
"Apa-apaan itu..apa maksudnya kau akan membantu membujuk Prayoga. Tiya.. itu kerja sia-sia.. emang siapa kamu bisa membujuk Prayoga Novilus.. kakeknya aja tak berhasil." Protes Luis ketika mereka telah berada di dalam mobil.
"Dan ingat kamu telah berjanji, hanya satu kali bertemu dengan prayoga novilus, setelah itu kamu harus pulang, ibu dan ayahmu telah menunggumu" kata Luis lagi.
"kak luis, kak luis kan seorang pengacara, harusnya punya jiwa ingin tau kebenaran. aku penasaran dengan kasus itu kak" kata Tiya filia tenang.
"Kebenaran apa lagi tiya.. orang-orang seperti mereka itu kebenarannya bisa sangat menakutkan tiya.."
"aku hanya ingin tahu cerita itu kak" kata tiya filia sambil tersenyum memohon,
"ah sudah lah.. mau dibatalkan juga itu sudah tak mungkin.. sudahlah.. pokoknya kamu harus hati-hati.. dan kalau ada hal yang aneh kasih tau aku" kata Luis menyerah. dia melirik kesal pada tiya filia, tapi di sambut senyum cerah di wajah tiya filia.
Setelah Luis menurunkan Tiya filia di apartemen yang dia sewa, wajah tiya filia langsung terlihat sedih, dan ada ketakutan terlihat disana.
dengan lunglai setelah meneguk segelas air tiya filia langsung masuk kekamarnya, naik kekasur, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan mulai menangis, kesedihan yang sejak tadi di tutupinya dengan wajah ceria.
"ayah.. aku ingin ayah disini membantuku.. tapi itu nggak mungkin.. aku yakin itu kak thiyo ayah.. aku takut ayah..mengetahui cerita ini terlalu menakutkan ayah.. tapi itu kak thiyo.. tiya yakin ayah itu kak thiyo.." isak tiya filia dalam kesendiriannya. Thiyo filemon adalah saudara kembar identik tiya filia yang hilang pada saat dia berumur 7 tahun dan tak diketahui keberadaannya selama hampir 17 tahun.
__ADS_1
CERITA 11
Wajah prayoga novilus terlihat seperti hantu, diam dan muram, dia menghabiskan seluruh waktunya untuk bersedih, tak ada cahaya kehidupan yang dapat dilihat dimatanya, dia seakan mati tapi masih hidup. dengan lesu dia berjalan mendekat. Tiya filia yang datang bersama pak marko diminta untuk menjauh terlebih dulu, pak marko tak ingin membuat kejutan pada prayoga dan membuatnya menjauh.
Ketika Petugas membukakan pintu bagi Prayoga Novilus dan masuk ke ruangan yang di sediakan buat mereka bertemu, Tiya filia terpana, Prayoga telah berubah jauh dari yang dia ingat tujuh belas tahun yang lalu, dia sekarang tinggi, kurus, rambutnya agak panjang dan tak terurus, dahulu yang Tiya filia ingat Prayoga itu tubuhnya memang tinggi tapi tak se tinggi sekarang, berlemak dan rambutnya digunting menyerupai rambut tentara, hanya wajah muramnya yang terlihat sama hanya saja sekarang wajah muramnya berlebihan bahkan tak ada cahaya sedikitpun.
Tiya filia teringat kenangan saat mereka bertemu dulu, waktu itu dia dan saudara kembarnya masih berumur tujuh tahun dan diajak ayahnya ikut ke kantor karena ibunya sedang sibuk mengurus pemulangan jenasah kakaknya dan juga mengurus ayahnya yg berada dirumah sakit akibat kecelakaan tunggal. kakak ibunya mengantuk ketika mengendarai mobil dan menabrak pembatas jalan, mereka masuk ke jurang dan terhenti setelah menabrak pohon, kakak ibunya meninggal di tempat sedangkan ayahnya luka parah.
Waktu itu Tiya filia dan saudara kembarnya dibiarkan bermain disekitar kantor karna ayah Adam sedang sibuk juga dengan urusan kantor. tiya yang berjalan sendiri melihat prayoga novilus yang duduk diam dan hampir menangis, Tiya filia dengan riang mendekatinya dan berusaha menghiburnya tak lama kemudian mereka menjadi akrab, Prayoga Novilus yang sedang sedih dan kesepian menyukai keriangan dan keceriaan Tiya filia.
"S a d a r l a h Prayoga.. hidupmu masih panjang.. masih banyak hal yang bisa kau lakukan.." kali ini suara pak marko lembut membujuk, setelah tadi sempat diam untuk sesaat. tapi itu tetap saja tak berpengaruh pada Prayoga Novilus.
"Prayoga.. kumohon sadarlah.. sadarlah.. bangunlah dan hiduplah seperti dulu, dunia ini indah.. please sadarlah.." kata pak marko lagi, kali ini dia meremas pundak prayoga. dan itu ternyata mendapat respon dari prayoga, sebuah senyum kecut tipis nyaris tak terlihat disudut bibir prayoga, dan dia menatap pak marko.
"Tak ada gunanya aku hidup kak.." kata prayoga pelan, dan dia sambil menepis tangan pak marko dari pundaknya hendak berdiri.
"Duduk dulu..ada yang ingin ku perkenalkan padamu" kata pak marko tegas, dan seakan mendorong prayoga duduk.
__ADS_1
"Prayoga kau dengar yang ku katakan?! ada seseorang yang ingin ku perkenalkan padamu" kata pak marko lembut, dia menatap Prayoga berharap ada reaksi.
"Kau pasti akan menyukai dia.. dia baik dan manis" tambah pak marko. tapi reaksi Prayoga novilus tetap sama, dia tak bereaksi sama sekali seakan-akan tak mendengar apa yang dikatakan pak marko.
P r a y o g a.. please.. angkat kepalamu dan lihatlah siapa yang ingin ku perkenalkan padamu" bujuk pak marko lagi, tapi lagi-lagi tak mendapat respon dari prayoga.
"Prayoga.. lihat dia.." kata pak marko dan kali ini dia memaksa mengangkat wajah Prayoga yang tertunduk untuk melihat Tiya filia. Tiya filia juga telah berdiri di dekat pak marko.
"lihat dia.." paksa pak marko agar Prayoga melihat Tiya filia, beberapa kali terjadi perlawanan tapi akhirnya Prayoga sempat melihat Tiya filia sekilas dan DEG.. Prayoga kaget dan menatap Tiya filia, matanya yang kosong terlihat kaget, tapi sayang hal itu tak berlangsung lama, kali ini Prayoga tak hanya tertunduk diam tapi dia langsung berdiri dan hendak meninggalkan pak marko dan Tiya filia masuk kembali kedalam penjara.
Tiya filia yang melihat itu berusaha menahan Prayoga,
"Heeeiiii.. tunggu.. kita belum bicara.." Tiya filia berusaha menahan tangan prayoga, tapi dengan kasar prayoga menepis tangannya, dan berlalu tak peduli.
"HEI BRENGSEK!! jangan pergi.. kau telah membunuh saudara kembarku.. Heeeiiiiiii!!!" teriak Tiya filia, dia ingin mengejar sampai kedalam tapi dilarang oleh petugas dan pak marko.
"Sudahlah nona Tiya.. tadi sepertinya dia kaget melihatmu, jangan dipaksa dulu..kita harus sabar.. kita akan datang kembali.. mudah-mudahan dia sudah bisa lebih bisa menerimamu..." kata pak marko membujuk, Tiya filia terdiam, masih kecewa dengan sikap Prayoga novilus, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa, dalam hatinya dia marah dan kecewa. sepanjang jalan pulang, di dalam mobil Tiya filia hanya diam tapi dalam hatinya telah bertekat.. apapun dan bagaimanapun dia harus mengetahui semua cerita ini.
__ADS_1