
Adam punya perusahaan ekspedisi kontainer, perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengiriman kargo dan barang lewat darat dan laut, dan sekarang sudah lumayan besar dan lancar. Malam itu seperti biasa, setelah selesai makan malam dengan klien adam selalu kembali kekantor untuk mencatat dan memeriksa agenda berikutnya. kantornya berada di lantai dua gerung itu. adam yang sedang asik bekerja bersama denny sekretarisnya, dikejutkan dengan pintu ruangannya yang dibuka dengan kasar, tanpa melihat adam bisa tau siapa yang melakukan itu.
"kenapa kamu disini, siapa yang menjaga ibumu?!" tanya adam tenang, keributan itu tak membuatnya beralih dari pekerjaannya. berbeda dengan denny dia melihat ke Tiya Filia yang baru masuk itu dan secara spontan denny berdiri dia melihat kegetiran di wajah Tiya Filia.
"Ayah pecat si roy itu, DIA BRENGSEK.. ku mohon..!!" Tiya filia terisak, tangannya yang ramping gemetar mendekap mulutnya agar tidak bersuara. adam yang melihat putrinya seperti itu bangkit dan memeluknya.
"sudah sayang.. ayah tau ini menyakitkan, tapi ayah percaya putri ayah yang cantik ini pasti bisa mengatasinya lagi" kata adam menghibur.
"aku benci dia ayah..BENCI!!" kata tiya filia di tengah tangisnya.
"apa masalahnya sih..kenapa dia selalu selingkuh.. aku berusaha berubah menjadi perempuan yang dia inginkan tapi dia selalu saja selingkuh.." dalam pelukan ayahnya tiya filia mengeluarkan semua unek-uneknya.
"dan kali ini alasannya.. DASAR BRENGSEK!!.." Tiya filia menghentikan tangisnya dan kemarahan terlihat di wajahnya. adam menatap putrinya dengan penasaran.
"katanya karna dia laki-laki normal, dia ingin memuaskan hasratnya. karna aku belum bersedia perempuan itu yang jadi tempatnya, tapi katanya dia tak mencintai perempuan itu.." adam hampir tertawa mendengar itu, gombalan laki-laki.
"Jadi dia mengatakan kamu yang salah karna tidak bersedia?"
"nggak.. dia nggak menyalahkan aku, tapi memintaku bersabar, DASAR BRENGSEK!! aku memang mencintainya tapi nggak bodoh.. kalau dia punya anak, apa aku harus terima juga?! atau kalau dia kena penyakit aku harus terima juga!! Gila kan dia?!?" senyum puas terlihat di wajah adam, akhirnya putrinya sadar juga.
"makanya ayah.. pecat aja dia, dia gila dan menyakiti putrimu.." tuntut tiya filia, wajahnya cemberut. adam melepaskan pelukannya. dengan gaya berpikir dia kembali ke meja kerjanya.
"kita tanya denny dulu, bagaimana den, apa kita harus memecat si roy?" denny yang sejak melihat Tiya filia menangis, telah pindah tempat duduknya sengaja menjauh dari ayah dan anak itu dan ketika di tanyai seperti itu jadi kaget.
"eh..maaf.. kenapa bos?.." Denny seakan baru mengumpulkan kesadarannya.
__ADS_1
"Kenapa tanya om Denny ayah.. nggak usah di tanya-tanya segala, pecat aja.. dia itu brengsek ayah"
"Nggak bisa seperti itu sayang.. roy nggak melakukan kesalahan pada perusahaan, jadi ayah nggak punya alasan buat pecat dia"
"emang nggak bisa pakai alasan dia telah menyakiti hati putri ayah"
"nggak bisa sayang.. roy itu bekerja dengan baik di perusahaan, urusan kalian kan urusan pribadi , nggak ada hubungannya dengan pekerjaan, maaf kan ayah, ayahmu ini seorang profesional."
"ih ayah bikin kesal.. aku benci ayah.." rengek tiya filia.
"soalnya kalau ayah memecat dia tanpa alasan itu akan melanggar hukum, bagaimana.. seperti itukan ibu pengacara?" Kata Adam bercanda, dan ternyata itu meredakan kemarahan putrinya.
"ih ayah... tapi aku ingin membalas dia.."
"dengan kamu hidup bahagia bersama laki-laki yang lain, itu balas dendam yang paling ampuh" kata adam bijak, dia menatap putrinya meyakinkan. ayah dan anak itu saling menatap untuk sesaat.
"Jadi sekarang, putri ayah yang cantik ini bersedia menyenangkan hati ayah.." kata Adam dan memberi kode kepada Denny untuk mengambil file proyek menantunya.
"kau pasti akan menyukai proyek ayah ini" kata adam dia memandang putrinya dan menaksir-naksir.
"lihat dulu ayah.. lagi pula belum pasti juga mereka akan menyukai Filia..benarkan om denny?" Tiya filia mengulurkan tangannya pada denny meminta file yang dipegangnya.
"kalau menurut om mereka pasti akan menyukaimu" kata denny sambil memberikan file-file yang dipegangnya.
"pasti dong.. hanya orang bodoh yang akan menyianyiakan putriku yang sudah cantik, baik, tulus dan juga pinter" kata adam bangga. Tiya filia melirik ayahnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"aku akan melihat dulu seperti apa calon menantu idaman ayah ini" dengan perlahan Tiya filia mulai melihat isi file-file tersebut.
"sebentar filia ada yang om lupa keluarkan" kata denny sambil mengulurkan tangannya hendak mengambil salah satu file.
"sebentar om aku lihat dulu siapa dia?" Denny yang hendak mengambil jadi terhenti. Tiya filia memeriksa isi file yang hendak di ambil denny itu.
"Prayoga Novilus.. sepertinya aku kenal nama itu.." tiya filia terlihat berpikir.
"itu sebabnya om denny mau mengeluarkan orang itu dari daftar menantu ayah. pasti kau pernah melihatnya di berita. apalagi sebulan yang lalu berita tentang dia sangat populer, sang pewaris satu-satunya dari Keluarga pemilik kapal-kapal dagang di seluruh dunia, dan pengusaha tambang, jadi tersangka pembunuhan, dan tak ingin membela diri, seperti orang bodoh yang menyerahkan diri di penjara." kata adam menjelaskan dan terlihat sedikit kecewa.
"kayaknya aku kenal dia bukan dari berita.."
"benarkan seperti dugaan ayah, dia pasti akan menarik perhatianmu, ayah yakin dia tipe mu.. tapi sayang dia gay.."
"ayah, boleh filenya ku bawa pulang? aku penasaran dengan orang ini" kata tiya filia penuh keyakinan.
"f i l i a.. ayah mohon jangan.."
"Tenang ayah, aku hanya penasaran, bukan suka apalagi cinta.."
"om setuju dengan ayahmu, lebih baik lupakan orang itu, dia sangat mencintai pacarnya..dan katanya mungkin sejak dia berumur sepuluh tahun saat mereka"
"bagaimana om denny bisa tau itu?" tiya filia membolak balik isi file itu.
"ya dari berita, om pernah baca cerita itu. sumber berita kayaknya dari pembantu ato apa gitu, kemungkinan orang dekatnya. tapi kemudian berita itu hapus"
__ADS_1
"sudahlah sayang.. singkirkan dulu rasa penasaran mu itu, ayo masih banyak pemuda tampan yang mesti kau lihat" kata adam dan menarik file tentang prayoga novilus itu.