
14
***Telah Hilang***
Jika saja, cinta dan takdir adalah seperti di dalam
mimpi yang bisa kita tentukan sendiri alurnya akan dibawa kemana nantinya dan
terserah kita.
Kita sadar bahwa semua yang terjadi di bumi ini adalah
takdir, gelas yang sudah pecah berkeping-keping mana bisa dia kembali lagi utuh
seperti sediakala. Seperti sebuah guci langka yang indah yang ternilai amat
mahal, lantas karena sebuah kesalahan guci itu jatuh dan pecah
berkeping-keping. Sang pemilik telah memperbaikinya sedemikian rupanya agar
kembali seperti semula, namun tetap saja bekas guci itu terjatuh dan hancur
masih tertinggal. Dan guci itu menjadi seperti tak ternilai lagi.
Mungkin sama halnya dengan sebuah hubungan dan
kepercayaan, setiap manusia punya batas tolerannya sendiri, memiliki batas kesabaran
mereka sendiri.
Velicia yang termangu di dalam kamarnya memandangi
keluar jendela, wanita itu tengah duduk di sisi ranjangnya sembari matanya
terus menatapi keluar jendela yang hanya ada pemandangan pohon dan langit senja
yang sendu. Dan dilihatnya pula para burung-burung masuk ke dalam pohon seperti
hendak pulang dari kesibukan mereka sepanjang hari.
Sebentar lagi aku dan Hans benar-benar akan
berpisah, aku tidak pernah menyesal bertemu dengannya. Karena dia adikku kini
bisa pulih kembali, aku turut bahagia dengan kebahagiaannya. Dia juga telah
begitu baik padaku, aku tidak akan lupa itu. Namun semua kenangan ini hanya
mampu dikenang saja kedepannya. Aku akan ingat bagaimanapun aku pernah jatuh
cinta padanya dan aku pernah banyak berhutang budi padanya. Selamat tinggal
kenangan. Velicia berdiri mendekati
jendela dan menangkupkan kedua tangannya seraya bergumam dalam hatinya dengan
tatapan kosongnya menerawang jauh mengingat saat-saat bersama Hans.
Tok….tok….. (suara ketukan pintu)
Suara ketukan pintu itu yang membuyarkan lamunannya,
dan Velicia segera bergerak mendekati pintu hendak membukanya.
“Iyah.” Sambil membuka.
“Chia, Hans ingin bertemu kamu dibawah.” Sehan
mengatakan dengan hati-hati.
“Aku akan turun sebentar lagi.” Velicia menjawab
dengan lirih.
“Chia, jika kamu memang belum mampu menemuinya
katakana saja aku akan membujuknya untuk pergi. Dia begitu keras kepala ingin
menemuimu.” Sehan khawatir.
“Ka, terimakasih sekali lagi. Aku tidak apa-apa terus
menghindar juga tidak akan baik kan. Sungguh aku ingin masalah ini cepat
selesai aku sudah sangat lelah dan ingin fokus pada Alicia.” Velicia memegang
tangan Sehan dan menjelaskannya yang membuat Sehan tersenyum tenang.
“Baiklah gadis kecilku. Aku selalu percaya padamu.”
Sehan mengelus rambut Velicia dengan penuh kasih.
Velicia segera mengganti pakaiannya, dan Sehan turun
ke bawah lebih dulu untuk menemai Hans ngobrol dulu. Selang beberapa menit Hans
terpukau melihat Velicia yang sedang menuruni tangga, namun juga Hans merasakan
rasa bersalah yang mendalam.
“Baiklah kalau gitu kalian ngobrol dulu aku akan ke
kamar.” Ucap Sehan penuh pengertian lalu dibalas senyum oleh Velicia, diapun
segera ke kamarnya.
Hans masih bembeku dalam tempat duduknya dan terus
menunduk sesekali saja dia menatap Velicia yang terlihat begitu anggun dan
tenang.
“Sudah berapa lama kamu tinggal disini Vel?” Hans
membuka pembicaraan dengan kecemburuan yang jelas sekali terlihat dimatanya.
“Jadi kamu meluangkan waktumu hanya bertanya tentang
ini? Aku yakin kamu sudah tau jawabannya kan dari orang-orang suruhanmu untuk
memata-mataiku.” Jawab Velicia dengan nada kesalnya.
“Vel, kenapa kamu harus tinggal dengannya? Dan kenapa
kamu tidak pulang denganku?” Hans mulai melihatkan kesedihannya dan keputus
asaannya.
“Hans, apa pantas kamu mempertanyakan aku kenapa tidak
ingin pulang denganmu? Kamu tau jelas jawabannya apa Hans.” Velicia mulai marah
dan tidak habis fikir dengan pemikiran Hans.
“Aku hanya cemburu melihat kamu begitu dekat
dengannya.” Hans mengucaokannya lirih dengan penuh penyesalan.
“Cukup Hans, sikapmu ini menambah aku jijik denganmu.”
Velicia sangat marah hingga ingin cepat-cepat pergi dari situ.
“Vel, apa tidak ada kesempatan 1x lagi untukku menebus
__ADS_1
segalanya. Aku salah Vel, aku benar-benar telah bersalah. Kamu boleh
menghukumku apa saja asalkan kita tidak bercerai.” Hans berlutut memohon pada
Velicia yang saat ini tengah duduk di depan Hans menahan amarahnya yang ingin
meluap.
“Hans, apa kamu masih mencintai Jessica? Kenapa kamu
tidur dengannya? Bahkan saat kamu sedang tidak mabuk? Apa kamu pernah berfikir
salah ketika itu? Apa kamu memikirkan perasaanku kala itu? Apa Hans? Kenapa
kamu diam?” Velicia akhirnya meluapkan semua kekesalannya dengan
pertanyaan-pertanyaan yang sudah lama membuatnya penasaran akan jawabannya.
“Jessica adalah masalaluku, saat itu aku juga tidak
tau kenapa aku kembali tenggelam dengan masalalu dan melakukan kesalahan itu.
Aku telah salah dan aku, aku juga mencintaimu Vel.” Hans menangis dengan
penyesalaannya.
“Juga mencintaiku dan mencintai Jessica begitu? Apa
kamu berencana akan memaduku? Kamu fikir aku akan begitu sudi Hans? Atau aku
malah yang menjadi madumu? Bagaimana mungkin Hans kamu bisa berfikir jika aku
mau bersamamu lagi setelah aku tau cintamu ternyata bercabang.” Puas sekali
kali ini Velicia bisa mengungkapkan sakit dihatinya.
“Aku tidak akan menikahi Jessica aku janji, asalkan
kita bersama lagi.” Hans menggenggam tangan Velicia dengan wajah belas
kasihannya.
“Tidak Hans, maaf batas toleranku sampai disini ku
mohon segera tanda tangani surat cerainya. Jika kamu memang mencintaiku ku
mohon lepaskan aku, aku tercekik oleh cintamu Hans. Dan aku bisa mati karena
itu, ku mohon untuk lepaskan aku. Biarkan aku terbang jauh menghirup udara
segar.” Velicia kini mulai tenang dengan mata berkaca-kacanya dia mengucapkan
kalimat-kalimat yang justru membuat Hans sadar lalu Hans sangat sedih juga
hatinya sangat sakit. Hans juga sangat, sangat menyesalinya.
“Aku tidak pernah berfikir jika kamu akan berkata
demikian Vel. Aku memang egois memaksakan cintamu padahal akulah yang telah
menyakitimu.” Hans berdiri melepaskan genggaman tangannya lalu…..
“Aku akan segera menandatanganinya.” Hans pergi dengan
langkah gontai lesu dan tak penuh dengan kesedihan. Hans berjalan pergi tanpa
menoleh lagi, Velicia pun segera pergi ke kamarnya.
Sesuatu yang telah pergi memang harusnya tidak perlu
disesali, boleh menangis tapi juga jangan begitu larut.
“Chia, apa kamu baik-baik saja?” Sehan tiba-tiba
kepalanya. Dan diujung tangga atas dia terhenti dengan munculnya Sehan seperti
secara tiba-tiba.
Velicia tak sedikitpun meneteskan air mata, matanya
hanya berair sedikit juga hainya yang terasa membaik setelah berusaja dia
mengungkapkan isi hatinya. Juga mengungkapkan kesedihannya, dia terasa telah
membuang beban yang beberapa minggu ini telah membebaninya begitu berat.
“Aku gapapa ka. Tapi aku lapar.” Velicia malah
meringis kelaparan memegangi perutnya yang mulai berdemo.
“Ais…… Kamu ini selalu membuatku takut.” Sehan
berdecak kesal dengan perangai Velicia yang suka menggoda.
“Hahaha……” Velicia hanya tertawa lepas menyaksikan
Sehan yang lucu saat marah.
“Aku segera buatkan makanan untukmu.” Sehan segera
bergegas menuju dapur.
Semenjak Velicia tinggal di rumah Sehan, Sehan begitu
memanjakannya dan selalu membuatkan makanan untuk Velicia, bahkan ketika dia
sedang lelah sehabis pulang kerja. Itu karena saat baru 2 hari Velicia tinggal
dirumah Sehan, Velicia sakit mag karena menahan lapar dan hanya makan mie
instan. Sedangkan ke 2 pelayan hanya membersihkan rumah saja dan membereskan
taman, bahkan pelayan Sehan itu hanya datang saat malam dan akan pulang saat
sore tiba. Sehan sudah biasa mengurus segalanya sendiri, dia juga biasa memasak
sendiri saat hendak makan. Tapi keahlian Velicia dalam memasak itu kurang,
Velisia hanya bisa memasak masakan sederhana saja dan masakan instan, tidak
heran jika badannya kurus begitu keseringan makan makanan instan.
Namun berkat Sehan, Sehan telah begitu perhatian
memperhatikan betul makanan Velicia. Dan terus memanjakan lidah Velicia dengan
rasa masakannya yang enak sekali, hingga Velicia bisa begitu lahap saat
menyantap masakannya itu.
Saat pagi Sehan membuatkannya sarapan berganti-ganti
menunya setiap pagi, namun saat Sehan tidak sempat Velicia lah yang menyiapkannya
meskipun hanya roti dan susu saja dan jika untuk makan malam Sehan selalu
memasakkan makan malam yang sangat enak-enak. Karena keduanya bekerja jadi
makan siang mereka masing-masing di tempat kerja.
Velicia hampir selalu tidak mau saat Sehan berniat
untuk mengantarkannya atau menjemputnya, Velicia malah lebih suka naik
__ADS_1
kendaraan umum bersesak-sesakan. Velicia memang sangat keras kepala dan Sehan
yang begitu menyayanginya tidak pernah memaksanya. Sehan adalah sosok sempurna
idaman para wanita, namun Sehan juga adalah sosok pria yang menutup hatinya
rapat-rapat untuk wanita lain. Karena dihatinya hanya ada Velicia dan hanya
Velicia, cinta pertamanya.
Dimeja makan.
“Huh…. Ka Sehan masakanmu memang yang terbaik.” Ucap
Velicia sembari terus makan.
“Bahkan kamu seperti anak kecil, makannya masih
belepotan begitu.” Sehan mengucap mulut Velicia dengan tissu. Velicia kaget dan
hanya tertegun melihat Sehan yang mengelap bibirnya dengan tissu. Lalu sekilah
Velicia mengingat kenangan masa lalunya, sama ketika dia sedang makan tiba-tiba
Sehan pertama kalinya mengusapkan tisu pada bibirnya yang terkena noda. Dan
setelahnya Sehan berubah kembali menjadi dingin hanya malu saja.
Iyah, dulu sekali saat pertama kali sehan pindah ke
kerumah itu dan menjadi tetangganya, Sehan adalah sosok pendiam dan dingin
kepada orang lain. Tetapi Velicia yang kala itu masih kecil terus saja mencoba
mendekatinya karena Velicia tidak punya teman lain selain Sehan yang saat itu
menjadi tetangganya. Perbedaan umur yang hanya 5 tahun membuat Velicia merasa
dilindungi saat bersama Sehan. Memang betul Sehan kala itu selalu
melindunginya, apalagi ibu Sehan yang begitu baik pada Velicia dan terus
mengudang Velicia untuk dekat dengan Sehan dan menganggap Sehan adalah kaka.
Siapa yang akan tau jika kedekatan keduanya yang
semakin dekat itu saat dewasa malah menimbulkan percikan api cinta. Bahkan
cinta mereka hingga tak terbantahkan mengerti satu sama lain dan saling percaya
satu sama lain.
“Em….maaf ya. Aku reflek menghapus noda di bibirmu.”
Sambung sehan yang segera tau jika Velicia kaget dengan apa yang Sehan lakukan
itu.
“Gapapa ko ka. Apa nodanya sudah hilang?” Velicia
segera mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi canggung.
“Sudah ko. Ayo segera habiskan dan tidurlah.” Sehan
tersenyum dan diapun segera memahami jika suasana makan itu menjadi canggung
dan membuat Velicia tidak nyaman.
Setelah menyelesaikan makan malam Velicia membereskan
meja makan lalu dia pergi ke kamarnya sementara Sehan dia duduk di ruang TV
bersantai menonton TV. Dikamarnya Velicia mulai bermain laptopnya, mendengarkan
lagu sambil saling berbalas pesan dengan Hannie yang sedang curhat masalah
asmaranya.
Ting…… (pesan dari Hans) Tiba-tiba saja muncul pesan
dari orang yang bahkan dia tidak harapkan akan muncul saat-saat santainya ini.
Vel, baiklah aku sudah tanda tangani suratnya dan
besok akan aku berikan padamu. Temui aku di Caffe Gee besok sepulang kerja.
Namun pesan itu hanya dia baca dan tak berniat untuk membalasnya.
Velicia juga mulai berfikir untuk terakhir kalinya menemuinya mengambil surat
cerai yang sudah Hans tanda tangani. Sebenarnya Velicia tau betul jika Hans
hanya membuat alasan untuk menemuinya, tetapi ya ini masih dalam batas
toleransinya dan mungkin akan menjadi yang terakhir kalinya bertemu dengannya.
Selanjutnya kehidupan mereka akan menjadi masing-masing, yang Velicia fikirkan
saat ini justru malah kesiapannya menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan
terjadi kedepannya.
Apakah dia siap melihat Hans hilang dari nya? Apakah
nanti dia siap melihat Hans dengan Jessica? Lantas Apakah keputusannya adalah
benar? Hari-hari yang begitu berat baginya adalah membayangkan sesuatu yang
belum terjadi. Membayangkannya saja begitu terasa menyakitkan hatinya. Ingin
rasanya saat ini juga Velicia melepaskan segalanya, ingin juga baginya
melupakan kenyataan yang telah dia ketahui dan lalui.
Yang harus dia telan bulat-bulat adalah kenyataan
bila, mungkin sesuatu yang telah dia lepaskan, sesuatu yang telah hilang tak
akan mudah untuk kembali seperti sediakala. Ya, benar gelas yang sudah pecah
memang tidak akan dapat utuh kembali meski dengan cara apapun. Seperti hati dan
kepercayaanya pada Hans yang ikut hancur bersama dengan kenyataan yang telah
membuat segalanya menjadi hilang.
Sejenah lagi dan lagi Velicia selalu ingat kejadian
dimana dirinya harus melihat dengan kedua matanya, melihat orang yang
dicintainya adalah kini menjadi orang yang paling menghancurkan hatinya, cinta
yang terlalu dini untuk hancur. Pernikahan yang terlalu awal hancur diterjang
badai. Pilihannya bertahan atau merelakan segala hilang.
Velicia hanya memandangi handponenya sambil menahan
air matanya yang hampir saja menetes, dia begitu gengsi untuk menitikan air
matanya. Tekadnya begitu kuat untuk tegar menghadapi segalanya. Lebih tepatnya
mencoba untuk tegar dan meminimalisirkan air matanya agar tidak terbuang
__ADS_1
percuma.