
20
Tidak Pernah Lelah
Suasana begitu terlihat ramai di restoran ini, Sehan tiba-tiba
membawa Velicia ke restoran kesukaanya di salah satu mall di dekat apartemen.
Restorannya begitu nyaman, hangat dan juga makanannya sangat enak. Restoran
dengan nuansa jepang yang khas, dan juga tentunya menu-menunya khas dari
daerahnya. Menu makanan kesukaan Velicia, semua telah dipesan Sehan. Sehan
melihat Velicia yang kegirangan seperti anak kecil itu begitu senang sampai
Sehan hanya melihati Velicia makan dengan senyum-senyum.
“Pemandangan yang indah, seperti dulu dan tidak
berubah.” Ucap Sehan yang terus memangku dagunya melihati Velicia dengan ternyum-senyum.
“Ais…… Apa yang ada di otakmu sekarang ka?” Velicia heran
karena Sehan yang hanya melihatinya makan dengan tersenyum-senyum sendiri.
“Aku sedang berfikir kamu tidak makan sudah berapa
hari?” (mengejek)
“Aku sebulan ka tidak makan. Apa kamu puas Sehan?” (kesal)
Velicia kesal tetapi juga terus memakan dengan rakus. Dan terus melihat Sehan
yang masing senyum-senyum sendiri.
“Aku sangat puas.” (tertawa)
“Apa kamu tidak lapar?”
“Aku kenyang hanya melihatimu makan saja.” (terus
melihati Velicia makan.)
“Huh….Aku sungguh tidak mengerti apa yang ada di
otakmu ka.” (terus menghabiskan makanan)
“Ada kamu tentunya.” (spontan)
“Bahkan kamu sekarang jadi begitu suka ngegombal.”
(kesal)
“Hahaha….” (tertawa lepas)
“Sungguh puas dia ketika menggodaku.” (kesal)
Hal yang dulu terlewatkan seakan kini kembali
berlahan, memang tidak bisa memutar kembali waktu dan mengisi apa yang pernah
hilang. Namun dimasa mendatang bisa memperbaiki keadaan. Dulu Sehan dan Velicia
sering sekali bercanda seperti itu, Sehan yang selalu senang melihat sisi
Velicia yang begitu kekanakan. Makan dengan blepotan, lalu makan dengan rakus
jika makanan itu adalah makanan kesukaanya.
Sisi Velicia yang selalu Sehan rindukan dan kini dia
bisa menebus kerinduannya bersama-sama dengan wanita yang juga paling
dicintainya. Wanita yang baginya sangat berharga melebihi apapun.
Velicia juga kini nampaknya menjalani hidupnya dengan
penuh suka cita, melepaskan segala masalah dimasalalunya dan memulai kehidupan
barunya, memulai segalanya dari titik 0 kembali. Dan kini dia menghabiskan hari-harinya
bersama Sehan, salah satu orang terdekatnya kini yang sudah begitu baik padanya
di masalalu dan masa hidup barunya.
Velicia seperti terlahir kembali menjadi dirinya yang
baru, dan mulai mencoba mengubur masalalunya bersama Hans. Meskipun Hans terus
datang mencoba memperbaiki apa yang sudah rusak, dan mencoba mengembalikan
sesuatu yang sudah berlahan hilang. Namun ya cinta memang tak bisa begitu mudah
untuk dilupakan.
Sehan dan Velicia masih saja menikmati makan siang
yang menyenangkan itu dengan canda gurau menghiasi meja makan restoran. Velicia
yang begitu sudah lues dengan caranya bercanda dengan Sehan yang begitu hangat
padanya. Setelah makan siang Sehan mengajak Velicia berkeliling untuk
membelikan Velicia beberapa baju. Seperti memang sifat Velicia yang tidak mau
memanfaatkan keadaan tentu saja dia menolaknya dengan antipasti. Naasnya,
Velicia memang tidak bisa menolak pemberian dari Sehan.
Kenapa? Karena Sehan punya 1001 cara memaksa Velicia
untuk menerima dengan 1000 cara Velicia menolak. Itu sudah dari dulu sekali
mereka bersama dan harusnya Velicia tau betul jika memang Sehan tidak pernah
mau ditolak saat dia memberikan. Jarang sekali, iyah memang jarang Sehan berinisiatif
memaksa, biasanya Sehan akan selalu meneruti Velicia dan tidak mau memaksanya.
Dan ketika Sehan sudah memaksanya maka Sehan juga sudah tidak mau lagi ditolak.
“Udah ya ka, bajunya udah cukup.” (mencari alasan
untuk menolak)
“Sungguh hari ini aku tidak bisa menerima tolakan.
Maaf ya Velicia Sya, aku mengecewakanmu.” Berbicara dengan mengangkat alisnya
dan senyum liciknya (mengejek)
**Benar-benar deh gak berubah.**
Tiba-tiba Velicia menjadi mengingat sesuatu dimasa
lalunya, mengingat momen yang sama saat itu dimana Sehan membelikannya tas
sekolah yang baru dari uang tabungannya di masa kuliah. Dan Velicia menolaknya
dengan berbagai macam alasan, namun Sehan selalu bisa memaksanya untuk menerima
pemberian darinya. Dan setelah itu Sehan begitu kegirangan.
Aku ingat ka, kamu memang dari dulu adalah yang
terbaik. Laki-laki yang menjagaku paling baik setelah Ayah.
“Kenapa kamu malah melamun. Ini cobalah semua dan jika
cocok kita akan membelinya.” (memberikan beberapa baju dan tersenyum)
“Gak sekalian beli tokonya saja?” (bingung dan tidak
habis fikir)
“Boleh jika kamu mau.” (menggoda)
“Ais….Ya sudah. Oke aku akan mencobanya, dan janji
hanya membeli 2 lagi saja.” (kesal)
Dan hanya dibalas dengan senyuman dari Sehan. Lalu
Velicia pergi ke ruang ganti untuk memulai sesi peragaan busana. Mencoba beberapa
potong baju santai dan dress, juga 1 baju formal.
Aku yakin nanti pulang dari mall ini pasti lemariku
akan penuh. Betapa borosnya pria ini tuhan.
“Sudah selesai.” Velicia dengan wajah girangnya keluar
dari ruang ganti setelah menyelesaikan peragaanya. Akhirnya berakhir
juga.
“Kalo gitu gimana kalau pilih 2 ini?” (Sehan
menunjukan)
“Baiklah, aku mana bisa menolak.” Velicia kembali
__ADS_1
memutar bola matanya tidak habis fikir.
“Haha….Kenapa kamu begitu lucu sih.” Sehan tertawa
bangga mengelus rambut Velicia yang sedang cemberut karena tidak bisa berkutik hari
ini.
Akhirnya sesi belanja usai, Sehan membelikan beberapa model
baju pada Velicia juga membelikan tas dan sepatu. Bukan lagi beberapa tapi
lebih tepatnya seperti memborong, sampai Velicia gerah jika melihat tentengan-tentengan
belanjaan itu. Tentu saja Velicia begitu berterimakasih pada Sehan yang begitu
baik padanya juga Velicia tau betul ko perasaan Sehan padanya.
Setelah selesai dan hari sudah semakin sore merekapun berniat
untuk pulang. Merekapun menuju tempat parkir mobil yang ada di lantai bawah.
Setelah menaruh barang belanjaan di kursi belakang mobilpun segera melaju pergi
meninggalkan parkiran. Mobilpun melaju menuju apartemen Velicia yang letaknya
tidak begitu jauh dari mall itu.
**Apartemen
Akhirnya sampai di tempat Velicia, Velicia segera
masuk ke kamarnya untuk berganti baju dengan baju rumah. Sementara Sehan tengah
kelelahan dan duduk santai di ruangan tengah menonton TV. Setelah Velicia
keluar kamar, Velicia segera membuatkan minuman dingin untuk Sehan yang
sepertinya memang membutuhkannya.
“Ini, minumlah.” (memberikan segelas minuman rasa
jeruk)
“Terimakasih.” (penuh kebahagiaan)
“Terimakasih ya buat semuanya. Lain waktu kaka jangan
membelikan barang-barang lagi untukku.” (duduk di samping Sehan)
“Memangnya kenapa?” (dengan wajah pura-pura polos)
“Yah aku tidak enak ajah. Kaka sudah terlalu baik.”
(menunduk)
“Coba katakana itu sekali lagi.” Mendengar perkataan
Velicia, Sehan segera menaruh gelasnya di atas meja dan melihat Velicia
menunduk Sehan segera menggapai dagu Velicia dengan tangan kanannya dan
mengangkat wajah Velicia agar melihat kea rah wajahnya.
“Ka, aku…..” Seketika jantung Velicia menderu dengan
cepat, wajahnya memerah dan bibirnya kelu, melihati mata biru Sehan yang
bersinar seperti langit siang dan ketika dia tersadar jantungnya tak terkontrol
Velicia segera menutup matanya menghindari tatapan mata Sehan yang mematikan
saat itu.
Sehan yang melihati Velicia dengan seksama memperhatikan
wajah Velicia yang memerah dan mata Velicia yang seketika memejam paksa setelah
tadi memandangnya dan bibir Velicia yang terlihat begitu merah merona mengatup
sempurna. Dagu Velicia masih dipegang oleh Sehan, Sehan saat ini terus
mendekatkan wajahnya hingga wajah Velicia terlihat begitu jelas terlihat begitu
cantic dan memabukkan. Jantung Sehan tak kalah kencangnya, posisi yang begitu
berdekatan memuat mereka merasakan kehangatan tubuh mereka masing-masing.
Velicia masih saja memaksa matanya terpejam,
jantungnya yang kian waktu kian ingin meledak tan terkendali, juga merasakan
nafas Sehan yang mencepat begitu dekat di hadapannya. Tubuh sehan yang kekar
dan bidang itu kian terasa begitu dekat dan hangat sama seperti ketika Velicia
Seketika, Sehan yang tak terkendali lagi melumat habis
bibir merah merona Velicia itu, dan tanpa perlawanan Velicia yang kaget dan membelalakkan
matanya malah justru tanpa melawan membiarkan Sehan menikmati bibir mungilnya
yang menggiurkan itu.
Perasaan ini, kehangatan ini, tubuhku bahkan tidak
menolaknya dan malah membiarkan ka Sehan menciumku. Velicia yang sedang dalam
ciuman Sehan dan tanpa berkata apa-apa, hanya membatin dalam batinnya. Dan
Velicia memejamkan matanya lagi dengan lembut seolah juga menikmati ciuman yang
memabukkan itu.
Sehan terus tenggelam dalam ciumannya itu yang terus
menutup akal sehatnya dan begitu tenggelam dalam lautan hasratnya yang sekian
lama terus ditahannya. Dan kini terluapkan sudah, kini ciuman itu berubah
menjadi ciuman yang begitu panas tanpa perlawanan. Velicia terus memejamkan
matanya menikmati detik demi detik momen.
Sehan terus membuat Velicia tenggelam bersamanya,
memainkan lidahnya terus melumat habis bibir manis Velicia, dan kini semakin
panas. Sehan mulai memainkan tangannya menyentuh tubuh Velicia dengan berlahan,
ciumannya menjalar menurun keleher dan membekaskan tanda merah di leher Velicia.
Velicia yang sadar arahnya akan kemana, namun dia juga sama mabuk kepayang
tubuhnya tak sedikitpun menolaknya.
Ting…..tong…… (bunyi bell)
Sehan terhenti tiba-tiba dan segera tersadar dari
hasratnya, segera merapikan bajunya dan duduk kembali di posisi semula begitu
panik.
Apa yang aku lakukan barusan. Velicia apa dia akan
marah padaku?
Velicia tak kalah paniknya, dia segera mengancing bajunya
yang terbuka dan segera merapikan baju dan rambutnya kembali. Lalu segera
berlari ke pintu untuk melihat siapa yang bertamu.
Ceklek……(pintu dibuka)
“Hans.” (membelalakkan mata kaget)
“Oh….hai.” (tersenyum)
“Ngapain kamu kesini?” (ketus)
“Aku hanya main.” Hans yang tiba-tiba mengecilkan
suaranya seolah menyadari sesuatu yang sudah terjadi. Hans memandangi Velicia
membelalakan matanya mencoba melihat dengan teliti.
**Bekas cupang? Siapa? Apa mungkin gigitan nyamuk?** Pertanyaan
yang muncul dalam batin Hans.
“Pulang lah aku tidak menerima tamu.” (hendak menutup
pintu.)
“Tunggu, ada siapa di sini?” (menghentikan pintu yang
hendak ditutup)
“Apa urusan mu?” (ketus)
Tanpa fikir panjang Hans segera menerobos untuk masuk
__ADS_1
ke dalam dan segera dilihatnya Sehan yang terlihat sedang menikmati acara TV
duduk manis di ruang tengah dengan segelas minumnya. Hans segera menghampiri
Sehan yang sama sekali tidak menengok ke arasnya meskipun terdengar jelas suara
langkahnya.
“Hai tuan Sehan.” (duduk)
“Maaf, sepertinya hubungan kita tidak seakrab itu.” (dingin)
Sebenarnya aku tidak begitu suka padanya, namun ya
kali ini dia datang di waktu yang tepat. Jika tidak pasti hal buruk akan segera
terjadi. Meski aku menginginkannya tapi ini bukan waktu yang tepat. Aku ingin
dia menjadi istriku dan selamanya menjadi milikku dengan cinta darinya yang
tulus seperti dulu. Batin Sehan.
“Tuang Frederik Hans, saya minta mohon anda keluar karena
ini rumahku. Jangan asal menyelonong masuk begitu.” (Velicia kesal)
Aku bahkan tidak mengerti kenapa dia bisa tau
apartemenku. Batin Velicia.
“Baiklah. Aku akan pergi segera.” (pergi)
Jadi tanda itu dari Sehan? Baiklah, tapi aku tidak
akan pernah berhenti sampai kapanpun.Hans bergumam penuh keyakinan.
Setelah Hans pergi keluar dan pintu sudah kembali
tertutup, suasanya menjadi begitu canggung. Velicia kembali menghampiri Sehan
yang masih duduk diam di sofa, dan Velicia duduk di samping Sehan. Seketika
Sehan segera memeluknya erat.
“Velicia, sungguh aku minta maaf padamu. Aku…..” Sehan
menggantungkan ucapannya.
Bagaimana caranya aku bilang padanya jika tadi
adalah hasratku sebagai seorang pria yang selama ini aku pendam. Memalukan kan,
atau malah dia nanti akan sangat membenciku karena aku begitu mesum.
“Ka Sehan, apa yang kamu bicarakan. Em…baiklah aku ambilkan
cemilan ya untukmu.” (mengalihkan pembicaraan)
Ya tuhan, bahkan jika dibahas itu akan jadi
pembahasan yang memalukan kan. Aku juga tadi entah kenapa tidak bisa
menolaknya. Apa karena aku juga masih mencintainya? Tapi bukankah ini terlalu
dini, aku bahkan baru saja menjadi janda.Ucap velicia dalam hati. Dan wajah Velicia seketika memerah dan begitu
malu jika mengingat adegan yang baru saja terjadi.
“Velicia, aku mau pulang saja. Aku masih ada urusan
lain.” (buru-buru pamit menahan malu)
“Baiklah ka, hati-hati dijalan.” (sangat malu)
Betapa canggungnya keduanya mengingat apa yang baru
saja terjadi. Setelah Sehan pulang, Velicia segera naik ke kamarnya dan membanting
tubuhnya ke kasur, menutup wajahnya dengan bantal dan masih membayangkan adegan
yang tadi terjadi dengannya dan Sehan. Betapa memalukannya saat dia mengingatnya
kembali. Dia yang lagi-lagi membayangkan momen demi momen hal yang membuatnya
begitu malu namun tak kunjung juga bisa dia lupakan.
Saat menatap mata birunya yang bersinar, merasakan hembusan
nafas dari Sehan yang begitu dekat, dan saat Sehan mulai menggila membuatkan
tanda di lehernya.
**Tunggu……tanda? Terasa panas di leherku.**Velicia segera melompat dari kasurnya dan memeriksa
lehernya yang sedikit sakit dan panas itu.
Astaga,…..Bagaimana ini? Duh sangat memalukan. Aku
harus memakai baju yang tertutup bahian lehernya besok ke kantor. Ya tuhan
bagaimana bisa ka Sehan menjadi begitu seperti Vampir. Aiyah…..aku malah seperti
terlihat begitu senang, apa yang terjadi padaku sekarang. Aku bahkan seorang
janda sekarang. Sudahlah, sudah. Memalukan sekali.
Velicia begitu bengung menghadapi kejolah jiwanya yang
begitu membingungkan ini, Velicia hanya bisa berperang dalam hatinya.
Sementara disisi lain.
Sehan di rumahnya tak henti-hentinya memikirkannya,
dia sangat menyesali dirinya yang lepas control ketika bersama dengan Velicia. Entahlah
saat ini dia malah berfikir bahwa dirinya telah begitu jahat pada Velicia.
Sehan terus mengingat momen demi momen yang membahagiakan itu, Sehan
mengingatnya tentu saja dengan bahagia dia lagi dan lagi terus mengingatnya.
Saat mencium lembut bibir Velicia yang manis itu,
melumat habis bibirnya yang semakin dalam semakin terasa begitu manis bahkan
mengalahkan manisnya gula. Rasanya begitu nyaman dan begitu menggairahkan
membuat semua sarafnya meregang kala itu. Juga saat tangannya mulai bergerak
menyentuh bagian yang hangat juga begitu kenyal dan lembut besar.
Juga dia mengingat betul jika leher wanitanya itu juga
terasa begitu wangi dan manis, hingga membuatnya begitu tergiur untuk mencoba
meninggalkan bekas rajahannya. Mengingat kembali betapa memabukkannya tubuh
wanita yang sangat dicintainya itu.
Aiyah…..Bahkan aku begitu mesum sekarang padanya, bisa-bisanya
aku bahkan membayangkannya kembali dengan penuh kemesuman. Aku nampak seperti
om-om mesum di tempat prostitusi. Entah apa yang merasukiku saat itu. Aku
memang menginginkannya, tapi harusnya aku bersabar sedikit. Malah aku begitu
mesum padanya hari ini, entah bagaimana nanti dia bisa memaafkanku setelah
ini.
Sehan yang tak kalah bingung pada dirinya yang telah
lepas kendali it uterus saja memikirkan dan membayangkan berapa nanti dirinya
bisa mempertanggung jawabkannya pada Velicia. Apakah Velicia akan begitu marah
padanya. Bahkan membayangkannya saja telah begitu membuatnya begitu takut dan
ngeri.
Hari ini nampaknya begitu panjang, dengan segala yang
telah ternyadi, Velicia yang telah diperebutkan dua laki-laki yang sama-sama
tidak pernah berhenti berjuang untuknya. Entah siapa yang nantinya dapat
memenangkan hatinya kembali. Keduanya memiliki watak yang berbeda begitu signifikan,
namun keduanya sama-sama pernah berada di masalalu Velicia dan pernah ada di
dalam hatinya. Bukan tidak mungkin jika salah satu diantara dua laki-laki ini
akan terpilih atau akan tersakiti.
Namun ya, yang memilihnya nanti tentu saja Velicia.
Velicia yang begitu keras dengan pendiriannya dan begitu tegas pada sikapnya.
Sehan tau betul seperti apa Velicia itu, mengingat momen yang mereka berdua
habiskan telah banyak sekali bahkan belasan tahun mereka telah begitu saling
__ADS_1
mengenal satu dan yang lainnya.
Ya, siapa yang tau cinta itu akan menjadi seperti apa.