
Rhea tersentak kaget mengetahui Sean yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya. 'Tadi Gilang, sekarang Sean. Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua, kenapa suka tiba-tiba muncul di sebelahku, sih.'
Pada dasarnya Rhea memang suka melamun dan kurang memperhatikan sekitarnya, oleh karenanya dia juga jadi mudah dikagetkan.
"Kamu sudah nggak apa-apa?" tanya Rhea.
"Apanya?" tanya balik Sean bingung.
"Tadi kamu kelihatan jengkel," jawab Rhea sambil kembali melihat api unggun.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Cuma nebak."
"Cie. Mulai perhatian, nih." Sean coba menggoda Rhea dengan senyum jahilnya. Di luar dia terlihat bercanda, tapi dalam hatinya dia senang bukan main karena ternyata Rhea memperhatikannya.
"Apaan, sih. Oh iya, kamu dapat kayu bakar ini berarti hasil dari nyuri, dong. Dosa tahu."
"Nggak, lah. Besok pagi bakal aku samperin warung tempat aku ngambil kayu bakar itu. Terus aku minta maaf, dan bayar semuanya."
"Ya, tetep aja, awalnya namanya mencuri."
"Jadi, mau dibalikin aja nih kayu bakarnya?"
"Ya nggak mungkinlah, udah kebakar gitu. Masa iya dibalikin."
__ADS_1
Sean dan Rhea terus saja asik mengobrol sambil sesekali bersenda gurau. Semua yang mengenal Sean paham sekali jika Sean ada rasa sama Rhea karena melihat sikapnya yang tidak biasa ditunjukkan ke para gadis yang selama ini mendekatinya.
Tidak terkecuali Emma, dia semakin yakin jika Sean, kakak sepupunya itu benar-benar telah jatuh cinta. Ini adalah kabar baik, dan dia pasti akan memberi kabar ke keluarganya tentang hal ini. Mereka pasti bahagia, karena selama ini walau Sean mempunyai gelar playboy, tapi nyatanya dia jomblo abadi. Membuat keluarganya berpikir aneh-aneh kalau Sean jangan-jangan sedikit menyimpang.
"Menurut kakak, kak Rhea gimana?" tanya Emma pada Gilang yang ada di sampingnya.
"...." Gilang tidak langsung menjawab dan melirik sebentar ke arah Rhea yang masih terlihat seru dengan Sean. "Biasa," jawabnya kemudian.
"Bukan itu. Maksudku, menurut kakak, kak Rhea cocok nggak buat kak Sean?"
"Cocok," jawab Gilang malas dan asal-asalan. Entah kenapa dia merasa sedikit tidak suka dengan pertanyaan Emma barusan.
"Huh. Kak Gilang nggak serius nih jawabnya," gerutu Emma. "Tapi kak, entah cuma perasaanku atau gimana, aku merasa kalau kak Rhea ada rasa sama kak Langit, ya."
"Emang ya, kak Gilang ini laki-laki super cuek. Coba lihat deh, kadang kak Rhea terlihat curi-curi pandang ke kak Langit dan kak Intan gitu. Dan dari sorot matanya terlihat antara cemburu dan sakit hati. Sedari tadi aku sering melihat kak Rhea seperti itu. Sepertinya anak-anak yang lain juga tahu, soalnya kentara banget itu kak Rhea," terang Emma.
"Mungkin dia ada rasanya sama Intan, bukan sama Langit."
Jawaban datar dengan wajah serius yang dipasang Gilang, membuat Emma ingin sekali memukul kepalanya. "Kak Gilang, please deh. Kalau mau bercanda jangan pasang muka datar begitu. Orang lain bisa serius menanggapi ucapan kak Gilang," omel Emma gemas.
"Emang aku terlihat bercanda?" tanya Gilang masih dengan wajah acuh tak acuhnya.
"Sudahlah, kak. Aku nyerah." Emma pun meninggalkan Gilang dan pergi berkumpul dengan Riyan dan Feri. Hanya mereka yang bisa dia tuju saat ini.
Bagaimana tidak, Langit dan Intan selalu sibuk berdua seperti tak terpisahkan, sedangkan Sean sedang pedekate dengan Rhea dan dia tidak ingin mengganggu. Lalu Gilang? Tidak ada yang bisa diobrolkan dengan dia jika dia sendiri lagi tidak mood untuk ngobrol.
__ADS_1
Emma bisa saja bermain ponsel untuk menyibukkan diri seperti biasanya, karena akun sosialnya tidak pernah sepi. Tapi dia tidak ingin berkutat dengan ponselnya untuk saat ini. Dia tidak ingin kehilangan momen untuk menikmati alam malam ini.
Udara pegunungan yang sejuk dan semakin dingin di malam hari, tapi sedikit terhangatkan dengan adanya api unggun di depannya kini. Lalu suara-suara khas alam yang diiringi bunyi dari binatang-binatang di malam hari, sangat damai dan menenangkan. Meski tidak bisa mengungkapkannya dengan jelas, tapi satu hal yang pasti, ini lebih memuaskan hati daripada sebuah gadget.
Gilang yang sekarang duduk sendirian setelah ditinggal Emma pergi, mulai memperhatikan Rhea. Dia hanya ingin tahu kebenaran dari ucapan Emma tentang Rhea yang sering curi pandang ke arah Langit.
Dan benar, hanya beberapa saat dia memperhatikan, tidak butuh waktu lama, dia melihat sendiri Rhea curi pandang melihat Langit. Dan itu dilakukannya beberapa kali.
"Bodoh," gumam Gilang. Dia berpikir bagaimana bisa Rhea tidak bisa menyembunyikan ekspresinya itu. Terlihat semakin menyebalkan di mata Gilang.
Gilang sendiri tidak tahu kenapa dia merasa tidak suka dengan Rhea sedari awal bertemu. Bukannya benci, hanya terasa tidak suka dan menyebalkan. Kalian juga pasti pernah merasakannya kan? Perasaan dimana suatu waktu kita bisa merasa sebal dengan seseorang yang bahkan tidak melakukan apa-apa pada kita. Tapi hanya dengan merasakan keberadaannya saja sudah membuat kita merasa sebal dan tidak nyaman serta mengganggu.
Seperti itulah perasaan Gilang saat ini pada Rhea. Dia sendiri tahu jika Rhea tidak melakukan kesalahan apapun padanya, mereka saja bahkan baru bertemu siang tadi, tapi tetap saja dia merasa sebal pada Rhea dengan sendirinya.
Gilang menghirup kembali batang rokok yang berada di sela jari telunjuk dan jari tengahnya. Perlahan menghirup zat-zat berbahaya yang terkandung dalam rokok, namun walau begitu dia tetap menikmatinya dan membiarkan semua asap itu bermain di rongga mulutnya untuk beberapa saat, setelahnya barulah dia perlahan menghembuskan keluar asap itu sedikit demi sedikit.
Suasana yang tadinya sunyi dan damai terasa semakin syahdu tatkala Riyan mulai memainkan gitarnya. Alunan suara gitar yang pelan menambah indahnya momen camping malam itu.
Rhea yang tadinya merasa menyesal telah ikut camping, menjadi lupa dan berpikir ingin ikut camping lagi jika ada kesempatan lain kali.
Tidak hanya Rhea yang merasa sepertu itu, semuanya juga merasa puas. Tadinya mereka berpikir jika camping kali ini akan gagal, tapi ternyata semua masih tetap dalam kendali. Semua tetap berjalan seperti camping pada umumnya, bedanya mereka tidak bisa tidur di dalam tenda, melainkan di emperan warung.
Semuanya menjadi diam, menikmati suasana yang ada. Yang tadinya hanya berupa alunan gitar saja, sekarang mulai diiringi dengan nyanyian Emma. Suaranya bagus sekali selayaknya penyanyi yang sudah terlatih.
Rhea tidak menyangka bahwa Emma yang terlihat seperti anak manja yang ceria, bisa berubah menjadi menawan saat bernyanyi. Walau hanya lagu sederhana yang sepertinya tidak perlu menggunakan teknik-teknik sulit untuk dinyanyikan, tapi tetap bisa membuat orang yang mendengarnya terhanyut dalam diam.
__ADS_1