KU INGIN TAHU CERITA ITU

KU INGIN TAHU CERITA ITU
CERITA 36


__ADS_3

"Halo pak marko, bagaimana pak? apa saya harus ke kantor polisi?" tanya tiya filia tanpa basa-basi ketika dia menerima telpon dari Marko.


"nggak usah nona tiya urusan kantor polisi biar saya yang mengurusnya. ini.. saya mau minta tolong sama nona tiya.." marko tersenyum mendengar pertanyaan tiya filia, gadis itu selalu penuh semangat pikir marko.


"minta tolong apa pak?" tanya tiya filia penasaran.


"itu.. prayoga.. karena berkelahi kemarin tubuhnya memar-memar, tapi dia nggak mau di obati.. nona tiya bisa bantu dia?" tanya marko agak ragu.


"bisa pak.. prayoga dimana sekarang pak? biar aku yang menemui dia dan akan memaksa dia untuk di obati." kata tiya filia yakin, dan sebuah senyum puas terlihat di wajahnya marko.


"terima kasih nona tiya.. aku akan mengirimkan alamatnya" kata marko dan mengakhiri telponnya.


"ah rencana ini begitu mudah" kata marko pada dirinya sendiri.


Beberapa saat kemudian setelah tiya filia siap berangkat dia pamit pada ayah dan ibunya.


"ibu aku pamit.. ayah.. obat gosok milik ayah ku pinjam dulu ya.. dhaaa.." kata tiya filia saat pamit pada orang tuanya.


"filia mau kemana? kamu sudah sarapan?" tanya adam pada putrinya, tapi terlambat karena putrinya telah pergi, dan dia hanya bisa menarik nafasnya dalam- dalam. setengah jam kemudian setelah putrinya pergi adam menerima telpon dari nomor yang tak dikenalnya.


"halo selamat pagi.. ada yang bisa saya bantu?" tanya adam pada penelponnya.


"Selamat pagi juga.. saya Juldy Novilus.. bisa kita ketemuan?" jawab penelpon itu dengan suara yang begitu tenang, tapi jawaban itu membuat jantung adam berdebar lebih cepat.

__ADS_1


"Tiya kenapa kamu ke sini?" Prayoga kaget saat membukakan pintu kamarnya. tapi dengan tidak takut tiya filia masuk kedalam kamar prayoga.


"ayo buka bajumu sekarang.." kata tiya filia serius.


"tiya sayang..ini sih udah terlalu siang untuk serangan fajar.. tapi kalau kamu suka.. aku sih mau-mau aja" kata prayoga tersenyum genit. Dia tau maksud tiya filia pasti bukan "itu" tapi dia berniat bercanda, dan candaan prayoga itu berefek pada wajah tiya filia yang langsung berubah warna.


"Apaan sih!!! Dasar Mesum! aku nggak sedang becanda" kata tiya filia agak malu, dan untuk menutupi rasa malunya dia melemparkan bantal-bantal pada prayoga.


"iya maaf..ampun tiya..ampun..." kata prayoga sambil berusaha menghindar dari lemparan bantal.


"kalau begitu sekarang janji akan serius?!" kata tiya filia dan berhenti melempar bantal.


"iya janji.. akan serius" kata prayoga merengek.


"nggak mau tiya.." kata prayoga merengek.


"apaan sih? ayo buka.." kata tiya filia ngotot.


"nggak mau, tubuhku masih jelek, nanti kalau otot-otot ku telah kembali aku pasti akan memamerkan..." kata prayoga tapi langsung di potong oleh tiya filia.


"apa sih! dasar bodoh!.. siapa juga yang peduli dengan tubuhmu!" kata tiya filia dan wajahnya kembali memerah.


"kalau nggak peduli kenapa ingin mengobati tubuhku" rengek prayoga pelan, tapi perkataan itu hanya mendapatkan pelototan dari tiya filia.

__ADS_1


"iya.. baik.. maaf.." kata prayoga dan dengan malu-malu dia akhirnya membuka kaos yang dipakainya. Tiya filia mengerutkan wajahnya ketika melihat beberapa memar ditubuh prayoga dan teringat kembali saat prayoga berkelahi dengan ivan, ada beberapa kali prayoga mendapat pukulan dan itu ternyata meninggalkan bekas.


"nggak apa-apa tiya sayang ini nggak sakit kok.. aaauch.. t i y a pelan-pelan dong pijitnya" kata prayoga, tapi tiya filia hanya diam saja. dia merasa kasihan melihat tubuh prayoga, ditubuhnya yang kurus terlihat beberapa bagian yang memar.


"tiya sayang..bicara dong.. jangan diam saja.." rengek prayoga, tapi tetap tak mendapat respon dari tiya filia, dia masih diam.


"tiya sayang.." kata prayoga lagi dia masih berusaha mencairkan suasana diam yang di buat tiya filia. meskipun tak bersuara tiya filia dengan lembut mengoles dan memijat pelan bagian tubuh prayoga yang memar. dari wajahnya terlihat kalau tiya filia terlihat prihatin.


"tiya.. aku sebenarnya punya kabar baik.." prayoga bercerita mulai serius, tapi tiya filia tetap diam.


"menurut kak marko, sepertinya thio masih hidup.." kata prayoga, gerakan tiya filia yang sedang memijat terhenti sebentar, tapi kemudian dia melanjutkan seperti sebelumnya.


"katanya mereka sekarang sedang menyelidiki dan mencari tau keberadaan thio. dan tiya.. ada kemungkinan kejadian waktu itu ivan dan thio bekerjasama untuk menjebakku, tapi aku ragu thio bisa sejahat itu" kata prayoga melanjutkan ceritanya. tiya filia masih tetap diam. mereka berdua terdiam sesaat, masing-masing dengan pikirannya sendiri. Dan dalam keadaan diam itu tiba-tiba prayoga menyadari pintu kamarnya sedang dibuka dari luar. prayoga kaget dan langsung menghentikan tiya filia, dia langsung bersiap menunggu siapa yang membuka pintu itu.


Pintu akhirnya terbuka dan..


"Prayoga.. jadi seperti ini kelakuanmu!!" saat pintu terbuka beberapa orang laki-laki masuk, dan yang lebih tua memarahi prayoga dengan suara penuh berwibawa.


"kakek.." kewaspadaan prayoga mengendur ketika mengetahui siapa yang masuk itu.


"jadi begini caramu menyapaku?! kau keluar penjara tidak menemui ku. dan apa yang kulihat.. kau di hotel bersama perempuan tanpa pakaian lagi.. pak adam ku pikir mereka harus segera dinikahkan" kata Juldy Novilus penuh wibawa, tapi DEG.. prayoga yang mendengar nama adam langsung menyadari siapa laki-laki lain yang bersama kakeknya itu.


"eh paman.. maaf ini tak seperti yang dipikirkan kakek.." kata prayoga malu dan segera mencari kaos yang dipakainya tadi.

__ADS_1


tiya filia yang tadinya tertunduk dibelakang prayoga mengangkat kepalanya dan melihat benar ayahnya datang bersama kakeknya prayoga.


__ADS_2