
Bab 4
***Ketenangan Yang Gagal***
Akhirnya hari libur tiba, saat yang
telah dinanti setelah hari-hari kerja yang melelahkan. Saatnya bermalas-malasan
di kamar. Dirumah itu begitu tenang, pelayan yang setiap harinya
bersih-bersihpun setiap hari libur begini mereka juga ikut berlibur, makanya
rumah ini begitu sunyi dan benar-benar nikmat untuk menikmati hari libur.
Ting….tong….. (suara bel rumah)
Suara bel rumah yang nyaring
terdengar memekikkan ketenangan rumah besar itu, begitu lama suara bel itu
bersautan sepertinya tamu yang datang cukup tidak sabar menunggu tuan rumah
membukakan pintu. Bagaimana tidak saat sepagi ini di hari libur, tentu saja
tuan rumah akan bermalas-malasan ditempat tidur. Siapa tamu yang dengan tidak
tau malunya harus memencet bel terus-menerus itu.
Tamu itu gila ya? Memencet bel
seperti itu dipagi hari, aku rasa dia begitu kesepian di hari libur begini.
Makanya dia begitu arrogant bertamu dirumah orang sepagi ini dengan etika yang
tidak sopan begitu.
Dengan sedikit marah Velicia segera
menuju ke pintu depan rumah dan membukakan pintu untuk tamu yang datang itu.
“Lama sekali membukakan pintunya. Apa
kamu tidak lihat aku menunggu begitu lama.” Ania terlihat sangat marah dan
langsung masuk.
“Anda sepagi ini bertamu kerumah
orang dan berteriak seperti itu. Apa anda tidak pernah diajari sopan santun?”
Velicia menjawab dengan santai dan tidak menghiraukan.
“Jaga bicaramu ya, sadar posisimu
hanyalah istri kontrak. Aku lah kekasih yang sesungguhnya tuan rumah ini. Kamu
hanyalah boneka disini.” Ania mulai menunjuk-nunjuk velicia.
“Terserah anda, anda bilang ini rumah
pacar anda kan? Baiklah saya akan kembali ke kamar. Suka-suka anda saja mau
ngapain.” Velicia dengan santainya dan pergi ke kamarnya.
“Begitu lebih bagus. Rupanya kamu
cukup tau diri ya.”
“Ada apa ini pagi-pagi rebut sekali.”
(Hans darang tiba-tiba)
Velicia tak menghiraukan mereka dan
langsung lemewati Hans tanpa berkata apapun dan berlalu begitu saja menuju ke
kamarnya. Sementara Ania langsung memeluk Hans dengan erat dan mengadu pada
pacarnya.
“Sayang, aku datang kesini baik-baik
tapi dia begitu lama membukakan pintu dan membuka pintu langsung memarahiku.
Katanya aku telah mengganggunya. Aku sangat tidak nyaman diposisi ini, aku
seperti selingkuhan saja yang akan diusir oleh istri sahnya.”
“Aku sudah bilang jangan datang
kemari. Kamu kan yang memilih jalan ini sendiri, apa kamu menyesal? Sudah
terlambat.” Hans mengacuhkannya.
“Sayang apa maksudmu? Dia hanyalah
boneka untukmu kan?”
Selain dia merepotkan ternyata juga
dia sangat licik, jelas-jelas aku melihatnya tadi memarahi Velicia dan dia
memutar balikkan fakta. Hans segera tau karena melihatnya sendiri dan dia hanya bergumam dalam
hati.
“Sudahlah, kamu mau apa kesini?”
“Tentu saja aku merindukanmu sayang.”
Ania dengan manja mencoba melingkarkan tangannya ke leher Hans.
“Pulanglah aku akan menemuimu sore
nanti.” Hans menangkisnya dan pergi lalu duduk di sofa.
“Biarkan aku disini sayang, aku ingin
disini.” Ania tidak menyerah dan duduk di pangkuan Hans
“Baiklah.” Hans dengan angkuh
membiarkan Ania duduk di pangkuannya tanpa melakukan apapun, sementara Ania
terus merabahi dada Hans yang bidang itu dan seolah sedang menikmati tubuh Hans
yang hangat. Namun Hans hanya diam tanpa ekspresi. Bahkan Hans terlihat begitu
rishi dan menyepelekannya.
**Dikamar Velicia
Dosa apa yang aku perbuat dimasa
lalu, bahkan hari libur yang indah inipun menjadi sangat buruk. Kedudukan istri
macam apa ini yang membiarkan pacar suaminya berada dirumah nya bermesraan
dengan suaminya. Meskipun tidak ada rasa namun ini tetap saja terasa memalukan,
seperti harga diriku terinjak-injak.
Dikamarnya asyik menonton TV sambil
terus memikirkan kejadian tadi, ya benar saja istri mana yang tidak akan sakit
hatinya melihat suaminya bermesrakan dengan kekasihnya bahkan jika tidak ada
perasaan apapun juga akan terasa seperti tidak dihargai.
Waktu berjalan begitu cepat hingga
siangpun tiba, sudah begitu lama dia berdiam diri di kamarnya dan melewatkan
sarapannya gara-gara tamu tak diundang itu hingga kini sudah waktunya makan
siang dan wanita itu juga masih ada dibawah, perutnya rasanya mulai sakit
menahan rasa lapar. Ingin rasanya turun kebawah dan melupakan semuanya
menganggap mereka tidak ada namun ya tetap saja rasanya seperti ada yang sakit.
Sial, aku sangat lapar dan tidak
bisa ku tahan lagi. Ah sudahlah mending aku turun lalu masak sebentar dan aku
segera naik lagi. Apa peduliku dengan mereka. Ingat dia mereka buka
siapa-siapa. Velicia
yang hanya marah-marah dalam hatinya.
Rasanya mengambil keputusan untuk
keluar dari kamar saja seperti mengambil keputusan terberat yang harus di
pertimbangkan dengan matang. Dan akhirnya dia memilih untuk turun kebawah untuk
memasak sesuatu untuk mengisi perutnya yang sudah mulai berdemo untuk diberikan
makanan.
Begitu sampainya dibawah, benar saja
dia menyaksikan pemandangan yang menurutnya menjijikan itu. Dimana di pangkuan
suaminya ada wanita lain yang sedang duduk bermanja-manja padanya. Dan
laki-laki itu juga hanya diam saja dengan perlakuan wanita itu. Rasanya ingin marah tapi juga tidak bisa
yang dia bisa lakukan hanyalah pura-pura tidak melihat adegan itu dan segera
memasak makanan lalu kembali ke kamarnya. Laki-laki itu dan kekasihnya itu
benar-benar telah membuatnya kehilangan akal, Velicia sangat marah dan juga
sekaligus jijik pada keduanya.
Hans melihat Velicia melawati mereka
dan begitu cuek tak menghiraukannya, dan dia juga tau Ania malah semakin
menjadi berusaha untuk membuat Velicia panas dan cemburu hingga dengan sengaja
mempertontonkan kemesraannya. Namun nampaknya usaha mereka sia-sia Velicia
terlihat biasa saja melihat mereka.
Velicia terlihat biasa saja,
bagaimana mungkin wanita ini terlihat sangat tenang melihat suaminya bermesraan
dengan wanita lain. Apa dia benar-benar mau menikah denganku karena uang?
Karena aku yang membiayai adiknya berobat? Ck, wanita ini benar-benar bikin aku
marah. Bahkan dia tidak tertarik denganku? Yang ada di otaknya hanya adiknya.
“Ania, pergilah. Aku ingin sendiri
disini.” Hans mulai gerah dan menepisnya untuk segera pergi.
“Sayang tapi.” Ania dengan keras
kepalanya ingin tetap tinggal.
“Baiklah cukup bermain-mainnya. Lain
waktu tidak usah lagi kamu muncul dihadapanku. Aku sudah cukup muak denganmu.”
Hans akhirnya mengungkapkan ke beratannya.
“Sayang, apa maksudmu?” (pura-pura
tidak paham)
“Kamu taukan maksudku? Aku bosan
denganmu. Apalagi.” (terus terang)
“Bahkan kamu tidak pernah
menyentuhku.” (menggapai tangan Hans)
“Pergi!!!” (melepaskan) Hans mulai
marah dan tidak sabaran lagi.
Seperti biasanya Hans akan membuang
wanitanya jika dia telah bosan untuk bermain-main, sebenarnya dia tidak hanya
menjadikan wanita sebagai pacarnya agar dia tidak terkesan benar-benar
menyedihkan karena jomblo. Sudah berapa banyak entahlah wanita yang sudah putus
__ADS_1
dengannya dan dibuang begitu saja olehnya. Kecuali dengan kekasih masa lalunya
yang pergi entah kemana dan membuatnya mendi seperti ini.
“Apa kamu juga membuat makanan
untukku?” (mendekati Velicia)
“Apa kamu becanda tuan? Untuk apa aku
membuat makanan untukmu yang sedang pacarana dengan kekasihmu itu. Suruh saja dia
buatkan untukmu.” (jutek)
“Apa kamu cemburu.” Hans mendekatkan
tubuhnya lebih dekat lagi dengan Velicia.
“Anda sangat lucu tuan, aku mengingat
betul posisiku. Jadi aku tidak akan cemburu.” (ketus)
“Kamu tidak cemburu?” (memegang
tangan Velicia dengan kasar)
Hans langsung mendekatkan tubuhnya ke
Velicia hingga Velicia terpojokkan dan tidak dapat mundurlagi karena adanya
meja dapur, tubunya menyondong ke belekang dengan posisi tubuh Hans yang
wajahnya terus mendekati Velicia.
“Apa yang kamu lakukan tuan? Aku rasa
anda sudah berlaku tidak sopan.” (meronta)
“Apa aku harus sopan pada istriku?”
(marah)
“Tentu saja, jika anda benar-benar
laki-laki yang baik maka bersikaplah baik pada perempuan.” (takut)
“Bahkan jika aku suamimu juga aku
tidak boleh menyentuhmu begitu?” (marah) Hans lebih mendekatkan mukanya pada
wajah Velicia, dan reflek Velicia terus memundurkan kepalanya meski pinggangnya
hampir saja copot rasanya.
“Tuan Hans apa yang akan anda
lakukan, pinggangku sangat sakit. Apa anda akan membunuhku dengan mematahkan
pinggangku?” (kesakitan)
Hans segera menarik tubuh Velicia dan
mengunci tangannya menempelkan tubuh Velicia ke tembok dapur.
“Hans apakah anda sudah gila?”
(marah)
“Iyah aku gila.” (semakin marah)
“Dasar ******** mesum. Anda pikir
anda bisa menggodaku seperti tempo hari?” (semakin terpojok)
“Berhenti memanggilku anda dan tuan.”(masih
marah)
“Ck, trik anda sangat menjijikan.”
“Ingat, kamu adalah istri sahku. Aku
bisa melakukan apapun yang aku mau sekarang.” (semakin memojokkan menindih
tubuh Velicia)
“Baiklah, baiklah aku menyerah. Apa
kamu puas Hans?” (putus asa)
“Ya aku puas. Sangat puas istriku.”
(senang)
Hans segera mencium bibir istrinya
dengan lembut, meski Velicia meronta namun Hans tetap memaksanya dan mengunci
kedua tangannya hingga terasa begitu sakit. Velicia tidak dapat melakukan
apapun juga tidak bisa menikmati ciuman itu. Namun Hans begitu menikmati ciuman
itu hingga dia tak juga melepaskannya. Dia ******* habis bibir mungil istrinya
yang begitu terasa manis untuknya.
“Kamu ********.” (kesal)
“Kamu istriku.” (licik)
“Aku tidak akan memaafkanmu.”
“Ayolah istriku, apa kita lanjutkan
dikamar.” (menggoda)
“Hans, bagaimana kamu bisa melakukan
ini tanpa cinta? Kamu pikir semua wanita bisa kamu perlakukan begini?” (tidak
tau harus menghentikannya dengan apa)
“Bagaimana jika aku bilang aku
mencintai istriku. Kamu istriku tentu saja kamu adalah milikku bukan?” (semakin
menindih tubuh Velicia)
“Saya rasa otakmu bermasalah tuan.”
mengunci kembali tangannya dan menghempaskan tubuhnya ke tembok dengan keras.
“Katakan sekali lagi.” (hendak
mencium Velicia lagi)
“Apa kamu begitu marah? Kamu
melukaiku.” (Hans semakin dekat)
“Aku tidak suka, kamu adalah istriku.
Harusnya kita begitu dekat kamu bukan bawahanku. Ingat lah kamu istriku.” Hans
terus berbicara tidak menunggu jawaban Velicia dan terus mendesak Velicia
dengan mendekatkan wajahnya ke Velicia.
“Lepaskan aku, kumohon ini terlalu
sakit Hans.” Velicia menangis kesakitan dan Hans langsung melepaskannya dan
menggendongnya ke sofa ruang TV.
“Aku tidak bermaksud menyakitimu.”
(menyesal)
“Ya, aku tau.” (ketus)
Hans mengobati luka di pergelangan
tangannya dan di punggungnya yang merah terbentur tembok itu.
….Hans
Dia adalah laki-laki yang sangat
dingin dan tidak pernah menghargai wanita, dia pernah jatuh cinta sangat cinta
pada kekasih nya saat SMA, namun sudah sangat lama kekasihnya pergi
meninggalkannya dan sudah menikah diluar negeri. Hal ini membuatnya sangat terpukul
hingga dia mempermainkan banyak wanita, memacari banyak wanita agar dia tidak
terlihat menyedihkan karena menjomblo. Dia sangat membenci mantannya itu.
DIa juga pewaris tunggal dari
perusahaan HK grup yang sekarang dipimpin oleh kakeknya dan akan di limpahkan
padanya dengan syarat dia harus menikah terlebih dahulu, hingga suatu malam dia
bertemu dengan Velicia, entah apa yang membuatnya begitu terus memikirkan
wanita ini. Hingga rasanya ingin terus bersama dengannya setiap waktu.
Hans adalah pria muda, kaya, ganteng,
juga sangat tegas. Dia terkenal sangat sulit untuk didekati mantan-mantan
pacarnya tidak pernah benar-benar mendapatkan hatinya dan hanya Anialah yang
lumayan lama bersamanya, selain dia mungkin hanya 1 bulannan bisa menyandang
sebagai pacarnya.
Sebenarnya bukan hanya masa lalu
percintaanya yang kelam itu yang
membuatnya menjadi seperti ini, tetapi juga karena didikan dari kakeknya yang
lumayan keras padanya sehingga dia begitu menjadi pribadi yang dingin dan
angkuh. Dia tidak pernah mengharga wanita, sebab ibunya juga pergi
meninggalkannya saat dia masih kecil, dan ayahnya menikah lagi dengan ibu tiri
yang jahat. Oleh sebab itulah dia tinggal bersama kakek dari ayahnya sejak
kecil.
Hanya nenek yang menyayanginya dengan
sanagt tulus dan kakeknya juga menyayanginya tetapi kakeknya mendidiknya begitu
keras sehingga dia begitu takut pada kakeknya. Sedangkan neneknya sudah
meninggal sudah lama saat dia masuk SMA. Dan sejak saat itu kakeknya jadi
kehilangan semangat dan terus mendorong Hans untuk belajar dengan giat agar
segera mengolah perusahaan sehingga kakeknya cepat bisa pensiun. Kakeknya juga
telah mengatur rencana dengan mengenalkan Ania hingga dia menjadi pacar Hans,
niatnya agar Hans segera menikah dan segera memegang kuasa penuh atas perusahaan.
Namun siapa sangka jika ternyata Ania hanya ingin uang Hans, dan hanya
memikirkan ketenarannya saja bahkan tidak mau untuk menikah.
Ya, Syarat memegang kuasa penuh
perusahaan adalah dengan menikah. Atau jika sampai tahun depan yang sudah hanya
beberapa bulan lagi Hans belum menikah maka perusahaan akan jatuh di tangan
ayahnya. Tentu saja Hans sangat tidak rela jika ibu tiri dan sodara tirinya
menikmati jerih payah kakeknya, sekuat tenaga Hans mencari kandidat yang tepat
beberapa pilihan kakeknyapun dia tolah dengan alasan yang bermacam-macam.
Hampir setiap minggunya kakeknya mengadakan kencan buta untuk mencari kandidat
yang tepat.
Hingga pada malam itu secara sangat
kebetulan dia bertemu dengan Velicia, dan dia sanagt iba padanya juga kagum
akan rasa sayangnya kepada adiknya. Dan setelah dia menyelidikinya benar saja
__ADS_1
Velicia adalah wanita yang dia cari, pekerja keras, lemah lembuh dan dia juga
sedang membutuhkan uang untuk berobat adiknya. Entah perasaan apa yang
berkecambuk di dalam hati Hans kala itu, dia benar-benar tidak mampu
memalingkan pandang nya pada Velicia, dan dia juga telah terpikat pada wanita
yang baru ditemuinya itu.
Ya, mungkin bisa dibilang jatuh cinta
pada pandangan pertama. Namun karena ke angkuhan nya hingga dia berulang kali
menepis perasaanya dan menganggap semuanya hanya perasaan kasihan. Hans juga
takut cintanya tak terbalaskan dan sangat gengsi untuk mengakui bahwa dia telah
jatuh cinta pada istrinya.
Dan ya, kakeknya sangat mengerti akan
hal itu dan merestuinya untuk menikah. Kakeknya juga sudah menyelidiki
asal-usul gadis itu dan semuanya baik. Jadi tidak ada salahnya baginya untuk
menjadikan Velicia cucu mantunya. Terlebih lagi dia tau jika saat ini cucunya
telah terpikat akan pesona Velicia.
“Aku minta maaf perlakuanku tadi
padamu.” (minta maaf dengan tulus)
Aku tidak bisa mengontrol diriku
yang sangat marah ketika kamu tidak cemburu padaku, kamu hanya mementingkan
adikmu. Apa kamu memanfaatkan aku demi adikmu, dan kamu selalu bersikap seperti
bawahanku. Apa kamu begitu menjaga jarak antara kita? Argg aku ini kenapa?
Rasanya sangat sakit padahal aku tidak pernah ada perasaan apapun pada wanita
ini. Lalu ciuman tadi kenapa terasa seperti candu yang membuatku tidak bisa
menahannya dan ingin terus memakan bibirnya. Argg pasti aku sudah gila.
“Aku maafkan.” (ketus)
Aku benci kamu, kamu begitu mesum
mengingkari janjimu di atas kertas. Bukannya perjanjiannya kamu tidak boleh
menyentuhku? Kamu bukan hanya menyentuh, tapi juga memaksa menciumku hingga
tanganku segam begini, rasanya sakit. Bibirku juga rasanya sakit digigit
olehnya, tapi aku bisa apa? Jika aku menggigitnya balik pasti dia akan marah
dan semakin gila. Aku hanya bisa diam, bodohnya aku ya tuhan. Apa aku bencanda
harus dengan si mesum ini setiap hari selama 2 tahun.
“Ingat untuk selalu mengoleskan
tanganmu obat agar lukanya cepat sembuh.” (khawatir)
Jika dia seperti ini dia begitu
baik, tapi juga tempramen sekali. Apa laki-laki ini begitu merasa bersalah?
“Terimakasih.”
“Oyah, lusa kita pindah ke apartemen
ku yang di kota. Tidak begitu dekat dengan kantormu, tapi apartemennya dekat
dengan halte bus. Jadi kamu bisa naik bus ke kantor dan tidak perlu khawatir
untuk mengirit ongkos.” (berusaha menebus kesalahan)
“Terimakasih.” (masih marah)
“Besok akan ada pelayan yang membantu
berberes-beres untuk pindahan. Jadi setelah pulang kantor kamu bisa beres-beres
barangmu untuk pindah.” (menjelakan)
“Baiklah aku mengerti.” (ketus)
“Dan karena tanganmu hari ini
terluka, jangan angkat-angkat yang berat-berat dulu dan jangan terlalu cape,
biar nanti aku tambahkan orang untuk membantumu. Apa kamu mengerti?” Karena
bingung haru bagaimana Hans terus mengajak bicara Velicia dengan penuh
perhatian, juga begitu gengsi.
“Ya, aku mengerti.” (cuek)
“Gadis pintar.”
Gadis ini jika sedang kesal juga
begitu lucu, rasanya ingin aku memeluknya dan menciumnya lagi. Istriku.
Apa yang laki-laki ini fikirkan?
Sesaat tadi dia mengelus rambutku sekarang dia melihatiku dengan senyuman
mengerikan itu. Apa dia berniat jahat padaku?
“Ayo aku antar ke kamarmu.” (memapah)
“Tidak, tidak aku masih bisa
berjalan. Tanganku yang sakit bukan kakiku.” (melepaskan)
“Sama suamimu saja kamu masih
malu-malu begitu.” (membujuk)
“Omong kosong.” (pergi berlahan)
“Apa kamu bilang? Aku ini suami sah
mu, masa masuk ke kamarmu saja tidak boeh. Lagi pula ini rumahku, aku punya
semua kunci duplikat ruangan di rumah ini.”
“Aku sungguh tidak mengerti apa yang
kamu bicarakan.” (berhenti)
Hans mengejarnya yang sedang berdiri
di tangga dan mendekatinya memapah tubuh wanita itu.
“Aku ini suamimu, suami sahmu. Tentu
saja cepat atau lambat aku akan tidur di kamarmu.”
“Lepaskan tanganmu, aku bisa jalan sendiri.
Kamu malah semakin melukaiku. Hei lepaskan aku mesum!!!”
Hans tidak menunggu lama lagi
langsung membopong Velicia ke kamarnya dan Velicia meronta-ronta minta turun.
“Jika kamu terus bergerak kita akan
jatuh bersama dan tubuh kita akan tumpeng tindih aku hanya perlu melanjutkan
apa yang kamu mulai.”
“Sialan kamu mesum, kamu jangan lupa
perjanjian kita untuk kamu tidak menyentuhku.”
“Hahaha, perjanjian itu tidak berlaku
tuh.”
“Bagaimana kamu bisa berkata begitu?”
“Karena kita suami istri yang sah.”
Hans segera membaringkan Velicia di
kasurnya, dan Hans masih dalam posisi membungkukkan badannya diatas badan
Velicia.
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu
jika kamu melakukan hal macam-macam padaku.”
“Ingatlah, kamu adalah istriku.”
“Ingat juga pernikahan kita hanya
kontrak.”
“Kontrak itu aku yang buat, dan bisa
aku batalkan begitu saja.”
“Kamu gila.”
“Aku ini suamimu bukan gila.”
“Apa maumu sebenarnya?”
“Aku menginginkan kamu bagaimana?”
“Kamu sudah benar-benar gila.”
“Ayolah, berlakulah sesuai dengan
statusmu istriku.”
“Aku mohon jangan lakukan apapun
padaku.”
“Jika aku mau bagaimana?”
“Kamu kan sudah janji diperjanjian.”
“Aku tidak pernah tanda tangan
perjanjian itu. Apa kamu fikir aku benar-benar ingin menikah kontrak denganmu?”
(bangun dari posisinya dan duduk)
“Maksudmu?”
“Kamu ini bodoh ya. Lupakan saja aku
ngantuk mau tidur.” (pergi ke kamarnya.)
Brakkk (suara pintu dibanting)
Kenapa dia marah? Apa perkataan dia
barusan? Maksudnya apa?
**Dikamar Hans
Apa yang aku fikirkan, jelas-jelas
aku menikahinya karena ingin kuasa penuh dari perusahaan. Kenapa aku tidak
menandatangani kontrak itu? Dan kenapa juga aku harus bilang padanya. Setiap
kali berhadapan dengannya pasti aku kehilangan kendali. Dia bahkan sama sekali
tidak memandangku suaminya, tapi aku begitu bodoh menganggapnya istri. Argg
kenapa aku selalu tidak diinginkan sih. Kenapa aku memiliki perasaan aneh ini
padanya. Tidak, pasti ini hanya perasaan bertanggung jawab karena pernikahan
ini saja. Aku tidak mungkin mencintai dia kan, bagaimana bisa aku mencintai
wanita yang bahkan tidak pernah menggap aku. Sialan.
“Aku tidak akan menemuinya lagi.”
Hans mengacak-acak semua kamarnya dan
__ADS_1
meminum wine semalaman.