KONTRAK DAN TAKDIR CINTA

KONTRAK DAN TAKDIR CINTA
Mengejar Kembali


__ADS_3

19


Mengejar Kembali


17:30 jam pulang sudah tiba, saatnya berkemas untuk


pulang kerumah, Velicia mengingat sepanjang waktu hari ini jika mala mini dia


akan pindah ke apartemen untuk menyambut Alicia beberapa hari lagi. Dia sampai


tidak sabar untuk malam cepat datang dan segera berkemas untuk meninggali


apartemen yang Sehan berikan padanya, lebih tepatnya Sehan meminjamkannya untuk


dirinya dan adiknya tempati.


Velicia juga teramat tegang mengingat bagaimana nanti


Alicia, akankah Alicia menyukainya? Seperti apa apartemen itu juga dia belum


tau, karena waktunya yang begitu padat akhir-akhir ini hingga membuatnya


seperti tidak dapat bernafas lega menikmati benar-benar waktu liburnya untuk


sekedar berlibur memanjakan diri bermalas-malasan dirumah.


Namun ya bagaimanapun nanti tentu Velicia percaya pada


Sehan, Sehan telah melakukan banyak hal terbaik dalam hidup Velicia. Sehan


memang masih begitu tenang seperti dulu, dia juga begitu jujur dan juga begitu


dingin.


Velicia segera merapikan mejanya, memasukkan kembali


ponselnya di tas kecilnya dan segera berbaur pergi bersama rekan kantor lainnya


yang seperti cepat-cepat ingin segera meninggalkan kantor. Wajah lelah mereka


sudah tidak terelakkan lagi tergambar jelas meskipun mereka tidak


menjelaskannya tentu yang melihat akan tau jika mereka lelah hari ini. Tidak


terkecuali wajah Velicia yang cantikpun juga begitu. Terlihat begitu lelah


meskipun mencoba untuk terus tersenyum dalam sapaan teman-teman lainnya.


Beberapa dari mereka pergi bergerombol seperti


merencanakan pelepasan kelelahan dengan menongkrong bersama bersenda gurau, dan


sebagian lagi memilih berpasangan menghabiskan beberapa saat untuk saling


bertukar cerita. Dan sebagian lain lagi memelih memisah pergi pulang melepaskan


lelah di kasur ternyaman mereka. Dan ya, Velicia memelih untuk pulang dan


berpisah di lobi kantor dengan teman-teman kantor lainnya.


Velicia melangkah keluar menuju ke halte biasanya dia


akan menunggu bus untuk pulang ke rumah Sehan. Dengan memerapa kali dia


membayangkan kasurnya yang nyaman itu dan ingin segera sampai di kamarnya dan


rebahan sejenak saja untuk meluruskan pinggangnya yang seperinya memang


menuntut ingin santai sejenak. Setelah tadi beberapa lama tulang-tulangnya


menopang tubuhnya yang terduduk tentu saja tulang-tulangnya itu juga butuh


istirahat peregangan sejenak.


“Velicia….!” Suara yang tentu saja sangat Velicia


kenali terdengar kencang memanggil namanya dari belik punggungnya yang membuat


langkahnya reflek berhenti sambil menguatkan tekadnya untuk tetap tenang


penguatan mental.


“Vel, ayo aku antar kamu pulang.” Suara itu kemudian


menyusul terdengar begitu dekat setelah tadi terdengar deru langkah sepatu vantofel


itu melangkah mendekatinya yang diam mematung tanpa menoleh.


“Tidak usah repot-repot Frederik Hans.” Velicia


berbicara begitu formal pada laki-laki itu dan kembali melangkah perdi setelah


menoleh sedikit ke arah Hans.


Tak putus asa Hans terus mengejar langkah wanita yang


sekarang berjalan sejajar di sampingnya dengan seikat bunga mawar merah yang


kini ada di tangannya hendak dia berikan kepada Velicia yang terus berjalan


mengacuhkannya.


“Please Vel, berhenti sebentar.”


“Ada apa lagi?” (ketus)


“Aku hanya ingin memberimu bunga ini.” (memberikan)


“Terimakasih. Lainkali anda tidak perlu repot-repot.”


(ketus dan naik ke bus yang telah berhenti di halte)


Hans hanya memperhatikan bus itu jalan maju tanpa


menghiraukannya, dan sesaat itu Hans merasakan sakit dalam hatinya yang begitu


sakit melihat perlakuan Velicia yang begitu asing padanya.


Disisilain di dalam bus, Velicia memegangi bunga mawar


itu dengan seksama memandangi indanya bunga mawar itu yang masih begitu segar


dengar warna merahnya. Dia terduduk di kursi busnya dengan matanya yang tidak


lepas dari bunga mawar itu.


“Dari pacar ya cu, bunga mawarnya sangat indah.” Suara


bergetar itu memekikkan lamunannya dan membuat Velicia segera menoleh ke bangku


sampingnya. Tak disadari ternyata seorang nenek-nenek sudah begitu renta duduk


di sampingnya dengan senyuman yang mengembang membuat mulutnya yang tak lagi


bergigi terbuka sedikit dengan kerutan di wajahnya sudah nampak begitu banyak.


Baju mantelnya yang terlihat dengan model kuno dengan tongkat kayunya yang membantunya


berjalan.


“Nenek suka dengan bunga ini?” Velicia segera


menyapanya kembali dengan penuh keramahan.


“Mana mungkin wanita tidak suka dengan bunga yang


secantik itu nak.” (senyum lagi)


“Kalau begitu aku berikan bunga ini pada nenek sebagai


tanda pertemanan kita. Bagaimana nek?” (meyerahkan)


“Apa itu tidak berharga untukmu nak?” (bertanya dengan


kesungguhan)


“Tidak, ini hanyalah bunga. Pertemuan kita mungkin


lebih berarti.”


“Wajah yang cantic dengan hati yang lembut.


Terimakasih nak untuk bunganya.” (menerima)


“Sama-sama.” (tersenyum lebar)


Lalu setelah itu tidak ada lagi percakapan yang


berarti, hanya sekedar basa-basi menanyakan kegiatan yang sedang dijalani.


“Nek saya sudah harus turun. Jadi sampai jumpa


kembali.” (pamit)


“Baiklah nak, jika berjodoh kita akan segera bertemu


kembali.” (tersenyum ramah)


“Baiklah nek, hati-hati di jalan.” (berdiri dari


tempat duduknya dan pergi ke pintu bus)


Velicia segera turun dan berjalan menuju komplek


perumahannya dan masuk ke rumah.


Kayanya Sehan belum pulang. Ya sudahlah aku bisa


bersih-bersih dulu lalu beres-beres barang.


Melihat rumah begitu kosong Velicia segera naik ke

__ADS_1


atas ke kamarnya untuk mandi dan ganti baju, badannya yang terasa begitu


lengket dan sudah tidak nyaman. Setelah mandi dia berbaring sejenak di kasurnya


dan segera merapikan barang-barang dimasukkan ke dalam kopernya. Selang


beberapa menit berlalu setelah selesai, barang-barangnya sudah masuk semua


kedalam kopernya diapun segera kebawah ke dapur untuk memasak mengisi perutnya


yang sudah mulai keroncongan.


“Hai Velicia, lihat aku sudah belikan semua makanan


kesukaanmu. Ayo makan.” Sehan yang tiba-tiba ada di meja makan dengan baju


santainya merapikan makanan di atas meja makan.


“Kamu hantu ya? Ko tiba-tiba dengan baju santai dan


tidak terdengar kamu pulang?” Velicia terheran kaget ketika di tengah-tengah


tangga Sehan terdengar menyapanya dan reflek langsung tertegun mematung mencoba


mencerna yang membuatnya kaget.


“Hahaha…. Kamu yang terlalu fokus dikamar makanya


tidak dengar aku yang dari beberapa menit lalu pulang membawakan semua makanan


ini.” (tertawa puas melihat Velicia kaget)


“Kamu hampir membunuhku ka karena kaget.” (kesal)


“Haha…Kamu terlalu banyak nonton film horror.”


“Terus saja tertawa. Puaskan?” (kesal)


“Baiklah tuan putri duduk sini. Lalu makanlah, aku tau


kamu sudah kelaparankan.” Sehan menyiapkan tempat duduk untun Velicia, dan


Velicia menurut untuk duduk di kursi yang sudah Sehan persilahkan.


Mereka melanjutkan makan dengan penuh suka cita, bergurau


diatas meja makan, bercerita tentang hari ini diatas meja makan sambil


menikmati rasa masakan restoran berbintang yang sengaja dibeli Sehan untuk


acara perpisahan mala mini. Tentu saja perpisahan Velicia yang akan pindah ke


apartemen dan bagi Sehan rumahnya kan kembali sepi seperti dulu.


“Apa semua sudah siap?”


“Sudah ka. Terimakasih ya atas semua kebaikanmu ka.”


(sedih)


“Aku bahagia jika kamu bahagia Velicia.”


“Tentu saja aku bahagia karena ada Alicia dan ada kamu


ka.” Velicia tiba-tiba bengkit dari kursinya dan mendekati Sehan yang juga


bengkit menyambut Velicia dan Velicia memeluk erat Sehan menyatakan kata-kata


manisnya.


“Terimakasih Velicia.” Sehan membalas pelukan itu dan


mengeratkannya. Sehan menitikan beberapa butir air matanya penuh haru mendengar


ucapan Velicia.


Aku tidak tau kamu menempatkan posisiku sebagai apa


di hatimu, mungkin hanya sebagai kaka angkatmu saja namun itu begitu terdengat


membahagiakan untukku. Kamu telah memberiku ruang yang sama dengan Alicia


dihatimu untukku. Sungguh itu saja sudah begitu cukup untukku, namun aku akan


selalu menunggu kamu mencintaiku lagi sebagai Sehan kekesihmu bukan kakamu.


Sampai pelukan mereka berakhir dan segera bersiap-siap


menuju ke apartemen.


Velicia hanya membawa 1 koper besarnya dan tas jinjingnya


yang berisi tas-tas selempang kecil miliknya. Mereka keluar dari rumah dan


memasuki mobil Sehan, lalu melaju menuju ke apartemen.


**Setelah sampai


kemudian mereka segera masuk kedalam, dilihatnya seketika ketika masuk ke dalam


dapur yang langsung terluhat di garis lurus dengan pintu masuk yang mepet


dengan batas dengan ruangan apartemen sebelahnya. Dapur itu dilengkapi dengan


meja makan minimalisnya, dapur dengan pemandangan yang langsung ke taman kecil


balkon. Lalu di sisi kanannya terdapat ruang tengah juga ruang tamu dan 2 kamar


tidur bersebelahan juga kamar mandi di sebelah kamar tamu.


Sungguh memang apartemen minimalis sederhana seperti


yang Sehan pernah bilang sebelumnya, namun tentu saja bagi Velicia semuanya ini


udah cukup baginya malah apartemen ini terlihat begitu besar daripada


kontrakannya yang dulu.


Sehan mengenalkan satu-persatu ruangan yang ada dan


mengajak Velicia berkeliling mengelilingi ruangan untuk menunjukan seluk beluk


ruangan apartemen itu. Velicia hanya mengikutinya dengan seksama memperhatikan


bagian-bagian tuangan yang ada. Semuanya memang benar-benar begitu lengkap,


kulkas, dispenser, lemari pakaian, meja rias, meja belajar semua lengkap dan


tak perlu ada lagi kekhawatirannya tinggal di apartemen ini.


Isi di dalam kulkasnyapun terusi penuh, Sehan memang


benar-benar tuntas membantunya dengan menyiapkan segalanya untuk Velicia.


Setelah mengenalkan semua ruangan yang ada di


apartemen ini Sehan segera duduk di ruang tengah dan Velicia membuatkan Sehan


secangkir the panas.


“Makasih ya ka untuk semuanya.”


“Mau berapa kali lagi kamu bilang begitu?”


“Ya, aku bingung harus bagaimana lagi.” (bingung)


“Kalo kamu bahagia itu sudah lebih dari cukup.”


(tersenyum)


“Baiklah aku akan terus bahagia untukmu ka.”


(berjanji)


“Aku pegang janjimu loh.” (mengejek)


“Aku dengar kaka ini sangat dingin ya sebagai bos?”


“Kamu suka bergosip sekarang?” (tidak nyaman)


“Yah aku heran saja, kenapa kaka yang terlihat manis


ini begitu terkenal dingin dan jutek di kantornya sebagai atasan.” (mengejek)


“Dengar gosip darimana?” (penasaran)


“Dengar dari Hannie, katanya pacarnya bekerja di


kantormu. Ayolah ka, jangan terlalu tegang jadi atasan harus lebih hangat pada


pegawainya.” (menasehati)


“Maksudmu seperti atasanmu itu Henry-Henry itu gitu


menggoda kariawannya terus?” (tiba-tiba kesal)


“Hei….Kenapa bisa kamu tau tentang atasanku?” (bingung)


“Dari gosip. Jadi benar nih?” (mengejek)


“Ais….Laki-laki tukang gosip.” (kesal)


“Aku hanya tidak nyaman ditempeli wanita-wanita selain


kamu.” (tiba-tiba bersungguh-sungguh)


“Baiklah aku tidak akan bahas lagi. Kayanya kamu tidak


nyaman.” (mencoba mengubah topik)


Maaf ya ka, beri aku waktu untuk meyakinkan

__ADS_1


perasaanku. Apakah aku benar-benar mencintaimu seperti dulu atau hanya cinta


seorang adik pada kakanya saja.


“Kamu istirahatlah, aku akan pulang.” (beranjak dari


tempat duduknya)


“Tidurlah disini ka, ini sudah larut. Kan bajumu beberapa


masih disini juga kamat ini kan ada 2.”


“Apa kamu tidak apa-apa?” (ragu)


“Tentu saja.” (yakin)


Dan akhirnya Sehan menginap dan tidur di kamar tamu,


kamar utama Sehan yang menyuruh Velicia menempatinya.


Dikamar yang lumayan luas ini, Velicia berbaring di


atas ranjang setelah sebelumnya dia sudah berganti dengan baju tidurnya. Dan


Sehan yang juga masuk ke kamarnya dan beberapa kali terdengar Sehan keluar


kamar dan mengambil minum. Dirumah Sehan yang dulu begitu besar hingga saat di


kamar semuanya tidak terdengar, berbeda dengan di apartemen ini yang dikamar


pun masih bisa terdengar suara di luar meskipun suara yang terdengar samar.


Hingga pagi tiba-tiba sudah datang, padahal seperti


Velicia baru saja memejamkan matanya dan kemudia seperti pagi datang terlalu


cepat. Tidak begitu buruh malam kemarin, tidurnya begitu nyenyak di kamar


barunya. Saatnya mandi dan bergegas ke kantor, jarak kantornya kini semakin


dekat. Diapun segera mandi dan bersiap keluar kamar.


Saat baru saja dia membuka kamarnya dan kager melihat


Sehan yang tertidur di sofa panjang ruang tengah dengan nyenyaknya. Benar saja


nampaknya semalam dia memang tidak bisa tidur entah kenapa dan memutuskan untuk


menonton TV sampai ketiduran. Velicia tidak tega membangunkannya dan mengambilkan


selimut dan menyelimuti Sehan yang masih pulas di sofa.


Tanpa membangunkannya Velicia masak membuat dua porsi


sarapan roti bakar dan susu untuk dirinya dan Sehan yang masih tertidur. Karena


sekarang jarak kantornya semakin dekat jadi dia masih bisa bersantai untuk


menunggu Sehan bangun.


Hingga beberapa menit setelah Velicia menyantap


sarapannya Sehan terbangun dengan senyum-senyum sendiri melihat selimut yang


beru saja melekat di tubuhnya. Sehan segera tau jika selimut itu diberikan oleh


Velicia makanya Sehan tersenyum bahagia karena diperhatikan. Sehan langsung


melihat jam dinding tepat di dinding di depannya dan segera berlari kilat menuju


kamar mandi dan berpakaian superkilat.


Dan Sehan menghampiri Velicia yang sedari beberapa


menit lalu sudah sadar Sehan bangun dan langsung buru-buru siap-siap.


“Ini sarapanmu ka.” (memberikan)


“Terimakasih. Maaf membuat kamu menunggu.” (merasa


tidak enak)


“Tidak masalah. Oyah sepatumu bagaimana?”


“Ada di mobil banyak.”


“Ais….pak bos selalu siap siaga yah.” (mengejek)


“Pagi-pagi sudah mengejek.” (sadar diejek)


Setelah sarapan mereka keluar ruangan bersama dan


berbencar di lobi apartemen karena lagi-lagi Velicia menolak tumpangan mobil


Sehan yang mengajak Velicia untuk mengantarkan Velicia ke kantor. Velicia lebih


memilih naik bus karena waktunya masih cukup banyak dan lagi haltenya tidak


jauh dari apartemen. Jika diingat sepertinya apartemen ini satu Kawasan dengan


apartemen Hans dulu. Velicia baru ingat jika di ingat-ingat lagi. Mengapa


sekebetulan ini, dan Velicia mengingatnya lagi jika memang benar gedung


apartemennya tidak jauh dari gedung apartemen yang ditinggalinya bersama Hans


dulu.


Velicia menepis jauh-jauh fikiran itu dan


menghiraukannya begitu saja, lantas memang mengapa jika memang dekat. Semua


sudah menjadi kenangan. Sakit rasanya jika diingat kembali aparteman itu maka


seketika hanya bayangan hari sial itu saja yang mungcul. Hingga begitu muak


jika mengingatnya lagi.


Velicia kini naik ke dalam bus itu dan bus melaju ke


halte kantor mengantarkan Velicia berangkat ke kantor.


Perjelanan yang setiap hari dia lihat masih sama,


hanya saja beberapa halte tidak lagi dia lewati kerena jarak tempat tinggalnya


semakin dekat dengan gedung kantornya. Sekarang di jarak ini dia hanya melewati


2 halte saja dan kemudian sampai di kantor hanya kurang lebih sekitar 15-20


menitan saja dan jalan kakinya pun tidak begitu jauh. Benar-benar terasa lebih


evektif dan menghemat banyak waktu dan biaya. Kedengarannya memang lucu,


tinggal di apartemen tetapi malah memilih untuk naik bus ke kantor. Tapi ya


tentu saja semua adalah pilihannya, pilihan Velicia untuk menjalani hidupnya


dengan penuh kesederhanaan.


**Dikantor


Pagi ini di kantor sepertinya lumayan lenggang, tidak


ada begitu banyak kerjaan hingga banyak mereka yang sekedar main game di


computer, main ponsel, mengecat kuku dan ada juga yang sibuk ngerumpi seperti


Hannie dan Velicia saat ini.


“Gimana pindahannya?” Hannie penasaran, memang Velicia


selalu berkabar pada Hannie melalui pesan, termasuk saat pindahanpun Velicia


mengabari Hannie melalui pesan.


“Sudah ko. Sekarang lebih dekat dengan kantor.”


Hannie sengaja menghampiri meja Velicia dan menyeret


kursi sembarang yang kosong dan duduk berdekatan dengan Velicia untuk


mendengarkan cerita sahabatnya atau memang sekedar kepo. Suasana kantor juga


saat itu sedang benar-benar santai dan pa Henry yang biasa dingin galak suka


meledak-ledak hari ini begitu kalem seperti harimau peliharaan.


“Bagus gak apartemennya? Enak banget tinggal di


apartemen.” (penasaran)


“Enak ko, kapan-kapanlah main. Dan ya cukup luas lebih


baguslah dibanding kontrakanku dulu.” (menjelaskan)


“Duh enaknya punya pacar kaya.” (mengejek)


“Ais…. Apaan sih sudah sana kerja.” (tiba-tiba kesal)


“Iyah deh maaf. Oke aku kembali kerja nih.” (pergi)


Velicia hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya


yang suka seenaknya bicara juga sebenarnya begitu kesal pada ucapannya barusan


jika bilang masalah kekayaan entah mengapa rasanya kesal. Seolah Velicia


seperti wanita matre yang hanya ingin kekayaan seseorang. Padahal dia tidak


pernah berfikir tentang memanfaatkan keadaan apapun. Tapi ya sudahlah terkadang

__ADS_1


kita memang tidak perlu menjelaskan kepada orang lain siapa kita.


__ADS_2