KU INGIN TAHU CERITA ITU

KU INGIN TAHU CERITA ITU
CERITA 21


__ADS_3

Marko menjauh dari ruangan itu hendak menelpon.


"pak apa kita akan melaporkan kejadian ini pada polisi?" tanya luis yang mengikuti marko.


"jangan sekarang, disini ada prayoga, kalau wartawan melihat dia masalah ini pasti tersebar. kita melaporkan kejadian ini tapi secara diam-diam" kata marko sambil berpikir.


"kalau boleh tahu pak, sejak kapan dia keluar?"


"prayoga? kemarin sore.."


"dia kelihatannya berubah sekali ya pak" marko mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan luis itu.


"maksudnya? dia kurusan?"


"bukan pak.. selama ini yang aku tahu pak prayoga itu orangnya tenang, penuh wibawa, tegas walau bicaranya memang kalem, tapi itu merengek.. seperti seorang anak yang merengek-rengek meminta sesuatu pada ibunya." marko yang sedang serius jadi tertawa mendengar pertanyaan luis itu, tapi kemudian menyadari kalau suara tawanya berlebihan.


"anggap saja kau mendapat kesempatan langka melihat dia seperti itu" kata marko masih tersenyum. Dan dia menelpon.


"halo, maaf pak mengganggu.." kata marko kembali serius pada seseorang yang ditelponnya.


"ada apa? apa ada yang serius?" jawab orang yang di telpon marko yang ternyata adalah kakeknya Prayoga, Juldy Novilus.


"ada orang yang mengirimkan hadiah ancaman pada nona Tiya filia, sepertinya dia belum mengetahui kalau Prayoga sudah bebas" kata marko


"ehm.. seperti dugaanku.. kau harus segera temui komdan angky, dia akan membantumu memecahkan masalah ini. hati-hati marko.. orang ini berbahaya." kata pak juldy tenang dan penuh wibawa.


"bagaimana dengan nona tiya pak?"


"biarkan prayoga yang mengurus dia. ah.. dan ku pikir kita harus segera menemui orang tua gadis itu.."


"maksudnya pak?"


"dia gadis yang baik. dan dari rekamanmu tadi siang.. dia sepertinya gadis yang pinter dan penuh semangat, aku sudah bisa membayangkan buyutku akan jadi seperti apa.. marko, kalau kau bisa buat kesempatan untuk mereka membuat buyutku lebih cepat lahir.. aku pasti akan memberimu hadiah yang besar.." kata pak juldy Novilus penuh semangat.


"ah.. cucu dan kakek ini nggak ada bedanya" pikir marko sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Marko kembali ke ruangan tempat Prayoga dan Tiya filia berada, di sana terdengar rengekan prayoga yang membujuk tiya filia untuk tinggal di rumahnya.


"tinggal di rumahku ya.." bujuk prayoga.


"kenapa sih kalau ngomong sama kamu harus berkali-kali. kan sudah di bilang tadi, Aku Nggak Mau!!." jawab tiya filia sedikit ketus.


"kenapa nggak mau? apa masalahnya?"


"aku baru kenal kamu, nanti kalau ayahku tau dia pasti akan marah besar."


"bukankah kita sudah saling kenal lama sebelumnya?"


"iiiih bikin kesal aja.. yang ayahku tau kamu itu pembunuh. jadi biar lebih aman aku akan tinggal dengan kak luis" kata tiya filia dan wajah Prayoga terlihat sedih.


"aku hanya takut penjahat itu akan menyakitimu.. kalau kamu akan tinggal dengan luis.. aku juga akan tinggal disana"


"iiiih.. nggak boleh!! penjahat itu nggak akan menyakitiku"


"ehm.. bagaimana kalau kalian semua tinggal di rumahku saja.. kamar di rumahku


muat untuk kalian semua, nona tiya, prayoga, luis juga" kata marko berusaha menjadi penengah.


"iya benar.." kata marko sedikit merasa malu karna kesalahannya.


"pokoknya begini saja.


yang pasti penjahat itu sekarang pasti masih berada disekitar sini dan sedang mengawasi kita. dia juga mungkin sudah melihat kita semua di sini, termasuk Prayoga. jadi karna sekarang dia telah mengetahui kalau prayoga telah bebas dari penjara, dan ini berbahaya.. jadi kalau bisa malam ini juga Prayoga bersama nona Tiya harus pergi meninggalkan tempat ini, dan kota ini"


"maksudnya kak? kami melarikan diri?" tanya Prayoga kurang senang.


"bisa dikatakan seperti itu. tapi sebenarnya kalian, kau dan nona tiya akan ke pulau asal thio untuk mencari informasi tentang thio disana. seperti rencana nona tiya tadi siang? kita hanya mempercepat dan mengatur seolah-olah kalian pergi dari sini. bagaimana?" marko menjelaskan, padahal dia juga punya rencana tersembunyi di balik itu.


"oke aku setuju" kata Tiya filia yakin.


"tapi tiya kalau hanya kalian berdua apakah itu tidak bermasalah? maksudku bukankah katamu tadi kau belum terlalu mengenal pak prayoga" tanya luis karna ragu.

__ADS_1


"jadi kau meragukan aku?" prayoga balik bertanya pada luis dengan suara yang tenang dan penuh wibawa seperti biasanya dia.


"eh bukan begitu pak.. aku hanya.." luis jadi gugup.


"Nggak apa-apa kak.. coba saja kalau dia berani macam-macam sama aku.. kurus kering kayak itu aku pasti bisa menang.." kata Tiya filia percaya diri.


Dan malam itu juga rencana melarikan diri Tiya filia dan Prayoga di atur. Pelarian mereka itu dibuat seolah-olah disembunyikan tapi juga seakan ada celah yang terlihat.


CERITA 22


"**kak luis percaya aja, naluriku berkata Prayoga itu bukan orang jahat kak" kata Tiya filia meyakinkan Luis saat dia bersama Prayoga dan beberapa pengawal akan berlayar ke pulau tempat asal Thio.


"aku jaminannya kalau sesuatu buruk terjadi pada nona Tiya" kata marko meyakinkan luis sambil menepuk pundaknya.


Dan merekapun berangkat setelah beberapa waktu sebelumnya telah berusaha mengecoh siapapun orang yang berniat mengancam Tiya filia.


"ayo kita kembali.. aku punya tugas untukmu" kata Marko, setelah melihat mereka pergi.


"tugas apa pak?" tanya luis.


"tugasnya kamu malam ini akan ke Bar."


"pak marko sudah tahu siapa penjahat itu?" tanya luis sedikit kaget.


"aku juga belum tahu siapa penjahat itu, hanya firasat aja mereka akan mengikuti mu.."


"kalau belum tahu.. jadi tugasku apa pak?"


"jadi di bar itu tugas kamu adalah mabuk.."


"mabuk?! maksudnya pak?"


"jadi kamu akan mabuk untuk mengecoh mereka, seakan kamu stres dan mengoceh seakan-akan Nona Tiya dan Prayoga benar telah melarikan diri ke luar negeri"


"oh.. oke siap pak, tapi apa pak marko memang belum bisa menebak siapa kira-kira yang mengancam Tiya?"

__ADS_1


"sudah, kamu lakukan saja seperti yang aku perintah. untuk yang lain-lain itu adalah tugasku" kata marko tegas dan luis pun hanya bisa diam mengikuti perintah.


Pagi-pagi sekali mereka tiba di pulau itu. dan sepanjang perjalanan Prayoga terlihat gelisah, dia memegang tangan Tiya filia seakan tak ingin dilepas. walaupun awalnya tiya filia agak kurang nyaman tapi setelah melihat kegelisahan di wajah prayoga akhirnya dengan berusaha meyakinkan prayoga tiya filia membiarkan tangannya di pegang dengan erat oleh prayoga**.


__ADS_2