KONTRAK DAN TAKDIR CINTA

KONTRAK DAN TAKDIR CINTA
Berjumpa


__ADS_3

16


***Berjumpa***


Hari ini adalah hari yang telah Velicia nantikan, hari


dimana Sehan telah menjanjikannya untuk berkunjung ke Alicia di negara S, tentu


saja Velicia pagi ini terus saja tersenyum kegirangan. Langkahnya sedari


semalam sudah begitu bahagia seperti anak TK yang akan diajak berlibur ke


pantai. Negara S yang makmur dan kecanggihan ilmu dokternya yang maju juga


sebagi negara penolong bagi Velicia, Velicia sebelumnya sudah bersiap-siap


merapikan barang bawaannya kedalam koper besarnya.


Sehan yang melihat tingkah girang Velicia hanya


tersenyum-senyum saja, sambil mengagumi betapa cantiknya dan lucunya Velicia


ketika tengah berjingkrakan kegirangan itu. Velicia juga terus saja bertanya


tentang keadaan Alicia seolah sangat tidak sabar menemui adiknya.


“Ka Sehan, apa aku begitu kurus? Nanti apakah Alicia


akan tau jika aku sedang bersedih? Ka Sehan kira-kira apa Alicia merindukanku?


Apa aku sudah jadi kaka yang baik selama ini? Ka apa dia masih mengenaliku?


Sungguh aku bahagia sekaligus sangat cemas.” Velicia sangat cemas.


“Lihat aku, dan tenang lah. Kamu adalah yang terbaik,


jangan cemaskan hal-hal yang tidak penting oke.” Sehan menangkupkan kedua


tangannya di pipi Velicia, Velicia hanya diam membuat bibir mungilnya terlihat


begitu menggoda dengan lipstick pink nya. Sehan hanya menelan ludahnya yang


seketika sudah begitu banjir membayangkan betapa manisnya bibir itu ketika


nanti dia *****. Sayangnya Sehan tidak berbakat menjadi laki-laki brengsek, dia


sangat tau betul situasi dan kondisinya.


Velicia memeluk Sehan seraya ingin mengucapkan


terimakasih lebih banyak lagi untuk segala dukungan dan bantuannya. Namun


sekali lagu mulutnya seolah terkunci karena air mata jatuh bertubi-tubi tak


lagi mampu dia bendung. Sudah barang tentu itu adalah air mata bahagia, bahagianya


yang tak lagi mampu terlukiskan.


“Ayo kita berangkat ke bandara.” Sambung sehan


melepaskan pelukan Velicia yang sesaat tadi begitu erat, hingga air matanya


sedikit membasahi baju Sehan yang casual itu. Hanya baju rajut panjang yang


menutupi leher dengan ukuran yang sangat melekat pada tubuhnya membuatkan garis


jelas tubuhnya yang mempesona itu. Dadanya yang tentu saja bidang, bahunya yang


lebar juga tangannya yang kekar terisi otot-otot jelas sekali terlihat. Ya


tuhan mungkin ini gambaran pangeran dalam buku dongeng cinderella. Kakinyapun


jenjang tinggi semampai dengan celana jeans rapih warna hitamnya dan juga


sendal casualnya yang dari atas sampai bawah jika dilihat memiliki merk


terkenal semua. Benar-benar pangeran negri dongen penuh dengan imaginasi dan


khayalan, namun nyatanya ada lelaki yang nyaris sempurna ini.


Sebelumnya setelah mendapat kabar dua hari lalu saat


makan malam itu, Sehan sudah mengurus keberangkatan mereka kemudian Velicia


segera mengurus izin cuti ke kantornya. Yah meskipun izin itu akhirnya hasil


campur tangan Sehan namun tetap sajakan yang terpenting ya izin.


Mereka pergi ke bandara dengan mobil Sehan dan supir


kantor yang siap siaga setiap saat mengantar CEO kantor. Mobilnya melaju dengan


cepat mengejar waktu keberangkatan pesawat yang sebenarnya masih lama, namun


kata Sehan untuk jaga-jaga jadi harus datang 15 menit lebih awal agar tidak


kecewa karena ketinggalan pesawat.


Huh, siapa yang tidak kenal Sehan dengan ketepatan


waktunya. Velicia sih tau betul jika Sehan sangat menghargai waktu dan juga


sangat disiplin juga bertanggung jawab. Tak heran jika saat ini dia bisa


mendulang sukses. Terlebih lagi dia adalah pewaris tunggal keluarganya.


Negara S, dengan hiruk pikuk kota yang sama namun


orang-orang dan bahasa yang berbeda tentunya.


Di dalam mobil taxi yang mereka tumpangi, Velicia


hanya diam memandangi jalanan dan sekelilingnya yang nampak begitu asing


baginya juga sebagai pengalaman baru baginya.


“Kita nanti menginap di hotel dekat rumah sakit.” Ucap


sehan dalam perjalanan seolah tau apa yang ada dalam benak Velicia.


“Oke.”


Sampainya di sebuah hotel, Sehan memesan 2 kamar


bersebelahan. Kamar yang begitu luas dengan akses balkon pribadi yang


benar-benar terlihat menabjubkan pemandangan dari atas. Velicia sampai lupa


jika dia ingin mandi, karena fokusnya malah pada balkon dan pemandangan dari


atas kamar. Velicia berdiri di balkon memandangi hamparan kota yang sibuk itu


juga terlihat gedung-gedung pencakar lainnya.


“Apa kamu suka?” Tiba-tiba suara mengagetkannya.


“Huh, ka sehan bikin kaget saja.” (kesal)


“Kenapa kamu belum pergi mandi?” Sehan mendekati


Velicia yang malah diam di balkon.


“Kaka ini kenapa bisa tiba-tiba ada disini?” (penasaran)


“Pintumu tidak dikunci, aku ketuk-ketuk gak dibuka


juga. Aku khawatir makanya aku nyelonong masuk ajah.” (menjelaskan)

__ADS_1


“Bagaimana jika tadi aku sedang mandi?” (kesal)


“Ya itu kesalahanmu.” (santai)


“Ais,,… Jawaban tidak jelas itu. Pergilah, aku akan


mandi.” Velicia bergegas ke kamar mandi.


“Ceroboh, dia malah lagi-lagi tidak mengunci pintu


malah langsung masuk kamar mandi.” (ngomel)


“Ais….Ka Sehan kamu belum pergi juga ya?” (keluar lagi


dari kamar mandi)


“Kunci dulu pintunya baru kamu masuk kamar mandi. Aku


akan kembali ke kamar.” (pergi)


Velicia mengunci pintu kamarnya dan kembali masuk ke


kamar mandi untuk mandi dengan tenang.


1 Jam berlalu begitu saja setelah mandi Velicia segera


beristirahat, haripun mulai petang lelah perjalanan mulai hilang dengan


istirahat setengah jam yang lalu.


Tok….tok…. (suara ketukan pintu)


“Iyah” (membuka pintu)


“Ayo makan malam. Sekalian kita pergi ke suatu


tempat.” Sehan yang sudah begitu rapih dengan baju casualnya.


“Ayo.” (bersemangat)


“Pasti kamu akan suka nanti.” (sehan mengandeng)


Merekapun pergi meninggalkan kamar tempat mereka


menginap, dan makan malam di restoran hotel yang ada di lantai bawah. Kemudian


mereka lanjut pergi ke tempat yang sudah Sehan janjikan. Kali ini entah datang


darimana tiba-tiba saja Sehan menyetir mobil sendiri, kalo katanya orangnya


sudah menyewakannya untuknya. Orang suruhannya juga membantu menjaga Alicia,


meskipun orang suruhan Hans masih menjaga Alicia juga. Kata Hans sebelum mereka


resmi bercerai dia akan menuntaskan perjanjiannya yaitu membiayai dan merawat


Alicia.


Perjalanan yang panjang, naik ke sebuah bukit dengan


pemandangan hamparan luas langit yang dipenuhi bintang. Jalanannyapun tak


begitu ramai hanya ada sesekali kendaraan yang berlalu lalang. Sepanjang


perjalanan Velicia tak habis-habisnya berdecak kagum akan keindahan semesta


yang sempurna malam itu. Seolah juga melengkapi hatinya yang juga begitu


bahagia.


“Apa kamu senang?” (Sehan tersenyum)


“Sangat senang. Indah sekali.”


Tentu saja Sehan begitu bahagia juga melihat Velicia


mala mini adalah malam dimana Velicia bisa menjadi miliknya seutuhnya mungkin


dia akan begitu bahagia.


Aku bahagia melihatmu tersenyum begitu Velicia.


Andaikan saja kamu masih mencintaiku dan kita bisa kembali seperti dulu.


Velicia, masihkah kamu mau menikah denganku? Hidup bersamaku selamanya sampai


tua? Andai saja aku bisa mengatakan itu sekarang, pasti akan begitu sangat


romantic.


“Ka, kenapa kamu bengong? Kapan kita sampai? Di jalan


saja pemandangnya sangat indah. Tempat apa yang akan kamu tunjukan padaku. Aku


penasaran.” (Velicia antusias)


Akhirnya sampai di sebuah bukit dengan pemandangan


yang sangat menabjubkan, pemandangan jika melihat kebawah bagaikan lautan bintang


yang gemerlapan dan juga pemandangan diatasnya yang tak kalah indah menuh


dengan pintang. Mereka seolah seperti cermin yang saling memantulkan gambar


yang sama. Begitu indah, dengan angin yang bertiup kencang juga udara dingin


yang menusuk hingga ketulang. Rasa dingin yang dirasakan seolah sirna


terlupakan dengan kekaguman Velicia pada apa yang dia lihat mala mini. Tanpa


kata-kata lagi Velicia memeluk Sehan dengan erat mengucapkan terimakasih pada


segala kebaikan Sehan selama ini. Sehan yang berdiri di sampingnya kala itu


sontak kaget dengan pelukan Velicia tiba-tiba.


“Ka, aku sangat berterimakasih padamu sungguh.” Sontak


saja dia bingung dengan pelukannya kali ini, ada rasa yang berbeda. Jangtungnya


mencepat iramanya.


“Aku akan lakukan apapun untuk melihatmu bahagia.”


(tersenyum)


Jantung Velicia semakin berdegub kencang mendengar


pernyataan Sehan barusan, dan dia melepaskan pelukannya kemudia dia mendongak


ke atas memandangi wajah Sehan yang jauh lebih tinggi darinya. Dan Sehan


menyambutnya memandangi wajah Velicia dengan seksama, kini wajah keduanya


memerah jantung keduanya tak lagi dapat terkontrol satu dengan yang lainnya.


Seperti adanya medan magnet yang menarik keduanya,


mungkin juga karena terbawa suasana yang begitu romantic, Sehan mendekatkan wajahnya


sedikit membungkukkan tubuhnya. Velicia hanya diam tanpa menolak, tubuhnya


seperti tersihir jantungnya semakin berdegub kencang. Hingga saat sejengkal


lagi bibir Sehan mendarat pada bibir Velicia, Velicia memejamkan mata seolah


dia menyambutnya dengan tangan terbuka.

__ADS_1


“Velicia? Apakah boleh?” Sehan meminta izin karena


takut salah akan apa yang dia lakukan.


Velicia membelalakkan matanya dan hanya tersenyum pada


sehan.


“Kamu telah melakukan banyak hal untukku, jika kamu


masih mencintaiku maka biarkan aku juga belajar 1x lagi mencintaimu ka.” Lalu


Velicia memejamkan matanya lagi.


Kini Sehan tak lagi ragu, bibirnya telah sampai


menyentuh lembuh bibir Velicia yang terasa manis itu dengan rasa mintnya, Sehan


melumat habis bibir Velicia dengan penuh cinta. Velicia hanya diam menikmati


keindahan cinta yang menjanjikan kebahagiaan itu. Pelukan juga ciuman hangat


itu yang semakin memanas.


“Velicia maaf.” Berhenti disaat situasi mulai memanas


itu dan segera sadar jika ini belum saatnya.


Veliciapun segera merapikan bajunya yang sedikit


berantakan, dan hanya tersenyum sesaat membayangkan lagi barusan yang terjadi.


Aku malah meninggalkan laki-laki yang begitu baik


seperti ka Sehan. Mungkin ini saatnya aku memberinya kesempatan.


“Ayo kita pulang.” Sehan segera mengajak Velicia


pulang sebelum hal-hal buruk terjadi lagi.


Sejak dulu Sehan tidak pernah berubah, dia selalu menghormati


apapun keputusan Velicia dan selalu menjaganya yang lebih dari seorang kaka.


Baginya Velicia lebih berharga dari apapun di dunia ini.


“Tunggu ka, aku ingin tau kenapa kaka dulu


menghilang?” Velicia tiba-tiba mengingat kembali dan memastikan jawabannya.


“Duduk sini.” (mereka duduk di rumput)


“Saat itu aku harus belajar lebih banyak lagi bisnis


dan mengolah bisnis disini di negara ini. Lalu Hp dan nomerku hilang, aku juga


sangat sibuk hingga aku depresi sampai harus berobat karena tekanan juga aku tidak


sanggup harus pergi jauh darimu. Setelah aku sembuh aku segera mengurus nomer


ku yang hilang hingga aku mencari kontak hp mu dengan susah payah akhirnya aku


dapat. Dan aku juga tau kamu sudah menikah kontrak.” (sedih)


“Aku minta maaf ka.” (memeluk Sehan)


“Beri aku kesenpatan lagi 1x lagi untuk mencintaimu


dan menjagamu Velicia. Aku selalu mencintaimu hingga sekarang.” (sedih)


“Beri aku waktu lagi menyelesaikan urusanku ya ka.”


Sehen hanya tersenyum dalam senyumnya terlihat


kebahagiaan. Malam semakin larut merekapun meninggalkan tempat itu dan bergegas


pulang ke hotel.


**Dirumah sakit.


Setelah semalam mereka kembali ke kamar masing-masing


dan istirahat. Pagi-pagi sekali Sehan menelfon dan membawakan sarapan untuk


Velicia ke kamarnya, dan menyuruh Velicia untuk bersiap ke rumah sakit dimana


Alicia dirawat. Perkembangan Aliciapun sudah sangat cepat dan Alicia kini sudah


sadar dan bisa menemui Velicia, meskipun tubuhnya masih sangat lemah dan butuh


sekitar 1 minggu lagi untuk pemulihan dan setelah itu sudah boleh untuk pulang.


Setelah bergegas dan berjalan dengan mobilnya Sehan,


merekapun sampai di rumah sakit dan segera ke kamar inap Alicia.


Betapa bahagianya Velicia yang akhirnya bertemu dengan


adiknya kembali setelah 5 bulan lamanya tidak bertemu dengannya dan hari ini


bisa kembali bertemu dengannya lagi. Tubuh Alicia terlihat begitu kurus dan


juga rambutnya yang botak karena operasi, matanya dengan lingkaran pandanya


terlihat jelas. Velicia menangis haru melihat kondisi adik kecilnya ini.


“Kaka, kenapa malah menangis?” (lemah)


“Kaka sangat bahagia.”


“Ka Sehan juga disini? Makasih ya ka udah jagain kaka


ku yang cengeng ini.”


“Iyah sama-sama kucingku, ingat harus janji terus sama


kaka buat cepet sembuh. Kasian kakamu air matanya hampir habis.” (dengan tawa)


“Aku janji.” (lemah)


“Sudah manisku istirahatlah, besok kaka kesini lagi.”


(Ucap Sehan)


“Aku masih ingin disini ka.” (Velicia memelas)


“Baiklah aku pergi dulu ya, ada urusan lain. Kalian


disinilah kangen-kangenan dulu, nanti aku akan menjetmu Chia.” (pergi)


“Terimakasih ka.” (Alicia dan Velicia serentak)


Bahagianya Velicia tak terlukiskan lagi, adik kecilnya


kini sudah kembali baik-baik saja dan kondisinya menepis habis kekhawatirannya.


Sungguh tidak ada yang dapat melukiskan kebahagiaan yang tengah dirasakan


Velicia, harapannya satu-satunya kini terwujud sudah melihat adiknya yang


kembali seperti semula tanpa kurang apapun membuatnya tidak dapat lagi tau cara


bersyukur atas segalanya. Sangat-sangat bersyukur dengan kesembuhan Alicia,


juga begitu berterimakasih pada Hans yang sudah menolongnya dalam kesusahannya


dulu. Dan kepaha Sehan yang sekarang juga menolongnya.

__ADS_1


__ADS_2