
Sambil memakan kue pesanannya Tiya filia sesekali menatap kagum pada Prayoga, terutama pada saat Prayoga sedang bicara.
Saat itu seperti yang sudah mereka rencanakan untuk bertemu dengan Operator Catatan sipil itu, Dan disinilah mereka di sebuah kafe kecil dekat kantor catatan sipil. Prayoga yang sedang bernegosiasi untuk mendapatkan informasi dari operator itu terlihat mengagumkan dimata Tiya filia, suara dan cara bicara Prayoga terdengar pelan dan kalem tapi disana juga terdengar berwibawa dan ketegasan, cara Prayoga juga menatap orang itu seakan mengunci orang itu untuk mau melakukan apa yang dia inginkan. Sesekali disaat Prayoga bertanya senyum bangga di wajah Tiya filia tak bisa di sembunyikan, dia bukan hanya kagum dengan Prayoga dia juga merasa bangga sebagai seseorang yang berada disamping Prayoga. Mungkin seperti itulah cara orang hebat mempergunakan kelebihan mereka untuk semakin sukses pikir tiya filia.
"untuk hari ini beres, kita tinggal menunggu bapak itu mengirimkan apa yang kita inginkan." kata prayoga melirik manja pada Tiya filia dan tersenyum bahagia, ketika mereka telah kembali kedalam mobil mereka dan berjalan pulang.
"tadi aku mengagumkan ya.. ku lihat kau tadi tersenyum begitu cantik, syukur tadi senyum itu untukku.." lanjut prayoga, tapi langsung di potong oleh Tiya filia.
"ih apaan sih.. dasar sombong, gitu aja bangga.."
"pokoknya aku senang sekali tiya.. bisa sekali lagi kau menatapku seperti itu? aku ingin melihatnya lagi..."
"apaan.. gayamu yang seperti ini bukannya mengagumkan tapi menjijikkan..mana bisa aku menatapmu seperti tadi.." Cemooh Tiya filia tapi sebuah senyum malu tak bisa dia sembunyikan dari wajahnya.
"jadi bagaimana? apa kita akan menelpon pak marko? tapi kalau kita menelpon pak marko dia pasti nggak akan setuju.." tanya tiya filia ragu.
"jadi menurut tiya bagusnya kita bagaimana? apakah menunggu persetujuan kak marko dulu atau?" tanya prayoga sambil menatap lembut tiya filia yang sedang bingung. beberapa saat sebelumnya dia mendapat telpon dari operator capil yang memberikan informasi tentang tempat asal keluarga thio sebelum datang ke pulau itu. dan ternyata keluarga thoi itu berasal dari kota tempat tinggal tiya filia, dan semakin jelas bagaimana thio bisa bersama mereka.
"kalau menurut kamu apa kita menelpon pak marko dulu atau bagaimana?" kata tiya filia kembali bertanya. prayoga jadi tersenyum melihat kebingungan tiya filia.
"kalau menurut aku..., kita nggak usah bertanya, tapi juga jangan dulu pergi, aku masih ingin bersama tiya di sini.." kata prayoga kembali ke gaya bicaranya yang merengek. dan wajah tiya filia langsung cemberut.
"apaan sih.. aku lagi serius.. aku ingin masalah ini cepat selesai. jadi aku ingin kita cepat kembali ke kotaku.. tapi aku ragu kalau pak marko.."
"kalau begitu, kita nggak usah bertanya pada kak marko"
"tapi.."
__ADS_1
"tapi.. tapi kumohon tiya.. kita tinggal disini satu hari lagi ya.. setelah itu aku akan menemani tiya kembali ke kotamu. soalnya kalau di kotanya tiya kita pasti akan tinggal terpisah" kata prayoga bergaya sedih.
"bagaimana dengan pak marko dan kamu.."
"kalau aku pasti nggak apa-apa.. dan kalau pak marko nggak perlu di lapor juga nggak apa-apa..dia bukan bos kita kan.. lagi pula aku agak kurang percaya dengan kak marko" kata prayoga dan berusaha tersenyum semanis mungkin karna tiya filia menatapnya sambil berpikir.
"baiklah aku setuju.." kata tiya filia kemudian setelah dia berpikir beberapa saat.
CERITA 27
Kembali ke kota tempat tinggalnya sebenarnya membuat Tiya filia ragu. masalahnya apabila dia kembali pasti harus pulang ke rumah orang tuanya dan petualangan rahasia yang dia lakukan selama ini, akan cepat diketahui oleh ayahnya, dan itu membuatnya khawatir dan ragu. Tapi jika tinggal di hotel bersama Prayoga tanpa diketahui oleh ayahnya dan kalau sampai ayahnya tahu hal itu akan lebih berbahaya lagi, ayahnya pasti murka.
"Ah.. bagaimana kalau aku membawa Prayoga pulang, ayah pasti keberatan dan akan menyuruh kami pergi, tapi setidaknya dia tahu aku telah pulang ke kota ini dan kalau aku tinggal di hotel bersama Prayoga hal itu takkan membuatnya khawatir karena yang dia tahu prayoga itu gay" pikir tiya filia dan tersenyum dengan idenya. Dan disinilah dia bersama Prayoga di depan pintu rumahnya.
"Tiya.. jantungku rasanya mau copot.. kenapa harus secepat ini bertemu mertua.." kata Prayoga agak takut.
"ih dasar bodoh.. emangnya aku pacar kamu. siapa juga yang mau bertemu mertua!" kata tiya filia kesal, walaupun dalam hatinya dia juga agak takut.
"ih jangan gila dong..awas ya kalau didepan ayah kamu ngomong yang aneh-aneh, pokoknya ingat kita disini karena kamu sedang sembunyi." kata tiya filia tegas dia kembali khawatir ayahnya akan mengetahui petualangan rahasianya.
Ting..tong.. bunyi bel dirumah Tiya filia. Tiya filia tahu di jam begini ayahnya pasti telah pulang kerja. Dan setelah menunggu sesaat pintu dibuka.
"halo ayahku sayang.. selamat malam.." sapa tiya filia kepada orang yang membukakan pintu untuk mereka.
"f i l i a... anakku sayang.. akhirnya kamu pulang.." kata adam langsung memeluk putri tersayangnya tapi kemudian dia sadar tiya filia tidak sedang sendiri, ada seorang laki-laki yang berdiri dibelakangnya. perlahan dia melepaskan tiya filia dan menatap laki-laki itu dari ujung rambutnya sampai ujung kakinya. laki-laki itu terlihat tenang dan berwibawa dengan tersenyum sambil menundukkan sedikit kepalanya dia memberi hormat.
"selamat malam paman.. saya temannya tiya filia" kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya hendak berkenalan, adam masih menatapnya tanpa senyum, walau wajah laki-laki itu sedikit familiar bagi adam, tapi dia ingin terlihat tegas dan berwibawa.
__ADS_1
"ayah kita masuk dulu, baru ayah menginterogasinya" potong tiya filia, dan dengan lembut dia mendorong ayahnya masuk kedalam rumah. dia juga dengan gerakan kepala menyuruh prayoga ikut masuk.
"ayo silahkan duduk.." kata tiya filia kepada prayoga. dan dengan sopan prayoga duduk. adam juga ikut duduk di depan kursi prayoga.
"siapa tadi nama kamu?" tanya adam penuh wibawa.
"nama saya prayoga Novilus, paman bisa memanggilku apa saja. kalau orang-orang biasa memanggilku dengan prayoga saja" kata prayoga, dia terlihat sedikit kikuk karna di tatap calon mertuanya. saat mendengar nama prayoga alis adam sedikit terangkat, ah.. pantas wajahnya familier, ternyata.. tapi tunggu sebentar, bukankah dia sedang di penjara? pikir adam dan dia langsung menatap tiya filia dengan tatapan penuh pertanyaan.
"jadi begini ayah.. untuk sementara prayoga akan tinggal disini.." kata tiya filia ketika mendapat tatapan dari ayahnya.
"apa maksudmu dengan tinggal disini? beri ayah alasan, jangan membuat ayah bingung" kata adam, memandang tiya filia dan prayoga bergantian.
"aku sekarang bekerja di perusahaan milik keluarga prayoga, dan dapat tugas membawa prayoga jalan-jalan tanpa di ketahui publik" kata tiya filia asal saja memberi alasan.
"filia sayang.. yang ayah tahu prayoga sedang di penjara. Bagaimana dia bisa berada disini? dan kenapa pula kamu harus menemaninya jalan-jalan?"
"ayahku sayang, masalah prayoga tidak di penjara sekarang kupikir ayah sudah tau siapa prayoga ini, seberapa kaya dan berpengaruhnya keluarga dia. kalau masalah jalan-jalan ya jalan-jalan saja.."
"filia.."
"ya sudah kalau ayah nggak setuju dia tinggal disini, berarti aku juga akan pergi bersama prayoga.." kata tiya filia dan dia langsung berjalan hendak pergi sebuah senyum terlihat di wajahnya, seperti dugaannya ayahnya pasti tidak akan setuju prayoga tinggal dan dia juga bisa bebas pergi.
"siapa bilang ayah nggak setuju dia tinggal disini, ayah setuju sekali.. ayah menerimanya dengan senang hati.. tapi setidaknya alasannya harus lebih masuk akal filia.." kata adam kalem dia tak ingin putrinya pergi lagi, dia masih kangen dengan putrinya.
"masuk akal seperti apa ayah? kalau ayah nggak setuju kita pergi" kata tiya filia dan dia kembali hendak pergi.
"oke-oke ayah setuju kalian tinggal disini" kata adam pasrah. whaaat?! tiya filia yang merasa aneh sendiri kenapa ayahnya bisa setuju begitu saja.
__ADS_1
"tapi kalian harus tinggal di kamar yang berbeda ya.. biarpun gosip soal prayoga.. tapi bagaimanapun juga prayoga itu..."
"iya paman terima kasih.. jadi saya bisa tinggal di kamar yang mana?" kata prayoga terlalu bersemangat ketika mendapat ijin adam, padahal tiya filia sudah memberinya kode untuk menolak.