
6
Tenggelam dalam Cinta
1 bulan berlalu begitu cepat, Velicia
yang masih menjadi istri dari Hans masih sama seperti 1 bulan lalu. Kini
velicia sudah pindah ke apartemen milik Hans, apartemen yang lumayan luar dan
lengkap ini ada 2 kamar tidur, ruang tamu, ruang TV dan juga dapur. Dan lagi
apartemen ini terletak di lantai 16 semua pemandangan kota terlihat dari sini
dan cukup indah bisa dilihat ketika malam hari seperti lautan bintang dan jika
pagi hari terlihat begitu sibuknya pemandangan kota.
Namun sejak pindah kesini Hans tak
lagi tinggal bersamanya Hans seperti menghilang ditelan bumi. Iyah saat
pindahan hanya ada Anton yang menemani Velicia pindahan tidak ada pa Go juga
tidak ada Hans. Velicia tidak memiliki banyak kebranian untuk bertanya kemana
Hans, Velicia takut jika salah bicara jadi dia hanya menuruti saja untuk pindah
ke apartemen itu sediri. Masak untuk dirinya sendiri, dan beres-beres rumah
yang setia pagi akan dibantu oleh 1 pelayan bernama bu Si. Bu Si adalah orang
yang disuruh membersihkan apartemen ini setiap harinya dia akan datang pagi
hari dan akan kembali sore harinya. Velicia juga hanya akan bertemu dengan ibu
Si saat dia libur kerja. Selain itu waktunya berpapasan jadi mereka tidak bisa
bertemu sering-sering setiap hari.
1 bulan rasanya seperti bebas
hari-hari yang selalu dia nantikan setelah resmi menjadi seorang istri dari
Hans, hari-hari lajangnya yang menyenangkan kembali 1 bulan ini. Namun rasanya
seperti ada yang kosong, seperti bagi Velicia rasanya sangat aneh. Dia sendiri
tidak tau keberadaan Hans dimana apakah Hans juga baik-baik saja? Kenapa selama
ini Hans tidak pernah ke apartement dengan Velicia padahal jelas-jelas tertulis
jika mereka harus tinggal 1 rumah. Tapi malah Hans sendiri yang mengingkarinya.
Aneh selaki ya rasanya sudah
tinggal di apartemen sepi, sendiri. Andai saja adikku ada disini pasti akan
sangat menyenangkan kan? Aku sangat merindukan Alicia. Bagaimana keadaanya
sekarang ya? Aku juga tidak bisa bertanya pada siapapun saat ini. Bahkan Hans
pun menghilang entah kemana, Anton juga tidak pernah kesini. Huh…. Apa aku
pindah ke rumah Hannie saja ya? Aku sangat bosan disini sendirian, aku kesepian
disini. Tak terasa
air mata Velicia mengalir begitu saja karena terlalu rindu dengan adik
tersayangnya.
“Kenapa kamu nangis? Apakah kamu
merindukanku? Velicia?” Suara yang sangat akrab, Hans kembali mengagerkan
Velicia yang sedang menangis di kamarnya.
“Apa? Kamu bisa ada disini?” Velicia
kaget dan langsung berdiri, melihati laki-laki itu didepan pintu kamatnya
dengan gagah dengan senyumnya yang menawan. Hans tersenyum begitu indah
mendekati Velicia yang masih tercengang atas kedatangan Hans yang tiba-tiba.
“Istriku bagaimana keadaanmu sayang.”
Hans mendekati Velicia dan mengambil rambutnya yang tergerai indah itu lalu
mencium rambutnya. Sedangkan Velicia masih termangu diam ditempat memandangi
laki-laki itu.
“Apa kamu begitu merindukanku
sayang?” Ucap Hans lagi yang kini melangkah lebih dekat menciumi bahu Velicia.
Yang anehnya Velicia malah diam saja seperti terhipnotis.
“Apa yang kamu lakukan?” Akhirnya
Velicia bereaksi melangkah menjauh.
“Kamu pikir kamu bisa lari dariku?
Aku sudah lama menunggu. Apa kamu tau?” Hans mendekat kembali dan Velicia
melangkah mundur namun Hans berhasil memojokkannya dan Velicia terduduk kembali
di sofa.
“Hans, apa kamu mabuk?” Velicia
kembali ketakutan melihat Hans yang kini merangkak ke atasnya yang terduduk si
sofa.
“Iyah aku sedang mabuk. Apa kamu
mencium bau alkohol?” Hans mendekatkan bibirnya ke bibir Velicia.
“Tidak Hans kamu tidak sedang mabuk.”
Velicia segera mencium aroma nya dan tidak terasa aroma alkohol.
Aku tidak bisa mengontrol lagi
diriku di depanmu Velicia, aku selalu hilang kendali di depanmu dan ingin
segera memilikimu seutuhnya. Ingin mengikatmu dalam cintaku, dalam takdir yang
kubuat. 1 bulan tidak bertemu denganku bukankah kamu merindukanku? 1 bulan aku
sibuk mengurus adikmu bukankah aku harus mendapatkan imbalan untuk itu? Apa
yang hendak kamu berikan untukku istriku? 1 bulan sudah juga aku berfikir dan
telah jatuh cinta terlalu dalam padamu. Aku mencintaimu Velicia. Hans bergumam dalam hatinya dan
segera mencium bibir Velicia yang sedari tadi sudah ada di depan bibirnya.
Kali ini Velicia begitu menurut
padanya, Velicia hanya sedikit meronta dan kemudia tenggelam juga dalam *******
hasrat Hans yang mencium dan ******* habis bibirnya dengan liar. Dan tangannya
juga yang begitu nakal menyentuh p******a Velicia dan meremasnya dengan lembut
tapi juga liarnya hingga keduanya tenggelam dalam lautan cinta. Entah mengapa
Velicia juga kini menikmati dan tenggelam di dalamnya. Dan kini bibir Hans
tidak lagi berada dalam bibir Velicia tetapi juga menjalar ke d**anya dan
membuatkan banyak tanda disana.
“Hans, jangan sekarang ku mohon.”
Hampir saja Hans telah hampir membuka celananya dan Velicia segera tersadar dan
memohon pada Hans untuk menghentikannya.
“Kenapa? Kita ini suami istri
Velicia.” Hans mempertegasnya dan masih di atas tubuh Velicia.
“Hans, aku bingung. Apakah aku
mencintaimu atau tidak. Aku rasa….” Velicia mendadak murung.
“Cukup, terlepas kamu mincintaiku atau
tidak kamu adalah istriku.” Hans segera bangkit dari posisinya dan duduk di
samping Velicia. Velicia yang memegangi bajunya yang sudah terbuka itu mencoba
untuk menutupi bagian d**anya itu.
“Tapi Hans, pernikahan ini hanya
kontrak.” Velicia mengatakannya lirih.
“Pernikahan ini sah. Jika aku tidak
ingin kita bercerai maka tidak akan bisa kita bercerai.” Hans mempertegasnya
dan pergi meninggalkan Velicia.
“Apakah itu tidak terdengar egois
Hans?”
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Hans, Hans
pergi ke kamarnya kamar sebelah yang bersebelahan dengan kamar Velicia.
Aku barusan sedang apa? Kenapa aku
begitu termabuk dalam cumbuannya? Apa aku mencintainya?
Velicia pun segera masuk ke kamarnya
untuk mengganti bajunya yang berantakan itu. Dan pergi ke dapur untuk memasak makanan
untuk makan malam.
Tok…..tok….. (mengetuk pintu)
“Hans, makan malam lah dulu sebelum
tidur aku sudah memasak untuk makan malam.” Velicia mengetuk pintu kamar Hans
dan Hans langsung keluar.
“Istriku sangat cantik malam ini.”
Hans menggoda Velicia seperti tidak terjadi apapun.
“Makan lah ayok.” Velicia tak
menghiraukan godaan yang dilontarkan Hans.
“Adikmu keadaanya sudah stabil dan
mungkin tidak lama lagi akan sadar.” Hans tiba-tiba mengucapkan berita baik
untuk Velicia sembari makan.
“Apa kamu benar Hans?” Velicia sangat
terlihat bahagia dan antusias.
“Iyah tentu saja.” Hans menjawab
dengan santai dan terus memakan makanan yang ada di hadapannya itu.
“Aku ingin melihatnya.” Velicia
terlihat begitu ingin melihat adiknya.
Hanya adiknya yang bisa membuat
Velicia sangat bahagia. Tidak salahkan 1 bulan ini aku berjuang untuk
kesembuhan adiknya.
“Kamu bisa melihatnya saat dia sudah
sadar istriku.”
“Terimakasih Hans, kamu sudah
menolongnya. Dokter sebelumnya bilang jika dia sulit untuk sadar kembali.
Bagaimana bisa?” Velicia sangat terharu hingga dia menangis.
“Ini karena kamu selalu mendoakannya
jadi dia membaik dengan cepat. Keinginan adikmu untuk sembuh juga sangat kuat.”
Hans beranjak dari kursinya dan mendekati Velicia memberikan dukungan agar dia
tak lagi sedih.
“Hans, aku berhutang banyak padamu.”
Velicia menangis dalam pelukan Hans
“Kamu kan istriku.” Hans memeluknya
erat.
Velicia terus menangis hingga tidak
bisa lagi melanjutkan makan malam, Hans segera membopongnya ke kamar Velicia, Velicia
tetap saja menangis.
“Aku akan menemani kamu mala mini
biar kamu gak sedih lagi.” Hans memakaikan selimut pada Velicia yang masih
tersedu.
Hans tidur disamping Velicia, dan
Velicia masih bersedih dan menangis membelakangi tubuh Hans.
“Velicia, lihatlah aku. Apa kamu
menangis lagi.
Velicia membalikkan tubuhnya
menghadap Hans, wajahnya saling bertatapan satu sama lain di atas ranjang itu.
Hanya ada jarak yang cukup dekat.
Kenapa kamu begitu menggoda saat
sedang sedih begini. Velicia kamu membuatku sungguh mabuk dalam cinta.
Hans sudah begitu baik padaku, dan
dia begitu tulus membantu adikku. Dia juga mencintaiku kan? Aku percaya padamu
Hans.
“Aku percaya padamu Hans.” Belum
selesai mengucapkannya Hans segera mendekat mencium bibirnya dengan lembut. Dan
Velicia membalasnya dengan diam dan pasrah.
Kini ciuman itu begitu bergairah,
Hans yang begitu kembali liarnya menguasai tubuh Velicia.
“Hmmmm Hans.” Erangan Velisia semakin
membuat Hans buas.
“Aku mencintaimu Velicia.” Dengan
lembut Hans mengucapkan kalimat itu.
“Ah….Hans. Sakit.” Velicia menangis
kesakitan, dan Hans pun menghentikannya.
“Apa kamu baik-baik saja?” Hans
begitu khawatir.
“Aku baik-baik saja, hanya sedikit sakit.”
Velicia masih menyeringai kesakitan.
“Apa butuh ke dokter?” Hans panik dan
langsung memakai celananya dan berdiri.
“Tidak, tidak, kamu akan
mempermalukanku nanti.” Velicia mencegah Hans.
“Lalu aku harus bagaimana? Apanya
yang sakit?” Hans bingung
“Sudahlah Hans, aku mengantuk dan
ingin tidur sekarang.”
“Baiklah, aku akan menemanimu.” Hans
kembali tidur disamping Velicia.
“Terimakasih Hans.”
“Aku mencintaimu Velicia.” Hans
memeluk tubuh Velicia yang hanya terbalut selimut itu.
Velicia terlelap dalam tidurnya,
sedangkan Hans masih terjaga. Hans memandangi wajah Velicia yang begitu manis
saat tidur dan mengecup keningnya.
Aku bahkan lupa sejak kapan aku
mulai mencintai kamu Velicia, aku rasa saat kita bertemu dan aku jatuh cinta
pada pandangan yang pertama. Dan ini adalah pengalaman pertamaku, bersama kamu.
Kita suami dan istri dan takan terpisahkan. Sejak pertemuan malam itu kamu
adalah milikku dan mala mini kamu menjadi sepenuhnya milikku.
“Kamu istriku, akan jadi selamanya
istriku.”
Hans pun ikut terlelap bersama dengan
__ADS_1
Velicia di kamar yang nyaman itu mereka sepasang suami dan istri yang sedang
dilanda cinta.
Pagipun tiba, hari sening yang indah
dengan cuaca panas yang cerah. Velicia mulai terbangun dari tidurnya dan
sedikit mengingat kejadian semalam, dia hanya tersenyum dan melihat di
sampingnya seorang laki-laki yang sangat tampan sedang tertidur lelap di
sampingnya dengan telanjang dada. Dia adalah suaminya yang semalam telah
membuatnya dimabuk cinta.
“Jam berapa ini? Astaga udah jam 7.
Gawat aku telat.” Velicia kaget melihat jam bekernya yang sudah jam 7 tapi
tidak berbunyi. Velicia segera bangun dari kasurnya namun tangannya di pegang
erat oleh laki-laki yang tengah tidur di sampingnya itu.
“Masih sepagi ini, apa kamu akan
meninggalkanku?” Ucap hans yang masih memegangi tangan kiri Velicia dan tanpa
bergeming dari tempatnya dia tidur.
“Ayolah Hans, aku harus kerja ini
sudah jam 7 dan jam beker ku tidak berbunyi.”
“Aku sudah membuatkan izin tidak
masuk hari ini.” Hans dengan tenangnya.
“Hans, kamu tidak bisa membuatkan
izin begitu saja.” Velicia terheran.
“Bisa sayangku, aku ini suamimu kan.
Ayo kita tidur lagi ini masih pagi.” Hans menarik tangan Velicia hingga Velicia
terjatuh dalam pelukannya.
“Hans apa yang kamu lakukan. Aku
harus kerja dan kamu juga harus kerja.”
“Aku sudah izin juga sayangku.” Hans
memeluk tubuh Velicia dengan erat.
“Ais, kamu ini pemimpin yang tidak
baik.” Celoteh Velicia.
“Kamu menggodaku pagi-pagi. Berteriak
lalu membangunkan aku dan lagi kamu tanpa sehelai benagpun. Bagaimana tidak aku
tidak bisa menahan diri lagi.” Hans mulai memainkan tangannya menjelajahi wajah
Velicia menggodanya.
“Hans, kamu ini mesum sekali. Sepagi
ini kamu begitu mesum.” Velicia masih tertahan menyenderkan kepalanya di dada
bidang suaminya itu.
“Ayo istriku kita main lagi 1
permainan di pagi ini.” Hans mencium bibir Velicia dan terulang kembali
kejadian semalam. Pagi yang menggairahkan juga datang.
“Jadi semalam kamu sakit karena
pengalaman pertamamu?” Hans masih penasaran.
“Tutup mulutmu Hans.” Velicia malu
mengakuinya.
“Ini juga pertama kalinya untukku
ko.” Hans mengakuinya.
“Kamu bohong, mana mungkin kamu
begitu ahli.” Velicia tidak percaya.
“Aku kan laki-laki dan sudah 30
tahun. Tentusaja harus ahli karena harus menikah dan lagi aku dapat belajar
dengan mudah.”
“Kamu memang sejatinya sangat mesum
ko.” Velicia mengejek
“Apa kamu pernah punya pacar
sebelumnya?” Hans tiba-tiba menanyakannya.
“Pernah, tapi dia pergi meninggalkan
aku. Untuk belajar katanya.” Velicia menceritakan dengan sedih.
Hans langsung berubah marah dan
segera bangkit dari tempat tidurnya, Velicia bingung namun juga tau jika Hans
pasti sedang cemburu padanya.
“Aku akan buatkan sarapan untukmu,
kamu mandilah dulu.” Ucap Hans kemudia pergi meninggalkan kamar Velicia.
Veliciapun segera bangun dan bergegas
mandi lalu turun kebawah untuk makan pagi yang sudah terlewatkan, ada bu Si
ternyata yang membuatkan makanan. Dan Hans juga sudah rapih dengan baju
santainya. Mereka pun mulai makan dan setelah makan mereka menonton TV bersama.
Terlihat jelas jika Hans sedang cemburu, namun Velicia pura-pura tidak tau dan
bersikap biasa saja.
Ting…. (chat masuk)
Ka Sehan, mati lah aku mana ada
Hans lagi. Ada apa ka Sehan mengirimkan ku pesan.Fikir Velicia dalam hati takut
sekali rasanya membaca chat dari Sehan.
Hai bungaku, sedang apa? Aku dengar
kamu tidak masuk kantor, apa kamu sakit? Perlu aku jenguk?
Ting….(Chat masuk Henry)
Tadi sehan sekarang Hanry, apa hari
ini sudah gila? Bisa matilah aku di tangan Hans.
Hai cantik, kamu tidak masuk hari ini
apa sakitmu parah?
Velicia mengacuhkan pesan itu dan
kian berdatangan begitu banyak dengan kata-kata yang sama dan dari 2 orang itu.
“Hp mu brisik sekali coba aku lihat
siapa yang mengirimimu pesan begitu banyak itu.” Tanya Hans menyodorkan tangan
meminta handpone Velicia.
“Bukan Hans, ini pesan tidaklah
penting ko.” Velicia begitu gugup
Apakah Hans curiga sekarang? Kenapa
aku begitu takut, dia mendengar aku punya mantan ajah dia marah, dan lagi waktu
pa Hanry dia begitu marah dan menyeramkan begitu. Bagaimana jika dia tau
pesan-pesan ini?
“Kenapa kamu begitu gugup?” Hans
mulai curiga.
“Aku hanya kelelahan Hans.” Velicia
mencoba berdalih dan segera mematikan ponselnya.
Apa dia begitu takut padaku? Ada
apa di Hpnya? Kenapa dia terlihat sangat gugup. Aku inikan suaminya sekarang,
masa mau melihat hpnya saja dia segugup itu sih.
__ADS_1