
"kak luis jangan lupa janjimu.. jangan cerita ke ayahku dulu, pokoknya apapun yang terjadi jangan cerita ke ayah" Tiya filia menahan tangan Luis yang hendak pulang, dan menatapnya tajam.
"baik aku janji, tapi kamu juga harus ingat janjimu.. kalau kau akan selalu cerita apa yang kau dapatkan sekecil apapun itu harus cerita." Dua anak itu saling menatap untuk sesaat. beberapa saat sebelumnya Tiya filia telah menceritakan kepada Luis tentang kecurigaannya kalau orang yang meninggal dalam kasus Prayoga Novilus itu adalah saudara kembarnya yang telah hilang 17 yang lalu. Dan walau dia telah mengunjungi kuburan saudara kembarnya itu, tetapi dia tetap penasaran apa yang telah terjadi? bagaimana saudaranya bisa hilang, dan sekarang apa sebabnya dia meninggal, dari bukti-bukti yang dia dapat dia terlalu ragu kalau Prayoga pembunuhnya.
"kayaknya kamu akan ingkar janji ya?" kata luis tak percaya pada Tiya filia.
"nggak aku nggak akan ingkar janji.. sudah sana kakak pulang.." kata Tiya filia dan membalikkan tubuh Luis serta mendorongnya pergi.
semetara itu di suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat Tiya filia dan Luis, di dalam sebuah mobil sedan mewah, Prayoga yang melihat tingkah Tiya filia dan Luis dari jauh terlihat muram dan marko meliriknya kwatir.
"kamu nggak ingin turun untuk menyapanya?" tanya marko kwatir.
"hm?..eh.. nggak usah kak.. " kata Prayoga seperti tersadar dari pikirannya.
"kak.. itu pacarnya?" tanya Prayoga pelan.
"siapa?.. oh mereka.. nama pemuda itu Luis dia salah satu anak buahku. kalau dari pengakuan mereka, katanya mereka tak punya hubungan, tapi bisa saja mereka berbohong." kata marko sambil memperhatikan wajah Prayoga.
"kenapa kau menyukai nona Tiya?" tanya marko, dan mendengar itu Prayoga menatap marko sesaat, dia ingin bicara tapi akhirnya hanya tertunduk diam dan wajah Prayoga terlihat muram.
"kak kita pulang saja.." kata Prayoga Novilus pelan.
__ADS_1
"Prayoga..kamu itu tampan, pinter dan pewaris semua kekayaan kakekmu.. semua gadis pasti akan menyukaimu.."
"kak jangan ngaco.. ayo kita pulang" sekarang Prayoga terlihat mulai gelisah.
"Prayoga..apa jangan-jangan kau?!"
"kak.. mereka saudara kembar kak.. dan aku telah membunuh thio saudaranya.." suara prayoga tercekat, seperti hendak menangis.
Prayoga!.. berhenti bicara seperti itu, aku baru saja membuktikan kalau bukan kamu yang telah membunuh orang itu, kamu tak bisa menolongnya bukan berarti kamu.."
"harusnya aku tak menyetujui keinginannya untuk ke laut.. padahal aku tau dia takut laut..." potong Prayoga.
"Thio Nggak Mungkin Bunuh Diri Kak!!" protes Proyoga, dia juga terlihat kesal. mendengar protes Prayoga itu Marko hampir tersenyum akhirnya Prayoga hampir kembali seperti dahulu, akhir-akhir ini dia seperti orang bodoh yang putus asa, yang dia lakukan hanya menangis dan bersedih.
"oke.. maafkan aku. aku bicara seperti itu karna temannya temanmu itu punya hutang yang banyak.. dan sekarang temannya itu hilang entah dimana. yang pasti pokoknya kita akan mencari bukti bersama-sama, apakah dia mati di bunuh, atau bunuh diri, atau kecelakaan.. kau akang membantuku kan?" Prayoga yang mendengar perkataan Luis itu hanya menganggukkan kepala, dan dia melihat Tiya filia kembali masuk ke dalam apartemennya setelah mengantar Luis.
CERITA 16
Mandi air panas merupakan pilihan yang tepat saat tubuh merasa kelelahan. Tiya filia setelah bertemu Prayoga pagi itu dan di tinggalkan begitu saja oleh Prayoga tanpa mendapatkan apa-apa, dan walaupun dia tetap menunggu berjam-jam lagi tapi Prayoga tak muncul kembali, membuatnya merasa marah, kesal, benci dan bosan semuanya berbaur menjadi satu, dan di tambah lagi saat didepan rumahnya dia juga harus berhadapan dengan Luis seniornya yang sedang marah, membuatnya dia harus mengungkit kembali masa lalu yang sedih yang dia pendam saat kehilangan saudara kembarnya dan menceritakannya kepada Luis agar mendapatkan dukungan yang juga dia rasakan sebagai beban. menyebabkan seluruh badannya terasa lelah seakan semua energinya terkuras habis hari itu.
hangatnya air mandi membuatnya sedikit rileks.. sambil membasuh rambutnya dia duduk santai di depan tv, kriiiiiing.. kriiiiiing suara HPnya yang dia pasang dengan nada dering bunyi telpon tempo dulu terdengar nyaring. dia berharap ayahnya yang sangat dia sayang akan menelpon. tapi DEG.. seluruh rasa penatnya seakan langsung kembali.
__ADS_1
"halo.. selamat malam pak.." Sapa tiya filia kepada peneleponnya.
"Nona Tiya.. ini aku marko, maaf malam-malam mengganggumu" kata peneleponnya yang ternyata Marko bosnya Luis. Tiya filia telah mendapatkan nomor kontaknya dan telah menyimpan di hpnya.
"iya pak, ada yang bisa di bantu?"
"ah..jadi nggak enak ini.. iya.. saya menelpon sebenarnya memang karna perlu bantuan dari nona Tiya.." DEG.. kata-kata pak marko itu seakan membuat kepala Tiya filia menjadi sakit, pasti pak marko akan melarangnya untuk menemui Prayoga karna kejadian tadi pagi.
"bantuan apa ya pak?" tanya tiya filia pura-pura santai, padahal kepalanya sedang berdenyut sakit.
"ah.. itu..tapi sebelum aku cerita bantuan apa itu, aku akan menjelaskan kalau bantuan ini tidak memaksa.. nona Tiya bisa menolak kalau tidak berkenan.." kata Marko
"oh baik pak.." kata Tiya filia pelan.
"ini.. tempo hari Luis pernah cerita kalau nona Tiya filia ingin menjadi seorang pengacara. jadi begini nona Tiya.. di kantor kami sekarangkan lagi banyak kerja, jadi kalau nona Tiya berkenan saya minta bantuan nona Tiya untuk bekerja di kantor bersama kami.. tapi itu kalau nona Tiya suka.. katanya juga nona Tiya sekarang belum bekerja ya.. eeh tapi mohon maaf kalau saya menyinggung.." kata marko di telpon, sementara itu sambil mendengar perkataan marko itu tanpa sadar membuat Tiya filia tersenyum kecut, perkataan seorang pengacara itu memang beda pikir Tiya filia, kalau dia berniat melarang ku menemui Prayoga tidak perlu di katakan langsung, hanya perlu menawarkan pekerjaan.
"bagaimana nona Tiya.. apa nona bersedia?" tanya marko yang membuat Tiya filia sadar dari pikirannya.
"begini pak.."
"em nona Tiya.. kuharap nona Tiya jangan dulu menolak.. bagaimana kalau besok pagi nona Tiya datang dulu kekantor kami.. lihat-lihat dulu.. apakah pekerjaan itu berkenan atau.. ya pokoknya datang dulu.." kata marko memotong apa yang hendak dikatakan Tiya filia.
__ADS_1