KONTRAK DAN TAKDIR CINTA

KONTRAK DAN TAKDIR CINTA
Bagian 4


__ADS_3

6


Tenggelam dalam Cinta


1 bulan berlalu begitu cepat, Velicia


yang masih menjadi istri dari Hans masih sama seperti 1 bulan lalu. Kini


velicia sudah pindah ke apartemen milik Hans, apartemen yang lumayan luar dan


lengkap ini ada 2 kamar tidur, ruang tamu, ruang TV dan juga dapur. Dan lagi


apartemen ini terletak di lantai 16 semua pemandangan kota terlihat dari sini


dan cukup indah bisa dilihat ketika malam hari seperti lautan bintang dan jika


pagi hari terlihat begitu sibuknya pemandangan kota.


Namun sejak pindah kesini Hans tak


lagi tinggal bersamanya Hans seperti menghilang ditelan bumi. Iyah saat


pindahan hanya ada Anton yang menemani Velicia pindahan tidak ada pa Go juga


tidak ada Hans. Velicia tidak memiliki banyak kebranian untuk bertanya kemana


Hans, Velicia takut jika salah bicara jadi dia hanya menuruti saja untuk pindah


ke apartemen itu sediri. Masak untuk dirinya sendiri, dan beres-beres rumah


yang setia pagi akan dibantu oleh 1 pelayan bernama bu Si. Bu Si adalah orang


yang disuruh membersihkan apartemen ini setiap harinya dia akan datang pagi


hari dan akan kembali sore harinya. Velicia juga hanya akan bertemu dengan ibu


Si saat dia libur kerja. Selain itu waktunya berpapasan jadi mereka tidak bisa


bertemu sering-sering setiap hari.


1 bulan rasanya seperti bebas


hari-hari yang selalu dia nantikan setelah resmi menjadi seorang istri dari


Hans, hari-hari lajangnya yang menyenangkan kembali 1 bulan ini. Namun rasanya


seperti ada yang kosong, seperti bagi Velicia rasanya sangat aneh. Dia sendiri


tidak tau keberadaan Hans dimana apakah Hans juga baik-baik saja? Kenapa selama


ini Hans tidak pernah ke apartement dengan Velicia padahal jelas-jelas tertulis


jika mereka harus tinggal 1 rumah. Tapi malah Hans sendiri yang mengingkarinya.


Aneh selaki ya rasanya sudah


tinggal di apartemen sepi, sendiri. Andai saja adikku ada disini pasti akan


sangat menyenangkan kan? Aku sangat merindukan Alicia. Bagaimana keadaanya


sekarang ya? Aku juga tidak bisa bertanya pada siapapun saat ini. Bahkan Hans


pun menghilang entah kemana, Anton juga tidak pernah kesini. Huh…. Apa aku


pindah ke rumah Hannie saja ya? Aku sangat bosan disini sendirian, aku kesepian


disini. Tak terasa


air mata Velicia mengalir begitu saja karena terlalu rindu dengan adik


tersayangnya.


“Kenapa kamu nangis? Apakah kamu


merindukanku? Velicia?” Suara yang sangat akrab, Hans kembali mengagerkan


Velicia yang sedang menangis di kamarnya.


“Apa? Kamu bisa ada disini?” Velicia


kaget dan langsung berdiri, melihati laki-laki itu didepan pintu kamatnya


dengan gagah dengan senyumnya yang menawan. Hans tersenyum begitu indah


mendekati Velicia yang masih tercengang atas kedatangan Hans yang tiba-tiba.


“Istriku bagaimana keadaanmu sayang.”


Hans mendekati Velicia dan mengambil rambutnya yang tergerai indah itu lalu


mencium rambutnya. Sedangkan Velicia masih termangu diam ditempat memandangi


laki-laki itu.


“Apa kamu begitu merindukanku


sayang?” Ucap Hans lagi yang kini melangkah lebih dekat menciumi bahu Velicia.


Yang anehnya Velicia malah diam saja seperti terhipnotis.


“Apa yang kamu lakukan?” Akhirnya


Velicia bereaksi melangkah menjauh.


“Kamu pikir kamu bisa lari dariku?


Aku sudah lama menunggu. Apa kamu tau?” Hans mendekat kembali dan Velicia


melangkah mundur namun Hans berhasil memojokkannya dan Velicia terduduk kembali


di sofa.


“Hans, apa kamu mabuk?” Velicia


kembali ketakutan melihat Hans yang kini merangkak ke atasnya yang terduduk si


sofa.


“Iyah aku sedang mabuk. Apa kamu


mencium bau alkohol?” Hans mendekatkan bibirnya ke bibir Velicia.


“Tidak Hans kamu tidak sedang mabuk.”


Velicia segera mencium aroma nya dan tidak terasa aroma alkohol.


Aku tidak bisa mengontrol lagi


diriku di depanmu Velicia, aku selalu hilang kendali di depanmu dan ingin


segera memilikimu seutuhnya. Ingin mengikatmu dalam cintaku, dalam takdir yang


kubuat. 1 bulan tidak bertemu denganku bukankah kamu merindukanku? 1 bulan aku


sibuk mengurus adikmu bukankah aku harus mendapatkan imbalan untuk itu? Apa


yang hendak kamu berikan untukku istriku? 1 bulan sudah juga aku berfikir dan


telah jatuh cinta terlalu dalam padamu. Aku mencintaimu Velicia. Hans bergumam dalam hatinya dan


segera mencium bibir Velicia yang sedari tadi sudah ada di depan bibirnya.


Kali ini Velicia begitu menurut


padanya, Velicia hanya sedikit meronta dan kemudia tenggelam juga dalam *******


hasrat Hans yang mencium dan ******* habis bibirnya dengan liar. Dan tangannya


juga yang begitu nakal menyentuh p******a Velicia dan meremasnya dengan lembut


tapi juga liarnya hingga keduanya tenggelam dalam lautan cinta. Entah mengapa


Velicia juga kini menikmati dan tenggelam di dalamnya. Dan kini bibir Hans


tidak lagi berada dalam bibir Velicia tetapi juga menjalar ke d**anya dan


membuatkan banyak tanda disana.


“Hans, jangan sekarang ku mohon.”


Hampir saja Hans telah hampir membuka celananya dan Velicia segera tersadar dan


memohon pada Hans untuk menghentikannya.


“Kenapa? Kita ini suami istri


Velicia.” Hans mempertegasnya dan masih di atas tubuh Velicia.


“Hans, aku bingung. Apakah aku


mencintaimu atau tidak. Aku rasa….” Velicia mendadak murung.


“Cukup, terlepas kamu mincintaiku atau


tidak kamu adalah istriku.” Hans segera bangkit dari posisinya dan duduk di


samping Velicia. Velicia yang memegangi bajunya yang sudah terbuka itu mencoba


untuk menutupi bagian d**anya itu.


“Tapi Hans, pernikahan ini hanya


kontrak.” Velicia mengatakannya lirih.


“Pernikahan ini sah. Jika aku tidak


ingin kita bercerai maka tidak akan bisa kita bercerai.” Hans mempertegasnya


dan pergi meninggalkan Velicia.


“Apakah itu tidak terdengar egois


Hans?”

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Hans, Hans


pergi ke kamarnya kamar sebelah yang bersebelahan dengan kamar Velicia.


Aku barusan sedang apa? Kenapa aku


begitu termabuk dalam cumbuannya? Apa aku mencintainya?


Velicia pun segera masuk ke kamarnya


untuk mengganti bajunya yang berantakan itu. Dan pergi ke dapur untuk memasak makanan


untuk makan malam.


Tok…..tok….. (mengetuk pintu)


“Hans, makan malam lah dulu sebelum


tidur aku sudah memasak untuk makan malam.” Velicia mengetuk pintu kamar Hans


dan Hans langsung keluar.


“Istriku sangat cantik malam ini.”


Hans menggoda Velicia seperti tidak terjadi apapun.


“Makan lah ayok.” Velicia tak


menghiraukan godaan yang dilontarkan Hans.


“Adikmu keadaanya sudah stabil dan


mungkin tidak lama lagi akan sadar.” Hans tiba-tiba mengucapkan berita baik


untuk Velicia sembari makan.


“Apa kamu benar Hans?” Velicia sangat


terlihat bahagia dan antusias.


“Iyah tentu saja.” Hans menjawab


dengan santai dan terus memakan makanan yang ada di hadapannya itu.


“Aku ingin melihatnya.” Velicia


terlihat begitu ingin melihat adiknya.


Hanya adiknya yang bisa membuat


Velicia sangat bahagia. Tidak salahkan 1 bulan ini aku berjuang untuk


kesembuhan adiknya.


“Kamu bisa melihatnya saat dia sudah


sadar istriku.”


“Terimakasih Hans, kamu sudah


menolongnya. Dokter sebelumnya bilang jika dia sulit untuk sadar kembali.


Bagaimana bisa?” Velicia sangat terharu hingga dia menangis.


“Ini karena kamu selalu mendoakannya


jadi dia membaik dengan cepat. Keinginan adikmu untuk sembuh juga sangat kuat.”


Hans beranjak dari kursinya dan mendekati Velicia memberikan dukungan agar dia


tak lagi sedih.


“Hans, aku berhutang banyak padamu.”


Velicia menangis dalam pelukan Hans


“Kamu kan istriku.” Hans memeluknya


erat.


Velicia terus menangis hingga tidak


bisa lagi melanjutkan makan malam, Hans segera membopongnya ke kamar Velicia, Velicia


tetap saja menangis.


“Aku akan menemani kamu mala mini


biar kamu gak sedih lagi.” Hans memakaikan selimut pada Velicia yang masih


tersedu.


Hans tidur disamping Velicia, dan


Velicia masih bersedih dan menangis membelakangi tubuh Hans.


“Velicia, lihatlah aku. Apa kamu


menangis lagi.


Velicia membalikkan tubuhnya


menghadap Hans, wajahnya saling bertatapan satu sama lain di atas ranjang itu.


Hanya ada jarak yang cukup dekat.


Kenapa kamu begitu menggoda saat


sedang sedih begini. Velicia kamu membuatku sungguh mabuk dalam cinta.


Hans sudah begitu baik padaku, dan


dia begitu tulus membantu adikku. Dia juga mencintaiku kan? Aku percaya padamu


Hans.


“Aku percaya padamu Hans.” Belum


selesai mengucapkannya Hans segera mendekat mencium bibirnya dengan lembut. Dan


Velicia membalasnya dengan diam dan pasrah.


Kini ciuman itu begitu bergairah,


Hans yang begitu kembali liarnya menguasai tubuh Velicia.


“Hmmmm Hans.” Erangan Velisia semakin


membuat Hans buas.


“Aku mencintaimu Velicia.” Dengan


lembut Hans mengucapkan kalimat itu.


“Ah….Hans. Sakit.” Velicia menangis


kesakitan, dan Hans pun menghentikannya.


“Apa kamu baik-baik saja?” Hans


begitu khawatir.


“Aku baik-baik saja, hanya sedikit sakit.”


Velicia masih menyeringai kesakitan.


“Apa butuh ke dokter?” Hans panik dan


langsung memakai celananya dan berdiri.


“Tidak, tidak, kamu akan


mempermalukanku nanti.” Velicia mencegah Hans.


“Lalu aku harus bagaimana? Apanya


yang sakit?” Hans bingung


“Sudahlah Hans, aku mengantuk dan


ingin tidur sekarang.”


“Baiklah, aku akan menemanimu.” Hans


kembali tidur disamping Velicia.


“Terimakasih Hans.”


“Aku mencintaimu Velicia.” Hans


memeluk tubuh Velicia yang hanya terbalut selimut itu.


Velicia terlelap dalam tidurnya,


sedangkan Hans masih terjaga. Hans memandangi wajah Velicia yang begitu manis


saat tidur dan mengecup keningnya.


Aku bahkan lupa sejak kapan aku


mulai mencintai kamu Velicia, aku rasa saat kita bertemu dan aku jatuh cinta


pada pandangan yang pertama. Dan ini adalah pengalaman pertamaku, bersama kamu.


Kita suami dan istri dan takan terpisahkan. Sejak pertemuan malam itu kamu


adalah milikku dan mala mini kamu menjadi sepenuhnya milikku.


“Kamu istriku, akan jadi selamanya


istriku.”


Hans pun ikut terlelap bersama dengan

__ADS_1


Velicia di kamar yang nyaman itu mereka sepasang suami dan istri yang sedang


dilanda cinta.


Pagipun tiba, hari sening yang indah


dengan cuaca panas yang cerah. Velicia mulai terbangun dari tidurnya dan


sedikit mengingat kejadian semalam, dia hanya tersenyum dan melihat di


sampingnya seorang laki-laki yang sangat tampan sedang tertidur lelap di


sampingnya dengan telanjang dada. Dia adalah suaminya yang semalam telah


membuatnya dimabuk cinta.


“Jam berapa ini? Astaga udah jam 7.


Gawat aku telat.” Velicia kaget melihat jam bekernya yang sudah jam 7 tapi


tidak berbunyi. Velicia segera bangun dari kasurnya namun tangannya di pegang


erat oleh laki-laki yang tengah tidur di sampingnya itu.


“Masih sepagi ini, apa kamu akan


meninggalkanku?” Ucap hans yang masih memegangi tangan kiri Velicia dan tanpa


bergeming dari tempatnya dia tidur.


“Ayolah Hans, aku harus kerja ini


sudah jam 7 dan jam beker ku tidak berbunyi.”


“Aku sudah membuatkan izin tidak


masuk hari ini.” Hans dengan tenangnya.


“Hans, kamu tidak bisa membuatkan


izin begitu saja.” Velicia terheran.


“Bisa sayangku, aku ini suamimu kan.


Ayo kita tidur lagi ini masih pagi.” Hans menarik tangan Velicia hingga Velicia


terjatuh dalam pelukannya.


“Hans apa yang kamu lakukan. Aku


harus kerja dan kamu juga harus kerja.”


“Aku sudah izin juga sayangku.” Hans


memeluk tubuh Velicia dengan erat.


“Ais, kamu ini pemimpin yang tidak


baik.” Celoteh Velicia.


“Kamu menggodaku pagi-pagi. Berteriak


lalu membangunkan aku dan lagi kamu tanpa sehelai benagpun. Bagaimana tidak aku


tidak bisa menahan diri lagi.” Hans mulai memainkan tangannya menjelajahi wajah


Velicia menggodanya.


“Hans, kamu ini mesum sekali. Sepagi


ini kamu begitu mesum.” Velicia masih tertahan menyenderkan kepalanya di dada


bidang suaminya itu.


“Ayo istriku kita main lagi 1


permainan di pagi ini.” Hans mencium bibir Velicia dan terulang kembali


kejadian semalam. Pagi yang menggairahkan juga datang.


“Jadi semalam kamu sakit karena


pengalaman pertamamu?” Hans masih penasaran.


“Tutup mulutmu Hans.” Velicia malu


mengakuinya.


“Ini juga pertama kalinya untukku


ko.” Hans mengakuinya.


“Kamu bohong, mana mungkin kamu


begitu ahli.” Velicia tidak percaya.


“Aku kan laki-laki dan sudah 30


tahun. Tentusaja harus ahli karena harus menikah dan lagi aku dapat belajar


dengan mudah.”


“Kamu memang sejatinya sangat mesum


ko.” Velicia mengejek


“Apa kamu pernah punya pacar


sebelumnya?” Hans tiba-tiba menanyakannya.


“Pernah, tapi dia pergi meninggalkan


aku. Untuk belajar katanya.” Velicia menceritakan dengan sedih.


Hans langsung berubah marah dan


segera bangkit dari tempat tidurnya, Velicia bingung namun juga tau jika Hans


pasti sedang cemburu padanya.


“Aku akan buatkan sarapan untukmu,


kamu mandilah dulu.” Ucap Hans kemudia pergi meninggalkan kamar Velicia.


Veliciapun segera bangun dan bergegas


mandi lalu turun kebawah untuk makan pagi yang sudah terlewatkan, ada bu Si


ternyata yang membuatkan makanan. Dan Hans juga sudah rapih dengan baju


santainya. Mereka pun mulai makan dan setelah makan mereka menonton TV bersama.


Terlihat jelas jika Hans sedang cemburu, namun Velicia pura-pura tidak tau dan


bersikap biasa saja.


Ting…. (chat masuk)


Ka Sehan, mati lah aku mana ada


Hans lagi. Ada apa ka Sehan mengirimkan ku pesan.Fikir Velicia dalam hati takut


sekali rasanya membaca chat dari Sehan.


Hai bungaku, sedang apa? Aku dengar


kamu tidak masuk kantor, apa kamu sakit? Perlu aku jenguk?


Ting….(Chat masuk Henry)


Tadi sehan sekarang Hanry, apa hari


ini sudah gila? Bisa matilah aku di tangan Hans.


Hai cantik, kamu tidak masuk hari ini


apa sakitmu parah?


Velicia mengacuhkan pesan itu dan


kian berdatangan begitu banyak dengan kata-kata yang sama dan dari 2 orang itu.


“Hp mu brisik sekali coba aku lihat


siapa yang mengirimimu pesan begitu banyak itu.” Tanya Hans menyodorkan tangan


meminta handpone Velicia.


“Bukan Hans, ini pesan tidaklah


penting ko.” Velicia begitu gugup


Apakah Hans curiga sekarang? Kenapa


aku begitu takut, dia mendengar aku punya mantan ajah dia marah, dan lagi waktu


pa Hanry dia begitu marah dan menyeramkan begitu. Bagaimana jika dia tau


pesan-pesan ini?


“Kenapa kamu begitu gugup?” Hans


mulai curiga.


“Aku hanya kelelahan Hans.” Velicia


mencoba berdalih dan segera mematikan ponselnya.


Apa dia begitu takut padaku? Ada


apa di Hpnya? Kenapa dia terlihat sangat gugup. Aku inikan suaminya sekarang,


masa mau melihat hpnya saja dia segugup itu sih.

__ADS_1


__ADS_2