KU INGIN TAHU CERITA ITU

KU INGIN TAHU CERITA ITU
CERITA 32


__ADS_3

"kenapa.. kamu cemburu ya?" tanya tiya filia pada prayoga ketika mereka hanya berduaan. prayoga yang mendengar pertanyaan itu berbalik, berhadapan dengan tiya filia dan tersenyum.


"nggak... aku nggak cemburu tiya sayang, aku hanya khawatir." kata prayoga sambil mengelus rambut tiya filia.


"hanya khawatir aku di ambil orang?" tanya tiya filia lagi. kali ini prayoga tertawa dan tanpa ragu dia membawa kepala tiya filia yang sedang dielusnya ke dalam pelukannya. tiya filia ingin protes tapi menyadari pelukan prayoga yang begitu lembut dan melindungi membuatnya terdiam.


"iya aku khawatir kamu di ambil orang. coba saja kalau ada yang berani!." kata prayoga dan dia mencium ubun-ubun tiya filia.


"kali ini aku benar-benar khawatir tiya.. firasatku mengatakan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi padamu." kata prayoga lagi, tiya filia menengadah dan menatap prayoga. benar anak ini sedang serius, pikir tiya filia, dia berjinjit dan mencium pipi prayoga, sedangkan prayoga hanya terdiam menerimanya. mencium pipi prayoga sepertinya sudah menjadi kebiasaan baru buat tiya filia.


"nggak usah khawatir, percaya saja semuanya pasti aman. lagi pula aku sedang bersama prayoga.. orang yang bersedia menjaga dan melindungiku terus apapun resikonya.." kata tiya filia dengan senyum lebar diwajahnya, prayoga ikut tersenyum dan sekali lagi dia membawa tiya filia kedalam pelukannya, mereka diam sesaat dalam keadaan seperti itu.


"kalau kita sedang dekat seperti ini, awas kalau kamu berpikiran mesum" kata tiya filia, mendengar itu prayoga jadi tertawa dan melepaskan pelukannya.


"iya sih benar, kalau kita berpelukan lebih lama, pikiranku mulai mesum.." kata prayoga dan melirik tiya filia genit.

__ADS_1


"awas saja kalau berani!" ancam tiya filia tapi dia tersenyum lebar.


Hari hampir senja ketika kapal mereka mulai berangkat. sepanjang perjalanan Prayoga merasa gelisah, mungkin dia masih teringat peristiwa saat dia bersama thio? tapi dia telah bersama tiya beberapa hari terakhir bahkan beberapa kali mereka berada di atas kapal pula, waktu itu dia tak merasa khawatir sedikitpun. Dan kekhawatirannya mulai berubah menjadi rasa curiga ketika tanpa sengaja dia mendengar didy berkata pada ivan, "tapi kak tiya itu teman aku!" kata didy dan DEG.. alarm kecurigaannya langsung berbunyi, ada sesuatu yang kurang beres akan terjadi. Dan kecurigaan itu semakin bertambah ketika ivan memberikan bir kesukaannya sambil berkata, "prayoga ini bir kesukaanmu" kalimatnya berniat baik tapi prayoga seperti mengalami pengulangan kejadian saat bersama thio, waktu itu juga thio sempat mengatakan "ini bir kesukaanmu", dan setelah itu prayoga pingsan, jadi didalam bir itulah semua ber awal. dan kali ini sebuah tekat muncul di kepala prayoga jangan mimpi peristiwa itu akan terulang lagi.


"kau ingin mencoba minum bir tiya? ini bir kesukaan prayoga.. cobalah" kata ivan sambil mengambilkan sekaleng bir untuk tiya filia. prayoga melihat semua pengawalnya juga telah meminum bir itu, dia ingin melarang tiya filia meminum bir itu tapi dia tak mau ivan curiga.


"jangan minum banyak, minum lah seteguk sebagai sopan santun, tapi tolong jangan membuatnya curiga " bisik prayoga mesra di telinga tiya filia, tiya filia ingin protes mendengar perkataan prayoga itu, tapi ketika dia melihat tatapan mata prayoga yang terlihat serius dia jadi tersenyum dan kembali mencium pipi prayoga.


"apa yang kalian bicarakan?" tanya ivan curiga.


"ah bukan apa -apa.."kata tiya filia tapi langsung di potong prayoga.


"jadi tiya filia ini pacar kamu ya? maaf.. soalnya selama ini kupikir kamu gay.." kata ivan santai, tapi kalau di perhatikan dengan jelas dia sebenarnya terlihat marah. tapi prayoga tak peduli, dia ingin mengetahui apa rancana ivan sebenarnya.


"jadi kalau aku gay ada masalah untukmu?" tanya prayoga, dan tiya filia jadi teringat yang di katakan didy saat dia mabuk waktu itu, kakaknya membenci banci.

__ADS_1


"ah bukan seperti itu.. maaf kalau aku mencampuri urusanmu.." kata ivan terlihat kesal dan dia langsung meneguk minumannya.


"kamu nggak minum bir?" tanya prayoga dia telah menyadari sesuatu.


"oh.. nggak. aku lagi mencoba minuman daerah disini.. kau ingin mencoba ini?" tanya ivan sambil menyodorkan botol minuman yang sedang di minumnya pada prayoga.


"kenapa kau nggak bir itu?" tanya prayoga mengulang pertanyaannya. kali ini suaranya dan wajahnya berkesan mengancam. Tiya filia merasa aneh tapi juga menjadi waspada.


"bir itu kesukaanmu bukan aku. lagi pula aku sedang mencoba minuman baru, kalau minumanku habis pasti aku akan minum bir itu juga" kata ivan berusaha terlihat santai.


"kenapa kau nggak mencampurnya dengan minuman barumu itu?" tanya prayoga lagi. tiya filia yang melihat ivan mulai terganggu dengan pertanyaan- pertanyaan prayoga itu ingin memarahinya tapi ketika dia melihat ke arah prayoga DEG.. prayoga berubah, dia yang biasanya terlihat santai dan manja, ini terlihat tegang dan waspada. ada apa ini pikir tiya filia. Prayoga dan ivan saling menatap.


"ada apa denganmu prayoga?!" kata ivan dia tersenyum dengan paksa.


"itu yang ingin ku tanyakan. ada apa denganmu? apa yang sedang kau rencanakan? apa masalahmu denganku? kau ingin membunuhku? atau kau ingin menjebak ku seperti waktu itu?" tanya prayoga tegas, dia telah berdiri dan dengan lembut tangannya membawa tiya filia berdiri dibelakangnya.

__ADS_1


"apa maksudmu prayoga? aku kurang mengerti dengan perkataanmu?" ivan juga ikut berdiri.


"aku sebenarnya ingin ikut dalam permainanmu.. tapi itu berbahaya untuk orang yang ku sayangi.." kata prayoga semakin waspada. tiya filia melihat para pengawal prayoga yang berniat berdiri juga, tapi mereka bukannya berdiri mereka malah terjatuh pingsan dan DEG.. tiya filia jadi sadar dengan keadaan mereka sekarang.


__ADS_2