KONTRAK DAN TAKDIR CINTA

KONTRAK DAN TAKDIR CINTA
Melepaskan


__ADS_3

15


***Melepaskan***


Malam semakin larut, namun Velicia tetap terjaga


memandangi langit malam yang penuh dengan bintang juga begitu mempesona.


Seketika pandangnya melayang jauh menerobos angannya terbang bebas bersama


dengan bintang-bintang. Membayangkan kebahagiaan yang telah dia ciptakan dalam


mimpinya. Bertemu pangeran yang mencintainya dengan segenap hati dan hidup


bersama dengannya menjadi sebuah keluarga yang utuh juga bahagia.


Seketika saja matanya mengeluarkan air matanya yang


bercucuran, mengingat kembali jika dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang


janda tanpa anak. Seketika itu pula dia seperti terjerembab jatuh kedalam air


laut yang amat dalam membuat lukanya memerih dan begitu sakit bagaikan seribu


kali sayatan kemudian disiram air garam.


Kelam, sakit, pilu, kecewa, menyeruak menjadi satu


dalam tangisannya malam ini. Sekian lama dia mencoba kuat dan tergar dihadapan


semua orang, dan mala mini dia melampaui batas kuatnya menangis sekali lagi


untuk melatihnya kuat sekali lagi. Tidak mudah, sungguh tidak mudah menjalani


kehidupannya saat ini. Rasanya sungguh berat seperti memakai kostum besi dengan


berat ber ton-ton. Bahkan untuk berdiri saja rasanya begitu berat.


Sudah cukup tangisan ini, aku akan kebawah untuk


mengambil minum. Rasanya mala mini aku benar-benar tidak bisa tidur memikirkan


semua hal yang harusnya sudah tidak perlu difikirkan lagi.Velicia bergumam, lagi-lagi menguatkan hatinya yang


harusnya sudah mulai mereda sakitnya. Dia lalu turun ke bawah untuk mengambil


minumnya.


Velicia turun menuruni tangga dengan sangat pelan agar


Sehan tidak mendengar langkah Velicia dari kamar Sehan. Lalu sampainya di ujung


tangga bawah dilihatnya TV yang masih menyala, juga laptop Sehan di meja ruang


TV itu. Dan Velicia mendekati sofa yang hanya terlihat punggungnya itu,


seketika dia nampak kaget melihat Sehan yang terlelap tanpa bantal dan selimut


tengah mengarungi mimpinya dengan tubuhnya memenuhi sofa panjang itu.


Jelas saja tubuhnya terbenam di dalam sofa panjang itu


dan tak terlihat sama sekali dari balik tadi dia berdiri di ujung tangga.


Velicia segera bergegas ke kamar tamu di bawah tangga itu dan mengambilkan


selimut untuk Sehan, lalu menyelimuti Sehan hingga ke dada dan sejenak melihat


wajah Sehan yang begitu tampan dengan wajah seriusnya ketika tertidur. Velicia


tersenyum lebar melihat pemandangan itu, Sehan yang baginya begitu lucu saat


tertidur.


Sinaran mentari telah bertengger di atas sana, sudah


sekian jam telah menggantikan kegelapan. Cahanya yang menyebar ke segala


penjuru memberikan banyak sekali kehidupan, sinarnya yang menyilaukan mata


membangunkan Sehan dari peraduannya. Seketika Sehan terbangun dan mendapati


dirinya yang ternyata tertidur di sofa dan berbalut selimut putih. Seketika dia


mengingat semalam, dan dia langsung tau siapa yang memberikan selimut ini


padanya. Sehan tersenyum lebar dan segera bergegas bersiap ke kantornya.


Sementara Velicia tengah sibuk menata rambutnya di


depan ccermin, memakai anting dan kemudia memoles bibirnya yang mungil itu


dengan lipstick warna natural. Dilihatnya jamdinding kamarnya kemudian segera


bergegas turun membawa sepatu dan tasnya ikut turun bersamanya.


Dia turun ke bawah, dan di tengoklah ke ruang TV Sehan


tak lagi ada di sana kemudia segera dia menebak pasti Sehan tengah bersiap


berangkat. Terlihat juga ada pelayan rumah ini yang tengah sibuk kesana kemari


membersihkan seluruh isi rumah. Velicia juga segera ke dapur membuatkan 2


sarapan untuknya dan Sehan. Tentu saja sarapan yang sangat sederhana hanya 2


piring telor ceplok dan juga 2 gelas susu putih dan coklat.


Velicia menyantap sarapannya lebih dulu karena


terburu-buru, sementara Sehan belum juga kunjung turun ke bawah. Jadi Velicia


tak mau menunggu lama Sehan dan segera berangkat bekerja. Dia hanya menitipkan


pesan pada Nesi pelayannya untuk memberitahu Sehan agar Sehan sarapan makanan


yang telah dia buatkan sebelum ke kantor.


Seperti biasa, Velicia naik kendaraan umum menuju ke


kantornya dengan langkah yang terburu-buru dia berjalan menyusuri jalan komplek


menuju halte. Tidak jauh hanya beberapa menit saja dari rumah tempat


tinggalnya.


Dikantor, seperti biasa. Aktifitas yang lumayan padat


dan berkecimpung dengan berkas-berkas yang seperti gunung. Dia tidak kerjakan


sendiri tentunya, dia bergotong royong dengan rekan kerja lainnya. Namun tetap

__ADS_1


saja rasanya begitu sibuk dan begitu membuat pusing dirinya, apalagi hari ini


pa Henry tengah dalam mood tidak baik. Jadi semua kena semprot meski dalam


kesalahan kecil namun tetap saja ketika pa Henry yang sudah marah seisi kantor


akan kelimpungan sendiri. Dan ya, siapa lagi kambing umpannya kalau bukan


Velicia. Perasaan pa Henry yang bukan lagi rahasia itu, dan mereka mendorong


Velicia agar membuat mood pa Henry kembali membaik.


Dan ya, semua tugas menghadap pa Henry hari ini


menjadi tugas Velicia.


“Vel, nih tolong kasih berkas ini ke pa Henry.” Rekan


kerja meminta tolong. Iyah hampir semua yang menghadap pa Henry hari ini adalah


tugas Velicia.


Tapi benar saja, Velicia satu-satunya orang di hari


ini yang terlepas dari amukan pa Henry. Yah meskipun raut mukanya masih merah


padam namun setidaknya kata-kata amarnya tidak keluar dari mulut pa Henry saat


Velicia yang menghadap padanya.


Terang saja, perasaan cinta memang bisa membuat orang


gagal berfikir atau bahkan amnesia akut.


Pulang kerja.


Saatnya menepati janji bertemu dengan yang akan


menjadi masa lalu. Velicia segera merapikan mejanya dan pergi meninggalkan


kantor yang sudah mulai sepi itu.


Dia berjalan menaiki bus untuk menuju Caffe tempat


bertemu, yang letaknya sebenarnya tak jauh dari kantornya namun juga akan memakan


waktu juka berjalan kaki, letaknya berjarak 1 halte saat menaiki bus.


Sampainya di Caffe, pandangnya memutar mengelilingi


seluruh sudut caffe yang luas itu. Caffe itu ramai sekali, ramai dengan


orang-orang lengkap berbaju rapih pegawai kantor. Wajah-wajah lelah mereka


tergambar jelas tapi juga mereka bahagia bercengkrama dengan para sahabat,


kekasih juga kerabat. Suasana caffe yang begitu hangat dibanding di luar yang


dingin, pandangan Velicia masih mencari. Mencari sosok yang akan dia temui sore


ini, sutelah lama dia mengelilingi akhirnya dia temukan sorang laki-laki dewasa


yang duduk termangu memandangi map coklat yang terbungkus rapih di tangnnya dan


secangkir kopi yang ada di hadapannya. Terang saja Velicia begitu lama


mencarinya yang duduk memojok dengan map coklat itu yang menutupi seluruh


wajahnya dari kejauhan.


seketika Hans segera melihat ke arah sumber suara dan meletakkan map itu di


atas meja. Sedangkan Velicia duduk di depannya dengan santai dan memesan


segelas kopi.


“Gak ko.” Hans menjawab dengan setelahnya meneguk


kopinya dan segera memberikan ekspresi kepahitan yang ada di dalam cangkirnya.


“Kalo gak tahan dengan pahit, kenapa memesannya?”


Velicia yang segera tau segera angkat bicara.


“Aku hanya sedang belajar menyukainya, karena hidupku


sekarang tak jauh beda dengan secangkir ini.” Matanya menerawang tak mau


memandang ke arah Velicia.


“Ayolah, berhenti meminta belas kasihan orang lain.


Kamu yang telah memilih ini.” Velicia berucap dengan tenang.


“Vel, sungguh tak adakah kesempatan sekali lagi?” Hans


menggenggam tangan Velicia dan mulai memohon.


“Berhentilah untuk katakana itu, semua sudah


terlambat. Asal kamu tau, semua yang telah hilang di dalam hidup ini tidak


mudah untuk membuatnya kembali.”


“Kamu benar, tapi bukan tidak mungkin kan untuk


mengembalikannya? Aku akan terus berjuang, mengembalikan segalanya.” Hans


bersemangat tiba-tiba.


Vel, aku benar-benar masih mencintai kamu sampai


kapanpun. Aku benar-benar gak rela kamu pergi. Tapi aku gak akan menyerah dan


akan terus mengejar cinta darimu.


“Jika memang takdir masih ingin menyatukan kita,


biarlah itu terjadi. Namun jika memang kita ditakdirkan untuk tidak bersama,


kumohon agar kamu mengerti. Tidak semua yang ada di muka bumi ini bisa kita


kendalikan.” Velicia menjelaskan.


Di dunia ini tidak ada yang kekal, cinta pun begitu


Hans. Hati dan fikiran manusialah yang sangat mudah berubah, kita tidak pernah


tau kedepan akan bahaimana menjalani hidup. Sungguh jika harus bersamamu saat


ini aku menolaknya, Mungkin bercerai adalah yang terbaik jika memang semesta

__ADS_1


akan menyatukan kita, kita pasti bersatu.


“Baiklah, aku akan terima jika memang takdir tidak


mengizinkan kita bersama kedepan. Tapi aku akan berusaha.” Hans kembali semangat.


“Aku harus pulang, selamat tinggal dan sampai jumpa


Hans.” Velicia bangkit dari duduknya dan segera pergi membawa berkas yang dia


inginkan.


Hans memandangi Velicia berlalu dan kesedihannya masih


menyeruak, dadanya sesak melihat Velicia pergi menjauh darinya. Ingin menagis


tapi Hans begitu gengsi untuk menitikan air matanya.


**Dirumah.


“Baru pulang? Mandilah lalu ayo kita makan.” Sehan


menyambutnya dengan penuh senyuman, Sehan sedang merapikan meja makannya untuk


makan malam. Masih memakai clemek masaknya yang bunga-bunga itu, Sehan terlihat


begitu gagah meski memakai clemek ala ibu-ibu di dapur. Dengan kemejanya yang


masih rapih dengan lengannya yang dilipat, kemeja birunya yang melekat pas di


tubuhnya yang kekar dengan otor-otot tangannya yang terlihat merapikan


piring-piring di meja makan itu. Lalu kakinya yang jenjang dengan celana bahan


khas kantoran serta sendal rumahnya yang berbulu itu. Rambutnya yang disisir


kebelakang namun masih terlihat beberapa helai yang turun menutupi keningnya,


bibirnya yang terlihat mempesona saat tersenyum, juga mata biru air lautnya


yang tajam dan berkilau. Garis wajahnya juga nanterlihat jelas. Laki-laki


sempurna idaman para wanita.


“Oke, aku ke aras dulu.” Velicia naik ke atas dan


terus di pandangi Sehan sengan seksama. Rambutnya yang panjang terurai dan


hanya di ikat setengah terombang-ambing mengikuti gerak tubuhnya. Rambut


bergelombang nan lembut selembut sutra, juga tubuhnya yang mungil berbalut


kemeja pinknya dan juga rok sepannya se lurut yang memberikan garis jelas lekuk


tubuhnya dari samping ataupun belakang yang akan menggoda siapapun yang


melihatnya.


**Diruang makan.


Velicia yang duduk tepat di depan Sehan dan mulai menyantap


makanannya yang bermacam-macam menu itu.


“Ada apa nih kayanya ada yang spesial.” Velicia yang


menyadari makan mala mini tidak biasa segera bertanya.


“Ada kabar baik yang pasti akan buat kamu senang.”


Sehan segera membuat Velicia penasaran.


“Apa? Coba beritahu aku segera.” Velicia dengan


semangat ingin tahu.


“Aku baru saja dapat kabar jika adikmu sudah mulai


sadar, dan kamu bisa pergi kesana segera menemui Alicia.” Sehan segera


memberikan kabar baik.


“Benarkah? Ka Sehan terimaksih.” Velicia segera menggapai


tangan Sehan dan menggenggam erat tangan itu dan berterimakasih sampai


menitikan air matanya.


“Hei….jangan menangis.” Sehan membasuh air mata di


pipi Velicia dengan tangannya.


“Aku sangat bahagia ka.” Velicia memegang tangan Sehan


yang menyentuh pipinya tadi menggenggamnya dan mendekatkan tangan Sehan ke


pipinya dan memeluk tangan kanan Sehan itu diantara pipi dan bahunya.


“Aku juga bahagia.” Sehan tersenyum lebar sekali ikut


bahagia bersama Velicia.


Hingga malam itu ini berubah menjadi malam yang penuh


kebahagiaan dan Velicia sejenak melupakan masalah yang telah menyita banyak


waktunya. Hingga biarkan malam ini begitu panjang agar ada banya waktu pula


untuknya bahagia sejenak dan melepaskan segala beban kepedihan karena cintanya.


Biarkan kesedihan dan cintanya menguap seperti embun


dan hilang termakan waktu, biarkan habis hujan muncul pelangi, dan badai pasti


akan berlalu. Biarkan segalanya mengalir dari permukaan yang tinggi ke


permukaan yang rendah dan terus mengalir seperti air saja.


Tak peduli berapa banyak kerikil yang akan menghalangi


jalanan asalkan tetap bersama dengan keluarganya, bersama dengan Alicia adiknya


yang kini sudah mulai pulih. Biarkan saja cintanya yang membingungkan ini


terlupakan asal cintanya pada adiknya akan terus bersemayam.


Biarkan saja segalanya menjadi berubah asalkan kasih


dan sayang adiknya tidak akan pernah berubah. Alicia, Alicia dan Alicia lah


yang terpenting baginya saat ini.

__ADS_1


Kini telah tiba saatnya dimana memang harus melepaskan


yang sudah bukan lagi miliknya, serta merelakan takdir ini berbicara.


__ADS_2