KU INGIN TAHU CERITA ITU

KU INGIN TAHU CERITA ITU
CERITA 17


__ADS_3

Tiya filia baru tiba di parkiran kantornya Luis ketika sebuah mobil datang berhenti di depannya, dan membuatnya sedikit takut, Tiya filia langsung waspada tapi kemudian dari dalam mobil muncul marko bosnya Luis, dia kemudian mendekati tiya filia sambil tersenyum ramah.


"halo nona Tiya.. selamat pagi, ayo naik..kita akan ke suatu tempat terlebih dahulu. ayo silahkan" kata marko membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Tiya filia naik ke dalam mobil. Didalam mobil Tiya filia tak melihat siapapun, dia terlihat ragu.


"ayo nona Tiya silahkan naik.. nggak usah kwatir.. kita hanya akan mampir ke suatu tempat terlebih dahulu, dan kemudian akan ke suatu tempat yang ku rasa nona tiya akan senang berada di sana.." kata marko lagi.


"apa hanya kita berdua pak marko? Luis nya nggak ikut?" tanya tiya filia dan keraguan terlihat jelas di wajahnya,


"belum. kalau sekarang luis belum akan terlibat dengan kita. luis masih sedang mengurus masalah lain yang lebih urgent. tapi kalau nona tiya takut saya akan memanggil luis ke sini.." kata marko dan terlihat serius. Tiya filia diam sebentar.


"eh.. nggak usah pak" kata Tiya filia dan dia langsung masuk ke dalam mobil. sebuah senyum tipis nyaris tak terlihat muncul di wajah marko saat dia menutup pintu untuk Tiya filia.


"kita akan mampir ke suatu tempat sebentar, baru kemudian kita akan pergi. Nona tiya tidak keberatan kan?"


"iya pak.." kata tiya filia berusaha terlihat santai padahal dia masih gugup. dalam hati dia menyemangati dirinya agar jangan gugup dan takut, kak Luis mempercayai pak marko dia juga harus percaya, pak marko juga terlihat bukan seperti orang yang kurang ajar pikirnya, dan dia perlahan mulai tenang. pak marko juga yang sedang mengendarai mobil terlihat tenang.


"nona tiya sudah sarapan?" tanya marko berusaha mencairkan suasana setelah mereka sebelumnya hanya diam saja.


"sudah pak.. saya terbiasa sarapan dulu sebelum jalan"


"oh.. kalau begitu untuk sarapan saya, kita membeli di take away aja.." kata marko dan bersiap menepi ke sebuah restoran yang berada didekat kantornya.


saat kembali marko membawa dua kotak tempat sarapan, dan meletakkan di tempat duduk di belakang mereka. Tiya filia ingin protes kenapa pak marko masih membeli dua kotak bukankah dia telah menolak untuk sarapan tadi.


"nona tiya yakin tak ingin sarapan lagi?"


"iya pak nggak usah.."


"oh ok.." kata marko dan dia kembali ke depan kemudi dan mulai mengendarai mobilnya lagi. Suasana didalam mobil kembali diam, tapi walau seperti itu tiya filia tampak lebih tenang. dan kira-kira setelah hampir setengah jam, mereka memasuki kompleks tempat apartemen mewah. DEG jantung tiya filia kembali berdetak kencang.

__ADS_1


"kenapa ke sini pak?" tanya Tiya filia sedikit panik.


"ayo turun nona Tiya, disini kita hanya mampir sebentar, skalian aku mau sarapan dulu disini" kata marko cuek setelah dia memarkirkan mobilnya dia langsung turun dari mobil dan mengambil dua bungkus sarapan yang telah dibeli sebelumnya. dengan ragu Tiya filia mengikutinya.


"pak marko boleh saya nggak ikut naik?" tanya tiya filia ragu. marko berhenti dan menatap Tiya filia lembut.


"jangan kwatir nona tiya.. saya laki-laki baik-baik. disini kita hanya menemui teman saya, dan juga saya harus sarapan kan.. kita nggak akan melalukan hal buruk, percayalah.." kata marko kembali meyakinkan tiya filia, tiya filia sebenarnya takut karna dari postur tubuh dia yang berukuran tubuh dengan tinggi 158 cm dan berat 47 kg terlalu kecil dibanding ukuran badan marko yang mempunyai tinggi kira-kira 180-an.


"jangan kwatir nona tiya.. saya punya keluarga dan juga punya harga diri serta nama baik yang harus ku jaga.." kata marko meyakinkan.


"maafkan saya pak kalau sedikit takut.." kata tiya filia pelan, marko hampir tertawa karna tadi yang dia lihat bukan sedikit takut, tapi terlalu takut.


awal Tiya filia merasa takut pada marko, tapi setelah berhasil meyakinkan Tiya filia kalau dia tak berbahaya, kenapa saat di depan pintu sebuah apartment dia menyuruh Tiya filia untuk berdiri agak jauh darinya, mungkinkah ini rumah istri dan anak-anaknya? atau mungkin kah selingkuhannya? tiya filia merasa aneh sendiri.


"masuk kak" kata sebuah suara dari dalam, setelah tadi marko beberapa kali membunyikan bel rumah itu.


pintu apartemen itu terbuka dan marko tersenyum pada Tiya filia.


"ada apa kak kenapa pagi-pagi kesini?" tanya pemilik rumah itu dan dia sepertinya sedang membersihkan rumah. DEG.. Tiya filia merasa kaget setelah mengetahui siapa orang itu, ternyata itu Prayoga, bukankah dia kemarin baru saja ditemuinya di dalam penjara? waaah.. betapa besarnya pengaruh uang dan koneksi pikir Tiya filia. dan dia juga merasa kagum dengan rumah prayoga itu, beginilah gaya hidup orang kaya, tapi kenapa dia sedang membersihkan rumah sendiri? dimana pembantunya?


"Prayoga apa yang kau lakukan? kenapa kau yang membersihkan rumah? kenapa tidak memanggil jasa pembantu?" tanya marko seperti bisa membaca pikiran Tiya filia.


"nggak apa-apa kak anggap saja olah raga, membakar kalori.." jawab prayoga santai dan dia tetap bekerja.


"apa yang harus di bakar, tubuh kurus kering kayak itu" protes Tiya filia tanpa dia sadari, dan ternyata itu mengagetkan Prayoga, dia jadi menyadari ternyata Marko tidak datang sendirian. Dia terpana menatap Tiya filia dan menjatuhkan alat pel yang sedang dipegangnya, dan bunyi alat pel yang jatuh itu membuatnya kembali sadar.


"kak kenapa ada dia?" tanya Prayoga menatap bingung kepada marko. sedangkan marko hanya melirik tiya filia sebentar dan berjalan ke meja makan, meletakkan makanan yang dibelinya tadi.


"kak?!.." kata prayoga lagi, dan dia mengejar marko seakan bersembunyi dan memaksa marko untuk menjawab.

__ADS_1


"dia?.. namanya Tiya filia, dia salah satu pegawai di kantor kakak, kami akan ke suatu tempat tapi mampir sebentar disini. Kamu sudah sarapan?" kata marko pura-pura tenang, padahal dia memang sengaja membawa Tiya filia ke tempat prayoga.


"kakak nggak bohong kan.. sejak kapan dia bekerja di..." kata Prayoga dengan suara pelan, dia menatap marko seakan tak percaya, tapi belum selesai dia bicara, Tiya filia telah menariknya agar melihat ke arahnya.


"hei.. apa maksudmu? kamu meragukan aku?" tanya Tiya filia tegas, dia juga menatap tajam Prayoga, tubuh prayoga yang tinggi tidak membuatnya takut, karna tubuh kurus itu akan mudah dia kalahkan pikirnya.


"nggak... maaf.. aku nggak berpikiran seperti itu.." prayoga tertunduk takut, dia hanya melirik pada Tiya filia, tak berani menatap langsung.


"Tapi tadi terdengar kau meragukan aku!!.."


"nggak itu nggak mungkin.. aku tau thii.. orang yang hebat" suara prayoga tercekat saat ingin menyebut nama Tiya.


"T i y a.. namaku Tiya.."


"tapi dulu kau bilang namamu Thi..thio"


"kamu bodoh atau apa sih.. mana mungkin aku seorang perempuan bernama thio, namaku Tiya.."


"tapi dulu kau bilang kamu laki-laki.." walau dengan suara pelan Prayoga tetap berusaha membela dirinya. sedang Marko tersenyum melihat perdebatan mereka. walau Tiya filia terlihat sedang memarahi Prayoga, tapi itu terlihat begitu lucu didepan marko.


"dasar bodoh.. waktu itu nyata-nyata aku berbohong.. kau bisa percaya, sekarang yang dikatakan pak marko kau tak percaya.."


"iya aku percaya.. sejak dulu aku tahu Tiya orang yang hebat dan berbakat, juga sangat cantik.."


"apa maksudmu?!.. jadi sekarang kamu berusaha merayuku?.."


"eh.. e.. enggak.. aku nggak merayu.. itu kenyataan.." tawa marko pecah mendengar perdebatan mereka.


"kak jangan tertawa.." Prayoga menatap kesal pada marko yang tertawa.

__ADS_1


"iya maaf.. maaf.. maafkan saya nona tiya.." kata marko berusaha menahan tawanya.


"pak.. saya minta maaf tak bisa menemani pak marko, saya akan disini karna ada yang harus aku bicarakan dengan Prayoga.." kata tiya filia,


__ADS_2