KU INGIN TAHU CERITA ITU

KU INGIN TAHU CERITA ITU
CERITA 19


__ADS_3

"aku tahu terlalu berat buatmu mengingat kematian orang yang sangat kau cintai, tapi kumohon aku ingin tau cerita yang sebenarnya" kata Tiya filia berusaha meyakinkan prayoga, dia teringat bagaimana prayoga melarikan diri saat dia bertanya tentang kematian saudara kembarnya. Tiya filia berusaha tegar walau dalam hatinya dia begitu takut dan sedih.


Prayoga menatap tiya filia, dan airmatanya mulai menetes, walau sekarang dia sadar bukan thio orang yang sebenarnya dia cari dan cintai, tapi hubungannya dengan thio selama ini juga bisa dikatakan sangat baik.


"maafkan aku.." kata prayoga, tiya filia ingin protes tapi kemudian dia menyadari prayoga telah balik menggenggam tangannya dengan lembut. sejenak keduanya terdiam.


"sejak pertemuan kita, bertahun-tahun aku selalu berharap kita bisa bertemu lagi.. jadi saat bertemu Thio.. aku begitu bahagia, wajah thio sangat mirip denganmu, hanya binar dimata kalian yang berbeda, tapi dulu kupikir itu karna masalah hidup membuatmu berubah. sejak itu aku selalu berharap thio bisa bahagia, aku berusaha memberinya kasih sayang, walau aku tau itu berlebihan, sampai orang-orang menganggap aku gay, aku tak peduli karna yang kupedulikan adalah kebahagian thio..." cerita prayoga, dia berhenti sebentar mengangkat kepalanya untuk menatap tiya filia sebentar, kemudian menundukkan kepalanya kembali sambil bercerita lagi.


"aku memang pernah beberapa kali mengatakan cinta pada thio, tapi selalu di tolaknya, thio selalu mengatakan kalau dia normal.. dan beberapa hari sebelum kematiannya, aku juga sempat menyatakan rasa cintaku lagi padanya, waktu itu thio sempat marah, dia mengatakan gerah dengan pernyataan cintaku.. tapi di beberapa hari sebelum kelulusannya dia menghubungi aku dan meminta hadiah kelulusannya. waktu itu dia belum mengatakan hadiah apa yang dia minta, dan disaat kelulusan dia meminta hadiahnya, dia ingin kami kelaut untuk memancing dengan mengunakan kapal milikku berdua saja, saat itu aku sedikit bingung karna yang ku tahu dia takut laut. dan saat ditengah laut aku merasa aneh, aku yang biasa melaut entah itu hanya untuk jalan-jalan ataupun memancing biasanya aku tak pernah mabuk laut ataupun sakit kepala, tapi saat itu entah kenapa kepalaku rasanya sakit sekali, dan itu membuat aku pingsan, tapi sebelum aku pingsan aku sempat melihat thio yang jatuh kelaut, entah dia sengaja melompat atau jatuh kepalaku terlalu sakit untuk bisa melihat dengan jelas.. maafkan aku.."


"disaat kau dan thio melaut itu, apa benar-benar hanya kalian berdua yang berada di kapal itu? bagaimana kalian tiba di kapal itu, apakah thio telah tiba duluan, atau kamu yang duluan tiba?" tanya marko menyela cerita prayoga. cerita prayoga yang sedih langsung berubah menjadi misteri.


"setahu aku, di kapal itu hanya kami berdua. keinginannya untuk melaut dia katakan paginya, dan sore itu aku dari kantor langsung ke kapal, disana thio telah menungguku.."


"jadi kalian melaut disaat sore?"


"iya kak, karna.."


"kalau kalian tiba di tengah laut saat hari telah malam..bagaimana kamu bisa yakin thio yang jatuh kelaut?" tanya tiya filia spontan.


"dikapal itu ada lampunya tiya dan juga kan hanya kami berdua disana" jawab prayoga pelan sambil tersenyum, kemudian dia seperti tersadar merasa aneh sendiri, beberapa waktu yang lalu saat dia menceritakan tentang kematian thio, hatinya begitu sakit, tapi sekarang dia bahkan bisa bercanda.


"dasar bodoh, saat itu kamu kan sedang sakit. pasti sebelum pingsan kamu kesakitan dahulu. apa sebelumnya kamu memeriksa kapal itu?! kalau nggak bagaimana bisa kamu begitu yakin di kapal itu nggak ada orang lain." kata Tiya filia kesal sambil menghempaskan tangan prayoga yang memegang tangannya saking kesal, wajah prayoga langsung berubah sedih.


"betul juga yang dikatakan nona Tiya.. memang sewaktu kapal itu di periksa ada sidik jari lain disana, cuma diabaikan karena itu pasti sidik jari saudaranya thio, dia juga sering ikut thio ke kapal itu kalau thio membersihkan kapal itu. apa jangan-jangan dia yang membunuh thio?" kata marko pelan, terlihat dia sedang berpikir.

__ADS_1


"bisa jadi memang seperti itu.. tapi mau bagaimanapun thio telah meninggal karna kesalahanku.. maafkan aku tiya.. aku tak bisa menjaga saudaramu.." suara prayoga seperti wajahnya begitu sedih.


"tapi instingku mengatakan kalau thio itu masih hidup." protes Tiya filia dengan keras.


"t i y a.. please.. kita tak.." prayoga berusaha membujuk Tiya filia, tapi langsung dipotong oleh tiya filia.


"kami berdua itu saudara kembar identik.. apa yang dia rasakan aku juga bisa merasakan itu,mau percaya atau tidak..terserah. dan sekarang.. instingku mengatakan kalau dia belum mati." kata tiya filia saking kesal dia langsung berdiri, mengambil gelas yang diberikan prayoga tadi dan berjalan hendak mengambil air minum lagi.


"t.i.y.a.." panggil prayoga lembut.


"terserah kalian mau percaya atau tidak, yang pasti aku akan tetap berusaha mencari tahu.." kata tiya filia lagi.


"polisi telah mengidentifikasi sidik jari korban sama dengan sidik jari yang diambil saat pembuatan KTP korban.. apa itu belum cukup nona ti.." kata marko pelan, seperti untuk dirinya sendiri.


"kak!!" bentak proyoga pelan pada Marko, seakan melarang marko untuk bicara. dia langsung mengikuti tiya filia ke tempat dispenser. dan marko langsung keluar hendak menelpon.


"waduuh. ada apa lagi ini.." pikir marko. sambil tersenyum sambil juga menggaruk kepalanya yang tidak gatal marko mendekati dua orang itu.


"ayo katakan pulau itu dimana? di daerah mana tempat asal thio itu?!" terdengar Tiya filia menuntut.


"nggak mau.. aku yang akan mengantarmu ke sana.. tapi kita makan siang dulu.. yaaa..." suara Prayoga terdengar merengek, tapi cukup tegas.


"Nggak Perlu Di Antar Aku Bisa Ke Pulau Itu Sendiri!!.."


"nggak mau.. kamu nggak boleh pergi sendirian. aku akan mengantarmu, tapi kita makan siang dulu yaa.. tadi kamu nggak sarapan" suara prayoga pelan, membujuk sedikit juga merengek. Marko yang baru mengerti pembicaraan mereka hanya bisa mengatakan "ooh.." sambil tersenyum dan kembali menjauh.

__ADS_1


"iiiiih.. dasar bodoh.. Aku Hanya Ingin Tahu Dimana pulau itu? pulau apa itu?.. aku bisa ke sana sendirian.." kata Tiya filia sambil menendang kaki Prayoga karna kesal. walau dipukuli prayoga masih tetap menggelengkan kepala, nggak mau menjawab.


Tiya filia terdiam sesaat sepertinya sedang berpikir.


"hei bagaimana kalau aku merayu mu.." kata tiya filia sambil berjongkok didepan prayoga, dan kepalanya agak di arahkan pada prayoga, dan entah naluri atau di sengaja pada saat itu juga prayoga menengadahkan wajahnya, dan untuk sesaat bibir mereka bersentuhan, begitu sadar tiya filia langsung memundurkan tubuhnya dan bangkit berdiri, terlihat salah tingkah. sedangkan prayoga masih pada posisinya agak bengong sebentar. dan ketika sadar dia juga langsung berdiri.


"aku mau lagi.." kata prayoga dan sekarang dia yang mengejar tiya filia,


"ih apaan menjauh sana?" protes tiya filia dan berusaha menjaga jarak.


"jantungku sepertinya mau meledak tapi aku ingin lagi dicium.." kata prayoga seperti merengek dan tetap berusaha mendekati tiya filia.


"berhenti disitu!! awas kalau mendekat lagi, aku akan memukul kepalamu pakai gelas ini coba saja kalau berani.." kata tiya filia dan prayoga langsung berhenti, wajahnya terlihat sedih.


"untuk sekarang aku mau pulang, jangan ikut.. Besok Pokoknya kau harus mengantarku ke pulau itu..jangan coba-coba menghindar.. " Kata Tiya filia tegas.


"aku akan mengantarmu pulang.."


"Nggak perlu!!.. tinggal disitu!!.."


"tapi aku ingin mengantarmu pulang" bujuk prayoga, marko yang tadinya tak peduli langsung berdiri dan mendekati mereka lagi.


"ada apa ini? kenapa nona tiya? kenapa buru-buru pulang?.."tanya marko dia menatap Tiya filia dan prayoga bergantian.


"nggak apa-apa pak.. aku hanya ingin memeriksa sesuatu di rumah, maaf pak aku nggak bisa menemani bapak.." kata tiya filia.

__ADS_1


"aku permisi dulu.." kata tiya filia dan langsung pergi. Marko menahan prayoga yang berusaha mengejar Tiya filia.


"Nona tiya.. tunggu sebentar.." kata marko


__ADS_2