
" Kak luis..ku mohon.. ini permintaanku yang terakhir.. aku hanya ingin bertemu prayoga satu kali aja..ya kak " bujuk Tiya filia.
"Tiya.. kemarin kau bilang hanya ingin tau tentang prayoga, sekarang kau ingin bertemu.. besok apa lagi?" salah seorang senior Tiya filia yang bekerja di perusahaan milik keluarga Prayoga sedang berusaha melawan bujukan Tiya filia.
"Aku janji kak luis.. ini yang terakhir.. besok nggak akan ada lagi.
t a p i.. kalau.. bulan depan..atau nanti nggak janji kak ya.." Tiya filia tersenyum lebar dengan tatapan memohon yang susah ditolak.
"Dasar anak keras kepala.." kata Luis seniornya itu tapi dia juga ikut tersenyum,
"aku beneran nggak bisa Tiya.. tapi aku akan berusaha mempertemukan kamu dengan bos aku. Mudah-mudahan dia bisa membantu"
"yeeeeey.. terima kasih kak luis" kata Tiya filia senang.
"cuma kamu harus ingat.. kamu harus menjaga sikapmu, harus sopan.."
"oke siap bos.. jadi kapan?" potong Tiya filia.
__ADS_1
"T I Y A.. dasar kamu.. pokoknya akan aku usahakan. nanti ku telpon, kapan dan di mana.. kamu tunggu aja"
"sekarang aja kak.. bawa aku menemui bos kak luis.."
"Uh.. tukang paksa.. kalau kamu nggak cantik.. pasti sudah ku usir.." Luis tersenyum gemes melihat tingkah Tiya filia, anak itu tak bisa membuatnya marah. pertama kali mereka bertemu waktu itu Tiya filia adalah mahasiswa baru dan luis adalah salah satu senior yang bertugas memperkenalkan kampus kepada mahasiswa baru, saat Luis melihat Tiya filia dengan tingkah yang agak tomboy, riang, pinter dan lucu, itu membuatnya teringat pada adik kecilnya yang dulu yang sangat dia sayang yang meninggal dunia karna demam berdarah, dan sejak itu dia mulai menyayangi dan menjaga tiya filia seperti adiknya sendiri.
"Dan Sayang sekali, kamu belum beruntung hari ini. Bos ku sedang bertugas diluar kota dan akan kembali minggu depan" luis tertawa melihat tiya filia yang langsung cemberut mendengar ceritanya.
"ih kak luis payah" kata tiya filia kesal, akhirnya dengan berat hati dia meninggalkan kantor seniornya itu.
Rasa ingin tau Tiya filia tentang Prayoga Novilus itu telah menguasainya sejak dia meninggalkan kantor ayahnya pada malam itu, dan semakin besar setelah dia melihat data-data dari seniornya tentang prayoga Novilus, ada sesuatu yang sangat membuatnya penasaran dan curiga, yang membuat dia ingin bertemu langsung.
Tiya filia menatap telepon genggamnya, rasanya tak ingin menjawab panggilan itu tapi semua itu harus dia hadapi.
"ya ayah.." kata Tiya filia dengan riang saat dia menjawab panggilan hp itu.
"kamu di mana filiia? kenapa jam segini belum pulang? lagi bikin masalah baru ato apa..hah?" Tanya adam lembut tapi tegas.
__ADS_1
"kan filia udah ijin ayah.. mau belajar jadi pengacara sama kak Luis"
"iya.. tapi ayah pikir kamu akan langsung pulang. kenapa jam segini belum juga pulang?.. tadi juga ayah dengar dari bibi mira katanya kamu menelpon meminta bibi mira menjaga ibumu untuk beberapa hari, apa maksudnya itu?"
"kan ayah kalau mau belajar nggak mungkin hanya sehari.. jadi aku akan tinggal di kota ini untuk beberapa hari. boleh ya ayah please?.. ini juga agar aku cepat move on.." kata tiya filia dengan suara memelas, tapi ada senyum getir di wajahnya.
"filia.. kau tahu untuk urusan ibumu ayah agak susah percaya orang lain.."
"berarti mulai sekarang ayah harus belajar percaya orang lain"
"f i l i a.."
"a y a h! ini demi masa depan anakmu!.. boleh ya ayah.. ku mohon.. percayalah bibi mira dan percayalah anakmu" bujuk tiya filia. Dan dari seberang adam terdiam sebentar, hanya terdengar tarikan nafas dalam.
" oh anakku.. ayah jadi pusing.. ok ayah ijinkan tapi tidak boleh lebih dari seminggu.. janji!!"
"iya ayah janji" kata tiya filia dan tak lama kemudian panggilan telpon itu di matikan setelah ayah dan anak itu saling melepas rindu.
__ADS_1
di saat panggilan telpon itu di matikan, se tetes air mata menetes di pipi tiya filia.
"maafkan aku ayah.. aku ingin cerita padamu tapi aku takut ayah kembali sakit.. aku akan membuktikan dugaan ku dulu. mencari tau cerita yang sebenarnya.. dan aku akan pulang.. ibu.. ku mohon cepat sembuh ya.." kata tiya filia pada dirinya sendiri sambil menatap foto ayah dan ibunya.