KONTRAK DAN TAKDIR CINTA

KONTRAK DAN TAKDIR CINTA
Bagian 3


__ADS_3

Bab 4


***Ketenangan Yang Gagal***


Akhirnya hari libur tiba, saat yang


telah dinanti setelah hari-hari kerja yang melelahkan. Saatnya bermalas-malasan


di kamar. Dirumah itu begitu tenang, pelayan yang setiap harinya


bersih-bersihpun setiap hari libur begini mereka juga ikut berlibur, makanya


rumah ini begitu sunyi dan benar-benar nikmat untuk menikmati hari libur.


Ting….tong….. (suara bel rumah)


Suara bel rumah yang nyaring


terdengar memekikkan ketenangan rumah besar itu, begitu lama suara bel itu


bersautan sepertinya tamu yang datang cukup tidak sabar menunggu tuan rumah


membukakan pintu. Bagaimana tidak saat sepagi ini di hari libur, tentu saja


tuan rumah akan bermalas-malasan ditempat tidur. Siapa tamu yang dengan tidak


tau malunya harus memencet bel terus-menerus itu.


Tamu itu gila ya? Memencet bel


seperti itu dipagi hari, aku rasa dia begitu kesepian di hari libur begini.


Makanya dia begitu arrogant bertamu dirumah orang sepagi ini dengan etika yang


tidak sopan begitu.


Dengan sedikit marah Velicia segera


menuju ke pintu depan rumah dan membukakan pintu untuk tamu yang datang itu.


“Lama sekali membukakan pintunya. Apa


kamu tidak lihat aku menunggu begitu lama.” Ania terlihat sangat marah dan


langsung masuk.


“Anda sepagi ini bertamu kerumah


orang dan berteriak seperti itu. Apa anda tidak pernah diajari sopan santun?”


Velicia menjawab dengan santai dan tidak menghiraukan.


“Jaga bicaramu ya, sadar posisimu


hanyalah istri kontrak. Aku lah kekasih yang sesungguhnya tuan rumah ini. Kamu


hanyalah boneka disini.” Ania mulai menunjuk-nunjuk velicia.


“Terserah anda, anda bilang ini rumah


pacar anda kan? Baiklah saya akan kembali ke kamar. Suka-suka anda saja mau


ngapain.” Velicia dengan santainya dan pergi ke kamarnya.


“Begitu lebih bagus. Rupanya kamu


cukup tau diri ya.”


“Ada apa ini pagi-pagi rebut sekali.”


(Hans darang tiba-tiba)


Velicia tak menghiraukan mereka dan


langsung lemewati Hans tanpa berkata apapun dan berlalu begitu saja menuju ke


kamarnya. Sementara Ania langsung memeluk Hans dengan erat dan mengadu pada


pacarnya.


“Sayang, aku datang kesini baik-baik


tapi dia begitu lama membukakan pintu dan membuka pintu langsung memarahiku.


Katanya aku telah mengganggunya. Aku sangat tidak nyaman diposisi ini, aku


seperti selingkuhan saja yang akan diusir oleh istri sahnya.”


“Aku sudah bilang jangan datang


kemari. Kamu kan yang memilih jalan ini sendiri, apa kamu menyesal? Sudah


terlambat.” Hans mengacuhkannya.


“Sayang apa maksudmu? Dia hanyalah


boneka untukmu kan?”


Selain dia merepotkan ternyata juga


dia sangat licik, jelas-jelas aku melihatnya tadi memarahi Velicia dan dia


memutar balikkan fakta. Hans segera tau karena melihatnya sendiri dan dia hanya bergumam dalam


hati.


“Sudahlah, kamu mau apa kesini?”


“Tentu saja aku merindukanmu sayang.”


Ania dengan manja mencoba melingkarkan tangannya ke leher Hans.


“Pulanglah aku akan menemuimu sore


nanti.” Hans menangkisnya dan pergi lalu duduk di sofa.


“Biarkan aku disini sayang, aku ingin


disini.” Ania tidak menyerah dan duduk di pangkuan Hans


“Baiklah.” Hans dengan angkuh


membiarkan Ania duduk di pangkuannya tanpa melakukan apapun, sementara Ania


terus merabahi dada Hans yang bidang itu dan seolah sedang menikmati tubuh Hans


yang hangat. Namun Hans hanya diam tanpa ekspresi. Bahkan Hans terlihat begitu


rishi dan menyepelekannya.


**Dikamar Velicia


Dosa apa yang aku perbuat dimasa


lalu, bahkan hari libur yang indah inipun menjadi sangat buruk. Kedudukan istri


macam apa ini yang membiarkan pacar suaminya berada dirumah nya bermesraan


dengan suaminya. Meskipun tidak ada rasa namun ini tetap saja terasa memalukan,


seperti harga diriku terinjak-injak.


Dikamarnya asyik menonton TV sambil


terus memikirkan kejadian tadi, ya benar saja istri mana yang tidak akan sakit


hatinya melihat suaminya bermesrakan dengan kekasihnya bahkan jika tidak ada


perasaan apapun juga akan terasa seperti tidak dihargai.


Waktu berjalan begitu cepat hingga


siangpun tiba, sudah begitu lama dia berdiam diri di kamarnya dan melewatkan


sarapannya gara-gara tamu tak diundang itu hingga kini sudah waktunya makan


siang dan wanita itu juga masih ada dibawah, perutnya rasanya mulai sakit


menahan rasa lapar. Ingin rasanya turun kebawah dan melupakan semuanya


menganggap mereka tidak ada namun ya tetap saja rasanya seperti ada yang sakit.


Sial, aku sangat lapar dan tidak


bisa ku tahan lagi. Ah sudahlah mending aku turun lalu masak sebentar dan aku


segera naik lagi. Apa peduliku dengan mereka. Ingat dia mereka buka


siapa-siapa. Velicia


yang hanya marah-marah dalam hatinya.


Rasanya mengambil keputusan untuk


keluar dari kamar saja seperti mengambil keputusan terberat yang harus di


pertimbangkan dengan matang. Dan akhirnya dia memilih untuk turun kebawah untuk


memasak sesuatu untuk mengisi perutnya yang sudah mulai berdemo untuk diberikan


makanan.


Begitu sampainya dibawah, benar saja


dia menyaksikan pemandangan yang menurutnya menjijikan itu. Dimana di pangkuan


suaminya ada wanita lain yang sedang duduk bermanja-manja padanya. Dan


laki-laki itu juga hanya diam saja  dengan perlakuan wanita itu. Rasanya ingin marah tapi juga tidak bisa


yang dia bisa lakukan hanyalah pura-pura tidak melihat adegan itu dan segera


memasak makanan lalu kembali ke kamarnya. Laki-laki itu dan kekasihnya itu


benar-benar telah membuatnya kehilangan akal, Velicia sangat marah dan juga


sekaligus jijik pada keduanya.


Hans melihat Velicia melawati mereka


dan begitu cuek tak menghiraukannya, dan dia juga tau Ania malah semakin


menjadi berusaha untuk membuat Velicia panas dan cemburu hingga dengan sengaja


mempertontonkan kemesraannya. Namun nampaknya usaha mereka sia-sia Velicia


terlihat biasa saja melihat mereka.


Velicia terlihat biasa saja,


bagaimana mungkin wanita ini terlihat sangat tenang melihat suaminya bermesraan


dengan wanita lain. Apa dia benar-benar mau menikah denganku karena uang?


Karena aku yang membiayai adiknya berobat? Ck, wanita ini benar-benar bikin aku


marah. Bahkan dia tidak tertarik denganku? Yang ada di otaknya hanya adiknya.


“Ania, pergilah. Aku ingin sendiri


disini.” Hans mulai gerah dan menepisnya untuk segera pergi.


“Sayang tapi.” Ania dengan keras


kepalanya ingin tetap tinggal.


“Baiklah cukup bermain-mainnya. Lain


waktu tidak usah lagi kamu muncul dihadapanku. Aku sudah cukup muak denganmu.”


Hans akhirnya mengungkapkan ke beratannya.


“Sayang, apa maksudmu?” (pura-pura


tidak paham)


“Kamu taukan maksudku? Aku bosan


denganmu. Apalagi.” (terus terang)


“Bahkan kamu tidak pernah


menyentuhku.” (menggapai tangan Hans)


“Pergi!!!” (melepaskan) Hans mulai


marah dan tidak sabaran lagi.


Seperti biasanya Hans akan membuang


wanitanya jika dia telah bosan untuk bermain-main, sebenarnya dia tidak hanya


menjadikan wanita sebagai pacarnya agar dia tidak terkesan benar-benar


menyedihkan karena jomblo. Sudah berapa banyak entahlah wanita yang sudah putus

__ADS_1


dengannya dan dibuang begitu saja olehnya. Kecuali dengan kekasih masa lalunya


yang pergi entah kemana dan membuatnya mendi seperti ini.


“Apa kamu juga membuat makanan


untukku?” (mendekati Velicia)


“Apa kamu becanda tuan? Untuk apa aku


membuat makanan untukmu yang sedang pacarana dengan kekasihmu itu. Suruh saja dia


buatkan untukmu.” (jutek)


“Apa kamu cemburu.” Hans mendekatkan


tubuhnya lebih dekat lagi dengan Velicia.


“Anda sangat lucu tuan, aku mengingat


betul posisiku. Jadi aku tidak akan cemburu.” (ketus)


“Kamu tidak cemburu?” (memegang


tangan Velicia dengan kasar)


Hans langsung mendekatkan tubuhnya ke


Velicia hingga Velicia terpojokkan dan tidak dapat mundurlagi karena adanya


meja dapur, tubunya menyondong ke belekang dengan posisi tubuh Hans yang


wajahnya terus mendekati Velicia.


“Apa yang kamu lakukan tuan? Aku rasa


anda sudah berlaku tidak sopan.” (meronta)


“Apa aku harus sopan pada istriku?”


(marah)


“Tentu saja, jika anda benar-benar


laki-laki yang baik maka bersikaplah baik pada perempuan.” (takut)


“Bahkan jika aku suamimu juga aku


tidak boleh menyentuhmu begitu?” (marah) Hans lebih mendekatkan mukanya pada


wajah Velicia, dan reflek Velicia terus memundurkan kepalanya meski pinggangnya


hampir saja copot rasanya.


“Tuan Hans apa yang akan anda


lakukan, pinggangku sangat sakit. Apa anda akan membunuhku dengan mematahkan


pinggangku?” (kesakitan)


Hans segera menarik tubuh Velicia dan


mengunci tangannya menempelkan tubuh Velicia ke tembok dapur.


“Hans apakah anda sudah gila?”


(marah)


“Iyah aku gila.” (semakin marah)


“Dasar ******** mesum. Anda pikir


anda bisa menggodaku seperti tempo hari?” (semakin terpojok)


“Berhenti memanggilku anda dan tuan.”(masih


marah)


“Ck, trik anda sangat menjijikan.”


“Ingat, kamu adalah istri sahku. Aku


bisa melakukan apapun yang aku mau sekarang.” (semakin memojokkan menindih


tubuh Velicia)


“Baiklah, baiklah aku menyerah. Apa


kamu puas Hans?” (putus asa)


“Ya aku puas. Sangat puas istriku.”


(senang)


Hans segera mencium bibir istrinya


dengan lembut, meski Velicia meronta namun Hans tetap memaksanya dan mengunci


kedua tangannya hingga terasa begitu sakit. Velicia tidak dapat melakukan


apapun juga tidak bisa menikmati ciuman itu. Namun Hans begitu menikmati ciuman


itu hingga dia tak juga melepaskannya. Dia ******* habis bibir mungil istrinya


yang begitu terasa manis untuknya.


“Kamu ********.” (kesal)


“Kamu istriku.” (licik)


“Aku tidak akan memaafkanmu.”


“Ayolah istriku, apa kita lanjutkan


dikamar.” (menggoda)


“Hans, bagaimana kamu bisa melakukan


ini tanpa cinta? Kamu pikir semua wanita bisa kamu perlakukan begini?” (tidak


tau harus menghentikannya dengan apa)


“Bagaimana jika aku bilang aku


mencintai istriku. Kamu istriku tentu saja kamu adalah milikku bukan?” (semakin


menindih tubuh Velicia)


“Saya rasa otakmu bermasalah tuan.”


mengunci kembali tangannya dan menghempaskan tubuhnya ke tembok dengan keras.


“Katakan sekali lagi.” (hendak


mencium Velicia lagi)


“Apa kamu begitu marah? Kamu


melukaiku.” (Hans semakin dekat)


“Aku tidak suka, kamu adalah istriku.


Harusnya kita begitu dekat kamu bukan bawahanku. Ingat lah kamu istriku.” Hans


terus berbicara tidak menunggu jawaban Velicia dan terus mendesak Velicia


dengan mendekatkan wajahnya ke Velicia.


“Lepaskan aku, kumohon ini terlalu


sakit Hans.” Velicia menangis kesakitan dan Hans langsung melepaskannya dan


menggendongnya ke sofa ruang TV.


“Aku tidak bermaksud menyakitimu.”


(menyesal)


“Ya, aku tau.” (ketus)


Hans mengobati luka di pergelangan


tangannya dan di punggungnya yang merah terbentur tembok itu.


….Hans


Dia adalah laki-laki yang sangat


dingin dan tidak pernah menghargai wanita, dia pernah jatuh cinta sangat cinta


pada kekasih nya saat SMA, namun sudah sangat lama kekasihnya pergi


meninggalkannya dan sudah menikah diluar negeri. Hal ini membuatnya sangat terpukul


hingga dia mempermainkan banyak wanita, memacari banyak wanita agar dia tidak


terlihat menyedihkan karena menjomblo. Dia sangat membenci mantannya itu.


DIa juga pewaris tunggal dari


perusahaan HK grup yang sekarang dipimpin oleh kakeknya dan akan di limpahkan


padanya dengan syarat dia harus menikah terlebih dahulu, hingga suatu malam dia


bertemu dengan Velicia, entah apa yang membuatnya begitu terus memikirkan


wanita ini. Hingga rasanya ingin terus bersama dengannya setiap waktu.


Hans adalah pria muda, kaya, ganteng,


juga sangat tegas. Dia terkenal sangat sulit untuk didekati mantan-mantan


pacarnya tidak pernah benar-benar mendapatkan hatinya dan hanya Anialah yang


lumayan lama bersamanya, selain dia mungkin hanya 1 bulannan bisa menyandang


sebagai pacarnya.


Sebenarnya bukan hanya masa lalu


percintaanya  yang kelam itu yang


membuatnya menjadi seperti ini, tetapi juga karena didikan dari kakeknya yang


lumayan keras padanya sehingga dia begitu menjadi pribadi yang dingin dan


angkuh. Dia tidak pernah mengharga wanita, sebab ibunya juga pergi


meninggalkannya saat dia masih kecil, dan ayahnya menikah lagi dengan ibu tiri


yang jahat. Oleh sebab itulah dia tinggal bersama kakek dari ayahnya sejak


kecil.


Hanya nenek yang menyayanginya dengan


sanagt tulus dan kakeknya juga menyayanginya tetapi kakeknya mendidiknya begitu


keras sehingga dia begitu takut pada kakeknya. Sedangkan neneknya sudah


meninggal sudah lama saat dia masuk SMA. Dan sejak saat itu kakeknya jadi


kehilangan semangat dan terus mendorong Hans untuk belajar dengan giat agar


segera mengolah perusahaan sehingga kakeknya cepat bisa pensiun. Kakeknya juga


telah mengatur rencana dengan mengenalkan Ania hingga dia menjadi pacar Hans,


niatnya agar Hans segera menikah dan segera memegang kuasa penuh atas perusahaan.


Namun siapa sangka jika ternyata Ania hanya ingin uang Hans, dan hanya


memikirkan ketenarannya saja bahkan tidak mau untuk menikah.


Ya, Syarat memegang kuasa penuh


perusahaan adalah dengan menikah. Atau jika sampai tahun depan yang sudah hanya


beberapa bulan lagi Hans belum menikah maka perusahaan akan jatuh di tangan


ayahnya. Tentu saja Hans sangat tidak rela jika ibu tiri dan sodara tirinya


menikmati jerih payah kakeknya, sekuat tenaga Hans mencari kandidat yang tepat


beberapa pilihan kakeknyapun dia tolah dengan alasan yang bermacam-macam.


Hampir setiap minggunya kakeknya mengadakan kencan buta untuk mencari kandidat


yang tepat.


Hingga pada malam itu secara sangat


kebetulan dia bertemu dengan Velicia, dan dia sanagt iba padanya juga kagum


akan rasa sayangnya kepada adiknya. Dan setelah dia menyelidikinya benar saja

__ADS_1


Velicia adalah wanita yang dia cari, pekerja keras, lemah lembuh dan dia juga


sedang membutuhkan uang untuk berobat adiknya. Entah perasaan apa yang


berkecambuk di dalam hati Hans kala itu, dia benar-benar tidak mampu


memalingkan pandang nya pada Velicia, dan dia juga telah terpikat pada wanita


yang baru ditemuinya itu.


Ya, mungkin bisa dibilang jatuh cinta


pada pandangan pertama. Namun karena ke angkuhan nya hingga dia berulang kali


menepis perasaanya dan menganggap semuanya hanya perasaan kasihan. Hans juga


takut cintanya tak terbalaskan dan sangat gengsi untuk mengakui bahwa dia telah


jatuh cinta pada istrinya.


Dan ya, kakeknya sangat mengerti akan


hal itu dan merestuinya untuk menikah. Kakeknya juga sudah menyelidiki


asal-usul gadis itu dan semuanya baik. Jadi tidak ada salahnya baginya untuk


menjadikan Velicia cucu mantunya. Terlebih lagi dia tau jika saat ini cucunya


telah terpikat akan pesona Velicia.


“Aku minta maaf perlakuanku tadi


padamu.” (minta maaf dengan tulus)


Aku tidak bisa mengontrol diriku


yang sangat marah ketika kamu tidak cemburu padaku, kamu hanya mementingkan


adikmu. Apa kamu memanfaatkan aku demi adikmu, dan kamu selalu bersikap seperti


bawahanku. Apa kamu begitu menjaga jarak antara kita? Argg aku ini kenapa?


Rasanya sangat sakit padahal aku tidak pernah ada perasaan apapun pada wanita


ini. Lalu ciuman tadi kenapa terasa seperti candu yang membuatku tidak bisa


menahannya dan ingin terus memakan bibirnya. Argg pasti aku sudah gila.


“Aku maafkan.” (ketus)


Aku benci kamu, kamu begitu mesum


mengingkari janjimu di atas kertas. Bukannya perjanjiannya kamu tidak boleh


menyentuhku? Kamu bukan hanya menyentuh, tapi juga memaksa menciumku hingga


tanganku segam begini, rasanya sakit. Bibirku juga rasanya sakit digigit


olehnya, tapi aku bisa apa? Jika aku menggigitnya balik pasti dia akan marah


dan semakin gila. Aku hanya bisa diam, bodohnya aku ya tuhan. Apa aku bencanda


harus dengan si mesum ini setiap hari selama 2 tahun.


“Ingat untuk selalu mengoleskan


tanganmu obat agar lukanya cepat sembuh.” (khawatir)


Jika dia seperti ini dia begitu


baik, tapi juga tempramen sekali. Apa laki-laki ini begitu merasa bersalah?


“Terimakasih.”


“Oyah, lusa kita pindah ke apartemen


ku yang di kota. Tidak begitu dekat dengan kantormu, tapi apartemennya dekat


dengan halte bus. Jadi kamu bisa naik bus ke kantor dan tidak perlu khawatir


untuk mengirit ongkos.” (berusaha menebus kesalahan)


“Terimakasih.” (masih marah)


“Besok akan ada pelayan yang membantu


berberes-beres untuk pindahan. Jadi setelah pulang kantor kamu bisa beres-beres


barangmu untuk pindah.” (menjelakan)


“Baiklah aku mengerti.” (ketus)


“Dan karena tanganmu hari ini


terluka, jangan angkat-angkat yang berat-berat dulu dan jangan terlalu cape,


biar nanti aku tambahkan orang untuk membantumu. Apa kamu mengerti?” Karena


bingung haru bagaimana Hans terus mengajak bicara Velicia dengan penuh


perhatian, juga begitu gengsi.


“Ya, aku mengerti.” (cuek)


“Gadis pintar.”


Gadis ini jika sedang kesal juga


begitu lucu, rasanya ingin aku memeluknya dan menciumnya lagi. Istriku.


Apa yang laki-laki ini fikirkan?


Sesaat tadi dia mengelus rambutku sekarang dia melihatiku dengan senyuman


mengerikan itu. Apa dia berniat jahat padaku?


“Ayo aku antar ke kamarmu.” (memapah)


“Tidak, tidak aku masih bisa


berjalan. Tanganku yang sakit bukan kakiku.” (melepaskan)


“Sama suamimu saja kamu masih


malu-malu begitu.” (membujuk)


“Omong kosong.” (pergi berlahan)


“Apa kamu bilang? Aku ini suami sah


mu, masa masuk ke kamarmu saja tidak boeh. Lagi pula ini rumahku, aku punya


semua kunci duplikat ruangan di rumah ini.”


“Aku sungguh tidak mengerti apa yang


kamu bicarakan.” (berhenti)


Hans mengejarnya yang sedang berdiri


di tangga dan mendekatinya memapah tubuh wanita itu.


“Aku ini suamimu, suami sahmu. Tentu


saja cepat atau lambat aku akan tidur di kamarmu.”


“Lepaskan tanganmu, aku bisa jalan sendiri.


Kamu malah semakin melukaiku. Hei lepaskan aku mesum!!!”


Hans tidak menunggu lama lagi


langsung membopong Velicia ke kamarnya dan Velicia meronta-ronta minta turun.


“Jika kamu terus bergerak kita akan


jatuh bersama dan tubuh kita akan tumpeng tindih aku hanya perlu melanjutkan


apa yang kamu mulai.”


“Sialan kamu mesum, kamu jangan lupa


perjanjian kita untuk kamu tidak menyentuhku.”


“Hahaha, perjanjian itu tidak berlaku


tuh.”


“Bagaimana kamu bisa berkata begitu?”


“Karena kita suami istri yang sah.”


Hans segera membaringkan Velicia di


kasurnya, dan Hans masih dalam posisi membungkukkan badannya diatas badan


Velicia.


“Aku tidak akan pernah memaafkanmu


jika kamu melakukan hal macam-macam padaku.”


“Ingatlah, kamu adalah istriku.”


“Ingat juga pernikahan kita hanya


kontrak.”


“Kontrak itu aku yang buat, dan bisa


aku batalkan begitu saja.”


“Kamu gila.”


“Aku ini suamimu bukan gila.”


“Apa maumu sebenarnya?”


“Aku menginginkan kamu bagaimana?”


“Kamu sudah benar-benar gila.”


“Ayolah, berlakulah sesuai dengan


statusmu istriku.”


“Aku mohon jangan lakukan apapun


padaku.”


“Jika aku mau bagaimana?”


“Kamu kan sudah janji diperjanjian.”


“Aku tidak pernah tanda tangan


perjanjian itu. Apa kamu fikir aku benar-benar ingin menikah kontrak denganmu?”


(bangun dari posisinya dan duduk)


“Maksudmu?”


“Kamu ini bodoh ya. Lupakan saja aku


ngantuk mau tidur.” (pergi ke kamarnya.)


Brakkk (suara pintu dibanting)


Kenapa dia marah? Apa perkataan dia


barusan? Maksudnya apa?


**Dikamar Hans


Apa yang aku fikirkan, jelas-jelas


aku menikahinya karena ingin kuasa penuh dari perusahaan. Kenapa aku tidak


menandatangani kontrak itu? Dan kenapa juga aku harus bilang padanya. Setiap


kali berhadapan dengannya pasti aku kehilangan kendali. Dia bahkan sama sekali


tidak memandangku suaminya, tapi aku begitu bodoh menganggapnya istri. Argg


kenapa aku selalu tidak diinginkan sih. Kenapa aku memiliki perasaan aneh ini


padanya. Tidak, pasti ini hanya perasaan bertanggung jawab karena pernikahan


ini saja. Aku tidak mungkin mencintai dia kan, bagaimana bisa aku mencintai


wanita yang bahkan tidak pernah menggap aku. Sialan.


“Aku tidak akan menemuinya lagi.”


Hans mengacak-acak semua kamarnya dan

__ADS_1


meminum wine semalaman.


__ADS_2