya. Kamu uruslah urusanmu terlebih dulu.


Alicia menjadi urusanku sekarang.”


“Terimakasih ka Sehan.” Velicia memeluk Sehan dengan


erat dan menangis di pelukan Sehan.


“Ada masalah apa? Bukannya kalian akan selamanya


bersama, terlebih lagi sudah diikat dalam pernikahan.” Sehan membelai rambut


Velicia yang masih menangis berusaha menenangkan Velicia.


“Dia tidur dengan mantan kekasihnya, dan aku tidak


bisa pertahankan pernikahan ini ka. Sungguh hatiku sudah hancur dan benci


padanya.” Velicia menceritakan kepedihannya.


“Baiklah, sudah-sudah tenanglah nanti matamu menjadi


bengkak jika menangis terus.” Sehan menenangkan juga menggoda.


Velicia melepaskan pelukannya dan menghapus air


matanya dengan punggung tangannya dan tersenyum tipis pada Sehan yang disambut


dengan senyum manis dari Sehan.


“Rumah kakekmu masih jauh?” Sehan penasaran.


“Sudah dekat, hanya 1 km lagi kurang lebih.”


“Jauh sekali dari kota, tempat kerjamu juga pasti


sangat jauh. Kamu tidak kerja?”


“Iyah, ini adalah rumahku satu-satunya. Aku juga harus


cari kost atau kontrakan yang murah beberapa hari nanti makanya aku ambil cuti


3 hati.” Velicia lagi-lagi murung.


“3 hari cari kost atau kontrakan kamu pikir gampang?


Bagaimana kalau sementara tinggallah dirumahku yang dulu itu, disebelah


rumahmu. Aku juga tinggal sendiri dan 2 pelayan, yah itu kalau kamu mau. Atau


kamu bisa tinggal di apartemenku di kota dekat sekali dengan tempat kerjamu.


Pilih mana?” Sehan terlihat jengkel juga sangat perhatian pada Velicia.


“Gak dua-duanya.” Velicia menolak tawaran Sehan.


“Ya sudah aku ikut tinggal dirumah kakekmu, menjadi


supir pribadimu.” Sehan kesal.


“Ka, bagaimana bisa. Nanti kerjamu bagaimana? Rumah


kakek sangatlah jauh, setidaknya butuh 1 jam untuk perjalanan. Pasti akan


sangat melelahkan.” Velicia sedih


“Itu tau.” Sehan mencoba membujuk Velicia.


“Baiklah ka, aku akan tinggal di rumahmu sampai aku


dapat kost-kostan atau kontrakan.”


“Gitu dong, nanti aku akan bantu carikan ya.” Ucap


sehan lembut.


“Makasih ya ka.”


“Ayo kita balik ke rumahku, lagian gak jadi kerumah


kakek kan?” Sehan berdiri dan memegangi tangan Velicia mengajaknya segera


kembali.


“Baiklah.” Tanpa pilihan lain Velicia setuju, dan


memang rumah Sehan itu taka sing baginya. Dulu dia sering main ke rumah Sehan,

__ADS_1


ibu Sehan juga sangat baik dan sangat menyayangi Velicia sehingga Velicia juga


sering menginap di rumah Sehan dulu.


__ADS_2