
19
Mengejar Kembali
17:30 jam pulang sudah tiba, saatnya berkemas untuk
pulang kerumah, Velicia mengingat sepanjang waktu hari ini jika mala mini dia
akan pindah ke apartemen untuk menyambut Alicia beberapa hari lagi. Dia sampai
tidak sabar untuk malam cepat datang dan segera berkemas untuk meninggali
apartemen yang Sehan berikan padanya, lebih tepatnya Sehan meminjamkannya untuk
dirinya dan adiknya tempati.
Velicia juga teramat tegang mengingat bagaimana nanti
Alicia, akankah Alicia menyukainya? Seperti apa apartemen itu juga dia belum
tau, karena waktunya yang begitu padat akhir-akhir ini hingga membuatnya
seperti tidak dapat bernafas lega menikmati benar-benar waktu liburnya untuk
sekedar berlibur memanjakan diri bermalas-malasan dirumah.
Namun ya bagaimanapun nanti tentu Velicia percaya pada
Sehan, Sehan telah melakukan banyak hal terbaik dalam hidup Velicia. Sehan
memang masih begitu tenang seperti dulu, dia juga begitu jujur dan juga begitu
dingin.
Velicia segera merapikan mejanya, memasukkan kembali
ponselnya di tas kecilnya dan segera berbaur pergi bersama rekan kantor lainnya
yang seperti cepat-cepat ingin segera meninggalkan kantor. Wajah lelah mereka
sudah tidak terelakkan lagi tergambar jelas meskipun mereka tidak
menjelaskannya tentu yang melihat akan tau jika mereka lelah hari ini. Tidak
terkecuali wajah Velicia yang cantikpun juga begitu. Terlihat begitu lelah
meskipun mencoba untuk terus tersenyum dalam sapaan teman-teman lainnya.
Beberapa dari mereka pergi bergerombol seperti
merencanakan pelepasan kelelahan dengan menongkrong bersama bersenda gurau, dan
sebagian lagi memilih berpasangan menghabiskan beberapa saat untuk saling
bertukar cerita. Dan sebagian lain lagi memelih memisah pergi pulang melepaskan
lelah di kasur ternyaman mereka. Dan ya, Velicia memelih untuk pulang dan
berpisah di lobi kantor dengan teman-teman kantor lainnya.
Velicia melangkah keluar menuju ke halte biasanya dia
akan menunggu bus untuk pulang ke rumah Sehan. Dengan memerapa kali dia
membayangkan kasurnya yang nyaman itu dan ingin segera sampai di kamarnya dan
rebahan sejenak saja untuk meluruskan pinggangnya yang seperinya memang
menuntut ingin santai sejenak. Setelah tadi beberapa lama tulang-tulangnya
menopang tubuhnya yang terduduk tentu saja tulang-tulangnya itu juga butuh
istirahat peregangan sejenak.
“Velicia….!” Suara yang tentu saja sangat Velicia
kenali terdengar kencang memanggil namanya dari belik punggungnya yang membuat
langkahnya reflek berhenti sambil menguatkan tekadnya untuk tetap tenang
penguatan mental.
“Vel, ayo aku antar kamu pulang.” Suara itu kemudian
menyusul terdengar begitu dekat setelah tadi terdengar deru langkah sepatu vantofel
itu melangkah mendekatinya yang diam mematung tanpa menoleh.
“Tidak usah repot-repot Frederik Hans.” Velicia
berbicara begitu formal pada laki-laki itu dan kembali melangkah perdi setelah
menoleh sedikit ke arah Hans.
Tak putus asa Hans terus mengejar langkah wanita yang
sekarang berjalan sejajar di sampingnya dengan seikat bunga mawar merah yang
kini ada di tangannya hendak dia berikan kepada Velicia yang terus berjalan
mengacuhkannya.
“Please Vel, berhenti sebentar.”
“Ada apa lagi?” (ketus)
“Aku hanya ingin memberimu bunga ini.” (memberikan)
“Terimakasih. Lainkali anda tidak perlu repot-repot.”
(ketus dan naik ke bus yang telah berhenti di halte)
Hans hanya memperhatikan bus itu jalan maju tanpa
menghiraukannya, dan sesaat itu Hans merasakan sakit dalam hatinya yang begitu
sakit melihat perlakuan Velicia yang begitu asing padanya.
Disisilain di dalam bus, Velicia memegangi bunga mawar
itu dengan seksama memandangi indanya bunga mawar itu yang masih begitu segar
dengar warna merahnya. Dia terduduk di kursi busnya dengan matanya yang tidak
lepas dari bunga mawar itu.
“Dari pacar ya cu, bunga mawarnya sangat indah.” Suara
bergetar itu memekikkan lamunannya dan membuat Velicia segera menoleh ke bangku
sampingnya. Tak disadari ternyata seorang nenek-nenek sudah begitu renta duduk
di sampingnya dengan senyuman yang mengembang membuat mulutnya yang tak lagi
bergigi terbuka sedikit dengan kerutan di wajahnya sudah nampak begitu banyak.
Baju mantelnya yang terlihat dengan model kuno dengan tongkat kayunya yang membantunya
berjalan.
“Nenek suka dengan bunga ini?” Velicia segera
menyapanya kembali dengan penuh keramahan.
“Mana mungkin wanita tidak suka dengan bunga yang
secantik itu nak.” (senyum lagi)
“Kalau begitu aku berikan bunga ini pada nenek sebagai
tanda pertemanan kita. Bagaimana nek?” (meyerahkan)
“Apa itu tidak berharga untukmu nak?” (bertanya dengan
kesungguhan)
“Tidak, ini hanyalah bunga. Pertemuan kita mungkin
lebih berarti.”
“Wajah yang cantic dengan hati yang lembut.
Terimakasih nak untuk bunganya.” (menerima)
“Sama-sama.” (tersenyum lebar)
Lalu setelah itu tidak ada lagi percakapan yang
berarti, hanya sekedar basa-basi menanyakan kegiatan yang sedang dijalani.
“Nek saya sudah harus turun. Jadi sampai jumpa
kembali.” (pamit)
“Baiklah nak, jika berjodoh kita akan segera bertemu
kembali.” (tersenyum ramah)
“Baiklah nek, hati-hati di jalan.” (berdiri dari
tempat duduknya dan pergi ke pintu bus)
Velicia segera turun dan berjalan menuju komplek
perumahannya dan masuk ke rumah.
Kayanya Sehan belum pulang. Ya sudahlah aku bisa
bersih-bersih dulu lalu beres-beres barang.
Melihat rumah begitu kosong Velicia segera naik ke
__ADS_1
atas ke kamarnya untuk mandi dan ganti baju, badannya yang terasa begitu
lengket dan sudah tidak nyaman. Setelah mandi dia berbaring sejenak di kasurnya
dan segera merapikan barang-barang dimasukkan ke dalam kopernya. Selang
beberapa menit berlalu setelah selesai, barang-barangnya sudah masuk semua
kedalam kopernya diapun segera kebawah ke dapur untuk memasak mengisi perutnya
yang sudah mulai keroncongan.
“Hai Velicia, lihat aku sudah belikan semua makanan
kesukaanmu. Ayo makan.” Sehan yang tiba-tiba ada di meja makan dengan baju
santainya merapikan makanan di atas meja makan.
“Kamu hantu ya? Ko tiba-tiba dengan baju santai dan
tidak terdengar kamu pulang?” Velicia terheran kaget ketika di tengah-tengah
tangga Sehan terdengar menyapanya dan reflek langsung tertegun mematung mencoba
mencerna yang membuatnya kaget.
“Hahaha…. Kamu yang terlalu fokus dikamar makanya
tidak dengar aku yang dari beberapa menit lalu pulang membawakan semua makanan
ini.” (tertawa puas melihat Velicia kaget)
“Kamu hampir membunuhku ka karena kaget.” (kesal)
“Haha…Kamu terlalu banyak nonton film horror.”
“Terus saja tertawa. Puaskan?” (kesal)
“Baiklah tuan putri duduk sini. Lalu makanlah, aku tau
kamu sudah kelaparankan.” Sehan menyiapkan tempat duduk untun Velicia, dan
Velicia menurut untuk duduk di kursi yang sudah Sehan persilahkan.
Mereka melanjutkan makan dengan penuh suka cita, bergurau
diatas meja makan, bercerita tentang hari ini diatas meja makan sambil
menikmati rasa masakan restoran berbintang yang sengaja dibeli Sehan untuk
acara perpisahan mala mini. Tentu saja perpisahan Velicia yang akan pindah ke
apartemen dan bagi Sehan rumahnya kan kembali sepi seperti dulu.
“Apa semua sudah siap?”
“Sudah ka. Terimakasih ya atas semua kebaikanmu ka.”
(sedih)
“Aku bahagia jika kamu bahagia Velicia.”
“Tentu saja aku bahagia karena ada Alicia dan ada kamu
ka.” Velicia tiba-tiba bengkit dari kursinya dan mendekati Sehan yang juga
bengkit menyambut Velicia dan Velicia memeluk erat Sehan menyatakan kata-kata
manisnya.
“Terimakasih Velicia.” Sehan membalas pelukan itu dan
mengeratkannya. Sehan menitikan beberapa butir air matanya penuh haru mendengar
ucapan Velicia.
Aku tidak tau kamu menempatkan posisiku sebagai apa
di hatimu, mungkin hanya sebagai kaka angkatmu saja namun itu begitu terdengat
membahagiakan untukku. Kamu telah memberiku ruang yang sama dengan Alicia
dihatimu untukku. Sungguh itu saja sudah begitu cukup untukku, namun aku akan
selalu menunggu kamu mencintaiku lagi sebagai Sehan kekesihmu bukan kakamu.
Sampai pelukan mereka berakhir dan segera bersiap-siap
menuju ke apartemen.
Velicia hanya membawa 1 koper besarnya dan tas jinjingnya
yang berisi tas-tas selempang kecil miliknya. Mereka keluar dari rumah dan
memasuki mobil Sehan, lalu melaju menuju ke apartemen.
**Setelah sampai
kemudian mereka segera masuk kedalam, dilihatnya seketika ketika masuk ke dalam
dapur yang langsung terluhat di garis lurus dengan pintu masuk yang mepet
dengan batas dengan ruangan apartemen sebelahnya. Dapur itu dilengkapi dengan
meja makan minimalisnya, dapur dengan pemandangan yang langsung ke taman kecil
balkon. Lalu di sisi kanannya terdapat ruang tengah juga ruang tamu dan 2 kamar
tidur bersebelahan juga kamar mandi di sebelah kamar tamu.
Sungguh memang apartemen minimalis sederhana seperti
yang Sehan pernah bilang sebelumnya, namun tentu saja bagi Velicia semuanya ini
udah cukup baginya malah apartemen ini terlihat begitu besar daripada
kontrakannya yang dulu.
Sehan mengenalkan satu-persatu ruangan yang ada dan
mengajak Velicia berkeliling mengelilingi ruangan untuk menunjukan seluk beluk
ruangan apartemen itu. Velicia hanya mengikutinya dengan seksama memperhatikan
bagian-bagian tuangan yang ada. Semuanya memang benar-benar begitu lengkap,
kulkas, dispenser, lemari pakaian, meja rias, meja belajar semua lengkap dan
tak perlu ada lagi kekhawatirannya tinggal di apartemen ini.
Isi di dalam kulkasnyapun terusi penuh, Sehan memang
benar-benar tuntas membantunya dengan menyiapkan segalanya untuk Velicia.
Setelah mengenalkan semua ruangan yang ada di
apartemen ini Sehan segera duduk di ruang tengah dan Velicia membuatkan Sehan
secangkir the panas.
“Makasih ya ka untuk semuanya.”
“Mau berapa kali lagi kamu bilang begitu?”
“Ya, aku bingung harus bagaimana lagi.” (bingung)
“Kalo kamu bahagia itu sudah lebih dari cukup.”
(tersenyum)
“Baiklah aku akan terus bahagia untukmu ka.”
(berjanji)
“Aku pegang janjimu loh.” (mengejek)
“Aku dengar kaka ini sangat dingin ya sebagai bos?”
“Kamu suka bergosip sekarang?” (tidak nyaman)
“Yah aku heran saja, kenapa kaka yang terlihat manis
ini begitu terkenal dingin dan jutek di kantornya sebagai atasan.” (mengejek)
“Dengar gosip darimana?” (penasaran)
“Dengar dari Hannie, katanya pacarnya bekerja di
kantormu. Ayolah ka, jangan terlalu tegang jadi atasan harus lebih hangat pada
pegawainya.” (menasehati)
“Maksudmu seperti atasanmu itu Henry-Henry itu gitu
menggoda kariawannya terus?” (tiba-tiba kesal)
“Hei….Kenapa bisa kamu tau tentang atasanku?” (bingung)
“Dari gosip. Jadi benar nih?” (mengejek)
“Ais….Laki-laki tukang gosip.” (kesal)
“Aku hanya tidak nyaman ditempeli wanita-wanita selain
kamu.” (tiba-tiba bersungguh-sungguh)
“Baiklah aku tidak akan bahas lagi. Kayanya kamu tidak
nyaman.” (mencoba mengubah topik)
Maaf ya ka, beri aku waktu untuk meyakinkan
__ADS_1
perasaanku. Apakah aku benar-benar mencintaimu seperti dulu atau hanya cinta
seorang adik pada kakanya saja.
“Kamu istirahatlah, aku akan pulang.” (beranjak dari
tempat duduknya)
“Tidurlah disini ka, ini sudah larut. Kan bajumu beberapa
masih disini juga kamat ini kan ada 2.”
“Apa kamu tidak apa-apa?” (ragu)
“Tentu saja.” (yakin)
Dan akhirnya Sehan menginap dan tidur di kamar tamu,
kamar utama Sehan yang menyuruh Velicia menempatinya.
Dikamar yang lumayan luas ini, Velicia berbaring di
atas ranjang setelah sebelumnya dia sudah berganti dengan baju tidurnya. Dan
Sehan yang juga masuk ke kamarnya dan beberapa kali terdengar Sehan keluar
kamar dan mengambil minum. Dirumah Sehan yang dulu begitu besar hingga saat di
kamar semuanya tidak terdengar, berbeda dengan di apartemen ini yang dikamar
pun masih bisa terdengar suara di luar meskipun suara yang terdengar samar.
Hingga pagi tiba-tiba sudah datang, padahal seperti
Velicia baru saja memejamkan matanya dan kemudia seperti pagi datang terlalu
cepat. Tidak begitu buruh malam kemarin, tidurnya begitu nyenyak di kamar
barunya. Saatnya mandi dan bergegas ke kantor, jarak kantornya kini semakin
dekat. Diapun segera mandi dan bersiap keluar kamar.
Saat baru saja dia membuka kamarnya dan kager melihat
Sehan yang tertidur di sofa panjang ruang tengah dengan nyenyaknya. Benar saja
nampaknya semalam dia memang tidak bisa tidur entah kenapa dan memutuskan untuk
menonton TV sampai ketiduran. Velicia tidak tega membangunkannya dan mengambilkan
selimut dan menyelimuti Sehan yang masih pulas di sofa.
Tanpa membangunkannya Velicia masak membuat dua porsi
sarapan roti bakar dan susu untuk dirinya dan Sehan yang masih tertidur. Karena
sekarang jarak kantornya semakin dekat jadi dia masih bisa bersantai untuk
menunggu Sehan bangun.
Hingga beberapa menit setelah Velicia menyantap
sarapannya Sehan terbangun dengan senyum-senyum sendiri melihat selimut yang
beru saja melekat di tubuhnya. Sehan segera tau jika selimut itu diberikan oleh
Velicia makanya Sehan tersenyum bahagia karena diperhatikan. Sehan langsung
melihat jam dinding tepat di dinding di depannya dan segera berlari kilat menuju
kamar mandi dan berpakaian superkilat.
Dan Sehan menghampiri Velicia yang sedari beberapa
menit lalu sudah sadar Sehan bangun dan langsung buru-buru siap-siap.
“Ini sarapanmu ka.” (memberikan)
“Terimakasih. Maaf membuat kamu menunggu.” (merasa
tidak enak)
“Tidak masalah. Oyah sepatumu bagaimana?”
“Ada di mobil banyak.”
“Ais….pak bos selalu siap siaga yah.” (mengejek)
“Pagi-pagi sudah mengejek.” (sadar diejek)
Setelah sarapan mereka keluar ruangan bersama dan
berbencar di lobi apartemen karena lagi-lagi Velicia menolak tumpangan mobil
Sehan yang mengajak Velicia untuk mengantarkan Velicia ke kantor. Velicia lebih
memilih naik bus karena waktunya masih cukup banyak dan lagi haltenya tidak
jauh dari apartemen. Jika diingat sepertinya apartemen ini satu Kawasan dengan
apartemen Hans dulu. Velicia baru ingat jika di ingat-ingat lagi. Mengapa
sekebetulan ini, dan Velicia mengingatnya lagi jika memang benar gedung
apartemennya tidak jauh dari gedung apartemen yang ditinggalinya bersama Hans
dulu.
Velicia menepis jauh-jauh fikiran itu dan
menghiraukannya begitu saja, lantas memang mengapa jika memang dekat. Semua
sudah menjadi kenangan. Sakit rasanya jika diingat kembali aparteman itu maka
seketika hanya bayangan hari sial itu saja yang mungcul. Hingga begitu muak
jika mengingatnya lagi.
Velicia kini naik ke dalam bus itu dan bus melaju ke
halte kantor mengantarkan Velicia berangkat ke kantor.
Perjelanan yang setiap hari dia lihat masih sama,
hanya saja beberapa halte tidak lagi dia lewati kerena jarak tempat tinggalnya
semakin dekat dengan gedung kantornya. Sekarang di jarak ini dia hanya melewati
2 halte saja dan kemudian sampai di kantor hanya kurang lebih sekitar 15-20
menitan saja dan jalan kakinya pun tidak begitu jauh. Benar-benar terasa lebih
evektif dan menghemat banyak waktu dan biaya. Kedengarannya memang lucu,
tinggal di apartemen tetapi malah memilih untuk naik bus ke kantor. Tapi ya
tentu saja semua adalah pilihannya, pilihan Velicia untuk menjalani hidupnya
dengan penuh kesederhanaan.
**Dikantor
Pagi ini di kantor sepertinya lumayan lenggang, tidak
ada begitu banyak kerjaan hingga banyak mereka yang sekedar main game di
computer, main ponsel, mengecat kuku dan ada juga yang sibuk ngerumpi seperti
Hannie dan Velicia saat ini.
“Gimana pindahannya?” Hannie penasaran, memang Velicia
selalu berkabar pada Hannie melalui pesan, termasuk saat pindahanpun Velicia
mengabari Hannie melalui pesan.
“Sudah ko. Sekarang lebih dekat dengan kantor.”
Hannie sengaja menghampiri meja Velicia dan menyeret
kursi sembarang yang kosong dan duduk berdekatan dengan Velicia untuk
mendengarkan cerita sahabatnya atau memang sekedar kepo. Suasana kantor juga
saat itu sedang benar-benar santai dan pa Henry yang biasa dingin galak suka
meledak-ledak hari ini begitu kalem seperti harimau peliharaan.
“Bagus gak apartemennya? Enak banget tinggal di
apartemen.” (penasaran)
“Enak ko, kapan-kapanlah main. Dan ya cukup luas lebih
baguslah dibanding kontrakanku dulu.” (menjelaskan)
“Duh enaknya punya pacar kaya.” (mengejek)
“Ais…. Apaan sih sudah sana kerja.” (tiba-tiba kesal)
“Iyah deh maaf. Oke aku kembali kerja nih.” (pergi)
Velicia hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya
yang suka seenaknya bicara juga sebenarnya begitu kesal pada ucapannya barusan
jika bilang masalah kekayaan entah mengapa rasanya kesal. Seolah Velicia
seperti wanita matre yang hanya ingin kekayaan seseorang. Padahal dia tidak
pernah berfikir tentang memanfaatkan keadaan apapun. Tapi ya sudahlah terkadang
__ADS_1
kita memang tidak perlu menjelaskan kepada orang lain siapa kita.