
Siang itu dirapat yang dihadiri Owner sekaligus CEO perusahaan perkapalan terbesar di Asia Juldy Novilus yang adalah kakek dari Prayoga Novilus mendapat sedikit interupsi, pada saat Marko sedang menjelaskan masalah yang di hadapi salah satu anak perusahaan perkapalan itu, Hpnya yang diletakkan di atas meja berbunyi dan mengganggu konsentrasi Juldy Novilus sehingga dia menghentikan marko yang sedang bicara, untuk mengangkat telpon itu.
"Dari siapa?!" tanya pak Juldy Novilus dengan suara baritonnya yang penuh wibawa.
"Dari kepala penjara tempat Prayoga" kata Marko dengan sopan.
"ada apa?!" tanya Juldy Novilus lagi.
"itu pak.. Nona Tiya yang ku antar untuk bertemu dengan Prayoga beberapa hari yang lalu. Dua hari ini dia memaksa untuk bertemu dengan prayoga. Bahkan dia terkesan sangat ngotot, katanya dia melakukan segala cara, dari prosedur resmi sampai merayu petugas dia lakukan, dan itu membuat mereka kwatir akan berakibat buruk buat prayoga." kata marko menjelaskan. Luis yang juga hadir dalam rapat itu terlihat kaget dan kwatir.
"Jangan lakukan apapun.. Biarkan saja anak itu.." Kata Juldy Novilus setelah dia diam sesaat.
"baik pak" kata marko patuh. walaupun dia kwatir tapi tak berani untuk membantah perkataan bosnya dan rapat itu kembali berlanjut.
Menyerah sebelum berusaha maksimal bukanlah gaya Tiya Filia, soal gagal dan bangkit lagi itu seakan makanannya sehari-hari, semangat dan pikiran positifnya membuat Tiya filia punya banyak ide untuk mewujudkan keinginannya.
Dan saat ini dia ingin mengetahui cerita yang sebenarnya tentang saudara kembarnya dari Prayoga Novilus.
Dua hari bolak- balik dan menunggu di depan penjara belumlah membuat Tiya Filia menyerah dan pagi ini adalah hari ketiga, masih dengan tekad dan harapan yang sama, maka Tiya filia melangkah penuh semangat dan wajah yang di buat seriang mungkin.
__ADS_1
Prayoga Novilus gelisah, Mata itu dan wajah itu yang terlihat sangat hidup walaupun dalam rupa seorang perempuan sangat mengganggu pikirannya, dua hari dia berharap bisa menghindar dan melupakan wajah itu tapi semua sia-sia, gadis itu terlalu keras kepala untuk menyerah, dan itu sangat mengganggunya, wajahnya semakin muram. Pagi ini pun, petugas datang lagi memberitahukan kehadiran gadis itu.
"kalau kau tak ingin bertemu biarkan saja dia, walaupun dia ngotot dia tak bisa berbuat apa-apa." kata petugas itu, tapi Prayoga hanya tertunduk diam seperti biasa.
"tapi bukannya apa-apa.. cewek itu orangnya asik loh.. lumayan menghibur. dia lucu, baik dan enak di ajak ngobrol, dia seperti punya banyak cerita" kata petugas itu lagi, dan kembali tak ada tanggapan dari orang yang diajak bicara. Dia menatap prayoga yang hanya diam, perasaan kesal karena di acuhkan membuatnya hendak meninggalkan tempat itu, dengan rasa menyesal yang terlihat di wajahnya petugas itu dengan malas di berjalan meninggalkan Prayoga.
"bawa aku menemuinya.." kata Prayoga pelan, petugas itu kaget.
"Apa?!.. oh baik.. " kata Petugas itu setelah kagetnya hilang, dia langsung membuka pintu penjara Prayoga dan berharap Prayoga tak berubah pikiran.
Diruang tunggu Tiya Filia juga kaget melihat kedatangan Prayoga, dia hanya diam saat Prayoga masuk sampai akhirnya duduk di depannya dan meliriknya sekilas.
"Maumu apa?" Tanya Prayoga pelan, tapi itu membuat Tiya filia sadar dan segala pertanyaan berputar di kepalanya.
Prayoga kembali melirik Tiya filia, tapi dia tak berani berlama-lama melihat mata itu.
"aku nggak tau.." kata Prayoga pelan.
"apa maksudmu nggak tau!. bukannya selama sidang kau selalu mengatakan bahwa kau yang telah membunuhnya?!" tanya Tiya filia kesal.
__ADS_1
"...." Prayoga ingin mengatakan sesuatu tapi akhirnya dia hanya diam saja.
"Heeiii..dijawab!! aku bertanya kenapa kamu hanya diam." Desak tiya filia.
"bagaimana kalian bertemu?! apa hubunganmu dengan saudaraku?! bagaimana kalian bisa bersama?!" tanya tiya filia bertubi-tubi, dan bukannya dijawab, sebuah senyum tipis terlihat dibibir Prayoga Novilus, dan untuk menutupi itu Prayoga tertunduk semakin dalam dan membuat tiya filia semakin kesal.
"HEEIIIII..KAMU TULI??! kenapa nggak di jawab?!.." Geram tiya filia, Prayoga Novilus tertunduk semakin dalam, senyum yang tadi telah hilang.
"Apa benar saudaraku telah meninggal?!" suara Tiya filia melemah dan bergetar
"kenapa kau membunuhnya?! apakah dia menyakitimu? atau dia telah membuatmu marah?.. tapi kenapa harus dibunuh?.."
"kau tau.. dia saudaraku yang telah lama hilang.. aku sangat merindukan dia.. selama ini aku selalu yakin kalau dia masih hidup, walau orang tua kami telah menyerah.. tapi naluriku berkata kalau dia masih hidup" suara tiya filia mulai terisak air matanya telah menetes.
"Dulu aku selalu merasa dia sainganku.. tapi aku tak pernah membencinya.. aku selalu menyayangi dia.. karna dengan adanya dia aku tak pernah merasa sendirian.. dia selalu menjagaku..." wajah Prayoga semakin kusut, hatinya seperti diremas begitu menyakitkan melihat wajah itu menangis,
"dulu terkadang aku juga membencinya karna meninggalkan aku sendiri, tapi terkadang juga aku takut dia diculik dan di sakiti orang.." entah apa yang dipikiran Tiya Filia, Prayoga Novilus yang harusnya adalah orang yang di bencinya, tapi dia seakan curhat, dan kata-katanya itu tak tertahankan lagi buat Prayoga, rasa bersalahnya yang mendalam membuat dia berdiri dan meninggalkan Tiya filia.
"Hei Kenapa Kau pergi.. aku belum selesai bicara.. Prayoga!!. HEI..apa kau masih ingat aku?! waktu itu apa karna kau membenci aku hingga kau menculik saudara kembarku!!" Suara Tiya filia sedikit tinggi tapi dia tak berusaha mengejar Prayoga, dia masih terlalu sedih mengingat saudara kembarnya itu.
__ADS_1
sementara Prayoga yang berjalan cepat untuk menghindar dari Tiya Filia saat mendengar pertanyaan Tiya filia yang terakhir membuat langkahnya terhenti DEG.. apa maksudnya?! pikir prayoga, saat dia menyadari dia berbalik dan hendak menemui Tiya filia lagi, tapi hanya berapa langah dia kembali terhenti.
"Jadi yang ku temui waktu itu adalah anak itu? berarti aku bukan gay?"