KU INGIN TAHU CERITA ITU

KU INGIN TAHU CERITA ITU
CERITA 29


__ADS_3

Adam sedang memimpin rapat karyawan ketika putrinya menelpon.


"Halo.. ya sayang.. ayah lagi memimpin rapat, ibumu baik-baik saja kan?" jawab adam ketika mengangkat hpnya.


"ayah.. ayah tahu prayoga pergi kemana?" tanya tiya filia.


"kenapa tanya ayah, bukankah dia pacar kamu.. harusnya kamu tahu kan kemana dia" jawab adam sambil tersenyum dan meminta maaf pada para karyawannya. adam sengaja berkata seperti itu karna dia beberapa kali sempat mendengar para karyawannya bergosip soal putrinya.


"AYAH!!..siapa yang pacarnya. aku nggak tahu anak itu kemana makanya tanya ayah. kemana sih dia? Hpnya juga nggak diangkat.. iiih bikin kesal aja" dari seberang tiya filia terdengar kesal dan langsung mematikan hpnya. kalau bukan pacar kenapa harus kesal pikir Adam dan sebuah senyum tipis terlihat di bibirnya.


"maaf ya itu telpon dari putriku" kata adam dan kembali konsentrasi dengan rapat. dari sampingnya Denny terlihat penasaran dengan senyum adam tadi.


sedangkan dirumah tiya filia bingung dan kesal pada Prayoga, sejak dia bangun pagi dan sampai jam 11 siang itu Tiya filia masih belum tahu kemana Prayoga pergi. di hpnya Prayoga mengirimkan pesan katanya dia ada keperluan sebentar. Awalnya Tiya filia takut kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Prayoga, tapi sebelumnya salah satu pengawal prayoga sempat mengangkat hp dan mengatakan pak prayoga baik-baik aja, tapi saat tiya filia bertanya kalian dimana, pengawal itu mengatakan pak prayoga tak mengijinkan mereka mengatakan dimana mereka, dan semakin kesallah tiya filia.


"Awas Saja Kalau Anak Itu Pulang.. Aku nggak akan memaafkan Dia" Kata Tiya filia berkali-kali sambil mondar-mandir karna kesal. Ibu tiya filia hanya tersenyum melihat tingkah putrinya itu.


"ayah.. prayoga belum pulang juga" rengek Tiya filia pada ayahnya saat mereka bertemu di meja makan untuk sarapan keesokan harinya.


"filia.. kamu ngak tidur ya?" tanya adam saat melihat wajah putrinya yang terlihat kuyuh.


"aku khawatir ayah dengan prayoga.. dimana dia tidur?"


"f i l i a.. kamu khawatir prayoga tidur dimana? orang sekaya dia?! bahkan semua hotel di kota ini bisa dia sewa, kamu khawatir dia tidur dimana? ngawur aja kamu"


"aku khawatir dia kena masalah ayah.."


"nggak usah khawatir kemarin teman ayah cerita kalau prayoga bersama teman-temannya. mereka sedang mencari orang"


"prayoga bersama teman-teman?" tiya filia menatap ayahnya bingung.


"iya.. katanya dia bersama dua apa tiga orang."


"oh itu bukan temannya ayah, itu pengawalnya" kata tiya filia sedikit lega ketika sadar benar prayoga punya pengawal, tapi juga mulai khawatir ayahnya tahu apa yang dicari prayoga.

__ADS_1


"prayoga punya pengawal?!.. waaah dasar orang kaya" kata adam dan kembali memakan sarapannya ketika tadi terhenti karna merasa kagum.


"ayah tahu apa yang dicari prayoga?" tanya tiya filia ragu.


"iya, katanya dia sedang mencari ayong. mungkin dia punya urusan dimasa lalu. soalnya ayong itu telah meninggal dunia tujuh belas tahun yang lalu, kapal mereka terbakar di tengah laut, sedang ayong terkunci di kamarnya, entah mabuk atau telah mati" kata adam menjelaskan. Tiya filia menatap ayahnya kaget.


"ayah kenal ayong itu? dia siapa ayah?"


"ah manusia brengsek itu, dia dulu menganggap ayah musuh bebuyutannya, sewaktu sekolah dulu dia suka mencari gara-gara pada ayah, tapi kalau berkelahi dia tak pernah menang dari ayah, dia itu pecundang tengik yang sok jagoan. dia benci pada ayah karna ayah sering mempermalukan dia. ayahmu ini jago berkelahi loh.. dulu di kota ini tak ada yang bisa mengalahkan ayah.." kata adam sambil tersenyum bangga. tiya filia menatap ayahnya dan menyadari sesuatu.


Bel di rumah tiya filia berbunyi, memotong pembicaraan tiya filia dan ayahnya yang lagi seru.


"ih siapa sih pagi-pagi datang bertamu" gerutu tiya filia, dia masih ingin mengorek cerita tentang musuh ayahnya, juga alasan kenapa prayoga mencari orang itu.


"buka sana pintunya, itu pasti pacarmu prayoga.." kata adam dan dia yang telah selesai sarapan beranjak berdiri untuk kekantor.


"apaan sih ayah.. nggak mungkin itu prayoga. yang biasanya bertamu pagi-pagi itu pasti Pak RT. Ayah jangan dulu pergi, aku masih ingin bertanya.." kata tiya filia dan dia berjalan mendahului ayahnya menuju pintu. Dan saat dia membuka pintu ternyata dugaan ayahnya benar itu prayoga yang tertunduk takut melihat Tiya filia.


"nggak usah takut, katakan saja yang sejujurnya" kata adam pelan pada prayoga, dan diapun pergi.


"t i y a.. maaf kan aku ya..aku nggak berniat.." rengek prayoga pelan setelah adam pergi.


"masuk dulu.. kita bicara di dalam" potong tiya filia, dan berjalan masuk rumah diikuti oleh prayoga. Dan tanpa Prayoga duga, saat dia selesai menutup pintu, tiba-tiba tiya filia telah berdiri didepannya, jarak mereka yang begitu dekat membuat tiya filia harus menengadah agar bisa saling bertatapan dengan prayoga. dan DEG.. Prayoga yang kaget menyadari kedekatannya dengan tiya filia terdiam sesaat, jantungnya berdetak cepat sekali, samar dia mencium bau wangi rambut tiya filia. hanya sesaat mereka seperti itu, prayoga langsung mundur dan berjongkok.


"tiya jangan dekat-dekat" kata prayoga dan dia tak berani menatap tiya filia.


"iiiiiih.. kamu kenapa sih? bikin kaget saja" kata tiya filia dan juga jadi mundur selangkah.


"kalau kamu mendekat lagi, aku jadi ingin lebih tiya.. aku ingin memelukmu.. menciummu.. pokoknya aku ingin lebih" kata prayoga cepat. mendengar itu wajah tiya filia langsung memerah, jantungnya juga berdetak dengan cepat.


"ih apaan sih.. dasar mesum.." kata tiya filia dan dia berjalan meninggalkan prayoga, kayaknya udara didekat prayoga terasa panas.


"kamu dari mana aja? kenapa pergi nggak kasih tahu? semalam juga nggak pulang, tidur dimana kamu?" tanya tiya filia beruntun setelah dia berhasil menormalkan pipinya yang memerah tadi. Prayoga juga mulai tenang dan pindah duduk dekat tiya filia, sambil sesekali melirik tiya filia takut.

__ADS_1


"iya maaf kan aku.." kata prayoga


"kamu marah ya karna aku menyuruhmu memijat kaki ku? itu terlalu merendahkan harga dirimu ya? ayah juga memarahiku.."


"bukan seperti itu.. aku nggak marah kok.. tiya bisa menyuruh aku apa saja aku bersedia. tapi.. tapi tiya jangan terlalu dekat ya.. maafkan aku tiya..aku.. aku seharusnya nggak boleh berpikir seperti itu, tapi wanginya tiya.. kulit lembutnya tiya membuatku jadi orang mesum.." kata prayoga sambil menatap tiya filia, dan kembali pikiran aneh itu muncul. wajah mereka berdua yang saling menatap itu langsung berubah warna menjadi merah dan prayoga langsung lari ke kamar mandi. Kenapa lagi sih dia? pikir tiya filia kesal, karena prayoga jadi sering ke kamar mandi. Sambil menunggu prayoga keluar dari kamar mandi tiya filia menyiapkan sarapan dan setelah itu dengan manis dia duduk di depan meja makan menunggu prayoga.


Prayoga yang telah menyelesaikan urusannya di kamar mandi mencari tiya filia, pembicaraannya dengan tiya filia belum selesai. dengan agak takut dia berjalan mendekati tiya filia yang telah menunggunya di meja makan.


walaupun agak takut tapi prayoga tersenyum bahagia, perasaan aneh menggelitik hatinya dia merasa senang melihat tiya filia menunggunya dengan makanan lengkap di sana.


"tiya yang memasak?" tanya prayoga agak takut sambil duduk di depan tiya filia.


"iya.. makanlah" kata tiya filia mempersilahkan. prayoga dengan senyum bahagia langsung memakan sarapan yang telah disiapkan itu dengan lahap, dia tak peduli rasanya.


"jadi kemana aja kamu kemarin?" tanya tiya filia kalem memulai pembicaraan, gaya bicaranya dia rubah menjadi kalem.


"maafkan aku tiya.. aku hanya ingin menjauh sebentar, soalnya kalau dekat tiya aku jadi berpikiran mesum, tapi aku kangen tiya.."


"mulai lagi aneh mu itu. aku tanya kemarin itu kamu kemana?!" potong tiya filia kesal. Prayoga menatap tiya filia sebentar tapi kemudian kembali tertunduk.


"mencari tahu asal usul keluarga thio, maafkan aku.."


"trus apa hubungannya dengan ayong? kenapa kamu mencari ayong?" tanya tiya filia mendesak.


"ah ayong..tiya tahu ayong?.." tanya prayoga tapi tiya filia hanya menatapnya.


"jadi ternyata memang betul ayah atau orang tua angkatnya thio memang berasal dari kota ini, dan ayahnya itu bekerja pada ayong. tapi itu sudah lama. karena ayong itu telah meninggal dunia lama sekali.." prayoga memulai ceritanya.


"iya aku tahu, ayong dan anak buahnya kecelakaan, kapal mereka terbakar di tengah laut" potong tiya filia karna dia telah mendengar cerita itu dari ayahnya.


"sepertinya itu bukan kecelakaan tapi sengaja di bakar, soalnya setelah kejadian itu ayah angkat thio melarikan diri ke pulau itu." kata prayoga.


"apa maksudmu?" tanya tiya filia kaget.

__ADS_1


__ADS_2