KONTRAK DAN TAKDIR CINTA

KONTRAK DAN TAKDIR CINTA
Tak pernah lelah


__ADS_3

20


Tidak Pernah Lelah


Suasana begitu terlihat ramai di restoran ini, Sehan tiba-tiba


membawa Velicia ke restoran kesukaanya di salah satu mall di dekat apartemen.


Restorannya begitu nyaman, hangat dan juga makanannya sangat enak. Restoran


dengan nuansa jepang yang khas, dan juga tentunya menu-menunya khas dari


daerahnya. Menu makanan kesukaan Velicia, semua telah dipesan Sehan. Sehan


melihat Velicia yang kegirangan seperti anak kecil itu begitu senang sampai


Sehan hanya melihati Velicia makan dengan senyum-senyum.


“Pemandangan yang indah, seperti dulu dan tidak


berubah.” Ucap Sehan yang terus memangku dagunya melihati Velicia dengan ternyum-senyum.


“Ais…… Apa yang ada di otakmu sekarang ka?” Velicia heran


karena Sehan yang hanya melihatinya makan dengan tersenyum-senyum sendiri.


“Aku sedang berfikir kamu tidak makan sudah berapa


hari?” (mengejek)


“Aku sebulan ka tidak makan. Apa kamu puas Sehan?” (kesal)


Velicia kesal tetapi juga terus memakan dengan rakus. Dan terus melihat Sehan


yang masing senyum-senyum sendiri.


“Aku sangat puas.” (tertawa)


“Apa kamu tidak lapar?”


“Aku kenyang hanya melihatimu makan saja.” (terus


melihati Velicia makan.)


“Huh….Aku sungguh tidak mengerti apa yang ada di


otakmu ka.” (terus menghabiskan makanan)


“Ada kamu tentunya.” (spontan)


“Bahkan kamu sekarang jadi begitu suka ngegombal.”


(kesal)


“Hahaha….” (tertawa lepas)


“Sungguh puas dia ketika menggodaku.” (kesal)


Hal yang dulu terlewatkan seakan kini kembali


berlahan, memang tidak bisa memutar kembali waktu dan mengisi apa yang pernah


hilang. Namun dimasa mendatang bisa memperbaiki keadaan. Dulu Sehan dan Velicia


sering sekali bercanda seperti itu, Sehan yang selalu senang melihat sisi


Velicia yang begitu kekanakan. Makan dengan blepotan, lalu makan dengan rakus


jika makanan itu adalah makanan kesukaanya.


Sisi Velicia yang selalu Sehan rindukan dan kini dia


bisa menebus kerinduannya bersama-sama dengan wanita yang juga paling


dicintainya. Wanita yang baginya sangat berharga melebihi apapun.


Velicia juga kini nampaknya menjalani hidupnya dengan


penuh suka cita, melepaskan segala masalah dimasalalunya dan memulai kehidupan


barunya, memulai segalanya dari titik 0 kembali. Dan kini dia menghabiskan hari-harinya


bersama Sehan, salah satu orang terdekatnya kini yang sudah begitu baik padanya


di masalalu dan masa hidup barunya.


Velicia seperti terlahir kembali menjadi dirinya yang


baru, dan mulai mencoba mengubur masalalunya bersama Hans. Meskipun Hans terus


datang mencoba memperbaiki apa yang sudah rusak, dan mencoba mengembalikan


sesuatu yang sudah berlahan hilang. Namun ya cinta memang tak bisa begitu mudah


untuk dilupakan.


Sehan dan Velicia masih saja menikmati makan siang


yang menyenangkan itu dengan canda gurau menghiasi meja makan restoran. Velicia


yang begitu sudah lues dengan caranya bercanda dengan Sehan yang begitu hangat


padanya. Setelah makan siang Sehan mengajak Velicia berkeliling untuk


membelikan Velicia beberapa baju. Seperti memang sifat Velicia yang tidak mau


memanfaatkan keadaan tentu saja dia menolaknya dengan antipasti. Naasnya,


Velicia memang tidak bisa menolak pemberian dari Sehan.


Kenapa? Karena Sehan punya 1001 cara memaksa Velicia


untuk menerima dengan 1000 cara Velicia menolak. Itu sudah dari dulu sekali


mereka bersama dan harusnya Velicia tau betul jika memang Sehan tidak pernah


mau ditolak saat dia memberikan. Jarang sekali, iyah memang jarang Sehan berinisiatif


memaksa, biasanya Sehan akan selalu meneruti Velicia dan tidak mau memaksanya.


Dan ketika Sehan sudah memaksanya maka Sehan juga sudah tidak mau lagi ditolak.


“Udah ya ka, bajunya udah cukup.” (mencari alasan


untuk menolak)


“Sungguh hari ini aku tidak bisa menerima tolakan.


Maaf ya Velicia Sya, aku mengecewakanmu.” Berbicara dengan mengangkat alisnya


dan senyum liciknya (mengejek)


**Benar-benar deh gak berubah.**


Tiba-tiba Velicia menjadi mengingat sesuatu dimasa


lalunya, mengingat momen yang sama saat itu dimana Sehan membelikannya tas


sekolah yang baru dari uang tabungannya di masa kuliah. Dan Velicia menolaknya


dengan berbagai macam alasan, namun Sehan selalu bisa memaksanya untuk menerima


pemberian darinya. Dan setelah itu Sehan begitu kegirangan.


Aku ingat ka, kamu memang dari dulu adalah yang


terbaik. Laki-laki yang menjagaku paling baik setelah Ayah.


“Kenapa kamu malah melamun. Ini cobalah semua dan jika


cocok kita akan membelinya.” (memberikan beberapa baju dan tersenyum)


“Gak sekalian beli tokonya saja?” (bingung dan tidak


habis fikir)


“Boleh jika kamu mau.” (menggoda)


“Ais….Ya sudah. Oke aku akan mencobanya, dan janji


hanya membeli 2 lagi saja.” (kesal)


Dan hanya dibalas dengan senyuman dari Sehan. Lalu


Velicia pergi ke ruang ganti untuk memulai sesi peragaan busana. Mencoba beberapa


potong baju santai dan dress, juga 1 baju formal.


Aku yakin nanti pulang dari mall ini pasti lemariku


akan penuh. Betapa borosnya pria ini tuhan.


“Sudah selesai.” Velicia dengan wajah girangnya keluar


dari ruang ganti setelah menyelesaikan peragaanya. Akhirnya berakhir


juga.


“Kalo gitu gimana kalau pilih 2 ini?” (Sehan


menunjukan)


“Baiklah, aku mana bisa menolak.” Velicia kembali

__ADS_1


memutar bola matanya tidak habis fikir.


“Haha….Kenapa kamu begitu lucu sih.” Sehan tertawa


bangga mengelus rambut Velicia yang sedang cemberut karena tidak bisa berkutik hari


ini.


Akhirnya sesi belanja usai, Sehan membelikan beberapa model


baju pada Velicia juga membelikan tas dan sepatu. Bukan lagi beberapa tapi


lebih tepatnya seperti memborong, sampai Velicia gerah jika melihat tentengan-tentengan


belanjaan itu. Tentu saja Velicia begitu berterimakasih pada Sehan yang begitu


baik padanya juga Velicia tau betul ko perasaan Sehan padanya.


Setelah selesai dan hari sudah semakin sore merekapun berniat


untuk pulang. Merekapun menuju tempat parkir mobil yang ada di lantai bawah.


Setelah menaruh barang belanjaan di kursi belakang mobilpun segera melaju pergi


meninggalkan parkiran. Mobilpun melaju menuju apartemen Velicia yang letaknya


tidak begitu jauh dari mall itu.


**Apartemen


Akhirnya sampai di tempat Velicia, Velicia segera


masuk ke kamarnya untuk berganti baju dengan baju rumah. Sementara Sehan tengah


kelelahan dan duduk santai di ruangan tengah menonton TV. Setelah Velicia


keluar kamar, Velicia segera membuatkan minuman dingin untuk Sehan yang


sepertinya memang membutuhkannya.


“Ini, minumlah.” (memberikan segelas minuman rasa


jeruk)


“Terimakasih.” (penuh kebahagiaan)


“Terimakasih ya buat semuanya. Lain waktu kaka jangan


membelikan barang-barang lagi untukku.” (duduk di samping Sehan)


“Memangnya kenapa?” (dengan wajah pura-pura polos)


“Yah aku tidak enak ajah. Kaka sudah terlalu baik.”


(menunduk)


“Coba katakana itu sekali lagi.” Mendengar perkataan


Velicia, Sehan segera menaruh gelasnya di atas meja dan melihat Velicia


menunduk Sehan segera menggapai dagu Velicia dengan tangan kanannya dan


mengangkat wajah Velicia agar melihat kea rah wajahnya.


“Ka, aku…..” Seketika jantung Velicia menderu dengan


cepat, wajahnya memerah dan bibirnya kelu, melihati mata biru Sehan yang


bersinar seperti langit siang dan ketika dia tersadar jantungnya tak terkontrol


Velicia segera menutup matanya menghindari tatapan mata Sehan yang mematikan


saat itu.


Sehan yang melihati Velicia dengan seksama memperhatikan


wajah Velicia yang memerah dan mata Velicia yang seketika memejam paksa setelah


tadi memandangnya dan bibir Velicia yang terlihat begitu merah merona mengatup


sempurna. Dagu Velicia masih dipegang oleh Sehan, Sehan saat ini terus


mendekatkan wajahnya hingga wajah Velicia terlihat begitu jelas terlihat begitu


cantic dan memabukkan. Jantung Sehan tak kalah kencangnya, posisi yang begitu


berdekatan memuat mereka merasakan kehangatan tubuh mereka masing-masing.


Velicia masih saja memaksa matanya terpejam,


jantungnya yang kian waktu kian ingin meledak tan terkendali, juga merasakan


nafas Sehan yang mencepat begitu dekat di hadapannya. Tubuh sehan yang kekar


dan bidang itu kian terasa begitu dekat dan hangat sama seperti ketika Velicia


Seketika, Sehan yang tak terkendali lagi melumat habis


bibir merah merona Velicia itu, dan tanpa perlawanan Velicia yang kaget dan membelalakkan


matanya malah justru tanpa melawan membiarkan Sehan menikmati bibir mungilnya


yang menggiurkan itu.


Perasaan ini, kehangatan ini, tubuhku bahkan tidak


menolaknya dan malah membiarkan ka Sehan menciumku. Velicia yang sedang dalam


ciuman Sehan dan tanpa berkata apa-apa, hanya membatin dalam batinnya. Dan


Velicia memejamkan matanya lagi dengan lembut seolah juga menikmati ciuman yang


memabukkan itu.


Sehan terus tenggelam dalam ciumannya itu yang terus


menutup akal sehatnya dan begitu tenggelam dalam lautan hasratnya yang sekian


lama terus ditahannya. Dan kini terluapkan sudah, kini ciuman itu berubah


menjadi ciuman yang begitu panas tanpa perlawanan. Velicia terus memejamkan


matanya menikmati detik demi detik momen.


Sehan terus membuat Velicia tenggelam bersamanya,


memainkan lidahnya terus melumat habis bibir manis Velicia, dan kini semakin


panas. Sehan mulai memainkan tangannya menyentuh tubuh Velicia dengan berlahan,


ciumannya menjalar menurun keleher dan membekaskan tanda merah di leher Velicia.


Velicia yang sadar arahnya akan kemana, namun dia juga sama mabuk kepayang


tubuhnya tak sedikitpun menolaknya.


Ting…..tong…… (bunyi bell)


Sehan terhenti tiba-tiba dan segera tersadar dari


hasratnya, segera merapikan bajunya dan duduk kembali di posisi semula begitu


panik.


Apa yang aku lakukan barusan. Velicia apa dia akan


marah padaku?


Velicia tak kalah paniknya, dia segera mengancing bajunya


yang terbuka dan segera merapikan baju dan rambutnya kembali. Lalu segera


berlari ke pintu untuk melihat siapa yang bertamu.


Ceklek……(pintu dibuka)


“Hans.” (membelalakkan mata kaget)


“Oh….hai.” (tersenyum)


“Ngapain kamu kesini?” (ketus)


“Aku hanya main.” Hans yang tiba-tiba mengecilkan


suaranya seolah menyadari sesuatu yang sudah terjadi. Hans memandangi Velicia


membelalakan matanya mencoba melihat dengan teliti.


**Bekas cupang? Siapa? Apa mungkin gigitan nyamuk?**  Pertanyaan


yang muncul dalam batin Hans.


“Pulang lah aku tidak menerima tamu.” (hendak menutup


pintu.)


“Tunggu, ada siapa di sini?” (menghentikan pintu yang


hendak ditutup)


“Apa urusan mu?” (ketus)


Tanpa fikir panjang Hans segera menerobos untuk masuk

__ADS_1


ke dalam dan segera dilihatnya Sehan yang terlihat sedang menikmati acara TV


duduk manis di ruang tengah dengan segelas minumnya. Hans segera menghampiri


Sehan yang sama sekali tidak menengok ke arasnya meskipun terdengar jelas suara


langkahnya.


“Hai tuan Sehan.” (duduk)


“Maaf, sepertinya hubungan kita tidak seakrab itu.” (dingin)


Sebenarnya aku tidak begitu suka padanya, namun ya


kali ini dia datang di waktu yang tepat. Jika tidak pasti hal buruk akan segera


terjadi. Meski aku menginginkannya tapi ini bukan waktu yang tepat. Aku ingin


dia menjadi istriku dan selamanya menjadi milikku dengan cinta darinya yang


tulus seperti dulu. Batin Sehan.


“Tuang Frederik Hans, saya minta mohon anda keluar karena


ini rumahku. Jangan asal menyelonong masuk begitu.” (Velicia kesal)


Aku bahkan tidak mengerti kenapa dia bisa tau


apartemenku. Batin Velicia.


“Baiklah. Aku akan pergi segera.” (pergi)


Jadi tanda itu dari Sehan? Baiklah, tapi aku tidak


akan pernah berhenti sampai kapanpun.Hans bergumam penuh keyakinan.


Setelah Hans pergi keluar dan pintu sudah kembali


tertutup, suasanya menjadi begitu canggung. Velicia kembali menghampiri Sehan


yang masih duduk diam di sofa, dan Velicia duduk di samping Sehan. Seketika


Sehan segera memeluknya erat.


“Velicia, sungguh aku minta maaf padamu. Aku…..” Sehan


menggantungkan ucapannya.


Bagaimana caranya aku bilang padanya jika tadi


adalah hasratku sebagai seorang pria yang selama ini aku pendam. Memalukan kan,


atau malah dia nanti akan sangat membenciku karena aku begitu mesum.


“Ka Sehan, apa yang kamu bicarakan. Em…baiklah aku ambilkan


cemilan ya untukmu.” (mengalihkan pembicaraan)


Ya tuhan, bahkan jika dibahas itu akan jadi


pembahasan yang memalukan kan. Aku juga tadi entah kenapa tidak bisa


menolaknya. Apa karena aku juga masih mencintainya? Tapi bukankah ini terlalu


dini, aku bahkan baru saja menjadi janda.Ucap velicia dalam hati. Dan wajah Velicia seketika memerah dan begitu


malu jika mengingat adegan yang baru saja terjadi.


“Velicia, aku mau pulang saja. Aku masih ada urusan


lain.” (buru-buru pamit menahan malu)


“Baiklah ka, hati-hati dijalan.” (sangat malu)


Betapa canggungnya keduanya mengingat apa yang baru


saja terjadi. Setelah Sehan pulang, Velicia segera naik ke kamarnya dan membanting


tubuhnya ke kasur, menutup wajahnya dengan bantal dan masih membayangkan adegan


yang tadi terjadi dengannya dan Sehan. Betapa memalukannya saat dia mengingatnya


kembali. Dia yang lagi-lagi membayangkan momen demi momen hal yang membuatnya


begitu malu namun tak kunjung juga bisa dia lupakan.


Saat menatap mata birunya yang bersinar, merasakan hembusan


nafas dari Sehan yang begitu dekat, dan saat Sehan mulai menggila membuatkan


tanda di lehernya.


**Tunggu……tanda? Terasa panas di leherku.**Velicia segera melompat dari kasurnya dan memeriksa


lehernya yang sedikit sakit dan panas itu.


Astaga,…..Bagaimana ini? Duh sangat memalukan. Aku


harus memakai baju yang tertutup bahian lehernya besok ke kantor. Ya tuhan


bagaimana bisa ka Sehan menjadi begitu seperti Vampir. Aiyah…..aku malah seperti


terlihat begitu senang, apa yang terjadi padaku sekarang. Aku bahkan seorang


janda sekarang. Sudahlah, sudah. Memalukan sekali.


Velicia begitu bengung menghadapi kejolah jiwanya yang


begitu membingungkan ini, Velicia hanya bisa berperang dalam hatinya.


Sementara disisi lain.


Sehan di rumahnya tak henti-hentinya memikirkannya,


dia sangat menyesali dirinya yang lepas control ketika bersama dengan Velicia. Entahlah


saat ini dia malah berfikir bahwa dirinya telah begitu jahat pada Velicia.


Sehan terus mengingat momen demi momen yang membahagiakan itu, Sehan


mengingatnya tentu saja dengan bahagia dia lagi dan lagi terus mengingatnya.


Saat mencium lembut bibir Velicia yang manis itu,


melumat habis bibirnya yang semakin dalam semakin terasa begitu manis bahkan


mengalahkan manisnya gula. Rasanya begitu nyaman dan begitu menggairahkan


membuat semua sarafnya meregang kala itu. Juga saat tangannya mulai bergerak


menyentuh bagian yang hangat juga begitu kenyal dan lembut besar.


Juga dia mengingat betul jika leher wanitanya itu juga


terasa begitu wangi dan manis, hingga membuatnya begitu tergiur untuk mencoba


meninggalkan bekas rajahannya. Mengingat kembali betapa memabukkannya tubuh


wanita yang sangat dicintainya itu.


Aiyah…..Bahkan aku begitu mesum sekarang padanya, bisa-bisanya


aku bahkan membayangkannya kembali dengan penuh kemesuman. Aku nampak seperti


om-om mesum di tempat prostitusi. Entah apa yang merasukiku saat itu. Aku


memang menginginkannya, tapi harusnya aku bersabar sedikit. Malah aku begitu


mesum padanya hari ini, entah bagaimana nanti dia bisa memaafkanku setelah


ini.


Sehan yang tak kalah bingung pada dirinya yang telah


lepas kendali it uterus saja memikirkan dan membayangkan berapa nanti dirinya


bisa mempertanggung jawabkannya pada Velicia. Apakah Velicia akan begitu marah


padanya. Bahkan membayangkannya saja telah begitu membuatnya begitu takut dan


ngeri.


Hari ini nampaknya begitu panjang, dengan segala yang


telah ternyadi, Velicia yang telah diperebutkan dua laki-laki yang sama-sama


tidak pernah berhenti berjuang untuknya. Entah siapa yang nantinya dapat


memenangkan hatinya kembali. Keduanya memiliki watak yang berbeda begitu signifikan,


namun keduanya sama-sama pernah berada di masalalu Velicia dan pernah ada di


dalam hatinya. Bukan tidak mungkin jika salah satu diantara dua laki-laki ini


akan terpilih atau akan tersakiti.


Namun ya, yang memilihnya nanti tentu saja Velicia.


Velicia yang begitu keras dengan pendiriannya dan begitu tegas pada sikapnya.


Sehan tau betul seperti apa Velicia itu, mengingat momen yang mereka berdua


habiskan telah banyak sekali bahkan belasan tahun mereka telah begitu saling

__ADS_1


mengenal satu dan yang lainnya.


Ya, siapa yang tau cinta itu akan menjadi seperti apa.


__ADS_2