Kuingin Yang Tak Kuinginkan

Kuingin Yang Tak Kuinginkan
Ingin Rasanya Punya Cucu


__ADS_3

Ting!


'Hei, kamu di mana? Aku sudah sampai di kafe.'


Pengirim: Julie.


'Iya sebentar, ini aku sudah ada di sekitar kafe. Tunggu 10 menit lagi ya!', balas seorang gadis yang sedang berdiri di pinggir jalan.


Gadis itu sedang berdiri mematung menghadap ke arah jalan raya yang tadi dia seberangi, dia menatap seorang nenek yang sedang menyeberang perlahan dengan langkahnya yang tertatih-tatih.


Nenek tersebut terlihat kesusahan dalam berjalan, nenek itu mulai mempercepat langkahnya meski sedikit terseok-seok, karena lampu penyeberangan sudah menyala hijau bagi para pengguna kendaraan.


Mereka dengan tidak sabar mulai membunyikan klakson, sambil meneriaki si nenek agar segera mempercepat langkahnya.


'Dasar orang-orang tidak berperasaan! Bukankah kalau sudah tua nanti merekapun akan berjalan tertatih-tatih seperti itu? Huh, ingin rasanya aku sumpal semua mulut mereka! Huh!!'


Sambil berpikir seperti itu, gadis itu dengan cepat melangkah ke jalan raya menghampiri si nenek.


Begitu sampai di depan si nenek, dia langsung berjongkok membelakanginya.


"Mari nek, aku gendong", ucapnya dengan nada lembut.


Si nenek pun kaget melihat perlakuan gadis yang begitu tiba-tiba itu.


"Tidak usah Nak, Nenek masih bisa jalan sendiri", jawab nenek sambil tersenyum penuh haru.


"Sudahlah Nek, aku gendong saja agar lekas sampai seberang. Aku tidak tahan mendengar teriakan mereka ke nenek."


Dengan sedikit memaksa, gadis itu menarik lembut tangan si nenek ke pundaknya, lalu menggendongnya.


Perlahan dia mulai berjalan dengan langkah lebarnya sambil memandang sinis ke arah para pengendara motor.


Para pengendara motor hanya bisa terdiam dan merasa canggung dengan keadaan itu. Walaupun begitu, mereka tetap melajukan kendaraan mereka tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Sesampai di tepi jalan, gadis itu berjongkok dan dengan hati-hati menurunkan si nenek.


"Terima kasih Nak, sudah membantu nenek menyeberang. Pasti berat menggendong nenek yang sudah renta ini."

__ADS_1


"Tidak, Nek. Segini saja, masih kuat kok", ujar gadis itu sambil menyeringai dan memperlihatkan otot lengannya yang tidak bisa dibilang berotot itu.


"Kamu sungguh gadis yang baik. Andai semua anak muda memiliki sifat peduli sepertimu Nak", ucap nenek itu tersenyum melihat kekonyolan si gadis.


"Nenek bisa aja. Oh iya, Nenek mau kemana? Mau aku anterin, Nek?"


"Tidak usah, Nak. Nenek cuma mau kesana", tunjuk nenek ke sebuah toko roti yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Kalau begitu aku tinggal ya, Nek. Hati-hati di jalan, Nek."


"Iya, Nak. Sekali lagi terima kasih sudah menolong nenek tadi."


"Iya, Nek. Sama-sama. Permisi dulu ya, Nek", pamit gadis itu dengan sedikit membungkukkan badannya.


Dia pun membalikkan badannya dan segera berlari ke arah kafe dengan terburu-buru. Ponselnya sudah bergetar terus daritadi, ada banyak panggilan telepon yang dia abaikan terasa di saku celananya.


Dia tidak mau repot-repot mengangkat panggilan-panggilan itu, karena dia sudah tahu dari siapa itu.


Hanya satu orang yang saat ini sedang menunggu kedatangannya dengan tidak sabar, yang tak lain adalah Julie, sahabat karibnya ketika sekolah dulu.


Getaran panggilan dari handphone mulai terasa lagi di saku celananya.


Si nenek tersenyum melihat betapa enerjiknya gadis itu.


'Ingin rasanya punya cucu yang baik hati seperti itu', batin si nenek sambil menghela nafas.


'Oh iya, aku belum tanya siapa tadi nama gadis itu. Aku harap bisa bertemu lagi dengannya', imbuh si nenek dengan sedikit menyesal dan berbalik menatap gadis itu sekali lagi.


Tidak jauh dari sana, ada sepasang mata seorang pemuda tampan yang ikut menatap gadis itu dengan lekat.


Pemuda yang sedang duduk di sebuah kafe tersebut terus memperhatikan semua kejadian yang telah berlangsung antara si gadis dan si nenek.


Dia telah memperhatikan kejadian itu mulai dari si gadis yang berdiri mematung melihat ke arah jalan raya tadi.


Pemuda itu masih memperhatikan si gadis yang tengah berlari sekuat tenaga sambil menghindari pejalan kaki lainnya agar tidak bertabrakan dan sesekali membungkuk meminta maaf pada orang yang tidak sengaja dia senggol.


Gadis itu begitu lincah saat berlari, terlihat menyenangkan untuk dipandang. Rambut hitam panjangnya yang dikucir kuda sedikit berayun-ayun kesana kemari. Bulir keringat yang menetes di wajahnya berkilau terkena sinar matahari.

__ADS_1


Dia terus berlari, hingga akhirnya berhenti di depan kafe tempat pemuda itu berada.


Dia pun masuk ke dalam kafe dan berhenti sejenak melihat ke sekeliling kafe, mencari dimana temannya yang bawel itu duduk di dalam kafe.


Julie yang sedari tadi berusaha melakukan panggilan sambil sesekali melihat ke arah pintu kafe itu pun menyadari kedatangannya dan melambaikan tangan ke arah gadis tersebut.


"Hei! Di sini! Di sini!", teriaknya lantang.


Gadis itu kaget lalu menoleh ke arah sumber teriakan, dimana Julie sedang menjadi perhatian orang-orang karena teriakannya itu.


Dengan langkah lebarnya, gadis itu melangkah cepat ke tempat Julie berada.


Dia berjalan sambil sedikit menundukkan kepalanya, 'Haruskah aku pura-pura tidak mengenalnya? Sungguh tidak tahu malu si Julie ini.'


Pemuda yang terus memperhatikannya dari tadi pun sedikit kaget begitu mendengar teriakan Julie, dan menoleh ke arahnya.


'Bukankah itu Julie? Dia berteman dengan gadis itu sepertinya. Kebetulan sekali...', batin pemuda itu.


Kemudian dia melihat lagi ke gadis yang sedang berjalan cepat sambil sedikit menunduk malu itu.


Sedikit senyuman penuh arti tersungging di wajah pemuda tampan itu.


Pemuda itu terus memperhatikan bagaimana si gadis yang akhirnya sampai di meja Julie langsung terduduk lemas, dia terlihat kelelahan setelah berlari-lari tadi.


Dia merengut ke arah Julie dan langsung menyambar minuman Julie tanpa permisi. Dia langsung menghabiskan minuman yang masih sedikit penuh itu dalam sekali tegukan. Selesai minum dia mengusap mulutnya dengan punggung tangannya tanpa menghiraukan ocehan dari Julie. Dia juga mengelap keringat di wajahnya yang polos tanpa makeup itu dengan punggung tangannya bergantian dengan tangan yang satunya. Julie masih saja mengomel melihat kelakuan teman baiknya itu dan sama sekali tidak dihiraukan.


'Maaf, Sean. Kita ketemuan lain kali saja. Aku mendadak ada perlu.'


Pesan terkirim.


Setelah mengirim pesan pada teman janjinya, Pemuda itu meminum minumannya perlahan sambil memikirkan sesuatu.


Ting!


'Apa? Batal ketemu? Tidak! Aku sudah hampir sampai, nggak mungkin aku balik pulang. Pokoknya aku tetep kesana. Awas saja sampai kamu beneran nggak datang!!'


Pemuda itu hanya sekilas melihat balasan dari temannya dan tidak menghiraukannya.

__ADS_1


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya dia berdiri dan berjalan perlahan ke arah gadis yang terus menarik perhatiannya itu.


"Julie... "


__ADS_2