KU INGIN TAHU CERITA ITU

KU INGIN TAHU CERITA ITU
CERITA 20


__ADS_3

Tiya filia yang telah berdiri di depan pintu jadi terhenti.


"apa nona tiya tak ingin mendapatkan nomor Hp Prayoga dan kode sandi rumah ini?" kata marko lagi, dia tersenyum. Tiya filia sedikit salah tingkah tapi dengan pelan dia menganggukkan kepala.


"boleh juga pak.."


"dicatat ya.. " kata marko dan memberikan nomor hp prayoga juga kode sandi rumah prayoga. sedangkan prayoga hanya menatap tiya filia dan marko bergantian tanpa berkomentar.


"silahkan di miskol biar prayoga tahu nomor hpnya nona tiya, jadi kalau.."


"hei di angkat ya kalau aku menelpon, tapi awas kalau kau menelpon tanpa tujuan.." kata tiya filia memotong perkataan marko, prayoga yang mendapat miskol dan peringatan dari tiya filia menganggukkan kepalanya, sebuah senyum tipis terlihat di wajahnya.


"aku antar kamu pulang ya.." kata prayoga berusaha membujuk lagi.


"sudah di bilang nggak usah, apa kamu nggak mengerti dengan kalimat itu?! bikin kesal aja.." protes tiya filia.


"mari pak marko.. aku duluan" kata tiya filia lagi dan dia dengan wajah cemberut meninggalkan prayoga dan marko. prayoga ingin mengejar tapi marko menahannya.


"jangan lakukan itu.. perempuan itu paling nggak suka kalau kau memaksa, apa lagi ini masih awal-awal pertemuan , dekati perempuan itu dengan perlahan-lahan.. biar dia yang datang mendekat padamu.." nasehat marko pada saat pintu rumah ditutup oleh tiya filia.


"tapi kak aku kwatir.." kata prayoga dengan wajah menyesal.


"dia punya nomor hpmu kalau ada masalah dia pasti akan menelpon. nanti kamu bisa mengira-ngira apakah dia sudah tiba dirumah, nah di situ baru kamu bisa menelponnya, dengan alasan bertanya apa kah dia tiba dengan selamat.. tapi ingat jangan memaksa, perlahan-lahan saja." kata marko santai.


"kak.."


"aku ini lebih banyak pengalaman dengan perempuan dari pada kamu, jadi dengarkan aku..oke" kata marko tegas.


CERITA 21

__ADS_1


Tiya filia tiba di rumahnya setelah sebelumnya dia makan siang sendirian di restoran dekat apartemennya. Tiya filia sebenarnya tak keberatan untuk makan siang dengan prayoga tapi debar jantungnya yang terlalu kuat, juga rasa malunya karna tak sengaja menempelkan bibirnya dengan prayoga membuatnya seakan melarikan diri. walaupun didepan prayoga terlihat cuek, tapi sebenarnya dia sangat malu. harus dia akui walaupun pertemuannya dengan prayoga Novilus dahulu hanya sebentar tapi kenangan itu bisa dikatakan adalah kenangan indah. Dia menyukai saat dia menggoda dan tertawa bersama prayoga, prayoga yang sangat menurutinya dan juga memberikan apapun yang dia inginkan, seakan memanjakan dia melebihi ayahnya. itulah sebabnya saat ayahnya menyebutkan nama prayoga Novilus membuatnya teringat dengan kenangan itu lagi. dan saat bertemu kembali walaupun awalnya tingkah prayoga membuatnya frustasi, tapi pertemuan mereka yang tadi menyadarkan dia ternyata prayoga tidak berubah.


Dengan santai tiya filia menuju apartemennya. tapi pandangannya terhenti pada kotak hadiah yang diletakkan didepan pintu apartemennya dan ada namanya disana.


"siapa yang memberikan hadiah? apakah kak luis atau Prayoga? kalau kak luis nggak mungkin tak memberitahunya, hadiah itu pasti dari prayoga" pikir tiya filia dan sambil tersenyum dia membawa masuk kotak hadiah itu.


di dalam rumah dengan rasa penasaran dia membuka kotak itu dan DEG..


"OH.. TUHAN!!..." pekik tiya filia kaget dan takut, dengan kaki dan tangannya yang sedikit gemetar dia mencari hpnya.


Dirumah Prayoga gelisah menatap Hpnya, dia ingin menelpon tiya filia tapi terlalu takut karna sebelumnya dia telah menelpon dan di marahi Tiya filia, dia mengatakan kalau Prayoga mengganggunya yang sedang makan.


Prayoga yang sedang menatap hpnya tiba-tiba seperti mendapat mujizat, tiya filia menelponnya dan saking senangnya di panggilan pertama langsung di angkatnya.


"halo.." sapa Prayoga lembut.


"hadiah.. oh.. shiiiiit.." umpat prayoga. tapi dia langsung meminta maaf, dia langsung menyadari ada sesuatu yang buruk dengan tiya filia.


"ada apa?" tanya marko yang kaget mendengar umpatan prayoga.


"kita ke rumah tiya kak, pakai heli biar lebih cepat"


"ada apa? nggak bisa pakai heli disana nggak ada landasan" protes marko dan mengganti panah turun di dalam lift.


"Tapi Tiya Dalam Bahaya Kak!.."


"lanjut telpon dia, buat dia tenang.. aku akan berusaha tiba secepatnya"


"kak.."

__ADS_1


"dengarkan aku prayoga.. kamu juga harus tenang!!.." kata marko tegas.


Boneka itu tidak hanya di lumuri Darah, kepala dan tangannya dibuat terpisah dari tubuhnya, seakan boneka itu dimutilasi. Luis yang tiba duluan apartemen tiya filia menggedor pintu dengan penuh rasa cemas. Dia mendapat telpon dari marko menyuruhnya langsung segera ke rumah tiya filia karna lokasi kantor lebih dekat dari apartemen tempat tinggal tiya filia.


"t i y a.. apa yang terjadi?!.." tanya luis tanpa basa-basi ketika tiya filia membuka pintu. dia segera masuk dan melihat kotak itu,


"sialan!! Brengsek!! manusia gila siapa yang melakukan ini?!" umpat luis. dia berpaling dan mencari Tiya filia, di sana dia melihat tiya filia duduk berjongkok di kursi dengan wajah yang takut.


dan di dalam kotak itu juga dia melihat ada surat.


JANGAN BERTANYA ATAU MENCARI TAHU SOAL THIO.


PERGI DAN TUTUP MULUT KALAU KAU INGIN SELAMAT.


Bunyi surat ancaman itu, dan sekali lagi beberapa umpatan keluar dari mulut luis. matanya terlihat sangat marah.


"oh tiya.. ku mohon.. apa kau masih tetap ingin meneruskan apa yang kau lakukan ini?" tanya luis marah dan khawatir. dia menatap kasihan pada tiya filia yang terlihat terguncang. dengan perlahan dia mendekat dan memeluk tiya filia.


tiba-tiba dari pintu Prayoga Novilus muncul dengan nafas ngos-ngosan, rahangnya terkunci rapat sedang matanya penuh kekhawatiran dan ketakutan.


"t.i.y.a.." panggilnya khawatir. Luis yang kaget menatap bingung padanya, sedang prayoga setelah dia mengetahui keberadaan tiya filia, dia mendorong luis dan berjongkok didepan kursi yang diduduki tiya filia.


"tiya.. ada yang terluka? kamu nggak apa-apa?.." tanya prayoga dengan lembut, matanya yang penuh kekhawatiran dan ketakutan tadi langsung hilang berganti dengan tatapan yang penuh kelembutan.


"aku nggak apa-apa hanya sedikit takut.." kata tiya filia pelan. mendengar jawaban tiya filia itu, tanpa ragu prayoga menariknya dan membawanya ke dalam pelukannya.


"nggak apa-apa sayang.. kamu tenang ya.. aku akan mengatasi semua ini.. tidak apa-apa.." katanya sambil menepuk lembut pundak tiya filia. dan disana tiya filia yang tadinya begitu tegar akhirnya jadi menangis. dan untuk beberapa saat mereka seperti itu dengan beberapa kalimat lembut menghibur keluar dari mulut prayoga.


Marko juga telah tiba, dengan di bantu luis mereka melihat dan memeriksa hadiah ancaman itu.

__ADS_1


__ADS_2