
16
***Berjumpa***
Hari ini adalah hari yang telah Velicia nantikan, hari
dimana Sehan telah menjanjikannya untuk berkunjung ke Alicia di negara S, tentu
saja Velicia pagi ini terus saja tersenyum kegirangan. Langkahnya sedari
semalam sudah begitu bahagia seperti anak TK yang akan diajak berlibur ke
pantai. Negara S yang makmur dan kecanggihan ilmu dokternya yang maju juga
sebagi negara penolong bagi Velicia, Velicia sebelumnya sudah bersiap-siap
merapikan barang bawaannya kedalam koper besarnya.
Sehan yang melihat tingkah girang Velicia hanya
tersenyum-senyum saja, sambil mengagumi betapa cantiknya dan lucunya Velicia
ketika tengah berjingkrakan kegirangan itu. Velicia juga terus saja bertanya
tentang keadaan Alicia seolah sangat tidak sabar menemui adiknya.
“Ka Sehan, apa aku begitu kurus? Nanti apakah Alicia
akan tau jika aku sedang bersedih? Ka Sehan kira-kira apa Alicia merindukanku?
Apa aku sudah jadi kaka yang baik selama ini? Ka apa dia masih mengenaliku?
Sungguh aku bahagia sekaligus sangat cemas.” Velicia sangat cemas.
“Lihat aku, dan tenang lah. Kamu adalah yang terbaik,
jangan cemaskan hal-hal yang tidak penting oke.” Sehan menangkupkan kedua
tangannya di pipi Velicia, Velicia hanya diam membuat bibir mungilnya terlihat
begitu menggoda dengan lipstick pink nya. Sehan hanya menelan ludahnya yang
seketika sudah begitu banjir membayangkan betapa manisnya bibir itu ketika
nanti dia *****. Sayangnya Sehan tidak berbakat menjadi laki-laki brengsek, dia
sangat tau betul situasi dan kondisinya.
Velicia memeluk Sehan seraya ingin mengucapkan
terimakasih lebih banyak lagi untuk segala dukungan dan bantuannya. Namun
sekali lagu mulutnya seolah terkunci karena air mata jatuh bertubi-tubi tak
lagi mampu dia bendung. Sudah barang tentu itu adalah air mata bahagia, bahagianya
yang tak lagi mampu terlukiskan.
“Ayo kita berangkat ke bandara.” Sambung sehan
melepaskan pelukan Velicia yang sesaat tadi begitu erat, hingga air matanya
sedikit membasahi baju Sehan yang casual itu. Hanya baju rajut panjang yang
menutupi leher dengan ukuran yang sangat melekat pada tubuhnya membuatkan garis
jelas tubuhnya yang mempesona itu. Dadanya yang tentu saja bidang, bahunya yang
lebar juga tangannya yang kekar terisi otot-otot jelas sekali terlihat. Ya
tuhan mungkin ini gambaran pangeran dalam buku dongeng cinderella. Kakinyapun
jenjang tinggi semampai dengan celana jeans rapih warna hitamnya dan juga
sendal casualnya yang dari atas sampai bawah jika dilihat memiliki merk
terkenal semua. Benar-benar pangeran negri dongen penuh dengan imaginasi dan
khayalan, namun nyatanya ada lelaki yang nyaris sempurna ini.
Sebelumnya setelah mendapat kabar dua hari lalu saat
makan malam itu, Sehan sudah mengurus keberangkatan mereka kemudian Velicia
segera mengurus izin cuti ke kantornya. Yah meskipun izin itu akhirnya hasil
campur tangan Sehan namun tetap sajakan yang terpenting ya izin.
Mereka pergi ke bandara dengan mobil Sehan dan supir
kantor yang siap siaga setiap saat mengantar CEO kantor. Mobilnya melaju dengan
cepat mengejar waktu keberangkatan pesawat yang sebenarnya masih lama, namun
kata Sehan untuk jaga-jaga jadi harus datang 15 menit lebih awal agar tidak
kecewa karena ketinggalan pesawat.
Huh, siapa yang tidak kenal Sehan dengan ketepatan
waktunya. Velicia sih tau betul jika Sehan sangat menghargai waktu dan juga
sangat disiplin juga bertanggung jawab. Tak heran jika saat ini dia bisa
mendulang sukses. Terlebih lagi dia adalah pewaris tunggal keluarganya.
Negara S, dengan hiruk pikuk kota yang sama namun
orang-orang dan bahasa yang berbeda tentunya.
Di dalam mobil taxi yang mereka tumpangi, Velicia
hanya diam memandangi jalanan dan sekelilingnya yang nampak begitu asing
baginya juga sebagai pengalaman baru baginya.
“Kita nanti menginap di hotel dekat rumah sakit.” Ucap
sehan dalam perjalanan seolah tau apa yang ada dalam benak Velicia.
“Oke.”
Sampainya di sebuah hotel, Sehan memesan 2 kamar
bersebelahan. Kamar yang begitu luas dengan akses balkon pribadi yang
benar-benar terlihat menabjubkan pemandangan dari atas. Velicia sampai lupa
jika dia ingin mandi, karena fokusnya malah pada balkon dan pemandangan dari
atas kamar. Velicia berdiri di balkon memandangi hamparan kota yang sibuk itu
juga terlihat gedung-gedung pencakar lainnya.
“Apa kamu suka?” Tiba-tiba suara mengagetkannya.
“Huh, ka sehan bikin kaget saja.” (kesal)
“Kenapa kamu belum pergi mandi?” Sehan mendekati
Velicia yang malah diam di balkon.
“Kaka ini kenapa bisa tiba-tiba ada disini?” (penasaran)
“Pintumu tidak dikunci, aku ketuk-ketuk gak dibuka
juga. Aku khawatir makanya aku nyelonong masuk ajah.” (menjelaskan)
__ADS_1
“Bagaimana jika tadi aku sedang mandi?” (kesal)
“Ya itu kesalahanmu.” (santai)
“Ais,,… Jawaban tidak jelas itu. Pergilah, aku akan
mandi.” Velicia bergegas ke kamar mandi.
“Ceroboh, dia malah lagi-lagi tidak mengunci pintu
malah langsung masuk kamar mandi.” (ngomel)
“Ais….Ka Sehan kamu belum pergi juga ya?” (keluar lagi
dari kamar mandi)
“Kunci dulu pintunya baru kamu masuk kamar mandi. Aku
akan kembali ke kamar.” (pergi)
Velicia mengunci pintu kamarnya dan kembali masuk ke
kamar mandi untuk mandi dengan tenang.
1 Jam berlalu begitu saja setelah mandi Velicia segera
beristirahat, haripun mulai petang lelah perjalanan mulai hilang dengan
istirahat setengah jam yang lalu.
Tok….tok…. (suara ketukan pintu)
“Iyah” (membuka pintu)
“Ayo makan malam. Sekalian kita pergi ke suatu
tempat.” Sehan yang sudah begitu rapih dengan baju casualnya.
“Ayo.” (bersemangat)
“Pasti kamu akan suka nanti.” (sehan mengandeng)
Merekapun pergi meninggalkan kamar tempat mereka
menginap, dan makan malam di restoran hotel yang ada di lantai bawah. Kemudian
mereka lanjut pergi ke tempat yang sudah Sehan janjikan. Kali ini entah datang
darimana tiba-tiba saja Sehan menyetir mobil sendiri, kalo katanya orangnya
sudah menyewakannya untuknya. Orang suruhannya juga membantu menjaga Alicia,
meskipun orang suruhan Hans masih menjaga Alicia juga. Kata Hans sebelum mereka
resmi bercerai dia akan menuntaskan perjanjiannya yaitu membiayai dan merawat
Alicia.
Perjalanan yang panjang, naik ke sebuah bukit dengan
pemandangan hamparan luas langit yang dipenuhi bintang. Jalanannyapun tak
begitu ramai hanya ada sesekali kendaraan yang berlalu lalang. Sepanjang
perjalanan Velicia tak habis-habisnya berdecak kagum akan keindahan semesta
yang sempurna malam itu. Seolah juga melengkapi hatinya yang juga begitu
bahagia.
“Apa kamu senang?” (Sehan tersenyum)
“Sangat senang. Indah sekali.”
Tentu saja Sehan begitu bahagia juga melihat Velicia
mala mini adalah malam dimana Velicia bisa menjadi miliknya seutuhnya mungkin
dia akan begitu bahagia.
Aku bahagia melihatmu tersenyum begitu Velicia.
Andaikan saja kamu masih mencintaiku dan kita bisa kembali seperti dulu.
Velicia, masihkah kamu mau menikah denganku? Hidup bersamaku selamanya sampai
tua? Andai saja aku bisa mengatakan itu sekarang, pasti akan begitu sangat
romantic.
“Ka, kenapa kamu bengong? Kapan kita sampai? Di jalan
saja pemandangnya sangat indah. Tempat apa yang akan kamu tunjukan padaku. Aku
penasaran.” (Velicia antusias)
Akhirnya sampai di sebuah bukit dengan pemandangan
yang sangat menabjubkan, pemandangan jika melihat kebawah bagaikan lautan bintang
yang gemerlapan dan juga pemandangan diatasnya yang tak kalah indah menuh
dengan pintang. Mereka seolah seperti cermin yang saling memantulkan gambar
yang sama. Begitu indah, dengan angin yang bertiup kencang juga udara dingin
yang menusuk hingga ketulang. Rasa dingin yang dirasakan seolah sirna
terlupakan dengan kekaguman Velicia pada apa yang dia lihat mala mini. Tanpa
kata-kata lagi Velicia memeluk Sehan dengan erat mengucapkan terimakasih pada
segala kebaikan Sehan selama ini. Sehan yang berdiri di sampingnya kala itu
sontak kaget dengan pelukan Velicia tiba-tiba.
“Ka, aku sangat berterimakasih padamu sungguh.” Sontak
saja dia bingung dengan pelukannya kali ini, ada rasa yang berbeda. Jangtungnya
mencepat iramanya.
“Aku akan lakukan apapun untuk melihatmu bahagia.”
(tersenyum)
Jantung Velicia semakin berdegub kencang mendengar
pernyataan Sehan barusan, dan dia melepaskan pelukannya kemudia dia mendongak
ke atas memandangi wajah Sehan yang jauh lebih tinggi darinya. Dan Sehan
menyambutnya memandangi wajah Velicia dengan seksama, kini wajah keduanya
memerah jantung keduanya tak lagi dapat terkontrol satu dengan yang lainnya.
Seperti adanya medan magnet yang menarik keduanya,
mungkin juga karena terbawa suasana yang begitu romantic, Sehan mendekatkan wajahnya
sedikit membungkukkan tubuhnya. Velicia hanya diam tanpa menolak, tubuhnya
seperti tersihir jantungnya semakin berdegub kencang. Hingga saat sejengkal
lagi bibir Sehan mendarat pada bibir Velicia, Velicia memejamkan mata seolah
dia menyambutnya dengan tangan terbuka.
__ADS_1
“Velicia? Apakah boleh?” Sehan meminta izin karena
takut salah akan apa yang dia lakukan.
Velicia membelalakkan matanya dan hanya tersenyum pada
sehan.
“Kamu telah melakukan banyak hal untukku, jika kamu
masih mencintaiku maka biarkan aku juga belajar 1x lagi mencintaimu ka.” Lalu
Velicia memejamkan matanya lagi.
Kini Sehan tak lagi ragu, bibirnya telah sampai
menyentuh lembuh bibir Velicia yang terasa manis itu dengan rasa mintnya, Sehan
melumat habis bibir Velicia dengan penuh cinta. Velicia hanya diam menikmati
keindahan cinta yang menjanjikan kebahagiaan itu. Pelukan juga ciuman hangat
itu yang semakin memanas.
“Velicia maaf.” Berhenti disaat situasi mulai memanas
itu dan segera sadar jika ini belum saatnya.
Veliciapun segera merapikan bajunya yang sedikit
berantakan, dan hanya tersenyum sesaat membayangkan lagi barusan yang terjadi.
Aku malah meninggalkan laki-laki yang begitu baik
seperti ka Sehan. Mungkin ini saatnya aku memberinya kesempatan.
“Ayo kita pulang.” Sehan segera mengajak Velicia
pulang sebelum hal-hal buruk terjadi lagi.
Sejak dulu Sehan tidak pernah berubah, dia selalu menghormati
apapun keputusan Velicia dan selalu menjaganya yang lebih dari seorang kaka.
Baginya Velicia lebih berharga dari apapun di dunia ini.
“Tunggu ka, aku ingin tau kenapa kaka dulu
menghilang?” Velicia tiba-tiba mengingat kembali dan memastikan jawabannya.
“Duduk sini.” (mereka duduk di rumput)
“Saat itu aku harus belajar lebih banyak lagi bisnis
dan mengolah bisnis disini di negara ini. Lalu Hp dan nomerku hilang, aku juga
sangat sibuk hingga aku depresi sampai harus berobat karena tekanan juga aku tidak
sanggup harus pergi jauh darimu. Setelah aku sembuh aku segera mengurus nomer
ku yang hilang hingga aku mencari kontak hp mu dengan susah payah akhirnya aku
dapat. Dan aku juga tau kamu sudah menikah kontrak.” (sedih)
“Aku minta maaf ka.” (memeluk Sehan)
“Beri aku kesenpatan lagi 1x lagi untuk mencintaimu
dan menjagamu Velicia. Aku selalu mencintaimu hingga sekarang.” (sedih)
“Beri aku waktu lagi menyelesaikan urusanku ya ka.”
Sehen hanya tersenyum dalam senyumnya terlihat
kebahagiaan. Malam semakin larut merekapun meninggalkan tempat itu dan bergegas
pulang ke hotel.
**Dirumah sakit.
Setelah semalam mereka kembali ke kamar masing-masing
dan istirahat. Pagi-pagi sekali Sehan menelfon dan membawakan sarapan untuk
Velicia ke kamarnya, dan menyuruh Velicia untuk bersiap ke rumah sakit dimana
Alicia dirawat. Perkembangan Aliciapun sudah sangat cepat dan Alicia kini sudah
sadar dan bisa menemui Velicia, meskipun tubuhnya masih sangat lemah dan butuh
sekitar 1 minggu lagi untuk pemulihan dan setelah itu sudah boleh untuk pulang.
Setelah bergegas dan berjalan dengan mobilnya Sehan,
merekapun sampai di rumah sakit dan segera ke kamar inap Alicia.
Betapa bahagianya Velicia yang akhirnya bertemu dengan
adiknya kembali setelah 5 bulan lamanya tidak bertemu dengannya dan hari ini
bisa kembali bertemu dengannya lagi. Tubuh Alicia terlihat begitu kurus dan
juga rambutnya yang botak karena operasi, matanya dengan lingkaran pandanya
terlihat jelas. Velicia menangis haru melihat kondisi adik kecilnya ini.
“Kaka, kenapa malah menangis?” (lemah)
“Kaka sangat bahagia.”
“Ka Sehan juga disini? Makasih ya ka udah jagain kaka
ku yang cengeng ini.”
“Iyah sama-sama kucingku, ingat harus janji terus sama
kaka buat cepet sembuh. Kasian kakamu air matanya hampir habis.” (dengan tawa)
“Aku janji.” (lemah)
“Sudah manisku istirahatlah, besok kaka kesini lagi.”
(Ucap Sehan)
“Aku masih ingin disini ka.” (Velicia memelas)
“Baiklah aku pergi dulu ya, ada urusan lain. Kalian
disinilah kangen-kangenan dulu, nanti aku akan menjetmu Chia.” (pergi)
“Terimakasih ka.” (Alicia dan Velicia serentak)
Bahagianya Velicia tak terlukiskan lagi, adik kecilnya
kini sudah kembali baik-baik saja dan kondisinya menepis habis kekhawatirannya.
Sungguh tidak ada yang dapat melukiskan kebahagiaan yang tengah dirasakan
Velicia, harapannya satu-satunya kini terwujud sudah melihat adiknya yang
kembali seperti semula tanpa kurang apapun membuatnya tidak dapat lagi tau cara
bersyukur atas segalanya. Sangat-sangat bersyukur dengan kesembuhan Alicia,
juga begitu berterimakasih pada Hans yang sudah menolongnya dalam kesusahannya
dulu. Dan kepaha Sehan yang sekarang juga menolongnya.
__ADS_1