KONTRAK DAN TAKDIR CINTA

KONTRAK DAN TAKDIR CINTA
Badai yang Belum berlalu


__ADS_3

11


***Badai Yang Belum Berlalu***


Terlihat jelas dari jendela kaca lebar itu pemandangan


dari atas gedung pencakar itu, apa lagi kalo bukan dari kamar apartemennya.


Seperti biasanya pemandangan dari atas terlihat kota yang sibuk hiruk pikuk


keramaian kota, kendaraan yang bersesakkan di jalan juga gedung-gedung lain


yang tak kalah tinggi menjulang.


Berdiri disana, disudut jendela yang besar itu,


seorang wanita dengan dress setinggi lututnya, dress santai dengan motif


bunga-bunga yang di dominan warna biru, dress dengan tangan terbuka dan juga


sedikit terbuka dibagian punggung juga dadanya. Terkesan sexi juga anggun.


Rambutnya terurai panjang coklat sepinggang juga bergelombang hanya bagian


bawahnya. Indah,  sungguh indah


pemandangan seorang wanita yang mentangkupkan tangannya diatas perut itu.


Matanya tak berpaling mengagumi keindahan juga


keramaian yang dia lihat dibawah sana, sesekali netranya mengelilingi sekitar


tanpa bergeming dari posisinya.


Hari libur yang membosankan, kemana ya? Hanya bisa


melihat kota dari jendela. Biasanya setiap hari aku disana masuk dalam


keributan kota. Sekarang aku hanya melihat dari balik jendela, baru tau kalo


dilihat dari sini ternyata indah juga.  Velicia baru menyadari keindahan


kota itu dari balik jendela kamarnya itu.


Velicia, iyah wanita yang tengah berdiri itu adalah


Velicia yang sedang menikmati waktu liburnya kerjanya yang singkat itu. Kini


dia hanya berdiam diri dan rupanya dia tengah merasakan kesepian. Jelas saja


sepi, dia hanya terlihat sendiri. Hans sedang sibuk dengan urusan mendadak


kantornya dan pagi-pagi sekali Hans pamit untuk pergi.


Hemm…… tenang juga akhirnya setelah beberapa hari


lalu ada si wanita itu sekarang dia juga tidak terlihat tuh 4 hari belakangan?


Kemana dia yah? Apa dia balik lagi pergi? Huh…..mudah-mudahan dia gak kembali


lagi deh. Jadi aku bisa tenang.  Velicia bergumam, mengingat kembali masalah yang telah


dia lalui belakangan ini. Benar juga Jessica memang belakangan ini sudah tidak


terlihat lagi disini, Hans juga tidak lagi membicarakannya. Dan juga sejak


kejadian terakhir itu Jessica tak lagi ke apartemen Velicia. Ah…ya sudahlah,


harusnya Velicia bersenang hati untuk ini.


Ting….. (bunyi pesan masuk)


Vel, kayanya aku akan pulang terlambat. Tiba-tiba aku


ada urusan mendadak, maaf ya sayang kamu gak usah tungguin aku ya. Love you.


Hans pulang telat? Apa ada urusan yang penting banget


ya di kantornya? Ya sudahlah biarkan saja. Ucap Velicia dalam hatinya yang sangat khawatir pada suaminya saat ini.


Velicia dan Hans akhir-akhir ini hubungan mereka


sangat menjadi baik, mereka sudah sepenuhnya suami istri tanpa embel-embel


kontrak lagi. Hans juga semakin romantis sejak disobeknya kontrak itu, Velicia


juga bertekat hanya akan percaya pada Hans saja sebagai suaminya saat ini yang juga


laki-laki yang dia cintai. Velicia menjalani harinya menjadi istri yang baik,


memasak, menyiapkan baju dan semua tugas seorang istri dia jalani dengan baik.


Ya, meski sejak surat kontrak itu dirobek-robek dan


masalah yang mereka hadapi kemarin-kemarin masih sedikit membayangi Velicia


sehingga dia meminta lebih banyak waktu lagi pada Hans untuk tidak memaksanya


berhubungan badan. Velicia masih ingin hubungan mereka untuk saling lebih


mengenal dahulu jadi mereka akhirnya memutuskan untuk hanya tidur seranjang


saja saling mengenal dan memperdalam cinta mereka tanpa melakukan apapun.


(balas)


Oke, kamu jangan lupa makan ya.


Veliciapun akhirnya hanya berdiam diri dirumah saja


tanpa kemanapun, hanya menonton TV, masak untuk dirinya lalu memilah


gosip-gosip di laptopnya. Juga chat’an sama sahabatnya Hannie yang saling


curhat satu dengan yang lainnya. Menghabiskan waktu yang ingin cepat-cepat


Velicia lalui. Namun sialnya semakin dia ingin waktu berlalu cepat malah waktu


berlalu terasa begitu lambat. Detik demi detiknya seperti dia hitung, dan terus


menatapi jam di handponenya, berharap detik dan menitnya terlewat saja dan lalu


hari cepat larut.


Ting….. (pesan masuk)


Hai Chia, apa kamu ada waktu? Aku ingin mengajakmu


jalan ke mall atau makan. Apakah kamu mau?


Velicia langsung melotot melihat pesan dari sehan dan


segera bergegas membalasnya dan mengiyakan ajakan dari Sehan.


(balas)


Aku mau ka. Aku akan segera bersiap, kita ketemu


dimana?


Velicia segera bersiap-siap dandan dan memakai baju


yang rapih. Dia yang sedari tadi entah sudah berapa jam tiduran di kasur dan


hanya bergulang-guling, lalu seketika saat Sehan memngirimnya pesan dia segera


bangun duduk, membalas pesan langsung turun dari kasurnya dan berlari kecil ke


lemari memilih baju yang cocok.


Ting…..(suara pesan)


Aku akan menjemputmu di depan apartemenmu bagaimana?


Sehan pun tak kalah cepatnya membalas pesan itu,


sepertinya sehan memang menunggu balasan dari lawan bicaranya di pesan.


(balas)


Oke, aku sudah selesai berdandang aku akan segera


turun ka.


Untung ka Sehan mengajakku pergi, jadi aku tak


begitu bosan lagi. Ka Sehan memang kaka terbaik, tau saja jika adiknya ini


sedang ingin mati karena bosan.


Velicia segara turun ke bawah dan menemui Sehan.


“Hai ka. Kita mau kemana?” Tanya Velicia setelah baru

__ADS_1


saja sampai menghampiri Sehan. Terlihat sangat jelas jika Velicia ini sangat


bahagia saat ini.


“Kamu mau kemana? Aku jadi sopir dan asisten kamu saja


untuk hari ini.” Sehan dengan kehangatannya menjawab sambil sedikit menggoda


Velicia yang seperti anak kecil diajak berjalan.


“Baiklah, kakaku memang terbaik.” Velicia tersenyum


sumringah mendengar jawaban sehan yang terdengarnya Sehan menjadikannya putri


raja.


Tak perlu waktu lama bagi Velicia untuk langsung


beradaptasi dengan posisi Sehan yang menganggapnya adik, karena pada dasarnya


memang mereka dulu seakrab itu. Dulu mereka memang saling menyayangi lebih mirip


sebagai kaka dan adik, lalu seiring waktu berjalan mereka menjadi pasangan.


Kemudia sekarang mereka menjadi kaka dan adik kembali, kadang dunia memang random


tidak ada yang tau takdir kita akan seperti apa.


Yang jelas bagi Velicia, kehangatan Sehan adalah sama


seperti kehangatan kaka kepada adiknya, meski hati sehan mengatakan dia


mencintai Velicia namun baginya untuk sekarang menjadi kaka Velicia pun tidak apa-apa


asalkan dia tetap ada di samping Velicia dan akan selalu menjaga Velicia


seperti dulu. Jikapun mereka tidak ditakdirkan bersamapun Sehan akan mencoba


menerimanya dan tetap menjadi kaka Velicia. Jika tidak bisa menjadi kekasih


Velicia ataupun menjadi suami Velicia maka menjadi kakanyapun tidak apa-apa


bagi Sehan.


“Ka, gimana kalau kita makan dulu di restoran yang di


mall Ji aku tau deh tempat makan yang enak di mall Ji.” Velicia dengan antusias


mempromosikan sebuah restoran di mall Ji yang letaknya lumayan jauh juga dari


apartemennya. Dan Sehan hanya mengiyakannya sambil terus fokus pada kemudinya.


ya tentu saja Velicia begitu bahagia di dalam mobil itu sambil terus


mendengarkan lagu mp3 yang di putar. Mobil juga terus melaju menuju ke tempat


tujuan.


20 menit sudah berlalu akhirnya sampai di mall Ji


tersebut dan merekapun segera ke restoran yang ada di lantai 2 mall tersebut,


Velicia terus menggiring Sehan untuk mengikuti langkahnya sambil sesekali harus


menarik tangan Sehan karena Sehan beberapa kali menerima panggilan kerjaan


sambil berjalan. Velicia masih tetap semangat dengan langkahnya menuju restoran.


Dan akhirnya mereka sampai dan duduk di salah satu


meja restoran yang kosong, restoran yang bergaya jepang, ya tentu saja itu


sebuah restoran jepang yang menu-menunya juga sangat khas dengan daerahnya,


mereka segera memilih menu yang ada di buku menu. Velicia paling semangat


memilih, bagaimana tidak inikan adalah restoran yang dia suka, dia sudah


merekomendasikan sedemikian rupanya pada Sehan.


“Ternyata selera makannya gak berubah ya.” Sehan


menggoda.


“Tentu saja, aku kan rindu dengan makanan kesukaan.


Mumpung ada yang bayarin, hehe.” Velicia meringis tak tau diri.


“Iyah deh kan semua untuk adik tersayangku.” Sehan


hanya menyambut tersenyum lebar sehingga lesung pipinya terlihat begitu jelas.


Velicia tersenyum begitu imut seperti anak balita yang telah dibelikan lolypop.


Menunggu makanan datang mereka bercanda dan membahas kenangan saat masih kecil,


Sehan yang terlihat begitu bahagia dengan berbagai ceritanya juga Velicia yang


tak kalah behagianya dengan apa yang Sehan ceritakan. Apalagi jika cerita


mereka sampai pada saat yang menurut mereka konyol pasti mereka tertawa terbahak-bahak


sampai pengunjung lain juga melihati mereka yang seperti orang bodoh.


“Vel, kamu gak mau cerita nih bagaimana bisa kamu


menikah?” Akhirnya setelah menunggu waktu yang tepat Sehan bisa bertanya


mengenai hal ini. Sehan menanyakannya dengan hati-hati dan sangat


mempertimbangkannya.


“Iyah ya ka, aku belum cerita soal keluargaku, Alicia


dan masalah Hans suamiku. Baiklah aku akan cerita.” Velicia dengan tenang


menceritakan semua yang dia alami sejak Sehan pergi sampai kejadian yang


menimpa keluarganya dan juga pertemuannya dengan Hans dan pernikahannya dengan


Hans. Sehan mendengarkan dengan seksama sembari terus menyantap pesanan mereka


yang ada di hadapannya. Panjang sekali Velicia cerita sampai tak terasa makanan


yang ada di meja sudah habis tak tersisa, Velicia yang menikmati ceritanya juga


terus menyantap makanan dengan terus bercerita. Sampai akhir cerita Velicia


tiba-tiba terdiam dan tertegun melihat ke arah belakang Sehan. Sontak seketika


Sehan membalikkan mukanya melihat kebelakang ada apa yang Velicia lihat hingga


Velicia terlihat begitu kaget juga langsung berkaca-kaca.


“Velicia.” Sehan memanggil Velicia yang langsung


tertunduk dan mematung.


Lagi-lagi Sehan memastikan ada apa gerangan yang ada


di belakannya itu, tapi Sehan masih saja tidak tau dengan apa yang Velicia


lihat itu. Velicia yang menunduk barusan berusaha meredam emosinya dan


meluncurkan segala amarahnya kepada ujung bajunya yang dia remas sambil


mengambil nafas dalam-dalam dan meminum air putih yang ada di hadapannya, dan


kembali melihat kearah belakang Sehan. Disana yang Velicia lihat 2 orang yang


baru saja masuk ke restoran ini dengan seorang wanita yang menenteng beberapa


barang belanjaanya juga seorang laki-laki yang dengan hati-hati


memperlakukannya seperti seorang dokter kepada pasiennya.


Ya, mereka adalah Hans dan Jessica. Jessica yang tidak


terlihat penyakitan sama sekali sedang dituntung duduk oleh Hans dengan


hati-hati. Jessica yang beberapa hari tidak terlihat lagi oleh Velicia dan


tiba-tiba saja muncul dengan mesra dengan Hans. Trik kotor apa yang Jessica


mainkan sebenarnya. Yang lebih menyesakkan lagi bagi Velicia adalah, saat dia


mengingat pesan Hans yang bilang ada urusan mendadak dan akan pulang malam


karena ada urusan. Seketika Velicia tau sekarang urusan yang mendadak ini


adalah benar, urusan seorang dokter yang sedang merawat pasiennya. Dan entahlah


sakitnya benar-benar nyata atau tidak.

__ADS_1


Hans, lagi-lagi kamu membuat ku sesak dan hampir


mati kehilangan oksigen. Kamu bilang ada urusan mendadak dan kamu punya begitu


banyak waktu untuk menemani wanita itu jalan ke mall dan lagi kamu di tempat


umum seperti ini memegangi tangannya dengan penuh kasih seperti itu. Iyah Hans,


aku ingin mempercayaimu tapi yang aku lihat tidak berbohong. Siapapun yang akan


melihat kalian seperti ini pasti akan beranggapan bahwa kalian adalah pasangan.


Hati istri mana yang kuat menahan ini? Lagi-lagi Velicia hanya menelan ludahnya bergugam dalam hati melepaskan


yang hendak keluar dari mulutnya namun tidak bisa. Velicia menahan semua luapan


amarah dan tangisnya di dalam hatinya hingga hatinya terasa nyeri.


“Ka, aku sudah kenyang apakah kita bisa kembali


pulang?” Velicia menahan semua kegetirannta dan mengucapkan ucapanya barusan


sambil menyiratkan permohonannya kepada Sehan agar membawanya pulang.


“Baiklah, aku akan bayar dulu ya.” Sehan segera


memanggil pelayan untuk bayar dan pelayan segera memberikan bil dan Sehan


membayarnya. Mereka segera pergi meninggalkan restoran.


Di dalam mobil ingin rasanya sehan bertanya pada


Velicia yang tadi terlihat begitu ceria kini tiba-tiba terlihat begitu murung


dan diam saja. Belum lagi mata Velicia memerah seperti ingin nangis, sungguh


Sehan rasanya ingin menanyakannya dan jika memang Velicia sangat sedih, Sehan


ingin meminjamkan bahunya untuk melepaskan kesedihan Velicia. Namun Sehan tau


jika Velicia tidak ingin bicara saat ini, dan merekapun diam saja satu sama


lain. Sedangkan Velicia yang hanya duduk di mobil dan memandang ke arah luar


jendela dan terus saja membendung air matanya yang sebenarnya tak tau bisa dia


bendung atau tidak. Juga luapan amarahnya yang kini kian sakit menusuk di


hatinya.


Sesaat dia sudah kehabisan energinya untuk terus


menahan segala kenestapaannya dan tak dia sadari air matanya menetes deras


sekali. Sehan segera mengetahuinya dan memberikannya tisu tanpa berkata apapun.


Velicia segera membasuh airmatanya yang tak kunjung juga berhenti, Sehan yang


saat itu mengemudi menjadi tidak fokus. Entah mengapa hatinya juga ikut terluka


melihat Velicia yang saat ini sedang menangis seperti rasanya amat sakit


sekali. Sehan segera memarkirkan mobilnya ditepi jalan dan menghentikan mobilnya


dan memeluk Velicia dengan erat, seolah dia tau jika saat ini Velicia butuh


pelukannya. Velicia terjerembab tanpa melawan dia menjerumuskan seluruh


wajahnya ke dada bidang Sehan dengan posisi mereka yang sedang duduk di kursi


depan mobil.


Dan tanpa disadar karena kenyamanan dan kehangatan


pelukan Sehan saat ini, Velicia meluapkan amarahnya dalam pelukan itu dan semua


kata yang sedari tadi tertahan akhirnya meluap.


“Kenapa sih, Hans bilang dia mencintaiku dan baru


beberapa hari lalu dia sendiri yang merobek perjanjian itu dan bilang ingin


terus bersamaku seumur hidupnya. Aku fikir dengan dia berbicara begitu dia akan


meninggalkan wanita itu dan tidak bertemu atau mengurusi wanita itu lagi.


Kenapa harus dia sendiri yang mengurus wanita itu? Kenapa? Kenapa bukan dokter


saja jika benar-benar wanita itu sakit bukannya dia lebih butuh dokter


ketimbang mantan kekasihnya. Ka Sehan jelaskan padaku siapa yang bodoh disini?


Aku kan yang bodoh percaya begitu saja dengannya? Hu…hu….hu….. Aku ini bodoh.”


Velicia memeluk erat Sehan seperti memang butuh sandaran.


“Tenanglah, semua masalah pasti ada jalan keluarnya.


Nanti setelah amarahmu reda coba tanyakan pada suamimu. Bicarakan baik-baik ya.”


Sehan berbicara begitu lembut mengusap rambut Velicia yang masih dalam pelukannya.


Dan lalu melepaskan pelukannya.


“Ini minum dulu, dan hapus air matamu.” Sambung Sehan


yang tau jika emosi dan tangisan Velicia sudah reda dan memberikan minuman dan


tisu pada Velicia. Sehan tak banyak bicara dan dia segera mengemudikan mobilnya


lagi dan fokus pada kemudi.


“Makasih ya ka. Maaf hari ini jadi kacau begini.”


Velicia sudah tenang sekarang,


Sehan hanya tersenyum getir, kini malah hati Sehan


yang mulai sakit mendengar pernyataan Velicia barusan, itu artinya Velicia


mulai mencintai suaminya dan dia ingin hidup bersama selamanya bukan lagi


pernikahan kontrak. Kini Sehan akan benar-benar hanya menjadi kaka angkatnya


saja, kenangan yang dulu pernah ada kini mungkin akan hanya kenangan yang akan


selalu dikenang saja.


Aku tidak tau jika dia gadis kecilku ini akan


benar-benar pergi dariku dan akan menjadi milik orang lain selamanya. Dan aku


yang akan benar-benar cukup menjadi kaka angkatnya. Hahaha,….. Aku memang sudah


melakukan kesalahan yang amat bodoh dimasa lalu. Bodoh sekali. Sehan hanya menggerutu di dalam hatinya sambil


sesekali tersenyum getir pada dirinya sendiri yang diapun yakin Velicia saat


ini melihat senyum getirnya itu.


Sehan terus mengemudikan laju mobilnya tanpa berkata


apapun dan terus meratapi nasibnya sambil terus fokus pada kemudinya. Dan kini


Sehan merasa telah kehilangan separuh jiwanya hinnga hanya bisa meratapi


kebodohannya dimasa lalu, ambisinya dimasa lalu yang berniat 1 tahun fokus pada


kerjaanya untuk mendulang kesuksesannya dan sengaja menghilang dari Velicia


untuk benar-benar fokus namun ternyata ambisinya adalah pedang baginya yang


kini malah melukai hatinya sendiri saat dia kehilangan sesuatu yang berharga


saat dia memiliki apa yang dia ingin dapatkan dahulu. Ada yang datang dan ada


yang menghilang. Menghilang untuk selamanya.


“Ka Sehan gapapa?” Velicia yang melihati Sehan sedih


segera bertanya padanya.


“Gapapa, hanya sedikit lelah saja.” Sehan memegangi


kepalanya yang pusing memikirkan kisah cintanya yang ironis.


“Setelah mengantarku pulang kaka istirahat lah yang cukup.”


Velicia sangat perhatian pada Sehan yang saat ini sudah dianggapnya kakanya.


“Iyah.” Sehan jawab singkat.


Akhirnya mereka sampai dan Velicia segera turun dari

__ADS_1


mobil dan melambaikan tangan pada Sehan yang hendak pergi mobilnya.


__ADS_2