
**Cuaca di desa ini sungguh sangat berbeda dengan tempat yang aku kunjugi walaupun matahari mulai berada diatas kepala namun kesejukan masih tetap terasa**
(Ruang Kumpul)
"Adit tadi kenapa Mir, sepertinya Adit kesal ya?". *kata Fathur bertanya*
"Iya Mir, Adit kenapa?". *ucap Ayu bingung*
"Tadi di games, terjadi sesuatu yang menyebabkan Adit salah paham kepadaku". *jawabku serius*
"Emangnya ada apa diantara kalian?". *kata Ayu kepo*
"Panjang ceritanya, btw Adit kemana?". *ucapku mengalihkan pembicaraan*
"Entah, mungkin Adit lagi ke tepi sungai untuk menenangkan pikirannya". *kata Anton*
"Ooiya sudah, aku kesana dulu ya. Takutnya Adit kenapa-kenapa lagi". *jawabku lalu pergi*
"Okey, Mira hati-hati yah?". *ucap Nabila tiba-tiba muncul*
"Iya, makasih semua". *kataku tersenyum*
"Fighting Mira". *semua*
(Tepi Sungai)
"Adit, kamu kok disini? Ayo kita pulang?". *kataku menghampiri Adit*
"Kamu pulang aja, aku ga mau diganggu siapa-siapa dulu". *ucap Adit santai*
"Adit kamu kok gitu?". *jawabku duduk disamping Adit*
"Ga usah dekat-dekat deh, sana kamu ke Arya aja". *kata Adit membentak*
"Adit, aku bisa jelasin. Ini semua ga seperti yang ada di dugaanmu, kamu percayakan sama aku?". *kataku menjelaskan*
"Aku tau kok, kamu pasti sudah menyukai Arya kan? Karena dia ketua Osis dan juga lebih berkuasa jadi kamu lebih milih dia daripada aku. Begitu?". *ucap Adit marah*
"Adit, itu semua salah. Aku ga menyukai Arya, aku cuma menyukai kamu dan kamu. Itu aja ga ada yang lain". *jawabku menjelaskan*
"Terus tadi itu apa? Menurutmu aku salah lihat gitu? *kata Adit jealous*
"Percaya Aku Dit, itu semua salah paham aja. Arya cuma mau kalo teamnya menang, jadi terus menahanku untuk tetap disampingnya". *kataku terus menjelaskan*
"Iya, tapi kan kamu bisa jaga jarak sama Arya bilang ke dia ga usah pegang-pegang terlebih lagi pegangan tangan. Aku ga suka liatnya". *jawab Adit mulai meredah*
"Ciee yang cemburuan". *ucapku meledek*
"Jadi tambah gambek nih". *kata Adit mulai mengancam*
"Iyaiyah, cieee". *kataku tertawa*
"Pokoknya janji yah, kamu ga boleh lagi dekat sama dia? janji?". *ucap Adit memberi jari kelingkinya*
"Iya Dit, janji". *kataku membalasnya*
**Adit pun percaya akan semua yang aku katakan barusan, sebab dia menyentuhku dan menggunakan kekuatannya itu untuk sekaligus mengintrogasiku**
"Okey, aku percaya kok". *ucap Adit membuka matanya*
"Iya harus percaya dong, lain kali jangan langsung pergi dulu. Jangan membuat orang lain cemas kek gini". *jawabku tersenyum*
"Iyaiya bawel". *kata Adit mengelus kepalaku*
"Aku tau, sebenarnya kamu percaya karena telah melihatnya kan?". *kataku serius ke Adit*
"Tidak, aku tak mencoba melihatnya kok apa lagi membacanya. Serius". *ucap Adit kaget*
"Itukan bener, jangan berbohong. Bertingkah aneh seperti ini membuatku makin percaya kalo kamu memang telah membacanya". *kataku menyakinkan Adit*
"Iyaiyah, mau gimana lagi kan udah kejadian. Maap". *ucap Adit mengakuinya*
"Adit, Adit. Dasar kamu itu tak pandai bohong, buktinya baru gini aja udah ketahuan gimana sih". *jawabku tertawa*
"Dasar aku". *ucap Adit tersenyum*
"Jadi mau pulang ato tinggal disini?". *kataku berdiri menarik tangan Adit*
"Iya mau pulang dong, laper nih". *jawab Adit berdiri bergegas ke villa*
__ADS_1
(Di Perjalanan)
"Mira, apakah kamu masih terus melihatnya". *ucap Adit bertanya*
"Melihat apa? Aku ga paham Dit". *jawabku balik bertanya*
"Masalah kekuatan itu? Hantu?". *kata Adit memperjelas*
"Ooiya tentang itu, aku masih mekihatnya disini juga ada kok". *jawabku tersenyum*
"Loh, kamu dah ga takut Mir?". *ucap Adit serius*
"Yah ga dong, kan ada kamu disamping aku". *kataku menunjuk Adit*
"Kamu belajar dari siapa, sampai bisa bilang kek gitu". *ucap Adit tersenyum*
"Kamu, kan kamu yang sering bilang begitu kalo aku lagi takut". *jawabku tertawa*
"Ooiyayah lupa, tandanya Mira sudah banyak tahu tentang aku yah?". *ucap Adit*
"Iya gitu deh, sebenarnya berkat Nabila dan Sarah juga sih jadinya aku perlahan mulai berubah seperti ini". *kataku tersenyum*
"Kalo gitu, kalo bertemu nanti aku langsung memarahi mereka. Soalnya mereka berani membuat pacarku makin cerewet kek gini". *ucap Adit bahagia*
"Jangan Dit, kasihan Nabila dan Sarahnya. Kamu ga boleh begitu, mereka semua tadi sudah mencemaskanmu juga". *kataku*
"Iyaiyah, jadi nanti harusnya itu aku yang berterima kasih ke mereka semua karena telah mencemaskanku. Begitu?". *jawab Adit*
"Kurang lebih seperti itu sih, tapi sepertinya ga usah Dit karena itu bukan sikap aslimu". *kataku memperingati*
"Kalau pun disuruh pergi mengambilkan duri, aku gapapa kok. Selagi kamu bahagia, aku pasti melakukannya". *ucap Adit tersenyum*
"Adit, ga boleh bilang kek gitu aku bisa mewek nih". *jawabku terharu*
"Perempuan semuanya emang kek gitu yah, baru di gombal dikit. Bukannya bahagia eh malah tambah nangis". *ucap Adit*
"Semua? Wah wah kamu sudah kelewatan Dit, emangnya sudah berapa banyak perempuan yang kamu gombal?". *ucapku serius*
"Baru sedikit, munkin 4 ato 5 orang". *kata Adit menghitung jari*
"Siapa aja, pasti termasuk Puteri kan?" *jawabku bertanya*
"Terus siapa lagi kalo bukan dia, jadi maksud kamu teman sekolah yang lainnya? Adittt". *ucapku makin serius*
"Ga gitu Mira, kamu salah paham. Dasar kamu ini denger dulu". *kata Adit menenangkan*
"5 orang itu : Ibu aku, Bundaku (saudara ibu Adit), Nadia (adik Adit), Sarah dan terakhir Mira. Seingat aku baru itu". *kata Adit sweet*
"Bener cuma itu baru itu, awas kalo kamu boong ada Sarah disamping aku". *ucapku memperingati Adit*
"Iya bawel, tau kok". *kata Adit tersenyum*
"Berarti kalo itu jawabannya, berarti kamu ga suka Puteri yah?". *kata kembali bertanya*
"Iya gitu deh, aku cuma sukanya sama Mira bukannya Puteri". *Adit memberi kedipannya*
"Kok bisa? Bukannya Puteri sangat menyukai kamu mulai dari kelas 7?". *kataku heran*
"Ga suka aja, soalnya Puteri itu orangnya suka marah, sok pintar tapi memang pintar sih, dan masih banyak lagi". *Adit bingung*
"Terus kalo sama Mira, gimana ceritanya kok bisa suka?". *ucapku penasaran*
"Yah suka aja sih, emangnya kalo suka sama seseorang harus punya alasan Mir?". *kata Adit*
"Ga juga sebenarnya, tapi kebanyakan orang jika menyukai sesuatu pasti memiliki alasan tertentu". *jawabku tersenyum*
"Mir itu kata orang lain, beda sama aku yang menyukaimu tanpa harus ada alasan khusus". *Adit kembali tersenyum*
"Ooiya, paham kok". *ucapku membalas senyum Adit*
"Okey, terus alasan kamu menyukai ku apa?". *kata Adit penasaran*
"Ga pake alasan khusus juga sih, rasa itu cuma muncul begitu saja". *jawabku mulai meyakinkan Adit*
"Iya, begitu pun aku". *kata Adit memengang tanganku*
**Kami telah sampai di Villa, melihat siswa lainnya telah berkumpul di ruang tengah untuk makan siang, aku dan Adit langsung bergabung**
(Ruang Tengah)
__ADS_1
"Dit, kamu kemana aja?". *ucap Puteri cemas*
"Ga tau, jangan urusi kehidupanku lagi". *kata Adit tegas*
"Kamu marah yah Dit? Semua perkataanku yang tadi itu. Itu cuma bercanda kok serius". *jawab Puteri meyakinkan Adit*
"Aku ga butuh penjelasan dari kamu kok, itu semua ga penting". *ucap Adit kesal*
"Adit, kamu kok gitu sama aku?". *jawab Puteri*
"Puteri stopp, tandanya Adit ga mau diganggu gimana sih katanya terpintar di seangkatan masalah gitu aja ga paham". *ucap Sarah*
"Lu ngomong apa barusan Sarah? Kalo ga tau situasi ga usah bicara deh lu". *kata Eva emosi*
"Kenapa emangnya? Semua itu benar kok, lu marah? Sini maju kalo kalo berani". *kata Sarah mulai emosi*
"Sini lu sini, maju dong". *kata Eva melangkah*
"Sudah sudah apa-apaan sih kalian ini, ga malu apa diliatin sama siswa lainnya ingat kelas itu masuk unggulan jadi ga boleh terlihat seperti ini". *ucap Arya melerai*
"Arya tapi kan Sarah yang diluan". *kata Eva*
"Iya tapi kan tetap aja itu kalian berdua, stopp pokoknya jangan bertengakar lagi kek anak kecil aja kalian ini". *jawab Arya tegas*
"Okey, aku diam kok". *kata Eva mengerti*
**Ibu Dinda (pemasak villa) datang ke ruang tengah memberitahu kalo makan sudah siap untuk dimakan bersama**
"Nak Arya, makanan sudah siap di ruang makan". *ucap Ibu Dinda memberitahu*
"Siap buk, kami akan segera ke sana". *jawab Arya"
"Ini siapa nak Arya?". *kata ibu Dinda menunjukku dan Adit*
"Ooiya, aku Adit buk dan ini pacarku Mira". *ucap Adit menjawab*
"Kalian semalam masuk ke hutan yah?". *kata ibu Dinda*
"Iya buk, kok tau sih? Ooiya pak Saleh bilang ke Ibu yah?". *ucap Adit serius*
"Ga cuma nanya aja nak, kalian berdua harus berhati-hati yah?". *kata ibu Dinda serius*
"Loh buk, kok bilang gitu?". *jawab Adit heran*
"Ibu harap kalian harus cukup berhati-hati aja, sepertinya akan ada bahaya yang mulai akan menghampiri kalian". *ucap ibu Dinda serius*
"Ooiya buk, baiklah kami akan berhati-hati. Terima kasih buk atas perhatiannya". *kata Adit tersenyum*
"Baik ibu langsung pulang dulu yah, sebentar sore ibu akan kembali lagi untuk memasak". *kata ibu Dinda memberitahu*
"Hati-hati di jalan yah buk". *semua siswa*
"Iya, harap semua makanan dihabiskan yah". *ucap ibu Dinda bergegas pergi*
"Siap buk". *semua*
"Okey, karena semua tadi sudah mendengar perkataan ibu Dinda maka mari semua kita bergegas ke ruang makan". *ucap Arya tegas*
**Semua kini berada di ruang makan dan juga telah mencampur semua makanan di atas piringnya kemudian bergegas mencari tempat untuk segera menyantap makanan tersebut**
(Ruang Makan)
"Mira, kamu makan yang banyak yah". *ucap Arya memberikan lauk*
"Iya Arya, terima kasih". *jawab Mira santai*
"Ga usah perhatian ke pacar orang deh, kalo memang belum punya makanya segera cari jangan pacar gue yang lu perhatiin". *kata Adit jealous*
"Terserah guelah, kan ini tempat umum hak lu apa urus tingkah ketua Osis?". *jawab Arya*
"Okey serah lu, Mira sini kita kesana". *ucap Adit menunjuk ke arah samping tv bersama yang lainnya*
"Iya Dit, mari". *kataku bergegas ke sana*
**Berkumpul dan makan bersama menjadi hobbi kami selama liburan disini, sungguh waktu yang menyenangkan bisa berada di tempat ini bersama semuanya**
***
(For teman-teman) : "Jangan lupa baca, like, comment, dan vote sebanyak-banyaknya biar aku makin semangat meng-update setiap harinya".
__ADS_1
(Pokoknya sukses terus untuk kita semua)..